Perempuan Mauritania Melawan Tradisi Gemuk

Nouakchott -Di Mauritania perempuan cantik adalah perempuan yang bertubuh gemuk. Selain cantik, perempuan bertubuh gendut di negara Afrika itu juga menggambarkan kemakmuran, secara sosial mereka juga lebih diterima ketimbang perempuan langsing.

Bila perempuan memiliki tubuh terlalu kurus, maka keluarganya akan memaksa mereka untuk makan, tradisi ini dikenal dengan nama Leblouh.Perempuan muda Mauritania kini berusaha menentang tradisi itu.

Salah satu perempuan yang menentang tradisi itu adalah Mariam Mint Ahmed, 25 tahun. "Sebagai generasi muda sudah saatnya kita mengakhiri tradisi yang membahayakan kehidupan kita," kata Mint Ahmed yang menikah dengan seorang pedagan dan tinggal di ibu kota Mauritania, Nouakchott.

Menurut dia banyak gadis di Mauritanis dipaksa untuk makan supaya gemuk dan bisa menikah. "Banyak dari mereka yang sakit, mereka menderita darah tinggi dan penyakit jantung," ujar Mint Ahmed.

Sambil meneteskan air mata, Mint Ahmed merasakan betapa menderitanya perempuan muda Mauritania yang dipaksa untuk makan dalam jumlah besar. "Mereka juga dipaksa meminum bergelas-gelas susu kambing atau sapi," ujarnya.

Mint Ahmed yang memiliki satu putra, tumbuh dewasa di kota Kiffa. Dia menceritakan bila para perempuan yang dipaksa gemuk ini tidak menghabiskan makanannya maka akan dihukum. Salah satu metode hukumannya, mengikat kaki sang gadis dengan tongkat. Bila tidak makan tongkat itu akan dialiri listrik.

Sedangkan Salekeha Mint Sidi mengaku mulai dipaksa untuk menggemukkan badan oleh ibunya ketika umur 13 tahun. "Dia terus menyuruhku makan daging kambing, bila aku bilang perutku akan meledak dia akan memukulku," ujarnya.

Mint Sidi menikah tahun lalu, dia memiliki seorang anak perempuan. Namun dia berjanji tidak akan melakukan hal serupa kepada anaknya apapun yang alasannya.

Para perempuan ini bukanlah kelompok yang ingin melarang leblouh, tapi mereka ingin membuka mata masyarakat Muritania bahwa tradisi tersebut sangat berisiko. Namun tidak dipungkiri Leblouh masih banyak diterapkan terutama di daerah pedesaan.

"Secara personal, saya percaya menggemukan anak perempuan lebih dari kebutuhan. Tubuh langsing membuat malu keluarga dan suku. Mereka juga sulit menarik perhatian laki-laki," kata Achetou Mint Taleb. "Saya punya dua anak perempuan dan saya gemukkan mereka sejak 10 tahun, kini mereka telah menikah, saya bangga dengan apa yang saya lakukan," ujarnya.
Mar Jubero Capdefero, kepala program gender PBB di Mauritania mengatakan bila perempuan gemuk maka dia diberi makan oleh keluarganya, mereka tidak miskin. "Ini menjadi standar kecantikan, semakin gemuk maka semakin cantik," katanya.

Menurut Capdefero, saat ini tradisi Leblouh mulai ditinggalkan oleh generasi muda terutama mereka yang tinggal di kota. Tapi dia mengakui masih ada yang mempratekkan tradisi ini dan semakin membahayakan. "Sebelumnya mereka menggunakan susu, sekarang mereka menggemukkan dengan bahan kimi yang biasa dipakai menggemukkan hewan," ujarnya. (CNN I POERNOMO GR)

Cina Coba Hidupkan Lagi Tradisi Telanjang Penarik Perahu

Beijing - Sebuah perdebatan muncul di Cina karena adanya usulan untuk menghidupkan kembali kebiasaan bagi laki-laki telanjang yang bekerja sebagai penarik perahu, untuk menunjang kunjungan ke tempat wisata.

Penasehat Politik Yao Benzhi menyarankan untuk mengembalikan budaya lokal itu untuk meningkatkan pariwisata di Taman Streaming Shennongxi di Provinsi Hubei, Cina.

