HUT Ambon Akan Kental dengan Seni dan Budaya Lokal

Ambon, Maluku - Atraksi seni dan budaya akan mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-440 Kota Ambon pada 7 September 2015 di Lapangan Merdeka Ambon.

"Puncak peringatan akan diisi dengan pertunjukan tarian kolosal cuci negeri dan atraksi budaya oleh para siswa SMA dan SMK se-kota Ambon," kata Ketua panitia HUT Kota Ambon Brury Nanulaita, Jumat (28/08/2015).

Menurut dia, perayaan HUT Kota Ambon sebagai puncak acara Mangente (datang dan kunjungi) Ambon melibatkan seluruh pemangku kepentingan sebagai upaya menciptakan penghargaan budaya.

"Semua stakeholder akan terlibat dalam kegiatan tersebut seperti TNI, Polri, siswa SMP/SMA, mahasiswa, sanggar budaya, pegawai negeri sipil, dan warga kota Ambon," katanya.

Ia mengatakan, selain tarian juga digelar musik tradisional Maluku Bamboo Orchastra, 1.000 terompet kolaborasi tifa totobuang dan sawat oleh para pemuda gereja dan masjid, serta paduan suara siswa.

"Kami berupaya menciptakan pesta budaya daerah untuk dinikmati masyarakat dan tamu undangan yang mengunjugi Kota Ambon," katanya.

Puncak perayaan HUT, kata Joy, juga akan dilakukan atraksi fly pass pesawat tempur Komando TNI AU Pattimura yang akan menghiasi langit Kota Ambon.

"Kita telah berkoordinasi dengan TNI AU untuk melakukan atraksi Fly Pass melibatkan 10 penerjun yang akan membawa bendera HUT kota," ujarnya.

Dijelaskannya, usai upacara HUT kota akan dilakukan makan patita (makan bersama) seluruh warga kota di sejumlah ruas jalan yakni Jl Sultan Hairun, AY. Patty, A.M Sangadji dan Jl Anthony Rebook.

Festival Karo 2015 Ajak Masyarakat Sumut Lestarikan Budaya

Medan, Sumut - Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) Wilayah Sumatera Utara menggelar Festival Karo 2015 yang berlangsung selama tiga hari mulai 27-29 Agustus 2015 di Lapangan Merdeka Medan.

Kegiatan tersebut juga sekaligus pelantikan pengurus DPD HMKI Sumut yang dilantik langsung oleh Ketua Umum DPP HMKI, DR Ir Alexandr Barus MM, MSc, PhD pada hari terakhir, besok sekira pukul 19.00 WIB malam dan dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah Sumatera Utara dan Pusat diataranya, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Hamonangan Laoly SH, MSc, Ph.D dan Plt Gubernur Sumatera Utara, Ir. H. Tengku Erry Nuradi M.Si dan Bupati Karo, Terkelin Brahmana.

Berbagai stand-stand kebudayaan Karo hadir dalam festival tersebut, seperti stand kerajinan dan kuliner khas Karo. Acara tersebut juga di meriahkan dengan berbagai penampilan-penampilan kebudayan karo diantaranya tari-tarian, perkolong-kolong (biduan Karo, red), pencak silat karo (ndikar, red) dan reflexi 5 tahun Gunung Sinabung.

Bukan itu saja acara ini juga dimeriahkan artis ibu kota dan penampilan artis Karo, seperti Santa Hoky Br Ginting, Tio Fanta Br Pinem, Juliana Br Tarigan, Maharani Br Tarigan, Averiana Br Barus, Anita Br Sembiring, Luther Tarigan, Anta Prima Ginting, Ramona Purba, Aura Kasih dan Trio Kucing.

Juga diiringi dengan pemain musik modern dan tradisional Karo, yakni Yanto Tarigan Djast junior (keyboard dan kulcapi), Alex Ginting (keyboard dan gendang), John Tarigan (surdam dan gendang), Jimmy Sebayang (gendang).

