Tampilkan postingan dengan label Pekalongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pekalongan. Tampilkan semua postingan

Wali Kota Pekalongan Targetkan Bebas Korupsi

PEKALONGAN--Pemerintah Kota Pekalongan menargetkan tahun depan tidak terjadi kasus korupsi di wilayahnya. ''Kalau tahun ini ada satu kasus yang diproses ke pengadilan, tahun depan tidak boleh lagi,'' kata Wali Kota HM Basyir Ahmad.

Ditemui Suara Merdeka CyberNews di ruang kerjanya, Kamis (13/12), Wali Kota mengatakan satu kasus yang diproses di pengadilan adalah kasus mantan Kepala Dipenda yang diduga korupsi Rp 36 juta. Namun, dalam persidangan akhirnya Budiyanto dibebaskan. ''Jadi, meski Kota Pekalongan tercatat ada satu kasus yang diproses, namun akhirnya bebas,'' katanya.

Soal Kota Batik bisa menjadi daerah yang korupsinya terendah dibanding dengan kota/kabupaten di Jateng, Basyir menegaskan, karena pengawasan oleh Bawasda begitu ketat. ''Dalam pengawasannya mereka tidak main-main, sehingga dinas/instansi tidak akan main-main untuk melakukan korupsi,'' katanya.

Selain itu, kata dia, upaya untuk mencegah korupsi adalah dengan memecah anggaran ke beberapa bagian. Misalnya, anggaran pembangunan yang besar akan dipecah-pecah sehingga tidak lebih dari Rp 2 miliar, sehingga pelaksana anggaran tidak bisa menggunakan uang itu untuk kepentingan diri sendiri. ''Minimal, uang yang dikorupsi sangat kecil,'' katanya.

Selain itu, penggunaan anggaran untuk masyarakat sekarang, sebagian diserahkan di tingkat kelurahan untuk pembangunan di wilayahnya. Dengan penggunaan dana seperti itu, ternyata mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebab, dengan dana itu, tidak akan ada korupsi karena pengawasan oleh masyarakat sangat ketat. Justru sebaliknya, dengan dana yang ada, masyarakat mengadakan swadaya untuk membangun daerahnya dengan dana dari pemerintah.

Selain itu, pihaknya juga terus menekankan kepada pejabat di wilayahnya untuk menghindari korupsi. Sebab, jika penyimpangan itu dilakukan, maka sanksinya sangat berat. Selain penurunan pangkat/golongan juga bisa dipecat dari PNS. Untuk itu, maka pada tahun 2008, dia akan menerapkan penggunaan anggaran berbasis kinerja. Maksudnya, pejabat akan ditanyakan hasil kerjanya dan bukan sekedar menghabiskan anggaran. ( trias purwadi/cn05 )

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 13 Desember 2007

Menteri Koperasi: Pekan Batik Nusantara Memperkokoh NKRI

Pekalongan, Jateng - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga membuka secara resmi Pekan Batik Nusantara (PBN) 2016 yang digelar Pemkot Pekalongan di kawasan budaya Jetayu, Selasa (4/10).

Dalam sambutannya, Menkop mengapresiasi perhelatan PBN, karena selain memberikan tempat bagi para pengrajin batik untuk memperkenalkan produknya, PBN juga ikut berperan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kalau pameran-pameran semacam PBN semakin sering digelar, menurut dia, maka semakin bagus.

“Ini bukan berlebihan, diplomasi batik luar biasa untuk memperkokoh NKRI. Siapa cinta NKRI dia pakai batik, meski batik ini berakar dari budaya Jawa tapi sekarang semangat nasionalisme dalam batik luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke semua pakai batik dan acara seperti ini memang perlu bukan saja di Pekalongan tapi di tempat-tempat lain,” katanya.

Adanya PBN, menurut Menkop juga dapat meningkatkan penghasilan para pelaku UKM dari seluruh Indonesia. Batik yang memang sudah dikenal sebagai warisan budaya asli Indonesia, akan lebih dikenal lagi dan dicintai masyarakat.

Dampaknya, pemasaran produk batik akan meningkat. Maka bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan para pelaku UKM utamanya di bidang batik. “Saya juga berharap agar batik terus digaungkan di seluruh daerah Indonesia sebagai warisan budaya asli Indonesia untuk dunia,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Puspayoga juga menyerahkan bantuan untuk sejumlah program strategis yakni Nomor Induk Koperasi (NIK) diantaranya kepada Koperasi Karyawan Taspen, KSP Tinggal Landas Kencana Pekalongan Utara, Sertifikat Hak Cipta kepada tiga UKM seni rupa dan seni motif, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, BNI, dan Bank Mandiri kepada enam penerima.

Sementara, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan dirinya siap menjadi marketing untuk mempromosikan batik. Dia bahkan rela diibaratkan menjadi ‘manekin’ yang mengenakan kain-kain batik produksi para pengrajin batik di Jawa Tengah.

“Saya mau jadi marketer untuk mereka. Misalnya saya berkunjung ke suatu tempat, kemudian berhenti, dan membeli batik selanjutnya batik itu saya pakai. Nanti kalau media meliput, memberitakan, akhirnya banyak orang pada menanyakan ke saya, itu batik dari siapa, buatan mana. Saat itulah sebenarnya promosi terjadi yang selanjutnya bisa berlanjut ke transaksi batik,” ungkapnya.

Ganjar menambahkan, dirinya ingin pengrajin dan pengusaha batik tidak hanya menjual secara manual akan tetapi bisa menggunakan media sosial. “Sekarang zamannya sudah serba online. Jadi pengrajin maupun pengusaha batik harus bisa mengikuti tren yang ada dan mengembangkan berbagai cara pemasarannya,” imbuhnya.

Pembukaan PBN 2016 di Kota Pekalongan kemarin dihadiri sejumlah tokoh penting. Selain dihadiri Menkop dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, hadir pula Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI (Bekraf) Triawan Munaf, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Wakil Ketua Kadin Pusat Zainal Bintang, Danrem 071/Wijaya Kusuma Kolonel Suhardi.

Hadir pula sejumlah duta besar negara-negara sahabat, diantaranya duta besar Filipina, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, dan Korea. Para tamu undangan ini didampingi jajaran Pemkot Pekalongan dan FKPD Kota Pekalongan.

Pembukaan PBN ditandai dengan kegiatan mewarnai kain batik motif Buketan yang merupakan salah satu motif asli Kota Pekalongan, oleh Menkop UKM, Kepala Bekraf, Gubernur Jateng, Kapolda Jateng, Walikota, dan sejumlah tokoh lainnya. Acara diisi pula dengan penyerahan secara simbolis pinjaman KUR dari perbankan kepada kalangan UKM.

