Rusli Minta Daerah Tidak Sporadis Tentukan Wisata Andalan

Pekanbaru - Daerah kabupaten/kota se Riau diminta tidak sporadis mengajukan potensi wisata di daerahnya. Selain menekankan daerah fokus dan profesional dalam membangun potensi wisata, gubernur Riau Rusli Zainal menilai wisata Riau akan mempercepat perwujudan Visi Riau 2020.

"Seperti diketahui, wisata berada diurutan ke dua disamping sektor lainnya. Untuk memperoleh multi efek dari wisata ini maka kita mengadakn rakor dengan berbagai pihak se Riau. Kita minta daerah jangan sporadis menentukan sektor wisatanya. Saat ini kita hanya minta daerah menentukan satu potensi wisata di daerahnya," ujar Rusli Zainal kepada wartawan usai mebuka Rakor Kebudayaan dan Pariwisata se Provinsi Riau, Kamis (28/02) di Pekanbaru.

Rusli juga menganjurkan setiap daerah mengelola wisata yang ada di daerahnya dengan profesional. Tindak lanjut agar wisata tersebut mencapai target yang diinginkan, menurut Rusli, perlu penanganan serius baik secara fisik maupun moril. Seperti pembenahan infrastruktur dan menjaga nilai-nilai moril masyarakat Melayu yang dikenal dengan keramahannya.

"Agar potensi wisata ini terwujud dan mencapai tujuan yang kita inginkan, dalam pengelolaan wisata ini kita harap daerah menggunakan konsultan atau tenaga ahli di bidangnya. Karena Riau telah punya komitmen politik untuk mewujudkan provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan dan perekonomian di Asia Tenggara pada 2020," ujar Rusli.

Sumber: Riau Info (29 Februaru 2008)

Khawatir Visit Indonesia Year Jadi Finish Indonesia Year 2008

Jakarta - Setiap hari kita melihat baliho super jumbo berdiri tegak di depan Bundaran Hotel Indonesia yang sedang direnovasi lengkap dengan foto Presiden, Wakil Presiden, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Gubernur DKI Jakarta serta tentu saja Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata yang memuat pesan untuk kita semua bahwa tahun ini kita mempunyai program besar yang bernama: Visit Indonesia Year 2008 (VIY). Sebuah event yang maha penting di sektor pariwisata.

Melalui program VIY 2008 diharapkan sektor pariwisata akan meningkat cukup signifikan, sehingga diharapkan bisa menambah kocek negara yang bernama devisa. Benarkah?

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan asing yang merapat atau mengunjungi Indonesia per Desember 2007 berjumlah kurang lebih 5,5 juta orang atau naik sekitar 30,02% dibanding dengan tahun 2006 yang berjumlah 4,87 juta orang.

Masih menurut BPS, jumlah devisa yang diterima negara dari wisatawan asing berjumlah sekitar 5,3 miliar dollar Amerika atau sekitar Rp 48 triliun. Ini meningkat dibanding dengan penerimaan tahun 2006 yang berjumlah sekitar 4,4 miliar dollar Amerika atau sekitar Rp 39,8 triliun. Tentu ini bukan jumlah yang sedikit dan semua berharap agar jumlah ini meningkat hingga 7 juta orang di tahun 2008 dengan adanya program VIY 2008. Mungkinkah?

Secara pribadi, saya khawatir bahwa angka 7 juta akan tercapai, mengingat kondisi infrastruktur di Indonesia belum tampak membaik. Bahkan di awal tahun hingga hari ini sepertinya bencana tak kunjung habis, seperti banjir, cuaca buruk hampir di semua perairan Indonesia.

Belum lagi awal Februari 2008 ini muncul kejadian sangat buruk menimpa Indonesia, yaitu akses ke Ibu Kota negara lumpuh selama 3 hari karena akses jalan dari dan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta banjir. Belum lagi buruknya pelayanan maskapai penerbangan dan terbatasnya kemampuan daya tampung Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sudah Tepatkah Pelaksanaan VIY 2008?
Berkaitan dengan semangat meningkatkan jumlah wisatawan asing datang ke Indonesia, pada tanggal 26 Desember 2008, Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, menetapkan program VIY 2008. Saya terkejut dan saya pikir banyak orang pun akan terkejut.

