Tampilkan postingan dengan label Martapura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Martapura. Tampilkan semua postingan

Serunya Festival Beduk di Martapura

Martapura, Kalsel - Lomba Beduk yang digelar Disbudparpora Kabupaten Banjar dan memperebutkan piala bergilir Bank Kalsel Cabang Martapura berlangsung sangat meriah dan sukses di halaman Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Jumat malam (3/6).

Penonton lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Masyarakat Martapura dan sekitarnya begitu antusias menyaksikan dan mendukung para finalis yang berlaga.

Pada babak penyisihan, festival Beduk ini diikuti 31 grup. Namun pada malam grand final hanya enam grup yang berhasil lolos.

Keenam grup yang berhasil lolos dari babak penyisihan dan tampil di Grand Final Festival Beduk se-Kalsel adalah Al Munir dari Tunggul Irang, Darul Faizin dari Murung Keraton, Al Banjari dari Murung Kenanga, Al Muztahid dari Sungai Batang, Al Islah dari Tunggul Murung Kenanga dan An Nasir dari Kampung Melayu.

Grand Final Festival Beduk dihadiri Bupati Banjar H Khalilurrahman beserta Istri, Hj Raudatul Wardiyah, Istri Wakil Bupati Banjar Nur Gita Tiyas Saidi Mansyur, Sekda Banjar H Nasrunsyah, Kodim 1006/Martapura Letkol Andy Martopo, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan H. Hero, Anggota DPRD Banjar H Gt Hasan Aman, Direktur Bank Kalsel Cabang Martapura dan para pejabat SKPD lingkup Pemkab Banjar dan yang lainnya.

Acara Grand Final ditandai dengan pemukulan Beduk secara bersamaan oleh Bupati Banjar dan para pejabat lainnya.

Bupati Banjar dalam sambutannya mengatakan, atas nama Pemerintah Kabupaten Banjar mengucapkan selamat kepada enam peserta yang sudah berhasil maju ke babak final. “Kepada peserta agar berkompetisi dengan baik, sportif dan jangan hanya dilihat dari juara atau tidaknya saja, tetapi festival Beduk ini sebagai sarana menjalin ukhuwah Islamiyah yang menggemakan syiar Islam,” ungkap beliau.

Usai keenam finalis festival Beduk unjuk kebolehan, Bupati Banjar yang akrab disapa Guru Khalil beserta Istri, dan Nur Gita Tiyas Saidi Mansyur memberikan doorprize kepada para penonton.

Guru Khalil memberikan pertanyaan kepada para penonton siapa yang bisa menghapal beberapa surah Alquran yang dibaca pada saat Salat Tarawih. Tampak terlihat banyak penonton yang ingin maju. "Siapa yang hafal dan benar tajwidnya akan mendapatkan satu unit lemari es atau kulkas rumah tangga,” janji beliau.

Sementara itu, Kepala Disbuparpora Kabupaten Banjar H Fauzi Ghani selaku ketua panitia pelaksana mengatakan, maksud dan tujuan pelaksanaan festival Beduk ini adalah dalam rangka menyongsong datangnya Bulan Suci Ramadhan Tahun 1437 H.

Selain itu ajang ini turut melestarikan budaya masyarakat Martapura dalam melaksanakan malam takbiran yang merupakan kegiatan rutin dan sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Martapura serta menginventarisir para pelaku seni budaya, khususnya keahlian seni memukul Beduk,”terangnya.

Setelah melalui tahap penilaian oleh tim juri, Juara Pertama diraih Grup Beduk Al Muztahid dari Sungai Batang, Juara Kedua Grup Beduk Al Banjari dari Murung Kenanga dan Juara Ketiga diraih Grup Beduk Al Munir dari Tunggul Irang. Sedangkan Juara Umum diraih Grup Beduk Al Munir dari Kampung Tunggul Irang, Martapura.

Kemudian Juara Harapan Satu diraih oleh Grup Beduk Al Islah dari Tunggul Murung Kenanga, Juara Harapan Dua An Nasir dari Kampung Melayu dan Juara Harapan Tiga diraih Darul Faizin dari Murung Keraton.

