Tampilkan postingan dengan label Lampung Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lampung Utara. Tampilkan semua postingan

Wartawan Tanya Korupsi, Kasi Intel Marah

KOTABUMI - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotabumi berjanji menuntaskan sejumlah kasus korupsi di wilayah hukumnya. Namun, Kasi Intel Kejari Akmal Kodrat malah meminta wartawan tidak usah menanyakan perkembangan penanganan kasus korupsi di sana.

Ulah Akmal ditunjukkan saat wartawan ingin meliput dan menemui Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Lampung Thomson Siagian yang tengah berkunjungke kantor Kejari Kotabumi, Kamis (27-3) lalu.

Ketika wartawan bermaksud menemui Kajati untuk menanyakan sejauh mana penanganan kasus korupsi di Lampung Utara Akmal Kodrat mengatakan Kajati belum bisa ditemui. "Kalau mau menanyakan sesuatu biar saya saja yang memberikan keterangan," ujarnya.

Sejumlah wartawan lalu meminta protokol untuk meminta waktu sebentar, barang lima menit untuk menemui Kajati. Anehnya, Akmal Kodrat malah marah. "Kalau sampai saya ditegur dengan Kajati dan Kajari, kamu orang nanti berhadapan dengan saya dan jangan macam-macam," ujar Akmal Kodrat.

Wartawan pun tetap setia menunggu Kajari. Sekitar pukul 17.00, wartawan baru bisa bertemu Kajati yang hendak meninggalkan Kejari Kotabumi.

Saat ditanya wartawan, Kajati mengatakan penanganan kasus korupsi oleh pihak Kejari Kotabumi sudah baik. "Saat ini, sejumlah kasus telah disidangkan dan yang lain masih dalam proses penyidikan," ujar Kajati Thomson Siagian yang diiyakan oleh Kajari Kotabumi E. Supriyanto.

Pada bulan ini, Kejari telah mengantarkan dua kasus korupsi ke persidangan dan tiga kasus lainnya masih dalam tahap penyidikan--salah satunya dugaan kasus korupsi di kantor PDAM senilai miliaran rupiah.

Saat ditanya Kejari Kotabumi hanya mengungkap kasus dengan nominal kecil, Kajati mengatakan, "Bagaimana bisa mengungkap kasus korupsi yang cukup besar di Lampung Utara kalau nilai rupiah yang dikorupsinya sedikit dan sedangkan dana anggaran yang ada di daerah tidak besar."

Kajari Kotabumi E. Supariyanto ketika ditanya kasus dugaan penyimpangan anggaran BBM di DPRD Lampung Utara senilai Rp35 juta, yang ditangani setelah ada temuan tim BPK, mengatakan kasus sulit dibuktikan ada pelangaran hukum.

"Karena sulit dibuktikan, dalam penanganannya kasus itu dihentikan dan hal itu telah ada persetujuan dari pihak Kejaksaan Tinggi maupun dari Kejaksaan Agung," ujarnya.

Kasus lainnya, seperti dugaan kasus korupsi di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dalam proyek GN-RHL tahun 2006--2007 lalu, Kajari mengatakan pihaknya tidak menangani hal itu. Menurut dia, masalah itu langsung ditangani oleh pihak Kejati.

Dalam pemantauan Lampung Post, pihak Kejari Kotabumi sering memanggil sejumlah pejabat untuk dimintai keterangan dalam kasus korupsi. Namun, setelah itu, tak jelas apa tindak lanjutnya.

Seperti, dugaan kasus penyelewengan dana anggaran BBM tahun 2004 sebesar Rp35 juta yang tidak disetorkan ke kas daerah oleh pihak DPRD Lampung Utara. Padahal, kasus itu telah sampai proses penyidikan.

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 29 Maret 2008

Deskranasda Lampura Kembangkan Batik Bermotif Tapis

Kotabumi, Lampung - Guna melestarikan motif-motif tradisional pada seni kerajinan tapis sebagai warisan budaya Lampung, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) Kabupaten Lampung Utara mengembangkan batik bermotif tapis.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) Kabupaten Lampung Utara, Endah Kartika Prajawati Agung di sekretariatan, Senin (28/12/2015), mengatakan dengan mengangkat dan mengembangkan motif tapis sebagai motif tradisional Lampung dalam seni batik. Diharapkan kelestarian motif-motif tradisional itu akan tetap terjaga sebagai warisan leluhur bagi generasi penerus.

“Dengan mengangkat motif tapis dalam motif seni kerajinan batik maka motif-motif tradisional itu akan tetap lestari sebagai warisan budaya” ujarnya.

Upaya Deskranasda untuk tetap menjaga kelestarian motif tapis ini, selain melakukan dokumentasi motif-motif tapis tradisional yang ada di masyarakat adat Abung dan masyarakat adat Sungkai. Pihaknya juga melakukan lomba desain batik bermotif tapis sebagai motif khas masyarakat Lampung yang nantinya motif-motif itu akan dijadikan motif pada pakaian.

“Deskranasda Lampura akan mendorong penggunaan kain bermotif tapis sebagai pakaian sehari-hari di masyarakat,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Harian Dewan Kesenian Kabupaten Lampung Utara (Dekalu), Sauki Tarunajaya menuturkan dengan pemakaian kain bermotif tapis itu diharapkan akan menumbuhkan kecintaan generasi muda pada kain tapis sebagai akar budaya warisan nenek moyang mereka.

“Pemakaian pakaian bermotif tapis di kalangan generasi penerus diharapkan akan menumbuhkan rasa memiliki dan secara tidak langsung mereka akan turut melestarikan seni kerajinan itu untuk tidak punah” kata Sauki.

-

Arsip Blog

Recent Posts