Yao bahkan menawarkan diri untuk menjadi yang pertama sebagai tukang perahu telanjang. Tapi ia dikritik dan diminta untuk mencari metode pertumbuhan ekonomi dengan cara yang lain daripada menjual martabat pengemudi perahu.

Selama ini orang-orang datang dari jauh untuk melihat pengemudi perahu telanjang. Namun pada tahun 2000 lalu, usaha dan kebiasaan ini ditiadakan karena tradisi ini dianggap menyinggung perempuan dan anak-anak.

Namun jumlah pengunjung tempat wisata tersebut benar-benar merosot tajam karena sekitar 1.000 pengemudi perahu diminta untuk mulai mengenakan celana.

Liu Zhong, dari agen perjalanan Jiangshan mengatakan, "Banyak wisatawan datang ke sini untuk melihat penarik perahu telanjang dan mereka kecewa melihat mereka berpakaian."

Namun, Xu Peng, wakil direktur Biro Wisata Badong, mengatakan tidak mungkin tradisi itu akan dipulihkan.

"Kami sering menerima banyak keluhan dari wanita muda dan orang tua bahwa pengemudi perahu yang telanjang tidak baik untuk dilihat bagi mereka atau anak-anak mereka," katanya.

Pensiunan tukang perahu Zhang Houbiao, 60, mengatakan tradisi untuk menarik tongkang dengan bertelanjang hanya dilakukan ratusan tahun lalu. "Tradisi bekerja telanjang ini dilakukan karena pakaian kami terbuat dari kain kasar yang mudah rusak dalam air," jelasnya. (ANANOVA | HAYATI MAULANA NUR)

Merawat Tradisi Nusantara

Oleh Hadriani P

Indonesia kaya akan budaya dan tradisi yang terbentang sepanjang Nusantara. Seni tradisi dari tiap daerah memiliki nilai keskaralan dan adi luhung sebagai bentuk warisan agung bumi pertiwi.

"Tak kenal maka tak sayang, orang muda mesti dikenalkan tradisi seni budaya supaya menumbuhkan rasa cinta, menghargai, menghormati, menjaga, dan melestarikannya," kata Siti Hediati Soeharto, ketua acara Tata Budaya Busana Pengantin Wanita Keraton Nusantara yang diselenggarakan Himpunan Ratna Busana (HRB) pekan lalu di Jakarta.

Mbak Titiek, demikian sapaannya, yakin akan adanya semangat orang muda untuk mau menerima tugas mulia seperti melestarikan tradisi Nusantara dalam hal seni berkain atau berbusana nasional. "Saya melihat ada respons positif. Orang muda mulai peduli terhadap tradisi dan kain lokal dengan caranya."

Sementara itu, Ratna Maida Ning, Ketua HRB, menjelaskan, organisasi ini berdiri sejak 1972 dan beranggotakan 300 orang, sempat tebersit kekhawatiran merosotnya pengenalan budaya Indonesia di tengah globalisasi kini. Maka HRB sering melakukan peragaan busana sesuai visi misinya melestarikan warisan bangsa. Secara konsisten, HRB gencar mengajak masyarakat agar cinta dan mau berbusana nasional, memakai kain lokal, dan mewujudkan tuan rumah di negeri sendiri.

"Kami punya tanggung jawab kepada generasi muda untuk selalu mencintai warisan leluhur. Khususnya mengenalkan potensi kekayaan kain yang tersebar di Indonesia," ujar Ratna bersemangat. Dia dan Titiek berharap acara semacam ini akan diminati orang muda untuk mengenal, memakai, dan merawat busana nasional.

Hari itu HRB menggelar peragaan busana empat pakaian pengantin perempuan, antara lain Puri Mangkunegoro Solo, Kesultanan Kanoman Cirebonan, Kesultanan Siak Indrapura Riau, dan Puri Karangasem Bali.

Pada busana pengantin perempuan Puri Mangkunegoro Solo menyajikan busana basahan, busana tanpa kebaya dengan kain dodot alas-alasan. Dalam tradisi keraton ini, busana basahan adalah tidak memakai baju, melainkan terdiri atas semekan atau kemben, dodot bangun tulak atau kampuh, sampur atau selendang sekar cinde abrit, serta kain jarik cinde sekar merah.

Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. Kemben di sini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara.

Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kira-kira 4-5 meter dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar, warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih.

