Tampilkan postingan dengan label Kubu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kubu. Tampilkan semua postingan

Orang Rimba Jambi di Ambang Punah

Jambi - Hasil studi Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman bekerjasama dengan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI memperlihatkan prevalensi Hepatitis B sebesar 33,9 persen pada Orang Rimba, atau juga dikenal sebagai Suku Anak Dalam. Hal ini menunjukkan empat dari 10 Orang Rimba mengidap penyakit yang disebabkan Virus Hepatitis B (VHB). Virus ini dapat menyebabkan peradangan hati akut, yang pada sebagian kasus juga berlanjut menjadi kanker atau sirosis hati.

Hasil penelitian ini juga bisa diartikan lebih dari sepertiga populasi Orang Rimba mengidap penyakit Hepatitis B. “Hasil studi ini sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Kondisinya bisa disebut hiperendemik pada Orang Rimba,” kata Ketua Tim Peneliti Kesehatan Orang Rimba dari LBM Eijkman, Herawati Sudoyo, Kamis, 11 Februari 2016 di Jambi.

Padahal, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka prevalensi Hepatitis B di Provinsi Jambi secara keseluruhan, hanya 8,3 persen. “Kondisi ini sangat menuntut perhatian serius dari semua pihak, terutama pemerintah daerah. Mengingat dari studi yang kami lakukan, penderita tertinggi berdasar kelompok umur, justru berada pada usia produktif yaitu 17-55 tahun,” sebut Herawati yang juga menjabat Deputi Direktur LBM Eijkman.

Studi dilakukan dengan mengambil sampel darah Orang Rimba di tiga kabupaten, yaitu Sarolangun, Tebo dan Batanghari. Selain hepatitis, tim peneliti juga melakukan studi terhadap malaria dan defisiensi enzim G6PD (Glokosa-6-Fosfat Dehidrogenase).

Hasil studi malaria pada Orang Rimba juga sangat tinggi, jika dibandingkan data umum di Provinsi Jambi yang hanya 0,84 persen pada 1000 penduduk. Artinya, kurang dari 1 orang per seribu penduduk Jambi yang terkena malaria. Sementara pada Orang Rimba, studi menunjukkan 24,26 persen yang terkena malaria dari 610 sampel.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, Robert Aritonang mengungkapkan, hasil studi LBM Eijkman menunjukkan perlunya program pencegahan dan pengobatan kepada Orang Rimba.

“Dari proses pendampingan kesehatan yang kami lakukan, sepanjang empat tahun terakhir kami menemukan dan memfasilitasi empat Orang Rimba yang sudah menderita sirosis di rumah sakit. Namun sayangnya tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia,“ sebut Robert.

Menurut Robert, budaya Orang Rimba yang cenderung menikah dengan sesama anggota kelompok, semakin meningkatkan peluang penyebaran penyakit di antara mereka. “Pola adat dan budaya yang terbentuk di mereka, dengan menikahi sesama etnis Orang Rimba, akan sangat berpotensi melahirkan generasi yang mengidap hepatitis. Jika tidak dilakukan penanganan segera, kondisi ini berpotensi menghilangkan etnis Orang Rimba,” sebutnya.

Robert menginginkan ada langkah penanggulangan penyebaran penyakit di kalangan Orang Rimba dari pemerintah, dengan memberikan imunisasi pada bayi baru lahir dan individu yang belum mengidap hepatitis. Sedangkan untuk mereka yang sudah mengidap, diberikan pengobatan.

Untuk penanggulangan malaria, Orang Rimba bisa menjadi sumber plasmodium di Provinsi Jambi, sehingga sulit memenuhi program nasional menghilangkan malaria dari Indonesia.

Melihat persoalan ini, Peneliti Senior dan Kepala Laboratorium Malaria LBM Eijkman, Din Syafruddin, menjelaskan, lembaganya akan berupaya menggalang dana untuk membantu pengobatan Orang Rimba. "Kami juga berupaya mendorong menggerakkan pemerintah setempat untuk segera mengatasi permasalahan hyperendemik Hepatitis B dan malaria yang dialami Orang Rimba," jelasnya.

Sementara Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, langsung memanggil Dinkes di Kabupaten Tebo, Batanghari dan Sarolangun. "Dinas Kesehatan akan membahas langkah apa yang paling tepat untuk dilakukan mengatasi persoalan ini. Makanya kami memanggil Dinas Kesehatan di kabupaten Orang Rimba bermukim," jelas Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Dian Augustina Rozy.

Orang Rimba Sulit Dapat Akses Pelayanan Kesehatan

Robert Aritonang menilai, kehidupan di hutan dan tercemarnya sumber air bersih Orang Rimba, ikut mempengaruhi penurunan kualitas kesehatan mereka. Untuk itu, satu-satunya jalan adalah menyediakan akses kepada fasilitas kesehatan. “Memberikan akses seluas-luasnya untuk layanan kesehatan pada Orang Rimba,” katanya.

