Pemprov DKI Gelar Karnaval Budaya Betawi

Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggelar Karnaval Budaya Betawi yang mengangkat ondel-ondel.

"Kota Jakarta tidak boleh kalah dengan Singapura, Kuala Lumpur, Sidney, dan London yang menggelar event karnaval besar," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat memberi sambutan pada Silaturahmi bersama Pengurus RT, RW, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), Dewan Kota Kabupaten dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta Lembaga Kemasyarakatan DKI di Istora Senayan, Minggu.

Jokowi mengaku dirinya berkeinginan pusat kebudayaan Indonesia berada di Jakarta. Untuk itu, Pemprov DKI akan memulai gerakan perdana dengan mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) memakai pakaian khas Betawi mulai 2013.

Namun, Pemprov DKI masih memproses apakah pakaian Abang None atau Sadariah yang akan dikenakan seluruh pegawai pada setiap hari Rabu nanti.

"Intinya, kota Jakarta harus punya karakter, identitas, dan ciri khas," ungkapnya.

Pemprov, lanjut Jokowi, DKI juga mencanangkan program nuansa khas Betawi pada setiap bangunan yang akan didirikan di Ibukota mulai tahun depan.

"Setiap bangun pasar, apartemen, kantor, sekolah, bank, dan sebagainya wajib memakai karakter Betawi. Saya akan memaksa walaupun sekadar nampak di depan bangunan saja," tuturnya..

Jokowi menjelaskan, kebudayaan khas Betawi yang bisa ditonjolkan di dalam bangunan sangat banyak di antaranya rumah Kabayan, rumah pesisiran, rumah Joglo Betawi.

"Namun, sayangnya keberadaan budaya tersebut sudah beberapa tahun dilupakan," jelasnya.

Jokowi menambahkan, pihaknya juga berencana menggerakkan kembali sejumlah sanggar budaya di tingkat kampung.

"Saya mengajak masyarakat bergerak untuk mewujudkan program ini. Pemda tidak mungkin bergerak sendiri, semuanya harus digerakkan," tambahnya.

Silahturahmi dihadiri sekitar 10.000 pengurut RT, RW, LMK, Dewan Kota Kabupaten dan PKK serta Lembaga Kemasyarakatan se DKI Jakarta.

Acara itu dimeriahkan pula dengan pementasan sejumlah seni tari di antaranya Tarian Lampion Oriental, Tarian Melayu, Tarian Jawa bakul jamu, Gambang Keromong China peranakan Betawi. Serta sejumlah artis yakni Didi Kempot, Iis Dahlia dan Teamlo.

Kemdikbud gelar dialog budaya Melayu

Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 3-5 Desember 2012, di Riau, Pekanbaru, menggelar Dialog Budaya Melayu dalam upaya menumbuhkan rasa kebersamaan Melayu melalui kesamaan sejarah, seniman, dan masyarakat.

Siaran pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diterima di Jakarta, Minggu, menyebutkan selain dialog yang mengambil tema "Revitalisasi Kearifan Budaya Melayu, Kini dan Masa Datang", juga akan diadakan pertunjukan budaya dan pameran kebudayaan Melayu.

Menurut Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti, tujuan lain yang ingin dicapai dari pelaksanaan Dialog Budaya Melayu tersebut adalah memberikan kesempatan berdialog kepada para sejarawan, budayawan, seniman, dan masyarakat Melayu. Selain itu, mengajak dan membangun kesadaran tokoh-tokoh masyarakat Melayu untuk saling membantu dan mengembangkan nilai-nilai kearifan budaya Melayu dan mendapat masukan tentang upaya menjaga serta meningkatkan kebersamaan Melayu.

Peserta kegiatan itu adalah pelaku bidang kebudayaan, tokoh masyarakat, sejarawan, pecinta seni dan budaya, serta seniman. Selain itu, sasaran kegiatan tersebut juga kepada organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa, organisasi masyarakat, serta pers.

Hasil yang diharapkan dari acara tersebut adalah memperoleh masukan untuk menjaga dan meningkatkan rasa kebersamaan terhadap budaya Melayu.

"Diharapkan dari acara ini akan menjadi jembatan terlaksananya Dialog Budaya Melayu dan kegiatan pendukung lainnya yang berskala internasional," katanya.

Dalam seminar kebudayaan akan tampil tiga narasumber utama berasal dari Indonesia yakni Tengku Nasaruddin Said Effendy (seniman dan budayawan), Taufik Abdullah (sejarawan), dan Sangkot Marzuki Batubara (ilmuwan).

Selain itu, juga akan hadir narasumber berasal dari Malaysia, Brunei, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Kegiatan Dialog Budaya Melayu yang akan diikuti oleh 300 orang peserta berasal dari seluruh Indonesia itu kerja sama Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Pemerintah Provinsi Riau, dan Lembaga Adat Melayu Riau.

