Meriah, Pertunjukan Kebudayaan Indonesia di New South Wales

Sydney, Australia - Pada Jumat, tanggal 23 Agustus 2013, bertempat di Dulwich Hill Primary School, New South Wales, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney memfasilitasi pertunjukan dan pelatihan kesenian dengan thema "Great Gamelan", yang dibawakan oleh kelompok kesenian Makukuhan, serta dihadiri oleh 200-an siswa kelas 5 dan 6 beserta para guru sekolah tersebut.
Acara dimulai dengan pengenalan tentang Indonesia termasuk menyampaikan hubungan Indonesia dan Australia sebagai negara bertetangga terdekat, memperkenalkan Bahasa Indonesia, pertunjukan permainan gendang, gamelan, tarian topeng dan tari kecak yang diakhiri dengan pelatihan gendang dan tari kecak.
Kelompok kesenian Makukuhan dibentuk tahun 1999 di New South Wales, terdiri dari 4 orang masyarakat Indonesia, yaitu: Sdr. Deva Permana, Reza Iskak, Murtala, dan Efic, yang dalam penampilannya sangat memukau dan mendapat perhatian yang mendalam dari para siswa dan guru sekolah.
Para siswa sangat bersemangat mempelajari Bahasa Indonesia yakni dengan mengucapkan kembali instruksi yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia ketika melakukan latihan menabuh gendang dan gemelan serta mengikuti gerak dan lagu tari kecak Bali yang diperagakan oleh kelompok seni Makukuhan.
Walaupun pelatihan ini dilakukan dalam waktu singkat, namun para siswa mampu mengikuti dan mempraktekan dasar-dasar permainan gamelan dan tari kecak dengan baik.
Setiap tahun, KJRI Sydney menyusun dan melaksanakan program pelangi yaitu mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia kepada masyarakat khususnya siswa sekolah di New South Wales, Australia. Dalam mempromosikan budaya dan bahasa ini, KJRI bekerjsama dengan kelompok-kelompok seni masyarakat Indonesia di New South Wales.
Mewakili KJRI Sydney, Konsul Pensosbud menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada Ms. Seline Elks, Wakil Kepala Sekolah serta para guru dan siswa yang menghadiri kegiatan pertunjukan dan pelatihan kesenian Indonesia di sekolah tersebut. Ditambahkan pula bahwa program pelangi ini merupakan kegiatan KJRI yang dilakukan untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Indonesia serta hubungna baik antara Indonesia dan Australia kepada masyarakat khususnya siswa sekolah di New South Wales.

Wow, Orang Belanda Sukai Kesenian Pantura Indramayu dan Cirebon

Cirebon, Jabar - Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq yang membidangi hubungan luar negeri mengatakan, kesenian tradisional daerah Pantura Kabupaten Cirebon dan Indramayu diminati di Belanda.
Apresiasi warga Belanda terhadap kesenian tradisional daerah Pantura Kabupaten Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat cukup tinggi terlihat dari setiap diselenggarakan festival budaya Indonesia di Belanda, katanya kepada wartawan di Cirebon, Sabtu.
"Orang-orang Belanda sering minta pertunjukan tari topeng, dan kesenian lainnya," ucapnya.
Kesenian daerah Pantura Cirebon dan Indramayu memiliki nilai tinggi, kata dia, Eropa melirik tari topeng tetapi kondisi yang ada cukup memprihatinkan dimana kelompok seni diperdesaan semakin tergeser budaya luar.
Butuh perhatian Pemerintah Daerah terhadap pembinaan dan pengembangan seni budaya, selain memiliki nilai sejarah tinggi kesenian tradisional tersebut merupakan cara memperkuat jalinan silaturahmi.
Pihaknya menyambut baik rencana Pemerinta Provinsi Jawa Barat membangun gedung seni di Cirebon dan Indramayu untuk meningkatkan juga melestarikan kesenian tradisional tersebut.
Sementara itu Yono kelompok seni budaya lokal di Indramayu mengaku, perhatian pemerintah terhadap kelompok seni di perdeasaan masih rendah, padahal memiliki potensi dan diminati Eropa.
Selama ini kesempatan kelompok kesenian tradisional di Indramayu terbatas, kata dia, hanya dalam festival budaya sedangkan untuk menghibur warga Pantura mereka terbiasa menggelar organ tunggal.

