Sri Indrawarman

Sri Indrawarman atau Sri Maharaja Indra Warmadewa merupakan seorang maharaja Kedatuan Sriwijaya. Dalam catatan orang Cina, ia dikenal dengan sebutan Shih-li-t-’o-pa-mo.

Tidak ada prasasti yang dikeluarkan raja ini membuat pelacakan terhadap Sri Indrawarman ini mengalami kesukaran. Petunjuk tentang keberadaan raja ini hanya berasal dari surat yang dibuat atas titahnya yang diperuntukkan kepada Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayah, dan kronik Cina. Disebutkan dalam surat bertarikh 718 M tersebut bahwa surat itu dikirim dari seorang Maharaja yang memiliki ribuan gajah, memiliki rempah-rempah dan wewangian serta kapur barus, dengan kotanya yang dilalui oleh dua sungai sekaligus untuk mengairi lahan pertanian mereka dan mengantarkan hadiah buat khalifah Umar itu.

Ada pun kronik Cina menyebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-’o-pa-mo pada tahun 724 M di mana raja bersangkutan mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa ts’engchi (zanji dalam bahasa Arab.

Karena kekurangan data yang sangat minim ini, kita tidak bisa memastikan tahun berapa raja ini lahir, memerintah, dan meninggal. Yang jelas, ia pernah menduduki takhta Sriwijaya pada abad ke-8.

Surat-surat kepada Dua Khalifah Bani Umayyah

Ada berita yang sangat menarik mengenai seorang maharaja dari Sriwijaya yang mengirimkan dua buah surat kepada dua raja dari sebuah khalifah Islam yang sama (Bani Umayyah), yaitu Muawiyah (661 M / 41 H) dan Umar bin Abdul Aziz (717-20 M / 99-102 H). Terjemahan pembukaan surat yang ditujukan untuk Khalifah Mu’awiyah dari Maharaja Sriwijaya kurang lebih seperti berikut.

Dari Maha Raja, yang istalnya berisi ribuan gajah, istananya berkilau emas dan perak, dilayani oleh ribuan puteri raja, yang menguasai dua sungai yang mengairi gaharu – untuk Muawiyah.

Sementara surat kedua—yang terdokumentasikan dalam buku tulisan Ibnu Abdul Rabbih(860-940 M) berjudul Al Iqd al Farid (“Kalung Istimewa”)—isinya lebih lengkap karena di dalamnya terdapat pembukaan dan isi, Berikut surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul.

Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.

Ibnu Taghribirdi dalam bukunya al Nujum al Zahirah fi Muluk Misr wa al Qahirah (“Perbintangan Terang Raja Mesir dan Kairo”) mempunyai tambahan untuk akhir surat kepada Khalifah Umar tersebut: “Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu.”

Diperkirakan surat di atas diterima Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 100H atau 717 M, di mana Srwijaya tengah dirajai oleh Sri Indrawarman. Walau dalam surat itu bertulis “saudara Islammu” namun belum ada bukti peninggalan bahwa Sri Indrawarman sendiri (pernah) memeluk Islam. Khalifah Umar bin Abdul-Aziz sendiri kemungkinan besar memberikan hadiah untuk utusan Sriwijaya dan mereka kembali dengan membawa hadiah zanji (budak wanita berkulit hitam).

Membaca surat Maharaja Siwijaya tersebut membuat kita semakin yakin bahwa sang maharaja sangat percaya diri dan penuh rasa keingintahuan mengenai segala perkembangan dunia internasional kala itu—salah satunya agama Islam yang baru muncul seabad pada waktu itu. karena, sebagaimana dimakfumi, bahwa para pelaut dan pedagang Sriwijaya (dan Nusantara lainnya) telah menjalin hubungan perniagaan dengan pedagang Timur Tengah, India, dan Cina, dengan Selat Malaka sebagai jalur sutra.

