Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Kardinah: Di Bawah Bayangan Kartini

NAMANYA nyaris berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama kakaknya, Kartini. Padahal perjuangannya dalam meninggikan derajat perempuan dan menolong kaum lemah tak bisa dibilang sedikit. Salah satu penyebabnya, Kardinah tak seerat Kartini dalam bersahabat dengan Nyonya Abendanon atau Nyonya Ovink-Soer.

Lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, Kardinah merupakan anak ke-7 Bupati Jepara RM Sosroningrat. Dia anak pertama dari selir (garwa ampil) bupati bernama M.A. Ngasirah.

Ayahnya selalu menularkan kepekaan sosial kepada anak-anaknya. “Setelah sudah agak besar, kami sering disuruh oleh rama (bapak) untuk ikut meninjau tempat-tempat penderitaan rakyat. Maksud rama supaya kami melihat sendiri dari dekat bencana-bencana yang menimpa rakyat itu dan mendapat kesan bagaimana susahnya hidup mereka yang melarat dan hina itu,” tulis Kardinah dalam suratnya tanggal 25 Maret 1964 kepada Sitisoemandari Soeroto, penulis Kartini Sebuah Biografi.

Selain memberikan pendidikan Formal seperti ELS (Europese Lagere School), ayahnya memanggilkan guru ke rumah. Bersama saudara-saudaranya, mereka membaca, belajar, dan berdiskusi. Mereka kemudian bercita-cita untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Setelah menikah dengan Patih Soejitno, anak Bupati Tegal Ario Reksonegoro, pada 24 Januari 1902, Kardinah mulai mewujudkan cita-cita Het Klaverblad (daun semanggi) atau “Tiga Saudara” –julukan yang Nyonya Ovink-Soer, istri Asisten residen Jepara, berikan kepada Kartini, Rukmini, dan Kardinah.

“Kardinah yakin posisi sosialnya mewajibkannya untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat –sebagai bentuk tanggung jawab itu, sebagaimana saudara perempuannya, Roekmini, dia berpikir bahwa tidak semestinya orang asing saja yang harus berbuat, meski jelas sekali mereka juga punya tanggung jawab– juga merefleksikan peran politik dalam komunitas politik Jawa secara umum,” tulis Joost Coté dalam Realizing the dream of R.A. Kartini: Her Sisters’ Letters from Colonial Java.

Kardinah menggunakan model pendidikan yang digariskan Kartini: ibu menjadi pusat kehidupan rumah tangga. “Tak ada yang lebih baik daripada pendidikan seorang ibu yang telah tercerdaskan,” tulis Ahmad Fatkhudin dalam skripsinya di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, “Kardinah Reksonegoro, Peranan dan Pemikirannya dalam Pengembangan Masyarakat Tegal Tahun 1908–1945”.

Kardinah tak puas terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang membatasi akses pendidikan kaum bumiputera. Hanya anak Bangsawan yang bisa mendapatkan pendidikan baik dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. “Berapa banyak bangsa kami, saya bertanya pada diri sendiri, yang mampu untuk belajar di sekolah-sekolah seperti itu?” tulis Kardinah dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon tanggal 15 Juli 1911. Lebih lanjut, “Apakah itu adil? Atau apakah yang seharusnya menjadi contoh bisa membantu masyarakat pribumi untuk maju?”

Banyak priyayi, termasuk bupati Pemalang, tertarik dengan model pendidikan yang Kardinah lakukan di rumahnya. Mereka menitipkan anak-anak mereka. Bersama suaminya, yang pada 8 Juli 1908 diangkat jadi bupati Tegal, Kardinah berjuang mendirikan sebuah sekolah. “Kini suami dan saya mempunyai rencana untuk mendirikan sebuah sekolah sendiri bagi anak-anak pejabat bawahan dari sumbangan-sumbangan kolektif,” tulis Kardinah kepada Abendanon dalam suratnya tanggal 15 Juli 1911, sebagaimana dimuat dalam Surat-surat Adik R.A. Kartini karya Frits G.P. Jaquet.

Untuk mewujudkannya, Kardinah mengumpulkan dana dari penjualan bukunya; dua jilid buku memasak dan dua jilid buku mengenai batik. Dia juga mendapat bantuan dana dari istri Asisten Residen Tegal HM de Stuers, istri kontrolir Tegal E. van den Bos, dan istri Patih Tegal Raden Ayu Soemodirdjo. Kardinah lalu mendirikan sekolah kepandaian putri Wismo Pranowo (WP) pada 1 Maret 1916. Biaya operasional ditanggung masyarakat yang mampu, selain dari hasil pasar amal dan sumbangan. Segala keperluan sekolah diberikan secara cuma-cuma. Tiap murid hanya dibebankan uang sekolah 50 sen.

Mata pelajaran di WP antara lain bahasa Belanda, dasar pendidikan kebangsaan dan kebudayaan Jawa, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), mengaji Alquran, membatik, dan pendidikan watak. Kardinah ikut mengajar. Begitu pula Ki Hajar Dewantoro. Meski menggunakan sistem pendidikan yang ditetapkan Kartini, WP bukan Sekolah Kartini karena biaya operasional tak ditanggung gubernemen.

Awalnya sekolah itu hanya menempati bekas gedung kantor kabupaten, dengan murid 150 orang. Tapi tahun 1924 sudah terdapat 200 murid dan enam ruang belajar. Banyak pihak tertarik dengan model pendidikan WP. Dewi Sartika, tokoh pendidikan Priangan, salah satunya. Bersama adiknya, Sari Pamerat, dia berkunjung ke Tegal untuk mempelajari sistem pendidikan WP. Mereka juga ikut mengajar selama empat bulan. Pemerintah akhirnya mengambil-alih sekolah itu dan mengubahnya jadi Kopschool (sekolah kejuruan bagi kaum perempuan) dan Onderbouwschool (sekolah rendah)– pada 24 Oktober 1924 dengan kompensasi f 16.000.

“Saya merasa ini sebagai tugas saya, tugas suci saya kepada saudari kami, yang dengannya kami pernah memimpikan mimpi itu, yang dengannya kami membangun cita-cita itu, dan menawarkan diri saya sekarang untuk tujuan yang kami selalu tuju, demi kebaikan kita semua,” tulis Kardinah dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon.

Bersama kakaknya, Sosro Kartono, Kardinah juga mendirikan sebuah perpustakaan yang diberi nama Panti Sastra. Dananya didapat secara swadaya.

Kardinah juga prihatin dengan kondisi kesehatan rakyat di Tegal, terutama ketika tahu murid-muridnya melahirkan tanpa dukungan tenaga dan fasilitas memadai. “Orang sakit kok ditidurkan di tikar, bagaimana itu?” ujar Kardinah tak puas. Dia mencurahkan perhatiannya pada dunia kesehatan, dengan membangun fasilitas kesehatan dan memperbaiki pengetahuan medis masyarakat yang kala itu lebih percaya pada klenik.

Pada 1927 Kardinah mendirikan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardinah. Dana dari kompensasi WP dan hasil penjualan buku-bukunya serta keuntungan penjualan kerajinan tangan buatan murid-murid WP. Residen Pekalongan Schilling termasuk orang yang mendukung niatnya dengan membantu pendanaan. Schilling pula yang minta rumah sakit itu dinamai Kardinah. Pemerintah pusat dan daerah ikut mensubsidi. Rumah Sakit Kardinah, “merupakan lambang pengabdian yang nyata dari Tiga Saudara kepada kemanusiaan, seperti yang mereka idam-idamkan bersama,” tulis Fatkhudin.

Tak lama kemudian Kardinah juga membangun sebuah rumah penampungan bagi orang-orang miskin di sekitar Kardinah Ziekenhuis.

Pemerintah Hindia Belanda mengapresiasi jasa-jasa Kardinah dengan menganugerahkan bintang Ridder van Oranje Nassau –pemerintah Indonesia sendiri pada 21 Desember 1969 menganugerahkan Lencana Kebaktian Sosial Republik Indonesia.

Tak lama setelah Indonesia merdeka, diikuti revolusi sosial di berbagai daerah, Kardinah dan keluarganya ditangkap Gerombolan Kutil. Kardinah dan keluarganya dianggap lambang feodalisme. Selain diancam akan dibunuh, mereka dipakaikan baju dari goni lalu diarak keliling kota. Sejak itu keberadaan Kardinah tak diketahui.

Menurut Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah, setelah ditangkap dan diarak keliling kota, Arak-arakan berhenti di depan RS Kardinah. Mereka lalu dibawa dengan sebuah truk ke Talang dan ditahan di rumah Wedana Adiwerna selama seminggu. Para priyayi Pekalongan dan perwira Tentara Keamanan Rakyat, yang menganggap tindakan Adiwerna tak sesuai norma-norma budaya Jawa, menyelamatkan Kardinah pada 13 November 1945. Kardinah lalu dibawa ke Salatiga.

