Tampilkan postingan dengan label Gianyar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gianyar. Tampilkan semua postingan

Kini Tangani Kasus Dugaan Korupsi:Kajari Gianyar Kena Mutasi

Gianyar-Kajari Gianyar, Tri Hastuti Setyo Hartini, menerima surat keputusan Kejakgung berkenaan dengan mutasi dirinya ke Jakarta, Senin (9/6) kemarin. Hal ini membenarkan rumor yang menyebutkan Kejari Gianyar selama ini tidak memenuhi target menyelesaikan kasus korupsi.

Tri Hastuti yang dimintai konfirmasi membenarkan dirinya mendapatkan SK pergantian dari Kejakgung. Alasannya, dalam hal ini memang dikarenakan dirinya belum berhasil membongkar kasus korupsi selama menjabat sebagai Kajari Gianyar.

Namun, Tri Hastuti mengatakan meskipun belum memenuhi target pemberantasan korupsi, Kejari Gianyar saat ini sedang menangani sejumlah kasus dugaan korupsi yang ada di Pemkab Gianyar. Hal tersebut masih dalam proses penyidikan. 'Salah satunya, dugaan penyimpangan yang ada di Disperindagkop,' jelasnya.

Kasus dugaan penyimpangan Rp 300 juta, menurut Tri Hastuti dari Kejaksaan Negeri sudah melakukan penyidikan serta penggeledahan sejumlah barang di dinas tersebut. Hanya, dalam hal ini masih menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksa Keungan (BPK). Audit BPK dilakukan berdasarkan surat permohonan dari Kejari atas dugaan penyimpangan sejumlah dana bergulir yang ada di dinas terkait. Permohonan tersebut sudah dilakukan April 2008, namun hingga kini belum ada pemberitahuan soal hasil audit tersebut.

Mengenai dugaan penyimpangan di Dinas Sosial, Tri Hastuti mengatakan kasus tersebut diambil alih oleh Kejati Bali. 'Dalam upaya pengungkapan kasus korupsi Kejari Gianyar bukan tidak ada, melainkan masih dalam penyelidikan dan untuk membuktikan hal itu tidak mudah,' katanya.

Sementara itu, atas kasus dugaan penyimpangan di Disperindagkop, sejumlah LSM yang tergabung dalam Forum LSM sempat mempertanyakan Kejari dan meminta menghentikan pemeriksaan bilamana tidak cukup bukti. Bahkan, kedatangan Forum LSM tersebut ke Kejari nyaris sempat terjadi baku hantam antara sesama LSM. (kmb16)

Sumber : BaliPost.com, Selasa 10 Juni 2008

500 Penari Meriahkan Pawai Budaya Gianyar

Gianyar, Bali - Sebanyak 500 penari akan ikut ambil bagian dalam memeriahkan pawai budaya di panggung terbuka Balai Budaya Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu, 16 April 2016.

"Mereka telah melakukan latihan persiapan di halaman Pura Batuyang, Batubulan," kata Tim Pembina tari tersebut I Nyoman Sunarta, di Gianyar, Bali, Senin.

Ia mengatakan, ke-500 penari dan penabuh terlibat dalam kolaborasi untuk memeriahkan kegiatan seni dan budaya yang berlangsung di Kota Gianyar.

Pawai budaya kali ini mengusung tema Karang awak di tengah globalisasi. Sesuai dengan kesepakatan, Desa Batubulan Kangin berkesempatan menggarap fragmentari tentang Karang Awak, di tengah masa kekinian.

Sedangkan duta Kecamatan Ubud mendapat jatah untuk menampilkan parade yang akan diiringi berbagai karya seni budaya, di antaranya mepeed, "arak-arakan", mobil hias, gebogan, bleganjur, gong suling, barisan jegeg bagus, dan jerimpen yang menggambarkan identitas desa setempat.

"Unsur yang ditonjolkan lebih kepada bunga dan buah-buahan setempat," ujar Sunarta.

Ia menjelaskan, "Karang Awak" dalam era modern saat ini dapat diartikan sebagai kekuatan yang terpendam dalam diri seseorang, untuk mencari jati diri sesungguhnya.

Dalam Bhuwana Alit, terdiri atas berbagai molekul kehidupan berupa sarwa prani, hutan, beburon, dan seisi alam semesta. Partikel tersebut akan memberikan energi, yang saling terkait dan memberi kehidupan bagi manusia.

"Karang Awak mengajarkan manusia tentang betapa pentingnya menjaga alam raya," ujar I Nyoman Sunarta.

Fragmentari dari Desa Batubulan Kangin akan menampilkan berbagai tari-tarian yang masih tetap populer di masa kini, yaitu kecak, legong Sang Hyang, barong, rangda, semar pegulingan, dan lainnya.

Ia mengharapkan masyarakat umum yang menyaksikan pertunjukkan dapat menyimak dengan seksama semua jenis garapan seni yang ditampilkan. Sebab, tema pawai sangat menarik tentang ruang lingkup kehidupan.

Manusia mesti sadar betapa indah dan agungnya harmonisasi, yang dimotori maha karya seni budaya yang diwarisi hingga sekarang menjadi adi luhung.

