Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan

Gubernur Jateng Buka "Borobudur Writers & Cultural Festival"

Magelang, Jateng - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, membuka "Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2016" di Hotel Atria Kota Magelang, Rabu.

Ganjar mengatakan event ini sangat menarik karena dihadiri orang-orang penting pada bidangnya, ada rohaniawan, sejarawan, seniman, budayawan, dan para penulis.

"Isinya beberapa orang, tetapi mereka dapat mempengaruhi maka ketika hasil dari acara ini bisa dijadikan satu dalam bentuk vidio, buku, gagasan, tulisan atau apa pun maka menjadi satu aset yang kemudian bisa diceritakan kepada luar," katanya.

Pembaukaan BWCF ke-5 dengan mengusung tema "Setelah 200 Tahun Serat Centhini: Erotisme dan Religiusitas Kitab-Kitab Nusantara" ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Gubernur Jateng.

Menurut Ganjar kegiatan ini sebuah perjalanan peradaban yang direviu dan dipikirkan ke depan, segalanya dibicarakan di sini. Sebelumnya, BWCF pernah bicara tentang rempah-rempah, kemaritiman, pesilat dan tahun ini bicara Serat Centhini.

"Centhini ini bicara tentang erotisme, spiritualitas atau tasawuf, sangat beragam ada yang nembang, menari, main musik, seni tradisional yang dikombinasikan," katanya.

Ia berharap BWCF ini menjadi kegiatan tahunan dan tentu saja butuh dukungan dari banyak pihak.

Ketua Pelaksana BWCF, Yoke Darmawan festival ini merupakan agenda tahunan aktivitas literasi dan seni budaya dengan dua kegiatan utama, yaitu writers forum dan pesta seni budaya.

Ia mengatakan perhelatan ini bertujuan sebagai wahana edukasi juga ajang temu ilmuwan, penulis, pembaca untuk dapat mengembangkan kreativitas dan pengetahuan budaya sekaligus perayaan karya-karya kreatif anak bangsa yang diharap pada intinya memberi nafas kebudayaan bagi masyarakat dan industri pariwisata Indonesia bermuatan sejarah.

Menurut dia keunikan dari festival ini dibanding dengan festival-festival lainnya adalah pada tema yang mengangkat kekayaan budaya dan sejaran nusantara.

Ia mengatakan dengan perayaan khasanah budaya nusantara melalui pertemuan antara para penulisdan pekerja kreatif serta aktivis budaya dengan masyarakat pada umumnyadiharapkan muncul pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan ilmu pengetahuan sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut dapat memanfaatkan segala khazanah yang ada untuk memproyeksikan masa depan yang lebih baik.

Pada pembukaan BWCF tersebut juga disampaikan pidato budaya oleh Garin Nugroho.

50 Grup Pentas di Festival Lima Gunung

Magelang, Jateng - Sedikitnya 50 grup kesenian bakal ikut menggelar pementasan pada agenda tahunan, Festival Lima Gunung XV/2016, yang diselenggarakan secara mandiri oleh para seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Berbagai kelompok kesenian yang ikut dalam festival kami tahun ini, selain oleh berbagai grup kesenian Komunitas Lima Gunung, juga dari berbagai kelompok lain di Magelang, dan juga mereka dari berbagai komunitas di kota-kota besar," kata Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Supadi Haryanto di Magelang, Minggu malam.

Festival Lima Gunung XV rencananya berlangsung di kawasan antara Gunung Merapi dan Merbabu di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang pada 21-24 Juli 2016, sedangkan pembukaannya di Candi Gunung Wukir, Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang pada 19 Juli 2016.

Ia mengatakan berbagai kesenian yang bakal dipentaskan, antara lain tarian dan musik baik tradisonal maupun kontemporer, performa dan instalasi seni berbahan alam, kirab budaya, peluncuran buku, pameran seni rupa, prosesi ritual, dan pidato kebudayaan.

"Berbagai persiapan panitia dan koordinasi dengan berbagai grup dari luar kota hingga saat ini terus kami lakukan," ujarnya usai rapat lanjutan persiapan kegiatan itu di salah satu rumah pegiat Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Menoreh) yang juga dalang, Sih Agung Prasetyo, di Desa Sudimoro, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Ia mengatakan tema besar Festival Lima Gunung XV/2016 adalah "Pala Kependhem". Tema itu secara harfiah menunjuk kepada kekuatan ketahanan pangan dari hasil pertanian yang sifatnya terpendam dalam tanah, antara lain singkong, ubi, talas, dan gembili.

Namun, ujarnya, secara simbolis, tema tersebut hendak menunjuk kepada kekayaan bumi Nusantara (Jawa), sebagaimana tertulis dalam Prasasti Canggal (Ditemukan di Candi Gunung Wukir) tentang kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan ketenteraman Jawadwipa pada masa lampau.

Festival yang digelar oleh komunitas seniman petani tersebut hingga saat ini dikenal luas dan bahkan hingga luar negeri, terutama karena bertumpu kepada kekuatan sanak kadang dan semangat kemandirian.

"Tanpa proposal dan tanpa sponsor," kata Supadi yang juga seorang juragan sayuran di kawasan Gunung Andong, Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang itu.

Dinamika kehidupan komunitas selama ini dengan inspirator utama budayawan yang juga dikenal sebagai Presiden Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut. Para petinggi komunitas menyebut penyelenggaraan festivalnya sebagai tidak berembuk duit.

Penyelenggaraan festival mereka selama ini, selalu menjadi daya pikat kehadiran ribuan orang, termasuk antara lain para tokoh nasional, kalangan budayawan, rohaniwan, pemerhati seni, dan akademisi lintas disiplin ilmu.

Benda Bersejarah di Magelang Diduga Terkait Kerajaan Besar Abad ke-8

Magelang, Jateng - Beberapa waktu lalu ditemukan lumpang, gandik, yoni, relief kosong dan patung di Dusun Gendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah oleh petani setempat secara tidak sengaja. Ini merupakan penemuan bersejarah yang akan menguak genealogi masyarakat Jawa yang kini tinggal di sekitar lokasi.

Namun demikian, penemuan ini masih menyisakan banyak tanda tanya terkait pembuat, tujuan dan kapan benda-benda dibuat. Sejauh ini, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah baru sampai pada dugaan bahwa situs Tamansari itu merupakan peninggalan masa klasik abad 8-9 Masehi. Masa tersebut merupakan era kejayaan Kerajaan Mataram Kuno di Tanah Jawa dan Nusantara.

Tergelitik dengan penemuan yang bakal menjadi pintu masuk ke deskripsi peradaban masyarakat Jawa di masa lalu, Merapi Cultural Intitute (MCI) melakukan studi pustaka. Mereka meneliti literatur-literatur kuno yang akan membantu menyingkap misteri benda-benda misterius tersebut.