Namun menurut Kardinah kepada Sumiati Sardjoe, istri walikota Tegal Sardjoe, kisahnya lain. Waktu dirinya diarak keliling kota, arak-arakan berhenti di depan Rumah Sakit Kardinah. Dia lalu pura-pura sakit dan dirawat. Malamnya dia diselamatkan orang-orang yang simpatik. Mereka membawanya ke Salatiga.

Titik terang datang pada 1970. Sumiati, yang gigih mencari keberadaan Kardinah, mendapat informasi ketika menghadiri pertemuan Gabungan Organisasi Wanita di Semarang: Kardinah tinggal di Salatiga. Awalnya dia tak bisa menemuinya karena Kardinah trauma setiapkali mendengar kata Tegal. Tapi akhirnya, setahun kemudian, Kardinah berkunjung ke Tegal atas undangan Sumiati. “Kedatangannya di Tegal disambut Haru warga Tegal,” tulis Fatkhudin. Kardinah memanfaatkan kunjungannya itu untuk berziarah ke makam suaminya.

Tak lama berselang, setelah kunjungannya itu, pada 5 Juli 1971 Kardinah wafat. Dia dimakamkan di samping makam suaminya.

***

(Sumber: MF Mukthi, Majalah Historia)

Umar Kayam

Umar Kayam (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932 – meninggal di Jakarta, 16 Maret 2002 pada umur 69 tahun) adalah seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan juga seorang guru besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1988-1997-pensiun).

Umar Kayam (dalam konteks percakapan antar teman biasa disapa UK), lulus sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (1955), meraih M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat (1963), dan meraih Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat (1965). Ia pernah menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969).

Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), Direktur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanudin, Ujungpandang (1975-1976), anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), dosen Universitas Indonesia, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, senior fellow pada East-West Centre, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat (1973), Ketua Dewan Film Nasional (1978-1979), Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, anggota penyantun/penasihat majalah ”Horison” (mengundurkan diri sejak 1 September 1993), bersama-sama dengan Ali Audah, Arif Budiman, Goenawan Mohamad, Aristides Katopo, Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (1977-), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1981-) anggota Akademi Jakarta (1988-seumur hidup).

Umar Kayam termasuk yang banyak melakukan terobosan dalam banyak bidang kehidupan yang melibatkan dirinya. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, ia dikenal sebagai salah seorang pelopor dalam terbentuknya kehidupan teater kampus. Ketika menjadi Dirjen Radio dan Televisi, ia dikenal sebagai tokoh yang membuat kehidupan perfilman menjadi semarak. Sewaktu menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), dia mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Pada saat menjadi dosen di almamaternya, ia mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik di bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar seni di kampus, dan sebagainya.

Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak. Umar Kayam memperoleh Hadiah Sastra Asean pada tahun 1987.

Hasil Karya

Seribu Kunang-kunang di Manhattan (kumpulan cerpen, 1972) mendapat hadiah majalah Horison (1966/1967)
Totok dan Toni (cerita anak, 1975)
Sri Sumarah dan Bawuk (1975)
Seni, Tradisi, Masyarakat (kumpulan esai, 1981)
Sri Sumarah (kumpulan cerpen, 1985, juga terbit dalam edisi Malaysia, 1981)
Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya (bersama Henri Peccinotti, 1985)
Para Priyayi (novel, 1992) Mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, diberikan pada tahun 1995
Parta Karma (kumpulan cerpen, 1997)
Jalan Menikung (novel, 2000)
Cerpen-cerpennya diterjemahkan oleh Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories (1976) dan From Surabaya to Armageddon (1976).
***

Sumber: wikipedia
Foto: tempo.co

Affandi Koesoema

Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 – 23 Mei 1990) adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan.

Biografi

Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907, putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Dari segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri.

Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.

Pada umur 26 tahun, pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis.

Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai–yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur–memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ide Soekarno itu menggambarkan seseorang yang dirantai tapi rantainya sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Kata-kata yang dituliskan di poster itu (“Bung, ayo bung”) merupakan usulan dari penyair Chairil Anwar. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.

Bakat melukis yang menonjol pada diri Affandi pernah menorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India, Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.

Topik yang diangkat Affandi adalah tentang perikebinatangan, bukan perikemanusiaan dan dianggap sebagai lelucon pada waktu itu. Affandi merupakan seorang pelukis rendah hati yang masih dekat dengan flora, fauna, dan lingkungan walau hidup di era teknologi. Ketika Affandi mempersoalkan ‘Perikebinatangan’ tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai ‘kebudayaan imperialis’. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: “Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!” kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokrasana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self-portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Affandi dan melukis

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, Aliran apa itu?.

Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.

Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar.

Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis, ucapnya.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.

Museum Affandi

Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.

Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual.

Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 99), “Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi” (Februari 99), “Tidak Adil” (Juni 99), “Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya” (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.

Affandi di mata dunia

Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.

Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan “Bintang Jasa Utama” yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul “Kepada Pelukis Affandi”.

Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brasil, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah memburu lukisan Affandi sampai ke Rio de Janeiro.

Penghargaan dan lain-lain

Agama: Islam
Istri
Maryati (istri pertama)
Rubiyem (istri kedua)
Anak
Kartika Affandi
Juki Affandi BSc
Rukmini (adik tiri)
Penghargaan
Piagam Anugerah Seni, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969
Doktor Honoris Causa dari University of Singapore, 1974
Dag Hammarskjöld, International Peace Prize (Florence, Italia, 1997)
Bintang Jasa Utama, tahun 1978
Julukan Pelukis Ekspresionis Baru Indonesia oleh Koran International Herald Tribune
Gelar Grand Maestro di Florence, Italia
Pameran
Museum of Modern Art (Rio de Janeiro, Brazil, 1966)
East-West Center (Honolulu, 1988)
Festival of Indonesia (AS, 1990-1992)
Gate Foundation (Amsterdam, Belanda, 1993)
Singapore Art Museum (1994)
Centre for Strategic and International Studies (Jakarta, 1996)
Indonesia-Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo, 1997)
ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998)
Pameran keliling di berbagai kota di India.
Pameran di Eropa al: London, Amsterdam, Brussels, Paris, Roma
Pameran di benua Amerika al: Brazilia, Venezia, São Paulo, Amerika Serikat
Pameran di Australia
Buku tentang Affandi
Buku kenang-kenangan tentang Affandi, Prix International Dag Hammarskjöld, 1976, 189 halaman. Ditulis dalam empat bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia.
Nugraha Sumaatmadja, buku tentang Affandi, Penerbitan Yayasan Kanisius, 1975
Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji, Affandi 70 Tahun, Dewan Kesenian Jakarta, 1978. Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun ketujuh puluh.
Raka Sumichan dan Umar Kayam, buku tentang Affandi, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, 1987, 222 halaman. Diterbitkan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi, dalam dua bahasa, yakni Bahasa Inggris dan Indonesia.
***

Sumber & Foto: wikipedia.org

Merari Siregar

Merari Siregar lahir di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara, 13 Juli 1896. Masa kecil dilalui penulis berdarah Batak ini di kampung halamannya. OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwanya amat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok. Saat itu, ia kerap menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, salah satunya kawin paksa.

Setelah beranjak dewasa dan tumbuh menjadi orang terpelajar, Merari Siregar melihat keadaan sebagian masyarakat yang mempunyai pola berpikir yang sudah tak sesuai dengan tuntutan zaman. Oleh sebab itu, ia mulai tergerak untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang dinilainya masih kolot, terutama penduduk Sipirok.

Perubahan itu dilakukannya lewat goresan pena. Azab dan Sengsara menjadi karya tulisnya yang paling tersohor. Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan politik etis yang ditandai dengan berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat) di tahun 1908. Komisi itu bertugas menyelenggarakan dan menyebar bacaan-bacaan, seperti terjemahan, saduran, dan karangan ash kepada rakyat dan para pelajar sekolah bumi putera. Yang dimaksud dengan karangan ash adalah cerita-cerita rakyat yang berbentuk hikayat, syair, dan pantun.

Seiring berjalannya waktu, prosa Indonesia mulai berkembang menjadi lebih modern karena semakin banyaknya pengarang yang ‘bergaul’ dengan karya sastra barat, terutama Belanda, yang ditandai lewat penerjemahan dan penyaduran. Perkembangan itu semakin tampak saat Commissie Voor de VoLfcslectuur berubah nama menjadi Balai Pustaka. Perubahan itu juga disertai penambahan tugas, yaitu melatih para pengarang dalam gaya bahasa dan bentuk baru.

Selain sebagai pengarang, Merari juga dikenal sebagai penyadur. Karya sadurannya yang paling tersohor berjudul Si Jamin dan Si Johan dengan mengadaptasi “Jan Smees” buah karya Justus van Maurik. Judul “Jan Smees” ini terdapat dalam kumpulan cerpen Justus van Maurik yang berjudul Lift het Volk ‘Dan Kalangan Rakyat’ dengan subjudul Ainsterdamche Novel/en ‘Novel Amsterdam’ yang terbit tahun 1879.

