Tampilkan postingan dengan label Talang Mamak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Talang Mamak. Tampilkan semua postingan

Petinggi Suku Talang Mamak Inhu Serahkan Peta Adat ke Pj Bupati

Rengat, Riau - Dihari ulang tahun ke 16 Kecamatan Batang Cenaku, masyarakat adat talang mamak dan pengurus daerah AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Kabupaten Indragiri Hulu, Riau secara resmi menyerahkan peta wilayah adat kepada Pemkab Inhu dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dalam peta wilayah adat yang diserahkan itu, didalamnya terdapat 15 kebatinan suku talang mamak dengan total luasan sekitar 195.861 Ha. Peta tersebut diterima langsung oleh Dirjen PSKL (Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan), Hadi Daryanto DEA, Selasa (16/2/2016).

Dalam peta tersebut, diterangkan bahwa masyarakat adat talang mamak itu sendiri terdiri dari 29 komunitas yang disebut Kebatinan. 29 komunitas itu tersebar di lima kecamatan, diantaranya Kecamatan Batang Cenku, Batang Gansal, Rakit Kulim, Rengat Barat dan Kecamatan Seberida.

Sesuai sejarahnya, masyarakat adat talang mamak itu sendiri dikenal dengan sebutan, sembilan batin di Batang Tanaku (Batang Cenaku), Sepuluh masuk Dubalang Anak Talang, Sembilan Batin di Batang Gansal Sepuluh masuk Denala, Denala Pasak Malintang be Bapak Ketiga Lorong be Tuan ke Minang Kabau be Raja ke Indragiri be Rinduk ke Suku nan Anam Balai nan Tiga atau Ber Induk ke Patih.

"Suku talang mamak saat ini sudah menuju pada kehancuran, karena sebagian besar wilayah adat diporak-porandakan oleh kehadiran HPH, wilayah transmigrasi dan pembalakan liar. Hutan alam telah berubah menjadi hamparan kebun kelapa sawit milik swasta," ungkap Abu Sanar selaku Ketua BPH PD AMAN Inhu.

Tradisi Gawai Gedang Habiskan Ratusan Juta Rupiah

Pekanbaru, Riau - Masyarakat adat Talang Mamak di pedalaman Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau telah menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah untuk pelaksanaan tradisi pernikahan adat besar "Gawai Gedang".

"Kalau dikalkulasikan semuanya, biaya gawai gedang lebih dari Rp200 juta," kata Ketua Panitia Gawai Gedang, Gilung, di Desa Talang Perigi, Riau, Rabu.

Gawai Gedang merupakan upacara adat Talang Mamak dalam pernikahan, atau bisa dikatakan pesta besar. Pelaksanaanya berlangsung di Desa Talang Perigi selama tiga hari sejak 14 Januari lalu.

Gilung menjelaskan, mahalnya biaya pesta paling banyak untuk konsumsi. Sebab, ritual adat itu turut melibatkan ribuan warga Talang Mamak dari 20 batin atau tokoh adat di desa.

"Jumlah panitianya saja ada 100 orang dan mulai bekerja sejak dua minggu sebelum acara. Makanya, biaya konsumsi paling tinggi," katanya.

Namun, ia mengatakan seluruh biaya itu tidak dibebankan semuanya kepada si pengantin. Sebab, seluruh 20 batin yang ikut serta turut bergotong-royong untuk kelancaran acara.

Masing-masing Batin mengumpulkan sumbangan untuk biaya nikah dari warga Talang Mamak di daerahnya.

"Setiap batin ikut membantu ada yang dengan sumbangan uang, ada yang bawa beras dan ada juga menyumbang lewat tenaga," katanya.

Tokoh adat tertinggi Talang Mamak, Patih Majuan, mengatakan pelaksanaan Gawai Gadang sangat mahal karena hampir seluruh kebutuhan konsumsi harus dibeli.

"Kalau dulu bisa dengan mudah cari hewan di hutan dan beras di ladang, tapi sekarang hutan sudah tidak ada," katanya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, jadi salah satu sebab Gawai Gadang makin ditinggalkan dan nyaris punah. Ia mengatakan pelaksanaan pesta nikah sebesar itu terakhir digelar di Desa Durian Cacar pada tahun 2003.

Ia mengaku senang Gawai Gadang bisa berjalan dengan lancar karena warga Talang Mamak mau bersatu bersama.