Usai pembukaan, Menkop dan UKM beserta tamu undangan dan pejabat lainnya menggambar batik bersama-sama di depan Museum Batik. Para tamu undangan selanjutnya meninjau stan-stan PBN di dalam Gor Jetayu.

PBN 2016 di Kota Pekalongan ini berlangsung mulai 4 hingga 9 Oktober mendatang. Ada beragam rangkaian kegiatan serta pameran dalam PBN ini. Antara lain pameran batik di Gor Jetayu yang diikuti sekitar 160 stan, serta festival kuliner nusantara.

Ada pula beragam hiburan mulai dari karnaval hingga pentas seni tradisional dan kontemporer, ada fashion show batik, berbagai seminar, talkshow, karnaval kostum batik, sampai teatrikal ‘batik on the street’.

Meriahnya Malam Budaya HUT ke-110 Kota Pekalongan

Pekalongan, Jateng - Berbagai kesenian budaya yang sudah lama tak terdengar, kembali ditampilkan dalam Malam Budaya HUT ke 110 Kota Pekalongan, Minggu (3/4). Mulai dari kesenian Sintren, Toa Kok Tui hingga Suma Budaya, tampil bergantian menghibur masyarakat malam itu.

Tak hanya kesenian dan budaya yang ditampilkan, kebiasaan khas nelayan pantura yang masih sering dilakukan yaitu mandaran, juga digelar di penghujung pertujukkan malam budaya tersebut. Dengan lauk ikan, dan disajikan menggunakan penampan, sejumlah pejabat seperti Wakil Walikota HM Saelany Mahfudz dan jajaran kepala dinas ikut menikmati mandaran dalam satu nampan.

Panitia Penyelenggara Malam Budaya, Suryono mengatakan, ditampilkannya berbagai macam kesenian dan budaya tradisional malam itu bertujuan untuk mengembalikan pentas budaya tradisional yang sudah lama menghilang. “Pekalongan sebenarnya memiliki budaya tradisional yang sangat bagus, dan berkembang di masyarakat. Namun ada yang hampir punah, salah satunya Sintren,” tutur dia.

Karenanya, malam hari itu Sintren ditampilkan dalam panggung yang besar agar dapat kembali mengingatkan masyarakat akan kesenian, dan budaya khas Pekalongan yang sejak dulu sudah eksis. “Dengan begitu, masyarakat kembali ingat indahnya kesenian Sintren. Harapannya pemerintah akhirnya juga dapat memberi porsi untuk mengapresiasi kesenian dan budaya tradisional seperti ini dengan porsi yang sama dengan kesenian lainnya,” tambah dia.

Suryono mengaku prihatin ketika melihat kelompok Sintren yang bermain malam itu, ternyata pemainnya sudah berumur tua. Lantas, berakibat pada skil bermain mereka.

“Ini karena tidak adanya regenerasi, sebagai dampak tidak adanya perhatian terhadap kesenian dan budaya tradisional. Sehingga masyarakat lupa dengan mereka,” bebernya.

Sementara mengenai mandaran, Suryono mengaku ingin mengajak masyarakat untuk bersama menikmati kebiasaan mewujudkan syukur yang biasa dilakukan nelayan. Di kalangan nelayan, mandaran dilakukan setelah pulang dari melaut. Ikan segar yang baru saja ditangkap, disisihkan sebagian untuk dimasak bersama dan disajikan bersama-sama untuk merasakan hasil kerja mereka.

“Disajikan dalam satu nampan, kemudian dimakan bersama. Ini perwujudan kebersamaan dan rasa syukur. Tadi malam, kami menyiapkan sebanyak 60 nampan yang bisa untuk sekitar 300 orang,” kata dia.

Sementara itu, Walikota Pekalongan, A Alf Arslan Djunaid dalam sambutannya menyatakan dukungannya terhadap upaya mengembalikan kesenian dan budaya tradisional yang sudah lama hilang. “Kami mengapresiasi kegiatan malam hari ini yang menampilkan kesenian dan budaya tradisional. Sehingga mengingatkan masyarakat akan keberadaan kesenian dan budaya,” kata Walikota.

Kedepan, Alex juga siap untuk memberikan porsi atau ruang bagi kesenian dan budaya tradisional yang lebih banyak lagi. Sehingga keberadaanya yang selama ini terancam punah, bisa bangkit kembali. “Kami siap mendukung agar kesenian dan budaya seperti ini kembali eksis,” pungkasnya.

Pemkot Angkat Budaya Asli Pekalongan

Pekalongan, Jateng - Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan berkomitmen mengangkat budaya asli Kota Pekalongan. Pemkot Pekalongan akan memberikan ruang pentas dan apresiasi seni budaya untuk mengangkat dan melestarikan budaya asli Kota Pekalongan. Hal ini disampaikan Wali Kota Pekalongan Achmad Alf Arslan Djunaid pada acara Silaturahmi Budayawan dan Seniman se-Kota Pekalongan bertajuk ”Pekalongan Berbudaya” di Galeri batik dan kafe Garuda Madong Kencana (GMK), Minggu (28/2) malam.

Menurut dia, semangat melestarikan budaya asli Kota Pekalongan sudah disinergikan dengan visi misi wali kota dan wakil wali kota Pekalongan. Sehingga budaya-budaya asli Pekalongan akan terus diangkat. ”Semua sudah tercover dalam visimisi kami. Akan terus kami dukung tentunya dan dengan berlandaskan religius pastinya,” terangnya.

Alex, sapaan Wali Kota tersebut, mengatakan, Pemkot Pekalongan akan mendukung dan mengakomodir berbagai pentas budaya. Bahkan, lanjut dia, Pemkot Pekalongan tengah memikirkan pembangunan gedung kesenian. ”Sedang dipikirkan lokasinya. DPU sedang membangun gedung baru di GOR Jetayu. Nanti akan ditanyakan realisasi dan percepatan pembangunan gedung tersebut. Apakah nanti kegiatan budaya akan dipusatkan di sana,” sambungnya.

Acara tersebut diselenggarakan Forum Rakyat Pekalongan Bersatu (FRPB). Ketua FRPB, Eko Priono mengatakan, sudah saatnya Kota Pekalongan berkomitmen bersama dalam meningkatkan semangat dalam menggali budaya-budaya asli Kota Pekalongan. Sebab, menurut dia, salah satu kekayaan Kota Pekalongan adalah budaya yang sangat beragam.

”Ragam budaya kita sebenarnya sangat banyak. Sebab, Kota Pekalongan dulu merupakan kota transit sehingga ragam budaya terus bermunculan dan sangat kompleks sekali. Tapi itu semua perlahan terkikis,” kata Eko.

Wakil Wali Kota Mochammad Saelany Machfudz membacakan puisi karyanya berjudul ”Senandung Kali Loji” pada acara tersebut. Acara yang dimeriahkan dengan berbagai tarian dari Kota Pekalongan dihadiri budayawan dan seniman di Kota Pekalongan. Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo juga hadir pada acara tersebut.

