Erau Tahun Ini Semakin Menarik

Tenggarong - Upacara Adat Erau disandingkan dengan gelaran International Folk Art Festival (EIFAF) di Tenggarong Kutai Kartanegara (Kukar) pada 6–14 Juni tahun ini bakal lebih menarik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar Sri Wahyuni mengatakan, delegasi kesenian international Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Art (CIOFF) akan ambil bagian.

Mereka akan memeriahkan kesakralan Upacara Adat Erau yang berlangsung 7 hari di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman. Selama tujuh hari, aktivitas seni budaya di luar keraton berlangsung. Mulai lomba permainan dan olahraga tradisional, lomba seni tradisi daerah, kuliner, pameran kerajinan, hingga kegiatan pro lingkungan.

Sementara itu, sebanyak 14 grup folklore (kesenian rakyat) dari mancanegara akan berpartisipasi pada EIFAF, tampil bersama grup kesenian daerah lainnya dari Kukar, kabupaten/kota di Kaltim dan beberapa kesenian daerah dari luar Kaltim.

Sri menerangkan, setiap malam grup folklore mancanegara dan lokal akan tampil di panggung seni yang disebar di beberapa titik kota Tenggarong. "Semuanya dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat tanpa dipungut biaya," ujarnya.

Erau tahun ini juga dimeriahkan Festival Perahu Naga Internasional, bertajuk The 2nd Mahakam International Dragon Boat Festival (MIDBF) 2015, diikuti peserta luar maupun dalam negeri. Tahun ini merupakan kali kedua Kukar sebagai tuan rumah MIDBF, setelah 2014 lalu sukses menggelar event nasional tersebut, sehingga tercatat sebagai anggota International Dragon Boat Federation (IDBF).

Puncak upacara adat Erau, digelar pada 14 Juni di halaman Keraton (Museum Mulawarman) yakni prosesi mengulur naga, siang harinya diikuti prosesi belimbur atau saring siram air.

"Melalui gelaran EIFAF ini, menjadi upaya melestarikan kesenian dan kebudayaan daerah sebagai warisan budaya leluhur. Sekaligus menyandingkan dengan Internasional Folk Art Festival. Kukar menjadi duta Tanah Air, mewakili bangsa ini mempromosikan pelestarian budaya di kancah dunia," tandasnya.

BBPR Riau Gelar Pekan Bahasa

Pekanbaru, Riau - Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR) sebagai unit pelaksana teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melaksanakan pekan bahasa 2015 mulai, Jumat (29/5). Kegiatan tersebut akan berlangsung hingga Jumat (5/6/2015) di BPPR Kompleks Univeristas Riau (Unri).

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Agus Sri Danardana menyebutkan Pekan Bahasa 2015 merupakan ajang peningkatan berbahasa Indonesia, meningkatkan sikap positif masyarakat Indonesia umumnya dan peserta lomba khususnya terhadap Bahasa Indonesia.

“Kami berharap dengan digelarnya Pekan Bahasa 2015 ini akan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra Melayu/Indonesia, meningkatkan kepedulian masyarakat pada khazanah sastra Melayu yang menjadi salah satu akar kebudayaan nasional (Indonesia) serta mempererat silaturahmi pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau dengan masyarakat,” katanya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Kepala BBPR tidak lupa memberi semangat kepada peserta lomba, di mana pada hari pertama ini akan dilangsungkan Lomba Pidato Tingkat SLTA yang diikuti 50 siswa dari SLTA se-Provinsi Riau.

Sementara itu, Yanti Riswara selaku ketua panitia Pekan Bahasa 2015 mengatakan, tema lomba pidato berbahasa Indonesia terdiri dari delapan tema, di mana peserta lomba bebas memilih satu dari delapan tema yang sudah ditentukan oleh panitia lomba.

Lebih lanjut Yanti menyebutkan tentang kriteria penilaian dewan juri terhadap Lomba Pidato Berbahasa Indonesia ini. Di mana kriteria penilaian bertumpu pada kesesuaian isi dengan tema, sistematika (pembukaan, isi, penutup), penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, artikulasi dan intonasi, gaya, mimik, dan improvisasi, dan ketepatan waktu.

“Peserta lomba diberi waktu selama 7 menit untuk berpidato,” tuturnya.

Selain itu, katanya lagi, BBPR telah menyediakan hadiah bagi para pemenang lomba pidato Pekan Bahasa 2015. “Pengumuman dan penyerahan hadiah langsung pada hari ini setelah acara lombanya selesai,” katanya.