Robert meyakinkan dengan pendekatan yang tepat, Orang Rimba terbukti mau menerima hal baru untuk memperbaiki kualitas kesehatan diri mereka. “Contoh yang paling mudah soal merebus air sebelum diminum. Dulu sama sekali mereka tidak merebus air minum. Namun belakangan dengan pendekatan dan sosialisasi kita, mereka sudah mau,” sebut Robert.

Dari pengakuan Orang Rimba sendiri, selama ini mereka kesulitan mendapatkan akses pelayanan kesehatan. "Tidak semua kami ini mempunyai uang untuk membayar biaya untuk berobat. Seharusnya pihak puskesmas bisa rutin masuk ke hutan untuk melihat kondisi penyakit yang diderita Orang Rimba," jelas Gentar, Orang Rimba Jambi dari kelompok Makekal Hilir.

Hal senada juga dikatakan Nugrah, "Pernah ada penyemprotan (fogging) di rumah warga desa. Tapi rumah kami Orang Rimba tidak disemprot untuk usir nyamuk," kata Nugrah.

Sedangkan Kepala Kelompok Orang Rimba Kedundung Muda, Tumenggung Grib, berharap, pemerintah bisa mencegah berbagai penyakit yang rentan menyerang Orang Rimba. Menurutnya, selama ini tidak ada upaya pemerintah untuk memberikan sosialisasi kesehatan kepada Orang Rimba.

"Harus ada pendidikan kesehatan kepada Orang Rimba. Jadikan salah satu Orang Rimba sebagai kader kesehatan, sehingga Orang Rimba sendiri yang bisa menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan," kata Grib.

Tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Provinsi Jambi membuat Orang Rimba sudah memiliki cara sendiri dalam mengobati berbagai penyakit yang diwariskan secara turun temurun.

Tumenggung Grib memaparkan, selama ini mereka menggunakan tanaman di dalam hutan sebagai bahan baku obat-obatan. Hasilnya, banyak penyakit diakuinya bisa disembuhkan dengan memakan atau meminum ramuan tanaman tertentu.

"Seperti penyakit malaria itu sudah lama dan sering dialami Orang Rimba. Biasanya, kami meminum air rebusan dari kulit Berumbung atau rebusan air akar Pasak Bumi," ungkapnya.

Selain itu, rebusan kulit duku, juga menjadi salah satu ramuan yang umum di minum airnya untuk menyembuhkan penyakit malaria. "Semua air rebusan ini rasanya pahit," ujarnya.

Dengan meminum tiga gelas air rebusan ramuan tersebut, Grib mengaku penyakit malaria yang mereka alami langsung sembuh. "Tapi, tidak hilang seterusnya. Beberapa bulan lagi, biasanya kambuh lagi. Minum lagi ramuan itu, hilang lagi," ceritanya.

Selain menggunakan ramuan dari tanaman hutan, Orang Rimba juga mengandalkan dukun dalam upaya pengobatan penyakit. Ada beberapa ritual yang kerap dilakukan ketika Orang Rimba menderita penyakit keras.

Kini Tumenggung Grib mengakui, Orang Rimba sudah mau menggunakan obat-obatan yang dijual di luar hutan, karena dinilai lebih ampuh menyembuhkan penyakit.

Terkait pengobatan tradisional ini, Robert menyebutkan, perusahaan farmasi penah meneliti sekitar 100 tanaman yang digunakan Orang Rimba.

"Dari ratusan tanaman yang diteliti, hanya belasan tanaman yang memiliki efek untuk pengobatan. Dari belasan itu, ada dua tanaman yang mau digunakan perusahaan obat-obatan untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Tapi ternyata, dua tanaman ini juga tidak terlalu ampuh menjadi bahan obat-obatan," jelas Robert.

Robert menilai, Orang Rimba hanya mendapatkan sugesti bahwa tanaman hutan yang mereka konsumsi bisa memberikan efek penyembuhan. "Sampai saat ini, masih ada Orang Rimba yang di dalam hutan menggunakan tanaman hutan sebagai obat ketika sedang sakit," ungkapnya.

Sebelumnya, pada Desember lalu, peneliti dari Eijkman Institute bekerja sama dengan KKI WARSI mengumpulkan sampel darah dari populasi Orang Rimba untuk malaria, hepatitis, dan defisiensi G6PD serta mempelajari keragaman genetik populasi. Studi ini dilakukan, mengingat Orang Rimba lebih rentan terhadap penyakit akibat air sumber kehidupan mereka tercemar industri perkebunan dan meningkatnya jumlah interaksi dengan penduduk desa karena alasan ekonomi.

Persoalan ini semakin meningkatkan keberagaman penyakit pada Orang Rimba. Namun akses Orang Rimba ke fasilitas kesehatan publik untuk pengobatan masih sangat sedikit. Hal ini disebabkan lokasi yang berjauhan dan beragam stigma yang melekat pada Orang Rimba.