Ketua Panitia, Setia Pandia saat temu pers, Jumat (28/8) di Lapangan Merdeka Medan, mengungkapkan kegiatan ini awalnya adalah dalam rangka pelantikan Pengurus HMKI Sumut, namun disajikan untuk masyarakat Sumatera Utara khsususnya masyarakat Karo dalam konsep festival.

“Ini sebagai salah satu bentuk apresiasi kami kepada seluruh masyarakat Karo, untuk terus melestarika kebudayaan Karo agar tidak pernah hilang dan selalu dapat meciptakan dan menjaga kebudayaan-kebudayaan Karo sampai kapan pun,” ungkap Setia Pandia.

Ia menambahkan, Kegiatan Festival Karo 2015 ini juga akan diselenggarakan moment refleksi 5 tahun Sinabung. ”Iya, kita akan menggelar refleksi 5 tahun Sinabung dengan mengundang para masyarakat yang menjadi pengungsi Sinabung,” tambahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua DPD HMKI Sumut, Ruben Tarigan, SE. Katanya kegiatan digelar untuk membangkitkan dan membangun kembali semangat masyarakat Karo dalam menjunjung nilai budaya dan mengajak kepada semua etnis di Sumatera Utara untuk bersatu dalam sama-sama menjaga dan melestarikan kebudayaan yang beragam.

“Kita berharap melalui kegiatan ini, kita bisa sama-sama mengajak masyarakat Sumatera Utara khsusunya suku Karo untuk terus menjaga dan melestarikan kebudayaan Karo sampai kapanpun,” pungkasnya.

"JFC" Wujudkan Jember Jadi Kota Karnaval Dunia

Jember, Jatim - Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC) Dynand Fariz mengemukakan kegiatan yang dikelolanya dapat mewujudkan Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi sebuah kota karnaval dunia yang dapat menarik wisatawan mancanegara.

"Jember dulu sebagai kota kecil yang kurang dikenal, namun kini dicatat sebagai kota karnaval ke-4 dunia," katanya pada diskusi "Carnaval Conference" dengan tema "Dari Kota Kecil Menjadi Kota Karnaval Dunia" di Jember, Kamis.

Menurutnya konsistensi dan kerja keras JFC dengan dukungan semua pihak maka nama Jember bisa mendunia karena JFC sering diundang dalam berbagai even internasional di beberapa negara.

"JFC merupakan bukti dahsyatnya karnaval sebagai city branding dan dengan kegiatan JFC yang semakin eksis maka diharapkan Jember dikenal sebagai kota karnaval dunia semakin berkibar," tuturnya.

Parade busana yang unik dan spektakuler sepanjang 3,6 kilometer, lanjut dia, mampu menyedot perhatian wisatawan domestik dan mancanegara karena para wsatawan sudah mengagendakan jauh-jauh hari untuk menonton JFC di Jember.

"Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke Jember, maka ekonomi lebih bergairah dan investasi di bidang hotel dan restoran di Jember juga semakin meningkat," katanya.

Dynand berharap JFC dapat memberikan inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk memiliki spesial kegiatan yang berbasis keunikan budaya lokal, sehingga dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat dan destinasi wisata.

Sementara pakar pariwisata yang juga pengurus Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI), Akhyarudin, mengatakan Jember dengan JFC-nya sangat luar biasa karena dapat menginsprasi daerah-daerah lain untuk menggelar kegiatan karnaval yang mendunia.

"JFC memiliki peluang bisnis yang cukup besar untuk dikembangkan mendongkrak perekonomian dan pariwisata Jember. Hal itu akan menjadi contoh bagi daerah lain," kata mantan Dirjen Pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata itu.

Dalam "Carnaval Converence" tersebut juga dihadirkan Hendrik Engelking dari Jerman dan Ida Bagus Lolec dari Pacific World Nusantara.

Rangkaian JFC International Event (JIE) digelar sejak 26-30 Agustus yakni JFC Exhibition, JFC KIds, JFC Art Wear, Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia (WACI) dari talent berbagai provinsi, dan Grand Carnival JFC di alun-alun Jember.