Opera Batak Dipentaskan di Jerman

Balige, Sumut - Pusat Latihan Opera Batak atau PLOT dari Pematangsiantar, akan mementaskan opera berjudul "Perempuan di Pinggir Danau" untuk mengikuti sebuah festival dan promosi budaya tentang Sumatera Utara di Koeln, Jerman pada November 2013.

"Sosialisasi keberangkatan Tim Opera Batak ke Jerman telah didiskusikan secara lebih matang dengan publik di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan pada Sabtu (1/12)," kata Ketua PLOT, Thompson Hs di Balige, Minggu.

Menurut Thompson, dirinya berperan menjadi sutradara pementasan kesenian opera tradisional dengan setting keindahan Danau Toba yang mengisahkan perempuan dalam tatanan budaya adat Batak itu, guna mempromosikan potensi pariwisata Sumatera Utara pada pementasan yang akan diselenggarakan di Museum Koeln, Jerman.

Penulis naskah `Perempuan di Pinggir Danau`, Lena Simanjuntak dari Koeln, Jerman bersama Ketua Persahabatan Indonesia-Jerman, Karl Mertes sebagai panitia turut menghadiri bincang-bincang di ruang pameran Taman Budaya Sumatera Utara Medan tersebut.

Selain itu, kata Thompson, dua maestro Opera Batak dan beberapa personil yang terlibat dalam Tim yang akan bertolak ke Jerman mengikuti diskusi yang dikaitkan dengan 10 tahun revitalisasi Opera Batak, yang perencanaannya sudah mereka persiapkan sejak Agustus 2012 di Jakarta, sesuai program yang djadwalkan.

"Akhir Oktober 2012 lalu, program Revitalisasi Opera Batak sudah dimulai di Tarutung dengan kerjasama Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemkab Tapanuli Utara," ujarnya.

Namun, lanjut dia, karena situasi di Jakarta belum mendukung, maka sosialisasi keberangkatan Tim dilaksanakan di Medan, sebab PLOT menganggap pementasan tersebut sebagai salah satu agenda 10 tahun revitalisasi opera Batak yang cukup penting.

Memang, menurut Thompson, beberapa agenda tentang revitalisasi tersebut sudah berlangsung, antara lain, pemberian gelar kepada beberapa orang yang berperan langsung dari awal program sampai proses operasional PLOT.

"Acara 10 tahun revitalisasi tersebut juga menggelar diskusi informatif terkait proses revitalisasi Opera Batak, seperti pertunjukan, pameran, seminar dan workshop," kata Thompson.

Batik Bantul Diperkenalkan di Museum Tekstil Jakarta

Yogyakarta - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memperkenalkan produk kerajinan batik daerah ini di Jakarta agar bisa diketahui masyarakat nasional.

"Upaya mengenalkan batik produk Kabupaten Bantul dikemas dalam pergelaran Mahakarya Batik Bantul 2012 di Museum Tekstil Jakarta, belum lama ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul Bambang Legowo di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, acara yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Pekan Batik Nusantara di Jakarta itu, merupakan salah satu upaya untuk lebih mengenalkan produk Batik Bantul di tingkat nasional, sehingga diharapkan akan lebih terkenal sekaligus diminati masyarakat.

"Pada acara itu, juga hadir Ny Iriana Joko Widodo (istri gubernur DKI Jakarta Joko Widodo), dan Bupati Bantul Sri Surya Widati serta pecinta batik di seluruh Jakarta dan sekitarnya," kata Bambang Legowo.

Ia mengatakan rombongan tim pergelaran Mahakarya Batik Bantul terdiri atas para usaha kecil menengah (UKM) Batik, penari dan perancang busana.

"Di sesi pameran, rombongan dari Bantul menampilkan produk batik andalan Bantul yaitu batik pewarna alami, dan batik khas corak Bantul dari Imogiri, Wijirejo, maupun Bambanglipuro," katanya.

Sedangkan pada sesi "fashion show", kata Bambang Legowo, pihaknya menampilkan produk batik Bantul dengan berbagai model yang diperagakan peragawan-peragawati yang sudah berpengalaman.

"Secara keseluruhan pergelaran Mahakarya Batik Bantul berjalan sukses, dan mendapat tanggapan yang bagus dari masyarakat Jakarta, baik pada sesi pameran maupun sesi `fashion show`," kata Bambang Legowo.

Joged Bumbung Massal Pecahkan MURI

Tabanan, Bali - Joged Bumbung sebagai tarian tradisional masyarakat Bali yang dibawakan secara massal dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-519 Kabupaten Tabanan, Kamis, memecahkan rekor yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

Dalam pemecahan rekor tersebut, Pemerintah Kabupaten Tabanan mengerahkan sekitar seribu penari dan penabuh gamelan dari 35 kelompok seni atau "sekaa" yang tersebar di 10 kecamatan.