Warga Panjang Wetan Gelar Kirab Budaya Gunungan Ikan

Pekalongan, Jateng - Untuk pertama kalinya, warga Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara menggelar kirab budaya gunungan ikan, Sabtu (24/10) sore. Kegiatan ini diprakarsai oleh Remaja Pecinta Budaya Panjang Wetan ini berlangsung cukup meriah, diikuti ribuan warga.

Warga Panjang Wetan, secara bergotong royong membuat sebuah gunungan yang terbuat dari 80 kilogram ikan. Sekitar 3.000 ekor ikan berbagai jenis, baik ikan basah maupun ikan kering yang sudah digoreng, dibentuk menjadi gunungan. Selanjutnya, gunungan ini dikirab oleh ribuan warga bersama berbagai komunitas budaya dari beragam etnis. Acara ini dihadiri pula oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya, dan unsur Muspika setempat.

Acara kirab dimulai dari depan Panti Asuhan Wisma Rini, di Jalan WR Supratman gang 10. Lalu, menyusuri jalan WR Supratman ke utara, dan finish di Kantor Kelurahan Panjang Wetan. Sesampainya di depan kantor kelurahan, gunungan ikan tersebut terlebih dulu didoakan, selanjutnya menjadi rebutan oleh warga yang hadir.

Kegiatan kirab dimeriahkan oleh berbagai komunitas dan elemen masyarakat. Antara lain, tim Paskibra SMAN 2 Pekalongan, beberapa anggota perguruan pencak silat, kesenian barongsai, para pecinta tosan aji yang tergabung alam Paguyuban Kendali Rangah Pekalongan, dan himpunan pedagang ikan Kota Pekalongan.

Terpantau pula berbagai komunitas budaya lainnya ikut dalam kirab tersebut, antara lain kelompok kesenian angklung Garpu Cindai dari Banyurip Ageng Pekalongan Selatan, serta penampilan para punakawan dari seniman Wapress Kota Pekalongan, dan pawai kendaraan hias yang berbentuk ikan.

Selain kirab gunungan ikan, kegiatan dirangkai pula dengan santunan anak yatim piatu. Lalu, malam harinya, diselenggarakan pentas seni tari sintren dan pagelaran wayang kulit ‘Wayang Kampung Sebelah’ oleh dalang Ki Jlinteng dari Klaten dengan tema ‘Mawas Diri Menakar Berani’.

Lurah Panjang Wetan, NA Ihsan mengatakan bahwa kegiatan yang baru pertama kalinya digelar di Panjang Wetan itu diselenggarakan dalam rangka memeriahkan tahun baru Islam 1437 Hijriyah. Sekaligus untuk ‘nguri-uri’ budaya Jawa.

“Yang dikirab adalah gunungan ikan, karena daerah Panjang Wetan identik sebagai penghasil ikan. Masyarakatnya sebagian besar nelayan,” ungkapnya.

Dia berharap, kegiatan tersebut bisa terselenggara rutin setahun sekali setiap bulan Muharram, dan menjadi ikon untuk Kelurahan Panjang Wetan maupun Kota Pekalongan. “Semoga bisa menambah ikon Kota Pekalongan. Supaya warga mengetahui, tiap tahunnya, kalau pas Syawalan di Krapyak kan ada pemotongan lopis, nah kalau bulan Muharram atau bulan Sura, di sini ada kirab gunungan ikan,” tuturnya.

Ketua Panitia, Hari Kusuma, mengaku senang dengan sambutan antusias masyarakat dalam kegiatan tersebut. “Meskipun ada satu kegiatan yang batal terselenggara yakni sepeda santai pada malam hari karena kurangnya persiapan, namun acara berlangsung meriah. Terima kasih atas partisipasi semua pihak yang telah mendukung rangkaian kegiatan ini bisa terselenggara,” ungkapnya.

Hari juga menyampaikan bahwa salah satu maksud diselenggarakannya kirab gunungan ikan, yang dirangkai dengan santunan anak yatim piatu, pentas tari sintren, dan pagelaran wayang kulit, itu adalah untuk melestarikan budaya. “Untuk nguri-uri budaya. Budaya tak lepas dari agama, dan agama tak lepas dari budaya,” ungkapnya.

Diharapkan, tahun-tahun mendatang, kegiatan tersebut bisa kembali diselenggarakan, dan bisa lebih meriah. Harapannya, dengan terselenggaranya kegiatan itu, bisa mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

“Panjang Wetan dulu pernah jaya ikannya. Harapannya bisa bangkit lagi, semoga kegiatan ini bisa terselenggara secara rutin tiap tahun dan bisa menjadi salah satu ikon budaya maupun wisata di Kota Pekalongan,” imbuh dia.

Pekan Batik Internasional di Pekalongan Tonjolkan Budaya Nusantara

Pekalongan, Jateng - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, bekerjasama dengan seniman Pekalongan Jlam prang Karnival akan mengangkat tema "Pelangi Budaya Nusantara" pada kegiatan festival Pekan Batik Internasional di Pekalongan, 30 Juli hingga 2 Agustus 2015.

Ketua Pekalongan Jlamprang Karnival, Eka Wahyu Prabowo di Pekalongan, Senin (27/07/2015), mengatakan bahwa tema "Pelangi Budaya Nusantara" ini melambangkan keberagaman etnis dan budaya masyarakat Kota Pekalongan.

"Selain itu, tema pelangi ini mengandung arti bahwa batik pesisiran Pekalongan yang memiliki warna-warna cerah seperti pelangi," katanya.

Ia mengatakan kegiatan tahunan ini merupakan salah satu upaya masyarakat setempat dalam menjaga eksistensi batik Kota Pekalongan.

"Oleh karena itu, kami berharap pada masyarakat dapat turut serta mengikuti kegiatan sebagai bentuk apresiasi terhadap batik pada festival PBI,"katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan, Budi Wibowo mengatakan pemkot akan menggandeng sejumlah komunitas berpartisipasi menyukseskan agenda Pekan Batik Internasional yang akan digelar mulai 30 Juli 2015.

"Para komunitas ini nantinya akan dilibatkan langsung pada agenda karnaval yang diadakan 2 Agustus mendatang," katanya.

Menurut dia, komunitas ini berperan dalam mengamankan kegiatan karnaval, seperti menjadi barikade.

"Sekitar 15 komunitas yang menyatakan bersedia menjadi relawan pada agenda PBI 2015 yang siap menyukseskan kegiatan karnaval," katanya.

Pusat Informasi Budaya Batik Didirikan di Pekalongan

Pekalongan, Jateng - Basyir Achmad Wali Kota Pekalongan di Pekalongan, Jumat (01/05/2015), menyatakan PIBB akan dibangun di kompleks Gedung Olah Raga (GOR) Jetayu.