Tari Lenggang Sembang di Taman Budaya Medan

Medan, Sumut - Pertunjukan Tari Lenggang Sembang arahan Koreografer Sabri Gusmail asal Binjai, digelar di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, Sabtu (29/8). Pertunjukkan dilakukan dua kali, pukul 15.00 wib dan pukul 19.30 wib. Acara ini didukung oleh Yayasan Kelola Jakarta dan First State Investments. Selain itu komunitas kebudayaan lokal seperti Rumah Karya Indonesia (RKI), Komunitas Air In Arts dan Sanggar Melati Suci Binjai juga terlibat dalam acara ini.

Dikatakan Manager Produksi RKI Ojax Manalu, tarian ini merupakan salah satu peraih hibah Seni Kelola Jakarta Maret 2015 lalu, dan dipentaskan untuk warga Kota Medan, karena karya sendratari ini berangkat dari visualisasi kekinian masyarakat perkotaan dalam interaksi sosialnya, sering dihadapkan pada penggunaan media sosial.

"Karya tari Lenggang Sembang diharapkan koreografernya, dapat menginterpretasikan dan memvisualkan permasalahan atas fenomena komunikasi pada saat ini. Ceritanya nanti akan mengkaitkan komunikasi tradisional yang menjadi esensi dasar pada peristiwa budaya Beahoi di masyarakat Melayu Langkat dengan komunikasi budaya popular, seperti layanan Facebook yang sedang marak saat ini," ujarnya kepada MedanBisnis ketika ditemui di Taman Budaya Medan, Kamis (27/8) siang.

Lenggang Sembang dalam pemahaman bahasa melayu dapat diartikan pada dua suku kata, yaitu lenggang dan sembang yang dapat dimaknai sebagai sebuah upaya individu untuk dapat berkomunikasi dengan baik antara dirinya dan pikirannya.

"Tarian ini menyasar pada anak muda yang sudah mulai melupakan kebiasaan-kebiasaan dulu. Mereka lebih banyak sibuk dengan media sosial. Semoga acara tarian nanti dapat dipahami agar anak muda kembali menjadi pribadi yang santun dan beretika dengan orang lebih tua, maupun sesamanya," paparnya.

Keunggulan Perhiasan Etnik Indonesia di Pasar Dunia

Jakarta - Perhiasan berbentuk cantik dengan motif menawan tidak cukup untuk merebut hati pasar dunia.

Desak Nyoman Suarti, salah satu pionir perajin perak Bali yang telah memasarkan kerajinan Indonesia di ranah internasional, mengemukakan keunggulan perhiasan Indonesia yang tidak dimiliki perajin negara lain: secuplik budaya di balik tiap motif etnik.

"Yang mereka sukai bukan hanya perhiasan indah, tapi sedikit bagian dari budaya di dalamnya, cerita di baliknya," kata Suarti di Jakarta, Rabu.

Setiap kisah di balik motif merupakan senjata utama untuk menarik perhatian pembeli internasional, terutama dari AS, Inggris dan Tiongkok.

Tren perhiasan memang terus berganti seiring waktu. Suarti yang telah bergelut selama dua dekade di industri ini menjelaskan perkembangan model perhiasan yang disukai pembeli di luar negeri

Ketika awal masuk ke pasar AS, tema yang digemari adalah etnik.

"Lima tahun kemudian, yang disukai campuran barat dan timur," kata pembuat perhiasan perak berhias motif Nusantara.

Kini yang disukai adalah model sederhana. Kendati demikian, perhiasan sederhana pun dapat laris terjual bila ada cerita di balik motifnya.

"Itu yang kita menang, itu ujung tombaknya," imbuh dia.

Selain menggarap kekayaan budaya dari kampung halamannya di Bali, Suarti juga mengeksplorasi pulau-pulau lain di Indonesia sebagai inspirasi merancang motif baru. Saat ini, dia baru menjelajahi Bali, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.

Dari sekian banyak tempat, Suarti menyebut Kalimantan sebagai inspirasi favorit, salah satu yang ingin diangkatnya ke dalam perhiasan perak adalah kaharingan, kepercayaan tradisional suku Dayak.

"Ke sana tiga bulan cari unsur-unsurnya karena dekat dengan hindu, ada banyak peninggalan di Kalimantan Tengah," jelas dia.