"Pemecahan rekor ini sekaligus sebagai upaya untuk mengembalikan citra Joged Bumbung yang selama ini dianggap negatif karena dikesankan mengandung unsur porno," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tabanan I Wayan Adnyana.

Ia mengakui seni tradisional itu terpuruk citranya karena ada kemasan pornografi dalam penyajiannya, seperti banyak dijumpai dalam bentuk cakram padat (CD) yang beredar di pasaran.

"Padahal Joged Bumbung adalah tari pergaulan yang populer di kalangan masyarakat Bali sehingga dipentaskan di tempat umum sebagai hiburan segar di sela-sela rangkaian upacara adat," katanya.

Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryasatuti menambahkan bahwa masyarakat harus memahami tarian tersebut sesuai bentuk aslinya yang artistik dan jenaka karena adanya ’pengibing’ yang membuat masyarakat terhibur.

"Tapi belakangan tari itu dibumbui adegan porno. Padahal ditonton oleh semua lapisan masyrakat, termasuk kalangan anak-anak," katanya prihatin.

Para penari pria dan wanita tidak malu-malu menari di depan para pejabat. Tari itu terbagi menjadi lima jenis, yakni joged pingitan, udegan, andir, gandrung, dan joged bumbung.

Rafly: Seni Aceh Berlandaskan Islam

Banda Aceh, NAD - Piasan Seni merupakan ajang pertunjukan seni yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh. Rangkaian kegiatan seni yang dilaksanakan selama lima hari tersebut bertujuan untuk memberikan ruang apresiasi dan edukasi kesenian para seniman, pekerja seni, serta masyarakat peminat kesenian.

Salah seorang yang berkecimpung dalam dunia seni Aceh, Rafly memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Banda Aceh atas terselenggaranya kegiatan ini. Saat ditemui The Globe Journal usai penampilannya pada malam pembukaan Piasan Seni, Rabu (28/11/2012), pria kelahiran tahun 1967 tersebut mengharapkan agar agenda ini dapat terus berlanjut di tahun yang akan datang. “Menjadi agenda rutin, kontinuitasnya tetap, dan merangkul banyak seniman, budayawan juga, dan harus variatif. Dan yang paling penting, apapun yang dibawa bukan sekedar hiburan, tapi ada esensinya,” tuturnya.

Baginya, setiap kegiatan yang dilaksanakan, terutama pentas seni harus mengandung makna yang bisa disampaikan kepada masyarakat. Seni, ujar Rafly bisa memberikan esensi yang benar-benar bermanfaat untuk rakyat. “Untuk apa sajalah, yang penting ada manfaatnya,” ujarnya.

Menanggapi dunia seni Aceh, pria asal Samadua, Aceh Selatan ini mengatakan secara keseluruhan belum dilakukan pendekatan budaya yang maksimal. Baginya, melalui pendekatan budaya, itu menjadi perekat bagi insan seni. “Jadi artinya hal ini betul-betul harus dilakukan secara berkesinambungan baik melalui seniman-seniman di pedesaan dan di pedalaman Aceh,” tuturnya.

Rafly menginginkan seni menjadi sebuah kesejukan dengan adanya pesan-pesan keagamaan, sosial, alam, lingkungan dan hal-hal lainnya. “Sehingga kontennya bukan hanya geografis. Seni yang dikemas menjadi seni Aceh kontemporer tapi tetap dalam kearifan ke-Acehan. Tetap dinamis, jadi Islam kita Islam yang dinamis. Bukan Islam yang kaku,” jelasnya.

Pelantun tembang ‘Seulanga’ ini mengatakan bahwa seni yang berkembang di Aceh adalah sebuah kesenian yang berlandaskan Islam. Meski terjerat dengan batasan-batasan nilai-nilai keislaman, Rafly mengatakan para pelaku seni dan masyarakat Aceh tetap harus bangga dengan batasan-batasan yang ada. “Karna dengan itulah keindahan seni Islam,”ungkapnya.

“Dalam seni, estetika itu pasti, nah etika malah lebih pasti. Ini yang harus menjadi tanggung jawab, harus diskusi-diskusi selanjutnya,” lanjutnya.

Dia juga mengharapkan agar seniman-seniman Aceh terus menghasilkan karyanya, dan menjadikan seni itu kebutuhan sehari-hari dalam hidup mereka. “Jangan punya ketergantungan untuk siapa, jadikanlah seni itu kebutuhan keseharian kita. Hingga dengan seni, hati menjadi bijak,” ungkapnya.

Selain itu, dia juga mengharapkan agar pemerintah terus melihat dan juga menjadi media yang selalu berkompromi dengan seniman. “Hingga menjadi satu kebersamaan dan sinergi untuk kemajuan Aceh seluruhnya,” harapnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts