Tampilkan postingan dengan label Padangpanjang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padangpanjang. Tampilkan semua postingan

Desember, Padang Panjang Gelar Festival Layang-layang

Padang Panjang, Sumbar - Pemerintah Kota (Pemkot) Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar) melalui Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Porbudpar) akan melaksanakan Festival Layang-layang dalam rangka memeriahkan peringatan hari jadi kota itu pada Desember 2014.

"Kami akan wacanakan Festival Layang-layang memperingati hari jadi kota tahun ini," kata Kepala Bidang Olahraga Dinas Porbudpar Padang Panjang, Trinov, di Padang Panjang, Selasa (8/7/2014).

Ia menyebutkan bermain layang-layang adalah permainan generasi muda di Minangkabau yang sudah berlangsung sejak turun temurun dan memiliki makna adat dalam setiap kegiatannya.

"Untuk melestarikan tradisi itulah, kami mewacanakan akan membuat Festival Layang-layang yang nantinya akan melibatkan Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang ada di Padang Panjang. Karena, ada makna adat yang terkandung dalam tradisi bermain layang-layang tersebut," jelasnya.

Ia mengakui belakangan ini banyak keluhan masyarakat yang terganggu dengan adanya aktivitas bermain layang-layang di lokasi pertanian. Karena, bisa mengganggu dan merusak tanaman dengan banyaknya aktivitas masyarakat, terlebih jika ada layang-layang yang putus.

"Jika kami kelola dengan baik dan terarah kegiatan bermain layang-layang tersebut, tentunya tidak akan ada masyarakat yang terganggu dan malah bisa menjadi ajang hiburan. Apalagi, kegiatan bermain layang-layang tersebut kami pusatkan di satu lokasi tertentu," ungkapnya.

Meskipun belum membicarakan secara resmi persoalan tersebut dengan pihak KAN yang ada di Padang Panjang mengenai penyelenggaraan kegiatan tersebut. Tetapi, kata dia, pihaknya yakin kegiatan yang diwacanakan tersebut akan mendapat dukungan dari pihak KAN.

Karena, kami sudah berkomitmen untuk melestarikan tradisi anak nagari dan hasil yang didapatkan dari kegiatan tersebut nantinya akan dipergunakan untuk operasional KAN tersebut," ungkapnya. (Hamriadi)

Salah seorang warga Padang Panjang, Faizal (40) menyambut baik apa yang diwacanakan pemerintah setempat, sehingga bisa menjadi agenda tahun.

"Perainan layang-layang itu juga bisa mendatangkan pengunjung ke Padang Panjang ini, sehingga masyarakat bisa menangkap peluang itu untuk menggelar dangannya yang bisa meningkatkan pendapatan perekonomian," katanya.

Kebudayaan Melayu Kian Tergerus Seni Modern

Padangpanjang, Sumbar - Indonesia secara fakta tidak dapat dipungkiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan peradaban kebudayaan Melayu. Hal ini terungkap dalam kegiatan Marti­kulasi Program Pascasarjana (PPs) Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Selasa (3/9) kemarin pagi.
Rektor ISI Padangpanjang Prof Dr Mahdi Bahar SKar MHum menyebut martikulasi bertujuan memberikan pemahaman terhadap mahasiswa PPs sebagai tunas-tunas pemimpin bangsa. Meski secara fakta di bangku pendidikan setingkat sarja, anak bangsa mengetahui peradaban Kebudayaan Melayu sebagai suatu keutuhan Nusantara, namun belum secara pemikiran.
Melalui martikulasi, mahasiswa PPs diberikan pembekalan dan pemahaman yang setara dalam program bidang studi dalam menempuh studi. Harapannya agar tunas-tunas pemimpin bangsa ini tidak hanya memahami secara fakta, namun mampu menganalisis dan mem­bang­kit­kan ketenggelaman budaya Mela­yu yang kian tenggelam.
“Mereka yang selama ini telah menge­tahui secara faktanya, mampu mela­hirkan suatu pemikiran guna meng­angkat kembali khasanah budaya melayu sebagai jati diri nusantara dan kehidupan berbangsa di Indonesia,” ungkap Mahdi usai membuka kegiatan martikulasi di Gedung PPs ISI Padangpanjang.
Sementara Direktur PPs ISI Padang­panjang, Ediwar SSn MHum PhD menye­but kegiatan yang akan berlangsung selama 38 jam pertemuan sejak 3-4 Septemberi ini, diikuti sebanyak 33 peserta. Masing-masing 25 mahasiswa baru dan 8 lainnya mahasiswa tahun sebelumnya yang tidak lulus Martikulasi.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari studi yang wajib diikuti. Ada tiga hal yang menjadi penilaian kelulusan, yakni kehadiran, keaktifan diskusi dan pengua­saan materi martikulasi. Jika tak lulus, wajib mengikuti kembali tahun beri­kutnya,” jelas Ediwar.
Selain Rektor dan Direktur PPs ISI Padangpanjang, tampil juga pemateri seperti mantan Direktur ISI Jogjakarta Prof Dr M Dwi Marianto, Maestro Tari asal Indonesia Didik Nonik Tiwik, Dosen Kerawitan ISI Surakarta Dr Bambang Sunarto SSen dan Ketua Prodi Pencip­taan/Pengkajian ISI Padang­panjang Dr Rosita Minawati SSn MSi.