Salah satunya dengan menampilkan kemandirian pada tokoh-tokoh cerita. Yang dimaksud dengan istilah kemandirian di sini adalah, para tokoh itu dapat menentukan nasibnya sendiri dan tidak tergantung pada lingkungan dan ikatan masyarakat. Kemandirian itulah yang tercermin dalam roman karya Merari Siregar, Azab dan Sengsara, dengan tokoh utamanya seorang gadis Batak bernama Mariamin. Kesadaran Mariamin terlihat ketika ia mengakhiri penderitaan yang menimpa dirinya akibat kawin paksa lewat pengajuan cerai. Penonjolan kesengsaraan tokoh Mariamin ini dimaksudkan Merari untuk menggugah para pembaca tentang penderitaan akibat kawin paksa. Walau begitu, kesadaran susila dalam roman ini digambarkan tetap teguh. Hal ini tercermin pada peristiwa ketika Mariamin dianiaya oleh suaminya karena menerima tamu laki-laki, sementara suaminya tidak di rumah.

Dalam roman ini, Merari menyisipkan nasihat-nasihat langsung kepada pembacanya. Nasihat ini tidak ada hubungannya dengan kisah tokohnya karena maksud pengarang menyusun buku itu sebetulnya untuk menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik kepada bangsanya. Seperti penuturannya berikut ini yang dikutip dari situs Laman Badan Bahasa, “Saya mengarang ceritera ini, dengan maksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Harap saya diperhatikan oleh pembaca. Hal-hal dan kejadian yang tersebut dalam buku ini meskipun seakan-akan tiada mungkin dalam pikiran pembaca. Adalah benar belaka, cuma waktunya kuatur, artinya dibuat berturut-turut supaya ceritera lebih nyata dan terang.”

Secara keseluruhan, Azab dan Sengsara memiliki ciri-ciri seperti Angkatan 20-an pada umumnya. Selain diwarnai dengan menguatnya kesadaran individu dan menipisnya kesadaran adat, roman ini juga menonjolkan penggambaran alam dan pengungkapan perasaan. Pengungkapan perasaan itu, antara lain tercermin dalam penggunaan pantun dan syair.

Selain sebagai pengarang, Merari juga dikenal sebagai penyadur. Karya sadurannya yang paling tersohor berjudul Si Jamin dan Si Johan dengan mengadaptasi “Jan Smees” buah karya Justus van Maurik. Judul “Jan Smees” ini terdapat dalam kumpulan cerpen Justus van Maurik yang berjudul Lift het Volk ‘Dan Kalangan Rakyat’ dengan subjudul Ainsterdamche Novel/en ‘Novel Amsterdam’ yang terbit tahun 1879.

Ide cerita Si Jamin dan Si Johan ialah ajakan untuk menjauhi minuman keras dan candu karena kedua benda itu mengakibatkan kerusakan mental dan kemerosotan bagi kehidupan manusia. Ide cerita itu sejalan dengan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memberantas pemabuk. Walaupun secara umum Belanda berusaha memberantas pemabukan, mereka masih mengizinkan adanya tempat-tempat tertentu, misalnya di Glodok, yang merupakan tempat terbuka untuk menjual candu.

Ketika menyadur Si Jamin dan Si Johan, Merari sempat menemui hambatan saat memindahkan suasana Eropa ke dalam suasana Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ukuran kemiskinan di Eropa berbeda dengan ukuran kemiskinan di Indonesia, begitu pula dengan kehidupan spiritualnya. Orang miskin di Eropa melarikan diri dari penderitaan dengan meminum minuman keras sedangkan di Indonesia orang yang meminum minuman keras adalah orang kaya. Pria Eropa pergi ke gereja bersama anak istrinya, sedangkan pria Indonesia yang soleh pergi ke masjid tanpa istri dan anak perempuannya.

Selain Azab dan Sengsara serta Si Jamin dan Si Johan, masih ada beberapa karya Merari lainnya meski tidak semasyur dua karya tadi, karya-karya itu adalah Binasa Karena Gadis Priangan, Cerita Tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi, serta roman Cinta dan Hawa Nafsu.

Selain dikenal sebagai sastrawan, dalam kesehariannya ia bekerja sebagai guru. Profesinya sebagai guru sedikit banyak berpengaruh pada gaya bercerita dan karya sastranya, baik karya asli maupun saduran. Penggunaan bahasa yang lancar dan rapi, ia tonjolkan dalam setiap karyanya untuk menarik pembaca. Di samping bahasa yang enak dibaca, Merari juga memberi nasihat, mengecam ketidakadilan, serta memberi pujian pada tindakan yang tidak menyalahi aturan ataupun norma yang berlaku dalam masyarakat.

Merari merintis karirnya sebagai pendidik dengan terlebih dahulu bersekolah di sekolah guru yang dulu dikenal dengan istilah Kweekschool kemudian dilanjutkan ke Oosr en West, ‘Timur dan Barat’ yang berlokasi di Gunung Sahari, Jakarta. Selanjutnya pada tahun 1923, pendidikan keguruannya dilanjutkan di sekolah swasta yang didirikan oleh sebuah organisasi bernama Vereeniging Tot Van Oost En West.

Setelah menyelesaikan studinya, Merari mengawali kiprahnya di dunia pendidikan dengan bekerja sebagai guru bantu di Medan. Dari ibukota provinsi Sumatera Utara itu, ia kemudian pindah bekerja di Jakarta, tepatnya di Rumah Sakit CBZ atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Terakhir, ia bekerja di Opium end Zouregie di daerah Kalianget, Madura, hingga akhir hayatnya.

Merari Siregar meninggal pada 23 April 1941. Ia meninggalkan tiga orang anak, yaitu Florentinus Hasajangu MS yang lahir 19 Desember 1928, Suzanna Tiurna Siregar yang lahir 13 Desember 1930, dan Theodorus Mulia Siregar yang lahir 25 Juli 1932. eti | muli, red

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

SH Mintardja

Jagat cerita silat (cersil) tak hanya diramaikan oleh karya-karya Asmaraman, Kho Ping Hoo saja. Ada satu nama lain yang karyanya tak kalah pamor dengan Kho Ping Hoo yakni Singgih Hadi Mintardja atau yang lebih dikenal dengan nama SH Mintardja.

Sebagai penulis cerita silat (pencersil), pria kelahiran Yogyakarta, 26 Januari 1933 ini dikenal piawai menggabungkan fakta sejarah kerajaan dengan cerita heroik fiktif dalam karyanya. Cerita silat tanah Jawa dibuat mengasyikkan sekaligus penuh tantangan dan ketegangan. Sebagai putra asli Jawa, penguasaan terhadap filosofi nenek moyangnya membuat karyanya semakin bernyawa.

Ia juga menyuguhkan drama psikologi tokoh-tokohnya dengan elegan. Dialog para tokoh dalam ceritanya sarat pesan-pesan moral. Seperti saat membaca cerita dalam Api di Bukit Menoreh misalnya, perasaan para pembaca akan merasa terombang-ambing. Di situ diceritakan kisah anak muda yang sombong, pemarah dan sakti melawan anak muda yang sabar, cerdas dan sakti dipadu dengan percintaan laki-perempuan dalam konflik sejarah kerajaan tanah Jawa. Itulah sebabnya, ia kerap disebut sebagai pembangun jiwa (pendidikan nurani) versi dunia persilatan.

Almarhum SH Mintardja adalah seorang pegawai negeri di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Yogyakarta di bidang kesenian (1958). Ia terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud DIY dan pensiun pada tahun 1989. Sedari muda, ia telah menggeluti dunia seni. Setelah tamat SMA, ia bersama Kirdjomuljo, Nasjah Jamin Widjaja dan Sumitro mendirikan majalah Fantasia dan majalah film Intermezzo.

Di kancah cerita silat, namanya mulai mencuat lewat karyanya yang berjudul Nagasasra dan Sabuk Inten. Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi yang beraksara Jawa, SH Mintardja berhasil menyuguhkan cerita yang membumi dengan pahlawan tanpa pamrih. Kisah berlatar belakang kerajaan Demak itu melahirkan tokoh Mahesa Jenar.

Perpaduan antara imajinasi dan kebudayaan Jawa, membuat Nagasasra dan Sabuk Inten mudah diterima di kalangan rakyat jelata hingga orang-orang kantoran. Mulai dari tukang becak hingga pegawai negeri, semua menikmati cerita yang awalnya dimuat di harian Kedaulatan Rakyat pada tahun 1966 itu. Karena sambutan publik yang positif, cerita itu kemudian dibuat dalam bentuk buku. Sama halnya dengan versi korannya, buku itu pun laris manis di pasaran. Toko buku, warung koran, warung rokok, menjual buku itu.