“Kami akan geser keperuntukan GOR Jetayu menjadi kawasan budaya dan kesenian daerah. Melaui ‘master plan’ yang dibuat Badan Pengkajian dan Penerapan Tehnologi, rencanannya GOR Jetayu akan dibuat menjadi PIBB,” tegasnya.

Basyir Achmad mengatakan fungsi gedung yang akan dibangun lebih diperuntukkan sebagae arena pentas kesenian dan kebudayaan meskipun pada tempat tersebut akan dibangun lapangan tenis di dalam ruangan.

“Kami akan memfokuskan kawasan Jalan Jatayu sebagai PIBB, apalagi di sekitar lokasi itu juga sudah ada Museum Batik Pekalongan,” kata Basyir Achmad.

Basyir Achmad menjelaskan melalui Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPR) Irwan Guswan, Pemerintah Kota sudah mengajukan proposal rencana pembangunan gedung tersebut sekitar Rp. 9 miliar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pada tahun 2015, melaui APBD, pemkot menyediakan dana sekitar Rp. 3 miliar untuk pembangunan gedung di tahap awal.

“Kami berharap pembangunan PIBB ini, nantinya bisa dilanjutkan oleh wali kota periode mendatang karena sebentar lagi juga akan dilaksanakan pilkada,” kata Basyir Achmad.

Basyir Achmad menjelaskan pemkot akan mencarikan lahan penganti khusus untuk pembangunan pusat kegiatan olah raga sehingga ke depan prestasi olahraga dan kesenian tetap menjadi perhatian utama dan justru akan membuahkan hasil yang lebih baik.

“Sebelum purna tugas, kami berjanji akan mencarikan lahan pengganti GOR Jetayu yang akan dibangun untuk PIBB,” tegas Basyir Achmad.

Keberlangsungan antara kebudyaan, kesenian dan olahraga mempunyai satu tujuan yang tidak jauh berbeda. Semua sama-sama untuk memajukan kota Pekalongan. Pemuda-pemuda harus berprestasi dalam bidang olahraga dengan didukung penyediaan fasilitas yang memadai, begitu juga budaya dan kesenian harus dilestarikan bersama-sama para pemuda untuk mengangkat kearifan local serta menunjukkan kepada dunia bahwa pekalongan mempunyai ragam kesenian dan budaya yang luar biasa hebatnya.

Kirab Budaya dan Istighotsah Buka HUT Kota Pekalongan ke-109

Pekalongan, Jateng - Kirab budaya dan istighotsah, menjadi rangkaian pembuka dalam peringatan HUT Kota Pekalongan ke 109, Rabu (1/4). Rombongan Walikota dan Wakil Walikota beserta jajaran pejabat Pemkot, anggota DPRD dan tokoh masyarakat, dikirab bersama sejumlah kesenian dan dua gunungan makanan beserta buah-buahan. Kirab dimulai dari halaman SMPN 1 hingga berakhir di Lapangan Jetayu.

Sampai di Lapangan Jetayu, acara dilanjutkan dengan membaca istighotsah bersama dengan masyarakat, ulama, tokoh masyarakat, jajaran pegawai dan guru TPQ.

Istighotsah juga dihadiri oleh Ketua Komite Nasional Indonesia Unesco (KNIU) Arif Rahman, dan perwakilan dari Kementrian Pariwisata.

Walikota Pekalongan, M Basyir Ahmad dalam sambutannya mengatakan, istighotsah menjadi satu acara wajib dalam setiap peringatan HUT Kota Pekalongan.

Selain istighosah, Basyir menyebutkan, dalam peringatan HUT kali ini, ada banyak rangkaian kegiatan, berbeda dengan peringatan HUT di tahun sebelumnya.

“Karena tahun ini, kita sekaligus menerima penghargaan Kota Kreatif. Jadi peringatan HUT tidak hanya digelar satu hari melainkan sampai lima hari, termasuk adanya pameran kreatif,” tuturnya.

Tapi Walikota menegaskan, seluruh biaya dalam penyelenggaraan acara merupakan partisipasi dari masyarakat. “Jadi APBD hanya untuk istighotsah saja, acara hari ini lainnya ngayubagyo semua,” katanya.

Kedepan Walkot berharap, siapapun yang memimpin Kota Pekalongan bisa menggelar event lebih besar dari yang sekarang . Selama masa pemerintahannya, dikatakan Basyir setiap tahun ada tiga event besar. “Sebagai Kota Kreatif, kita harus mempertahankan predikat itu dengan berbagai event, dan juga pengembangan industri kreatif,” imbuhnya.

Harapan yang sama disampaikan Ketua DPRD Kota Pekalongan, Balgis Diab. Usai mendapat predikat Kota Kreatif dirinya ingin masyarakat bisa memunculkan ide-ide kreatif demi mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. “Dengan adanya pengakuan itu, masyarakat harus mampu terus menggali ide kreatif dan bisa berinovasi di semua sektor. Pemerintah siap membantu dan memfasilitasi,” harapnya.

Dengan predikat sebagai Kota Kreatif bidang kerajinan dan kesenian rakyat, masyarakat harus terus berkreasi. Karena menurutnya, penghargaan tersebut bisa dicabut, dan yang menentukan adalah masyarakat. “Jadi harus terus berkreasi. Karena yang menentukan dicabut atau tidak adalah masyarakat,” tandasnya.

Pekalongan Gelar "Batik Run and Color 2015"

Pekalongan - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, bekerja sama dengan sejumlah pelaku ekonomi kreatif akan menggelar kegiatan bertajuk Batik Run and Color Fest 2015.

Panitia Batik Run and Color Fest 2015, Ganish di Pekalongan, Rabu, mengatakan bahwa pada kegiatan yang akan digelar 26 April mendatang ini, pemkot bekerja sama dengan CV Anugerah Akbar Jaya dan Risa Kreativindo.

"Kegiatan Batik Run and Color Fest 2015 selain bertujuan mempromosikan potensi kerajinan batik juga dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-109 Kota Pekalongan," katanya.

Menurut dia, kegiatan Batik Run and Color Fest 2015 ditargetkan akan melibatkan sedikitnya 5.000 peserta dari unsur pelajar, mahasiswa, dan masyarakat setempat.

"Untuk pendaftaran kegiatan Batik Run and Color Fest akan dibuka mulai 15 Maret 2015. Harga tiket pendaftaran sebesar Rp50 ribu untuk pelajar dan Rp75 ribu (mahasiswa dan masyarakat)," katanya.

Panitia Batik Run and Color Fest kata dia, mmasih melakukan koordinasi dengan pihak lain terkait penempatan untuk memproleh tiket pada lima titik drop box.

