Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan

Begini Kehebohan Ketika Budaya di 4 Kabupaten Madura Tampil dalam Satu Panggung

Pamekasan, Jatim - Gebyar budaya bertajuk Semalam di Madura, yang digelar di area monumen Arek Lancor, Pamekasan, memukai penonton, Sabtu (29/10/2016) malam.

Pagelaran Semalam di Madura yang berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 20.00 hingga pukul 23.00, menampilkan berbagai kesenian dan budaya khas Madura, dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Selama pagelaran berlangsung, terdengar gemuruh tepukan penonton.

Pagelaran ini diawali dengan penampilan karawitan. Setelah itu suguhan sejarah perjuangan masyarakat Madura dan kegigihan sejumlah ulama di empat kabupaten saat melawan penjajahan kolonial Belanda.

Dilanjutkan parade Batik Madura, yang diperagakan model pria dan wanita dengan membawa dan mempertunjukkan busana dari kain batik.

Dalam parade Batik Madura, diperlihatkan aneka batik yang banyak dipakai kalangan bangsawan di masa kerajaan.

Dari atas panggung model pria dan wanita itu lalu turun mendekati undangan yang duduk di kursi memperlihatkan dari dekat keindahan dan keragaman batik Madura.

Masing-masing batik Madura yang diperlihatkan ini, memiliki filosfi berbeda. Seperti kebahagiaan, keceriaan, terutama batik yan dipakai kalangan bangsawan keraton.

Selanjutnya penampilan tarian Kembang Nagara dari Bangkalan, lalu tari Cebing Malate Sataman yang diperagakan penari dari Sampang.

Setelah itu tari Potre Pamilingan, dari Pamekasan dan terakhir penampilan tari Satria Songenep, yang disuguhkan penari dari Sumenep.

Gebyar Semalam di Madura dihadiri, Bupati Pamekasan, Achmad Syafii, Bupati Sumenep, A Busyro Karim, anggota DPR RI, Said Abdullah, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, H Lulung dan Kepala Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) IV, Pamekasan, Dr Asyhar, pejabat Kabupaten Sampang, Bangkalan dan masyarakat dari berbagai kalangan.

Sebelum dimulai, lebih dulu Bupati Pamekasan, Achmad Syafii naik panggung mengucapkan selamat datang kepada tiga bupati di Madura.

“Kepada seluruh undangan termasuk tiga bupati di Madura, selamat datang yang malam ini ikut menyemarakkan gebyar budaya Semalam di Madura. Semoga hal ini menjadi penguat hubungan antar kabupaten untuk kemajuan Pulau Madura,” kata Syafii.

Menurut Syafii, gebyar Semalam di Madura momen yang tepat untuk lebih mengenalkan pariwisata dan budaya Madura kepada dunia sehingga bisa memajukan pariwisata Madura.

Menurutnya, Madura kaya dengan ragam aneka budaya dan wisatanya. "Dan, masing-masing kabupaten memiliki wisata unggulan,” ungkapnya.

Sumenep Promosi Seni Tradisional ke Wisatawan Asing

Pamekasan, Jatim - Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mempromosikan seni budaya tradisional kepada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kota itu.

Menurut Kabag Humas Pemkab Pamekasan Listidjanto Joko Trisulo, Kamis (19/05/2016), kesenian tradisional yang dipromosikan itu, antara lain tari Topeng Gethak, Karapan Sapi dan Sapi Sonok.

"Ada beberapa orang wisatan manca negara yakni dari Malaysia dan Thailand yang datang ke Pamekasan hari ini," kata Joko.

Ia menjelaskan, mereka datang ke Pamekasan bersama jajaran Pengurus DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Jawa Timur.

Wisatawan mancanegara itu datang ke Pamekasan, serta mengunjungi dua kabupaten lain di Pulau Madura, yakni Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Bangkalan dalam rangkaian kegiatan "Suramadu Adventure Trip".

"Pertunjukan tarian tradisional Topeng Gethak kepada para wisman itu digelar di Pendopo Pamekasan tadi malam," katanya.