37 Perupa Pameran Marapi Singgalang di Padangpanjang

Padangpanjang, Sumbar - 37 perupa yang berproses di Yogyakarta, Jakarta, Bandung dan Sumatra Barat, mengikuti Pameran Lukisan Marapi-Singgalang yang dibuka secara resmi oleh Penyair Taufiq Ismail Minggu (23/12/2012) di Rumah Budaya Fadli Zon.

Pameran seni rupa Marapi-Singgalang merupakan pameran yang merepresentasikan gejolak seni rupa yang ada di Sumatra Barat saat ini.

Pameran ini juga sebagai keaktifan seniman lukis di Sumatra Barat, bahwa mereka masih ada, masih berproses dan masih memiliki kepekaan artistik yang layak untuk diapresiasi.

Pameran yang terbuka untuk umum ini, berlangsung sampai tanggal 2 Januari 2013. Pameran ini dikuratori oleh Dio Pamola, kurator muda dari Yogyakarta dan Fadli Zon selaku founder juga menulis tentang pameran ini dengan memuatkan fakta-fakta sejarah. Penulis lain, Syafwan Ahmad membahas tentang fenomena seni rupa di Sumatra Barat.

“Pameran ini menjadi penting untuk perkembangan seni rupa Sumatra Barat dalam usaha apresiasi yang lebih besar. Untuk itu butuh kerja sama dari berbagai pihak,” ujar Fadli Zon, budayawan dan politisi yang juga pendiri Rumah budaya Fadli Zon di Nagari Aie Angek, Sumatera Barat dalam rilisnya kepada Tribun.

Dijelaskan, Marapi dan Singgalang, bukan sekadar nama dua gunung yang berdiri gagah di sekitar Bukittinggi, Padang Panjang, Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat. Marapi dan Singgalang sudah menjadi identitas Ranah Minang.

“Diantara keduanya, ada denyut kehidupan para petani, pedagang pasar, para guru, dan rakyat biasa yang bergelut dengan perjuangan sehari-hari. Dari tanah ini telah banyak pula lahir para tokoh pergerakan, ulama, seniman dan budayawan, serta anak-anak bangsa yang mengukir jalan sejarah Republik Indonesia,” paparnya.

Di antara Marapi dan Singgalang, lanjut Fadli Zon, kini juga berdiri Rumah Budaya, sebuah ruang kebudayaan, untuk memajukan kebudayaan Sumatera Barat dan Nusantara. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya.

Dalam area yang sama, telah lebih dulu berdiri Rumah Puisi Taufiq Ismail, satu-satunya Rumah Puisi di Indonesia yang didedikasikan untuk mendukung kemajuan sastra dan budaya Nusantara.

“Pameran Lukisan Marapi-Singgalang adalah pameran lukisan pertama di Rumah Budaya. Sebelumnya sudah banyak kegiatan seni lain dilaksanakan di sini seperti musik tradisi, konser musik Idris Sardi, Trio Cantabile dari Kroasia, hingga Pameran Artefak dan Regalia Kesultanan Melayu Asia Tenggara pada 26-29 Nopember 2012,” tambahnya.

Sementara itu, melukis bersama sudah dua kali dilaksanakan di Rumah Budaya dalam suasana santai dan kekeluargaan. Ada sejumlah karya dilahirkan saat melukis “Marapi Singgalang” di Rumah Budaya beberapa waktu lalu. Pelukis Minang di Sumatera Barat, Kamal Guci, dengan sapuannya yang naturalis-realis merekam panorama dan kegelisahan nasib budaya Minang.