Ada satu hal lain yang bisa disimpulkan dari adanya surat-surat Sri Indrawarman kepada dua khalifah Bani Umayyah tersebut, yakni persentuhan orang Sriwijaya (Melayu) dengan ajaran Islam. Selain sumber Arab yang ditulis oleh Ibn Hordadzbeh sejak tahun 844-848 M mengenai Sriwijaya, surat-surat tadi mencerminkan betapa Islam telah dikenal, setidaknya, oleh raja Sriwijaya pada abad ke-8, lima abad sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri di ujung barat Sumatra. Di sini timbul dugaan bahwa terdapat kemungkinan bahwa setidaknya, sejak abad ke-8 M, ada sejumlah rakyat Sriwijaya (Sumatra) yang telah memeluk Islam walau dalam jumlah yang sangat kecil—selain pedagang-pedagang Arab dan Persia yang bermukim, baik untuk sementara atau seterusnya, di pesisir-pesisir utara Sumatra. Dan bila memang demikian, maka bukan hal mencengangkan jika penduduk Sumatra (Melayu) telah lebih dulu memeluk Islam jauh sebelum Wali Sanga menyebarkan ajaran tersebut di Jawa.

(Yusandi)

***

Sumber: wacananusantara.org

Bhre Lasem dan Bhre Pajang

Bhre Lasem adalah adik Hayam Wuruk, menikah dengan Raja Matahun Rajasawardhana; sedangkan adik termuda, Bhre Pajang, menikah dengan Raja Paguhan Singawardhana. Bhre Lasem menurunkan putri bernama Nagarawardhani, yang kemudian dinikahkan dengan putra Hayam Wuruk dari selir, bernama Bhre Wirabhumi.

Pararaton memberitakan bahwa Bhre Wirabhumi nikah dengan “Bhre Lasem sang Alemu” (Bhre Lasem yang gemuk). Dengan begitu, Nagarawardhani dalam Nagarakretagama itu sama dengan Bhre Lasem Sang Alemu dalam Pararaton.

Ada pun Bhre Pajang menurunkan putri Surawardhani yang memerintah di Pawanuhan dan Wikramawardhana alias Bhre Mataram. Wikramawardhana menikah dengan Kusumawardhani, anak gadis Hayam Wuruk dengan Indudewi, putri Raja Wijayarajasa. Pararaton menyebut Kusumawardhani sebagai Bhre Lasem Sang Juwita.

Berikut Nagarakretagama pupuh VI melukiskan kedua adik perempuan Hyam Wuruk beserta suaminya masing-masing.

Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana, sangat bagus lagi putus dalam naya.Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan, dan perwira.Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami Rani Pajang. Mulia pernikahannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
Bhre Lasem menurunkan putri jelita Nagarawardani. Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi. Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana.Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
Putri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani, masih muda indah laksana lukisan. Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.
Nagarakretagama pupuh 1-7 secara teliti menguraikan hubungan kekeratatan Hayam Wuruk dengan raja-raja bawahannya yang memerintah di Jawa. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan Nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Sementara, wilayah Priangan (Sunda) hingga hancurnya Majapahit, tak berhasil ditaklukkan, walaupun pada 1357 terjadi peperangan yang dikenal dengan Pasunda Bubat.

Peristiwa Bubat merupakan perang yang tak direncanakan. Ketika itu tengah direncanakan pernikahan antara Dyah Pitalokā, putri Raja Sunda, dengan Hayam Wuruk. Acara berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitalokā bunuh diri yang mengakibatkan “perkawinan politik” dua kerajaan di Jawa ini gagal.

***

Sumber: wacananusantara.org

Balaputradewa

Nama Balaputradewa disebutkan satu kali di dalam prasasti Balaputra-Jatiningrat yang berasal dari tahun 856 M atau 778 menurut tahun Saka. Selain itu, nama Balaputradewa pun disebut di dalam prasasti Nalanda sebagai salah seorang raja di Swarnadwipa atau Sriwijaya.

