Musim Tanam Padi, Alas Malang Gelar Tradisi Kebo-keboan

Banyuwangi, Jatim - Ribuan masyarakat Banyuwangi memenuhi sepanjang jalan Desa Alas Malang, Kecamatan Singonjuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (10/11/2013). Mereka menyaksikan upacara tradisi kebo-keboan yang digelar setiap awal musim tanam padi sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah di wilayah desa mereka.

Kebo-keboan adalah bahasa daerah yang berarti kerbau jadi-jadian. Peserta yang bertubuh tambun berdandan layaknya kerbau lengkap dengan tanduk buatan serta melumuri tubuhnya dengan cairan hitam yang terbuat dari oli dan arang.

Mereka juga menarik bajak mengeliling sepanjang jalan desa Alas Malang di iringi dengan musik khas Banyuwangi. Indra Gunawan, tokoh masyarakat Alas Malang kepada Kompas.com mengatakan arak-arakan kebo-keboan diikuti oleh rombongan ibu-ibu berbusana petani dan membawa hasil bumi.

"Selain itu juga ada Putri yang duduk dalam kereta diikuti oleh para penari yang menjadi perwujudan Dewi Sri yang dikenal sebagai Dewi Padi dan Dewi Kemakmuran," katanya.

Indra menjelaskan, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad 18. Jika tidak dilakukan masyarakat yakin akan muncul musibah di desa mereka.

Sebelum Kebo-keboan diarak, masyarakat membangun gapura di tiap gang yang digantung berbagai macam hasil bumi seperti padi, singkong, jagung kelapa dan berbagai macam hasil perkebunan dan pertanian. Tradisi berakhir ketika Putri, simbol Dewi Sri menaburkan benih padi di tanah sawah basah, dan peserta kebo-keboan berusaha menghalangi warga yang akan mengambil benih padi tersebut dengan menarik mereka dalam kubangan.

Syamsul Arifin, warga setempat menjelaskan, dia sengaja mengambil bibit padi yang disebar di sawah. "Saya percaya kalau benih tadi dicampur dengan bibit padi saya, panen akan berhasil dan hasilnya akan lebih banyak," katanya.

Untuk mendapatkan setangkai bibit, Syamsul harus bergumul di dalam kubangan bersama peserta yang menjadi pemeran kebo-keboan. Dia mengaku tidak masalah bajunya kotor karena cairan hitam dari kebo-keboan dan juga lumpur sawah. "Nggak boleh marah karena ini memang tradisi dan ini sangat menyenangkan sekali," kelakarnya sambil tertawa dan mengusap wajahnya yang penuh lumpur.

Bandung Gelar Angklung Pride 2013

Bandung, Jabar - Saung Angklung Udjo dan Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menggelar Angklung Pride 2013 di Kompleks SAU, Jalan Padasuka, Kota Bandung, untuk memeriahkan Hari Angklung 16 November.

"Festival Angklung Pride 2013 digelar untuk memperingati tiga tahun angklung disahkan UNESCO sebagai warisan budaya benda asli dari Indonesia," kata Direktur PT Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat di Bandung, Minggu.

Menurut Taufik, Festival Angklung merupakan wadah interaksi pelajar dan pelatih dalam memvisualkan hasil proses berlatih angklung dalam berbagai tingkatan sekolah yang akan dituangkan dalam konsep perlombaan pentas angklung.

Kegiatan tersebut akan melibatkan pelajar SD, SMP dan SMA. Selain itu juga akan tampil beberapa jenis angklung buhun di Jawa Barat dalam pentas khas.

"Festival ini diharapkan dapat memberikan edukasi bagi tiap tingkatan usia mengenai musik tradisi dan mendekatkan kepada khalayak umum," katanya.

Selain akan menampilkan kepiawaian murid-murid Saung Angklung Udjo, kegiatan lomba diikuti pelajar dari sejumlah daerah di jabar seperti Indramayu, Banjar, Sumedang, Bogor, Bekasi, Cirebon dan lainnya.

"Mereka diharapkan bisa mengekspresikan budaya angklung, sedangkan pengungung bisa mengapresiasi dan ajang pewarisan budaya angklung," kata Taufik.