Ia mengatakan para peserta akan mendapatkan kaos, bandana, nomor peserta, dan bubuk warna yang akan ditaburkan pada saat peserta finish di Lapangan Jetayu Kota Pekalongan.

"Kami berharap kegiatan Batik Run and Color Fest 2015 ini akan meriah dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat," katanya.

Tujuh Mantan Anggota DPRD Pekalongan Diperiksa Kejaksaan

Pekalongan--Empat mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalongan periode 1999-2004 dan Pimpinan PT Asuransi Bumi Putera Cabang Purwokerto Yasmin, Rabu (22/9), dimintai keterangan oleh Kejaksaan Negeri Kajen, Pekalongan, dalam kasus dugaan duplikasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pekalongan. Pada Selasa (21/9), tiga anggota mantan anggota DPRD Pekalongan menjalani proses serupa.

Keempat mantan anggota DPRD itu adalah A Bahar, Sa'dun Zein, Zaebnudin Toyib dan Rasmadi. Mereka datang pukul 09.00 WIB dan langsung memasuki ruangan pemeriksaan, begitu pula Pimpinan PT Asuransi Bumi Putera Cabang Purwokerto Yasmin. Kelima orang itu dimintai keterangan oleh lima petugas kejaksaan yakni Kasi Intel Slamet Hariyanto, Kasi Pidana Khusus Retno H Iriani, Kasi Pidana Umum Teguh, Kasi Perdata dan Tata Usaha Danang SK dan Jaksa Fungsional Iren Putri.

Sehari sebelumnya, empat mantan anggota DPRD itu masing-masing Suratman, Basuki Rachmat, Rofii Nahrowi, dan M Rif'ai memenuhi panggilan Kejaksaan untuk dimintai keterangan dalam kasus yang sama. Namun karena salah satu petugas pemeriksa sedang tidak ada di tempat, maka baru tiga orang yang diperiksa yakni Suratman, Rofii Nahrowi, dan M Rif'ai.

Kepala Kejaksaan Negeri Kajen Hadi Purwoto mengatakan, ketiganya dimintai keterangan sehubungan dengan kasus dugaan penyimpangan penggunaan anggaran asuransi dalam bentuk duplikasi APBD.

Dugaan ini pertama kali diungkap Lembaga Forum Lintas Pelaku (FLP) Pekalongan. "Kami juga sudah meminta keterangan Sekretaris Dewan dan Pimpinan PT Asuransi Bumi Putera Cabang Purwokerto sebagai perusahaan yang terkait dengan masalah asuransi," katanya.

Kajen menyatakan, para mantan anggota Dewan dipanggil Kejaksaan untuk klarifikasi data sesuai temuan yang dilaporkan FLP. Namun Kajari belum bersedia mengungkap hasil sementara yang diperoleh Kejaksaan mengenai kasus ini. "Apakah ada indikasi korupsi atau tidak, tunggu dulu proses ini hingga seluruh mantan anggota Dewan kami panggil," ujarnya.

Tujuh orang yang diperiksa itu, jelas Kajen, baru proses awal pengusutan kasus ini. "Rencananya kami akan memanggil seluruh mantan anggota DPRD dan dimintai keterangan mereka dalam dua tahap, mulai dengan 23 orang dan kami lakukan secara maraton," tegasnya.

Sumber : TempoInteraktif.com : 22 September 2004

Selamat! Pekalongan Raih Predikat Kota Kreatif dari UNESCO

Pekalongan, Jateng - Pekalongan, kota yang terkenal dengan kerajinan batiknya, dinobatkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Kota Kreatif Dunia untuk kategori Kerajinan dan Kesenian Rakyat.

Walikota Pekalongan, Basyir Ahmad, mengatakan bahwa keberhasilan Pekalongan dalam menyandang predikat ini telah diumumkan di situs resmi UNESCO.

"Saya telah melihatnya di situs resmi UNESCO bahwa Pekalongan telah diakui sebagai anggota Jaringan Kota Kreatif Dunia. Kami benar-benar mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang luar biasa ini, kami senang sekali memperoleh pengakuan internasional," kata Basyir Ahmad.

Seperti yang dilansir dari Indonesia.Travel, Jumat (5/12/2014), pekalongan menjadi kota pertama di Indonesia yang terdaftar sebagai anggota Jaringan Kota Kreatif Dunia. Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, menunjuk 28 kota dari 19 negara sebagai anggota baru Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO sehingga kini total jumlah anggota sebanyak 69 kota.

Program Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO diluncurkan pada 2004 dan kini telah menginjak usia yang kesepuluh. Jaringan ini bertujuan untuk mendorong kerjasama internasional antar kota dalam bidang kreatifitas, sehingga nantinya dapat berkontribusi dalam pembangunan kota berkelanjutan, kesejahteraan sosial dan meningkatkan pengaruh budaya dalam dunia.

"Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO adalah alat yang luar biasa untuk kerjasama, ini mencerminkan komitmen kami dalam mendukung potensi yang kreatif dan inovatif demi pembangunan berkelanjutan," jelas Irina Bokova.

Jaringan kreatif yang ditetapkan meliputi tujuh tema: kerajinan dan kesenian, desain, film, gastronomi, sastra, media seni, serta musik. Hal ini dirancang untuk meningkatkan kerjasama internasional, serta berbagi pengalaman dan sumber daya dalam rangka mempromosikan pembangunan daerah.

Dengan bergabung dalam jaringan, kota yang terpilih akan berkomitmen untuk bekerjasama serta membangun kemitraan dalam mempromosikan industri kreativitas dan budaya, juga berbagi cara praktek yang terbaik untuk memperkuat kehidupan budaya serta mengintegrasikan pembangunan ekonomi dan sosial.

Pekalongan sendiri merupakan salah satu kota di pesisir pantai utara Provinsi Jawa Tengah. Kota ini memiliki banyak pusat kerajinan batik dan tenun yang banyak menginspirasi kota-kota lain di Indonesia. Di samping dua warisan Nusantara tersebut, Pekalongan juga mengembangkan banyak jenis souvenir yang dibuat memanfaatkan bahan-bahan alam, sebut saja kerajinan enceng gondok, kerajinan tirai hias, kerajinan gerabah dan masih banyak lagi.

Malaysia Promosikan Baju Batik Kulit Durian

Pekalongan, Jateng - Baju Batik Kulit durian dan produk agrikultur lainnya harus dipromosikan sebagai bahan baku untuk membuat busana nasional, seperti baju Batik. Demikian dikatakan Menteri Agrikultur dan Industri Pertanian Malaysia Sabri bin Yaakob, pekan lalu.

Kantor berita Xinhua, Minggu, 30 November 2014, menyebut bahwa tanaman dapat digunakan untuk membuat baju Batik, yang memiliki pola indah dan ramah lingkungan. Universitas Teknologi MARA, kata Sabri, telah memulai penelitian.