Gaya pengantin Kesultanan Kanoman Cirebon memakai busana kebesaran, dodot berupa batik corak benang emas. Adapun pakaian payas agung terdiri atas songket, kemben sitra merah, dan slendang bangsing kuning kemasan merupakan busana pengantin Puri Karangasem Bali. Untuk keabaya laboh keemasan, sarung dari songket Siak bermotif pucuk rebung, yang di Melayu sarat artinya sebagai lambang kesuburan, merupakan busana pengantin Kesultanan Siak Indrapura Riau.

Sepintas, padu-padan busana antarpulau itu tampilannya membingungkan. Pasalnya, terkesan tumpah-tindih. Hal ini tentu dirasakan kaum muda atau mereka yang belum terbiasa dengan padu-padan busana pengantin Nusantara.

"Justru melalui acara ini kami sangat berharap orang muda menjadi tahu, mau, dan siap belajar banyak untuk menjaga dan meneruskan tradisi," kata Ratna.

Ratna menambahkan, padu-padan begini bukan pekerjaan mudah, memerlukan kemampuan untuk menyajikan busana cantik dan menarik perhatian. "Saya bersyukur banyak kesadaran orang muda yang berminat membantu memberikan padu padan bergaya modis sehingga bisa cepat diterima," ujarnya.

Sunat Perempuan dan Tradisi Kanibalisme

Oleh Rini Kustiani dan Indra Manenda Rossi

Kenangan traumatis itu masih membekas dalam diri Sarah (bukan nama sebenarnya), 36 tahun. Usianya baru menginjak 9 tahun ketika sang ayah mengajaknya ke rumah sakit untuk menemui seorang bidan. Di ruang periksa, ia diminta duduk dan melihat ke langit-langit.

Si bidan lalu menyuntikkan obat bius, sebelum menorehkan peralatan ke celah di pangkal pahanya. Obat bius itu tak bekerja optimal. Sarah pun menjerit dan meronta. "Waduh, sakitnya bukan main," ujar wanita yang tinggal di Sawangan, Depok, itu kepada Tempo, Sabtu lalu. Berhari-hari rasa sakit itu tak kunjung sirna. Buang air kecil pun kerap kali ditahannya karena dia takut.

Begitu menginjak bangku sekolah menengah atas, Sarah mulai mencari-cari literatur tentang dasar hukum sunat. Ternyata tak ada fatwa yang cukup sahih, selain alasan tradisi. "Itu kan sama dengan kanibalisme, lalu manfaatnya apa?" katanya geram. Kini ia memutuskan tidak akan menyunat dan menindik dua anak perempuannya.

Isu soal sunat perempuan mengemuka dalam lokakarya bertajuk "Menggunakan HAM untuk Kesehatan Maternal (Ibu) dan Neonatal (Anak)" di Departemen Kesehatan, 22 September lalu. Pada acara itu, dibeberkan kembali hasil penelitian sejumlah lembaga swadaya perempuan dan internasional yang disponsori Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Penelitian tentang female genital mutilation atau sunat perempuan dilakukan selama tiga tahun, Oktober 2001-Maret 2003, di sejumlah daerah, seperti Padang Pariaman, Serang, Sumenep, Kutai Kartanegara, Gorontalo, Makassar, Bone, dan Maluku.

Hasilnya menunjukkan 28 persen sunat yang dilakukan di Indonesia hanya sebagai kegiatan "simbolis". Artinya, tak ada sayatan dan goresan atau cuma tusukan sedikit saja. Sisanya, 72 persen, dilakukan dengan cara-cara berbahaya, seperti sayatan, goresan, dan pemotongan sebagian ataupun seluruh ujung klitoris. Tindakan berbahaya itu 68 persen dilakukan oleh dukun atau bidan tradisional, dan hanya 32 persen dilakukan tenaga medis.

Direktur Bina Kesehatan Ibu dan Anak pada Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Sri Hermianti, mengaku telah mengeluarkan imbauan kepada tenaga kesehatan untuk tidak melakukan medikalisasi atau tindakan memotong, mengiris, melukai, atau merusak organ genital perempuan/klitoris. Imbauan ini disampaikan melalui organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Ikatan Bidan Indonesia. "Medikalisasi itu sudah masuk tindakan medis yang dilarang," ujarnya.