Peneliti MCI Hrb Binawan yang kini menjadi dosen di Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) mengatakan, penemuan tersebut diduga kuat terkait dengan keberadaan sebuah kerajaan besar di abad ke-8 (kurang lebih tahun 717 M). Kerajaan tersebut bernama Medhang Metriam atau Medhang Metriam Poh I Pitu yang berpusat di desa Adireja sebelah timur Gunung Buthak, kini wilayah Kabupaten Temanggung.

"Medhang Metriam didirikan oleh Sanjaya atau Hang Sanjaya yang berdarah campuran," ujar Binawan, Selasa (7/6).

Medhang Metriam sejatinya kerajaan merdeka yang juga adalah induk dari kerajaan Medhang Galuh, Medhang Pakuwon dan Medhang Metriam itu sendiri. Poh I Pitu menandakan keberadaan pohon Poh atau Kepoh yang berjumlah tujuh di dekat tujuh pohon Kepoh itulah Keraton atau Kedaton Medhang Metriam berdiri.

Sanjaya menjadi ratu atau datu dari sebuah kerajaan yang sangat heterogen budaya, bahasa, agama dan suku-suku bangsanya.

"Kemajemukan ini menjadi sebuah simbol kerukunan dan persatuan yang indah, namun di sisi lain pluralitas juga membawa potensi ancaman bagi eksistensi kekuasaan Sanjaya," kata Binawan.

Sanjaya menghadapi pemberontakan hebat dari para ksatria keturunan India yang menamakan diri mereka Syailendra. Akibatnya, Sanjaya kalah dan harus bergeser ke wilayah timur di sekitar Prambanan atau Prambwana. Lalu dinasti Syailendra otomatis memegang kekuasaan di wilayah barat meliputi Magelang, Yogyakarta, Purworejo, Wonosobo, Kebumen dan sebagainya.

Kedua wangsa tersebut, baik yang di timur maupun barat, lambat-laun bercampur, sehingga sampai saat ini tidak ada lagi yang benar-benar murni.

Saat memerintah, Sanjaya banyak dipengaruhi oleh falsafah dan budaya wangsa Chandra. Maka Sanjaya membangun keraton/kedaton dari rumah kayu beratap ijuk dan tidak membangun candi melainkan pagoda kayu. Wangsa Chandra memiliki kebiasaan melarung abu raja/bangsawan ke sungai atau laut. Sementara raja-raja Dinasti Syailendra kental dipengaruhi budaya wangsa Surya.

"Mereka membangun keraton secara permanen dari batu dan membangun candi-candi termasuk prasasti-prasati dalam bentuk ukiran batu," kata dia.

Abu raja atau bangsawan disimpan di candi-candi. Di sekitar candi, mereka biasanya membangun tempat pemandian bagi para peziarah sebagai bagian dari ritual pencucian diri.

Awali Puasa, Warga di Magelang "Perang Air"

Magelang, Jateng - Warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, menggelar tradisi perang air atau dikenal dengan "Bajong Banyu" untuk menyambut bulan Ramadhan.

Tradisi yang digelar untuk ketiga kalinya ini diikuti oleh seluruh warga dan perangkat desa setempat di lapangan Dusun Dawung. Warga selalu antusias mengikuti tradisi ini.

Kegiatan diawali dengan pertunjukan pentas seni tradisional oleh anak-anak Dusun Dawung. Mereka lincah menari Kuda Lumping, Topeng Ireng, dan lainnya.

Selanjutnya warga yang dipimpin oleh para perangkat desa dan tokoh masyarakat melakukan kirab berjalan kaki menuju air sendang (sumber air) atau disebuk Tuk Dawung yang berjarak sekitar 500 meter dari lapangan dusun.

Peserta kirab seluruhnya mengenakan busana adat Jawa dan diiringi musik tradisional. Para perangkat desa kemudian mengambil air dari sendang lalu ditampung di kendi-kendi yang dibawa oleh peserta kirab. Mereka berdoa terlebih dahulu sebelum mengambil air tersebut.

Setelah itu peserta kembali melakukan kirab menuju lapangan dusun. Air yang di dalam kendi-kendi itu kemudian dituangkan ke dalam ember besar. Berikutnya, secara simbolis lima orang membasuh mukanya dengan air tersebut.

Setelah itu perang air dimulai. Warga yang berada di lapangan tersebut, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa, saling melempar air yang sebelumnya diwadahi plastik. Suasana akrab, ceria, tawa, terlihat selama perang air berlangsung.

"Bajong air ini simbol membersihkan diri, kami memohon ampun kepada Tuhan, kami juga saling minta maaf kepada sesama agar saat kita menjalani ibadah puasa dalam keadaan bersih lahir batin," ucap Sudarmodjo (51), Ketua RT 03 RW 09 Dusun Dawung, Minggu (5/6/2016) sore.

Walmi (43), salah satu warga Dusun Dawung, mengaku gembira bisa ikut perang air. Ia sendiri selalu menjadi penari untuk kegiatan ini. Ia juga rela berbasah-basah bersama warga lainnya.

"Kami bentuk kegembiraan kami menyambut Ramadhan, sekaligus saling membersihkan diri, bersih badan juga bersih hati kami," kata dia.

Puluhan Grup Seni Meriahkan Rawat Ruwat Borobudur 2016

Magelang, Jateng - Sebanyak 48 grup mengikuti Festival Kesenian Rakyat dalam rangkaian agenda Ruwat-Rawat Borobudur 2016 sebagai upaya menjalin semangat persahabatan di antara berbagai kelompok tersebut di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Semangat dari Festival Kesenian Rakyat ini adalah mengedepankan persahabatan antarkelompok," kata Ketua Panitia Festival Kesenian Rakyat Borobudur Suyanto di Borobudur, Selasa (19/042016).

Berbagai grup kesenian rakyat yang ikut dalam kegiatan itu, antara lain kelompok tarian kubro siswo, topeng ireng, kuda lumping, jatilan, campur, dan soreng.

Ia mengatakan berbagai kelompok kesenian tersebut selama ini menjalani pemenntasan di desa-desa sekitarnya dalam berbagai kesempatan hajatan masyarakat maupun tradisi dusun.

Keberadaan mereka, katanya, juga menjadi salah satu penanda penting atas wajah kebudayaan di Kabupaten Magelang.

Penyelenggaraan pementasan mereka dalam festival tersebut di sejumlah tempat, selama berlangsung "Ruwat-Rawat Borobudur", 18 April-1 Juni 2016, antara lain di Taman Lumbini Kompleks Candi Borobudur, Dusun Gleyoran, Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Desa Cebongan, Kecamatan Windusari, dan Dusun Kledung, Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran.