Balaputradewa merupakan keturunan dari wangsa Sailendra dilihat dari silsilah bahwa Balaputra merupakan anak bungsu dari Samaragrawira (Rakai Warak) dan sekaligus cucu dari Dhanarandra (Rakai Panunggalan) atau yang lebih dikenal dengan gelar Wirawairimathana (pembasmi para perwira). Oleh karena itu, jelas bahwa Balaputra adalah adik dari Samaratungga (Rakai Warak).

Balaputradewa kehilangan haknya untuk memerintah di Bhumi Jawa dikarenakan putera tertua kerajaan adalah Pangeran Samaratungga sehingga Pangeran Samaratungga yang berhak memimpin kerajaan di Bhumi Jawa. Samaratungga mempunyai seorang putri bernama Pramodhawardhani yang kemudian menikah dengan Jatiningrat.

Adapun penyebab Balaputradewa berada di Swarnadwipa adalah akibat dari lepasnya Kamboja dari kekuasaan Samaragrawira. Oleh karena itu, Samaragrawira memutuskan untuk membagi dua kekuasaan yaitu: Samaratungga berkuasa di Jawa dan Balaputradewa berkuasa di Sriwijaya.

***

Sumber: wacananusantara.org

Aria Wiraraja

Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit.Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singasari. Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi Bupati Sumenep.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang, berniat memberontak. Jayakatwang ingin membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (Singasari). Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibukota Singasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana.

Persekutuan Aria Wiraraja dengan Raden Wijaya

Menantu Kertanagara yang bernama Nararya Sanggramawijaya (dikenal Raden Wijaya) mengungsi ke Sumenep, Pulau Madura, meminta perlindungan Aria Wiraraja. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti, kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadiri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik, di sekitar Sidoarjo, menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu oleh pasukan Mongol untuk memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibukota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.

Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya, pasukan Mongol diundang oleh Wiraraja untuk membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri, dengan imbalan dua orang putri untuk diperistri Kaisar Mongol Kublai Khan.

Jabatan Aria Wiraraja di Majapahit

Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari Prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai. Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibukota di Lumajang.

Akhir Kemerdekaan Majapahit Timur

Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi “pemberontakan” Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara, raja kedua Majapahit. Ketika itu Nambi menjabat sebagai patih amangkubhumi Majapahit.Kidung Sorandaka mengisahkan pemberontakan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja. Sedangkan, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Nambi adalah putra Wiraraja, padahal lebih tepat sebagai adik Wiraraja adn paman Ranggalawe.

Berdasarkan analisis Slamet Muljana dengan menggunakan bukti Prasasti Kudadu dan Prasasti Penanggungan (2006), Wiraraja lebih tepat sebagai ayah Ranggalawe. Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah dikuasai Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi yang terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.

***

Sumber: wacananusantara.org

Anusapati

Bhatara Anusapati adalah raja kedua Kerajaan Tumapel (kemudian terkenal dengan Kerajaan Singasari), yang memerintah pada tahun 1227 – 1248 Masehi (versi Nagarakretagama), atau 1247 – 1249 (versi Pararaton).

Versi Pararaton

Menurut Pararaton, Anusapati adalah putra pasangan Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Ayahnya dibunuh oleh Ken Arok sewaktu dirinya masih berada dalam kandungan Ken Dedes. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes dan mengambil alih jabatan Tunggul Ametung sebagai akuwu Tumapel. Kemudian pada tahun 1222 M Ken Arok mengumumkan berdirinya Kerajaan Tumapel. Ia bahkan berhasil meruntuhkan Kerajaan Kadiri di bawah pemerintahan Kertajaya.

Anusapati yang telah tumbuh dewasa merasa kurang disayangi oleh Ken Arok dibanding saudara-saudaranya yang lain, anak Ken Dedes dari Ken Arok. Setelah mendesak ibunya (Ken Dedes), akhirnya ia pun mengetahui bahwa sesungguhnya ia merupakan anak kandung Tunggul Ametung yang mati dibunuh Ken Arok.

