Tampilkan postingan dengan label Palangkaraya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palangkaraya. Tampilkan semua postingan

Kirab Budaya Pemuda Nusantara "Diwarnai" Hujan Lebat

Palangka Raya, Kalteng - Acara Kirab Budaya Pemuda Nusantara yang dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi di kawasan Bundaran Besar, Kota Palangka Raya, Kamis diwarnai hujan lebat mengguyur ibu kota provinsi Kalimantan Tengah itu.

"Alhamdulillah hujan sudah mulai turun. Jangan khawatir, ini adalah hujan berkah dan sekaligus ini adalah cara tuhan menyambut wakil-wakil terhebat dari 34 provinsi se-tanah air," kata Menpora menyemangati peserta kirab pemuda tersebut.

Imam mengajak peserta pawai serta masyarakat yang menyaksikan menjadikan acara kirab sarana memperkokoh pertatuan dan kesatuan di tengah perbedaan di Indonesia.

"Melalui acara ini, agar rasa ke-Indonesiaan semakin kokoh dan kuat agar tidak mudah terpecah belah, oleh isu-isu murahan, oleh isu politik," katanya.

Gubenur Sugianto Sabran yang mendampingi Menpora juga mengajak pemuda di seluruh Indonesia dan di Kalimantan Tengah khususnya untuk bersatu berperang melawan narkoba.

"Karena narkoba akan merusak masa depan bangsa, merusak generasi muda penerus Indonesia dan terus mengerogoti apa yang kita miliki. Untuk itu, mari bersama-sama kita memberantas narkoba. Pemerintah Kalimantan Tengah pun berkomitmen untuk itu," katanya.

Dia mewacanakan menjadikan acara Kirab Budaya Pemuda sebagai acara rutin Kalimantan Tengah.

Sementara itu, berdasarkan pantauan, hujan yang mengguyur lokasi pelepasan peserta kirab membuat sejumlah warga yang menyaksikan acara mencari tempat berteduh.

Meski demikian, keadaan itu tidak mengendurkan semangat peserta kirab untuk memberikan penampilan terbaiknya. Sejumlah warga lain pun tetap terlihat tidak beranjak dari posisinya meski hujan bertambah lebat.

Begitupun, jumlah warga yang menyaksikan pergelaran tingkat nasional tersebut tidak seramai acara serupa tingkat provinsi seperti pada Festifal Budaya Isen Mulang dan pada acara Festival Palangka Fair.

Warga Palangka Raya pun menyayangkan pergelaran Kirab Budaya Pemuda Nusantara yang diikuti pemuda dari 34 provinsi di Indonesia tersebut sepi pengunjung.

"Saya tidak tahu jika ada acara ini. Saya ke sini diajak teman. Sangat disayangkan acara setingkat nasional ini tidak dipromosikan dengan maksimal. Saya pun merasa promosi yang dilakukan pemerintah kurang karena kita bisa liat penontonnya pun tidak serame ivent lokal kita," katanya.

Dia berharap pemerintah dapat menggencarkan promosi setiap kegiatan yang dilakukan apalagi yang bertaraf nasional.

Warga Padati Halaman Museum Balanga Saksikan Festival Budaya

Palangkaraya, Kalteng - Ratusan warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah , maupun turis asing dan warga Indonesia dari berbagai provinsi, Kamis (19/5/2016) ramai berkumpul di Halaman Museum Balanga, Jalan Tjilik Riwut Palangkaraya.

Kedatangan, mereka ke lokasi tersebut, karena ditempat tersebut digelar berbagai macam kegiatan seni dan budaya lokal Kalimantan Tengah, seperti, kegiatan kesenian dan budaya.

"Ada tradisi maneweng, manetek, main balugu, bagasing dan lainnya, sehingga memang menarik untuk disaksikan, karena kegiatan semacam ini, hanya setahun sekali dilakukan." sebut Munawir, salah satu penonton kegiatan seni dan budaya khas Kalteng di Museum tersebut.

Tarian dan Pakaian Khas Dayak Jadi Magnet Festival Budaya Isen Mulang

Palangkaraya, Kalteng - Suasana kawasan Bundaran Besar Palangkaraya Kalimantan Tengah, Rabu (18/5/2016) semarak.