Pekan Kebudayaan Aceh Ke-6 Digelar September

Jakarta - Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengundang Presiden SBY untuk menghadiri Pekan Kebudayaan Aceh. Zaini Abdullah menyebut kalau Presiden SBY berkenan untuk hadir di acara yang telah digelar sejak tahun 1958 tersebut.
"Cukup bagus respon beliau, terkait dengan Pekan Kebudayaan Aceh, berkenaan hadir," ujar Zaini Abdullah di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Jumat 30 Agustus 2013.
Zaini Abdullah mengatakan Pekan Kebudayaan Aceh digelar pada 20 September 2013 hingga 29 September 2013. Pihaknya sangat mengharapkan kehadiran Presiden SBY.
"Dan itu sangat kami harapkan hadir kedatangannya 20 September," imbuhnya.
Dikutip dari situs disbudpar.acehprov.go.id, acara Pekan Kebudayaan ini telah dilangsungkan sejak tahun 1958. Rangkaian acara diantaranya pawai budaya, pameran, seminar temu budaya dengan para tokoh Aceh, gebyar seni, permainan rakyat, atraksi budaya dan sebagainya.

Jabar Segera Bangun Gedung Seni Budaya Pantura

Cirebon, Jabar - Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera membangun gedung seni budaya pantai utara (pantura) Kabupaten Cirebon dan Indramayu untuk melestarikan kesenian lokal yang terancam punah itu.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq di Cirebon, Sabtu, mengatakan perhatian Pemerintah Daerah terhadap pembinaan dan pengembangan seni budaya masih rendah, karena itu rencana Jawa Barat membangun gedung kesenian di Cirebon dan Indramayu diharapkan dapat melestarikan kesenian tradisional tersebut.
"Kesenian tradisional Cirebon dan Indramayu dikenal hingga Belanda, tapi selama ini kelompok seni di daerah masih belum tersentuh, padahal setiap festival kesenian di Eropa selalu diminta mengirimkan perwakilan," katanya.
Menurut dia, kesenian daerah Pantura Cirebon dan Indramayu butuh perhatian karena semakin ditinggalkan oleh masyarakat setempat, setelah terdesak beberapa seni modern yakni organ tunggal, padahal seni lokal memiliki nilai jual tinggi.
Peran seni budaya lokal Cirebon dan Indramayu dapat menjadi alat untuk mempererat komunikasi masyarakat Pantura, kondisi yang ada kelompok kesenian tradisional di pedesaan kini semakin tergeser.
Sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan kelompok seni dan Wakil Gubernur Jawa Barat, kata dia, untuk meningkatkan dan mendongkrak kembali seni budaya lokal Pantura Cirebon-Indramayu.
Sementara itu, pemerhati kesenian lokal Hadianto menuturkan beberapa kesenian daerah semakin ditinggalkan oleh masyarakat Pantura Cirebon dan Indramayu, akibat lemahnya perhatian Pemerintah Daerah terhadap kelompok seni.

Kongres Kebudayaan Sikapi Kepunahan Budaya Rakyat

Yogyakarta - Para pegiat, budayawan dan seniman prihatian dengan tergerusnya budaya rakyat oleh teknologi. Jika dibiarkan tanpa inisiatif untuk menyelamatkan, budaya rakyat akan sirna.
Kongres Kebudayaan Rakyat di Yogakarta, Sabtu (31/8/2013) merupakan salah satu inisiatif penyelamatan budaya rakyat yang diprakarsai oleh Masyarakat Adat dan Tradisi Mataram dan Pusat Studi Kebudayaan UGM.
Juru Bicara Masyarakat Adat dan Tradisi Mataram, Dewanto menyatakan pembahasan utama berkisar pada Problematika Kebudayaan Rakyat di Yogyakarta. Target dari diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kebudayaan tersebut, pelacakan inisiatif pemikiran dan praktik-praktik budaya yang diperlukan untuk menyelamatkan budaya rakyat.
Dari forum tersebut, diharapkan pegiat seni budaya akan terinispirasi untuk meningkatkan dialektika dengan kebudayaan rakyat.
Dalam pernyataanya di Yogyakarta, Kamis (29/8/2013), Dewanto menyatakan kongres tidak hanya berbicara pada tataran konsep, di dalamnya dibuka panggung apresiasi antara lain kirab utusan kelompok dan pegiat seni budaya di DIY serta orasi budaya bertempat di Gedung Pemuda Ambar Binangun, Bantul.
Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Dr. Aprinus Salam mengatakan, indikasi budaya rakyat akan punah dilihat dari minat kawula muda untuk berkiprah dalam seni budaya lokal. Menurut dia, kalangan muda lebih menikmati pergaulan keseharian dengan teknologi dibanding kebudayaan di mana mereka tinggal.
“Kebudayaan tersingkir, tidak diperhatikan dan dianggap sebagai seni budaya yang ala kadarnya. Sebagai contoh, 200 budaya rakyat di Sleman mulai mati suri karena tidak ada yang menghidupkan dan berminat untuk mempelajari," ujarnya..
Menurut dia, kebudayaan terpinggirkan menjadi proses alamiah karena itu bagian dari proses semangat era. Saat ini generasi muda lebih mengarah ke hal-hal yang berhubungan dengan elektronik sehingga transformasinya terputus.
Walaupun bisa dianggap wajar, kepunahan budaya rakyat harus dicegah. Caranya para pemangku kebijaakan formal maupun informal sepakat untuk melakukan perlindungan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan rakyat.