Anusapati juga berhasil mendapatkan keris buatan Mpu Gandring yang dulu digunakan Ken Arok untuk membunuh ayahnya. Dengan menggunakan keris itu, pembantu Anusapati yang berasal dari Desa Batil berhasil membunuh Ken Arok saat sedang makan. Anusapati ganti membunuh pembantunya tersebut untuk menghilangkan jejak. Kepada semua orang ia mengumumkan bahwa pembantunya telah gila dan mengamuk hingga menewaskan raja.

Sepeninggal Ken Arok tahun 1247, Anusapati naik takhta. Pemerintahannya dilanda kegelisahan karena cemas akan ancaman balas dendam anak-anak Ken Arok. Puri tempat tinggal Anusapati pun diberi pengawalan ketat, bahkan dikelilingi parit dalam. Meski demikian, Tohjaya putra Ken Arok dari selir bernama Ken Umang tidak kekurangan akal. Suatu hari ia mengajak Anusapati keluar mengadu ayam. Anusapati menurut tanpa curiga karena hal itu memang kegemarannya. Saat Anusapati asyik menyaksikan ayam bertarung, tiba-tiba Tohjaya menusuknya dengan menggunakan keris Mpu Gandring. Anusapati pun tewas seketika. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1249.

Sepeninggal Anusapati, Tohjaya naik takhta. Namun pemerintahannya hanya berlangsung singkat karena ia kemudian tewas pada tahun 1250 akibat pemberontakan Ranggawuni putra Anusapati.

Versi Nagarakretagama

Menurut Nagarakretagama, Anusapati adalah putra dari Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra, pendiri Kerajaan Tumapel. Dengan kata lain, ia adalah putra Ken Arok, karena Nagarakretagama tidak pernah menyebut adanya tokoh Tunggul Ametung.

Dikisahkan pula bahwa Bhatara Anusapati memerintah sejak tahun 1227 menggantikan ayahnya. Pemerintahannya berjalan tenang. Seluruh tanah Jawa aman dan tunduk kepadanya. Anusapati akhirnya meninggal tahun 1248 dan digantikan putranya yang bernama Wisnuwardhana (alias Ranggawuni). Untuk menghormati arwah Anusapati didirikan candi di Kidal, di mana ia dipuja sebagai Siwa.

Misteri Kematian

Nama Anusapati hanya terdapat dalam Pararaton dan Nagarakretagama. Naskah Pararaton ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit. Sedangkan Nagarakretagama ditulis pada pertengahan masa Dyah Hayam Wuruk (1365).

Dalam beberapa hal, uraian Nagarakretagama cenderung lebih dapat dipercaya daripada Pararaton, karena waktu penulisannya jauh lebih awal. Jika dalam Pararaton disebutkan Anusapati mati karena dibunuh Tohjaya, maka menulis Anusapati mati secara wajar.

Ada dua dugaan mengapa Nagarakretagama tidak menceritakan pembunuhan Anusapati.

Pertama, karena Nagarakretagama merupakan naskah pujian untuk keluarga Hayam Wuruk. Pembunuhan Anusapati yang merupakan leluhur Hayam Wuruk dianggap sebagai aib.
Kedua, mungkin Anusapati memang benar-benar mati secara wajar, bukan karena dibunuh oleh Tohjaya.
Nama Anusapati memang tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun, sedangkan nama Tohjaya ditemukan dalam prasasti Mula Malurung tahun 1255 (hanya selisih tujuh tahun setelah kematian Anusapati). Dalam prasasti itu tokoh Tohjaya disebutkan menjadi raja Kadiri menggantikan adiknya yang bernama Guningbhaya. Jadi, pemberitaan Pararaton bahwa Tohjaya adalah raja Tumapel atau Singasari adalah keliru. Berdasarkan prasasti tersebut, tokoh Tohjaya mungkin memang tidak pernah membunuh Anusapati sesuai pemberitaan Nagarakretagama. Jika Tohjaya benar-benar melakukan kudeta disertai pembunuhan, maka sasarannya pasti bukan terhadap Anusapati, melainkan terhadap Guningbhaya.

