Tampilkan postingan dengan label Indramayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indramayu. Tampilkan semua postingan

Festival Tjimanoek, Ajang Menggaet Wisatawan

Indramayu, Jabar - Budaya dan produk unggulan Kabupaten Indramayu disajikan kepada khalayak dalam Festival Tjimanoek tahun 2016 ini. Pergelaran yang dipastikan menjadi agenda tahunan ini diyakini dapat mengungkit jumlah wisatawan ke daerah di pantai utara Jawa Barat itu.

Festival yang dilaksanakan di ”kota mangga” itu diselenggarakan terkait dengan Hari Jadi Ke-489 Kabupaten Indramayu.

Salah satu rangkaian Festival Tjimanoek yang mengangkat seni budaya daerah adalah pawai 1.000 gadis ngarot. Pawai yang identik dengan gadis berkebaya, mengenakan riasan, serta bermahkota bunga itu disambut antusias ribuan wisatawan lokal dan luar Indramayu, Minggu (9/10/2016).

Pengunjung yang kebanyakan datang bersama keluarga memadati jalan protokol Indramayu sejak pagi hingga siang hari. Mereka berebut tempat ternyaman untuk menangkap wajah ayu gadis ngarot. Tak sedikit wisatawan yang harus memanjat pagar demi memotret pawai itu. Kemacetan lalu lintas pun sempat terjadi.

”Upacara ngarot sekarang lebih meriah. Banyak orang luar Indramayu yang datang. Dulu, 1980-an, ngarot tidak seramai ini,” ujar Sri Indah (65), warga Indramayu yang datang bersama anak dan dua cucunya.

Upacara ngarot yang ditandai penaburan benih padi oleh perempuan ke sawah merupakan tradisi asal daerah Lelea, Indramayu, sejak abad ke-16 Masehi.

Namun, dua tahun terakhir dalam perayaan Hari Jadi Indramayu, tradisi yang diikuti oleh pelajar dari sejumlah desa di Indramayu tersebut disajikan di pusat kota.

”Begini cara kami memberitahu kepada wisatawan tentang potensi Indramayu dalam seni budaya,” ujar Bupati Indramayu Anna Sophanah di sela-sela pawai 1.000 gadis ngarot. Seni budaya khas Indramayu, lanjut Anna, menjadi modal menarik wisatawan.

Dibandingkan tahun lalu, menurut Anna, festival kali ini lebih meriah karena diikuti delapan kabupaten dan kota, antara lain Kota Bogor dan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Daerah-daerah itu juga menampilkan seni budaya khas masing-masing.

”Mereka tertarik dengan potensi Indramayu dan ingin ikut berpartisipasi,” ujarnya.

”Pawai ngarot ini sebagai tanda untuk mengharapkan Indramayu dalam kondisi subur. Makanya, ada 1.000 gadis. Festival Tjimanoek ini bukan tanpa makna,” tambah Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Indramayu Odang Kusmayadi.

Gedong gincu

Selain arak-arakan 1.000 gadis ngarot, sekitar 3 ton mangga gedong gincu, komoditas unggulan Indramayu, juga dibagikan kepada wisatawan.

Mangga-mangga itu dipikul ratusan pemuda yang mengikuti pawai. Ini untuk memperkenalkan mangga gedong gincu sebagai produk unggulan. Tahun 2015, produksi mangga gedong gincu di Indramayu lebih dari 71 ton.

Menurut Odang, sejak pertama kali Festival Tjimanoek mulai diselenggarakan tahun 2015, jumlah wisatawan yang datang ke Indramayu semakin meningkat. Festival yang digelar dua pekan lebih itu dinilai dapat membuat wisatawan tinggal lebih lama di Indramayu.

Berdasarkan data statistik daerah Indramayu, pada 2014 tingkat hunian hotel mencapai 71 persen. Jumlah ini meningkat dibandingkan 2012 yang hanya 67 persen.

”Dalam catatan kami, tahun 2015 wisatawan mencapai sekitar 500.000 orang. Tiga tahun sebelumnya hanya berkisar 200.000 wisatawan,” ujar Odang.

Angka itu memang masih lebih rendah dibandingkan dengan kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon yang lebih dari 600.000 orang pada tahun 2015, dan ke Kabupaten Kuningan yang mampu mencapai lebih dari 1 juta wisatawan pada tahun yang sama.

Odang menyebutkan, lokasi Indramayu tidak strategis karena sekadar dilalui pengendara. Apalagi, beroperasinya Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) membuat pengendara tidak lagi melintasi jalur pantura.

Padahal, Indramayu yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil dari Ibu Kota Jakarta memiliki kekayaan seni budaya seperti upacara mapag sri untuk menyambut musim panen dan nadran, upacara sedekah di laut oleh nelayan.

Selain itu, wisata alam juga tersedia, seperti Pulau Biawak, wisata mangrove Karangsong, dan Pantai Tirtamaya yang menjadi salah satu arena PON Jabar 2016.

Agenda tahunan

Odang menegaskan, Festival Tjimanoek akan menjadi agenda tahunan dan program unggulan Indramayu dalam menarik wisatawan.

”Selanjutnya, kami akan lebih gencar mempromosikan ini untuk menarik minat wisatawan mancanegara,” ujar Odang, yang mengakui minimnya wisatawan mancanegara berkunjung ke Indramayu.

Karena itu, pihaknya berupaya menambah rangkaian acara yang menjadi ciri khas Indramayu.

Selain pawai ngarot, Festival Tjimanoek juga berisi antara lain kirab dan pameran pusaka peninggalan Raden Arya Wiralodra, pendiri Indramayu, serta parade wayang dolanan. Pusaka berumur ratusan tahun itu hanya dipamerkan dan diarak setahun sekali, yakni saat ulang tahun Indramayu.

Festival Tjimanoek juga menjadi ajang untuk mendekatkan masyarakat setempat dengan Sungai Cimanuk yang membelah pusat kota Indramayu sebagai daerah hilir sungai. Di Taman Sungai Tjimanoek, misalnya, dilaksanakan festival kali bersih. Sejumlah kegiatan lain juga digelar di sekitar sungai.

Menurut Yohanto A Nugraha dari Dewan Kesenian Indramayu, seni budaya Indramayu seharusnya tidak hanya ditampilkan secara momentum, tetapi juga diajarkan kepada generasi muda Indramayu.

”Perayaan Hari Jadi Indramayu sudah dimulai tahun 1977. Namun, setiap tahun selalu sama, sajian seni budaya hanya instan,” ujarnya.