Dia menambahkan, kulit durian dan mangga juga dapat digunakan untuk bahan baku baju nasional. Sabri berharap lebih banyak universitas dan institusi swasta di Malaysia, bisa turut melakukan penelitian serupa.

Malaysia yang menganggap Batik sebagai pakaian nasionalnya, telah mewajibkan semua pegawai pemerintah untuk menggunakan Batik setiap hari Kamis. Peraturan itu dikeluarkan Dirjen Departemen Layanan Publik, Tan Sri Ismail Adam, pada 15 Januari 2008.

Sementara Indonesia, yang juga menjadikan Batik sebagai pakaian nasional, menetapkan Hari Batik Nasional setelah UNESCO mengakui Batik sebagai warisan budaya dunia, pada 2 Oktober 2009. Kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009.

30 Grup Ramaikan Festival Rebana di Pekalongan

Pekalongan, Jateng - Festival Rebana ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syari’ah UKM El Fata STAIN Pekalongan, bekerjasama dengan Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubparbud) Kota Pekalongan.

Kegiatan yang mengambil tema ‘Syiar dengan Syair’ ini juga merupakan salah satu rangkaian dalam ‘Pekan Sharia Fair’ STAIN Pekalongan, yang sudah dimulai sejak Selasa (25/11) hingga Sabtu (29/11).

Beberapa peserta yang ambil bagian dalam Festival Rebana tersebut, antara lain berasal dari Kota dan Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Batang. Mereka tak hanya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, melainkan juga dari kalangan umum.

“Festival rebana ini kita selenggarakan dalam rangka memeriahkan Pekan Sharia Fair STAIN Pekalongan. Ada 30 grup rebana dari Pekalongan dan luar Pekalongan yang mengikuti festival ini. Kita bekerjasama dengan Dishubparbud Kota Pekalongan dalam penyelenggaraan festival rebana ini,” ungkap Ketua Lembaga HMJ Syariah STAIN, Khoirul Umam, ketika ditemui di sela-sela acara kemarin (28/11).

Kepala Dishubparbud Kota Pekalongan Drs Doyo Budi Wibowo MM yang berkesempatan membuka secara resmi festival rebana, sangat mengapresiasi terselenggaranya event tersebut.

Menurutnya, festival rebana itu menjadi salah satu cara efektif untuk mengembangkan seni budaya di lingkungan kampus. “Sehingga seni budaya tidak stagnan, tetapi terus berkembang,” ujarnya, didampingi Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Dishubparbud Kota Pekalongan Sigit Mursito.

Doyo menambahkan, festival rebana ini sekaligus sebagai salah satu sarana untuk mensyiarkan agama Islam melalui syair-syair dan salawat. Dia berharap, kegiatan semacam itu terus berlanjut di masa-masa mendatang. “Ini kegiatan yang bagus sekali. Apalagi rata-rata pesertanya masih remaja dan anak-anak muda. Ini merupakan kegiatan positif untuk generasi muda. Bisa menghindarkan mereka dari hal-hal negatif,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kompak (Komunitas Marawis Pekalongan), yang menjadi Ketua Tim Juri, Mustafid mengaku, terkesan dengan banyaknya grup rebana yang menjadi peserta festival rebana tersebut. “Jarang ada festival rebana diikuti lebih dari 25 grup. Ini ada 30 grup yang ikut ambil bagian. Menurut saya ini sangat luar biasa,” ungkapnya.

Mustafid menambahkan, tiap grup atau regu rebana yang tampil, mendapat kesempatan membawakan dua buah lagu atau salawat, dengan alokasi waktu 12 menit. Ada beberapa aspek yang dinilai, antara lain aspek musik, vokal, dan penampilan dari tiap regu atau grup.

Pentas Seni Tiga Etnis Meriahkan Pekan Batik di Pekalongan

Pekalongan, Jateng - Pentas seni tiga etnis akan memeriahkan pameran Pekan Batik Nusantara 2014 di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang digelar 8-12 Oktober mendatang.

Ketua Paguyuban Rahayu Raras Kota Pekalongan, Karya Budiman, di Pekalongan Senin mengatakan bahwa pentas seni yang akan melibatkan tiga etnis berbeda, yaitu Jawa, Arab, dan Tionghoa akan dilaksanakan pada Rabu malam (8/10).

"Pada pentas seni itu, kami akan menampilkan tari Kidang Kencanadan tari Garuda Jetayu yang dipadukan dengan kisah Ramayana dengan alunan musik khas Jawa, yaitu gamelan," katanya.

Menurut dia, pentas seni oleh tiga etnis dengan profesi yang berbeda ini bukan kali yang pertama melainkan sudah sering tampil dalam berbagai kegiatan seni.

"Meski berbeda profesi dan etnis tetapi pelaku seni itu mempunyai semangat tinggi untuk menampilkan tari-tarian yang terbaik," katanya.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan, Sigit Mursito mengatakan selain pertunjukkan seni tiga etnis, pada pemeran PBN 2014 juga akan tampil puluhan pentas seni lainnya seperti tari Sufi, tari kreasi, tari Bambangan Cakil, dan keroncong.

Pada pentas seni tiga etnis ini yang akan dilaksanakan di kawasan Jalan Jetayu ini, kata dia, dijadwalkan tampil pada hari pertama pameran PBN.

"Pada pemeran PBN, kami selalu memberikan kesempatan kepada pelaku seni, khususnya daerah sendiri untuk ikut menampilkan aksi dan kreasinya. Selain demi memeriahkan even PBN, pertunjukkan seni tersebut juga sebagai upaya untuk melestarikan berbagai seni dan budaya lokal," katanya.