Perkenalkan Kulintang, Tradisi dan Budaya Komering yang Hilang, dengan Pesta Bulan Bagha

Martapura, Sumsel - Tradisi dan budaya Komering yang sudah mulai dilupakan masyarakat perlahan mulai diperkenalkan kembali oleh organisasi adat Jaringan Masyarakat Adat Komering (JAMAK) kepada generasi muda yang muda yang sudah mulai melupakan adat dan budaya Komering.

Ketua JAMAK H Leo Budi Rachmadi SE ketika dikonfirmasi mengaku akan memperkenalkan kembali adat dan budaya nenek moyang Komering yang saat ini perlahan mulai menghilang yang salah satunya adalah ‘pesta bulan bagha’ (Pesta Bulan Purnama) yang akan dilaksanakan pada Selasa (23/2/2016) pukul 19.00 bertempat di rumah limas Pangkusekunyit Kecamatan Martapura.

Puluhan tahun lalu, kata Leo, pesta bulan bagha menjadi kegiatan rutin setiap bulan purnama yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan lokasi berbeda-beda di setiap desa dengan puncak acara setiap selesai melakukan pemanenan.

“Pesta bulan bagha menjadi ajang silaturahmi antar masyarakat kala itu. Di sanalah mouli meranai (muda-mudi) berkumpul dan menunjukkan keahlian mereka dalam berpantun, bernyanyi dan keahlian lainnya. Dahulu kegiatan ini merupakan kegiatan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Sayangnya seiring berjalannya waktu dan masuknya budaya luar, adat dan budaya tersebut mulai menghilang bahkan hampir sirna,” katanya.

Dikatakan Leo, saat ini hanya sebagian masyarakat saja yang mengetahui dan menjadi saksi sejarah dalam pesta bulan bagha tersebut.

Ke depan, kata dia, JAMAK akan berusaha memperkenalkan kembali adat dan Budaya Komering tersebut sehingga kembali melekat dan menjadi salah satu kegiatan masyarakat.

“Selain pesta bulan bagha, dalam acara tersebut juga akan JAMAK akan meloncing 12 Lagu Komering yang sudah berbentuk DVD yang nantinya akan dipasarkan dan diharapkan menjadi lagu yang selalu dikenang dan menjadi kebanggaan masyarakat Komering baik yang ada di OKU Timur maupun yang ada di Perantauan,” katanya.

Pesta bulan bagha dan loncing lagu komering tersebut kata Leo, rencananya akan dihadiri oleh Bupati OKU Timur HM Kholid MD, sejumlah tokoh agama dan masyarakat Komering seperti Ir H syahrial Oesman, H Herman Deru, Eddy Santana, Mularis Djahri, Didi Apriadi, dan Juanda.

Sultan Ingin Promosikan Budaya Banjar

Martapura, Kalsel - Bupati Banjar Sultan H Khairul Saleh dikenal memiliki komitmen yang besar dalam mengembangkan dan mempromosikan budaya serta segala hal yang berkaitan dengan pariwisata di Kalsel. Sebagai bukti, Pemkab Banjar kerap menggelar kegiatan budaya dan pariwisata.

Kegiatan tersebut harus diangkat, tidak hanya ke tingkat nasional tetapi juga internasional. Oleh karena Tim Microsite BPost Group menawarkan kerja sama mengembangkan dan mempromosikan budaya serta pariwisata daerah ini melalui online. Berbagai hal terkait manfaat online disampaikan ketua tim, M Yamani yang disertai Didik Trio Marsidi dan Manajer Iklan Helda Anastasia dalam pertemuan di ruang bupati, Senin (26/1).

Sultan H Khairul Saleh pun sepakat sekarang zamannya online. “Saya senang dan tertarik akan kerja sama ini. Biar pariwisata di Kabupaten Banjar bisa mendunia. Saya rasa hal ini harus segera ditindaklanjuti oleh Dinas Bidaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Banjar,” ujar dia.

Dia berharap kerja sama dengan BPost Group membuat budaya dan kegiatan pariwisata di Kalsel khususnya Kabupaten Banjar makin bergairah. Selanjutnya daerah ini makin dikenal dunia.