1000 Gadis bertradisi ‘Ngarot’ Ramaikan Hari Jadi Indramayu 2016

Indramayu, Jabar - 1.000-an gadis cantik berpakaian adat tradisional ‘Ngarot’ warisan leluhur akan tampil dalam peringatan Hari Jadi ke-490 Indramayu, yang jatuh pada tanggal 7 Oktober 2016. Tradisi ‘Ngarot’ masih dipertahankan di Kecamatan Lelea dan Cikedung.

Pada peringatan Hari Jadi Indramayu ke-490 itu ribuan gadis cantik dari Kecamatan Lelea dan sekitarnya berdandan bagaikan bidadari.

Mengenakan kain dan kebaya lengkap dengan selendang serta hiasan bunga-bunga di kepala layaknya gadis-gadis desa di Kecamatan Lelea dan Cikedung yang tengah melaksanakan upacara adat ‘Ngarot’.

“Upacara adat ‘Ngarot’ merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan turun temuruan sejak zaman nenek moyang. Kegiatan itu melibatkan pemuda-pemudi desa, Tokoh Masyarakat serta Perangkat Desa sebagai simbol semangat pemuda-pemudi desa sebelum terjun ke sawah mengolah tanah dan menanam padi,” kata Kepala Desa atau Kuwu Desa Lelea, Raidi, Selasa (13/9)

Tradisi ‘Ngarot’ itu mampu bertahan ratusan tahun silam dan berlanjut hingga saat ini. “Tradisi Ngarot itu garis besarnya merupakan kegiatan para pemuda-pemudi yang akan mengawali pengolahan tanah menjelang musim tanam padi. Dalam ritual puncaknya, mereka menerima pemberian bibit padi, air dan cangkul dari Pemerintah Desa Lelea sebagai bekal bercocok tanam,” katanya.

“Sudah ratusan tahun, tradisi Ngarot itu bertahan. Tradisi Ngarot berhasil mengantarkan Indramayu sebagai daerah agraris yang menjadi Lumbung Padi Nasional.

Berkat semangat dan jiwa kegotongroyongan yang ditunjukkan masyarakat khususnya pemuda-pemudi maka hasil pertanian yang dikembangkan para petani berhasil membawa kemakmuran bagi masyarakat,” kata Carman, 65 warga Desa Lelea.

Kabupaten Indramayu memiliki luas sawah sekitar 110.000 hektar. Setiap tahun daerah ini surplus beras kurang lebih 500 ribu ton. Produksi padi setiap tahun terus bertambah, berkat tingginya semangat dan gotong-royong masyarakat dalam melaksanakan Pancausaha Tani yang salah satunya dikembangkan masyarakat Kecamatan Lelea melalui tradisi budaya “Ngarot”.

Tradisi Ngarot Digelar Jelang Musim Tanam Padi di Indramayu

Indramayu, Jabar - Sejumlah peserta adat Ngarot berangkat menuju Balai Desa Lelea, Kec. Lelea, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (25/11).

Perayaan adat Ngarot yang diikuti puluhan muda-mudi (kasinoman) berhiaskan bunga di kepala itu merupakan pesta menjelang musim tanam padi sebagai wujud suka cita masyarakat atas berkah yang diberikan Sang Pencipta.

Upacara adat ini diselenggarakan pada saat menyongsong datangnya musim hujan yaitu tibanya musim tanam padi. Biasanya adat ini dilaksanakan pada pekan ke-3 November atau Desember dan selalu dilaksanakan pada hari Rabu yaitu salah satu hari yang dianggap keramat dan hari baik oleh masyarakat Lelea untuk menanam padi.

Ngarot berasal dari kata ”Nga – rot” (basa Sunda) yaitu istilah minum atau ngaleueut. Adat ini melibatkan muda-mudi untuk turut serta dalam upacara tesebut. Uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini karena jika pemuda atau pemudi sudah tidak suci akan terlihat sangat buruk di mata para peserta ngarot.

Dalam budaya atau tradisi ngarot para gadis desa peserta upacara dihias dengan mahkota bunga di kepalanya sebagai lambang kesucian. Berbusana kebaya berselendang yang dilengkapi aksesori, seperti kalung, gelang, cincin, bros, peniti emas, dan hiasan rambut.

Para gadis pun bermahkotakan rangkaian bunga-bunga, yaitu kenanga, melati, dan kertas. Sementara remaja putra mengenakan busana baju komboran dan celana gombrang berwarna hitam, lengkap dengan ikat kepala.

Arak-arakan ini diiringi dengan musik khas daerah Indramayu. Setelah acara di arak mengelilingi kampung, semua peserta ngarot masuk di aula balai desa dan disambut oleh tari topeng indramayu. Setelah itu masuklah kepada acara inti pada upacara adat ngarot, susunan upacara inti.

Tradisi Ngarot di Indramayu Diakui Kemendikbud RI

Indramayu, Jabar - Tradisi Ngarot yang rutin digelar setiap tahun oleh masyarakat Desa/Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu, resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Jawa Barat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Secara bersamaan, 2 kesenian lainnya Sintren (Kabupaten Cirebon) dan Mamaos (Kabupaten Cianjur) juga mendapatkan pengakuan resmi pemerintah tentang keaslian seni-budaya lokal di tahun 2015. Dari 30 warisan budaya tak benda asal Jawa Barat yang diajukan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar dan instansi terkait di kota/kabupaten, hanya tiga yang diakui secara nasional oleh Kemendikbud yakbni Sintren, Ngarot dan Mamaos.

Adat tradisi Ngarot adalah satu dari sekian banyak kekayaan budaya Indramayu. Hal itu diakui oleh Kasi Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Asep Ruchiyat. “Di Indramayu boleh dibilang sebagai sentra budaya, karena memiliki banyak keragaman budaya se-Jabar, dan Ngarot merupakan satu-satunya budaya yang tak dimiliki daerah lain di Indonesia,” papar Asep kepada wartawan belum lama ini.

Menurutnya, sebelum penetapan sebagai warisan budaya tak benda, tradisi Ngarot telah lolos verifikasi pada Juni 2015 lalu. Kemudian pada 21-23 September lalu melalui sidang penetapan di Hotel Millenium Jakarta, Kemendikbud akhirnya mengakui secara resmi Ngarot sebagai warisan budaya tak benda asal Jabar. Tim pengusul bisa meyakinkan keberlangsungan tradisi upacara adat Ngarot, baik tentang kekhasan yang dimiliki, keunikan bahasa maupun lagu-lagu daerahnya.