Tepatkah program ini dicanangkan sekarang? Adakah kajian atau studi yang melatarbelakangi bahwa VIY harus dilaksanakan pada tahun 2008 ini? Atau ada desakan politik kepada Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata? Atau hanya ikut-ikutan negara tetangga Malaysia?

Beberapa pertanyaan ini muncul di benak saya sesaat setelah hampir 2 bulan ini mengamati jalannya VIY 2008 dan berdiskusi beberapa kali dengan banyak pihak termasuk pejabat di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar).

Saya sempat bertanya tentang latar belakang studi yang dipakai sebagai dasar diputuskannya VIY 2008 dan seperti yang saya sudah duga, ternyata Depbudpar memang tidak mempunyai dasar ilmiah yang mendasari dilaksanakannya program VIY. Artinya Depbudpar belum siap.

Pejabat tersebut bahkan mengatakan pada saya bahwa Menteri Budpar mencanangkan program ini karena didesak oleh DPR-RI kala Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi X beberapa waktu lalu.

Namun ketika saya tanyakan langsung kepada beberapa teman yang kebetulan menjadi anggota Komisi X DPR-RI, mereka menyangkalnya. Mereka bilang itu ide Menteri Budpar sendiri. Teman itu bahkan mengatakan bahwa Komisi X juga sudah menanyakan kepada Menbudpar agar pelaksanaan VIY 2008 ini diundur saja jika Pemerintah belum siap.

Ketidaksiapan ini menyedihkan karena Pemerintah tidak pernah mau belajar dari kesalahan di masa lalu. Sulit bisa saya terima dengan akal sehat kalau sebuah kebijakan publik terkait dengan program nasional diputuskan oleh Menteri teknis mungkin sambil “ngopi” atau baca koran atau melamun. Bagaimana VIY 2008 bisa diumumkan resmi dimuka publik tanpa kesiapan yang matang?

Ketika saya bertanya lagi pada salah satu pejabat Depbudpar: “Apakah Depbudpar mempunyai data tentang keunggulan lokasi wisata di Malaysia, Thailand dan Vietnam-Kamboja-Laos sehingga bisa kita gunakan sebagai pembanding jika unggulan yang ditawarkan sama? Apakah ada daerah pariwisata khusus yang ditawarkan dalam VIY 2008, kalau ada di mana saja?”

Mau tahu apa jawaban beliau? Tidak ada studi khusus dan daerah khusus yang dipromosikan. Sama seperti kalau tidak ada VIY 2008. Bukan main dah!

Seharusnya Depbudpar mempunyai data: Apa kelebihan Mu Ko Hong yang berlaut bening dan indah (sebagai bagian dari Taman Nasional Bokkhorani) di Provinsi Krabi, Thailand dibanding dengan Taman Nasional Bunaken atau sebaliknya? Apa kelebihan Teluk Tomini dibanding dengan Halong Bay di Vietnam? Atau apa kelebihan Taman Mini Indonesia Indah, di Timur Jakarta dengan Taman Mini Malaysia di Ayer Keroh, Melaka? Dan lain sebagainya.

Jika data-data ini kita punyai, maka dengan mudah kita dapat merencanakan daerah mana yang akan kita jual dalam rangka VIY 2008. Tanpa data tersebut, sama artinya kita berjalan di tengah kegelapan. Betapa bodohnya kita. Pantas tertinggal terus.

Mendapatkan data-data tersebut sangatlah mudah, hanya buka mesin pencari Google di internet dan booom! Dapat semua data yang kita cari dan buat matriksnya sehingga keputusan yang diambil ada latar belakang ilmiahnya. Tidak perlu menghabiskan waktu studi banding atau studi piknik yang menghabiskan uang rakyat di APBN dan uang swasta yang diajak serta (karena harus menanggung biaya petinggi negara yang studi banding, meskipun para petinggi tersebut sudah dibiayai APBN).