Ribuan warga Kalimantan Tengah tumplek disepanjang jalan lokasi pawai budaya.

Jalan yang dilalui rombongan karnaval budaya dengan pakaian khas adat dayak Kalteng ini dipenuhi para penonton yang ingin menyaksikan event tahunan yang sudah masuk dalam kalender budaya nasional ini.

Kegiatan pawai budaya tersebut sebagai bagian dari rangkaian kegiatan untuk Festival Budaya Isen Mulang tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

Kegiatan pembukaan tersebut secara resmi dibuka oleh Pj Gubernur Kalimantan Tengah, Hadi Prabowo, Rabu (18/5/2016) siang menjelang sore.

Persiapan pelaksanaan kegiatan tersebut sudah terlihat dengan dibangunnya tenda untuk kegiatan pawai budaya di Kawasan Bundaran Besar Palangkaraya, Selasa (17/5/2016) kemarin.

Festival Budaya Isen Mulang dimulai tanggal 18-21 Mei 2016 di Kota Cantik Palangkaraya.

Kegiatan Festival budaya ini merupakan upaya untuk melestarikan seni dan budaya daerah ini, sehingga tidak pupus ditelan zaman.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan dalam setiap tahunnya di antaranya menggelar berbagai event budaya, seperti Lomba Balogo, Lomba Manewang, Manetek, Manyila Kayu, Lomba Lagu Budaya Karungut, Sepak Sawut, Besei Kambe dan lainnya.

Event budaya tersebut akan dilaksanakan di sejumlah tempat di Palangkaraya, yakni Sungai Kahayan tepatnya di bawah Jembatan Kahayan, Lingkungan Museum Balanga, ‎Lapangan Temanggung Tilung yang akan diikuti oleh 13 Kabupaten dan satu Kota se Kalimantan Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata Kalteng, Yuel Tanggara, mengatajan, perayaan tahun ini dilaksanakan cukup meriah yang dihadiri bukan hanya warga lokal tetapi banyak juga turis asing.

"Kegiatan ini, diikuti kabupaten dan kota di Kalteng mereka mengirimkan perwakilannya untuk memeriahkan festival ini." katanya.

Tari Kolosal Akan Meriahkan Festival Gerhana Matahari di Palangkaraya

Palangkaraya, Kalteng - Tari kolosal yang diikuti oleh 150 penari dan pemusik akan memeriahkan pagelaran Festival Gerhana Matahari Total di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada Maret mendatang. Gerhana Matahari Total sendiri akan berlangsung pada 9 Maret 2016.

Rangkaian kegiatan seni dan budaya tradisional Dayak digelar untuk menarik minat wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Sajian tari kolosal berjudul Nantilang Dahyang Jangkarang Matan Andau itu rencananya akan ditampilkan di Stadion Sanaman Mantikei, Palangkaraya pada Selasa (8/3/2016) malam atau satu hari sebelum gerhana matahari total terjadi di Palangkaraya.

“Nantilang Dahyang Jangkarang Matan Andau artinya menghindarkan segala petaka atau bahaya,” kata Chendana Putra Syaer Sua koreografer tari kolasal itu, di Palangkaraya, Jumat (19/2/2016).

Tarian itu didukung oleh sanggar seni Palangka Hadurut, Tut Wuri Handayani, Tunjung Nyaho, Darung Tingang, Tanjung Riak Bulan, Betang Batarung, Riak Renteng Tingang, Lunuk Ramba, Balanga Tingang, Intan Manuah, Kahanjak Huang, dan Marajaki.

Selain itu, tarian itu juga didukung oleh Komunitas Soul Break, Central Borneo Breakers, Cosplayer Palangkaraya, Kelompok Teater Terapung, Teater Lawang Suri, Teater Antang Batuah, Teater Tunas, Teater Srikandi, dan Institut Tingang Borneo.

Latihan sudah berlangsung 7 kali dan dilaksanakan di Gedung Olah Seni Kota Palangkaraya pada malam hari. Latihan pada Jumat malam berlangsung meriah dan kompak di bawah arahan Chendana dan didampingi Kambang sebagai sutradara dan Ridwansyah sebagai penata musik.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangkaraya Afendie menyampaikan, selain tarian kolosal, ada pula kegiatan parade busana etnik, pagelaran rampai nusantara, dan penampilan perkusi khas Dayak, dan ritual adat menyambut gerhana. Diharapkan ada 1.000 wisatawan yang datang ke Palangkaraya.