Ia berharap seluruh batin Talang Mamak terus bersatu untuk melestarikan budaya leluhur. "Kalau kita bersatu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," katanya.

Pelaksanaan Gawai Gadang menampilkan banyak tradisi kuno Talang Mamak yang sangat jarang ditemukan pada masa kini. Pesta nikah itu dibarengi dengan sunatan massal, sebab sesuai adat mereka setiap anak hanya boleh dikhitan saat ada pesta pernikahan.

Ritual adat berlangsung selama tiga hari dan dilakukan hingga sehari penuh. Prosesi adat "gantung pauh-pauh" dan tari piring, misalnya, dilakukan hingga dini hari pada Selasa lalu (15/1).

Pada prosesi itu seluruh warga berkumpul di rumah pengantin untuk mendengarkan petuah tentang cara hidup sesuai adat Talang Mamak.

Sedangkan, hari terakhir Gawai Gadang diawali dengan menyabung tiga ayam dalam satu arena. Sabung ayam berdasarkan tradisi Talang Mamak adalah untuk mencegah agar roh jahat tidak mengganggu proses ritual adat selama masa pelaksanaan.

Berakhirnya gawai gadang ditandai dengan penurunan "tiang gelanggang". Sebelumnya, tonggak kayu setinggi lima meter itu digunakan untuk mengarak kedua mempelai dan pengantin sunat pada upacara penyambutan tokoh adat.

Uniknya, kedua mempelai dan pengantin dalam prosesi itu dipanggul di atas bahu saat mengelilingi tiang gelanggang sebanyak tiga kali.

Talang Mamak Hidupkan Tradisi Gawai Gadang

Pekanbaru, Riau - Masyarakat adat Talang Mamak, berencana menggelar ritual pernikahan "Gawai Gadang" untuk menghidupkan kembali tradisi yang sudah mulai terlupakan di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

"Pernikahan Talang Mamak dengan tradisi Gawai Gadang sudah nyaris dilupakan, karena terakhir kali digelar pada tahun 1990-an atau sudah 10 tahun lebih tradisi ini tidak dilakukan," kata Ketua Badan Pelaksana Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Riau, Epriyanto di Pekanbaru, Rabu.

Ia mengatakan, para pemangku adat (batih) Talang Mamak yang melakukan inisiatif untuk melakukan ritual tersebut sedangkan Aman hanya sebagai fasilitatornya. Rencananya ritual tersebut akan digelar di Desa Talang Perigi, Kecamatan Rakit Kulim, Riau pada pertengahan bulan ini.

Ritual tersebut bakal melibatkan seluruh 29 batih dan ritual-ritual adat yang selama ini ditinggalkan. "Karena itu, pernikahan ini digelar selama tiga hari berturut-turut," katanya.

Menurut dia, tradisi Talang Mamak itu mulai ditinggalkan karena Gawai Gadang kini membutuhkan biaya yang sangat besar. Sebelumnya, pernikahan yang mengutamakan gotong royong sekampung itu lebih mudah digelar karena bahan baku dari hutan mudah didapatkan.

Sedangkan, masyarakat Talang Mamak kini mulai kesulitan mencari bahan baku seperti kayu dari hutan karena pesatnya konversi lahan menjadi kelapa sawit dan keberadaan perusahaan-perusahaan industri kehutanan di daerah itu.

"Karena itu, biaya Gawai Gadang menjadi sangat mahal mencapai Rp180 juta karena tidak mudah mendapatkan bahan-bahan dari hutan lagi," ujarnya.

Beberapa ritual Talang Mamak yang bakal digelar pada Gawai Gadang seperti sunatan massal, makan bersama para batih dan tamu undangan, tarian tradisional dan demonstrasi silat tradisional.

Upacara Kemantan yang Sarat Kearifan

Oleh : Mangara Silalahi

Upacara kemantan dilakukan dalam rangka penyembuhan penyakit yang dialami masyarakat Talang Mamak, suku asli yang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Penyakit ini dikaitkan dikaitkan dengan pelanggaran aturan dan adat serta keserakahan manusia akan sumberdaya alam. Agar bisa hidup damai dan terlepas dari segala penyakit, mereka harus menyeimbangkan kosmos (antara dunia nyata dan gaib). Segala kejadian alam yang menimbulkan bahaya, bala dan penyakit merupakan akibat ketidakseimbangan kosmos.