78 Peserta Bersaing di Festival Budaya Tradisional

Makassar, Sulsel - Sebanyak 78 peserta bersaing dalam Festival Budaya Tradisional (Febatras) VI. Mereka berasal dari berbagai wilayah se-Sulsel. Festival yang berlangsung 29-31 Mei ini, digelar Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah (IMSAD) Fakultas Sastra Unhas. Jumat, 29 Mei, Febatras dibuka Wakil Rektor III Unhas, Abd Rasyid Jalil di Aula Mattulada.

Ketua panitia, Haslin mengungkapkan, 78 peserta itu untuk seluruh lomba. Banyak yang tertolak karena terlambat mendaftar. “Selain sekolah ada juga sanggar seni dan UKM,” katanya.

Juri yang akan menilai untuk puisi dan pidato, ada Fahmi Syariff, Muhannis, dan Hunaeni. Sedangkan lomba menyanyi dan tarian daerah ada Erwin Sulaeman (akademisi), Andi Tenri Abeng dan Rahmawati Haruna. Ketua IMSAD, Nurul Asri Rahayu menyebut, banyak hal yang bisa dipetik dari kegiatan mereka itu. Salah satunya, memahami makna-makna yang terkandung dalam dunia seni.

Hal senada diungkapkan Ketua BEM KMFS-UH, Slamet Riadi. “Siapa lagi yang bisa melestarikan budaya jika bukan kita sendiri,” katanya.

Ketua Jurusan Sastra Daerah, Dr Gusnawati, mengaku salut dengan upaya mahasiswa Sastra Daerah mempertahankan budaya Sulsel. Kegiatan ini, sebelumnya dinamai Lomba Cipta dan Baca Puisi. Karena terus mengalami pengembangan, namanya diubah.

IIWD Kenalkan Kain Khas Indonesia Timur

Jakarta - Mungkin hampir di seluruh belahan dunia kini sudah tahu batik adalah kain khas Indonesia yang memiliki banyak pesona. Namun, kain tradisional yang sarat akan pesona ternyata tak hanya dimiliki oleh batik, Indonesia bagian timur punya banyak cerita tentang kain khas wilayahnya.

Salah satunya adalah daerah Ibu Kota Kalimantan yakni Samarinda. Tepatnya di Kampung Baqa, Samarinda Seberang, masyarakat setempat masih mengisi waktu luang dengan kegiatan menenun dengan berbagai alat tradisional untuk menghasilkan sarung tenun khas Samarinda.

Sama halnya dengan di Flores, salah satu wilayah dari Nusa Tenggara Timur ini memiliki satu pesona kain yang menjadi unggulannya yakni tenun ikat. Kain tenun ini dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilih penenunnya sendiri.

Tak hanya di Samarinda dan Flores, wilayah di Indonesia bagian timur lainnya masih banyak yang menyimpan dan dengan bijak melestarikan warisan leluhurnya. Kisah-kisah dari kain telah menjadi ciri masing-masing budaya di sana ternyata menggerakkan seorang pengusaha yang juga pecinta kain tradisional, Yeni Sebayang.

Tak ingin setengah-setengah menunjukkan kecintaanya pada khasanah budaya lokal Indonesia bagian timur tersebut, secara khusus dan untuk pertama kalinya Yeni menggelar pameran Inspiring Women Day (IIWD) dengan tajuk “Delivering Indonesia Premium Textile For Everyone”.

“Saya sering mengunjungi wilayah timur Indonesiam, setiap kali saya kesana saya tak pernah ketinggalan untuk berburu kain lokalnya. Bahkan beberapa kali saya sempat mencoba belajar menenun dengan ibu-ibu daerah setempat,” katanya saat pembukaan pameran IIWD di Grand Ball Room Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (28/5).

Keuletan dan kesabaran penenun daerah tersebut terus menggerakkan hati Yeni agar kisah-kisah yang didapat dari kunjungannya tersebut tak hanya dinikmati dirinya sendiri. Dia berharap dengan gelaran ini masyarakat Jakarta khususnya semakin mengenal lebih dekat pesona keindahan kain wilayah timur Nusantara.

Dalam pameran tersebut ada enam stand kain Indonesia bagian timur yang mewakili Samrinda, Sambas, Manado, Bali, Bima, Kupang, Lombok, Ternate dan Flores. Tak hanya pameran kain tersebut, IIWD juga menampilkan beberapa acara menarik lainnya yang sarat akan edukasi diantaranya talkshow dengan pakar busana dan kecantikan, demo padu-padan kain tradisional beserta riasan wajahnya dan berbagai hiburan lainnya.