Namun, karena masalah ini masih sangat sensitif dan menyangkut tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakat, ia mengakui tak bisa begitu saja melarang masyarakat. Dalam waktu dekat, Departemen Kesehatan akan mengadakan pembahasan serius dengan Departemen Agama, organisasi keagamaan, serta organisasi pemuka adat guna menetapkan standar prosedur sunat perempuan yang diperbolehkan secara medis dan agama.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan mengungkapkan, dalam mazhab Maliki dan Hambali, khitan dianggap sebagai tindakan kemuliaan asalkan tidak berlebihan. Sedangkan mazhab Syafii, yang umumnya dirujuk masyarakat Indonesia, mewajibkan sunat perempuan. "Jadi asalkan tidak berlebihan karena malah menjadi haram dan sama dengan mengebiri," katanya.

Sebaiknya tenaga kesehatan tidak menolak jika ada keluarga yang ingin mengkhitankan bayi perempuannya. Sebab, akan lebih berisiko jika masyarakat lari ke bidan kampung yang belum tahu tata cara kebersihan dan sebagainya. Amidhan menyarankan sunat dilakukan saat anak masih bayi dan secara simbolis. Kalau anak sudah besar atau baru masuk Islam ketika sudah dewasa, kata dia, sunat tidak perlu dilakukan, "Karena bisa menimbulkan ketakutan."