Pelukis Hardi dari Jakarta dengan gaya ekspresionisnya menghadirkan lukisan modern yang kuat dan indah. Hardi bahkan melukis di lantai di tengah guyuran hujan.

Pelukis senior Ipe Maaroef menghasilkan puluhan sketsa dan lukisan cat minyak dengan warnanya yang unik bergaya impresionis. Terasa ada kerinduan Ipe terhadap landskap Minangkabau. Pelukis Yoes Rizal dari Bandung mengekspresikan Marapi dan Singgalang dengan gaya ITB yang khas.

Pameran “Marapi Singgalang” di akhir tahun 2012 ini menghadirkan para perupa dari beberapa daerah yaitu Yogyakarta, Jakarta, Bandung dan Sumatera Barat sendiri. Inilah pameran bersama dari beragam aliran dan gaya, dari pelukis muda hingga perupa senior, dari perspektif ranah maupun rantau. “Marapi Singgalang” adalah sebuah harmoni.

“Mudah-mudahan pameran ini menambah semangat dan geliat seni rupa Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya,” pungkas Fadli Zon.

10 Profesor Bahas Khasanah Melayu

Padangpanjang, Sumbar - Seminar Internasional Festival Seni Melayu Asia Tenggara sebagai salah satu upaya menggali, memetakan dan mendefinisikan Melayu, hari ini digelar di Aula DPRD Padangpanjang selama 28-29 November.

Rangkaian kegiatan Sea MAF 2012 yang menghadirkan 10 pakar-pakar seni dan kebudayaan, serta sejarawan terkemuka itu akan mengupas Melayu dalam ruang lingkup sesungguhnya. Sebagai sebuah dunia Melayu dengan keberagaman etnis, budaya dan geografis yang dirajut berlatar belakang nilai-nilai kesamaan humanistik.

Ketua Seminar Febri Yudika menyebut seminar yang bertemakan Rediscovering the Treasures of Malay Culture ini, juga akan mendiskusikan keberagaman kehidupan seni budaya masyarakat Melayu dan politik identitasnya. Melalui kegiatan itu juga akan memperlihatkan sumbangan peradaban Melayu dalam dinamika kehidupan saat ini.

Seminar yang akan diikuti oleh 350 peserta dari kalangan akademisi, guru, mahasiswa berbagai daerah di Indonesia itu, disebutkan Febri bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan pusat perkembangan peradaban Melayu yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan sejumlah negara.

“Secara politis, bangsa Melayu nusantara pernah dipersatukan dua kerajaan besar Sriwijaya dan Majapahit oleh bahasa Melayu yang hingga kini menjadi bahasa pemersatu (lingua franca) berbagai suku bangsa wilayah Melayu,” tutur Febri yang juga dosen Pasca Sarjana di ISI Padangpanjang itu.

Dikatakannya, peradaban Melayu di kawasan Asia Tenggara sangat besar yang punya pengaruh penting dalam peradaban dunia. Namun saat ini wecana kemelayuan justru seringkali mengecilkan peran dan arti penting peradaban Melayu. Sejumlah pihak dikatakannya malah mengklaim sebagai pemilik syah kebudayaan Melayu.

“Persepsi tentang Melayu pun kemudian menjadi sangat lokal dan spesifik. Hal ini tentunya sangat merugikan dan memecah belah masyarakat, serta peradaban Melayu itu sendiri,” jelasnya.

Pelaksanaan seminar selama dua hari itu, Febri menjelaskan terbagi dalam empat sesion. Masing-masing dua sesion hari pertama (hari ini, red) menghadirkan sebagai nara sumber, Prof Margaret Kartomi (Pemetaan Kebudayaan Melayu), Prof Dr Henri Chambert Loir (Jejak Melayu dalam Manuskrip) dan Suryadi MA (Peran Sastra Melayu dalam Pembentukan Karakter Bangsa)

Sedangkan Seson ke dua, menghadirkan Prof Dr Azyumardi Azra (Pengungkapan Kekuatan Melayu sebagai Wilayah Kekuatan Politik Masa Lalu), Prof Dr Mahdi Bahar (Islam sebagai Landasan Ideal Kebudayaan Melayu) dan Prof Dr Abdul Latiff bin Abubakar (Kebudayaan Melayu Serumpun dalam Konteks Geo-culture)

Sementara sesion pertama hari kedua tampil Prof Dr Abdul Hadi WM (Estetika Seni Budaya Melayu), Prof Dr Yusmar Yusuf (Perkembangan Budaya Melayu Populer), Prof Dr Sri Hastanto dan Prof Dr I Wayan Rai (Pengaruh Kebudayaan Melayu dalam Pembentukan Seni Budaya Lokal Nusantara).