Dilintasi Gerhana Matahari, Palangkaraya Siapkan Gelaran Seni Budaya

Palangkaraya, Kalteng - Menyambut fenomena alam Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, bakal mengadakan berbagai gelaran.

Palangkaraya, merupakan salah satu kota yang akan dilintasi gerhana mataharu selain Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan beberapa kota lainnya di Indonesia.

Momen langka ini, dimanfaatkan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kota Palangkaraya dengan menggelar Festival Eclips atau Festival Gerhana .

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palangkaraya, H Affendie, Rabu (3/2/2016) mengatakan, ada beberapa event yang dilaksanakan untuk memeriahkannya, terutama seni dan budaya lokal.

Semuanya terpusat di Lapangan Senaman Mantikai Palangkaraya, ada Fashion Street, Perkusi Penampilan Khas Dayak, Tarian Kolosal, dan lainnya." katanya seraya menegaskan, moment tersebut akan ramai, karena banyak turis asing yang datang ke Palangkaraya untuk menyaksikan kejadian alam tersebut.

Bahasa Bukan Sekadar Indentitas

Palangka Raya, Kalteng - Bahasa sebagai salah satu identitas bangsa patut menjadi perhatian. Pasalnya sebagai sebuah bangsa, Indonesia dituntut memiliki identitas agar memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya.

“Agar berkembang, bahasa jangan hanya sekadar menjadi identitas. Namun juga sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” terang Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Dr Sugiyono saat membuka seminar nasional kewilayahan bahasa dan sastra di Hotel Aquarius, Selasa (24/11) malam.

Menurutnya, bahasa itu juga harusnya dinamis mengikuti perkembangan. Bahasa itu bukan hanya Bahasa Indonesia tapi juga bahasa daerah dan bahasa asing yang ada di Indonesia.

“Kita tidak bisa menyebut bahasa daerah yang menghambat mencerdaskan kehidupan bangsa atau bahasa Inggris memajukan kecerdasan kehidupan bangsa. Itu salah. Yang benar harus ketiga-tiganya,” ucapnya.

Tujuannya, lanjutnya, untuk membentuk insan Indonesia multi lingual. Tentu tidak semua. Sesuai dengan keperluan sosial mereka. “Tidak bisa memaksakan orang di suatu daerah harus menggunakan bahasa Indonesia. Kalo bahasa daerah mereka cukup, ya silahkan saja,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Kalteng Drs Sumadi MHum mengatakan, sesuai dengan tema yang diusung, yakni “ Bahasa dan Sastra Memperkuat Identitas Keindonesiaan serta Memperkukuh Integrasi Bangsa Indonesia” diharapkan dapat menjadi semacam tonggak untuk menegaskan identitas Indonesia. Selain itu juga untuk memperkukuh integrasi bangsa dalam kerangka NKRI.

“Kami percaya, seminar ini akan menjadi pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi seluruh peserta,” ucapnya.

Masyarakat Diajak Palangka Raya Kembangkan Seni Budaya

Palangka Raya, Kalteng - Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya mengimbau dan mengajak masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya lokal.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palangka Raya, Afendie mengatakan, seni dan budaya harus terus dikembangkan, karena bisa menjadi sarana yang dapat mempersatukan masyarakat.

Karena perbedaan seni dan budaya akan memperkaya nilai kebersamaan serta kesatuan kehidupan masyarakat di ibu kota provinsi yang dijuluki Bumi Tambun Bungai ini.

“Ini penting karena wilayah Palangka Raya memiliki latar belakang masyarakat dari berbagai suku sehingga budayanya juga beragam,” kata Afendie, belum lama ini.

Menurut Afendie, adat dan budaya menjadi sarana yang efektif untuk menyatukan seluruh masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang dan daerah agar bisa hidup berdampingan.