Ditunggu Regulasi Batik

Pekalongan, Jateng - Masyarakat perbatikan di Indonesia mengharapkan segera terbit regulasi mengenai batik untuk melindungi para perajin dan lebih mengokohkan posisi batik sebagai warisan budaya dunia, sesuai ketetapan Unesco. Dengan adanya regulasi itu, pengembangan batik sebagai budaya bangsa dan komoditas ekonomi, dapat lebih cepat.
Hal itu mengemuka dalam sesi tanya jawa pada acara “Dialog Batik Mencipta Citra Budaya dan Ekonomi Bangsa” yang diselenggarakan Pemerintah Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, dalam rangka Pekan Batik Internasional 2013 di Pekalongan, pekan lalu. Dialog yang dibuka oleh Wali Kota Pekalongan, M. Basyir Ahmad, dihadiri pengusaha dan pemerhati batik dari sejumlah daerah. Wali Kota menjelaskan tekadnya menjadikan Pekalongan sebagai kota batik di dunia. Pada acara itu, enam pembicara, yakni dari unsur Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Smesco, desainer, dan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), menyampaikan program instansi/perusahaannya dalam mengembangkan batik.
Ketua GKBI M. Romi Oktabirawa mengingatkan, Unesco (Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayan) memberikan pengakuan pada batik sebagai warisan budaya dunia berdasarkan proses pembuatannya. Oleh karena itu, kita harus terus mengedepankan proses pembuatan batik, seperti cara dulu, baik batik tulis maupun batik cap. Dengan adanya regulasi, akan jelas, mana batik dan mana kain (tekstil) yang bermotifkan batik.
Menjawab wartawan seusai dialog, Romi kembali menegaskan, kita perlu memperhatikan dasar pertimbangan Unesco saat memberikan pengakuan pada batik, yakni berdasarkan proses pembuatannya. “Ini yang harus kita pahami. Jangan sampai Unesco berpadangan lain lagi nanti. Karena itu, harus tegas mana batik dan mana yang kain bermotif batik,” katanya.
Diingatkan, regulasi dimaksud sungguh penting. Inilah yang ditunggu oleh para stakeholders batik. Ia berharap, regulasi tersebut dapat terbit secepatnya, dan kalau bisa, tahun ini. Dikemukakan, GKBI sudah memberikan masukan dalam pembuatan rancangan undang-undang tersebut.
Ia juga mengakui, hingga kini perajin batik masih dihadapkan pada kesulitan bahan baku, yang harus diimpor. Ia menyebutkan salah satu contoh, yakni, kapas impor, yang harganya tidak terlepas dari kurs rupiah terhadap dolar AS. Jika kurs rupiah melemah, dengan sendirinya harga naik dan menjadi tambahan beban bagi perajin dan atau pengusaha.
Ia mengatakan, sekarang tengah dijajaki penggunaan kapas alternatif, disebut tenso, yang terbuat dari serat pohon kayu putih. Ini akan dapat berfungsi sebagai pemecah masalah yang dihadapi para perajin. Tinggal memelajari teknologi dalam pembuatan tenso agar juga kita tidak bergantung pada luar negeri.

Potensi Pasar

Dalam dialog itu, baik narasumber maupun pelaku usaha batik, mengemukakan, potensi pasar batik di luar negeri masih terbuka lebar. Tinggal bagaimana memperluas pasar dan menjaga agar pesanan dapat dipenuhi, sesuai ketentuan yang disepakati kedua belah pihak.
Nuraini, Kepala Subdit Logam, Alat Angkut, Kreativitas, dan Telematika, Ditjen IKM, Kemenperin, salah seorang narasumber, menjelaskan secara rinci mengenai potensi pasar batik di dalam dan luar negeri, sekaligus dengan cara memasuki pasar tersebut. Saat ini, sekitar 27 negara sudah menjadi pasar batik Indonesia. Daya serap pasar di 27 negara itu masih bagus. Tinggal perajin meningkatkan produksi dan menjaga kualitas untuk memenuhi pasar. Apalagi, kalau dibuka pasar di negara-negara lain. Ini menjadi tantangan bagi perajin dan pengusaha.
Ia mengatakan, perkembangan industri kecil menengah (IKM) batik di Indonesia cukup menggembirakan. Pada 2010, jumlah perusahaan 40.500 unit dan berkembang menjadi 55.778 perusahaan pada 2012. Nilai produksi pada 2010 baru Rp 601 miliar dan pada 2012 berkembang menjadi Rp 826 miliar. Nilai investasi juga meningkat, dari Rp 110,30 miliar menjadi Rp 125, 57 miliar. Kemudian, nilai ekspor meningkat signifikan dari 20,51 juta dolar AS (2010) menjadi 32,23 juta dolar AS (2012).
Dikemukakan, negara tujuan ekspor utama dibagi dalam empat kawasan, yakni Amerika, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Pasifik. Pasar ini masih terbuka lebar. Karena itu, Ditjen IKM membuka lebar pintu bagi para perajin dan pengusaha untuk memperluas usahanya.
Ia juga menyampaikan harapan Ditjen IKM agar pendidikan membatik di sekolah-sekolah dan pelatihan ditingkatkan. Ditjen IKM terbuka untuk menjalin kerja sama dalam pemasaran batik. “Silakan IKM yang ingin bergabung dengan kami,” katanya.

Seragam Batik

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad mengatakan, pihaknya menempuh berbagai program dalam mengembangkan usaha batik dan sungguh-sungguh menjadikan Pekalongan sebagai kota batik di dunia. Terobosan itu, antara lain, menambah hari mengenakan batik bagi pegawai pemkot, yakni Selasa, Kamis, dan Jumat. Khusus hari Rabu mengenakan lurik. Sebelumnya, pegawai mengenakan batik pada Kamis dan Jumat. Bahkan, pada acara pelantikan pejabat, baik yang dilantik maupun yang hadir, harus mengenakan batik
Kemudian, Pemkot Pekalongan berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai batik yang bernilai budaya dan kain yang bermotif batik, meningkatkan perhatian kepada pekerja batik, meningkatkan penyelenggaran event batik, seperti lomba fesyen sekali dalam sebulan, serta meningkatkan pendidikan membatik.
Upaya mencintai batik ditumbuhkan sejak dini. Sejak 3 tahun lalu, sekolah-sekolah di pekalongan memberlakukan mata pelajaran membatik sebagai muatan lokal, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Di samping itu, salah satu fokus Sekolah Menengah Kejuruan di Pekalongan adalah membatik. Di tingkat perguruan tinggi, yakni di Universitas Pekalongan, dibuka program studi tentang batik.
Masih banyak program lainnya, terutama yang berkaitan dengan upaya meningkatkan pendapatan perajin batik. Dengan berbagai program itu, Pekalongan menyatakan diri sebagai “World’s city of Batik”.

Pekalongan akan Gelar "Night Batik Fashion"

Pekalongan, Jateng - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah akan menggelar kegiatan "Night Batik Fashion" pada April, untuk memopulerkan kerajinan batik ke tingkat nasional dan mancanegara.

Sekretaris Daerah Kota Pekalongan, Dwi Arie Putranto di Pekalongan, Jumat, mengatakan pada kegiatan "Night Batik Fashion", para perancang busana dan pengusaha batik akan melakukan kolaborasi.

Mereka akan menampilkan corak batik serta desain fashion yang memesona. yang dikemas dalam peragaan busana.

"Untuk memopulerkan Pekalongan sebagai 'Kota Batik', para perancang busana dan pengusaha telah menyatakan kesiapan menggelar 'Night Batik Fashion'," katanya.

"Night Batik Fashion" yang akan disajikan di Lapangan Jetayu ini juga merupakan sebagian upaya memeriahkan hari jadi ke- 107 Kota Pekalongan.

"Kami akan memberikan apresiasi terhadap para perancang busana dan pengusaha batik yang telah ikut berperan aktif dalam upaya memeriahkan hari jadi ke-107 Kota Pekalongan," katanya.