Pada kesempatan itu juga akan digelar "Special Bamboo Afternoon Show" yang merupakan rangkaian kegiatan Angklung Pride 2013 dalam bentuk penampilan upacara helaran, tarian tradisional Sunda dan pertunjungan puncak angklung.

"Kami dalam menjadikan angklung mendunia tidak berhenti ketika angklung disahkan oleh Unesco sebagai kebudayaan asli Indonesia, namun terus menjaga amanat ini dengan terus mempromosikan, melindungi, menjaga dan meregenerasikan angklung," kata Taufik Hidayat Udjo.

8 Negara Ramaikan Festival Perahu Naga

Makassar, Sulsel - Sebanyak 200 peserta dari delapan negara, Jumat (8/11/2013), mengikuti lomba perahu naga yang dikenal dengan Celebes International Dragon Boat Festival di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari peringatan Hari Ulang Tahun Ke-406 Kota Makassar.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin mengatakan, acara ini menjadi salah satu daya tarik wisata ke ibu kota Sulawesi Selatan (Sulsel). ”Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan dengan jumlah peserta yang semakin banyak,” katanya saat membuka acara di anjungan Pantai Losari.

Celebes International Dragon Boat Festival (CIDBF) yang berhadiah total Rp 100 juta ini dijadwalkan berlangsung dari Jumat hingga Minggu (10/11/2013). Acara ini merupakan yang kedua setelah sebelumnya digelar pada 2012. Dari sisi jumlah peserta dan keikutsertaan negara, dalam ajang tahun ini terjadi peningkatan. Pada tahun lalu, jumlah peserta sekitar 100 orang yang berasal dari tiga negara.

Ketua Panitia Arwan Tjahjadi menambahkan, ajang ini menitikberatkan pada unsur wisata dan olahraga ketimbang kompetisi. ”Jangka panjangnya, jumlah wisatawan ke Makassar diharapkan bisa semakin meningkat,” ujarnya.

Selain Indonesia sebagai tuan rumah, negara yang berpartisipasi adalah Australia, Malaysia, Singapura, India, Inggris, Iran, dan Filipina. ”Ada peserta yang berasal dari klub di kampus ataupun kepolisian di negaranya,” kata Arwan.

Jenny, salah satu peserta asal Australia, mengaku antusias mengikuti CIDBF. Dia bersama 21 rekan akan mengikuti semua lomba.

Tari Kolosal Gabungan Enam Etnis

Sendawar, Kaltim – Ratusan peserta penari kolosal gabungan enam etnis di Kutai Barat tampil pada apel hari ulang tahun (HUT) ke-14 Kabupatan Kutai Barat di Luuq Taman Budaya Sendawar, Jalan Sendawar Raya Kecamatan Barong Tongkok, Sendawar, Rabu (6/11) lalu. Enam etnis itu adalah Aoheng, Bahau, Tonyoi, Benuaq, Kenyah, dan Kutai (Melayu).

“Tarian kolosal yang bertajuk Pekat Tanaa Sendawar ini bermakna gotong royong dan satu kesatuan 6 etnis yang ada di tanah Kutai Barat. Harapannya, agar tercapai keberhasilan dalam pembangunan dan kesejahteraan rakyat Kutai Barat,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kutai Barat Seki, belum lama ini.

Selanjutnya disebutkan, dalam kegiatan seni dan budaya tidak pernah meninggalkan salah satu etnis yang telah ada di Kubar. “Selain itu gerakan dan musik memiliki makna yang mendalam di masing etnis tersebut. Contohnya tarian hudoq kali ini yang melakukan gerakan seperti mencangkul mengandung arti mengais rezeki. Sedangkan tarian beliatn bawo bermakna ritual penyembuhan orang sakit,” jelas Seki.

Sedangkan dalam kegiatan aslinya, ritual beliant bawo ada gerakan yang begitu indah yang kemudian dikembangkan menjadi tarian. antas,para penari ini berasal dari murid SMP sampai SMA dan sederajat, dan beberapa sanggar seni. Sedangkan palatih berasal dari masing-masing etnis dan komposisi gerak diatur oleh koreografer dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan Jakarta. Kemudian tokoh seniman di Kutai Barat yang biasa mengelola seni dan budaya.