“Palangka Raya bukan cuma dihuni suku Dayak atau Banjar saja, tapi banyak suku lain. Kita ini bersaudara, makanya harus saling menghargai satu sama lain. Budaya menjadi salah satu sarana perekat persatuan dan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Masyarakat suku Dayak merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan. Masyarakat dalam kehidupannya cinta damai dan sangat menghargai perbedaan. Mereka yakin bahwa hal serupa juga menjadi kebiasaan semua suku bangsa.

“Berbagai perbedaan yang dimiliki antar suku, jangan sampai dijadikan permasalahan yang justru memicu perpecahan yang akhirnya bisa mengganggu kerukunan hidup berbangsa dan bermasyarakat yang berdomisili di daerah ini,” imbuhnya.

Serunya Karnaval Babukung, Aksi Ribuan Penari Topeng Suku Dayak

Palangkaraya, Kalteng - 111 Peserta yang merupakan pelajar dan masyakarat ikut meramaikan [Karnaval](tari topeng tradisional asli Suku Dayak Tomu "") Babukung yang digelar untuk kali ke-2 ini di Kabupaten Lamandau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Karnaval Babukung ini mendapat animo yang luar biasa dari warga.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Jumat (16/10/2015), ribuan warga Lamandau dan ratusan turis lokal dan asing berkumpul di pusat Kota Nangka Bulik, untuk menyaksikan Karnaval Babukung yang dihelat oleh Pemerintah Kabupaten Lamandau.

Selain menampilkan 12 jenis bukung atau topeng, Karnaval Babukung ini juga menampilkan seni dan budaya khas daerah yang ada di Kabupaten Lamandau, seperti seni budaya Jawa dan Sunda.

Karnaval tahunan ini berhasil masuk Museum Rekor Indonesia, karena menampilkan lebih dari seribu penari.

Babukung merupakan tari topeng tradisional asli Suku Dayak Tomun, Kabupaten Lamandau. Topeng yang digunakan dalam tari ini memiliki cira khas tersendiri dengan wujud hewan tertentu. Tari ini biasanya digelar pada ritual adat kematian Suku Dayak Tomun pada masanya.

Jangan Biarkan Budaya Lokal Pudar

Palangka Raya, Kalteng - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palangka Raya menggelar dialog budaya, Senin (3/8) pagi. Alasannya, untuk meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap budaya lokal, sehingga tidak pudar.

Sebab, seiring perkembangan zaman tak sedikit dari masyarakat Kalteng khususnya Palangka Raya, yang betul-betul mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang ada di daerahnya sendiri.

“Peserta yang hadir merupakan tenaga pendidik. Sementara, narasumbernya merupakan budayawan,” kata Kepala Disdikbud Kota melalui Kabid seni budaya Sonto, di aula pertemuan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota.

Menurutnya, menumbuh kembangkan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat sangat penting dilakukan. Bahkan, kecintaan akan budaya ini harus dimiliki oleh seluruh masyarakat Kalteng.

“Dengan adanya kegiatan ini kami ingin mencoba membahas hal apa saja yang dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya itu sendiri,” jelasnya.

Dikatakannya, tenaga pendidik seperti kesenian daerah dan muatan lokal di tiap tingkatan pendidikan sudah mumpuni, sehingga dalam pengenalan akan nilai-nilai budaya kepada peserta didik sudah dapat diajarkan sejak dini.

“Kita inginnya, wawasan akan budaya tidak hanya dikenal saat dewasa, tapi juga saat generasi kita duduk di bangku sekolah dasar,” urainya.

Sementara, Ketua Panitia Winfried menuturkan, dalam rangka meningkatkan pariwisata melalui seni dan kebudayaan, dirinya berharap agar para peserta yang hadir dalam kegiatan ini dapat memberikan masukkan.

“Peserta harus terlibat aktif memberikan masukan bersama dengan budayawan sebagai narasumber yang hadir, dalam rangka menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya di masyarakat kita,” tuturnya.

Kalteng Gelar Lomba Budaya Peninggalan Nenek Moyang Suku Dayak

Palangka Raya, Kalteng - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah memastikan perlombaan 19 jenis budaya peninggalan nenek moyang suku Dayak yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei 2015.

Berbagai perlombaan tersebut akan langsung dibuka Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang yang dipusatkan di Bundaran Besar Palangka Raya, kata Kepala Disbudpar Kalteng Yuel Tanggara di Palangka Raya, Selasa (12/5).