Pada momentum Hari Jadi Indramayu ke-488, Disporabudpar Indramayu bekerjasama dengan tim kreatif dan Dewan Kesenian Indramayu (DKI) akan menampilkannya dalam sebuah karnaval bertajuk “Exotica Sewu (1.000) Gadis Ngarot”. “Pada karnaval tersebut, 1.000 Gadis Ngarot dengan busana khas yang dikenakan para pelajar ambil bagian di barisan paling awal, disusul Topeng Kelana, jangkungan dan penampilan kesenian 31 kecamatan,” pungkas Asep.

Tradisi Ngarot, Pesta Panen dan Ajang Cari Jodoh

Indramayu, Jawa Barat - Gadis-gadis desa itu didandani dengan busana kebaya lengkap. Rambut mereka dihiasi dengan rangkaian bunga kenanga berwarna-warni. Tak lupa selendang dan kain batik menyempurnakan penampilan mereka. Sementara para jejaka mengenakan baju pangsi warna hitam dipadu dengan celana gombrang dan ikat kepala. Mereka hendak ikut upacara ngarot.

Upacara ngarot ini merupakan bentuk luapan syukur atas hasil panen kedua menjelang musim tanam pertama setiap tahunnya di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Uniknya, upacara agraria ini juga kerap disandingkan dengan ajang cari jodoh di kampung itu. Di upacara ini, banyak peserta jejaka dan perawan berkenalan hingga berlanjut ke pelaminan.

"Sebetulnya ngarot adalah upacara syukuran atas hasil panen," kata Kuwu Desa Lelea, Raidi, saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu pekan kemarin di Indramayu, Jawa Barat. Kuwu merupakan nama lain dari kepala desa. Sebutan ini masih digunakan di beberapa daerah Jawa di Indonesia, termasuk Indramayu.

Upacara ngarot sejatinya dilakukan setiap tahun di bulan November. Acara ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas hasil panen di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Prosesi upacara ini ditandai dengan berkumpulnya para muda-mudi peserta ngarot di balai desa. Mereka akan meminta restu kepala desa sebagai orang yang di tuakan supaya mendapatkan berkah dari upacara tersebut.

Usai meminta restu dari kepala desa, upacara ini dilanjutkan dengan arak-arakan keliling Desa Lelea. Pesertanya gadis dan jejaka akan mengikuti kepala desa beserta istrinya di barisan paling belakang. "Nanti kembali lagi ke balai desa," ujar Raidi.

Di sini para gadis dan jejaka duduk saling berhadap-hadapan. Mereka akan disuguhi tarian Ronggeng Ketuk. Selain itu para Gadis dan Jejaka ini akan dikenalkan dengan alat-alat untuk bertani. Mulai dari menggunakan cangkul hingga pemberian bibit.

Kuwu, sebagai kepala desa akan memberikan wejangan kepada para gadis dan jejaka. Sedangkan istri kepala desa memberikan air sebagai simbol kehidupan. "Lalebe akan mengenalkan alat-alat untuk bertani. Contohnya seperti cangkul," tutur Raidi.

Lalebe merupakan orang yang dipercaya memiliki ilmu agama lebih, dalam istilah sekarang seperti ustaz. Dalam masyarakat Desa Lelea, ada dua lalebe. Pertama Lalebe untuk upacara adat dan lalebe untuk hajatan. "Kaya Ustaz lah istilahnya."

Selain bentuk rasa syukur atas hasil panen, upacara ngarot juga bentuk menjalin silaturahmi antar warga sambil menikmati hidangan berupa makanan dan minuman. Ngarot sendiri dalam bahasa sunda berarti minum-minuman.

Karena pelakunya para kawula muda, Kuwu melanjutkan, penduduk setempat menyebutnya kasinoman. Enom berarti anak muda. Jadi ngarot diartikan sebagai pesta minum-minum. Nama itu kemudian diambil sebagai nama tradisi upacara tahunan tersebut. "Bukan minum-minuman keras, tapi artinya minuman," kata Raidi.

Seiring perkembangan zaman, upacara ngarot bukan lagi sekadar pesta syukuran atas hasil panen menjelang musim tanam. Namun ada yang mengaitkan ngarot dengan ajang mencari jodoh. Ada kepercayaan dari warga Desa Lelea jika jodoh diperoleh melalui upacara ngarot bakal kekal dan abadi.

Fendi, salah seorang warga Desa Lelea membenarkan selama ini ada peserta ngarot yang sampai menikah. Namun, kata dia, upacara ini merupakan tradisi Desa Lelea yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk syukur atas panen. "Upacara ini memang sudah turun temurun dan ini dilakukan karena warisan leluhur," kata Fendi di pelataran Kantor Desa Lelea, Sabtu pekan kemarin.

Fendi mengatakan jika sampai saat ini tradisi itu terus dilakukan sebagai bentuk menjaga warisan leluhur. Namun sayang, para gadis dan jejaka di kampungnya kini kurang tertarik mengikuti upacara ngarot. "Anak-anak sekarang zamannya sudah beda, tapi ini tetap dilakukan agar warisan turun temurun ini tetap terjaga," ujarnya.

Batik tradisional Paoman Indramayu diminati Amerika dan Eropa

Indramayu, Jabar - Batik tradisional khas daerah Pantura Paoman, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, semakin diminati pasar Amerika bahkan sudah menembus Italia dan Jerman.

"Batik tradisional dengan corak khas daerah Pantura Indramayu, Jawa Barat, semakin diminati pasar Amerika, setiap bulan kiriman terus berlanjut," kata Sudarto, salah seorang perajin batik Pooman di Indramayu, Minggu.

Dia mengatakan, batik tradisional dengan bahan pewarna natural dan kain sutra lembut diminati pasar Eropa, kini batik tersebut digemari warga Amerika, terutama motif pesisir khas Indramayu.

Kini perajin bisa mengirim sekitar 500 lembar kain setiap bulannya, sebelumnya paling hanya 300 lembar kain.

Menurut dia, permintaan ekspor untuk kain batik tradisional khas Indramayu mulai terasa meningkat sekitar awal tahun 2009, kini pasar Eropa dan Amerika menjadi andalan bagi perajin di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Harapannya serapan pasar tetap tinggi sehingga gairah usaha tersebut bertahan.

Kerajinan batik lokal dengan pola pembuatan manual, kata dia, mampu serap tenaga kerja lokal sehingga mampu mendongkrak ekonomi Kabupaten Indramayu, kini sentra batik terus berkembang meski masih jauh ketinggalan olah Cirebon yang telah milik kampung batik.

Sejumlah perajin batik di daerah Pantura Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengaku pertahankan pewarna natural untuk memproduksi batik tradisional sehingga diminati pasar lokal dan ekspor.