Sebelumnya, di hari yang sama, Tim Microsite BPost Group melakukan diksusi dengan jajaran Disbudparpora Kota Banjarbaru. Kadisbudparpora Banjarbaru Lesa Fahriana juga menyatakan keketertarikannya dan mengharapkan hal ini dikerjasamakan. “Saya senang dan tertarik dengan program ini dan akan kami tindaklanjuti serta berharap kerja sama bisa segera terwujud,” harap dia.

Ribuan Koin Kuno dan Keris Berkarat Ditemukan di Sungai Komering

Martapura, Sumsel - Ribuan koin yang diduga berusia ratusan tahun ditemukan Edi dan tiga rekannya di lokasi galian tambang pasir Desa Negeriagung, Kecamatan BP Peliung, ketika menyedot pasir di Aliran Sungai Komering yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Kabupaten OKU Timur, Martapura, Sumatera Selatan.

Penemuan koin kuno seberat 25 kilogram tersebut membuat warga heboh dan berbondong-bondong untuk melihat dan meminta beberapa buah untuk dijadikan sebagai koleksi.

"Ini tidak ada gunanya bagi kami. Lebih berharga pasir dibandingkan koin ini. Namun karena ini terlihat sangat kuno, jadi kami bawa pulang siapa tahu berguna. Dan ternyata memang berguna untuk mengetahui fungsi aliran sungai Komering zaman dahulu," katanya, Rabu (22/10/2014).

Dari tempat yang sama, para penyedot pasir itu juga menemukan keris yang sudah berkarat.

"Keris ini kita temukan tidak lama setelah ditemukan koin kuno itu. Namun kerisnya sudah berkarat, mungkin sudah ratusan tahun usianya," ungkap Edi, pengelola tambang.

Setelah menemukan ribuan koin kuno, giok, dan keris, salah seorang warga juga mengaku menemukan besi buruk berbentuk gembok yang sudah tidak berbentuk.

“Saya menyelam ke dasar sungai untuk mencari kemungkinan ada batu. Di sana saya melihat ada hamparan uang kuno dan satu buah besi buruk berbentuk seperti gembok. Saya tidak mengambilnya, saya biarkan saja berada di dasar sungai,” ungkap Hadira, warga Negeriagung yang mengaku pernah menyelam ke dasar aliran Sungai Komering, tempat ditemukan koin berusia ratusan tahun tersebut.

"Orange Nassau" Diharapkan Jadi Situs Nasional

Martapura, Kalsel - Balai Arkeologi Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mendukung eks Benteng Belanda dan Pertambangan Batubara Orange Nassau di Desa Benteng Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar menjadi situs cagar budaya nasional.

Kepala Balai Arkeologi Banjarmasin Bambang Sakti di Martapura, mengatakan, dukungan itu diberikan setelah pihaknya melihat hasil penelitian tim peneliti cagar budaya yang bekerja di lapangan.

"Kami mendukung saran dan usulan tim peneliti agar cagar budaya Benteng Orange Nassau menjadi situs cagar budaya nasional dan saran tersebut hendaknya ditindaklanjuti Pemkab Banjar," ujarnya.

Ketua tim peneliti cagar budaya Benteng Pengaron Nugroho Noor Susanto pada ekspos hasil penelitian di depan Bupati Banjar Khairul Saleh, Senin (17/2) mengusulkan kelayakan sebagai situs cagar budaya nasional.

"Setelah melakukan penelitian selama dua puluh hari di areal Benteng Orange Nassau dan mempelajari data lapangan, tempat itu layak diusulkan sebagai situs cagar Budaya Nasional," ungkapnya.

Ia mengatakan, saran dan usul kepada pemerintah daerah agar menjadikan situs bersejarah nasional dilatari historis pembangunan tambang dan nilai-nilai nasionalisme masyarakat Banjar.

Dijelaskan, benteng sekaligus eks pertambangan batu bara itu mengandung nilai historis tinggi sehingga pihaknya optimis jika Pemkab Banjar mengusulkan maka didukung kementerian terkait.

"Selain memiliki nilai historis tinggi, berdasarkan sejarah, tempat itu merupakan awal pertama meletusnya Perang Banjar yang dipimpin para pejuang Banjar seperti Pangeran Antasari," ujarnya.

Lestarikan Musik Panting Banjar dengan Lomba

Martapura, Kalsel - Kesultanan Banjar bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Banjar menggelar lomba Musik Panting 2013 se-Kalimantan Selatan.