***

Sumber: wacananusantara.org

Naskah Nipah tentang Dunia Kosmologis Sunda Kuno

Naskah Kawih Paningkes atau Kawih Panikis (KP) dalam Perpustakaan Nasional tercatat sebagai Kropak 419. Naskah ini terdiri atas 40 lempir daun nipah yang ditulis pada kudua mukanya (recto-verso)—kecuali lempir terakhir yang hanya terisi bagian mukanya. Dengan begitu, naskah ini terdiri atas 79 halaman. Melihat kalimat pada halaman terakhir terputus (… drebya larang nusodahan mo-), jelas bahwa naskah ini belum selesai ditulis. Akan tetapi, mengingat penggalan kalimat tersebut terdapat pada halaman muka lempir terakhir, naskah ini juga tak bisa dianggap tak selesai karena ada lempir-lempir tambahan yang hilang atau belum ditemukan. Jadi, ada dua kemungkinan: ada lempir sambungan yang hilang, atau memang naskah ini tak atau belum diselesaikan, entah apa alasannya.

Sementara itu, bila kita perhatikan lempir pertama naskah ini yang langsung diawali dengan kalimat “luhur tan hana rahina wengi” ada kesan bahwa seharusnya ada bagian yang mengawali kalimat tersebut. Apalagi bila kita perhatikan bahwa lempir itu tidak diawali dengan ciri yang biasa sebagaimana terdapat pada awal sebuah naskah, yakni ciri kalimat pembuka/pengantar, maka dugaan bahwa awal naskah ini tak komplit cukup beralasan. Jadi, sekurang-kurangnya ada satu lempir bagian awal naskah yang tak ada, mungkin hilang, atau mungkin susah sebegitu rusaknya sehingga “hilang” juga akhirnya dari rangkaian naskah.

Kawih Paningkes memuat ajaran agama campuran antara Hindu, Buddha, dengan kepercayaan asli orang Sunda. Istilah-istilah seperti dewa, dewata, sri, mahayoga, dan moksah yang terdapat dalam ajaran Hindu dan Buddha ditemukan bersama-sama dengan nama pohaci dan istilah-istilah dari kebudayaan “asli” Sunda seperti wirumananggay, kahyangan, sanghyang, dan puhun.

Dalam naskah ini terlihat bahwa ajaran pituin/asli Sunda bisa “satu level di atas” atau “mengatasi” (menurut Ayatrohaedi) ajaran Hindu maupun Buddha. Berikut kutipannya (lempir 19):

… baruk da sang wiku lamun muja ka dewata longit (leungit) kawikwana na pandita lamun samadi mihdap hyang dewata hilang na kapanditaan ja kassarkon (kassarkeun) katinong (katineung) sarwa dingan trisna trisna bala swarangan.

… katanya, kalau wiku memuja dewata, hilanglah kewikuannya. Jika pendeta bersemadi (memuja) dewata, hilangkah kependetaannya, karena perhatian dan kecintaannya tergeser oleh (kelakuannya) sendiri.

Di lempir 22-23 ada pernyataan yang menarik tentang “jalan yang tunggal” dan “tempat yang tak terbatas”. Berikut kutipannya:

… kitu urang janma ini ulah dek ingkah ti janma lamun timu na janma mulah eta dimana eta kana kilang mantuturkon (mantuturkeun) jati swarangan nuturkon (nuturkeun) jalan nu bener hanto (hanteu) jalan dwa, tilu, nu trisna jalan sahiji to (teu) aya ngenca ngatuhu ja datar kana tangkal masana tilas masana patemonang (pateumenang) hingan.

(…..Maka kita (sebagai manusia) janganlah bergeser dari kemanusiaan, karena sudah ditemukan manusia, janganlah hal itu dijadikan alasan untuk menurutkan kesejatian sendiri. Mengikuti jalan yang benar, bukan dua atau tiga jalan kerinduan. Jalan yang tunggal, tak ada belokan ke kiri ke kanan karena datar (lurus) menuju batang pohon bekas tempat yang tak terbatas).

***

Sumber: wacananusantara.org

Foto: wacananusantara.org
-

Arsip Blog

Recent Posts