Selain itu, katanya, babak final akan diselenggarakan di areal parkir kendaraan wisata Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, selama 14-19 Mei 2016.

"Festival ini juga menjadi bagian dari upaya kami untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian rakyat, serta memperkuat semangat saling menghargai antarkelompok," katanya.

Setiap kelompok kesenian rakyat yang menjadi peserta festival tersebut, berjumlah sekitar 40 orang.

Ia mengatakan para penari dari berbagai kesenian rakyat, pada umumnya kalangan warga petani. Wilayah Kabupaten Magelang dikenal sebagai areal pertanian, khususnya hortikultura.

Agenda seni dan budaya "Ruwat-Rawat Borobudur" pada 2016 sebagai penyelenggaraan tahun ke-13 dengan dipelopori Komunitas Warung Info Jagad Cleguk Borobudur pimpinan Sucoro.

Rangkaian agenda "Ruwat-Rawat Borobudur 2016", antara lain pentas kesenian rakyat, sarasehan budaya, seminar pariwisata, jelajah pusaka, loka karya seni budaya, prosesi tradisi masyarakat, festival kesenian rakyat, pentas kolosal Sendratari Kidung Karmawibangga, dan kirab budaya.

Siswa Korsel dan Petani Merbabu pentaskan tari soreng di FLG

Magelang, Jateng - Sejumlah siswa Silangsa Small School, Namwon, Korea Selatan, bergabung dengan seniman petani Gunung Merbabu, mementaskan tarian tradisional Soreng, pada Festival Lima Gunung XIV di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Mereka akan bersama-sama dengan seniman kelompok kami dalam pementasan di Festival Lima Gunung nanti," kata Pimpinan Padepokan Warga Budaya Gejayan Riyadi di Magelang, Senin.

Ia mengatakan empat di antara tujuh siswa dari Korsel itu akan bersama sekitar 50 seniman padepokan tersebut, mementaskan tarian tradisional masyarakat setempat, soreng, pada Minggu (16/8), di arena festival.

Festival Lima Gunung XIV diselenggarakan secara mandiri oleh seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) di dua lokasi, yakni Dusun Mantran Wetan (Gunung Andong) dan Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun (Gunung Merapi) pada 14-17 Agustus 2015.

Sebanyak tujuh siswa dengan dua guru pendamping Silangsa Small School, Namwon, Korea Selatan, selama 1-20 Agustus 2015 menjalani proses belajar tentang kebudayaan dan kehidupan masyarakat sehari-hari di kawasan Gunung Merapi, Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ia mengatakan hingga saat ini, mereka telah lima kali berlatih tarian Soreng di padepokan setempat bersama dengan seniman petani di daerah itu.

"Bukan persoalannya mereka harus bisa menari dengan baik tarian Soreng, tetapi mereka mendapatkan pengalaman untuk berlatih bersama dan mementaskan tarian tradisional itu bersama kami. Tentu ini pengalaman berharga untuk mereka dan juga pengalaman anggota padepokan kami," kata Riyadi yang juga salah satu pemimpin Komunitas Lima Gunung.

Ia mengatakan tarian Soreng bercerita tentang legenda keprajuritan Arya Penangsang dari Jipang Panolan dalam menghadapi pasukan Sultan Hadiwijaya dari Pajang.

Sebanyak tujuh siswa Korsel, katanya, juga akan mementaskan tarian berasal dari negara itu, berjudul K-Pop Arirang, pada Sabtu (15/8) di arena festival mendatang di Dusun Mantran Wetan.

Sekitar 800-1.000 seniman bakal tampil pada Festival Lima Gunung XIV. Mereka selain para seniman petani Komunitas Lima Gunung, juga berbagai grup kesenian di sekitar lokasi festival dan jejaring komunitas tersebut di berbagai kota dan luar negeri.

Selain pementasan kesenian, festival mendatang, antara lain ditandai dengan kirab budaya, sarasehan budaya, pidato kebudayaan, peluncuran buku, pameran seni rupa, ziarah ke puncak Gunung Andong, peresmian masjid, dan peringatan HUT Ke-70 RI.

Magelang Art Event 2015 Potensial Datangkan Wisatawan

Magelang, Jateng - Magelang Art Event 2015 yang berlangsung 11 April hingga 11 Juni 2015 diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Magelang. "Harapan kami dari pameran seni rupa bertaraf internasional, MAE 2015 ini paling tidak dapat menambah kunjungan wisatawan dari luar negeri ke Magelang," kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Magelang, Hartoko, di Magelang, Jawa Tengah, belum lama ini.

Selain itu, menurut Hartoko, kegiatan tersebut akan berdampak luas pada sektor lain terutama di bidang ekonomi, misalnya pengunjung melihat kegiatan tersebut akan menginap di hotel merupakan pemasukan bagi daerah berupa hasil pajak.

"Kalau tidak menginap, paling tidak mereka makan di Kota Magelang, membeli cenderamata, dan membeli oleh-oleh dari Magelang," katanya.

MAE 2015 memamerkan ratusan karya seni rupa buah karya 300-an seniman dari tanah air serta sejumlah perupa dari Tiongkok dan Jepang.

Kegiatan tersebut digelar di 11 ruang seni, yakni Museum OHD, Syang Art Space, dan Langgeng Gallery di Kota Magelang. Kemudian Museum H Widayat, Pawon Art Space, Galeri Pondok Tingal, Limanjawi Art House, Banyu Bening The House of Painting, Padepokan Apel Watoe, Tuksongo Visual Arts House, dan Amanjiwo Art Room di Kabupaten Magelang.

"Mereka yang menginap bisa saya pastikan tidak semua makan di hotel. Untuk makan siang dan makan malam mereka kebanyakan mencari kuliner di luar hotel," katanya.

Hartoko menuturkan mereka mencari kuliner di rumah makan atau bahkan di pedagang kaki lima (PKL). Di Kota Magelang ini ada beberapa sentra PKL yang cukup representatif. "Harapannya kalau semua berkembang maka kesejahteraan masyarakat meningkat sehingga semua aspek yang bisa mendatangkan tamu ke Magelang harus kami garap, termasuk di dalamnya MAE," katanya.

IKJ dan Komunitas Lima Gunung Gelar "Penari Tujuh Pulau"

Magelang, Jateng - Sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bersama-sama dengan seniman petani Komunitas Lima Gunung menggelar performa "Penari Tujuh Pulau" dalam puncak rangkaian kunjungan belajar di kawasan Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Mereka menggelar performa tarian, musik, dan tembang itu di pendopo Padepokan Warga Budaya Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, di kawasan Gunung Merbabu, Rabu (7/1) malam.