Itu masalah studi yang seharusnya dipunyai oleh Pemerintah sebelum memutuskan pelaksanaan VIY 2008. Lalu bagaimana dengan informasi yang bisa diperoleh para calon pelancong tentang VIY 2008? Masya Allah, sangat minim dan hampir tidak ada bedanya dengan sebelum dicanangkannya VIY 2008.

Coba pembaca buka website Depbudpar atau cari VIY 2008. Bandingkan dengan website Visit Malaysia Year 2007 atau website Department of Tourism Thailand atau bahkan Department of Tourismnya Vietnam. Beda banget!

Di website Depbudpar, sangat “garing” dan sangat tidak menarik untuk dibuka oleh calon pelancong atau turis mancanegara. Tidak ada informasi yang jelas apa yang mau kita jual kecuali akan ada 100 event yang tidak jelas di mana dan rasanya tanpa VIY 2008 pun event tersebut sudah ada. Jadi apa dong yang akan dijual oleh Indonesia dalam VIY 2008? Gelap karena tidak jelas. Artinya kita tidak siap membuat VIY 2008.

Apa Yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Dari beberapa diskusi saya dengan berbagai pihak, patut diduga pembuatan logo VIY 2008 dan lain-lain sudah menghabiskan dana sebesar Rp 20 miliar dari anggaran yang diberikan oleh APBN sebesar Rp 150 miliar.

Sudah hampir 2 bulan berjalan tetapi tidak tampak promosi yang jelas, baik di media cetak maupun media elektronik kecuali logo VIY 2008 di badan pesawat Garuda Indonesia, tetapi tidak di inflight infotainment yang ada di kabin pesawat serta baliho besar di bundaran HI.

Saya sempat berkunjung ke KBRI di Washington DC pertengahan Januari 2008 lalu, tidak tampak ada brosur atau informasi mengenai VIY 2008 dan pasti begitu pula dengan KBRI-KBRI lain di penjuru dunia. Staf KBRI pun minim info tentang VIY 2008.

Jadi sebaiknya Presiden SBY bisa menegur atau menanyakan perihal implementasi VIY 2008 ini kepada Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata. Sebagai publik saya cenderung minta kepada Pemerintah untuk menghentikan VIY 2008 dan mengkaji ulang VIY dengan lebih baik.

Jangan hanya ikut-ikutan namun tanpa konsep dan perencanaan yang jelas. Kalau tidak dihentikan saya khawatir Visit Indonesia Year 2008 akan menjadi Finish Indonesia Year 2008.

Agus Pambagio (Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen)

Sumber: Detik.com (1 Maret 2008)

80 Persen Wisman 2007 Ke Indonesia `Repeater`

Jakarta - Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbupdar) memperkirakan sekitar 80 persen atau 4,4 juta orang dari total 5,51 juta wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia selama 2007 adalah wisatawan yang pernah datang ke Indonesia sebelumnya (wisatawan repeater).

“Sekitar 80 persen wisman tahun 2007 merupakan wisatawan `repeater`. Dan wisman `repeater` pada 2007 sebanyak 60 persen (2,8 juta orang dari total 4,87 wisman) dibandingkan wisman yang pertama kali datang,” kata Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan (P2DSJ) Depbudpar Hari Waluyo di Jakarta, Kamis.

Hari mengatakan melihat data tersebut, wisman yang datang merupakan wisman yang loyal atau wisman yang senang terhadap pariwisata Indonesia.

“Terutama wisman yang datang dari 10 besar pasar wisata Indonesia, misalnya Singapura, Jepang dan Australia,” lanjutnya.

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI pada 4 Februari lalu, Menbudpar Jero Wacik mengatakan total 5,5 juta wisman 2007 datang dari 12 pasar wisata utama Indonesia yaitu 1,46 juta wisman Singapura, 941.202 wisman Malaysia, 593.784 wisman Jepang, 313.881 wisman Australia, 528.171 wisman Eropa dan Rusia, 423.098 wisman Korea Selatan, 335.172 wisman Cina dan Hongkong.

Selanjutnya 154..846 wisman Amerika Serikat, 151.704 wisman India, 45.735 wisman Timur Tengah, dan 24.735 wisman Thailand. Sementara sisanya berasal dari 12 pasar wisata Indonesia tersebut yang berjumlah 209.612 orang.

Menbudpar mengatakan 5,5 juta wisman 2007 yang juga rekor nasional jumlah wisman tertinggi selama 10 tahun terakhir tersebut, berhasil meraup devisa sebesar 5,3 miliar dolar Amerika.

Untuk 2008 sendiri, Jero Wacik menargetkan dapat mendatangkan tujuh juta wisman dengan perkiraaan penerimaan devisa sebesr 6,7 Miliar dolar Amerika.

Selain memang telah ditargetkan oleh Wapres Jusuf Kalla, Menbudpar optimis target tujuh juta wisman bisa diperoleh karena Indonesia menggelar program tahun kunjungan wisata (Visit Indonesia Year) 2008.

Sumber: Antara News (1 Maret 2008)

Indonesia Ikut Pameran Pariwisata Terbesar di Dunia

London - Indonesia menyertakan sekitar 65 perusahaan perhotelan, agen perjalanan dan spa, serta lima pemerintah daerah (Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lombok Barat dan Jayapura) akan mengikuti pameran pariwisata terbesar di dunia, International Tourism Bourse (ITB) di Berlin dari 5-9 Maret.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, menurut rencana Rabu (5/3) akan meresmikan Paviliun Indonesia dan sekaligus meluncurkan Visit Indonesia 2008 di Jerman, kata Wahyu Hersetiati Priyanto, Minister Counsellor, Fungsi Sosial Budaya dan Promosi Perdagangan Investasi dan Pariwisata KBRI Berlin, di London, Sabtu (1/3).

Menbudpar direncanakan akan melakukan pertemuan dengan Jurgen Klimke, anggota Komisi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan serta anggota Komisi Pariwisata Bundestag dari partai CDU/CSU) serta Ketua CDU Wilayah Wandsbeck, Hamburg.

Selain itu, sebanyak 12 anggota Die Frei Demokratische Partei (FDP) yang dipimpin Ernst Burgbacher akan melakukan kunjungan ke Paviliun Indonesia di pameran pariwisata yang diikuti oleh lebih dari 10.000 peserta dari 180 negara serta dikunjungi sekitar 180.000 orang.

Paviliun Indonesia yang pada tahun lalu memperoleh penghargaan penampilan terbaik kedua atau "The Best Exhibitor Category" untuk katagori wilayah Asia/Australia dan Oceania menampilkan keindahan budaya Indonesia.

Selama pameran, di paviliun Indonesia akan dimeriahkan dengan penampilan tari-tarian nusantara dan demonstrasi keterampilan menenun dari Nusa Tenggara Timur.

Sumber: Media Indonesia (1 Maret 2008)

12 Grup Kesenian Asing Ikut Pesta Seni Bali

Denpasar - Sebanyak 12 kelompok kesenian asing menyatakan ikut ambil bagian dalam memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 yang akan berlangsung di Denpasar, 14 Juni-12 Juli 2008.

Mereka berasal dari delapan negara yang jadual pementasannya diatur sedemikian rupa dengan pementasan seniman lokal dan utusan daerah lainnya di Indonesia, kata Kasubdis Kesenian Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, I Made Santha di Denpasar Sabtu.

Ia mengatakan, negara yang ikut ambil bagian itu meliputi Jepang, Amerika Serikat, Singapura, India, Korea Selatan, Thailand, Inggris dan Malaysia.

Negara tersebut ada yang mengirim lebih dari dua grup seperti Jepang mengikutsertakan tiga grup dan Amerika Serikat dua grup dan negara lainnya masing-masing satu grup.