Melihat respon pasar yang kian tinggi, pihak Kedaulatan Rakyat berinisiatif untuk menerbitkan edisi istimewa Nagasasra dan Sabuk Inten. Cerita tersebut dikemas dalam sampul tebal atau hard cover. Semuanya sebanyak tiga jilid. Tiap jilidnya berisi 800 halaman dan dijual Rp100 ribu per jilid.

Hasil penjualan karya ini sangat besar bahkan tak dapat disaingi karya serius mana pun. Karena cerita itu begitu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca, banyak orang yang terkecoh dengan cerita roman sejarah itu. Banyak yang mengira Mahesa Jenar benar-benar ada dalam sejarah Demak. Bahkan, baju lurik yang digambarkan biasa dipakai Mahesa Jenar pun menjadi tren kala itu.

Saking termasyurnya cerita Mahesa Jenar, seluruh sanggar ketoprak di Yogyakarta selalu mengambil lakon Mahesa Jenar dalam pementasannya. Fenomena Mahesa Jenar tak hanya berhenti sampai situ saja. Kediaman SH Mintardja juga pernah didatangi orang tua yang meminta ijin untuk menamai anaknya seperti nama tokoh dalam Nagasasra Sabuk Inten. Ada juga yang meminta izin mendirikan perguruan silat dengan nama Pandan Alas, meniru nama Ki Ageng Pandan Alas, pendekar tua yang pintar nembang dalam cerita Nagasasra.

Mengenai asal mula pemilihan nama Mahesa Jenar, pria yang akrab disapa Pak Singgih ini memberikan jawabannya, “Padahal saya memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau didengar kok enak,” aku Mintardja, seperti dilansir di buku Apa dan Siapa Orang Yogyakarta edisi 1995.

Perpaduan antara imajinasi dan kebudayaan Jawa, membuat Nagasasra dan Sabuk Inten mudah diterima di kalangan rakyat jelata hingga orang-orang kantoran. Mulai dari tukang becak hingga pegawai negeri, semua menikmati cerita yang awalnya dimuat di harian Kedaulatan Rakyat pada tahun 1966 itu. Karena sambutan publik yang positif, cerita itu kemudian dibuat dalam bentuk buku. Sama halnya dengan versi korannya, buku itu pun laris manis di pasaran. Toko buku, warung koran, warung rokok, menjual buku itu.

Banyak rekan Singgih yang beranggapan bahwa cerita Mahesa Jenar merupakan penggambaran dirinya yang tersingkirkan sebagai orang PNI di zaman Orde Baru. Kisah Nagasasra sendiri memang bercerita tentang kekuasaan dengan latar belakang gonjang ganjing Demak Bintoro. Sidang para wali di Kesultanan Demak memutuskan mengeksekusi Siti Jenar dan kemudian murid-muridnya: Ki Kebokenangan atau Ki Ageng Pengging. Mahesa Jenar merupakan murid Ki Ageng Pengging.

Namun sayangnya, dalam cerita ini, konflik para wali dengan Syeh Siti Jenar alias Syeh Lemah Abang tak dieksplorasi lebih jauh oleh sang pengarang. Mungkin hal itu dikarenakan Singgih tak berani menulis tentang Islam karena ia adalah seorang penganut Katolik.

Meski cerita yang ditulisnya digolongkan dalam cerita silat, Singgih tak menyukai unsur kekerasan. Banjir darah tidak selalu dijadikan penyelesaian akhir untuk menentukan bahwa yang benarlah yang menang. Maka dari itu, dalam cerita ini, Mahesa dikisahkan tak pernah membunuh saat bertempur kecuali dalam keadaan terpaksa. Sebaliknya, SH Mintardja kerap menyelipkan pesan moral dalam ceritanya. Misalnya, saat tokoh-tokoh jahat seperti Sima Samodra atau Lowo Ijo di akhir ceritanya merasa menyesal hingga akhirnya bertobat. Melalui cerita-cerita silatnya, SH Mintardja menyuguhkan drama psikologi tokoh-tokohnya secara apik. Yang unik, SH Mintardja memberikan petuah-petuah berharga melalui dialog-dialog tokoh-tokohnya.

Tak hanya lekat dengan pesan moral, kekhasan seluruh kisah yang ditampilkan SH Mintardja adalah dengan memperkenalkan beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin mulai punah. Sebagai contoh adalah ungkapan rasa syukur menjelang panen padi di desa-desa. Upacara “wiwit” yang berarti “mulai” (panen), berupa pesta kecil di tengah sawah, beberapa kali dengan jelas ditampilkan dalam beberapa ceritanya. Adat kebiasaan “mitoni” atau “sepasaran” dalam menyambut kelahiran bayi di masyarakat Jawa pun dengan pas digambarkannya.

Cerita Nagasasra dan Sabuk Inten bukanlah cerita SH Mintardja yang terpanjang, melainkan Api di Bukit Menoreh. Cerita tersebut dibuat sebagai cerita bersambung di harian Kedaulatan Rakyat tahun 1968. Saat dicetak dalam bentuk buku, cerita ini mampu menghasilkan 486 jilid. Saking panjangnya cerita ini, sampai-sampai ada penggemar cerita SH Mintardja yang mengatakan, bila dijajarkan, maka cerita Api di Bukit Menoreh panjangnya melebihi jarak Anyer-Panarukan.

Namun sayang, SH Mintardja tak sempat menyelesaikan akhir cerita Api di Bukit Menoreh karena ajal telah terlebih dulu menjemputnya. Di sisi lain, imajinasi yang dimilikinya membuat orang berdecak kagum. Ia bisa menulis dua cerita sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Selain menulis Api di Bukit Menoreh, ia juga menulis cerita bersambung silat lain yang berjudul Pelangi di Langit Singosari.

Tak seorang pun tahu dari mana energi luar biasa itu berasal. Karena ia menyerahkan naskah karangannya itu di dua koran yang berbeda. Dan bila ia berhalangan mengirimkan naskah, para pembaca akan menghubungi meja redaksi koran tersebut dan menanyakan mengapa cerita bersambung tak ada.

Demi menghasilkan cerita silat bernilai tinggi, SH Mintardja tak segan mengerahkan seluruh kemampuannya. Menurut pengakuan istrinya Suhartini, mendiang suaminya sempat mempelajari silat Jawa walaupun tidak terlalu mendalami. SH Mintardja hanya menekuninya sebagai kegiatan olahraga semata sambil mempelajai filosofinya. Tak hanya itu, ia juga melakukan survey tempat yang akan dijadikan lokasi dalam cerita.

SH Mintardja juga memiliki cara kerja yang unik. Jika sebagian orang lebih menyukai tempat sunyi ketika sedang mengerjakan sesuatu, tak demikian halnya dengan SH Mintardja. Meski telah disediakan ruangan khusus, ia tetap tak mau memakainya dan lebih suka mengetik di ruang makan rumahnya yang berada di Gedong Kiwo MJ/801, di sekitar Pojok Beteng Kulon Yogyakarta. Alasannya memilih ruang makan agar dapat berinteraksi dengan orang lain, ruangan sepi justru membuat produktivitasnya menurun.

Sang istri pun menjadi orang pertama yang dipercaya SH Mintardja untuk membaca naskah yang selesai ditulisnya, terutama sandiwara radio. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja pun belum akan menyerahkan naskah tersebut.

Setiap bekerja, ia menyediakan dua mesin ketik. Ia mengaku tak pernah menyimpan stok cerita, jika jari-jemarinya sudah bersentuhan dengan tuts mesin tik, ide ceritanya seakan mengalir begitu saja. Namun bila ia kehabisan ide atau mentok, ia akan berpindah ke mesin ketik lain dan membuat cerita lain.

Ternyata, selain mengarang cerita silat atas kehendaknya sendiri, SH Mintardja juga tidak menolak cerita pesanan, misalnya, untuk pementasan ketoprak. Bahkan salah satu naskahnya disukai Sultan Hamengku Buwono X. Naskah ketoprak hasil karyanya yang berjudul Sumunaring Suryo ing Gagat Raino bercerita tentang alih kekuasaan dari Pajang ke Mataram itu dipentaskan November 1996 di Keraton Yogya.

Karya SH Mintardja akhirnya terhenti pada 18 Januari 1999. SH Mintardja menghembuskan nafas terakhir di hadapan anggota keluarganya, Senin, pukul 11.39 WIB di Rumah Sakit Bethesda, Yogya, dalam usia 66 tahun. Jenazah SH Mintardja dimakamkan Selasa (20/1/1999) pukul 15.00 WIB di pemakaman Kristen Arimatea, Mergangsan, Yogyakarta. Almarhum dirawat di RS Bethesda sejak Sabtu 26 Desember 1998 karena menderita sakit jantung. Meskipun telah tiada, karya-karya SH Mintardja tetap hidup dan tak pernah tenggelam ditelan waktu. eti | muli-mlp

Sumber:
© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Dulu Karyawan, Eko Kini Juragan Perhiasan Perak

Menekuni kerajinan desain perhiasan sejak 2011, Eko Filyawan kini sukses meraup omzet tebal dari ceruk usaha ini. Dalam sebulan, omzetnya mencapai Rp 150 juta hingga Rp 200 juta.