"Sampai sekarang ini persiapannya sudah, dan tinggal pelaksanaannya. Seluruh peserta di 19 jenis perlombaan yang berasal dari Kabupaten/Kota se Kalteng juga sudah dilaksanakan," tuturnya.

Perlombaan 19 jenis budaya peninggalan nenek moyang suku dayak tersebut pelaksanaannya di pusatkan di Palangka Raya, dan photographer dari berbagai provinsi maupun Negara lain telah memastikan keinginannya mengabadikan ke dalam foto.

Yuel mengatakan, perlombaan jukung hias, Besei Hakalawan, dan jukung tradisional dilaksanakan di Sungai Kahayan, masakan tradisional di betang Eka Tingang Nganderang.

"Kalau perlombaan mangenta, mangaruhi, menyipet, balogo, lawang sekepeng, tarian, pemilihan putra putri pariwisata akan dilaksanakan di Tamanggung Tilung," katanya.

Digelarnya 19 jenis budaya peninggalan nenek moyang suku dayak biasa dikenal Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), rutin dilaksanakan setiap tahun dalam rangka memeringati hari jadi (HUT) provinsi Kalteng.

Dia memastikan penilaian terhadap beberapa perlombaan akan lebih kompetitif dan objektif, serta dilakukan berbagai perbaikan dan penyesuaian, sehingga diharapkan berbagai perlombaan ini memiliki nilai seni dan nuansa Kaltengnya akan lebih kental.

"FBIM mulai menarik perhatian masyarakat luas, terutama para pencinta fotografi, baik di Kalteng, Nasional, bahkan dari luar negeri. Informasinya akan hadir photographer dari Perancis, Australia, dan Amerika," demikian Yuel.

Pengadaan Mobil Dinas di Kalimantan Tengah Bermasalah

Palangkaraya, Kompas - Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Asmawi Agani menugaskan Kepala Badan Pemeriksa Daerah untuk mengusut dugaan penyimpangan pengadaan mobil di delapan kabupaten baru hasil pemekaran. Pengadaan mobil dilakukan tanpa prosedur lelang serta dinilai melakukan pemborosan anggaran.
Setiap kabupaten baru itu memperoleh alokasi dana sebesar Rp 5 miliar dari kabupaten induk dan Rp 850 juta dari pemerintah provinsi (pemprov). Seharusnya dana itu untuk pengadaan infrastruktur perkantoran dan fasilitas pemerintah lainnya. Semua daerah berlomba-lomba membeli mobil, padahal fasilitas jalan yang akan dilewati belum ada.
Hal itu diungkapkan Kepala Biro Humas Pemprov Kalteng Harun Al Rasyid menjawab wartawan, Kamis (10/4), di ruang kerjanya. Belakangan ini protes masyarakat terhadap pengadaan mobil terus mengalir. Reaksi keras masyarakat itu langsung ditanggapi gubernur dengan menurunkan tim pemeriksa provinsi.
"Kami masih menunggu hasil tim pemeriksa ke daerah. Hasil tim itu akan disampaikan ke gubernur, dan jika terbukti terjadi tindak pidana korupsi, masalah itu diproses secara hukum. Begitu ada hasil pemeriksa akan kami sampaikan kepada masyarakat luas," ujar Harun.
Delapan kabupaten pemekaran itu terdiri dari, Kabupaten Katingan, Seruyan, Sukaramara, Lamandau, Gunung Mas, Pulang Pisau, Barito Timur, dan Murung Raya. Di Seruyan, pejabat bupati setempat secara mendadak membeli mobil Nissan jenis Terrano Grandroad tanpa melalui proses tender.
Di Gunung Mas, pejabat setempat membeli mobil jenis sedan Toyota Corona dan Soluna, padahal di daerah itu hanya ada ruas jalan darat sepanjang tiga kilometer.
Di Murung Raya, karena tidak ada jalan darat semua mobil dinas yang dibeli dititipkan di Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara.
Pemantauan dan keterangan yang dihimpun Kompas di Muara Teweh, sejumlah mobil Nissan Terrano Grandroad diparkir di Muara Teweh. Kendaraan dinas itu disimpan di Muara Teweh akibat ruas jalan yang ada di Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya, masih belum memadai.
Awan (46), tokoh warga Murung Raya di Muara Teweh, menyatakan, pengadaan mobil mewah itu sebagai alat politik. Artinya, pejabat bupati berlomba membeli mobil semi mewah kepada pejabat, terutama pimpinan dan anggota DPRD setempat agar dipilih menjadi bupati definitif.
"Ternyata pemekaran kabupaten yang semula bertujuan untuk kemakmuran rakyat, berubah menjadi kemakmuran pejabat. Pejabat di daerah pemekaran baru, misalnya di Murung Raya, sama sekali tidak punya nurani terhadap penderitaan rakyat," ujar Awan. (AJI)