Cing-Cing Goling, Tradisi yang Menceritakan 2 Prajurit Majapahit

Gunungkidul, DIY - Warga Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY, menggelar tradisi Cing-Cing Goling. Acara budaya itu menceritakan tentang dua prajurit Kerajaan Majapahit dalam membasmi perampok dan membuat sungai hanya dengan menggores tanah menggunakan tongkat.
Ritual rutin setiap tahun itu dilakukan dengan memotong ratusan ayam kampung untuk dijadikan ingkung sebagaiuborampe (perlengkapan) sesaji. Setelah didoakan pemangku adat desa, ingkung bersama nasi gurih dan lauk, dibagikan kepada para pengunjung ritual di dekat Bendungan Kali Dawe tersebut.
Ritual tahunan itu mendapat perhatian ratusan pengunjung dari berbagai wilayah DIY dan Jawa Tengah yangngalap (berharap) berkah. Mereka berkumpul di bawah pohon besar yang rindang untuk mengikuti kenduri massal.
Selain itu, mereka juga menyaksikan pagelaran kolosal tentang pelarian prajurit Majapahit, Wisangsanjaya, dan Yudopati.
Dua prajurit itu diceritakan bersatu dengan warga untuk mengusir perampok. Pada adegan tersebut puluhan orang berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga di sekitar bendungan, untuk mengusir gerombolan penjahat.
Meskipun tanaman diinjak-injak, namun para petani tidak marah. Warga percaya, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, namun justru bertambah subur. "Cing goling cing goling," teriak para penari sambil menari, Kamis (29/8/2013).
Tradisi yang dilaksanakan bersamaan upacara bersih desa itu juga menceritakan tentang keberhasilan dua prajurit membuat sungai dan bendungan. Konon, hanya dengan senjata berbentuk tongkat dan cambuk (cemeti) yang digoreskan pada tanah sambil berjalan, bekas goresan itu berubah menjadi sungai dengan air yang mengucur deras.
Air sungai dan bendungan yang melimpah dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian yang berubah menjadi sawah, sehingga kehidupan warga semakin sejahtera. Setelah selesai upacara, seluruh peserta kenduri membawa pulang makanan yang terdiri dari ayam, sayur, dan nasi menggunakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
Acara budaya itu menarik perhatian Bupati Gunungkidul, Badingah, yang turut hadir berserta jajarannya. Menurutnya, tradisi tersebut dapat menjadi daya pikat bagi wisatawan untuk mengunjungi kabupaten terluas di DIY itu.
"Tahun depan, sebelum upacara tradisi ini, hendaknya pemangku adat menemui Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, sehingga bisa dipersiapkan untuk dikemas menjadi paket wisata," kata Badingah.
Kunjungan wisata ke Gunungkidul sejak beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Hal itu akan akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan tradisi dan budaya agar lebih dikenal secara luas.
"Tradisi ini digelar siang hari, nah sebelum wisatawan ke sini, bisa mengunjungi tempat wisata seperti Goa Pindul, Si Oyot dan sebagainya, sehingga tradisi masyarakat bisa dikenal oleh masyarakat lainnya," ujarnya.
Selain itu, lanjut Badingah, pemkab akan membangun sebuah pendopo berbentuk rumah Joglo, yang dapat digunakan untuk menggelar acara-acara budaya atau tradisi.
"Bangunan bekas kantor pengairan kan tidak dipakai, sehingga bisa dibangun Joglo untuk menggelar tradisi Cing-Cing Goling, apalagi ini tanah kas desa. Ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang diterima masyarakat," katanya.
-

Arsip Blog

Recent Posts