Dari omzet tersebut, laba bersih yang didapatkan sekitar 15 persen. "Laba bersih yang saya dapat sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta dalam sebulan," kata Eko yang merintis usaha di Gianyar, Bali.

Saat ini, ia fokus memproduksi perhiasan berbahan perak. Ia sebetulnya sudah tidak asing dengan usaha perhiasan perak ini. Di 2009, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan perhiasan perak internasional yang membuka lisensi di Indonesia.

Kala itu, Eko menjabat sebagai production planning and inventory control. Dengan jabatannya itu, ia banyak mengetahui berbagai aktivitas produksi perhiasan perak.

Pada tahun 2010, ia pindah bekerja ke perusahaan perhiasan perak lainnya. Di sini, ia menjabat sebagai manager customer relation. Dengan posisinya itu, ia banyak menjalin relasi dan belajar menangani para pelanggan.

Berbekal pengalamannya tersebut, di tahun 2011 Eko mendirikan usaha sendiri bernama Kawan Bali. "Modal awal saya tidak begitu besar, hanya sekitar Rp 30 juta. Soalnya, setiap pemesanan, pembeli akan membayar uang di muka," ujar Eko.

Tak hanya mendesain, ia juga mengawal produksi perak hasil desainnya tersebut hingga sampai ke pelanggannya. Tidak terlalu sulit bagi Eko dalam menjalani usaha ini, karena relasinya sudah kuat.

Selain itu, ia juga memasarkan perhiasan hasil desainnya secara online. Hampir seluruh perhiasan Kawan Bali diproduksi rumahan dengan buatan tangan.

Jika pesanan sedang membeludak, ia terpaksa menggandeng perajin lain. Sebab, kapasitas produksinya masih terbatas. Saat ini, produksi Kawan Bali sekitar 300 hingga 500 buah perhiasan dalam sebulan.

Produk perhiasan itu dibanderol mulai Rp 300.000 hingga Rp 600.000 per buah. Ia mengklaim, perhiasan hasil rancangannya cukup diminati pasar. Selain di dalam negeri, seperti Bali, Bandung, dan Kalimantan, ia juga pernah mendapat pesanan dari Amerika dan Belgia. Kini, ia mengaku tengah menangani pesanan dari Jerman.

Menurut Eko, perhiasannya diminati karena desainnya yang menarik. Selain itu, "Saya juga berusaha membuat desain yang tidak banyak dimiliki orang lain," jelasnya.

Kendati demikian, ia tetap mengupayakan agar dari sisi harga desainnya tidak terlalu mahal dan bisa diproduksi dalam jumlah besar. Hal itu penting untuk mengantisipasi pemesanan dalam jumlah besar.

Dalam perjalanan membesarkan usaha ini, Eko juga pernah mengalami kendala. Misalnya, saat ia mendapat pesanan besar dan menyanggupinya. Namun, ia ternyata kesulitan memenuhi pesanan tersebut, sehingga akhirnya terkena penalti atau denda.

Kendala lain, ia juga pernah ditipu perajin. Ia menceritakan, saat itu mendapat order besar sehingga menggandeng perajin lain. Untuk itu, ia memasok perak ke perajin yang menjadi mitra usahanya sebanyak satu kilogram. "Eh, malah perak itu dibawa kabur oleh perajin tersebut," ujarnya. (Revi Yohana, Revi Yohana/Kontan)

Bos Alfamart, dari Kios Menjadi 5.500 Minimarket

Pekan lalu, Majalah Forbes merilis 40 orang terkaya di Indonesia. Meskipun kondisi perekonomian global sedang gonjang-ganjing, total kekayaan ke-40 orang kaya Indonesia tahun ini meningkat hingga 19 persen menjadi 85,1 miliar dollar AS.

Di antara ke 40 orang terkaya tersebut, ada beberapa orang yang merupakan wajah baru, diantaranya adalah Djoko Susanto, bos industri ritel PT Sumber Alfaria Trijaya atau dikenal dengan nama Alfamart.

Kekayaan ayah dari 5 orang anak ini mencapai 1,040 miliar dollar AS atau Rp 9,36 triliun. Dari mana Djoko mendapatkan kekayaan tersebut? Berikut sepenggal perjalanan kesuksesan Djoko mulai dari merintis bisnisnya hingga menjadi salah satu orang terkaya di bumi Indonesia, seperti dikutip dari Forbes.

Umur 17 tahun, Djoko mulai mengambil alih kios milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta. Saat itu, kios bernama Sumber Bahagia itu hanya menjual makanan, namun seiring dengan waktu, Djoko muda memutuskan untuk menjual rokok. Keputusan tersebut berjalan dengan baik, pembeli tidak hanya datang dari para perokok, tapi juga para pembeli grosiran dan ritel juga menjadi pelanggan.

Keberhasilan Djoko di bisnis rokok ini, rupanya menarik perhatian Putra Sampoerna, yang saat itu masih menjadi pemilik produsen rokok bermerk HM Sampoerna. Keduanya bertemu pada awal 1980an dan akhirnya pada tahun 1985 sepakat untuk membangun 15 kios sejenis di beberapa wilayah di Jakarta. Kerjasama tersebut sukses, sehingga menginspirasi keduanya untukl membuka supermarket Alfa Toko Gudang Rabat. Di tahun yang sama Djoko juga menjadi salah satu direktur distribusi dan penjualan Sampoerna yang semakin menjadi perusahaan maju.

Untuk menjangkau kalangan menengah ke bawah yang mencari harga murah dan kenyamanan, tahun 1994 keduanya membuka Alfa Minimart yang kemudian berganti nama menjadi Alfamart. "Saya tadinya akan menamakannya Sampoerna Mart, tapi kemudian memilih Alfa, yang sudah menjadi merk yang teruji dan dikenal," ungkap Djoko.

Kerjasama Djoko dengan Putra Sampoerna harus berakhir tahun dan 2005. Sampoerna menjual perusahan rokok dan anak perusahaannya termasuk 70 persen saham di Alfamart, kepada Philip Morris sebesar 5 miliar dollar AS.

Philip Morris sendiri ternyata tidak tertarik bermain di sektor ritel, sehingga perusahaan asal Amerika Serikat ini pun menjual saham Alfamart kepada Djoko dan Northstar. Tahun lalu Djoko membeli Northstar, sehingga membuatnya menjadi pemegang 65 persen saham. Keputusannya dinilai sebagai langkah yang cerdas, karena saham peritel ini melonjak dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir dan empat kali lipat dalam dua tahun terakhir. Hal ini mendorong Djoko masuk ke dalam jajaran miliuner dunia, sekaligus menjadi orang terkaya baru di Indonesia.

Djoko yang beberapa tahun lalu menjual bisnis supermarketnya, ternyata masih nyaman dengan minimart. Penjualan sektor ini tumbuh rata-rata dari 15 persen menjadi 20 persen setahun. Alfamart yang saat ini memiliki 5.500 toko dengan melayani hampir 2 juta orang konsumen per hari dan memperkerjakan lebih dari 57.000 karyawan, memimpin transformasi dari toko pinggir jalan menjadi minimart modern dengan barang-barang pilihan berharga sama bahkan lebih baik.

Tahun 2012 Alfamart berencana membuka 800 outlet lagi. "Minimarket ini selalu dituduh menghambat pasar tradisional. Padahal, apa yang dilakukan minimarket adalah mendorong pasar tradisional untuk meningkatkan pelayanan mereka," pungkas Djoko.

Deddy Wahjudi: Arsitek Indonesia Patut Diperhitungkan Dunia

Arsitek Indonesia itu memiliki keragaman karakter, inovasi konsep, serta pemikiran baru yang seharusnya masuk dan mewarnai khazanah perkembangan arsitektur dunia. Begitulah pendapat Arsitek Deddy Wahjudi, penggagas Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011 (IAWT 2011). Karena itu, pada saat Kongres Asosiasi Arsitek Dunia berlangsung, sebanyak 46 karya arsitek Indonesia turut dipamerkan dari 24 September - 2 Oktober 2011.

Kepada Kompas.com, Deddy bercerita bagaimana pameran ini terwujud serta mendapat apresiasi positif dari para Arsitek Indonesia.

Kegelisahan apa yang Anda rasakan sebagai arsitek, sehingga "membuka jalan" bagi para arsitek Indonesia berpameran di Tokyo, Jepang?

Peran para arsitek Indonesia bagi perkembangan keilmuan arsitektur dunia sangat signifikan. Berbagai karya dan penghargaan pada skala nasional dan internasional pun banyak diraih oleh mereka. Arsitek Indonesia memiliki keragaman karakter, inovasi konsep dan pemikiran baru. Ini seharusnya masuk dan mewarnai khazanah perkembangan arsitektur dunia. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kami berpameran dalam Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011, sebagai even berkesinambungan saat Kongres Dunia Asosiasi Arsitek Dunia (UIA) berlangsung.