Pemkot Palangkaraya Gelar Festival Bantaran Sungai Kahayan

Palangkaraya, Kalteng - Kawasan bantaran Sungai Kahayan khususnya di Plamboyan Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (29/8/2014) tampak meriah.

Lokasi Dermaga Plamboyan disulap menjadi tempat Festival Budaya Bantaran Sungai Kahayan yang digelar oleh Pemerintah Kota Palangkaraya sejak 29-31 Agustus 2014.

Sejumlah kegiatan budaya lokal yang digelar antara lain, lomba masakan tradisional, mewarnai untuk taman kanak-kanak, melukis ornamen daerah untuk SMP dan SMA, Karungut, Magenta, Malamang, Lawang Sekepeng, Tari Tradisional, lampion Ethnic, Dance Kompetisi, Fashion Show, pelaksanaan digelar di Culture Park Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemko Palangkaraya.

"Kegiatan ini adalah kali kedua yang dilakukan Dinas Pariwisata sebagai upaya melestarikan kebudayaan daerah," ujar Wali Kota Palangkaraya, HM Riban Satia.

Kalteng Promosikan Tarian Dayak ke Australia

Palangkaraya, Kalteng - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mempromosikan empat tarian suku dayak di Festival Indonesia 2013 di Sydney, Australia.
"Keempat tarian tersebut, yakni Manalapas Dahiang Baya, Kinyah Mandau Panggirik Lingau, Wadian Dadas, dan Malauk," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Kalteng, Saidina Aliansyah di Palangkaraya, belum lama ini.
"Promosi tarian adat Dayak yang dipimping Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang tersebut bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya warga negara Australia datang ke Kalteng," tambahnya.
Menurut Saidina, keempat tarian tersebut dibawakan empat orang yang terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki di Sydney, 28 September 2013.
Keempat tarian tersebut sudah dikolaborasikan dengan beberapa jenis tarian yang lainnya dari beberapa daerah aliran sungai (DAS) di Kalteng dan dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya seni yang indah.
"Tarian yang dibawakan pun bukan sekadar seni melainkan memiliki makna dan pesan kuat tentang kehidupan masyarakat Suku Dayak di masa lampau dan terus hidup hingga saat ini," katanya.
Menurut Saidina, Tarian Kinyah Mandau Panggirik Lingu merupakan tarian perang Dayak, menggambarkan kesigapan, ketangkasan, serta ketenangan batiniah para kesatria Dayak dalam menghadapi gangguan kehidupan yang datang.
Sedangkan Tarian Manalapas Dahiang Baya menggambarkan upaya membersihkan atau menolak bala yang membawa hal-hal buruk dalam kehidupan, dan Tarian Wadian Dadas merupakan tarian ritual penyembuhan menggunakan bebunyian gelang di masyarakat suku Dayak Maanyan Kalteng.
"Kalau tarian Malauk berarti menangkap ikan. Tarian ini merupakan sebuah garapan tarian melayu yang menceritakan tentang kegiatan menangkap ikan pada masyarakat pesisir sungai di Kalteng," katanya.

Budaya Kalteng Go Internasional

Palangkaraya, Kalteng - Pemprov Kalimantan Tengah mengklaim kemeriahan pergelaran Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) dalam rangka memeringati hari jadi provinsi tersebut lebih hemat dari 2012.

"Kalau tahun lalu pelaksanaan FBIM menghabiskan anggaran Rp 600 juta maka 2013 Rp 400 juta. Jadi tahun ini sangat hemat," kata Ketua Panitia Pelaksana FBIM yang juga Kepala Dinas Pariwisata Kalteng, Saidina Aliansyah di Palangka Raya, Sabtu (25/5/2013).