Peringati Hari Pahlawan, Jakarta Kirab Budaya

Jakarta - Memperingati hari Pahlawan, Balaikota Jakarta berubah menjadi miniatur seluruh provinsi di Indonesia. Pesta rakyat yang diadakan oleh Yayasan Kibar (Kirab Budaya), Minggu (10/11) berlangsung meriah. Acara pawai busana daerah dan busana unik mewarnai meriahnya acara pesta rakyat tersebut. Peserta yang berjumlah hampir 13.000 orang berasal dari perwakilan siswa-siswi TK – SMAN seluruh DKI Jakarta.

Dihadiri oleh tokoh utama, Gubernur Jakarta Jokowi dan Menteri Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Roy Suryo menjadi daya tarik tersendiri acara ini. Jokowi pada pembukaannya tidak berkata banyak. Ia hanya melepas peserta pawai dengan cara memukul gendang kecil sebanyak tiga kali. Kedatangannya di sambut seluruh peserta dan masyarakat. Pada GATRAnews, Jokowi mengatakan “ Acara ini bagus untuk anak sekolahan dari SD sampai SMA, harus diadakan terus," katanya.

Jokowi datang dengan busana betawi alim yang biasa di kenakannya yaitu baju koko putih, sarung dan peci. Tetapi pandangan berbeda ada pada Roy Suryo. Selain menggunakan pakaian prajurit paku alam dari Yogjakarta, Roy mengikuti pawai dengan menaiki kuda putih dan diiringi prajurit lainnya bak ksatria Jawa. Roy Suryo berpendapat dan berharap bahwa acara pesta rayat kirab budaya ini dilakukan tidak hanya dalam setahun sekali saja, tetapi bisa dilakukan rutin untuk memenangkan generasi muda dan memperkenalkan budaya Indonesia agar tidak punah. “Acara ini jangan di lihat dari festivalnya saja, tapi makna dari kepahlawanan itu sendiri. Bahwa pahlawan bukan hanya dari sosok saja tapi dari sifat kepahlawanan itu sendiri," katanya. Roy juga mengungkapkan apresiasinya kepada Jokowi berhasil menghidupkan acara seperti ini di Jakarta.

Acara kirab budaya ini diselenggarakan panitia Yayasan Kibar yang telah dua kali dilaksanakan sejak setahun silam, pada 28 oktober 2012 yang jatuh di Hari Sumpah Pemuda. Yayasan Kibar sendiri di utamakan dan fokus kepada pendidikan,kebudayaan, lingkungan dan sosial. “Kami concern dan peduli kepada generasi muda, the next generation future life better,” ujar Jeng Sami selaku panitia dan staff kibar bidang deputi budaya.

[Pawai acara Kirab Budaya II (GATRAnews/Debby Debora) ] Pawai kirab budaya diharapkan dapat menajdi daya tarik tidak hanya di kancah nasional saja, tetapi dapat masuk ke kancah internasional juga. Tujuan kirab budaya ini, lanjut Jeng, adalah membuat pesta rakyat agar partisipasi masyarakat yang besar dapat menjadi value dalam penikmat acara dan partisipasi penonton yang menikmati acara ini. Indonesia mengukir kebanggaan karena pernah memenangi Trophy President Awards di luar negeri pada 2012.

Kibar Indonesia akan terus melakukan program festival secara perlahan. Yayasan Kibar bekerja sama dengan pemprov DKI Jakarta dalam pengadaan dan di bantu oleh banyak peserta dan relawan seperti relawan AJB (Aksi Jakarta Bersih). Yayasan kirab di pimpin oleh Kris Budiarjo dan HM Nurcahyo Rismanto. Acara kibar di awali dengan pembukaan oleh ketua kibar, Kris Budiarjo dan di lanjut dengan pemukulan gendang oleh Gubernur DKI Jakarta Jokowi.

Pawai yang di buka dengan marching band dari taman impian jaya ancol, di ikuti Roy Suryo yang menaiki kuda dan di ikuti iring-iringan peserta yang memakai busana daerah dan seni berjalan dari jalan merdeka sampai ke kawasan Monas dan Hotel Indonesia. Sesampai di Monas peserta dan masyarakat akan dimanjakan dengan aneka kuliner pasar yang dapat di nikmati dengan harga pasar. Selain festival busana daerah dan kuliner terdapat pargelaran seni dari sekolah yang berpartisipasi juga ondel-ondel betawi serta musik khas betawi yang mengiringi jalannya acara.