Ratusan warga setempat menyaksikan pertunjukan yang dikemas secara spontan namun meriah oleh mahasiswa IKJ berasal dari sejumlah daerah di Indonesia dengan para seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang.

Berbagai tarian yang disajikan mahasiswa IKJ itu antara lain menunjukkan gerakan tarian Minangkabau, Toraja, Nusa Tenggara Timur, Sunda, dan Dayak, sedangkan seniman petani Komunitas Lima Gunung dari kelompok Padepokan Warga Budaya Gejayan pimpinan Riyadi menyuguhkan antara lain tarian Geculan Bocah, Kipas Mega, dan Topeng Ireng.

Mereka juga bersama-sama menyajikan tarian kontemporer dusun berjudul Setres Jalan-Jalan Kipi-Kipi dan Gupolo Gunung.

Tabuhan musik gamelan dan tembang berbahasa Jawa mengiringi pergelaran yang juga ditonton, antara lain oleh Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Lailly Prihatiningtyas, budayawan dan inspirator Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut, serta dosen Jurusan Tari IKJ Ery Ekawati.

Pada kesempatan itu, para mahasiswa IKJ juga menjadi pelaku pentas wayang kontemporer dengan dalang muda dan pegiat Komunitas Lima Gunung Sih Agung Prasetyo.

Sajian karya seni berupa wayang kontemporer bernama "Wayang Kulit Wong Urip Gunung" itu, mendapat apresiasi yang meriah dari penonton yang juga warga desa setempat.

Rangkaian kunjungan belajar mahasiswa Jurusan Tari IKJ selama 5-8 Januari 2015 berlangsung di dua dusun yang warganya menjadi pegiat Komunitas Lima Gunung, yakni Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, di kawasan Gunung Andong, dan Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, di kawasan Gunung Merbabu.

Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengatakan kegiatan mahasiswa IKJ di komunitas yang dipimpinnya itu, juga menjadi ajang belajar bagi warga dusun untuk terus menerus menghidupi tradisi berkesenian.

"Kami juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi dan belajar dari mahasiswa, ini kerja sama yang baik," katanya.

Ery menyatakan berterima kasih karena para mahasiswanya mendapat kesempatan belajar tentang kesenian dan berbagai hal pendukung lainnya dari kehidupan sehari-hari warga desa di daerah setempat.

"Tentu kunjungan belajar para mahasiswa ini menjadi pengalaman yang berharga untuk proses belajar selanjutnya," katanya.

Magelang Gelar 100 Acara Seni Budaya untuk Tarik Wisatawan

Magelang, Jateng - Pemerintah Kota Magelang terus berupaya menarik wisatawan lokal maupun asing untuk datang ke Kota Magelang melalui program "Ayo Ke Magelang 2015". Di antaranya dengan menyiapkan 100 event untuk mensukseskan program yang dicanangkan tepat pada 1 januari 2015 itu.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang, Hartoko, menjelaskan seratus event yang akan digelar sepanjang tahun 2015 itu meliputi berbagai sektor, mulai seni, budaya, pendidikan, hingga olahraga.

"Seluruh event yang telah kita persiapkan ini nantinya bertaraf lokal, nasional bahkan internasional," ujar Hartoko, di Kota Magelang, Selasa (6/1/2015).

Bahkan Hartoko mengatakan beberapa event tersebut merupakan kegiatan paling spektakuler dan digadang-gadang mampu menarik wisatawan asing. Hartoko menyebut event itu antara lain "Grebeg Gethuk" pada HUT Kota Magelang April 2015, dan "International Olympiade on Astronomy and Astrophysics" (IOAA), Agustus 2015 mendatang.

"Rencananya kegiatan IOAA akan digelar selama 10 hari pada Agustus 2015, diikuti oleh 41 negara. Masing-masing negara berhak mengirimkan 12 peserta. Leading sector kegiatan ini adalah Dinas Pendidikan," papar Hartoko.

Sementara untuk kegiatan "Grebeg Gethuk", sambung Hartoko, memang sudah menjadi agenda tahunan Kota Magelang. Namun khusus tahun ini akan dikemas secara lebih menarik dan unik. Bila biasanya diikuti oleh tiap kelurahan yang ada di Kota Jasa, April 2015 nanti perhelatannya diikuti oleh peserta dari daerah se-Jawa Tengah.

”Kirab budaya Grebeg Gethuk nanti pesertanya berasal dari kota atau kabupaten se-Jawa Tengah. Sedangkan Kota Magelang sendiri, sebagai tuan rumah hanya mengirimkan tiga peserta karnaval,” jelas dia.

Acara ini, lanjut Hartoko, juga bakal dihadiri oleh belasan duta besar negara-negara sahabat. Masing-masing daerah peserta kirab akan unjuk kebolehan di depan para Dubes untuk melaksanakan karnaval dengan ciri khas masing-masing.

”Dengan event itu kami optimistis bisa mengangkat jumlah wisatawan yang datang ke Kota Magelang," harap Hartoko.

Lebih lanjut Hartoko menyebutkan, pada 2014 lalu, ada kenaikan wisatawan nusantara (wisnus) 20 persen dan wisatawan mancanegara 5 persen yang datang ke Kota Sejuta Bunga ini. Berdasarkan data statistik pengunjung Januari- September 2014, tercatat 97.342 pengunjung wisnus dan 1.640 wisman pada sektor perhotelan di Kota Magelang. Jumlah itu belum termasuk pengunjung di kawasan wisata, seperti Taman Kyai Langgeng, Wisata Kota Toea Magelang, dan acara-acara lainnya.

Wakil Duta Besar Inggris Sebut Indonesia Raksasa Budaya

Magelang, Jateng - Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Rebbecca Jane Razavi menilai Indonesia telah menjadi raksasa budaya dengan warisan budaya dunia seperti Candi Borobudur.

“Banyak orang menganggap Indonesia bersama-sama dengan India dan Tiongkok membentuk raksasa ekonomi, tetapi Indonesia sendiri sudah menjadi raksasa budaya,” katanya di Magelang, Jawa Tengah seperti dikutip Antara, Sabtu (15/11/2014).

Ia mengatakan hal tersebut usai peluncuran sampul seri 200 tahun ditemukannya Candi Borobudur. Salah satu prangko dari delapan prangko yang diluncurkan bergambar Raffles.

“Saya senang bisa datang pada peristiwa bersejarah ini,” katanya.

Ia menuturkan Raffles memang hanya beberapa tahun di Indonesia, tetapi dia memiliki kekaguman yang luar biasa dan cinta pada kebudayaan dan warisan Indonesia, khususnya cara menemukan Candi Borobudur.