Menurut Saidina, pergelaran FBIM diisi serangkaian kegiatan yakni pawai karnaval budaya, jukung atau kapal hias, malamang, panginan tradisional, balagu, sepak sawut atau bola api, mangaruhi, lawang sekepeng, maneweng, manetek, dan manyila kayu.

Selain itu juga ditampilkan mangenta, jukung tradisional, besei kambe atau menaiki perahu melawan arus sungai, habayang, tari tradisional pedalaman maupun pesisir suku dayak, manyipet atau menyumpit, karungut, lagu daerah dan putra putri pariwisata.

"Kalteng Expo, pasar rakyat juga dilaksanakan dengan menghadirkan band Lyla dan artis ibukota. Kembang api sebagai penutup dari rangkaian seluruh kegiatan FBIM juga diselenggarakan," kata Saidina.

Ketua Panitia FBIM memaparkan, peserta tidak hanya dari kabupaten kota se provinsi dengan julukan Bumi Tambun Bungai itu tapi juga ada dari kementerian maupun provinsi lain.

Bahkan, fotografer asing yang awalnya mendaftar 11 orang menjadi 20 ditambah sekitar 200 fotografer dari seluruh Indonesia mendokumentasikan berbagai kegiatan FBIM.

"Target kami FBIM tidak hanya dinikmati masyarakat Kalteng namun juga wisatawan domestik maupun mancanegara. Kami ingin FBIM go internasional," kata Saidina.

Saidina mengapresiasi dan bangga terhadap kontribusi seluruh pemerintah maupun masyarakat yang ikut menyukseskan dan mengamankan serangkaian pergelaran FBIM.

"Semua peserta yang berlomba tidak pernah memprotes keputusan juri dan tetap menghormati pemenang maupun pihak yang kalah. Kami akan melaksanakan FBIM lebih meriah lagi tahun depan," tambah Saidina.

30 Penari Ikuti Pekan Budaya Dayak di Jakarta

Palangkaraya, Kalteng - Pemerintah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengirim sebanyak 30 orang penari untuk mengikuti Pekan Budaya Dayak tahun 2013 yang akan di gelar di Istora Bung Karno, Jakarta, 27 April 2013 mendatang.

Sekdako Palangkaraya, Sanijan S Toembak, Selasa (23/4) mengatakan, pelaksanaan kegiatan pekan budaya dayak tersebut, direncanakan akan di buka langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan akan di hadiri oleh Empat Gubernur se Kalimantan, karena kegiatan tersebut merupakan usulan dari empat gubernur tersebut.

"Kota Palangkaraya akan mengirim sebanyak 30 orang personil, termasuk penari dayak, untuk mengikuti berbagai kegiatan dalam pekan budaya dayak Kalimantan di Jakarta tersebut.Kami berharap dengan adanya pekan budaya dayak yang baru pertama kali di gelar di Jakarta tersebut akan menghilangkan image, bahwa orang Kalimantan itu primitif, sehingga perlu adanya promosi kebudayaan daerah seperti tarian daerah dan pakaian daerah serta motif daerah lainnya," katanya.

Dikatakan dia, tiga puluh personil dari Palangkaraya yang akan dikirim tersebut nantinya sudah melalui seleksi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangkaraya, sehingga tentu mereka yang dikirim merupakan putra dan putri terbaik Palangkaraya yang selama ini, sering mengikuti kegiatan budaya lokal, nasional hingga internasional.

Sesuai undangan yang ada, kegiatan tersebut akan di buka oleh Presiden RI beserta Ibu Hj Ani Yudhoyono yang nantinya ketika berada di lokasi akan di sambut oleh Gubernur Kalteng, selaku Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), juga disambut oleh Gubernur Kalsel, Kalbar dan Kaltim serta Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo di Gelora Bung Karno.

Kegiatan dalam pekan budaya dayak tersebut, berisi tarian massal kolaborasi empat Provinsi di Kalimantan, pawai budaya dengan menggunakan pakaian adat dayak masing-masing motif pada empat Provinsi di Kalimantan, serta pameran kebudayaan yang akan menampilkan kerajinan khas daerah masing-masing provinsi yang ada di Kalimantan, kegiatan tersebut akan digelar selama tiga hari.