"Pergelaran musik tradisional Suku Banjar telah berlangsung di ruang terbuka hijau Ratu Zalecha, Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar," kata Koordinator lomba H Fauzi Ghani kepada wartawan di Martapura, Kamis.

Ia menjelaskan kegiatan untuk memeriahkan Milad Kesultanan Banjar ke-509 itu mewarnai berbagai acara lomba, hiburan dan pentas kesenian rakyat lainnya yang digelar selama seminggu, termasuk lomba musik panting yang sejenis gambus khas Banjar itu.

"Selain sebagai wahana kompetisi dan media hiburan tradisional, lomba panting itu merupakan bentuk apresiasi dan kepedulian Kesultanan Banjar terhadap pelestari dan seniman musik panting di Kalsel yang teguh bertahan di tengah gempuran musik-musik modern," katanya.

Lomba tersebut diikuti sebanyak 13 grup musik panting, dari Kabupaten Banjar ada grup Kalalapon, Tungkaran, Fajar Harapan dan Junjungan Naga Pusaka.

Dari Kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah grup Pasak Basimpai, dari Kabupaten Tapin grup Nuansa Rantau, dari Kota Banjarmasin grup Papah Com grup Matahari dan grup Karamunting, sedangkan dari Banjarbaru diwakili oleh grup Ruhui Rahayu dan Kambang Mayang.

Keluar sebagai Juara I adalah grup Ruhuy Rahayu Banjarbaru , Juara II grup Nuansa Rantau dari Kabupaten Tapin, Juara III grup Papah Com dari Banjarmasin, Juara Harapan I grup Pasak Basimpai dari Kandangan, Juara Harapan II grup Matahari, Juara Harapan III grup Junjungan Naga Pusaka dari Kecamatan Gambut.

"Yang sangat membanggakan sekaligus haru yakni grup Fajar Harapan dari Martapura meraih Juara Favorit karena semua pemainnya adalah penyandang tuna netra," katanya.

Adapun Grup Kalalapon mendapat penghargaan sebagai grup penerus musik panting karena kesemua anggotanya masih anak-anak.

Semua grup lomba yang tidak mendapat juara juga mengaku sangat senang, karena panitia tetap memberikan apresiasi dan dana pembinaan.

Berdasarkan catatan, musik panting adalah musik yang didominasi oleh alat musik panting (semacam gambus) yang diiringi suara biola, babun dan gong, dengan lagu-lagu berbahasa khas Banjar, dengan syair-syair yang bernuansa patuah-patuah dan cerita raktar Banjar.

Kesultanan Banjar Pertahankan Aksara Arab Melayu Banjar

Martapura, Kalsel - Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan berupaya mempertahankan aksara Arab Melayu Banjar sebagai langkah melestarikan seni dan budaya yang berkembang di provinsi setempat.

"Kesultanan Banjar mempertahankan aksara Arab Melayu Banjar melalui kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan seni dan budaya," ujar Raja Muda Kesultanan Banjar, Pangeran Khairul Saleh, Selasa.

Ia mengatakan, hal itu di depan peserta Seminar Budaya dengan tema "reinventing" (upaya menemukan kembali) Bahasa Arab Melayu Banjar di auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin.

Hal itu dikemukakannya berkaitan dengan kegiatan seminar yang dilaksanakan dalam rangka peringatan hari lahir atau Milad Kesultanan Banjar ke-508 diikuti ratusa peserta terdiri dari tokoh masyarakat, ulama, mahasiswa, akademisi, budayawan dan seniman.

Menurut Khairul, yang juga Bupati Kabupaten Banjar, seminar sehari itu sangat penting bagi masyarakat Banjar mengingat budaya tulis dan tutur adalah sarana abadinya kejayaan masa lampau kini dan akan datang.

"Aksara Arab Melayu Banjar merupakan akulturasi budaya arab dan melayu dalam harmonisasi adat dan tradisi sehingga pelestariannya harus didukung seluruh komponen masyarakat," katanya.

Dijelaskannya, akulturalisasi itu pula yang kemudian menjiwai perkembangan Suku Banjar sekaligus Kesultanan Banjar, dan salah satu hal paling fenomenal adalah munculnya naskah Kitab Sabilal Muhtadin.

Penulisan naskah Kitab Sabilal Muhtadin itu dilakukan ulama terkenal asal Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sekaligus menandai kegemilangan aksara Arab Melayu Banjar.

Ulama yang berkiprah pada 1122 - 1227 Hijriyah atau 1710 - 1812 Masehi itu menyumbangkan pemikiran intelektual, dan hasil karyanya yang ditulis huruf Arab Melayu tersebut hingga sekarang menjadi kebanggaan masyarakat Banjar.

"Selain dukungan penuh Kesultanan Banjar, kami juga berharap institusi pendidikan agama Islam menjadi gerbang pertahanan dan sentra pengembangan bahasa dan aksara Arab Melayu Banjar," ujar Khairul Saleh.

Rektor IAIN Antasari Banjarmasin, Prof Dr Ahmad Fauzi Aseri MA, merespon positif seminar budaya bertema Reinventing Bahasa Arab Melayu Banjar bekerja sama dengan Kesultanan Banjar.

"Kami berterima kasih kepada keluarga besar Kesultanan Banjar yang mengajak IAIN Antasari turut terlibat dalam upaya menemukan kembali Bahasa Arab Melayu Banjar, salah satunya melalui seminar ini," ujarnya.

Ia mengatakan, keterlibatan IAIN dan perguruan tinggi lainnya, harus dipahami sebagai salah satu tanggung jawab perguruan tinggi dalam upaya menstimulus, mendorong dan mengawal kajian berbasis kearifan lokal.

27 Grup Ikut Festival Nasyid se-Kalsel

Martapura, Kalsel - Sebanyak 27 grup mengikuti festival Nasyid se Provinsi Kalimantan Selatan yang berlangsung di Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar.

Festival Nasyid tersebut dalam kaitan memperingatimilad atau ulang tahun kesultanan Banjar yang ke - 508 tahun 2012, dekikian Kepala Bagian Pemberitaan Humas Kabupaten Banjar, Sugiyanto, Senin.

Festival yang dibuka Bupati Banjar, Pangeran Gusti Khairul Saleh tersebut memperoleh perhatian warga setempat, sekaligus wisatawan yang datang ke kota santri yang dikenal sebagai daerah berjuluk serambi Mekkah dan kawasan objek wisata keagamaan tersebut.

Menurut Bupati yang sekaligus memangku jabatan sebagai Sultan Banjar tersebut, festival Nasyid tingkat Kalsel merupakan sebuah ajang yang cukup tepat dalam menyalurkan bakat dan kemampuan para remaja di Kalsel, apalagi di dalam sya¿ir Nasyid banyak terkandung pesan-pesan religius yang diharapkan dapat menggugah generasi muda untuk selalu ingat kepada Allah SWT.

Ia berpesan generasi muda menghindari perilaku menyimpang yang saat ini kerap melanda remaja di Indonesia, dan sudah menjadi bagian dari permasalahan nasional dan menuntut penanganan segera.

Penomena tersebut juga menjadi sorotan pemerintah kabupaten Banjar, untuk dicarikan solusi terbaik guna penanganan permasalahan penyimpangan perilaku remaja tersebut dan sedini mungkin dapat dicegah.

Salah satu mencegah perilaku negatif tersebut adalah dengan memberikan ruang serta wadah bagi para remaja dalam mengekspresikan segala bakat, kemampuan mereka kearah yang positif dan di dalamnya dapat diselipkan nilai-nilai budaya, agamis, serta nilai-nilai seni yang kedepan dapat membawa mereka dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Dalam festival Nasyid tingkat Kalsel yang keluar sebagai juara I adalah group nasyid The Sun Voice, juara II group nasyid Al-Hawa, juara III group nasyid D'Mo Voice.

Sementara juara harapan I group nasyid Al-Dhurroh, juara II group nasyid Dur Voice, juara III group nasyid Sweet Mufidhah Smatra.

Para juara mendapat hadiah berupa uang pembinaan, piala bergilir dan piala tetap, piagam serta hadiah hiburan lainnya yang diserahkan oleh Ketua Milad Kesultanan Banjar ke 508 pangeran H. Chairiansyah.

-

Arsip Blog

Recent Posts