Dalam konsep Orang Talang Mamak, alam dibagi dua: nyata dan gaib. Alam nyata ditempati mahluk seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sedang alam gaib ditempati mahluk halus seperti dewa, orang bunian, datuk, orang keramat, dan mahluk halus lainnya. Alam gaib hanya dapat dilihat dukun atau orang tertentu.

Dalam mengkonsepsikan alam nyata dan gaib, Orang Talam Mamak menghubungkan antara gejala alam dan unsur-unsurnya. Kejadian alam dihubungkan dengan alam gaib: musibah banjir dan kekeringan terjadi karena dewa marah, gempa terjadi karena Dewa Nangui (babi berjenggot) —bumi dikonsepsikan berada di atas kepala nangui—bergerak akibat tertimpa kayu di hutan yang ditebang akibat manusia serakah.

Nama dan istilah mahluk gaib dibedakan berdasarkan tipe alamnya. Di laut, air atau sungai disebut mambang peri, setan. Di rimba atau hutan disebut bunian, datuk, orang keramat, hantu, setan, jin, batak biuto dan bandan kelasih. Di pergunungan ada dewa-dewan, jin. Di langit ada beruang langit. Di angin ada jin-jin beribukala. Dan di paya-paya ada lombu buriang, batak biuto dan bandan kelasih. Menurut dukun atau kemantan, bentuk mahluk gaib bisa menyerupai manusia, juga hewan. Bentuknya aneh dan elastis, dan bisa menyerupai hewan, sehingga mereka mengkonsepsikan hewan-hewan tertentu sebagai keramat. Asal-usul dan penyakit juga dikaitkan dengan perbuatan makhluk gaib, seperti pening-pening, letak, kolera dan lebam. Penyebabnya karena melanggar aturan dan adat yang berlaku serta tidak menjaga keseimbangan alam. Penyakit yang disebabkan mahluk gaib bisa disembuhkan dengan menegakkan aturan dan adat, dengan memohon kepadanya melalui perantaraan kemantan.

Kemantan adalah dukun yang kedudukannya lebih tinggi dari dukun biasa. Ia akan mengobati penyakit yang tidak dapat disembuhkan dukun biasa. Puncak pengobatannya dilakukan melalui dukun kemantan yang disebut upacara kemantan. Dukun Kemantan tidak bisa berdiri sendiri: harus ada pembimbing, yakni penginang dan kubayu. Penginang harus wanita, yang melantunkan nyanyian panjang sebagai alat memanggil keramat betuah. Sedangkan kubayu harus pria karena akan menemani kemantan dan keramat betuah menari-nari. Penginang dan kubayu inilah yang mengetahui roh-roh datang, berkomunikasi dengan keramat betuah dan menyampaikan pesan kepada khalayak ramai.

Upacara kemantan bisa dilakukan karena beberapa hal: (1) Jika penyakit datang dan berkepanjangan, dan korbannya lebih dari 3 orang. (2) Harimau datang dan menyakiti seseorang yang dapat dilihat dengan bantuan "orang pintar". (3) Jika seseorang mendapat tuah menjadi kemantan dari datuk atau niniknya. (4) Pangkal tahun, yakni awal tahun menanam padi dengan memohon kepada keramat betuah agar mereka dari penyakit dan mendapatkan hasil panen yang lumayan. Jika doa ini terkabul, selesai panen di ujung tahun padi, upacara kemantan dilaksanakan.

Waktu upacaranya ditentukan berdasarkan mufakat tetua adat dan pemeliharanya. Biasanya dapat dilaksanakan jika seminggu menjelang kemantan tidak ada yang meninggal.. Ada dalam tiga tahapan dalam upacara ini: Malam nan kocik, dengan tujuan meninjau peralatan dan pakaian kemantan (dondonan) pasda tahap berikut.

Malam nan godang, proses penyembuhan dengan memberikan peralatan yang diminta berdasarkan malam nan kocik. Undo di lambai, acara makan dan minum karena selama dua hari dua malam kemantan lelah bekerja. Pada tahap ini, pelaksana upacara membekali kemantan berupa keperluan sehari-hari: beras, gula, garam, minyak makan dan tembakau, sebagai ucapan terima kasih.

-

Arsip Blog

Recent Posts