Seluruh Pemprov di Kalimantan Gelar Festival Budaya Dayak

Palangkaraya, Kalimantan Tengah - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat akan mengadakan Festival Budaya Dayak. Kegiatan itu dipusatkan di Gelora Bung Karno, Jakarta pada 27-30 April 2013 .

Berdasarkan informasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Kalteng yang diterima Rabu (3/4/2013), festival yang digelar untuk pertama kalinya itu diagendakan berlangsung tahunan. Pada tahun-tahun mendatang, festival direncanakan digelar bergiliran di provinsi-provinsi di Kalimantan.

Acara dilaksanakan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Dewan Adat Dayak (DAD), dan semua pemprov serta pemerintah kabupaten/kota di Kalimantan. Festival kali ini akan dimeriahkan karnaval sepanjang 2,5 kilometer di jalan-jalan raya di Jakarta pada 28 April 2013.

Selain itu, dilaksanakan pergelaran kesenian dan kebudayaan yang diramaikan peragaan busana dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan. Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang mengatakan, festival itu merupakan kegiatan tingkat nasional yang digelar masyarakat Dayak untuk pertama kalinya.

Teras sudah mengirimkan surat kepada para bupati/wali kota di Kalteng yang memberikan respons positif untuk menyatakan keikutsertaan dalam festival. Kegiatan itu merupakan kerjasama penyelenggara acara dan empat provinsi, didukung bantuan pihak ketiga.

"Soal biaya, tidak menjadi masalah. Sudah bisa diatasi. Saya berharap Festival Budaya Dayak tahun 2014 akan diadakan di Kalteng," tuturnya.

Dubes Afsel Kagumi Upacara "Potong Pantan"

Palangka Raya, Kalteng - Duta besar Afrika Selatan Noel N Lehoko mengagumi upacara adat Dayak Kalimantan Tengah, "potong pantan" yang biasa dilakukan dalam menyambut tamu di daerah tersebut.

"Saya kagum ketika menginjakkan kaki di Kalteng yang langsung disambut dengan upacara adat dan tarian tradisional Dayak," kata Lehoko di Palangka Raya, Selasa.

Ia mengaku baru pertama sekali berkunjung Palangka Raya, Kalteng akan tetapi merupakan kedatangan kedua kalinya ke Kalimantan, yakni Balikpapan, Kalimantan Timur.

Lehoko menegaskan, Afrika Selatan peluang meningkatkan kerja sama dengan Indonesia terutama ekspor masih sangat besar, termasuk Provinsi Kalteng.

"Dengan letak posisi negara kami yang sangat strategis, tidak berlebihan apabila ini saya katakan," ucapnya.

Kekaguman juga diutarakan Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri Larso Simbolon yang menyatakan takjub melihat tradisi adat Dayak dalam menyambut tamu.

"Saya sangat apresiasi dengan penyambutan ini, mendapat berkat dengan penyambutan upacara adat yang begitu hangat dan penuh rasa kekeluargaan," katanya.

Dia menyatakan tidak salah pilih, Kalteng menjadi salah satu tempat yang dituju dengan maksud untuk mengidentifikasi potensi dan keunggulan daerah dalam rangka penguatan hubungan ekonomi dan sosial budaya dengan Afrika Selatan.

Lasro mengatakan, paradigma kebijakan politik luar negeri, dari waktu ke waktu selalu dinamis dan menyesuaikan dengan perkembangan global dan kepentingan nasional.

"Kalau masa lalu kepentingan Indonesia sedemikan rupa, sehingga diplomasi kita sering tampil seperti yang dirasakan bersama, sekarang tanpa meninggalkan peran kita, amanat konstitusional ikut berkontribusi" tambahnya.

Secara nyata ada peningkatan politik luar negeri kepada diplomasi ekonomi untuk meningkatkan dan mempertahankan kemajuan ekonomi yang diperjuangkan puluhan tahun.

Kebijakan politik luar negeri Indonesia, tambah Lasro Simblon, menempatkan diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas di masa mendatang.

-

Arsip Blog

Recent Posts