LAMR Dumai Kumpulkan Paguyuban Lintas Etnis

Dumai, Riau - Pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Dumai menggelar pertemuan dengan sejumlah perwakilan ikatan keluarga dan suku di Dumai, Jumat (29/5/2015). Pertemuan digelar di Gedung LAMR Dumai, Jalan Putri Tujuh.

Pada pertemuan sekitar dua jam itu hadir sejumlah perwakilan ikatan keluarga dan suku di Dumai. Yakni Ikatan Keluarga Masyarakat Tionghoa Dumai, Ketua Umum Ikatan Persatuan Keluarga Tionghoa Bengkalis dan Persatuan Masyarakat Flores.

Kemudian Himpunan Masyarakat Nias Dumai, Himpunan Masyarakat Maluku Dumai, Ikatan Keluarga Sulawesi Selatan, Ikatan Keluarga Minang Riau, Ikatan Keluarga Jawa Sumatera Dumai dan Ikatan Keluarga Bali di Dumai.

Informasi yang diterima Tribun, pertemuan itu membahas seputar Warkah Melayu Riau. Warkah tersebut mengharuskan pemimpin daerah di Riau merupakan putra asli Riau. Hal itu tertuang dalam warkah Maklumat Tentang Pemimpin Daerah Nomor :01/LAMR-KD/WM/XI/2008.

"Pertemuan ini adalah ajang silaturahmi. Apalagi sebelumnya belum pernah melakukan pertemuan seperti ini," ujar Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Dumai, Azhar Yazid di sela pertemuan.

Aceh Coba Lestarikan Kuliner Tradisional

Jakarta - Berbagai macam kreasi kuliner kini semakin mudah ditemui di sekitar masyarakat. Sebuah festival hadir di Provinsi Aceh dengan konsep tradisional demi kelestarian kuliner khas. Festival ini bertajuk "Aceh Culinary Fest 2015" yang akan diadakan di Taman Ratu Safiatuddin, Kota Banda Aceh mulai tanggal 4-6 Juni 2015.

"Kita akan menampilkan kuliner-kuliner tradisional di Aceh. Kita mau angkat legenda di balik sajian kuliner yang ada. Kita mau kuliner Aceh tetap lestari," kata Creative Director Aceh Culinary Fest 2015 Husna Annisa saat dihubungi KompasTravel, Rabu (27/5/2015).

Wanita lulusan Universitas Syiah Kuala ini mengatakan acara ini merupakan agenda tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang secara rutin. Ia menjelaskan tema yang diangkat pada festival ini adalah Budaya dan Tradisi.

Acara festival kuliner ini akan menghadirkan 100 menu kuliner khas Aceh. Kuliner-kuliner seperti kuah blangong, manok masak bungong kala, mie aceh akan hadir. Namun, kuliner yang jarang masyarakat dapat temui pun akan muncul. Legenda di balik kuliner yang ada dalam festival akan dapat diketahui oleh para pengunjung.

"Kuliner Aceh Tengah Asam Jing atau Asam Keueng itu jarang diangkat. Hanya dapat ditemui di Aceh Tengah. Besok di acara kita ada. Legenda kulinernya nanti dapat dibaca di stand makanan," kata Husna.

Ia beralasan dengan hadirnya kuliner tradisional Aceh yang jarang ditemui dapat melestarikan cita rasa makanan Aceh yang khas. Dengan demikian rasa pedas yang khas dapat tetap ditemui. Para pemuda, lanjutnya, dapat tetap mengenal kuliner selain Mie Aceh.

Secara lengkap sajian kuliner yang tersaji pada acara festival adalah Kuah Beulangoen, Eungkot Paya, Manok Masak Bungong Kala, Sie Reuboh, Bieng Leumak, Sie Seu’om, Bu Sie Itiek, Engkoet Suree Bakar, Manoek Se’eum, Asam Jing Aceh Tengah, Gule Rampoe, Sambai khas Aceh, Canai Gula, Pulot Bakar, Bakpao Sigli, Mie Caluk, Kripik Pisang, Kanji Rumbi, Apam, Seuneucah, Putu Mayang, Empeng U, Ranup Mameh, dan Bue Leukat Drien.

Konsep acara festival kuliner ini adalah piknik. Konsep tersebut, menurut Husna, para pengunjung dapat duduk lesehan di atas rumput dan beralaskan tikar. Ia berharap masyarakat dapat hadir pada acara ini. "Sebanyak 4.500 orang mudah-mudah datang selama tiga hari penyelenggaraan. Konsepnya ya seperti pesta kebun" tutupnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts