Video Mesum Siswi MTS Dilakukan di Hutan

Informasi yang dihimpun Hai dari Surya Online dan Kompas.com, adengan video mesum siswi Mts Magetan diambil di kawasan hutan Desa Ngunut, Kecamatan Parang.

Dalam adegan itu, pelaku cewek menggunakan jilbab dan kaus berwarna merah muda, dan memakai bawahan long dress berwarna ungu. Sementara sang cowok, menggunakan kaus berwarna hitam dan kalung rantai monel.

Dalam video itu, wajah si cewek lebih banyak diperlihatkan, sedangkan wajah cowoknya juga terlihat meski hanya sekilas. Adegan yang nggak pantas dilakukan itu diduga direkam sekitar pertengahan Oktober 2013, tepatnya seusai perayaan Idul Adha.

"Menurut teman-temannya di MTs, diperkirakan pembuatan film itu setelah acara Idul Adha di sekolah. Mungkin setelah pulang sekolah itu, dijemput pacarnya, dan melakukan adegan mesum itu," kata seorang narasumber, yang berprofesi sebagai Guru Sekolah Dasar yang memberikan keterangan di Surya Online.

8 Negara Peduli Warisan Budaya Kunjungi Candi Prambanan

Yogyakarta - Sebanyak 50 peserta dari delapan negara, yang peduli warisan budaya, mengunjungi Candi Prambanan di Sleman, DIY. Mereka melihat langsung dampak kerusakan warisan cagar budaya tersebut atas peristiwa gempa bumi pada Mei 2006.

Gempa bumi 2006 silam merusak struktur Candi Prambanan. Bahkan, kunjungan ke objek wisata tersebut sempat ditutup selama beberapa bulan paska gempa.

Seiring berjalannya waktu dan tahap pemulihan terus dilakukan, Candi Prambanan pun dibuka. Bahkan, saat ini pemulihan masih dilakukan untuk Candi Siwa di Kompleks Candi Prambanan.

Ke-50 perserta dari delapan negara itu tengah mengikuti pelatihan Siaga Risiko Bencana dan Manajemen di Yogyakarta. Mereka beradal dari Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

Para ahli internasional dan staf The World Heritage Centre dan kantor UNESCO di wilayah Asia Tenggara juga turut serta pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Acara ini dimulai tepat pada Peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu, dan berakhir pada 1 November 2013.

Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Kemendikbud, Diah Haryanti, menyampaikan bahwa kunjungan ke Candi Prambanan untuk melihat langsung dampak gempa bumi pada 2006.

"Selain Candi Prambanan, peserta lokakarya juga melihat langsung ke Candi Borobudur," katanya di Yogyakarta, baru-baru ini.

Dia menyampaikan bahwa tujuan lokakarya adalah meningkatkan kesadaran para praktisi terhadap situs warisan budaya dan menata risiko bencana yang sesuai. Para peserta antusias mendengarkan pemaparan pemandu wisata. Mereka diterangkan sejarah Candi Prambanan hingga saat bencana gempa bumi melanda 2006 silam.

Kerusakaan bangunan candi diperbaiki hingga saat ini. Bahkan, jumlah pengunjung yang hendak masuk area Candi Siwa dibatasi dan mengenakan helm yang sudah disediakan pengelola objek wisata. Para peserta turut mengabadikan gambar dengan kamera. Mereka juga terlihat mengamati relief pada dinding Candi Prambanan.

Kukar Juga Cinta Batik Nusantara

Tenggarong, Kaltim - Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bersama paguyuban Cinta Batik Nusantara Jogjakarta bersama istri dan kerabat Kesultanan Jogjakarta berkunjung ke Kedaton Kutai Kartanegara (Kukar).

Kehadiran rombongan yang terdiri dari perwakilan masing-masing daerah se-Indonesia tersebut disambut langsung Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H Aji Muhammad Salehoeddin II, Menteri Sekretaris Keraton Dr HAPM Gondo Prawiro, para menteri, kerabat kesultanan dengan prosesi tepung tawar, Kamis (31/10) siang di Kedaton Tenggarong.

Komunikasi cukup akrab terlihat antara Sultan Kutai dengan Ketua Rombongan Cinta Batik Nusantara Prof Dr Ir Murdiati Garjito. Sebagaimana biasanya dalam penyambutan tamu kehormatan, terlebih dahulu para tamu undangan menyaksikan tarian khas kedaton, yakni tari topeng.

Menteri Sekretaris Kedaton HAPM Gondo Prawiro mengucapkan selamat datang atas kunjungan YKI, Paguyuban Cinta Batik Nusantara bersama para istri dan kerabat kesultanan Jogjakarta. “Selamat datang di Kutai Kartanegara. Semoga apa yang menjadi tujuan dalam silaturahmi dapat berjalan baik dan lancar,” sambutnya.

Sedikit gambaran tentang Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Gondo Prawiro menjelaskan bahwa ditinjau dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang ditulis di atas yupa (tugu batu) dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan di bawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putra Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. “Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang Kota Muara Kaman,” katanya.

Sementara itu, Ketua Rombongan Prof Dr Ir Murdiati Garjito mengungkapkan rasa gembiranya bisa berkunjung ke Kukar, dalam hal ini ke Kedaton Kutai yang langsung disambut Sultan Kutai. “Saya dan rombongan merasa terhormat dan tersanjung atas sambutan ini,” ujarnya.

Menurut dia kunjungan mereka ke Kukar bertujuan dalam rangka pelestarian batik nusantara, sekaligus bersilaturahmi dengan Kesultanan Kutai. “Batik nusantara (sebagai) warisan budaya saat ini sudah dikenal di dunia milik Indonesia. Dari sebab itulah saya berharap keberadaan batik ini akan semakin dilestarikan dan banyak yang cinta batik nusantara,” katanya.

Dia turut memperkenalkan paguyuban se-Indonesia yang saat ini sudah berjumlah 700 paguyuban, serta ketua YKI Jogjakarta, beserta para pengusaha batik. “Terus terang kami merasa tergerak untuk menggali wawasan tentang batik yang ada di nusantara ini dan sudah dikenal di dunia, termasuk di Kutai Kartanegara,” katanya.

Murdiati menambahkan, kelestarian batik nusantara ini harus terus dipertahankan dan jangan sampai hilang. “Bisa saja dicabut dari pengakuan dunia. Oleh karena itu, mari kita jaga kelestariannya. Saya juga sangat berharap Kesultanan Kutai dapat memelihara kecintaan budaya batik di Kukar,” katanya.

Silaturahmi tersebut diakhiri dengan saling bertukar cendera mata, antara Sultan Kutai H Aji Muhammad Salehuddin II dengan Murdiati Garjito.

Salon du Chocolat Paris 2013 dalam Nuansa Tarian Jawa Klasik

London, Inggris - Lakon tari Jawa klasik, cerita percintaan antara Dewi Sekartaji dengan Raden Panji, memberi nuansa tersendiri membuat hadirin pameran produk coklat, Salon du Chocolat 2013, terpaku dan terpesona.

Demikianlah, panggung Pusat Pameran Porte de Versailles, di Paris Distrik 15, Paris, menjadi momen pementasan dua penari klasik Jawa Surakarta itu menunjukkan budaya adiluhung Indonesia; di antara tak terhitung kekayaan budaya lain nusantara.

Gending dari karawitan Jawa mengiringi penari Rizki Ramdhani dan Arum Poli, menghanyutkan membawa para penonton dalam nuansa Jawa yang berada di depan panggung berbentuk bulat itu. Seolah dimensi ruang dan rasa berpindah, dari Eropa seketika melancar ke khasanah atmosfer Jawa.

Pameran Salon du Chocolat 2013 di Paris merupakan momen tahunan bagi berbagai produk coklat; bahkan ada peragaan mode adibusana bermaterial atau paling tidak dihiasi ornamen-ornamen produk coklat!

Selain itu, tentu ada konferensi tentang coklat, demo kreasi makanan dari coklat, dan lain sebagainya.

Kali ini giliran Paris yang menjadi tuan rumah setelah bergantian dengan kota-kota besar di Prancis, di antaranya Lyon, Marseille, Cannes, dan Lille. Tahun ini, Salon du Chocolat 2013 di Paris diselenggarakan sejak 30 Oktober-3 November.

"Saya senang dan bangga bisa membawakan tarian ini yang berbeda dengan tarian lain dalam kostum Jawa, serta gerakan sarat makna," kata Ramdhani, seusai pertunjukan lakon percintaannya itu, Minggu.

Sebagai penari tradisional indonesia, Ramdhani bangga sekali apalagi penonton memadati arena pertunjukan pameran. Dia berharap, penampilan seni-budaya Indonesia yang difasilitasi KBRI di Paris itu dapat lebih mendekatkan Indonesia kepada masyarakat Eropa.

Indonesia menampilkan 18 tarian selama tiga hari pertunjukan, di antaranya tarian tradisional Jawa, Bali, dan Sumatra. Sebutlah tari Topeng Panji, Tari Suraning Pati, Bajidor Kahot (Jawa Barat), Driasmoro, Gamyong, Roro Ngigel (Jawa Tengah), Jejer Jaran Dawuk (Jawa Timur), Tari Piring, dan Tari Payung (Sumatra Barat).

Tarian tarian tersebut ditampilkan secara solo, duet atau trio oleh para penari profesional dari tim kesenian indonesia di Paris, di antaranya Kadek Moure, Rizki Ramdhani, Herman Sitepu, Arum Poli, Uus Godinot , Heny Setiawati dan Rahayu.

Festival Mahakam 2013 Tanpa Dana APBD

Samarinda, Kaltim - Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda, Kalimantan Timur, HM Faisal, mengatakan penyelenggaraan Festival Mahakam 2013 tidak menggunakan dana APBD.

"Kami bangga penyelenggaraan Festival Mahakam tahun ini tidak menggunakan dana APBD sepersen pun. Semua kegiatan pada pelaksanaan Festival Mahakam ini dibantu oleh pihak swasta," ungkap Faisal kepada wartawan di Samarinda, Kamis (31/10/2013).

"Jadi, seluruh kegiatan itu disponsori oleh pihak ketiga sehingga pelaksanaan Festival Mahakam tidak membebani keuangan daerah. Kami ingin menunjukkan bahwa banyak kegiatan yang bisa dilakukan tanpa harus bergantung dari anggaran pemerintah," katanya.

Berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan pada Festival Mahakam 2013 yakni Mahakam Expo yang mulai dilaksanakan pada 31 Oktober hingga 3 November di Samping Islamic Centre Samarinda. Kemudian parade Band Pub dan Cafe yang dilaksanakan di Tepian Sungai Mahakam serta Mahakam Jazz Fiesta di Jalan Untung Suropati.

Pembukaan secara resmi Festival Mahakam berlangsung Sabtu (2/11/2013) di Halaman Islamic Centre Samarinda dengan menampilkan berbagai kegiatan di antaranya, penyerahan plakat MURI lomba memasak, lomba memancing, lomba dayung Perahu Naga, lomba Power Boating, lomba menggambar dan mewarnai serta lomba Tari Pesisir.

Pada Minggu (3/11/2013) digelar kegiatan lomba berenang menyeberangi Sungai Mahakam, karnaval budaya, lomba fotografi dan desain logo, lomba perahu tambangan, lomba fashion sarung Samarinda dan puncaknya yakni pergelaran ritual adat Dayak Hodoq Kawit.

"Sejumlah kegiatan itu tentunya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit tetapi semuanya sudah dibantu oleh pihak swasta. Kami akan terus berupaya mengevaluasi seluruh pelaksanaan Festival Mahakam agar peleksanaan pada tahun berikutnya bisa lebih baik," katanya.

"Kami juga mengajak masyarakat agar ikut mendukung pelaksanaan Festival Mahakam ini sebab kegiatan ini tidak hanya bersifat lokal tetapi juga bertaraf internasional," tambah Faisal.

Monumen Bahasa Melayu Dibangun di Kepulauan Riau

Tanjungpinang, Kepri - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Provinsi Riau bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) sepakat membangun "Monumen Bahas Melayu" di Pulau Penyegat.

Selain itu akan membangun Balai Kajian Bahasa Melayi. Ini merupakan hasil seminar nasional Bahasa Indonesia di Pekanbaru, Riau, pada 2010.

Monumen Bahasa Melayu di Kepri akan dibangun di Pulau Penyegat karena asal tokoh sastrawan Melayu, Raja Ali Haji. Monumen bahasa ini juga dibangun sebagai penghormatan Raja Ali Haji yang telah menjadi salah satu tokoh pahlawan nasional di bidang bahasa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Subbidang Inventarisasi Dokumen Budaya dan Sejarah, Bidang Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau, Afitri Susanti mengatakan, Raja Ali Haji disebut sebagai bapak bahasa. Karya sastranya tidak hanya menjadi konsumsi di dalam negeri tetapi hingga mancanegara.

"Ia berjuang dengan mata pena," ujar Afitri sebagaimana dikutip dari portal Kemdikbud di Tanjungpinang, (3/11/2013).

Afitri menjelaskan, Monumen Bahasa Melayu di Pulau Penyengat direncanakan rampung pada 2014. Monumen ini didirikan berupa bangunan berbentuk huruf arab "alif", yang menjulang ke atas setinggi 62-64 meter, dengan landscape berbentuk huruf arab "ya". Huruf arab digunakan dalam pembangunan Monumen Bahasa Melayu karena budaya Melayu tidak terlepas dari budaya Islam.

"Jadi segala sesuatu merujuk ke budaya Islam. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah," ujarnya.

Definisi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah adalah adat yang didasarkan/ditopang oleh syariat agama Islam. Syariat tersebut berdasarkan pula pada Alquran dan hadist.

Pembangunan Monumen Bahasa Melayu di Pulau Penyengat ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) HM. Sani, pada 19 Agustus 2013. Peletakan batu pertama disaksikan oleh Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah, perwakilan DPRD Provinsi Kepri dan DPRD Kota, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, budayawan, seniman dan masyarakat setempat.

Monumen Bahasa ini diharapkan dapat mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai kesadaran akan sejarah Bahasa Melayu yang merupakan cikal-bakal Bahasa Indonesia kepada generasi masa kini dan masa akan datang, dan arti Bahasa Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau dan Lingga.

-

Arsip Blog

Recent Posts