Festival Budaya Karo Terbesar Digelar Tiga Hari di Lapangan Merdeka

Medan, Sumut - Alunan musik Tari Kolong-kolong terdengar ke seluruh penjuru Lapangan Merdeka. Suaranya yang nyaring dan lantunannya yang lembut seakan menyihir orang-orang untuk mendekat ke tengah lapangan dan ikut menggabungkan diri menari bersama. Tari Kolong-kolong menjadi penanda dibukanya Festival Budaya Karo 2015, Kamis (27/8/2015).

Awalnya, hanya sepasang muda-mudi berpakaian adat khas Karo yang tampil membawakan tarian tersebut. Namun, perlahan, satu per satu pengunjung yang rata-rata adalah orang Karo, turut mendekat dan terbawa suasana. Kebersamaan yang begitu akrab di antara mereka seketika tampak begitu saja. Padahal, mereka adalah orang-orang Karo yang telah terpencar ke berbagai penjuru jurusan dan urusan.

Pantauan Tribun, festival budaya Karo terbesar yang pernah diselenggarakan ini nampak disiapkan dengan saksama. Tenda-tenda telah berdiri tegak, lengkap dengan aneka pajangan. Ada yang memajangkan pakaian adat, pernak-pernik, hingga kuliner. Semuanya berkhaskan Karo. Juga pembawa acara, Ripta Ginting, yang merupakan gadis Karo dan tampil dengan pakaian adat khas Karo.

Di samping itu semua, panitia juga mengumpulkan tanda tangan sebagai tanda duka kepada korban erupsi Gunung Sinabung. Pengumpulan tanda tangan dilakukan sebagai bentuk dukungan untuk menguatkan para korban.

Keseriusan pergelaran Festival Budaya Karo ini tampak juga dari kehadiran putri dari pahlawan Jamin Ginting, Riana Jamin Ginting. Tampil dengan pakaian sederhana, Riana menjadi pusat perhatian pengunjung. Sebelum festival dibuka dengan Tari Kolong-kolong, Riana pun menyempatkan diri membubuhkan tanda tangannya untuk dukungan kepada korban Sinabung.

"Pesan saya, lewat festival ini, semua orang Karo harus bersatu. Jangan terpecah-pecah walaupun sudah merantau. Yang merantau harus segera membangkitkan semangat saudaranya yang ada di kampung halaman," kata Riana kepada Tribun, usai membubuhkan tanda tangannya.

Menurut Riana, kondisi daerah Karo saat ini kotor sehingga perlu upaya pembersihan agar wisatawan tertarik untuk berkunjung.

"Sekarang Karo ini agak kurang bersih. Saya minta orang Karo harus bersemangat membuat Karo menjadi bersih, sehingga bisa menjadi tujuan wisata budaya," katanya.

Ketua panitia, Setia Pandia, mengatakan festival ini juga sebagai pengingat deklarasi kemerdekaan yang pernah dilakukan Pahlawan Jamin Ginting, 70 tahun lalu, di Lapangan Merdeka.

"Ini momentum besar bagi orang Karo. Dulu Bapak Jamin Ginting menyatakan kemerdekaan di Lapangan Merdeka ini. Bayangkan, itu 70 tahun yang lalu. Dan hari ini, kami, etnis Karo melaksanakan even akbar. Kami harapkan ini menjadi diplomasi budaya. Maksudnya supaya orang Karo bersatu. Bayangkan orang Karo lima tahun ini terkena erupsi Sinabung. Sehingga kami harapkan dengan even ini bisa membuat orang-orang Karo, terutama saudara-saudara yang ada di kampung halaman bisa bangkit. Terutama yang berada di pengungian supaya tetap semangat," katanya.

Dikatakannya, festival ini akan diisi dengan segala sesuatu yang berbau Karo.

"Ini akan ada penampilan-penampilan seni, budaya, seperti tari-tarian, gundala-gundala, kerajinan tangan, dan kuliner Karo seperti siperah, nira, dan sebagainya," katanya.

Festival ini digelar selama tiga hari, hingga Sabtu malam (29/8/2015)

-

Arsip Blog

Recent Posts