Sedangkan, sambung dia, untuk pertunjukan karapan sapi dan kontes sapi sonok, digelar Kamis (19/5) di lapangan Karapan Sapi Dusun Pakong, Desa Durbuk, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.

Selain menikmati seni dan budaya tradisional, para wisatawan manca negara ini, juga diajak mengunjungi sejumlah tempat wisata alam yang ada di Pamekasan.

Antara lain Pantai Jumiang di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, dan wisata Api Tak Kunjung Padam yang terletak di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disporabud) Pamekasan Mohammad, para wisatawan yang datang ke Pamekasan itu, lebih tertarik pada seni dan budaya tradisional, karena dinilai unik.

"Mereka sangat tertarik dengan karapan sapi dan sapi sonok," kata Mohammad menjelaskan.

Budaya Islam Indonesia Diperkenalkan di Turki

Pamekasan, Jatim - Warga ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia yang tinggal di Turki, memperkenal budaya Islam ke masyarakat di negara itu, pada rangkaian peringatan hari lahir (Harlah) yang digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCI-NU) Turki.

"Budaya Islam Indonesia yang diperkenal meliputi pakaian dan musik tradisional, tari saman dan musik rebana," kata Humas Harlah NU di Turki, Bernando J. Sujibto dalam rilis yang disampaikan melalui surat elektronik kepada Antara, Senin.

Mahasiswa S2 asal Indonesia pada fakultas Sosiologi di Selcuk University, Turki itu lebih lanjut menjelaskan, peringatan Harlah Ke-89 NU itu digelar di Kota Kayseri, bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kayseri dan didukung oleh KBRI di Ankara, Kuder dan Pemerintah Kota Kayseri.

Serangkaian acara digelar untuk memperkenalkan kebudayaan Islam Indonesia di negeri itu, seperti pementasan dan pertunjukan tradisi-tradisi Islam Indonesia.

Tari Saman dan musik rebana (dibaan) dan Tari Indang ikut menyemarakkan kegiatan Harlah NU yang berlangsung selama empat hari itu. Panitia juga menggelar diskusi hal ihwal Tari Saman dengan menghadirkan pembicara cendekiawan muda NU asal Aceh, Azman, M.I.Kom.

Diskusi tersebut mengangkat tema "Tari Saman: Representasi Seni Islam dalam Penyebaran Pesan-Pesan Dakwah".

Azman menjelaskan, banyak informasi dan pengetahuan baru tentang Tari Saman yang jarang sekali dihadirkan ke publik Indonesia selama ini. Misalnya tentang sejarah tarian, bentuk gerakan, aturan-aturan dalam tarian dan pesan-pesan dakwah yang ingin disampaikan.

Ia mengemukakan, pada Tari Saman, penari menyampaikan pesan kalimat tauhid "Laiilahaillah". Tari ini, kata dia, tidak sebatas gerak serempak dan cepat yang mampu menarik perhatian, namun juga menjadi media (menyampaikan) kritik tentang sosial budaya, pemerintahan dan sekaligus ajakan untuk melaksanakan syariat Islam.

Azman bahkan membahas secara detail tentang jenis tari itu, mulai dari sejarah terbentuknya tari, hingga dalam perkembangan modern.

Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu juga menampilkan video Tari Saman dari berbagai acara dan bahkan dari luar negeri. Peserta banyak yang terpukau dengan informasi dan pengetahuan baru tentang Tari Saman yang dipaparkan langsung oleh cendekiawan muda asal Indonesia itu.

Menurut Bernando, acara Harlah NU di Turki itu sengaja mengeksplorasi aspek-aspek kultural agama Islam di Indonesia dengan tujuan untuk memperkenal bahwa Islam Indonesia juga kaya akan hazanah budaya.

Semua jenis peraga dan identitas tradisional keagamaan, khususnya yang dipraktikkan oleh warga NU ditampilkan dalam rangkaian acara Harlah NU itu, seperti seperangkat pakaian shalat yang meliputi mukena, baju koko, sarung, songkok/peci dan pakaian tradisional Riau dan Betawi yang dipakai ketika acara pernikahan dan perayaan hari-hari besar Islam lainnya.

"Sebagai negara yang berpenduduk Islam antara Turki dan Indonesia, kegiatan yang menampilkan kebudayaan dan tradisi keagamaan seperti ini sangat perlu didukung dan disemarakkan," kata Yuksel Kahraman, perwakilan dari Pemerintah Kota Kayseri, dalam kata sambutannya dalam acara itu.

Disebutkan, warga lokal Turki yang hardir sangat antusias ketika peragaan pakaian tradisional keagamaan seperti pakaian adat dari Riau, baju koko, peci, mukena dan sarung dipentaskan. Mereka sangat memperhatikan bentuk dan gaya pakaian yang dikenakan oleh para pelajar Indonesia di Turki itu.

Selain acara pementasan seni dan budaya Islami Indonesia, rangkaian kegiatan Harlah NU oleh pelajar, mahasiswa dan PCI-NU Turki itu, juga dilanjutkan dengan acara napak tilas ke situs-situs Islam di Kota Kayseri di negara itu.

Kota yang sudah dihuni sejak 3.000 tahun sebelum masehi ini menyimpan banyak situs sejarah. Masa imperator Saljuk tercatat sebagai tanda masuknya Islam pertama di tanah Anatolia. Situs-situs sejarah sisa Bani Saljuk abad 12 masih tersisa hingga saat ini, seperti komplek Masjid Hunat Hatun yang di dalamnya terdapat madrasah, hamam (tempat mandi bagi hurem raja), dan museum imperator Saljuk.

Selanjutnya ziarah dilanjutkan ke makam ulama besar dan sekaligus guru dari Maulana Jalaluddin Rumi, penyair sufi berpengaruh, yaitu Sayyyid Burhaneddin Tirmizi. Peserta napak tilas membacakan tahlil di komplek makam itu.

24 Pasang Sapi Madura Berebut Piala Presiden

Pamekasan, Jatim - Sebanyak 24 pasang sapi akan berebut Piala Bergilir Presiden RI dalam lomba karapan sapi se-Madura yang akan digelar, Minggu (19/10).

"Ke-24 pasang sapi yang akan berebut Piala Bergilir Presiden RI tersebut adalah pasangan sapi yang menang dalam lomba karapan sapi tingkat kabupaten," kata Kepala Bakorwil IV Pamekasan Jonathan Judianto di Pamekasan, Jatim, Sabtu malam.

Karapan sapi yang akan digelar di Stadion Soenarto Hadiwidjojo itu akan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana.

Piala Bergilir Presiden RI yang akan diberikan kepada pasangan sapi peraih juara satu ini adalah piala berlapis emas 24 karat. Jenis piala ini berbeda dengan jenis piala sebelumnya.

Menurut Jonathan, kebijakan Presiden RI menghadiahkan piala bergilir berlapis emas ini, karena para pemilik karapan sapi di Pulau Madura mau menghapus praktik kekerasan yang selama ini dilakukan saat lomba karapan sapi.

Seperti menggaruk pantat sapi dengan paku, memoleskan balsam dan cabai ke mata dan dubur sapi sebelum sapi-sapi diadu agar larinya lebih secap, serta menusuk dubur sapi dengan pentungan.

"Pada pelaksanaan karapan sapi yang akan digelar di stadion besok itu, tidak akan ada lagi praktik kekerasan seperti itu," terang Jonathan.

Piala Bergilir Presiden RI untuk lomba karapan sapi di Pulau Garam Madura ini, sejak Presiden Pertama RI yakni Ir Soekarno.

Seniman Madura Ingin Patenkan Musik "Palapa Ghena"

PAMEKASAN, Para seniman dan budayawan di Madura, Jawa Timur, berencana mematenkan musik "Palapa Ghena", hasil kreasi berbagai kelompok musik tradisional di wilayah itu.

"Palapa Ghena" ini merupakan gabungan 10 kelompok musik tradisional, seperti musik mulut dhanggek, musik saronen, tari topeng gethak, tari rondhing, musik mulut samman dan tembang macapat," kata salah seorang penggagas gabungan kelompok musik ini dari unsur seniman, Bob Candra, Minggu.

Menurut dia, gagasan untuk mematenkan musik ’Palapa Ghena’ ini sebagai salah satu upaya agar musik ini tidak diklaim oleh negara lain, sebagaimana pernah terjadi belum lama ini.

Musik "Palapa Ghena" atau bumbu lengkap ini untuk pertama kali dipentaskan dalam sebuah deklarasi Kebangkitan Seni Budaya Madura di salah satu rumah makan di Pamekasan belum lama ini.

Ketiga kelompok musik yang melakukan pementasan hanya dari tiga jenis kesenian tradisional. Yakni musik saronen, tembang kejung dan sinden.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan waktu, para penggagas kolaborasi musik tradisional itu terus melakukan penyempurnaan, hingga akhirnya tergabung sebanyak 10 kelompok musik dan kesenian tradisional.

Kolaborasi 10 kelompok musik tradisional ini untuk pertema kali akan dipentaskan pada Minggu (26/8) pukul 19.00 WIB di lapangan eks PJKA Jalan Trunojoyo, Pamekasan.

Iskandar, dari unsur pemerhati seni budaya Madura menyatakan, pihaknya sengaja menampilkan pementasan jenis musik ini bertepatan dengan Lebaran Ketupat dengan tujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat Madura yang tinggal di luar Madura tentang berbagai jenis musik tradisional yang ada di Madura.

Menurut dia, saat ini sudah banyak kalangan generasi muda Madura yang tidak mengetahui akan adanya musik tradisional hasil peninggalan pada budayawan dan seniman di Pulau Garam itu.

"Jadi kepentingan kami adalah melestarikan seni budaya yang ada di Madura ini dengan cara melakukan inovasi tentunya," kata dia.

Ia menilai, Madura sebenarnya kaya akan seni dan budaya. Bahkan di Madura sendiri terdapat sekitar seratus lebih berbagai jenis kesenian tradisional yang pernah berkembang di Pulau Garam tersebut.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan seni dan budaya Madura menghilang tergerus modernisasi. Sehingga berbagai jenis kesenian yang ada di Madura, seolah-olah hilang ditelan bumi.

Tidak hanya itu saja, generasi penerus berbagai jenis kesenian tradisional ini, juga hampir tidak ada. Kalangan generasi muda lebih memilih musik kontemporer untuk mereka pelajari dibanding musik kreasi hasil leluhur mereka.

Wakil Bupati Pamekasan Kadarisman Sastrodiwiryo menyatakan, penyebab kurangnya minat generasi muda mempelaji kesenian tradisional karena jenis musik hasil peninggalan para leluhur itu, terkesan kaku dan sulit untuk dipelajari.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah melakukan kreasi dan inovasi. "Saya berharap, upaya yang dilakukan sebagian kelompok seniman dan budayawan Madura ini bisa mengangkap budaya seni dan budaya Madura menjadi lebih baik, menarik minat kalangan generasi muda untuk mempelajarinya," ucap Kadarisman.

Wabup yang juga penulis buka "Parebasan Madura" ini menambahkan sebenarnya seni dan budaya Madura memiliki potensi ekonomis di bidang pariwisata di Pulau Madura, apabila nantinya mampu dikembangkan dan dikelola secara profesional.

Alasan Kadarisman, karena potensi wisata alam di Madura sendiri tergolong minim, dibanding daerah lain yang sudah maju seperti Malang, dan Bali.

Sumber :KOMPAS.com/ANT
Editor :Jodhi Yudono

Pawai Bunga Sambut Hari Jadi Kabupaten Pamekasan

Pamekasan, Jatim - Pawai bunga untuk memperingati hari jadi Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, yang ke-483, Minggu (24/11/2013), sedikit berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Penampilan peserta pawai tahun ini mengingatkan pada Jember Fashion Carnaval.

Menurut beberapa warga, pawai bunga mungkin meniru momentum tahunan hari jadi Kabupaten Jember, yang dikenal dengan Jember Fashion Carnaval (JFC), yang digagas Dynand Fariz sejak tahun 2001 lalu.

Ada 39 kelompok yang ikut partisipasi kegiatan pawai bunga di Pamekasan. Mereka terdiri dari beberapa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan.