Murdanto, perajin batik tulis Paoman Indramayu kepada wartawan di Indramayu, Sabtu, mengatakan, warna alam dipertahankan oleh perajin karena merupakan warisan nenek moyang mereka, selain itu diminati oleh konsumen lokal dan pasar ekspor.

Keunggulan pewarna baik natural, kata dia, mudah mendapatkan bahannya karena pesisir utara Indramayu melimpah berbagai jenis pohon yang dibutuhkan. Menurut Mur, butuh keterampilan juga ketekunan perajin sendiri untuk menggunakan pewarna alam tersebut.

Ia menambahkan, pewarna sintetis lebih mudah, mudah dan cepat karena tersedia ditoko penjual obat pewarna batik, namun pewarna alam harus kreatif perajinnya.

"Batik tulis berbahan nabati harganya cukup tinggi dibandingkan yang menggunakan pewarna sintetis, karena proses pembuatanya cukup rumit dan butuh waktu panjang,"katanya.

Tradisi Ngarot, Ajang Uji Kesucian Gadis dan Jejaka

Indramayu, Jabar - Keperawanan sebagai sebuah simbol kesucian seorang gadis, masih menjadi sebuah nilai yang di dambakan. Karena itu, banyak tradisi tercipta di masyarakat, untuk melihat kesucian seorang gadis. Di Indramayu, Jawa Barat, tradisi tersebut dikenal dengan Ngarot. Dimana ratusan muda mudi diarak keliling desa dengan bunga menempel di kepala. Jika bunga tersebut layu selama mengikuti arak-arakan, maka diyakini, gadis atau pemuda tersebut sudah tidak perawan atau perjaka lagi.

Tradisi Ngarot ini masih dipertahankan warga Kecamatan Lelea, Indramayu, Jawa Barat. Tradisi yang dipertahankan secara turun temurun ini biasanya digelar menjelang musim tanam, setiap tahun. Untuk mengikuti tes kesucian atau Ngarot, ratusan muda mudi diharuskan untuk berdandan secantik dan serupawan mungkin, layaknya pasangan pengantin. Tidak ketinggalan adalah hiasan aneka kembang di atas kepala.

Diiringi keluarga dan kerabat serta tetangga, pasangan muda-mudi ini diarak menuju rumah kepala desa, sejauh tiga kilometer. Arak-arakan pasangan muda-mudi ini diiringi oleh aneka musik tradisional. Bahkan tidak jarang beragam kesenian, juga ditampilkan mengiringi mereka.

Sampai di balai desa, pasangan gadis dan jejaka saling berhadapan, untuk mengikuti ritual Ngarot. Jika kembang hias yang menempel pada kepala mereka layu, maka diyakini muda mudi itu sudah tidak suci lagi.

Selain sebagai sarana pengetesan kesucian, tradisi Ngarot yang diselenggarakan menjelang musim tanam ini juga sebagai doa agar hasil panen mereka lebih baik dari tahun sebelumnya.

Pelacur Pantura Rame-rame Mudik

INDRAMAYU (Pos Kota) – Sejumlah tempat hiburan malam, seperti kafe, diskotek dan tempat mesum di Jalur Pantura, Indramayu, Cirebon, sekarang ini dibanjiri pelacur wajah baru. Mereka warga setempat yang baru mudik dari berbagai daerah di Jabodetabek, Jawa dan Sumatera, lantaran tempat hiburan ‘sarang’ mereka biasa mendulang rupiah di rantau, tutup menjelang Ramadhan.

Namun berbeda dengan di kawasan Pantura Karawang, Subang, dan Purwakarta, yang penjaja seksnya sebagian besar berasal dari Indramayu dan Cirebon, justru enggan pulang, meski pulang juga cuma sebentar. Bila tempat mangkalnya buka lagi, ya mereka cabut dari kampung. “Biasa, ngumpulin uang buat Lebaran,” kata Wati, penjaja seks di Karawang.

Wajah-wajah baru penjaja seks itu, di kalangan tempat hiburan biasa disebut wanita prilen (free leance). Prilen ini adalah penjaja seks yang mencari duit namun tidak menetap di satu tempat hiburan. Mereka biasanya tak terikat perjanjian dengan mucikari maupun pengelola tempat hiburan. Setiap saat dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Prilen itu, kata seorang tukang ojek War, di Indramayu biasanya datang malam hari, sesudah pukul 20:00 WIB. “Pulang ke rumah setelah tempat hiburan itu tutup,” jelasnya kemarin. Mereka bersaing dengan penjaja seks ‘lokal’.

Salah seorang prilen, Nit, 20, dijumpai di sebuah diskotek terbilang cukup gede di kompleks hiburan CI, mengaku baru 5 hari datang ke diskotek itu. Tujuannya, selain untuk mengusir sepi di rumah, yang sekalian cari tambahan uang, setelah pulang kampung dari rantau. Nit mengatakan, sehari-hari biasa mencari duit di tempat hiburan Kawasan Mangga Besar, Jakarta.

TURUN HARGA
“Saya ke sini hanya iseng,“ kata penjaja seks berwajah cantik yang mengaku memasang tarif sekali kencan Rp 200 ribu itu. Perempuan berkulit bersih yang rambutnya dicat coklat muda itu mengemukakan, sebenarnya mencari uang di sini turun kelas. Alias turun harga. Dari harga Rp 200 ribu sekali kencan di Jakarta, menjadi Rp 60 ribu sekali kencan

“Mending gua tidur aja, nanti kalo abis duit balik lagi ke Jakarta,” kata Evi, warga Cirebon yang biasa mangkal di Kawasan Kemang, Jaksel. “Kita di sini pura-pura jadi orang baiklah,” katanya sambil tertawa.

Harap maklum, Evi tergolong berhasil, rumahnya di kampung cukup megah dengan harga ratusan juta. Punya motor tiga dan sawah cukup luas. Uang membangunnya, dari hasil keringat selama dia merantau di kota metropolitan. Mau apa lagi?

Di kompleks hiburan Legok, Indramayu beberapa penjaja seks pendatang baru pun sudah nampak bermunculan ke sejumlah lokasi hiburan. “Wajah baru biasanya hanya mau mangkal di diskotek dan tempat karaoke,” kata seorang pria yang biasa disuruh membeli bir itu.

TARIF KENCAN TETAP
Saat prilen berdatangan, kata lelaki bertubuh kurus berkulit sawo matang itu, biasanya akan terjadi persaingan ketat dengan penjaja seks wajah lama. Anehnya sekalipun jumlah penjaja seks itu semakin banyak setelah ditambah kehadiran prilen namun tidak berarti tarif pasaran itu turun.