“Seminar akan diakhiri dengan diskusi panel dengan pembicara Call Paper yang merupakan hasil seleksi kelayakan makalahnya oleh panitia dan berasal dari berbagai kalangan,” pungkas Febri.

Festival Seni Melayu Asia Tenggara Bangkitkan Nilai Melayu Dunia

Padangpanjang, Sumbar - Southeast Asia Malay Art Festival (Sea MAF) atau Festival Seni Melayu Asia Tenggara dibuka dengan peragaan kesenian khasanah berbagai daerah di Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Malaysia di lapangan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Minggu (25/11) sore.

Pagelaran bertemakan Rediscovering the Treasures of Malay Culture yang digelar Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI), yang menaungi beberapa perguruan tinggi seni, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, ISI Yogyakarta dan ISI Surakarta. Kegiatan ini upaya perguruan tinggi seni membangkitkan nilai-nilai Melayu untuk penguatan pembangunan jati diri bangsa.

Rektor ISI Padangpanjang Prof Mahdi Bahar mengatakan, selama ini perguruan tinggi seni kerap menggelar kegiatan bersifat internal, seperti seminar, festival dan lainnya antar perguruan yang bertujuan membangun perguruan tersebut. Nah, ISI Padangpanjang menawarkan BKSPTSI juga harus memperhatikan persoalan eksternal, agar terlibat dalam memecahkan persoalan bangsa.

Melalui gagasan itu, BKS PTSI melihat ini jadi suatu agenda penting dan melahirkan gagasan persoalan Melayu yang diangkat sebagai salah satu persoalan bangsa.

Secara kultural, masyarakat Melayu di Asia Tenggara mayoritas berada di Nusantara. Dengan demikian BKS PTSI harus membangkitkan nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan Melayu, baik dalam artian artefak-artefak yang telah menjadi warisan, maupun tradisi yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat. ”Begitupula konsep pemikiran mendalam dari masyarakat Melayu itu sendiri,” katanya.

Ini bertujuan semakin menguatnya pembangunan bangsa. Pasalnya, karakter anak bangsa mulai memudar, begitu pula generasi jelang usia tua, mulai menanggalkan sopan santun dan raso jo pareso. Baik dalam organisasi, maupun kehidupan sehari-hari.

Padahal telah berjalan sejak ratusan tahun lalu, dengan berdirinya kesultanan-kesultanan. Satu di antaranya adalah Minangkabau yang mengedepankan etika sebagai bentuk filosofi, berbasiskan pada Islam yang juga merupakan dasar dari budaya Melayu.

Mahdi berkeyakinan Pancasila dibangun berlandaskan nilai-nilai tersebut, dikhawatirkan mencapai kehancuran jika tidak dilakukan penggalian kekuatan Melayu.

”Lewat festival ini akan terjalin silaturahim lebih baik. Karena seni akan memberi pengaruh besar terhadap kehidupan. Dengan begitu, isu seperti klaim suatu kebudayaan tak perlu lagi terjadi,” tutur Mahdi Bahar usai pembukaan festival yang dilakukan Menko Kesra Agung Laksono itu.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim menyatakan, melalui festival melayu pertama ini dapat mengembangkan budaya Melayu dan mengungkap asal usulnya yang bersumber dari Indonesia. Ini berangkat dari publikasi selama ini yang menggambarkan budaya Melayu tidak dari Indonesia.

Sea MAF yang berlangsung hingga Kamis (29/11) nanti, beberapa festival diadakan yakni pertunjukan seni gerak, visual, artefak, film dan seminar. Diadakan di lima lokasi, yakni di Rumah Budaya Fadli Zon Aia Angek Cottage, Graha Serambi, Gedung M Syafei, Hoeridjah Adam dan aula DPRD Padangpanjang.

-

Arsip Blog

Recent Posts