Yang cukup kentara jiplakan JFC di kelompok bagian depan. Asesoris yang digunakan peserta, ada kemiripan dengan asesoris yang digunakan dalam JFC.

Bagus Siswanto, salah satu karyawan swasta di Pamekasan saat menonton pawai bunga mengatakan, dari segi pakaian dan aksesoris yang digunakan peserta, tak jauh beda dengan JFC. Namun di Pamekasan temanya hanya soal bunga. Walaupun bunga tidak mendominasi pada aksesoris yang digunakan.

"Saya melihatnya ini adalah tiruan dan dimodifikasi dengan tema bunga. Kalau di JFC, tema yang diangkat selalu aktuan sesuai dengan trend mode internasional," kata Bagus, yang juga pria kelahiran Surabaya.

Walaupun terkesan meniru, antusiasme masyarakat menonton pawai luar biasa. Sepanjang jalan dalam Kota Pamekasan dipadati ribuan masyarakat yang penasaran dengan pawai bunga tersebut.

"Harapan saya tahun depan ada ide kreatif dari panitia jika memang akan dijadikan agenda tahunan," ujar Bagus.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pamekasan, Alwi, bilang, pawai bunga itu di samping memeriahkan hari jadi Kabupaten Pamekasan, yakni mensosialisasikan program baru Bupati Pamekasan yang disebut dengan Bunga Bangsa (Bupati Ngajak Bangun Desa).

"Ide awalnya sosialisasi program. Namun kita kemas lebih menarik lagi agar masyarakat lebih kenal dan lebih akrab dengan pembangunan di desa. Sebab desa merupakan struktur pembangunan yang perlu mendapatkan prioritas," kata Alwi.

Sementara itu Jhon Yulianto, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan mengatakan, melihat antusiasme masyarakat Pamekasan menyambut pawai bunga, kemungkinan akan dijadikan agenda tahunan. Sebab dampaknya sangat banyak kepada warga Pamekasan. Di antaranya dampak hiburan dan dampak ekonomi.

"Kalau dampak hiburan sudah jelas. Bahkan kami akan terus sosialisasikan ini hingga turis manca negara bisa datang tahun depan. Jika dari aspek dampak ekonomi, perputaran ekonomi selama kegiatan pawai bunga digelar, sudah bisa dinikmati masyarakat Pamekasan," ungkap Jhon.

Gebyar Budaya Semalam di Madura Dianggap Sakral

Pamekasan, Jatim - Gebyar Kebudayaan Madura yang dikemas dalam kegiatan Semalam di Madura di Kabupaten Pamekasan, Sabtu (20/10/2012) malam dibuka dengan tarian Muang Belei atau tarian membuang bahaya.

Tarian yang dimainkan sanggar tari siswi salah satu SMK di Pamekasan itu mendapat samburan meriah dari undangan yang hadir, termasuk tiga turis asing dari Australia dan Kanada.

Budayawan Pamekasan Yoyok R Effendi mengatakan, tarian itu merupakan pembuka dari setiap acara yang dianggap sakral. Karena dalam tarian Muang Belei itu, mengandung makna pemasrahan diri kepada Yang Mahakuasa atas segala sisi kehidupan.

Selain tari Muang Belei, ada beberapa penampilan lainnya yang disajikan kepada para tamu, seperti Kabupaten Sampang yang menampilkan tarian Bul Ombul Kerrapan Sape. Tarian ini sebagai bentuk kebanggan budaya kerapan sapi di Madura yang sudah dikenal di banyak mancanegara.

Sementara Kabupaten Bangkalan menampilkan tarian Hadrah Jidor.

Gebyar Semalam di Madura kali ini digelar di tempat yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya ditempatkan di area Monumen Arek Lancor Pamekasan, tahun ini ditempatkan di Pendopo Ronggosukowati.

Meskipun ada perubahan tempat penyelenggaran, antusiasme warga untuk menyaksikan parade kebudayaan empat kabupten di Madura tetap semarak.