Ia mengatakan Inggris dan Indonesia banyak memiliki kesamaan, antara lain sama-sama bangsa yang terbuka, memiliki penduduk dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda.

Seru! Melestarikan Merapi melalui Lomba Dorong Angkong

Magelang, Jateng - Kemeriahan memperingati HUT ke-69 Kemerdekaan RI masih terasa di Desa Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Berbagai kegiatan dan lomba tradisional diselenggarakan warga lereng gunung Merapi itu. Salah satunya, lomba mendorong angkong (gerobak dorong), yang diikuti oleh pasangan suami istri. Para suami diharuskan mendorong angkong yang telah dinaiki oleh sang Istri. Siapa yang paling cepat di garis finish maka dialah pemenangnya.

Tak ayal lomba ini menarik gelak tawa para penonton. Apalagi lomba unik itu juga diikuti oleh para perangkat desa setempat. "Awalnya bikin lomba ini hanya iseng, ternyata responnya bagus, masyarakat terhibur melihat Pak Lurah dorong Bu Lurah, Pak Kadus dorong Bu Kadus," ujar Kepala Desa Sawangan, Johan Wahyudi, Kamis (21/8/2014).

Menurut Johan, lomba mendorong angkong ini adalah ide warga. Mengingat sebagian besar warga Desa Sawangan bekerja sebagai penambang pasir Gunung Merapi manual yang selalu menggunakan angkong itu.

Selain memeriahkan Hari Kemerdekaan, lanjut Johan, melalui lomba ini pihaknya ingin mengingatkan kepada masyarakat Sawangan bahwa angkong alat penambang pasir tradisional yang perlu dilestarikan. Mengingat saat ini banyak penggunaan alat berat (back-hoe) untuk menambang pasir Merapi yang sebetulnya dapat merusak lingkungan. "Setidaknya untuk meminimalisir penggunaan alat berat agar lingkungan Merapi tetap terjaga sehingga tetap bisa menghidupi masyarakat sekitarnya," harap Johan.

Selain lomba angkong, masih banyak lagi kegiatan untuk dalam rangka Hari Kemerdekaan RI tahun ini yang akan digelar Minggu, 24 Agustus 2014 nanti. Antara lain, senam massal, jalan santai, marching band anak-anak, tarik tambang antar dusun, hingga peluncuran roket air oleh pelajar binaan Tim KKN UNDIP Semarang. "Selain itu, ada juga pameran dan bazaar hasil kerajinan serta industri rumah tangga masing-masing Dusun se Desa Sawangan pada 17 Agustus 2014 lalu," tambah Johan.

Sendratari dan Festival Seni Meriahkan 200 Tahun Revitalisasi Borobudur

Magelang, Jateng - Berbagai jenis kegiatan menyambut peringatan 200 tahun ditemukannya Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang diselenggarakan PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko.

Sekretaris PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Achmad Muchlis di Magelang, Rabu (13/8/2014), mengatakan, kondisi Candi Borobudur pada waktu ditemukan pada 1814 masih porak poranda disebabkan oleh kerusakan alam.

“Namun, seiring berjalannya waktu saat ini Candi Borobudur tercatat oleh Guinness World Record sebagai satu-satunya candi Budha terbesar di dunia dan ditetapkan UNESCO menjadi world heritage yang harus dilindungi dan dilestarikan,” katanya seperti dikutip Antara.

Ia mengatakan, dalam rangka memaknai kembali kemegahan dan keagungan Candi Borobudur, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan ratu Boko, dan Balai Konservasi Borobudur mengadakan berbagai rangkaian kegiatan, antara lain seminar, pergelaran sendratari Mahakarya Borobudur, dan festival seni.

Muchlis menyebutkan, pada 22 Agustus 2014 akan diselenggarakan seminar dengan tema Membangun Ketahanan Budaya dan Pariwisata dalam Memperkokoh Ketahanan Nasional dengan pembicara kunci Gubernur Lemhanas, Budi Susilo Soepandji.

Kemudian pada 23 Agustus 2014 pukul 19.00 WIB digelar Sendratari Mahakarya Borobudur. Muchlis mengatakan, pementasan sendratari ini atas kerja sama ISI Surakarta, Borobudur Art Center dan Pemkab Magelang.

Penyair Indonesia Baca Puisi di Jerman

Magelang, Jateng - Penyair Indonesia Dorothea Rosa Herliany membaca sejumlah puisi karyanya yang bertema tentang perempuan di Universitas Bonn Jerman, dan mendapatkan apresiasi dari publik di negeri itu.

"Ini kali kedua saya membaca puisi di sini, yang pertama pada 2002 lalu," kata Rosa melalui surat elektronik yang diterima Antara di Magelang, Kamis.

Beberapa puisi yang dibaca Rosa, antara lain berjudul "Sebuah Lukisan Surealis", "Nikah Pelacur tak Punya Tubuh", "Perempuan itu Bernama Ibu", "Siapa Berjalan di Atas Cahaya", "Sebuah Radio Kumatikan", "Surat Lorena", "Surat Julia", "Surat Nadia", "Nikah Pisau", "Buku Harian Perkawinan", dan "Suatu Hari Bulan Juli".

Rosa membaca puisi karyanya itu di Jurusan Indonesia Universitas Bonn Jerman, Rabu (24/7), sedangkan versi Jerman dibacakan oleh Pemimpin Redaksi "Orientierungen", suatu jurnal tentang berbagai budaya Asia yang sering memuat terjemahan Jerman dari karya sastra Indonesia, Berthold Damshauser. Damshauser juga menerjemahkan puisi-puisi karya Rosa.

Mereka yang hadir, antara lain kalangan mahasiswa Jurusan Indonesia di perguruan tinggi itu, para dosen dan sastrawan Bonn, serta warga negara Indonesia yang tinggal di Bonn.

"Saya merasakan mereka takzim mendengarkan pembacaan puisi-puisi saya yang bertema tentang perempuan," katanya.

Ia mengatakan acara itu menunjukkan kepada publik, terutama di Jerman, bahwa di Indonesia juga ada puisi yang membicarakan masalah perempuan.

"Bahwa puisi Indonesia sungguh kaya, dan ada banyak hal lain dibicarakan di Indonesia. Hal-hal yang lebih kekinian, bahwa sastra Indonesia itu adalah sastra yang hidup, terus berjalan, berkembang, dan sudah bergerak jauh, dan terus bergerak," katanya.

Rosa yang juga pengelola Rumah Baca Duniatera Borobudur, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu, sejak awal Juli 2013 berada di Jerman untuk suatu program residensi selama satu tahun.