Sudah Saatnya Batik Jadi Industri Dunia

Pekalongan, Jateng - Presiden Komisaris Gabungan Kerajinan Batik Indonesia Investment Romi Oktabirawa berpendapat, memasuki era globalisasi, kerajinan batik Indonesia sudah bisa menjadi industri berskala dunia sebagai upaya menarik investasi modal asing ke Tanah Air.

"Sekarang ini, batik Indonesia hanya terpaku pada usaha kecil menengah, tetapi belum pernah berpikir bagaimana kerajinan ini menjadi industri berskala dunia," katanya di Pekalongan, Selasa.

Menurut dia, kerajinan batik sudah lama menjadi produk budaya masyarakat dan bangsa Indonesia, bahkan pada beberapa literatur menuliskan bahwa batik sudah ada di bumi Nusantara sejak abad ke-17.

Pada masa kejayaan Majapahit, katanya, masyarakat sudah mengenal batik sebagai pakaian sehari-hari, bahkan pada masa Kerajaan Mataram kerajinan yang sudah diakui UNESCO terdefinisikan menjadi pakaian yang membedakan status masyarakat pada saat itu.

Ia mengatakan bahwa dengan melihat begitu panjang dan lamanya sejarah kerajinan batik di Nusantara ini, maka sudah saatnya pelaku batik kembali memikirkan bagaimana kerajinan batik dapat digunakan sebagai kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia.

"Tidaklah mudah menjadikan batik sebagai kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia karena semua pihak harus mengambil langkah yang berani dan berfikir out of the box dari kerangka yang selama ini sudah ada," katanya.

Menurut dia, untuk menjadikan kerajinan batik sebagai kekuatan ekonomi bangsa, maka pelaku usaha harus berani dalam berpola pikir bahwa batik selain sebagai produk budaya, juga merupakan produk industri ekonomi yang mempunyai ciri khas lokal, tetapi memenuhi keinginan masyarakat pasar dunia.

"Kami berobsesi kerajinan batik harus bisa masuk menjadi bagian fashion dunia yang berciri khas lokal, tetapi mampu mengakomodasi kebutuhan konsumen terhadap tren fashion dunia," katanya.

Ia mengatakan bahwa pada kancah industri berskala internasional, industri batik harus masuk dalam area perusahaan go public’ atau masuk dalam ranah investasi publik.

"Dengan memasuki area investasi publik ini maka batik akan lebih mudah dijadikan produk fashion dan budaya berskala internasional. Pemerintah juga harus menyiapkan regulasi dalam persiapan industri batik masuk ke kancah industri dan ekonomi global," katanya.

Pekalongan Luncurkan Stiker "World City of Batik"

Pekalongan - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, meluncurkan stiker branding daerah "World City of Batik" sebagai upaya memopulerkan daerah itu sebagai pusat kota batik.

Kepala Bagian Perekonomian Kota Pekalongan Setyo Susilo di Pekalongan, Jumat, mengatakan peluncuran stiker "branding" ini akan dimulai dengan menempelkan pada mobil dinas pejabat satuan kerja perangkat daerah dan badan usaha milik daerah.

"Pemasangan stiker branding daerah ini juga bertujuan memeriahkan kegiatan Pekan Batik Nusantara (PBN) pada Oktober 2012," katanya.

Menurut dia, dengan penempelan stiker branding daerah itu diharapkan masyarakat dari berbagai daerah serta wisatawan asing lebih mengenal Kota Pekalongan sebagai kota batik dunia.

"Selama ini, branding batik hanya dikenalkan melalui pemasangan pin yang hanya menjangkau kalangan tertentu. Akan tetapi dengan pemasangan stiker ini jangkauannya akan luas karena masyarakat bisa melakukannya," katanya.

Ia mengatakan pertimbangan awal penempelan stiker branding pada mobil dinas karena bisa dibaca dan dilihat oleh banyak orang.

"Mobil dinas ini memiliki ruang gerak yang lebih luas dan bisa berkeliling di masyarakat. Misalnya, saat pejabat melakukan perjalanan dinas ke luar kota," katanya.

Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan Doyo Budi Wibowo mengatakan pada 2012 Pemkot akan menerima bantuan revitalisasi Museum Batik Nasional Pekalongan untuk perbaikan sarana dan prasarana museum dari pemerintah pusat.

"Namun berapa jumlah anggaran yang berasal dari APBN itu kami belum tahu. Yang jelas dengan adanya bantuan itu perbaikan sarana dan prasaran museum ini akan membantu persyaratan Musemum Batik Nasional menuju museum internasional," katanya.

Museum Batik Pekalongan Masuk Nominasi Cipta Award

Pekalongan, Jateng - Museum Batik Pekalongan, Jawa Tengah, masuk nominasi Lomba Cipta Pesona Wisata (Cipta) Award 2012 yang digelar Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan, Doyo Budi Wibowo di Pekalongan, Kamis, mengatakan untuk bisa meraih predikat destinasi wisata nasional terbaik ini, Pemkot telah melakukan sejumlah upaya, seperti merevitalisasi Museum Batik Pekalongan agar lebih baik lagi.

"Tim Penilai Lomba Cipta Award 2012 yang diketuai oleh Profesor Yuwono secara langsung telah melakukan penilaian di Museum Batik Pekalongan. Sedangkan yang masuk dalam tahap ini, di Jawa Tengah hanya dua tempat tujuan wisata, yaitu Lawang Sewu Semarang dan Museum Batik Pekalongan yang masuk katagori daya tarik wisata budaya," katanya.

Menurut dia, pada tahun ini, selain Museum Batik Pekalongan yang masuk nominasi "Cipta Award 2012", tempat wisata yang masuk 15 nominasi nasional desa wisata terbaik, yaitu Kampoeng Batik Kauman.

"Saat ini, kami sedang melakukan berbagai persiapan untuk meningkatkan sarana dan prasarana di lokasi wisata itu, seperti keberadaan "home stay" yang semula hanya berjumlah enam unit akan ditambah menjadi delapan tempat dan menata penjual kuliner," katanya.

Ia mengatakan bahwa Kampung Batik Kauman yang sebelumnya telah meraih predikat "Best Practices" dari Unesco tersebut akan bersaing dengan 26 tempat wisata lainnya di seluruh Indonesia,untuk masuk nominasi predikat sembilan terbaik sebagai destinasi atau tempat tujuan wisata.

Cipta Award 2012, katanya, merupakan suatu ajang kompetisi tingkat nasional yang diberikan pada pengelola daya tarik wisata sebagai salah satu wujud apresiasi pemerintah pisat.

"Candi Borobudur, yang tahun lalu masuk nominasi pada 2012 ini tidak. Di Provinsi Jateng hanya ada dua yang lolos, yakitu Lawang Sewu dan Museum Batik Pekalongan," katanya.

-

Arsip Blog

Recent Posts