“Tarif kencan di sini tetap Rp 100 ribu,” katanya. Tamu yang datang ke lokasi Legok yang terletak di tepi Jalur Pantura Indramayu itu tak hanya warga setempat, namun juga para pendatang, terutama pengendara.

Mengantisipasi tibanya bulan suci Ramadhan, Muspika Kecamatan Gantar yang terdiri dari Kapolsek AKP Suparno, SH Danramil Kapten Inf. Catur dan Camat Kecamatan Gantar Drs. Wasga C Wibowo mengaku sudah menyiapkan jurus ampuh melawan pengelola hiburan itu.

“Pokoknya sepekan sebelum Ramadhan kami sudah mengirimkan surat kepada para mucikari dan pengelola hiburan di CI agar menutup kegiatan usaha selama puasa,” ujar Camat Gantar Drs. Wasga C Wibowo.

KUMPUL KELUARGA
Sania,22, penghibur asal Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jabar, mengaku di kampung akan lebih mengutamakan beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.

“Saya sih mau istirahat saja ah, gak tau kalau teman yang lain,” katanya.

Keinginan untuk bersama keluarga itu disebabkan selama ini, dia memang jarang pulang. Hanya setahun sekali saja, apalagi komunikasi yang dijalin dengan keluarganya paling hanya sebatas telepon semata.

Keuangan untuk membiayani selama ‘liburan’ di kampung itu, Sania berujar modal yang didapatnya ketika bekerja di Jakarta dinilainya cukup, “Di Jakarta, saya bekerja di bilangan Mangga Besar. Saya sendiri sih kayaknya cukup untuk biaya hidup di kampung,” selorohnya.

Sedangkan soal kegiatan di bulan puasa, dia tentu saja sama seperti orang muslim kebanyakan, yakni mencoba mendekatkan diri pada Tuhan. Apalagi menurutnya pekerjaan di Jakarta itu sudah sangat berbau dosa. “Coba bertobat lah mas,” ujarnya.

Sedang Tuti, yang tinggal di kawasan Patrol, mengaku bulan puasa akan tetap kelayapan malam. “Syaratnya tempat hiburan di sini buka. Tapi bukan semata mencari uang, lebih pada hiburan saja,” katanya. Uang tabungannya selama bekerja di Batam cukup. “Ya, kalau ketemu cowok yang cocok di tempat hiburan, oke-oke aja. Gak maksakan diri.”

TETAP RAMAI
Sedangkan di Karawang, komplek pelacuran menjelang puasa, justru tetap ramai dikunjungi pelanggan setianya. Sebut saja, kompleks WTS Cibiru di Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Timur, daerah perbatasan Karawang - Bekasi, kompleks Betok Mati di Desa Mekarpohaci Kec. Cilebar, kompleks Bedeng di Desa Sumurgede, Kec. Tempuran dan komplek WTS Sutil, di Desa Muara Baru Kec. Cilamaya Wetan.

Kasatpol Pamong Praja Pemkab Karawang, Drs. H. Acep Djamhuri, membantah tudingan anggota DPRD yang mengatakan pihaknya tidak pernah melakukan penertiban tempat-tempat maksiat. “Kita akan tertibkan kok di bulan puasa ini,” katanya.

SEBAIKNYA PULANG
Sedangkan praktek prostitusi di sepanjang jalur Pantura Subang dan lokalisasi Cilodong di bawah rerindangan pohon jati di Kecamatan Bungursari, Purwakarta, Jawa Barat, diyakini akan sepi selama puasa.

Sebab petugas akan merazianya, sehingga mereka diimbau pulang saja dulu ke kampungnya.

Para penghuni rumah remang-remang di Pantura Subang sama memaknai bulan puasa sebagai bulan sakral yang memiliki kandungan rahmat dan barokah yang melimpah ruah.

“Kita stop dululah mengumbar hawa nafsu,” imbau Rossi, 25, satu pramuniaga di sebuah warung di Pantura Subang.

Lain pula di lokalisasi Cilodong, sebelah utara Kabupaten Purwakarta. Di lokalisasi ini pemilik dan penghuni warung remang-remang, memilih 'kucing-kucingan' dengan aparat pemerintah dan kepolisian. “Kita lihat-lihat sikon, kalau memungkinkan dan aman kita buka saja. Tapi kalau dapat bocoran akan ada razia, ya kita

memilih tiarap aja dulu selama seminggu pertama bulan puasa,” ucap perempuan setengah abad yang akrab dipanggil Mami ini.

Ritual Awet Muda Nan Laris PSK Indramayu

Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sejak dulu memang identik dengan dunia prostitusi. Tudingan miring tersebut ternyata bukan isapan jempol semata. Faktanya, memang demikian adanya. Dari berbagai catatan perdagangan perempuan di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri yang berhasil dihimpun aparat kepolisian dan sejumlah LSM diketahui, bahwa Indramayu termasuk dalam urutan pertama sebagai daerah pemasok wanita yang siap dijadikan pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai pekerja seks komersial alias PSK.

Data tersebut semakin diperkuat dengan merebaknya tempat-tempat prostitusi yang ilegal atau legal, dari kelas kakap sampai kelas kambing, yang banyak bertebaran di hampir setiap sudut wilayah Indramayu. Sebut saja di Sukra, Karangampel, Haurgelis, Cangkingan, Anjatan, Legok, Sukahaji, Cilegeng Indah, Gantar, Kalimenir, Kandanghaur, Sliyeg, dan beberapa di wilayah Indramayu kota.

Di beberapa wilayah tersebut, prostitusi seakan sudah menjadi semacam tumpuhan harapan dari kesulitan ekonomi. Masyarakat sudah maffum, meski mayoritas dari mereka adalah penganut agama Islam yang terbilang taat. Rumah-rumah bedeng semi permanen yang dihuni puluhan wanita nakal lengkap dengan fasilitas esek-esek dibangun di samping masjid atau mushola merupakan pemandangan biasa yang tampak di wilayah ini. Satu contoh seperti di Desa Cangkingan, Kecamatan Karangampel.

Di daerah ini puluhan warung malam remang-remang bertebaran. Di depan warung yang rata-rata berukuran 3 x 5 meter itu, terpancang panggung kecil sebagai tempat berjoget dengan iringan musik dangdut dari tape recorder. Warung-warung ini juga memajang gadis-gadis belia berparas ayu, berusia 13 hingga 15 tahun. Sebagian besar di antara mereka masih duduk dibangku SLTP. Malah ada yang masih SD kelas VI.