Bentara Budaya Bali Gelar Pertunjukan Transformasi Puisi

Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar menggelar pertunjukkan transformasi puisi ke dalam musik, seni rupa, gerak dan lafal puisi.

"Pagelaran yang berlangsung Minggu petang (28/2) melibatkan sejumlah seniman lintas bidang itu bertujuan untuk mentransformasikan puisi yang terangkum dalam buku antologi 'Ciam Si' karya Tan Lioe Ie," kata Komposer kegiatan tersebut Wayan Gde Yudane di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, melalui pagelaran tersebut ingin melakukan sebuah transformasi dari puisi dalam kumpulan puisi Tan Lioe Ie, Ciam Si yakni Ciam Si 1 dan 46 ke dalam komposisi musik.

"Di sini puisi hadir tanpa kata yang 'konvensional' kita kenal. Dalam komposisi musik, di mana sepenuhnya merupakan interpretasi komposernya. Berbagi Cahaya (Ciam Si 1) serta tertawa (Ciam Si 46). Tidak seperti yang lazim dikenal dengan musikalisasi puisi (puisi-musik)," ujar Wayan Gde Yudane.

Ia menambahkan, dengan transformasi total puisi ke dalam musik, tidak menyisakan kata untuk dibacakan atau dinyanyikan.

Sementara perupa Nyoman Erawan dan Raden Cahyoko "Kokok" akan mengeksplorasi Ciam Si ke dalam Rupa Puisi. Kedua seniman andal itu akan memasuki suatu kebebasan dalam keterikatan.

Kebebasan tersebut memiliki keleluasaan untuk memilih sebagian atau menangkap seluruh puisi dalam kitab Ciam Si untuk dilebur lalu dibentuk ke dalam karya seni rupa, di mana rupa di sini tak dibatasi pada rupa konvensional berupa materi teraba saja.

Sementara keterikatan di sini, berangkat dari puisi yang ada dalam Kitab Ciam Si. Dan itu suatu tantangan kreatif, tentunya. Lewat Gerak dan Lafal Puisi.

Sedangkan penyair Tan Lioe Ie akan menghadirkan pembacaan puisi dari kitab Ciam Si, karyanya, dipadukan dengan gerak wushu yang relatif tertata serta gerak psiko-otomatisme yang relatif "liar" di mana satu dengan yang lain diharapkan saling menegaskan kehadirannya.

Memilih wushu adalah berangkat dari kesadaran, salah satu "turunan" yang secara historis "lekat" dengan Ciam Si adalah seni bela diri.

Menurut penyair Tan Lioe Ie, kerja sama lintas kesenian di sini, hadir dalam semangat kesetaraan di mana yang satu bukan sub-ordinat terhadap yang lain.

Kegiatan tersebut didukung pula oleh Erick Est sebagai videografer audio visual book, Anom Antida Darsana selaku sound engineer dan penata cahaya, Maithila Bandem pada piano, serta pewushu dari Yayasan Garuda Dewata Wushu Indonesia.

Bentara Budaya Bali Gelar Pameran Pertunjukan dan Seminar Tambora

Gianyar, Bali - Bentara Budaya Bali (BBB), menggelar pameran, pertunjukan dan Seminar "Kuldesak Tambora" selama empat hari, 9-12 September 2015 di Ketewel, Kabupaten Gianyar, Bali.

"Kegiatan tersebut memperingati dua abad meletusnya Gunung Api Tambora, 10-15 April 1815 dalam sejarah vulkanologi Indonesia yang menimbulkan dampak mahadahsyat," kata Penata acara Bentara Budaya Bali Putu Aryastawa di Denpasar, Kamis (9/09/2015).

Pameran tersebut mengusung tema "Bencana dan Peradaban Tambora 1815", sebelumnya digelar di Bentara Budaya Jakarta, 17-26 April 2015 dan dilanjutkan di Pulau Dewata.

Peristiwa pameran kali ini sejalan dengan tema utama Bentara Budaya tahun 2015, Giri-Bahari. Pasang-surut interaksi manusia dengan alam raya-gunung api (giri) dan samudera (bahari).

Semua itu adalah pasang-surut peradaban kebudayaan lokal dengan fenomena alam. Saat alam raya menggelar potensi alam dan kesuburan tanahnya, maka pertumbuhan pemukiman dan jejaring sosial politik mekar dan mencapai keteraturan tertentu. Itulah tempora "Jaya Giri Jaya Bahari".

Tiga kegiatan yang dikolaborasikan menjadi satu itu dapat dilaksanakan berkat kerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Denpasar menghadirkan teks-teks lama dan literatur tentang Gunung Tambora, Babad Bima, Syair Kerajaan Bima, dan berbagai publikasi kuna dalam bahasa daerah Bima.

Semua materi tersebut adalah koleksi ilmuwan Dr Maryam, pewaris Kerajaan Bima.

Materi pameran berupa proses letusan yang ditampilkan dalam bentuk infografik dan foto.