Namun, terjadi keterlambatan dimana para peserta harus menunggu dari jam 09.00 pagi dan baru mulai acara jam 15.00 sore. “Sudah dari jam 9 pagi mbak, kondenya sudah berat makanya dia nyender,” ujar seorang ibu yang mengeluhkan keterlambatan ini. Tetapi semuanya terbayarkan dengan athusiasme masyarakat yang bagus ketika menonton di tambah ketika kedatangan Jokowi dan Panglima berkuda Roy Suryo.

Festival Kesenian Pesisir Utara Jawa Timur 2013 Digelar di Tuban

Tuban, Jatim - Festival Kesenian Pesisir Utara (FKPU) Jawa Timur tahun 2013 digelar di Tuban. Festival tahunan yang melibatkan seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf di Alun-alun Tuban Rabu malam. (06/11/2013)

Data yang berhasil dihimpun wacanatuban.com, FKPU digelar dengan beberapa kegiatan di tempat berbeda mulai tanggal 6 hingga 9 Nopember 2023 yaitu Pagelaran Seni tiap malam di Alun-alun Tuban, Seminar dan Workshop serta Pameran Lukisan di Gedung Budata Loka Jl. Basuki Rahmat Tuban dan Pameran Dagang di Gedung Olahraga (GOR) Rangga Jaya Anoraga dan diakhiri Arak-arakan Parade Seni Budaya Pesisir.

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan, serta para pelaku seni di pesisir utara. Turut memeriahkan pagelaran seni tersebut kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Blora dan Rembang. Serta beberapa kabupaten/kota dari jawa barat yaitu Cirebon, Tegal dan Pemalang.

Bupati Tuban, Fatchul Huda dalam sambutannya mengatakan, pagelaran seni ini menjadi ajang untuk saling mengenal budaya di tiap daerah. Dengan mengenal budaya dan tradisi daerah lain maka akan terjalin hubungan baik dan saling memahami.

“Orang jawa tengah yang terkesan halus tutur katanya akan memandang orang Jawa Timur itu kasar dan urakan kalau tidak mengenal tradisi dan budayanya. Begitu juga orang Jawa Timur akan memandang orang Jawa Tengah itu Klemar-klemer, namun kalau saling mengenal budayanya akan saling memahami,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Kacung Marijan mengatakan, pagelaran akbar para seniman pesisir utara ini diharapkan bisa menjadi pemersatu bangsa dan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kekayaan seni budaya. “Sehingga dapat meningkatkan kepedulian kita untuk melestarikan nilai-nilai budaya kita sendiri,” katanya.

Dari aspek sejarah, menurut Kacung Marijan, kota-kota sepanjang pesisir utara sebagian besar merupakan kota pelabuhan yang memiliki peranan penting dalam perkembangan masyarakat jawa pada umumnya. “Posisi kota pelabuhan menjadi pusat perdagangan dan tempat bertemunya berbagai adat istiadat, budaya,” ungkapnya.

Kabupaten Tuban, kata Kacung Marijan merupakan salah satu kota pelabuhan sejak zaman Singasari yang menghubungkan kerajaan tersebut hingga kerajaan Majapahit dengan dunia internasional dan menjadi pusat pertukaran produk-produk lokal dengan produk luar pulau maupun luar Nusantara seperti Cina, Arab dan India. “Inilah yang menjadikan pesisir utara kaya akan budaya,” ujar pakar seni dan budaya Nusantara ini.

Pembukaan secara resmi FKPU oleh Wakil Gubernur Jatim ini ditandai dengan penyerahan Panji kepada peserta festival dan pemukulan alat musik Bonang (sejenis gong kecil) dan letupan kembang api.

Sayangnya, kemeriahan acara di malam pertama festival ini terkendala oleh guyuran hujan deras saat acara dimulai, hingga mengakibatkan para tamu VIP (Very Important Person) harus berlari-lari berteduh bersama para undangan biasa karena tidak tersedianya tenda untuk tempat undangan orang-orang penting tersebut.

Para pengunjung juga dihibur dengan tarian tradisonal dari kabupaten Sumenep, Madura dan Kabupaten Bojonegoro serta tarian tradisional kabupaten Tuban.

-

Arsip Blog

Recent Posts