Herman Kusnadi ketua panitia Gebyar Semalam di Madura mengatakan, kegiatan kebudayaan Semalam di Madura rutin digelar setiap tahun. Tujuannya untuk mempromosikan segala kesenian dan kebudayaan yang ada di Madura, baik untuk wisatawan domistik maupun wisatawan mancanegara.

"Kegiatan ini juga mengangkat perekonomian warga Pamekasan karena pelaku-pelaku ekonomi bisa meraih keuntungan dengan berbelanja di Pamekasan," kata Herman Kusnadi.

Kegiatan ini pula diselingi dengan penampilan maha karya batik Pamekasan. Batik-batik itu diperagakan Kacong dan Cebbing Pamekasan. Cristine Hakim, artis senior papan atas, yang turut hadir, kagum dengan penampilan kesenian dan beberapa batik hasil karya para pengrajin Pamekasan.

Seniman Jadikan Lebaran sebagai Ajang Promosi Budaya

Pamekasan, Jatim - Sebagian seniman di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, berencana menjadikan momentum Lebaran 2012 sebagai ajang promosi untuk memperkenalkan berbagai jenis kesenian dan budaya tradisional yang ada di wilayah itu.

Menurut juru bicara seniman Pamekasan Bob Candra, Senin, pihaknya telah mempersiapkan pementasan kesenian tradisional Madura guna menyambut libur Lebaran nanti.

"Salah satunya adalah pementasan kolaborasi kesenian tradisional Madura pada Lebaran Ketupat di lapangan Eks PJKA Jalan Trunojoyo, Pamekasan," katanya.

Ia menjelaskan, pementasan kolaborasi jenis kesenian tradisional tersebut, antara lain jenis kesenian tembang macapat, musik mulut dhengge, musik saronen dan musik tradisional Daul.

Bob Candra mengatakan pementasan kolaborasi seni budaya tradisional Madura saat Lebaran Ketupat nanti itu, terselenggara atas kerja sama antara para pegiat seni tradisional dengan Yayasan Landhep Semmo, yakni yayasan yang bergerak dalam pelestarian seni budaya Madura.

"Kami menilai promosi seni budaya tradisional dengan memanfaatkan momentum Lebaran ini akan lebih efektif untuk mensosialisasikan kepada warga Madura yang selama ini tinggal di perantauan, akan seni dan budaya leluhur mereka," ucap Bob Candra.

Ia menjelaskan, warga Madura yang tinggal di luar Madura, jelas tidak akan banyak mengetahui beragam jenis kesenian tradisional yang merupakan hasil kreasi para leluhur mereka.

"Jangankan yang tinggal di luar Pulau Madura, generasi muda yang tinggal di Madura saja saat ini banyak yang tidak paham," kata dia.

Menurut Ketua Yayasan Landhep Semmo, Iskandar, upaya melestarikan seni budaya tradisional Madura yang akan digelar pada Lebaran Ketupat nanti, sebenarnya merupakan kegiatan lanjutan. Sebab sebelumnya, yayasan itu juga telah menampilkan beragam kegiatan, bekerja sama dengan salah satu pengelola rumah makan di Pamekasan.

"Saya dan teman-teman yang peduli akan seni budaya Madura terdorong untuk melestarikan melalui lembaga yayasan ini, karena seni budaya Madura kini sudah nyaris punah. Padahal warisan budaya leluhur di Madura sangat banyak," katanya menjelaskan.

Iskandar yang juga anggota DPRD Pamekasan itu lebih lanjut menjelaskan, gerakan pelestarian seni budaya Madura yang dilakukan lembaganya tidak hanya terbatas pada pementasan saja, akan tetapi juga berupaya mengubah berbagai jenis seni budaya itu lebih disuka kalangan kelompok muda.

"Caranya tentu harus ada reaktualisasi dengan cacatan tetap berpengang pada unsur-unsur pokok dalam seni tradisional itu sendiri," katanya menambahkan.

Iskandar lebih lanjut menjelaskan, pemanfaatan liburan Lebaran sebagai ajang promusi seni budaya Madura itu, juga sebagai tindak lanjut dari kegiatan deklarasi Kebangkitan Seni Budaya oleh 100 seniman Madura, belum lama ini.

-

Arsip Blog

Recent Posts