Melangun: Tradisi Suku Kubu Hilangkan Kesedihan

Oleh Indriani

Melangun bagi suku Kubu, Orang Rimba atau Anak Dalam yang menetap di perbatasan Provinsi Riau dan Jambi adalah pergi jauh.

Melangkahkan kaki menjauh dari kampung halaman menghilangkan kesedihan akibat ditinggal mati sanak saudara.

Berjalan kaki melintasi sejumlah kota kecamatan, kabupaten hingga provinsi berharap kesedihan ditinggalkan keluarga akan sirna. Menatap jalanan yang dilalui dan berusaha melupakan kesedihan.

"Melangun sampai hati puas, sampai hilang kesedihan," ujar Sukur, salah seorang suku Anak Dalam yang menetap di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh,pada Kamis (24/6) lalu.

Lelaki yang mengaku tidak mengetahui berapa usianya ini, mengatakan untuk menghilangkan kesedihan akibat kematian anaknya, ia bahkan melangun hingga bertahun-tahun. Bahkan sampai ke Padang Panjang.

Tradisi wajib diikuti seluruh keluarga yang tertimpa kemalangan. Dengan berjalan kaki, Sukur dan keluarga mampu berjalan ke Padang Panjang dan Taluk Kuantan, yang berjarak ratusan kilometer di tempatnya menetap saat itu.

"Lama Melangun, baru kami pulang. Sampai hati senang, dan tak ada lagi sedih. Tapi tak menetap di tempat asal, melainkan mencari daerah yang agak jauh," kata Sukur yang tak henti-hentinya merokok.

Dulu, melangun dilakukan hingga puluhan tahun karena dianggap sebuah kesialan. Namun sejak beberapa tahun belakangan tradisi tersebut dilakukan dalam waktu yang singkat.

Tradisi ini, lanjutnya, diawali dengan ratapan yang dilakukan keluarga dihadapan mayat. Menangis, meraung dan menghempaskan badan ke tanah hingga berpekan-pekan lamanya, berharap nyawa yang telah dicabut dikembalikan kepada mayat tersebut.

Sebelum Melangun dilakukan pun, mayat yang telah ditutup kain tersebut dibiarkan diatas Sesudungon. Sesudungon yaitu tempat berteduh yang berukuran 2x2 meter dan beratap daun atau plastik yang tingginya 12 undukan dari tanah. Jika untuk anak-anak, tingginya 4 undukan dari tanah.

"Kami percaya, orang yang mati tersebut akan hidup kembali. Kalau dikuburkan maka tidak harapan untuk hidup kembali dan bergabung bersama kami," jelasnya.

Baru ketika tradisi Melangun usai, mereka mulai melakukan aktivitas normalnya kembali seperti berladang, berburu dan menangkap ikan. Tempatnya pun, agak jauh dari tempanya semula, namun selalu berada di pinggiran sungai yang merupakan sumber kehidupan mereka.

Namun tradisi, menurutnya lambat laun akan hilang, karena suku Kubu ini saat ini tengah berjuang melawan konversi hutan alam yang dilakukan sejumlah perusahaan yang mengantongi izin HTI seperti PT Lestari Asri Jaya (LAJ).

"Takutnya, kalau tradisi ini terus berlangsung. Maka kami akan kehilangan rumah kami," ujarnya.

PT LAJ mendapatkan izin seluas 61.495 hektare. Dulunya, lahan ini merupakan eks hutan produksi dari PT Industries et Forest Asiatiques (IFA). Saat ini, pihak perusahaan tengah mempersiapkan pembukaan lahan dengan pembuatan koridor.

Kehadiran perusahaan ini akan membuat hutan yang menjadi warisan nenek moyang mereka, hanya tinggal cerita. Kelangsungan hidup mereka juga terancam, karena mereka sangat menggantungkan hidup pada hutan.

"Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin suku Kubu hanya tinggal cerita," ujar Diki Kurniawan, Koordinator Program Bukit Tigapuluh Komunitas Konservasi (KKI-Warsi).

Begitu juga dengan tradisi Melangun yang sebelumnya mengakar dalam masyarakat suku Kubu. Saat ini ia memperkirakan bahwa terdapat sekitar 24.155 jiwa suku Kubu. Sekitar 2.000 diantaranya bermukim dikawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Ia mengatakan penyebarannya di delapan kabupaten, 12 kecamatan, 22 desa, dan di 28 lokasi di Jambi maupun di perbatasan Jambi-Riau. Umumnya mereka tinggal di dalam hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas, hutan produksi, serta hutan taman raya.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa suku ini berasal dari Kubu Karambil, salah satu daerah kerajaan Pagaruyung. Mereka lari dari kampung halaman untuk menghindari perang pada masa penjajahan Belanda.

Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan, tradisi ini akan hilang ditelan deru mesin tebang perusahaan. Kita lihat saja nanti.(KR-IND/T010)

-

Arsip Blog

Recent Posts