Seperti apa pandangan dunia terhadap arsitek dan perkembangan arsitektur Indonesia? Bagi mereka, arsitektur Indonesia adalah Borobudur, Rumah Toraja, dan berbagai bangunan tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Sementara, peran arsitek Indonesia akhir-akhir ini hampir tidak pernah dilihat. IAWT 2011 mencoba untuk membuka mata dunia tentang peran arsitek Indonesia akhir-akhir ini.

Mengapa memilih Tokyo, Jepang, untuk pameran arsitek?

Selain Kongres Dunia Arsitek tahun ini berlangsung di Tokyo, saya melihat bahwa Tokyo adalah salah satu pintu gerbang Arsitektur Asia. Silaturahmi kita dengan komunitas dunia yang lebih luas dapat dilakukan di sini.

Bisa diceritakan proses awal sampai akhirnya IAWT 2011 ini dimintai oleh rekan-rekan arsitek lainnya?

Pameran IAWT 2011 ingin memberi gambaran perkembangan dunia arsitektur dan arsitek Indonesia saat ini. Kami membuat undangan terbuka bagi semua arsitek Indonesia untuk memasukkan karya, kemudian melewati proses kurasi. Sebagai kurator, Arsitek Andra Matin dan saya memilih 46 dari 160-an karya yang masuk. Karya para Asritek ini dikirim dari seluruh penjuru Tanah Air.

Bisa diceritakan proses kurasi yang menghasilkan 46 karya terpilih? Proses kurasi berlangsung dengan dua tahapan. Akhirnya terpilih 46 karya, mewakili keragaman filosofi, karakter arsitek dan skala karya. Ada karya rumah tinggal hingga jenis bangunan yang lebih kompleks seperti pabrik, bangunan infrastruktur, hingga bangunan tinggi. Beberapa dari desain ini menjawab kebutuhan aktual masyarakat Indonesia, lainnya ada tentang desain utopia. Karya juga ada yang merupakan karya terbangun, namun ada pula hasil studi/workshop. Desain yang kami pilih kebanyakan karya dengan penghargaan berskala nasional atau internasional. Kami berharap, karya IAWT 2011 merupakan representasi perkembangan arsitektur Indonesia saat ini.

Apa harapan Anda untuk kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang?

Saya berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi rutin, paling tidak dua tahun sekali kita dapat pameran ke ajang Internasional.

Menjadi Arsitek sejak tahun 1994, apa tantangan dunia arsitektur terutama terkait kemajuan pembangunan kota? Menjadi arsitek artinya memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang nyaman baik dari sisi fisik dan sosial. Tantangannya ialah arsitek dilibatkan untuk merencanakan kota dengan baik. Tiap kota itu memiliki karakter masing-masing, arsitek memiliki peranan untuk mengkonsep pengembangan kota tanpa mengesampingkan karakter khas kota tersebut.

BIOGRAFI Deddy Wahjudi

1990-1996 Strata 1 di Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung 1994-1997 Arsitek di Biro Arsitektur Achmad Noe'man 1998-2000 Strata 2 di Nihon University Jepang mengambil bidang Urban Design 2002-2005 Strata 3 di Chiba University Jepang mengambil bidang Design & Culture 2005-2006 Post-doctoral Program bidang Urban & Culture disponsori Obayashi Foundation 2006-sekarang Principal di LABO. Architecture+Design (http://labo.are.ma), Pengajar di Program Studi Desain Produk ITB 

Dulu Penjual Sepatu, Kini CEO Sukses

Bak kacang tak lupa kulitnya, Go Hengky Setiawan mengaku tak bisa melupakan masa mudanya di tahun 70-an. Berkeliling Pulau Jawa, bahkan sampai ke Bali membawa koper-koper berisi sepatu kulit yang akan dijualnya ke toko-toko. Usianya waktu itu masih 18 tahun, baru lulus SMA.

Lahir di Ambulu, Jember, Jawa Timur, Go Hengky Setiawan tumbuh di Surabaya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga SMA, ia besar dan menempuh pendidikannya di kota tersebut. Meski terhitung keluarga pengusaha, anak ke-10 dari 11 bersaudara ini lebih memilih menjadi wirausahawan ketimbang kuliah yang berbiaya besar.

"Saya memang tidak kuliah. Tahun 1977 itu, begitu lulus langsung dagang sepatu. Saya berdua sopir keliling Jawa. Satu kali kami berdua pernah ngebut dengan mobil malam-malam dari Solo ke Salatiga. Itu untuk mengejar waktu, takut tokonya sudah tutup," kenang Hengky, panggilan akrabnya.

Hengky mengakui, usaha home industry yang dijalaninya itu memang butuh perjuangan. Setelah lebih kurang lima sampai enam tahun berjalan, usaha itu akhirnya kandas. Kredit macet menjegal keuntungannya.

"Ternyata bisnis sepatu memang tidak gampang. Banyak toko yang utang bayar, sementara lama-lama modal saya habis. Bagaimana tidak, wong ongkos produksinya dibayar kontan, tapi begitu pembayarannya malah diutangi terus," kata lelaki kelahiran 8 Januari 1957 ini.

Kredit macet tak bisa dihindari. Banyak toko langganannya ingkar janji dengan mengulur-ngulur waktu pembayaran yang mestinya maksimal jatuh tempo hanya tiga bulan. Di sisi lain, pabriknya terus produksi dan tetap mengeluarkan ongkos operasional. Hengky pun memutuskan menutup pabrik sepatu itu.

Kapok? Nyatanya, tidak. Selepas itu, Hengky banting stir ke bisnis furnitur. Ia mendirikan toko di Surabaya.

"Saya menjual barang-barang furnitur milik kakak dari kakak ipar saya. Furniturnya dari Taiwan," tutur Hengky.

Hasilnya, bisnis ini pun tidak sukses ia jalani. Sampai akhirnya, pada 1988, Hengky memutuskan pindah ke Jakarta. Di kota ini, ia malah terjun ke bidang properti. Ia ikut pamannya, Mukmin Ali Gunawan, pemilik Bank Panin yang juga berbisnis properti.

"Properti itu bisnis yang bagus, karena sejak dulu harga tanah tidak pernah turun dan tak bisa lagi diproduksi," ujarnya.

Sejak itulah, sosok Hengky terus berkibar dengan bisnis barunya, bisnis properti. Dari hanya sebagai pengusaha sepatu kecil, kemudian berbisnis furnitur impor, kini ia menjadi seorang CEO dengan beragam proyek, mulai ruko sampai apartemen. Baginya, apapun yang ia lakukan di masa muda adalah pelajaran hidup yang selalu berharga di masa depan.

Menjadi CEO
Perusahaan properti Agung Sedayu adalah batu pijakan Hengky terjun ke dunia properti. Di sini, ia mengalami masa-masa keemasan. Sampai akhirnya, pada 1994, Hengky merintis sendiri perusahaan barunya, Binakarya Propertindo Group (BPG).

"Proyek pertamanya itu di Pademangan, bikin ruko. Kemudian menyusul Apartemen Gunung Sahari, ruko dan kantor Victorian Bintaro, dan Perumahan Cibubur Village di Jakarta Timur, lalu town house Royal Spring Residence di Jakarta Selatan," ujar Hengky.

Namun, hanya dua tahun kemudian, cobaan kembali menerjang. Tahun 1998, krisis moneter menerpa Indonesia. Nilai properti yang dibangunnya seolah tak ada harganya, meskipun rupiah sangat bernilai di dalam negeri.

"Karena bunga rupiah waktu itu bisa mencapai 70 persen. Saat itu, memang utang membengkak," ujarnya.

Berbekal pengalaman masa muda, Hengky tak patah arang. Usahanya tetap ia lakoni dengan terus menjual produk-produknya. Saat itu, bisnis properti memang harus menelan pil pahit karena perusahaan hanya sanggup membayar bunga, sementara jualan propertinya tidak laku. Nyaris, tak ada pemasukan ke kantong perusahaannya.

Toh, sampai saat ini bendera perusahaan yang ia dirikan masih tetap berdiri, karena akhirnya badai krisis moneter (krismon) 1998 itu berhasil ia lalui. Meskipun mengaku rugi, arus dana perusahaannya aman dan tak punya sepeser pun utang bank.

"Sekarang ini kami tak lagi khawatir soal krisis Eropa, kita sudah punya pengalaman di '98. Saat ini capital in flow di Indonesia sedang bagus-bagusnya. Investor juga senang, mereka datang tinggal dan lihat mana tawaran yang menguntungkan karena bunganya di sini bagus, 7 - 8 persen," kata Hengky.