Perawan-perawan cilik tersebut biasa disajikan untuk menemani minum bir para lelaki pengunjung warung, serta sesekali berjoget hingga larut malam. Meski usianya masih sangat belia, namun mereka amat mahir dalam merayu tamunya agar minum sampai teler, lalu memberikan tips dalam jumlah besar. Walau demikian, mereka selalu menolak setiap diajak ngamar.

Kabarnya, warung-warung malam di Desa Cangkingan inilah yang disebut sebagai tempat magang gadis Indramayu untuk dididik sebagai wanita penghibur profesional di kota-kota besar, bahkan hingga ke luar negeri.

Berbagai hasil penelitian menyebutkan, tingginya angka prostitusi dan perdagangan perempuan di Indramayu lebih disebabkan oleh faktor ekonomi. Sedang sebagian kecil lainnya karena terpengaruh tradisi kawin di usia muda, serta tingkat pendidikan yang masih rendah.

Menurut pengamat masyarakat Indramayu, Hasan Alkarim, cewek Indramayu terperosok ke dalam jurang pelacuran sudah sejak era 1960 silam. Pada waktu itu, keadaan Indramayu sedang dilanda paceklik. Ratusan hektar sawah gagal panen. Masyarakat yang sebelumnya sudah berharap dapat hasil melimpah ternyata harus gigit jari. Kekeringan dan kelaparan terjadi di mana-mana.

Kondisi yang buruk itu mengakibatkan banyak masyarakat Indramayu yang memilih hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Yang pria menjadi buruh kasar, sedangkan wanitanya memilih menjadi PSK, karena dianggap lebih mudah dan menguntungkan.

“Sesuai catatan sejarah seperti itu. Seandainya Indramayu tidak pernah dilanda paceklik mungkin ceritanya jadi lain,” kata Hasan kepada Misteri.

Selain faktor tersebut, di Indramayu juga mengenal sistem kawin di usia muda. Seakan sudah menjadi tradisi, setiap menjelang dan masa panen, kaum laki-laki muda bersiap-siap mencari pasangan. Pun demikian dengan kaum wanitanya. Keinginan itu ditunjang dengan penghasilan dari panen padi yang jika dirupiahkan angkanya mencapai miliaran, karena rata-rata penduduk Indramayu memang memiliki lahan sawah lebih dari satu hektar.

Tradisi mencari jodoh itu terus berkembang dari generasi ke generasi, hingga tak heran jika di daerah-daerah tertentu terdapat lokasi khusus untuk para pencari jodoh. Tempat tersebut biasa disebut orang Indramayu sebagai Pasar Jodoh. Di Pasar Jodoh inilah mereka tak hanya sekedar bertemu dan berkenalan, melainkan juga menghibur diri, karena Pasar Jodoh di Indramayu kondisinya mirip dengan pasar malam yang biasa nampak di daerah-daerah lain.

Dalam ajang Pasar Jodoh itu setiap pasangan yang sudah menemukan jodohnya masing-masing selalu mengikat janji untuk menikah, meski tanpa persiapan dan tentu saja tidak ada cinta dan kasih saying yang kuat. Akibatnya, sudah bisa diduga. Dalam beberapa waktu selanjutnya, angka perceraian pun akan terus membengkak.

“Nah, janda-janda inilah yang kemudian banyak terjun menjadi PSK,” ujar Hasan menegaskan.

***

Namanya bekerja sebagai pelacur, tentu tidak perlu persyaratan yang njlimet dan aneh-aneh. Cukup dengan modal wajah cantik, bodi mulus serta kenekadan yang tinggi. Hanya dengan itu duit dalam jumlah banyak akan mudah diraup dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pelacur-pelacur yang sudah berhasil ini, manakala pulang kampung biasa mengiming-imingi setiap wanita di kampungnya yang masih belum memiliki kekayaan cukup. Iming-iming itulah yang akhirnya menjadikan arus urbanisasi pelacur dari Indramayu terus bertambah. Karena, bekerja menjadi pelacur bisa mendatangkan uang cukup banyak dalam waktu yang tidak terlalu lama dan kerjanya juga ringan.

Pola pikir masyarakat Indramayu pun pada gilirannya berangsur-angsur menganggap prostitusi bukan lagi sesuatu yang tabu. Malah di beberapa daerah pelosok Indramayu, banyak orang tua yang justru merasa bangga jika anaknya memiliki wajah cantik, karena itu berarti aset yang bisa dijual. Tak heran jika banyak orang tua dari Indramayu justru mengantarkan sendiri anaknya ke Jakarta atau kota-kota lain untuk dijadikan PSK.

Pola pikir yang sudah mengesampingkan moral dan tatakrama itulah yang hingga kini dijadikan makanan empuk bagi para makelar wanita untuk lebih leluasa bergerilya mencari mangsa di Indramayu. Para pedagang perempuan itu berani mengikat orang tua yang punya gadis belia dengan panjar uang yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah.

Teknik jemput bola yang diperagakan oleh kelompok mafia ini ternyata disambut baik oleh sebagian besar orang tua di Indramayu. Akibatnya, prostitusi dan perdagangan perempuan di wilayah ini seakan tak akan pernah bisa diberantas. Bahkan, aparat kepolisian dari Mapolres Indramayu yang sudah berkali-kali melakukan razia dengan sandi Operasi Pekat pun seakan tak mampu menekannya.

Memang, pelacuran di Indonesia sudah merebak sejak Tanam Paksa pada zaman penjajahan Belanda, ketika kapitalisme Eropa mulai berkembang. Tradisi Dewi Seks yang berkembang di Asia juga turut mempengaruhi, hingga tanpa satu hukum pun mampu menghentikannya. Kondisi ini dilandasi kepercayaan bahwa berhubungan seks dengan anak-anak perempuan usia muda, khususnya yang masih perawan, belum tersentuh laki-laki, akan membuat laki-laki menjadi awet muda, lebih kuat, malahan menyembuhkan penyakitnya.

Mitos seperti ini terus dihidup-hidupkan dengan berbagai cara oleh para trafficker, yakni orang-orang yang berada dalam mata rantai perdagangan manusia untuk kebutuhan seksual. Bagi mereka, para PSK, yang usianya merangkak tua, yang tertinggal adalah resiko penyakit dan keterasingan. Jika pamor tubuhnya mulai turun, para pekerja seks itu memilih menjadi istri kedua atau simpanan yang menikah di bawah tangan.

Di Desa Belibis, banyak perempuan mantan pekerja seks menjadi simpanan orang-orang Jakarta yang bukan tergolong kaya atau berpangkat. “Suami anak saya ini datangnya seminggu sekali,” kata Bu Tinah, 60 tahun, ibu dari Lisna, 30 tahun, perempuan dengan tiga anak. Ayah ketiga anak Lisna berbeda-beda karena acapkali suaminya tidak muncul lagi setelah anaknya lahir.