Ia mengatakan Jurusan Indonesia Universitas Bonn sejak relatif lama suka mengundang sastrawan Indonesia untuk membacakan karyanya di tempat itu.

Sejumlah sastrawan Indonesia yang pernah membacakan karyanya di universitas itu, antara lain Subagio Sastrowardoyo, W.S. Rendra, Ahmad Tohari, Ramadhan K.H., Afrizal Malna, Sitor Situmorang, Ayu Utami, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, dan Sapadi Djoko Damono.

Berthold Damshauser yang juga Ketua Program Bahasa Indonesia Universitas Bonn dan anggota Komisi Indonesia-Jerman untuk Bahasa dan Sastra itu mengatakan bahwa acara itu sebagai upaya memperkenalkan sastra Indonesia dan puisinya di kalangan akademisi.

Puisi, katanya, juga bagian dari seni Indonesia yang sejati sehingga memiliki peranan penting di negeri itu.

"Identitas Indonesia ada di bahasa, dan kesenian bahasawi yang paling nyata adalah puisi," katanya.

Seniman Magelang Gelar Pertunjukan Ngabuburit di Alun-alun

Magelang, Jateng - Sejumlah seniman menggelar "Performa Ngabuburit" menjelang buka puasa di Alun-Alun Kota Magelang, Jawa Tengah, Minggu sore, untuk merefleksikan makna Ramadhan 1434 Hijriah.

Pergelaran dengan tema "Akhirnya Kembali ke Tanah Juga" itu, antara lain dilakukan oleh Bambang Eka Prasetya, Aning Purwa, Andretopo, Cipto Purnomo, Nundang Rundagi, Adia W.P., dan dua lainnya berasal dari Inggris, yakni Xilona Blanco dan John.

"Ini adalah refleksi Ramadhan, memaknai Bulan Puasa sebagai masa bertobat manusia," kata Bambang Eka usai pergelaran selama sekitar satu jam itu.

Ia menjelaskan performa itu sebagai ajakan kepada masyarakat untuk makin tekun berdoa dan membangun hidup yang berpengharapan.

"Bertobat itu mengaku bahwa manusia berlumur dosa, maka dosa harus dibenci. Manusia perlu memohon pengampunan dan berjanji tidak mengulangi dosa lagi, lalu memperbaiki kehidupannya," katanya.

Performa seni mereka gelar di panggung terbuka di sebelah timur alun-alun setempat dengan disaksikan masyarakat yang sedang ngabuburit di pusat Kota Magelang tersebut.

Mereka melumuri tubuh dan mukanya dengan tanah. Masing-masing juga mengikatkan kain merah di pinggang, sejumlah lainnya membawa beberapa pelapah daun kelapa atau belarak, dan mengusung satu drum sebagai properti pementasan itu.

Seruan berupa kalimat pertobatan dikumandangkan oleh Bambang selama performa tersebut, sedangkan Aning Purwa juga berulang kali mengucapkan pentingnya manusia selalu sadar terhadap asal usulnya yang dari tanah.

Aning mengatakan manusia sebagai makhluk yang lemah dan sering jatuh dalam dosa sehingga harus bertobat untuk kemudian menjalani kehidupan yang lebih baik.

"Banyak yang main di `langit`, tapi lupa jalan pulang ke `bumi`. Sering kali kita merawat iman dengan kukuh, tetapi menebangi pohon di tanah seenaknya," katanya yang terkesan simbolis tersebut.

Performa mereka dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati kawasan pusat pertokoan "Pecinan" di Jalan Pemuda Kota Magelang hingga saat buka puasa berkumandang.

Ketika Putri Pariwisata Membatik di Borobudur

Magelang, Jateng - Ada yang berbeda diantara puluhan stand-stand kerajinan yang berderet di Taman Lumbini kompleks Candi Borobudur pada event Borobudur International Festival (BIF) 2013, Sabtu (15/6/2013) siang. Para pengunjung BIF tampak berkerumun di salah satu stand batik di salah satu sudut. Rupanya di stand tersebut ada Putri Indonesia Pariwisata 2013, Cok Istri Krisnanda Widani (21), yang tengah asyik belajar membatik menggunakan canting (alat untuk membatik).

Meski tampak serius, namun gadis asal Bali itu tetap tersenyum ramah setiap kali pengunjung menyapa. Dengan jarinya yang lentik, Cok Is tidak terlihat canggung ketika seorang perajin Nuryanto membimbingnya membatik dengan menggunakan canting. Ia membuat batik motif stupa bertuliskan Borobudur International.

Selain membatik, Cok juga berkesempatan melihat penampilan kesenian tradisional khas Magelang yaitu tarian Soreng di panggung utama di tengah Taman Lumbini. Tak ayal para pengunjung yang mengenalinya langsung berebut untuk berfoto bersamanya. Cok pun dengan ramah melayani sau-persatu permintaan warga itu.

Dalam agenda empat tahunan BIF 2013 yang digelar selama 4 hari dari 13-17 Juni, Cok cukup sibuk mempromosikan kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jateng ini.

Pada malam pembukaan lalu, Cok Is mendampingi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar dan Gubernur Jateng Bibit Waluyo memukul gong sebagai tanda pembukaan BIF 2013. '"Tadi saya sudah sempat berkeliling melihat stand-stand yang ada di ajang BIF ini , seperti stand kerajinan, batik, kuliner, jamu dan lain sebagainya. Ini menjadi ajang promosi wisata yang bagus bagi di Jawa Tengah," kata Cok Is, putri sulung dari dua bersaudara ini.

Menurutnya, kegiatan BIF sangat bagus untuk saling tukar kebudayaan dan informasi wisata masing-masing peserta. Di samping itu juga bisa menambah ilmu pengetahuan tentang pariwisata dan kesenian bagi masyarakat.

Betapa tidak, Cok Is menambahkan, di BIF kali ini banyak ditampilkan berbagai kesenian daerah di Indonesia bahkan luar negeri seperti China, Brunei Darussalam dan negara-negara lain. "Ini sangat luar biasa, di sini kita bisa saling mengenalkan kebudayaan masing-masing," tutur gadis yang pernah menjadi pemeran wanita terbaik Pekan Seni Remaja 2006 ini.

Cok sendiri mengaku pertama kali naik Candi Borobudur saat ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Saat itu, dirinya begitu takjub dengan kemegahan candi Buddha terbesar di dunia itu. Pada pada masa itu manusia belum mengenal teknologi canggih. "Karena itu saya berharap, semua orang ikut merasa memiliki Candi Borobudur sebagai warisan budaya dengan cara ikut serta melestarikannya," ucapnya.