Penghargaan
Hengky mengaku optimistis, bisnis properti Indonesia ke depan masih akan terus bersinar. Hal itu karena nilai properti di Tanah Air masih tergolong murah, sementara di Eropa sangat mahal. Untuk itu, kata dia, BPG terus mengembangkan proyek-proyeknya, mulai ruko sampai rusun, dari apartemen menengah sampai premium.

Bagi konsumen menengah misalnya, lanjut Hengky, BPG membangun rumah susun sederhana milik (rusunami) yang diawali dengan meluncurkan Gateway Apartment di Cileduk, Jakarta Selatan. Dari proyek itu, BPG kemudian membangun Cibubur Village Apartment di Jakarta Timur, serta Casablanca East Residence di Selatan. BPG kemudian juga berekspansi dengan membangun Pluit Sea View di Jakarta Utara.

Tak hanya Jakarta. BPG pun kemudian melirik Bandung dengan membangun apartemen menengah, yaitu Gateway Apartment@Bandung. Di Kota Kembang ini Gateway Apartment@Bandung tak hanya sukses dalam penjualan, namun juga meraih penghargaan "The First Sky Garden Apartment Concept" di ajang 6th Property and Bank Award 2011, awal September lalu di Jakarta.

"Di sini itu melaksanakan green building masih setengah-setengah, belum semua orang mau mengaplikasikan pada bangunannya. Kami, dengan konsep ini, justru bisa memanfaatkan bagian atas bangunan yang kerap tak pernah dipakai. Di sini kami buatkan taman dan ini sangat cocok dengan Bandung karena pemandangannya memang bagus," ungkap Hengky.

Tak puas dengan Gateway Apartment@Bandung, BPG kembali membangun Gateway Pasteur. Lokasinya tepat di gerbang kota ini.

Hengkyu menuturkan, tak hanya hunian vertikal, karena BPG juga ikut bermain di landed house atau residensial dengan membangun Golden Palm Residence dan Park Residecence di Jakarta Barat. Sementara di Watu Jimbar, BPG juga membangun kondotel eksklusif di Sanur, Bali.

"Tak bermaksud mengecilkan Jakarta, sebab Bandung dan Bali pun prospek yang sangat besar untuk dunia properti. Sebagai salah satu tujuan wisata favorit di dunia, Bali sebagai lokasi investasi tentu jadi yang terbaik. Sementara Bandung, buat kami sangat visible, karena orang Bandung juga mulai menyukai bangunan tinggi," ujarnya.

Tahun ini, selain tengah menyiapkan Pluit Sea View di Pluit, Jakarta Utara, BPG juga tengah berancang-ancang menggarap Bekasi Town Square (Betos). Pada proyek superblok ini, lanjut Hengky, BPG akan membangun pasar bersih, waterboom, apartemen, serta hotel.

"Reputasi dan kepercayaan itu nilai yang sangat berharga dan harus saya pertahankan. Karena dua hal itulah yang akan menjadikan pengembang bisa dipercaya atau tidak sebagai partner abadi dalam dunia properti," ucap Hengky.

Yoseph Ibrahim, Duplikat Tom Jones Asal Bandung

Bandung - Penyanyi solo asal Inggris, Tom Jones, memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Di Indonesia malah memiliki wadah pengidola musisi legendaris tersebut. Bahkan, duplikat Tom Jones lahir dari Kota Bandung.

Pria itu bernama lengkap Yosep Ibrahim (57). "Banyak orang yang bilang kalau karakter vokal saya mirip Tom Jones," ujar Yoseph saat jumpa pers 'Atribute to Tom Jones' di Imperium International Hotel, Jalan Dr Rum, Kota Bandung, Selasa 28 Juni lalu.

Saking gaya dan karakternya mirip Tom Jones, bapak empat anak ini memperoleh julukan Yoseph Jones. "Sebutan itu sudah jadi trademark, tapi bukan kemauan saya. Brand image ini dilekatkan dari para sahabat dan penggemar Tom Jones di Indonesia," ucap Yoseph merendah.

Pemilik jenis suara tenor ini girang saja menyemat nama 'Jones' di belakang nama aslinya. Di usianya yang mulai sepuh, Yoseph kian cinta menggandrungi karya-karya musik serta lagu Tom Jones.

Pria kelahiran Bandung pada Agustus 1954 ini berkisah sejak usia belia sudah gemar bernyanyi. Menapaki remaja, ia serius menekuni aktivitas tarik suara. Olah vokal terus diasah hingga menjumpai karakter yang pas.

Yoseph waktu itu pernah mendengarkan lagu-lagu Tom Jones. Di era 70-an, Tom Jones salah satu penyanyi asing yang digemari. Meski memang hingga kini, Tom Jones masih terdengar asing dibanding penyanyi sekaliber Elvis Presley, John Lennon, dan Mick Jagger.

Kala darah muda megalir, Yoseph kian rajin berlatih membawakan lagu-lagu Tom Jones. Ia sadar suaranya klop dengan karakter dimiliki penyanyi legendaris tersebut.

"Tom Jones itu memang melow, tapi suaranya lelaki banget. Saya suka. Akhirnya hingga sekarang, saya merasa karakter suara ini cocok dengan Tom Jones," ungkap Yoseph.

Sang duplikat Tom Jones tersebut pada 8 Juli 2011 nanti siap memamerkan kepiawaiannya dalam pentas musik bertajuk 'A Tribute To Tom Jones'. Acara besutan Tom Jones Community Indonesia (TJCI) West Java ini berlangsung di The Club Imperium International Hotel, Jalan Dr Rum No 30-32, Kota Bandung.

"Persiapan pribadi untuk acara nanti yaitu terus serius latihan. Tentu juga menjaga kondisi kesehatan dan vokal agar tampil maksimal," tuturnya.

Rencananya Yoseph beraksi dua jam di atas panggung melantunkan deretan 20 lagu beken milik Tom Jones. Lagu lawas yang disiapkan itu antara lain Delilah, I'll Never Fall In Love Again, Green Green Grass of Home, dan Help Yourself.

Yoseph tidak manggung sendirian. Pria ini akan diiringi para personel Bee Eldi Band selama pertunjukan berlangsung. "Band pengiring ini masih muda-muda. Saya salut, personelnya begitu cepat mengusai materi lagu karya Tom Jones," papar Ketua Umum TJCI West Java ini.

Penggemar Tom Jones tentu berharap kerinduan masa lampau di era 70-an bisa kembali menyentuh memori hati. Tembang berbalut pop itu terasa rugi bila dilewatkan telinga penikmat musik oldies. (bbn/ern)

Jimmy dan Batik Papua

Usaha batik tidak lagi melulu diproduksi di Jawa, Papua pun sudah mulai merambah produk yang telah dipatenkan oleh Unesco ini. Salah satunya melalui kerajinan Batik Port Numbay, dengan Jimmy Hendrick Afaar menjadi salah satu pengusahanya. "Di Jayapura telah menjadi sentral dari Batik Port Numbay," tutur Jimmy kepada Kompas.com, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut pria yang memulai usaha batik pada 21 April 2007 ini, batik memang telah banyak diproduksi di Papua, namun batik Port Numbay, yang merupakan nama lain dari Kota Jayapura, memiliki standarisasi tersendiri. "Sebelum batik, dari tahun 1980 sampai 2006, saya bergabung dengan kelompok desainer," ungkap Jimmy yang sempat berguru batik di Pekalongan ini.

Untuk menjaga mutu produknya, Jimmy pun tak segan-segan mendatangkan pelatih dari Jawa, khususnya Yogyakarta, untuk mentraining para pekerjanya. Ia juga mengirimkan para pekerjanya ke Jawa. "Pelatihnya didatangkan dari balai pelatihan batik di Jogja," sebut pria yang sampai sekarang telah mempunyai 15 karyawan itu.

Karyawan lak-laki mengerjakan batik cap sedangkan perempuan menggarap batik tulis yang memang membutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya. Dari 15 karyawannya itu, tiap bulan produksi batik Jimmy mencapai 2.000 potong batik cap dan 16 potong batik tulis berbahan sutra dan katun .

Dengan harga antara Rp 200.000 sampai Rp 2,25 juta per potong, omzet Jimmy yang pada awalnya hanya bisa memproduksi 16 potong kain ini, sekarang sudah mencapai Rp 20 juta per bulan, belum termasuk pesanan untuk seragam kawinan. Batik produknya pun sudah mencapai Surabaya dan Jakarta.

Jimmy yang menurut pengakuannya pernah bergabung dengan desainer Poppy Dharsono ini, lebih memilih batik berbahan dasar katun ketimbang sutra, mengingat iklim di Papua yang panas. Sedangkan sutra ditujukan bagi konsumen yang berkantong lebih. "Saya jarang buat sutra, lebih banyak katun," sebutnya, yang menjelaskan proses pengerjaan bahan sutra dapat memakan waktu 3 bulan.

Lebih dari sekedar usaha, melalui batik buatannya Jimmy mengaku bisa memberitakan tentang keindahan alam, pariwisata hingga budaya Papua. "Setiap orang yang memakai batik saya itu, setidak-tidaknya dia tahu tentang budayanya, dia tahu tentang pariwisatanya (Papua)," ungkapnya.