Tim kesenian asing yang ikut dalam kegiatan seni tahunan di Pulau Dewata kali ini hampir sama dengan tahun sebelumnya sebanyak 12 grup dari tujuh negara masing-masing dari Jepang, China, Korea, India, Amerika, Singapura dan Kanada.

Sedangkan PKB 2006 melibatkan 15 kelompok kesenian asing, sehingga peran serta seniman luar negeri dalam aktifitas seni tahunan di Pulau Dewata berfluktuasi. Made Santha menjelaskan, grup kesenian mancanegara dalam pementasan di arena PKB selain tampil bersama kelompoknya, juga melakukan pementasan kolaborasi dengan seniman setempat.

Kehadiran seniman asing mampu menumbuhkan sikap moral masyarakat dalam bidang berkesenian, yakni membangkitkan gairah masyarakat setempat dalam bidang kesenian.

Sumber: Antara (2 Maret 2008)

Pengunjung Pulau Karimunjawa Turun 80 Persen

Jepara – Cuaca buruk di Laut Jawa yang terjadi sejak akhir Desember lalu mengakibatkan sejumlah pelayaran dan penerbangan dibatalkan. Kondisi itu mengakibatkan pengunjung Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, turun 80 persen.

Kepala Bidang Pengembangan Karimunjawa Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara Sutana, Sabtu (1/3), mengatakan, rata-rata jumlah pengunjung Pulau Karimunjawa 802 wisatawan per bulan. Namun, dua bulan terakhir ini jumlah pengunjung Pulau Karimunjawa hanya 160 wisatawan.

“Hanya wisatawan-wisatawan yang mempunyai jiwa petualangan saja yang berani berkunjung ke Karimunjawa di saat cuaca buruk. Mereka berani menyewa kapal-kapal nelayan agar dapat menikmati keindahan Karimunjawa,” kata dia.

Sutana mengemukakan, turunnya jumlah pengunjung itu merupakan siklus tahunan. Penurunan itu terjadi di akhir Desember–Februari, saat (angin) baratan, yaitu bertiupnya angin musim barat.

Di bulan Maret ini kondisi itu akan pulih sedikit demi sedikit, dan diperkirakan kembali normal pada awal April. Jumlah wisatawan yang berkunjung akan melonjak tinggi di bulan September–November.

Menurut pengurus dan penggagas Jepara Tourism Information Center (JTIC) Samsul Arifin, cuaca buruk membuat sejumlah pelayaran dan penerbangan dibatalkan. JTIC telah menginformasikan langsung maupun melalui situs gojepara.com, tentang kondisi itu kepada para turis yang ingin menikmati keindahan Karimunjawa.

Sarana transportasi laut, yaitu Kapal Feri Muria dan Kapal Cepat Kartini I, hingga saat ini belum dioperasikan. Sarana transportasi udara, yaitu pesawat CASSA 212 Bandara Ahmad Yani Semarang–Dewadaru Karimunjawa, juga belum melayani penerbangan.

“Saat ini, kami terus memantau kondisi cuaca di laut dan udara, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan Syahbandar Pelabuhan Jepara dan Badan Meterologi dan Geofisika,” kata Samsul yang berharap cuaca cepat pulih.

Agenda internasional
Terlepas dari itu, Pulau Karimunjawa menjadi sasaran penyelenggaraan Visit Indonesia Year 2008. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jateng mengagendakan kegiatan “Sail Indonesia” pada 5-12 Oktober di pulau yang terkenal dengan potensi wisata baharinya itu.

“Sail Indonesia” merupakan kegiatan berlayar yang diikuti pelayar-pelayar dari berbagai negara. Mereka membawa kapal-kapal pribadi mengarungi lautan mulai dari Darwin, Singapura, Kupang, Bali, hingga Karimunjawa.

“Tahun 2007, Sail Indonesia diikuti 45 peserta dari 22 negara,” kata dia.

Sumber: Kompas.com (2 Maret 2008)
-

Arsip Blog

Recent Posts