Batik Khas Borobudur Magelang Makin Populer

Magelang, Jateng - Batik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya bangsa Indonesia. Hampir di setiap daerah memiliki beragam motif dan corak yang menunjukkan ciri khas daerah tersebut. Termasuk batik khas Magelang, Jawa Tengah, yang tidak kalah unik dari jenis batik dari daerah lainnya.

Meski bukan daerah sentra batik, seperti Pekalongan dan Solo, namun Magelang rupanya mempunyai beragam jenis batik yang khas sesuai dengan tempat produksinya. Misalnya, batik asal Kota Magelang, motif yang ada terinspirasi dari nama kampung dan ikon budaya yang ada di sana. Ada motif Bayeman, Ringin Anom, Kebon Polo, Kemiri Rejo hingga ikon Water Torm di Alun-alun Kota Magelang.

Tidak kalah menarik, batik yang berasal dari Kecamatan Gunung Pring, Kabupaten Magelang. Motif batik yang ada selalu mengandung unsur alam, dari motif pegunungan, daun, pohon bambu, kayu dan sebagainya. Kemudian ada juga batik dari Kecamatan Borobudur.

Batik dengan motif Candi Borobudur itu bahkan menjadi pakaian wajib dikenakan para pengunjung Taman Wisata Candi Borobudur. "Semua bahan hingga pewarnaan kami pakai bahan alami. Seperti bahan-bahan pelepah pisang dan serat nanas. Sedangkan untuk pewarnaan kami pakai sari daun mangga, daun jambu dan kunyit," papar Titik, pengelola stand Batik Saniyya Muntilan di Pekan Budaya Batik di Armada Town Square (Artos) Magelang Jawa Tengah, akhir pekan kemarin.

Pada pameran yang digelar 7-16 Juni 2013 itu, Titik dan para pengusaha batik di Magelang saling unjuk pamer batik hasil kreasi unik mereka. Titik mengaku sangat senang dengan animo masyarakat terutama yang berkunjung di standnya. Menurut Titik, masyarakat kini lebih menyukai batik-batik dengan unsur alam. Karena warna yang lebih lembut, ramah lingkungan dan aman untuk kulit. "Sejak pertama buka, banyak pengunjung yang sudah datang ke stand kami. Kebanyakan mereka suka batik kami yang alami," ujar Titik.

Harga yang dibanderol pun terjangkau mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per potong. Setiap hari, Titik dapat menjual batiknya hingga 25 potong.

Sementara itu, menurut Diah Pangesti, Staf Promosi Artos, pameran tersebut memang untuk mengembangkan pasar batik khas Magelang. Terutama yang menyasar segmen menengah-atas, yakni para pengunjung mal. "Sudah beberapa kali kami menggelar pameran produk UMKM, termasuk batik. Ini bentuk penghargaan kami pada kekayaan negeri dan upaya memperluas pasar batik," katanya.

Setidaknya ada 6 perajin batik turut dalam pameran. Keenamnya perajin batik asal Kota dan Kabupaten Magelang. Mereka menampilkan aneka batik yang mayoritas berupa batik tulis. "Batik berbahan alami ini yang tengah banyak diminati masyarakat," katanya.

Selain pameran, kegiatan itu juga dimeriahkan dengan workshop membatik dan live show music. Juga Fashion Show koleksi Crisantium oleh Tatok Prihastomo dan Touch of Ramadhani oleh Ramadhani A. Kadir yang akan dibawakan Duta Wisata Magelang. "Untuk para penggemar fotografi, juga akan diadakan Lomba Fotografi yang memperebutkan hadiah uang tunai hingga jutaan rupiah," pungkasnya.

Shakespeare "Jawa" akan Pentas di Magelang

Magelang, Jawa Tengah - Sekitar 140 anak di kawasan Gunung Merapi akan mementaskan teater berjudul A Midsummer Night’s Dream, karya sastrawan Barat, William Shakespeare (1564-1616), di Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Anak-anak itu telah berlatih sejak awal Februari, sedangkan sutradara pementasan adalah Catherine ’Kati’ Basset, sutradara Prancis yang juga doktor antropologi etnomusikologi spesialis budaya Bali dan Jawa," kata koordinator pementasan itu yang juga pemimpin komunitas anak-anak Tlatah Bocah Kabupaten Magelang, Gunawan Julianto, di Magelang, Selasa.

Pementasan A Midsummer Night’s Dream dengan judul yang diubah sesuai kearifan lokal Gunung Merapi, menjadi Impen Wengi ing Merapi (Mimpi Malam di Merapi) itu, katanya, rencananya pada Senin (11/3) pukul 20.00-22.00 WIB.

Ia mengatakan, turut terlibat dalam penggarapan pementasan itu, antara lain sutradara dan pemain teater dari Teater National Populer Perancis, Nicholas Gonzales, asisten sutradara Pere David Lerouge (Prancis), para tokoh Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor Sitras Anjilin (penata tari) dan Bambang Tri Santoso (penata musik), serta pemimpin Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber Untung Pribadi (penata tari).

"Pementasan teater itu meskipun tentang cerita Barat, akan tetapi dikemas menjadi bernuansa Jawa, antara lain karena adanya kesamaan nilai-nilai kearifan lokal," katanya.

Ia mengatakan karya A Midsummer Night’s Dream yang aslinya berupa drama komedi ditulis Shakespeare pada 1590-1596 itu, antara lain tentang drama percintaan para tokohnya dengan filosifi yang tinggi, peperangan, perubahan musim, dan perubahan zaman.

Drama itu, katanya, tentang peristiwa sekitar pernikahan Raja Athena, Theseus dengan Ratu Amazon, Hippolyta. Lakon itu satu karya Shakespeare yang terkenal dan dipentaskan di seluruh dunia.

Ia mengatakan beberapa khasanah kesenian lokal Merapi yang akan secara kuat mewarnai pementasan lakon itu oleh anak-anak setempat, antara lain kesenian tradisional jaran kepang, topeng ireng, angguk rame, grasak, reog, dan gagak merak.

Ia mengatakan Kati yang juga pengajar seni, kosmologi, dan ritus Asia Tenggara serta budaya Jawa di Institut National des Langues et Civilisations Orientales (Inalco) dan anggota lepas Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Prancis, untuk tim besar Asia Tenggara dan tim kecil tentang etnopuisi itu, sejak awal Februari hingga pertengahan Maret 2013 tinggal di kawasan Merapi di Desa Sumber.

Pada kesempatan itu Gunawan juga menjelaskan tentang manfaat anak-anak kawasan Gunung Merapi mementaskan lakon karya sastrawan besar William Shakespeare tersebut.