Ia menjelaskan motif batiknya bisa berupa sejumlah jenis daun, dengan maksud sebagai pengingat bagi pemakai batik, guna daun tersebut dalam pengobatan.

Untuk memperkenalkan produknya, Jimmy mengikuti berbagai pameran. Berkat pameran pula ia diundang oleh perancang Italia berkunjung ke negeri Pizza itu pada blan Juni mendatang.

Serupa dengan pengusaha lainnya, Jimmy pun menghadapi kendala permodalan untuk pengembangan usaha batiknya. "Belum ada "Bapak Angkat," seperti sejumlah BUMN,untuk membantu ukm-ukm di Papua," sebutnya. Sehingga sejauh ini, ia menjalankan usahanya sendiri, dibantu dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat.

BM Syamsuddin

BM Syamsuddin lahir di Sedanau, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (sebelum pemekaran termasuk ke dalam wilayah Provinsi Riau, Ed), pada 10 Mei 1935. Ia menamatkan Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru Bantu (SGB) di kampung kelahirannya itu. BM Syam melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang pada pertengahan tahun 1950-an dan di sekolah inilah bakat kesastraan laki-laki bernama asli Bujang Mat Syamsuddin ini mulai terlihat.

Setamat SGA, BM Syam mengajar SD dan SMP di beberapa tempat di Tanjungpinang dan Sedanau, sebelum akhirnya memilih hijrah ke ibukota provinsi, Pekanbaru, pada pertengahan tahun 1970-an. Di kota ini kemampuan kesastraaan BM Syam semakin terasah. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen pun dimuat di bebagai media massa, di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu, Suara Pembaruan, Lembaran Budaya ??Sagang?? Riau Pos, Haluan, Mingguan Genta, Majalah Amanah dan lain sebagainya.

BM Syam terbilang salah sedikit pengarang produktif Riau pada masanya. Di awal-awal karier kepengarangannya, ia tidak dikenal sebagai penulis cerpen -- ia memulai karier kepenulisannya melalui puisi -- namun sebenarnya cerpen sulungnya sudah dimuat di Majalah Merah Putih pada tahun 1956 dengan nama pena Dinas Syam.

Selain menulis sajak dan karya-karya fiksi (roman), BM Syam juga banyak menulis esei, kritik dan artikel kebudayaan di berbagai media massa di Indonesia. Ia juga pernah terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan di Majalan Topik (Jakarta), menulis laporan-laporan daerah dari Riau di harian Haluan dan beberapa tahun sebelum akhir hayatnya sempat bergabung dengan harian Riau Pos di Pekanbaru.

Setamat SGA BM Syam menjadi guru di sekolah rendah dan menengah di Pekanbaru pada tahun 1955-1981, di samping bertugas di Subseksi Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Pekanbaru selama 10 tahun (1981-1991. BM Syam juga menjadi dosen luar biasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau (FKIP UIR) (1988-1995).

Di antara buku-bukunya yang sudah terbit adalah lima cerita anak-anak Si Kelincing (1983), Batu Belah Batu Bertangkup (1982), Harimau Kuala (1983), Ligon (1984), Dua Beradik Tiga Sekawan (1982). Roman sejarahnya ialah Damak dan Jalak (1982), Tun Biajid I dan Tun Biajid II (1983), Braim Panglima Kasu Barat (1984), Cerita Rakyat Daerah Riau (1993). BM Syam juga menulis buku ilmiah popular untuk tingkat sekolah dasar, antara lain Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong (1982), Mendu Kesenian Rakyat Natuna (1981).

Cerpen fenomenalnya, Cengkeh pun Berbunga di Natuna, mendapat perhatian khalayak sastra Riau ketika terbit di harian Kompas pada tahun 1991. Cerpen ini kemudian terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas dan terbit dalam antologi Kado Istimewa (1992). Cerpen-cerpen penting lainnya antara lain Perempuan Sampan (1990), Toako (1991), Kembali ke Bintan (1991), Bintan Sore-sore (1991), Gadis Berpalis (1992), Pemburu Pipa Sepanjang Pipa, Nang Nora, dan Jiro San, Tak Elok Menangis (1992).

BM Syam wafat di Bukitttingi, pada hari Jumat, 20 Februari 1997 dan dikebumikan di Pekanbaru. Menjelang akhir hayatnya, BM Syam masih cukup produktif berkarya. Publik sastra Riau merasa sangat terharu dan kehilangan karena tokoh sastrawan besar Tanah Melayu ini sangat mengesankan dan familiar terhadap semua orang.

Martha Christina Si Pemberani dari Timur

Oleh Syarivah Alaidrus

Perempuan pada masa prakemerdekaan kerap dipersamakan dengan dapur dan mengurus anak.

Namun, Martha Christina Tiahahu, perempuan pejuang Maluku, membuktikan bahwa tidak selamanya kaum wanita hanya bisa bekerja di dapur dan mengurus anak.

Ia adalah sedikit dari perempuan Indonesia yang dalam hidupnya berperan sejajar dengan kaum pria, bahkan dalam urusan membela bangsa dan negara.

Martha Christina Tiahahu, lahir pada 1800, di suatu desa bernama Abubu di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah. Ia lahir dari keluarga Tiahahu dari kelompok Soa Uluputi.

Soa dalam bahasa Maluku berarti 'kelompok yang membagi masyarakat berdasarkan marganya sebagai identitas asal-usul keluarga'.

Martha adalah wanita pemberani yang mengangkat tombak untuk melawan Belanda.

Seperti yang dituturkan oleh ahli warisnya, Merry Lekahena (58), berdasarkan kisah turun-temurun yang diceritakan oleh orangtuanya, Martha dibesarkan oleh ayahnya yang merupakan seorang pemimpin perang karena ibunya meninggal saat ia masih belia.

Martha kecil terkenal berkemauan keras dan pemberani. Ia selalu mengikuti ke mana pun ayahnya pergi, termasuk menghadiri rapat perencanaan perang, sehingga dirinya terbiasa turut mengatur pertempuran dan membuat kubu-kubu pertahanan.

"Kemampuan, sikap keras kepala, dan tekad yang kuat yang membuatnya sejajar dengan laki-laki. Ia bahkan tidak mau meminta pengampunan Belanda terhadap ayahnya meskipun ia sedih sekali," kata Lekahena.

Martha Chistina dan ayahnya, Paulus Tiahahu, bersama-sama dengan Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura berhasil menggempur kependudukan tentara kolonial yang bercokol di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah.

"Mereka berhasil membumihanguskan Benteng Duurstede," ujar Lekahena menjelaskan.

Namun, dalam pertempuran sengit di Desa Ouw-Ullath, sebelah Tenggara Pulau Saparua pasukan rakyat kalah akibat ketidak seimbangan persenjataan, tipu muslihat penjajah dan adanya penghianatan.

Banyak pejuang yang ditawan dan harus menjalani berbagai hukuman, salah satunya adalah ayahandanya yang dihukum tembak mati.

Meski demikian, Martha Christina terus bergerilya bersama tentara rakyat yang tersisa dan akhirnya ia pun tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Menjadi tawanan tidak membuatnya jera, ia tetap bersikap keras kepala dengan melakukan aksi mogok makan dan jatuh sakit.

Martha Christina menemui ajalnya di atas kapal perang Eversten milik Belanda dan jasadnya diluncurkan di Laut Banda dengan penghormatan militer pada 2 Januari 1818.

Pahlawan Nasional

Kendati berjuang menggempur musuh bersama pasukan ayahnya, Martha Christina yang memulai perang pertamanya ketika berusia 17 tahun dan hanya mengandalkan sebatang tombak itu tetap bergaya layaknya perempuan dengan rambut terurai serta ikat kepala berwarna merah.

Tidak hanya gagah berani, Srikandi Maluku itu juga memberi semangat kepada para wanita di sejumlah desa di Maluku agar ikut angkat senjata bersama kaum pria melawan kependudukan tentara kolonial.

Untuk menghargai jasa-jasa dan pengorbanannya, oleh Pemerintah Republik Indonesia, Martha Christina Tiahahu dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan tanggal 2 Januari menjadi Hari Martha Christina.

Monumennya pun dibangun menghadap ke laut Banda di desa kelahirannya yang diresmikan oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu pada 2 Januari 2008 dalam peringatan Hari Martha Christina yang ke-190 tahun.

Sedangkan di Ambon, monumen Martha Christina tegar berdiri dengan sebatang tombak di tangan Bukit Karang Panjang menghadap ke Teluk Ambon, seakan-akan menyiratkan tekadnya menjaga keutuhan Maluku sebagai daerah kaya berbagai potensi sumber daya alam sebagai bagian kekuatan masa depan untuk kesejahteraan masyarakat.

-

Arsip Blog

Recent Posts