Kalau tidak menjadi isteri muda, mereka berganti peran menjadi bagian dari trafficker, mencari gadis-gadis dari berbagai kampung dan daerah-daerah pedesaan, mengiming-imingi mereka dengan kehidupan yang serba nyaman.

Dengan demikian, Teori Foucault, tokoh postmodernisme dari Perancis tentang keterkaitan kapitalisme dengan represi modern atas seksualitas mendapatkan pembenarannya. Sayangnya, ideologi kapitalisme yang berkembang di negara manapun tidak pernah memberikan kekayaan dan kemakmuran bagi para budak. Sebaliknya, para juragan terus mempertontonkan pola hidup konsumen tajir terhadap para budaknya tanpa diimbangi dengan pemberian fasilitas maupun upah yang memadai. Akibatnya, keinginan tidak sesuai dengan keadaan. Tingkat kriminalitas pun meningkat, termasuk wanita-wanita yang rela terjun menjadi pelacur.

Kondisi itu semakin parah jika usia semakin bertambah. Karena pada kondisi itu, aset tubuh yang biasa dijual sudah mulai mengalami penurunan. Tak heran, jika orangtua di Indramayu akan sangat memanfaatkan keadaan anak gadisnya yang masih belia untuk mendulang rupiah sebanyak mungkin. Prinsip aji mumpung ini kerap dibarengi pula dengan upaya-upaya mistik yang beresiko tinggi, seperti pesugihan.

Upaya-upaya mistik itu terkadang juga masih terus dipraktekkan meski usia anak gadisnya sudah lanjut dan pasarannya pun mulai anjlok. Salah satunya seperti yang saat ini banyak digunakan oleh para PSK yang tergolong Setengah Tuwir (STW), yaitu dengan melakukan apa yang disebut sebagai Ritual Luru Duit, atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “mencari uang.”

MAKAN CICAK PUTIH

Banyak jalan menuju Roma. Pepatah tersebut dipegang teguh oleh para PSK di Indramayu. Artinya, banyak cara untuk bisa mendapatkan uang, meski kondisinya sudah tidak memungkinkan. Bagi para PSK yang sudah STW, tentu saja usia yang semakin lanjut menjadi warning yang tidak boleh dianggap remeh. Mereka harus sesegera mungkin mempersiapkan diri agar tidak terlindas atau terkalahkan oleh para PSK pendatang baru yang tentunya lebih muda, segar dan cantik.

Dari penelusuran Misteri, tak hanya para PSK muda Indramayu yang hingga kini gemar melakukan oleh spiritual untuk mendapatkan pelarisan. Para PSK STW pun ramai-ramai melakukan hal serupa. Salah satu oleh spiritual PSK STW yang dipercaya bisa membuat mereka awet muda dan tetap laris meski kulit sudah mulai keriput, ialah dengan rajin memakan cicak putih. Cara ini kedengarannya memang aneh, namun praktek seperti itu saat ini seakan sudah menjadi tradisi yang tidak bisa ditinggalkan. Hampir sebagian besar para PSK STW di Indramayu yang tidak ingin dirinya tergerus oleh zaman pasti melakukan hal ini.

Memakan cicak putih memang menjijikkan. Selain hewan melata itu tidak lazim dikonsumsi, bentuk serta pola hidupnya pun hampir mirip dengan binatang purba. Dan yang paling tidak memungkinkan, jumlah populasi cicak putih di Indonesia terbilang minim, sehingga sulit didapatkan. Bahkan, di Indramayu sendiri, untuk bisa mendapatkan cicak putih bukan perkara yang gampang. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan satu ekor saja.

Lantas, berapa dan bagaimana cicak putih itu dimakan?

Menurut kepercayaan para PSK STW yang entah didapatkan darimana, cicak putih yang harus dimakan agar mereka bisa awet muda adalah berjumlah sepuluh ekor dalam setiap minggunya. Ritual itu dilakukan selama sepuluh minggu atau dua bulan setengah. Jumlah itu boleh dimakan sekaligus dalam satu hari atau digilir secara rutin selama seminggu penuh.

“Yang jelas jumlahnya harus sepuluh ekor dan harus dimakan dalam waktu satu minggu. Kalau belum satu minggu cicak sudah habis semua, ya harus menunggu sampai minggu depan lagi. Tidak boleh langsung ditambah,” kata Ismiyati, 38 tahun, seorang PSK STW yang biasa mangkal di sekitar taman Wisata Pantai Tirtamaya, Karangampel.

Selama menjalani ritual itu, para pelakunya harus pula membarengi dengan membacakan beberapa amalan atau mantra khusus yang di kalangan orang Indramayu dikenal dengan sebutan Mantra Papaes. Mantra yang bunyinya sangat dirahasiakan dan hanya boleh disebarkan di kalangan para PSK STW itu jumlahnya terdiri dari empat bait, dan harus dibacakan pada setiap malam Selasa Legi selepas pukul dua belas malam, selama masa waktu dua setengah bulan ritual. Efek dari Mantra Papaes dipercaya akan memperkuat laku ritual fisiknya, yaitu makan cicak putih.

Ismiyati termasuk golongan PSK yang sudah senior dan kenyang makan asam garam dunia hitam tersebut. Bayangkan saja, dia sudah terjun menjadi PSK sejak masih berumur 15 tahun. Dia termasuk salah seorang korban perdagangan perempuan. Karena merasa langkah tersebut dianggap paling baik untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, hingga kini Ismiyati mengaku tidak akan banting stir, meski usianya sudah di ambang batas.

Apa tidak takut bakalan kalah bersaing dengan yang muda? “Makanya saya melakukan ritual ini karena saya takut. Kalau hasilnya sih boleh dicoba,” ujar Ismiyati dengan gayanya yang masih tetap genit. Mungkin mirip masa mudanya dulu.

Praktek yang sama juga dilakukan Zamilah, 33 tahun, PSK STW yang kerap menjajakan diri di pertigaan Celeng, Jatibarang. Sama halnya dengan Ismiyati, Zamilah juga sering melakukan hal serupa, yaitu rajin makan cicak putih. Cara serta waktunya pun tidak terlalu sulit. Cicak-cicak putih itu bisa dimakan kapan saja, tanpa ada aturan waktu yang baku. Zamilah juga terlihat bingung saat ditanya siapa yang pertamakali mengajarkan ilmu tersebut.