Menurut Naniek Harkantiningsih dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, peristiwa kali ini merupakan sebuah upaya untuk menghadirkan hasil penelitian tentang erupsi Tambora melalui jejak-jejak vulkanisnya, sekaligus aneka perspektif dari masa lalu maupun masa kini sebagai bagian dari pengembangan Tambora sebagai warisan budaya.

Eksibisi artefak-artefak bersejarah Tambora yang diresmikan Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Drs I Made Geria MSi dimaknai pula pertunjukan seni oleh Sanggar Kebo Iwa dan pemutaran video tentang Tambora.

Tim Kesenian Gianyar Ikut Meriahkan Festival Kesenian Yogyakarta

Gianyar, Bali - Tim kesenian Kabupaten Gianyar, Bali akan ambil bagian memeriahkan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XXVI Tahun 2014 di Area Plaza Pasar Ngasem, Sabtu (6/9).

"Duta seni Gianyar menyuguhkan seni pertunjukan epos Ramayana, berjudul Kumbakarna Gugur yang dikemas dalam empat jenis pagelaran," kata Made Sidia dari Sanggar Paripurna Gianyar yang menata dan penggarap pertunjukkan kolasal itu, Kamis.

Ia mengatakan, keempat pagelaran itu terdiri atas pesantian, wayang kulit, wayang wong dan Cak Bona dengan berdurasi selama satu jam.

Keempat pageran itu saling terkait dan bersambung satu sama lainnya yang diawali dari Pesantian mengulas kisah peperangan antara Rama dan Rahwana. Lanjut pertunjukan Wayang Kulit mengisahkan pertemuan Rama dengan Sugriwa untuk menyusun siasat perang melawan Kumbakarna.

Jalan cerita kemudian bersambung lewat pertunjukkan Wayang Wong yang mengisahkan perdebatan Kumbakarna dengan Rahwana sebelum maju ke medan laga. Intinya, Kumbakarna mau berperang untuk membela negerinya yang telah diserang, bukan untuk membela Rahwana.

Sampai akhirnya puncak peperangan antara Rama dan pasukan kera melawan Kumbakarna lewat pertunjukkan cak Bona. Dalam cak itu juga ada ogoh-ogoh raksana wujud Kumbakarna.

Made Sidia menambahkan, penggunaan empat pertunjukkan seni dengan satu jalan cerita untuk memperkenalkan beragam potensi seni budaya di Bali dan Gianyar khususnya.

Garapan berdurasi satu jam merupakan sebuah kreasi agar pertunjukkan tidak menoton dan masyarakat bisa menyaksikan satu cerita dalam pertunjukkan yang berbeda.

Menurut Sidia, pesan dari pertunjukkan adalah sifat ksatria dan kenegerawanan dari Kumbakarna yang rela mati untuk membela tanah kelahirannya, bukan untuk membela Rahwana yang angkara murka.

"Persiapan untuk pementasan di FKY dilakukan sejak satu bulan yang lalu," terang Made Sidia yang memimpin Tim Kesenian Gianyar ke Yogyakarta bersama Prof. Wayan Dibia sebagai pencetus ide cerita dan tokoh seni.

Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata berkesempatan meninjau latihan tim kesenian Gianyar yang dilaksanakan di Sanggar Paripurna Bona.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Gusti Ngurah Wijana menjelaskan, penampilan tim kesenian Gianyar untuk memenuhi undangan FKY dan berperanserta dalam festival tersebut.

"Tim kesenian ini tentu akan menyuguhkan pertunjukkan seni yang maksimal dengan harapan mampu mengharumkan nama Bali dan Gianyar khususnya dibidang seni," ujarnya.

16 Seniman Gianyar Ikuti Festival di Jepang

Gianyar, Bali - Sebanyak 16 seniman asal Kabupaten Gianyar, Bali, mengikuti Festival Spiritual Kagura di Hiroshima, Jepang, pada 31 Oktober--6 November 2013.
"Dalam festival itu kami akan menampilkan paduan seni, budaya, dan spiritual," kata I Nyoman Carita selaku ketua rombongan saat menemui Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata, Rabu.
Menurut pria berusia 52 tahun itu, festival tersebut diikuti 15 negara, termasuk Indonesia yang diwakili para seniman asal "Kota Seni" itu.
Paduan seni, budaya, dan spiritual itu dikemas dalam Tari Legong, Tari Baris Gede, Tari Legong Sang Hyang, dan Wayang Lemah Tok.
"Kami melakukan persiapan ini sejak bulan Juli lalu. Ini kesempatan pertama kali berpartisipasi di ajang internasional," kata Carita.
Ia menjelaskan bahwa keikutsertaan Kabupaten Gianyar pada festival tersebut berawal dari ketertarikan Kepala Dinas Kebudayaan Hirosima pada Tari Legong Sang Hyang saat menonton tarian tersebut di Ubud.
Tari Legong Sang Hyang memiliki nilai spiritual yang tinggi dan sangat cocok untuk ditampilkan pada Festival Spiritual Kagura.
Selain itu, Carita akan menjadi pembicara di depan mahasiswa seni di Hiroshima. Dia akan memaparkan potensi seni dan budaya di Kabupaten Gianyar.
-

Arsip Blog

Recent Posts