"Anak-anak mengenal karya sastra dunia, kebetulan Kati berada di sini sehingga mereka memanfaatkan untuk belajar banyak juga dari sutradara terkenal itu. Mereka belajar tentang opera Barat dan mengenal Barat, karya-karya sastrawan besar Barat pada masa lalu ternyata ada kesamaan nilai dengan kearifan lokal dan cerita-cerita yang berkembang dalam masyarakat di Merapi," katanya.

Seniman Prancis Tertarik Seni Budaya Komunitas Lereng Merapi

Magelang, Jateng - Seorang seniman Prancis Dr Catherine Basset tertarik untuk menggali kebudayaan komunitas lereng Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, untuk disebarluaskan ke negaranya dan memperkaya materi kuliah yang diampunya di Institut National des Langues et Civilisations Orientales (Inalco).

"Banyak kegiatan kesenian dan kebudayaan di Merapi yang menyatu dalam kehidupan masyarakat, menarik untuk dipelajari dan disebarluaskan kepada masyarakat luas," katanya ketika ditemui ANTARA di Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin.

Selama sekitar 1,5 bulan ia akan tinggal di desa itu dengan menginap di Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber yang dikelola seniman muda kawasan lereng barat Gunung Merapi, Untung Pribadi.

Ia mengaku mendapat informasi awal tentang berbagai kegiatan budaya kawasan barat Gunung Merapi dari Internet.

Selain itu, beberapa waktu lalu ia menyempatkan diri menyaksikan agenda budaya khusus untuk anak-anak bertajuk "Tlatah Bocah" yang dipelopori seorang pegiat sosial budaya dari kota Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Gunawan Julianto, yang antara lain berlangsung di desa setempat.

Catherine atau dikenal dengan panggilan Kati, selain bergelar doktor etnomusikologi lulusan Universitas Paris X Prancis, juga pengajar tidak tetap di Inalco, terutama untuk mata kuliah seni, kosmologi, dan ritus Asia Tenggara, serta budaya Jawa.

Kati juga menjadi anggota lepas Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Prancis, untuk tim besar Asia Tenggara dan tim kecil tentang etnopuisi.

"Antara ritus desa dengan kesenian, kegiatan muda-mudi, dan kesuburan alam masih tetap dijaga oleh komunitas di sini sebagai `badan kolektif`," katanya.

Ia menyatakan ketertarikan untuk mendalami pengetahuan tentang kehidupan komunitas, pengelolaan kesenian tradisional, dan adat istiadat yang masih dijalani masyarakat desa di kawasan Gunung Merapi.

"Letusan Merapi 2010 memang sempat membuat warga mengungsi, akan tetapi peristiwa itu tidak membuat warga menjadi individualis. Mereka ingin kembali ke kampungnya untuk menjalani kehidupan berkomunitasnya," katanya.

Pengelola Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber Untung Pribadi mengatakan, Kati akan mengikuti berbagai kegiatan keseharian masyarakat setempat baik dalam berolah kesenian maupun menjalani tradisi budaya.

"Barang kali apa yang diperolehnya selama di sini bisa memperkaya dia untuk menciptakan karya seni di negara asalnya atau pun untuk berbagi antarakebudayaan dengan masyarakat di negara asalnya," katanya.

Candi Borobudur Terima Sertifikat Guinness World Records

Magelang, Jateng - Candi Borobudur mendapat sertifikat dari Guinness World Records sebagai situs arkeologis Candi Buddha terbesar di dunia.

Sertifikat diserahkan perwakilan Guinness World Records Ltd, Lusia Sinigagliesi kepada Direktur PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), Purnomo Siswoprasetjo di Hotel Manohara, kompleks Candi. Borobudur, Magelang, Senin.

Lusia mengatakan, Borobudur yang dibangun antara 750-842 M dengan volume 60 ribu meter kubik merupakan candi megah yang ukurannya tidak ada bandingannya.

"Borobudur candi terbesar di dunia tidak hanya diakui Guinness World Records, banyak buku yang menyebutkan hal tersebut," katanya.

Dengan masuknya Candi Borobudur dalam Guinness World Records diharapkan akan semakin banyak tamu dari berbagai negara yang datang ke candi ini.

Selain Candi Borobudur, Sendratari Ramayana Prambanan Prambanan juga mendapatkan piagam yang sama sebagai sendratari kolosal yang telah lama berlangsung sejak 1961 hingga sekarang.

Ia menuturkan, dari persepektif industri pariwisata, piagam tersebut dapat dipakai terus menerus dalam upaya kegiatan promosi dan pemasaran domestik maupun internasional secara sistematik melalui berbagai jaringan pariwisata baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Ia mengatakan, dengan mendapat penghargaan dunia ini harus dibarengi peningkatan kualitas pelayanan terhadap para tamu.

"Apa yang sudah dicatat dunia itu jangan sampai mengecewakan orang yang datang ke sini," katanya.

Candi Borobudur masuk ke Guinness World Records, setelah PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero) mengajukan proposal. Pada proposal pertama tahun 2011 ditolak karena kurang lengkap datanya dan tahun ini bisa mendapatkannya setelah disurvei.

Seniman Magelang Gelar "Syawalan Budaya"

Magelang, Jateng - Kalangan seniman Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar "Syawalan Budaya" di Dusun Bandongan, Desa Gondosuli, Kecamatan Muntilan, Sabtu.

Ketua Panitia Syawalan Budaya, Ridlo Susadam di Magelang, mengatakan kegiatan Syawalan Budaya tersebut diikuti sebanyak delapan grup kesenian dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Magelang dan Kota Magelang.

Ia menyebutkan delapan grup kesenian yang tampil dalam kegiatan ini, yakni Topeng Saujana dari Keron Sawangan, Kuda Lumping dari Dayugo Pakis, Jatilan dari Sorogenen, Topeng Ireng dari Cacaban, Reog dari Gejiwan Dukun, Dayak Grasak dari Sumber Dukun, rampak Kurowo dari Petung Pakis, dan Buto Ijo dari Sewukan Dukun.

Susadam mengatakan, syawalan budaya merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setelah Idul Fitri, tahun ini telah memasuki tahun ke empat penyelenggaraan syawalan budaya.

"Kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi antargrup kesenian di Magelang," katanya.

Selain itu, katanya, pementasan kesenian tradisional ini untuk memberikan hiburan kepada para pemudik dan masyarakat Desa Gondosuli dan sekitarnya.

Ia mengatakan, kegiatan yang berlangsung mulai Sabtu siang hingga malam hari ini melibatkan sekitar 250 seniman, baik penari maupun para penabuh gamelan.

Masyarakat sangat antusias untuk menyaksikan hiburan gratis yang diselenggarakan di halaman bekas SD Gondosuli II tersebut.

-

Arsip Blog

Recent Posts