“Pokoknya dari dulu kepercayaannya sudah seperti ini. Kalau Mas tidak percaya, coba saja tanya seluruh PSK STW di Indramayu, jawabannya pasti sama. Mereka melakukan hal yang sama dengan saya. Tradisi yang saya lakukan ini sudah berlaku dari mulut ke mulut dan turun temurun,” ungkap Zamilah dengan nada meyakinkan.

Hanya saja, Zamilah sedikit mendalami tata cara dan makna dari memakan cicak putih. Menurutnya, cicak putih harus mulai rutin dimakan sejak memasuki usia 30 tahun. Di usia itu, beberapa organ vital wanita akan mengalami penurunan. Salah satu yang mudah dilihat adalah kulit muka yang mulai keriput. Keadaan itu lambat laun tidak bisa ditutupi meski sudah dilapisi dengan make-up merek terkenal sekalipun. Selain itu, yang terpenting adalah “rasa.” Rasa inilah yang menurut Zamilah akan mempengaruhi daya jualnya di mata para konsumen. Rasa yang dimaksud adalah pada saat berhubungan badan.

Konon, wanita berumur yang biasa memakan cicak putih rasanya akan lain dengan wanita yang sama sekali tidak melakukannya. Zamilah sudah berulangkali mencobanya. Dia kerap mendapatkan pujian dari para konsumennya. Tarifnya pun sampai kini masih terbilang tinggi, yaitu berada pada kisaran di atas Rp.100 ribu untuk sekali kencan. Tarif tersebut hampir sama dengan para PSK muda belia yang mangkal di wilayah Indramayu pelosok.

Diakui Zamilah, PSK STW yang banyak bertebaran di Blanakan, Subang, juga melakukan hal yang sama. Terbukti, pasaran mereka laku keras, bahkan bisa mengalahkan yang lebih muda. Banyak pula di antara mereka yang menjadi isteri simpanan para pejabat dan pengusaha.

“Masa sih Mas tidak tahu, lha wong bolak balik masuk TV. Yang nongol dari Blanakan kan mesti PSK STW. He…he…he…!” Ujarnya enteng, dengan tawanya yang centil.

Untuk mendapatkan cicak putih, baik Ismiyati maupun Zamilah harus mengeluarkan tenaga dan biaya ekstra, karena memang cukup sulit. Untuk itu, dia berani memasang tarif untuk satu ekor cicak putih itu seharga Rp. 20 ribu bagi siapa saja yang bisa menangkapnya. Orang-orang tersebut sengaja dia suruh agar berkelana ke berbagai daerah untuk mendapatkan makhluk langka tersebut. Bahkan, harga tersebut masih akan bertambah, jika cicak yang didapatkan ukuran tubuhnya lebih besar.

Cicak-cicak tersebut tentu saja tidak dimakan langsung, melainkan terlebih dahulu digoreng atau dimasak. Tidak takut ketahuan orang atau keluarga?

“Wah, di sini sudah biasa, Mas. Hal seperti itu wajar-wajar saja. Namanya juga usaha,” ujar Zamilah.

Efek yang didapatkan setelah memakan cicak putih tersebut, menurut pengakuan beberapa PSK STW, mereka merasakan seperti muda kembali. Sugesti yang didapatkan sangat besar. Hal itu tentu berefek pada pola dan gaya bercinta mereka. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah alat kelamin mereka konon terasa lebih rapat dan legit. Keadaan itulah yang kabarnya membuat para pelanggan akan terus ketagihan sampai kapan pun.

DARAH GORENG

Selain makan cicak putih, para PSK STW di Indramayu yang sedang menjalani ritual Mantra Papaes juga harus memakan darah goreng. Darah yang digoreng tersebut berasal dari darah hewan seperti kambing, sapi, ayam, kuda, dan kerbau. Darah yang digoreng itu berasal dari darah bekas penyembelihan. Setelah darah itu berhasil dikumpulkan, terlebih dahulu dibekukan dengan cara disimpan di dalam kulkas selama sehari semalam. Selanjutnya, darah gumpalan yang sudah mengeras itu dipotong-potong dengan ukuran sesuai selera.

Setelah dipotong lalu dibumbui sesuka hati pula. Selanjutnya, potongan darah beku itu digoreng. Orang Indramayu biasa menyebut makanan tersebut dengan nama Marus. Hobi memakan marus di kalangan PSK STW dipercaya bisa mendatangkan kekuatan seks yang luar biasa. Siapapun yang memakannya dapat perkasa di atas ranjang laksana kuda betina, sehingga berhadapan dengan laki-laki manapun pasti akan dibuat bertekuk lutut.

Para PSK STW di Indramayu menurut pengakuan beberapa di antaranya, tak pernah lupa melakukan ritual yang satu ini. Memakan darah goreng ini merupakan pelengkap yang harus dilakukan selain memakan cicak putih. Waktunya pun diusahakan berada di antara waktu makan cicak putih. Jadi, kalau bisa setelah memakan cicak putih dilanjutkan dengan memakan darah goreng.

Namun, memakan darah goreng ternyata tidak sembarang PSK STW bisa melakukannya. Karena biasanya, pasti akan muntah. Nah, agar tidak muntah sebaiknya sebelum melaksanakan ritual ini, terlebih dahulu puasa selama tiga hari. Dan pada hari terakhir dengan cara mutih alias hanya memakan nasi putih saja.

“Kalau tahapan itu sudah bisa dilalui, memakan dua benda menjijikkan itu akan berubah menjadi kebiasaan. Dan, rasanya pun pasti enak,” kata Lilis, 39 tahun, PSK STW lainnya.

Selain dua cara tadi, seluruh tahapan ritual tersebut biasanya diakhiri dengan cara minum dan mandi air keramat dari Gunung Kromong yang terletak di Bongas, daerah yang sebagian masuk wilayah Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Gunung tersebut dipercaya memiliki air keramat yang sangat luar biasa ampuh. Air dari sumber mata air yang tak pernah habis sejak dulu meski di musim kemarau itu juga dijadikan pengairan puluhan hektar sawah di wilayah Indramayu.

Masyarakat dari berbagai daerah di Indramayu setiap tahunnya selalu berdatangan ke Gunung Kromong untuk menimba air keramat. Mereka selalu membawa jerigen dan wadah lainnya. Mereka sering berebut dengan para PSK yang juga sama-sama mencari berkah dari air tersebut. Konon, air dari Gunung Kromong jika digunakan untuk minum atau mandi bisa memberikan arura awet muda. Dan, jika digunakan untuk mengairi sawah, meski jumlahnya terbatas, dipercaya sawah tersebut akan menghasilkan panen yang melimpah ruah.

-

Arsip Blog

Recent Posts