Bentara Budaya Bali Gelar Pertunjukan Transformasi Puisi

Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar menggelar pertunjukkan transformasi puisi ke dalam musik, seni rupa, gerak dan lafal puisi.

"Pagelaran yang berlangsung Minggu petang (28/2) melibatkan sejumlah seniman lintas bidang itu bertujuan untuk mentransformasikan puisi yang terangkum dalam buku antologi 'Ciam Si' karya Tan Lioe Ie," kata Komposer kegiatan tersebut Wayan Gde Yudane di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, melalui pagelaran tersebut ingin melakukan sebuah transformasi dari puisi dalam kumpulan puisi Tan Lioe Ie, Ciam Si yakni Ciam Si 1 dan 46 ke dalam komposisi musik.

"Di sini puisi hadir tanpa kata yang 'konvensional' kita kenal. Dalam komposisi musik, di mana sepenuhnya merupakan interpretasi komposernya. Berbagi Cahaya (Ciam Si 1) serta tertawa (Ciam Si 46). Tidak seperti yang lazim dikenal dengan musikalisasi puisi (puisi-musik)," ujar Wayan Gde Yudane.

Ia menambahkan, dengan transformasi total puisi ke dalam musik, tidak menyisakan kata untuk dibacakan atau dinyanyikan.

Sementara perupa Nyoman Erawan dan Raden Cahyoko "Kokok" akan mengeksplorasi Ciam Si ke dalam Rupa Puisi. Kedua seniman andal itu akan memasuki suatu kebebasan dalam keterikatan.

Kebebasan tersebut memiliki keleluasaan untuk memilih sebagian atau menangkap seluruh puisi dalam kitab Ciam Si untuk dilebur lalu dibentuk ke dalam karya seni rupa, di mana rupa di sini tak dibatasi pada rupa konvensional berupa materi teraba saja.

Sementara keterikatan di sini, berangkat dari puisi yang ada dalam Kitab Ciam Si. Dan itu suatu tantangan kreatif, tentunya. Lewat Gerak dan Lafal Puisi.

Sedangkan penyair Tan Lioe Ie akan menghadirkan pembacaan puisi dari kitab Ciam Si, karyanya, dipadukan dengan gerak wushu yang relatif tertata serta gerak psiko-otomatisme yang relatif "liar" di mana satu dengan yang lain diharapkan saling menegaskan kehadirannya.

Memilih wushu adalah berangkat dari kesadaran, salah satu "turunan" yang secara historis "lekat" dengan Ciam Si adalah seni bela diri.

Menurut penyair Tan Lioe Ie, kerja sama lintas kesenian di sini, hadir dalam semangat kesetaraan di mana yang satu bukan sub-ordinat terhadap yang lain.

Kegiatan tersebut didukung pula oleh Erick Est sebagai videografer audio visual book, Anom Antida Darsana selaku sound engineer dan penata cahaya, Maithila Bandem pada piano, serta pewushu dari Yayasan Garuda Dewata Wushu Indonesia.

-

Arsip Blog

Recent Posts