Tari Tunggal: Menari dalam Kesunyian

Diiringi Bolero karya Ravel yang mengelus telinga dan jiwa, penari Eko Supriyanto menyergap panggung kecil itu. Otot-otot punggung Eko tampak bergerak naik-turun. Tubuh Eko berputar ke arah dua sisi penonton, memperlihatkan sentakan tak terduga pada bahu, punggung, dan perutnya. "Wah, ini gymnastic," bisik seorang penonton. Padahal bekas penari Madonna ini melakukan penjelajahan terhadap bagian-bagian tubuhnya yang jarang dieksplorasi oleh tari Jawa klasik. Sesekali ia membuat gerakan kaki dansa. Eko menari sendirian. Dalam khazanah tradisi pementasan, kosakata yang lazim untuk pementasan ini adalah tari tunggal. Sebut saja gandrung Banyuwangi, topeng Cirebon, tari alusan Yogya dan Solo, sampai tari suku Dayak Kenyah di pedalaman Kutai, semuanya memiliki jenis tari tunggal. Beberapa penari modern kita, seperti Sardono W. Kusumo, Elly Luthan, Miroto, secara terpisah pernah melakukan pentas solo tari. Syahdan, di Pulau Jawa, tari tunggal modern semenjak awal diperkenalkan oleh Bagong Kussudiardjo, Gendon Humardani, dan Wisnu Wardhana. Sementara itu, di Bali pada tahun 1925, I Nyoman Maria, yang terkenal dengan nama Mario, menciptakan tari tunggal kreasi baru, kebyar duduk. "Ada juga tari wiranata, yang diciptakan I Nyoman Kaler pada tahun 1942," tutur I Made Bandem, dosen tari terkemuka. Menurut putra pasangan I Made Kredek dan Ni Made Radi ini-dua empu tari arja yang disegani-sejak itulah Bali melahirkan berbagai tari tunggal. Bandem sendiri pernah mementaskan sebuah tari tunggal berjudul A Bide with Me di New York. Tari tunggal adalah sebuah fenomena yang khas dan berkembang dalam dunia tari di Indonesia dan internasional. Karena itu, sungguh mengherankan bahwa Indonesia baru pertama kali menyelenggarakan festival tari tunggal. Seorang penari sungguh diuji dalam sebuah pementasan tari tunggal. Di panggung seorang diri, penari harus tahu kekuatan dan kelemahan tubuhnya. Di situlah teknik, imajinasi ruang, dan gagasan dipertaruhkan. Dan ternyata para empu tari tradisi Indonesia adalah sederet kampiun yang menggarap ruang dengan jiwa, menimbulkan sensasi baru di balik kesederhanaan. Dalam tari klasik Jawa, jenis tari tunggalnya adalah tari klana topeng (ditarikan laki-laki), yang menggambarkan karakter Raja Sewandana jatuh cinta pada Candra Kirana. Tari golek melukiskan gadis bersolek, sementara Gatotkaca gandrung merupakan petilan dari kisah cinta Gatotkaca dalam wayang wong. Menjadi penari tangguh klana atau golek sangatlah sulit. Romo Sas (Sasmita Wardawa)-almarhum-empu tari keraton Jawa, pernah memprihatinkan bagaimana penari muda masa kini kurang menjiwai, kurang mendalami, kurang pasrah dan tenang jiwa saat mementaskan klana topeng. Menurut sang empu, penari muda masa kini mementaskan klana dengan kasar bagai prajurit, padahal seharusnya mereka harus mengeluarkan gerak yang gagah dan tenang. Bila mengekspresikan sikap gandrung (kasmaran), para penari muda cenderung brayakan (lahiriah), bukan menunjukkan kasmaran yang berwibawa. Di masa lalu, para empu tari Jawa-Rusman, misalnya-mampu mementaskan tari tunggal Gatotkaca yang unik, yang hanya bisa dilakukan oleh dirinya karena menampilkan gaya pribadi. Misalnya, saat menari tunggal, ia seakan tidak menari sendirian. Bila mengekspresikan jatuh cinta, seolah-olah ada yang dicintainya di dekatnya. Harus diingat, hidup keseharian dan dunia tari para maestro itu menjadi satu: tunggal. Mereka memahami tari bukan semata belajar gerak, tapi memburu batin. Di keraton Yogya ataupun Solo, para abdi dalem penari digaji hanya untuk menari, menari, dan menari. Dan kadang kala keindahan dibentuk lewat laku prihatin luar biasa. Tengoklah sejarah hidup almarhum maestro topeng Cirebon, Sawitri. Begitu menapak panggung, penonton segera merasakan getarannya. Saat tubuhnya bergerak, ia mengekspresikan sesuatu yang liris dan mengharukan. Perempuan perkasa itu tidak tenggelam dalam ruang atau musik. Orang Bali menyebut aura semacam itu sebagai "taksu"; orang Jawa menyebutnya "prabawa". Perhatikan sebagian empu yang masih hidup: Ibu Tarwo Sumosutragio, 69 tahun, abdi dalem yang hingga kini melatih tari di Mangkunegaran, atau Ibu Rasinah, 66 tahun, dari Indramayu, yang masih mau tampil keliling di SMA Jakarta. Atau I Made Sija, 69 tahun, penari topeng dari Desa Bona, dan Ida Wayan Padang, 89 tahun, maestro Gambuh dari Karang Asem. Menjelang senja usia, karisma mereka masih tergurat. Menari-seperti yang biasa dikatakan di Bali-adalah suatu ngayah, pengabdian pada yang suci. Tentu saja Festival Tari Tunggal ini tidak berpretensi untuk bisa mengeluarkan pancaran sukma seperti itu. Rata-rata keterampilan teknik penari tinggi, tapi selama lebih-kurang 25 menit itu gagap saat menuangkan idenya secara ruang. Toh, beberapa penari tampak berusaha berjuang mencari. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa tradisi tari Indonesia memang sangat kaya untuk dijelajahi. Bahkan elemen sederhana, seperti gerak pergelangan tangan dalam tari klasik Jawa yang disebut ukel-ukel, bisa menimbulkan koreografi cerdas. Beberapa tahun lalu pernah Miroto, penari Yogya, mementaskan dua tari tunggal yang masing-masing berdurasi tujuh menit berjudul Incarnation dan Penumbra. Incarnation berangkat dari posisi pergelangan tangan-tumpang tali pada tari Solo. Miroto membuat improvisasi volumenya. Pergelangan tangan diputar membuat lingkaran kecil dan besar. Lalu, pada Penumbra, ada gerak sederhana karakter penari putri jathilan sebelum trance. Di panggung, Miroto berulang-ulang ritmis seolah menunggang kuda kepang. Itu sangat cantik. Mugiyono adalah penari asal Klaten yang mampu menggali gerak dengan intens. Ia kembali menyusuri relief-relief yang ada di berbagai candi di Jawa Tengah-Sukuh, Cetho, Borobudur, dan Prambanan-untuk mempelajari berbagai bentuk torso penari yang terpahat di situ. Di Candi Borobudur dan Prambanan, misalnya, terdapat relief-relief yang mengisahkan perkembangan tari Jawa. "Di dua candi itu memang kita bisa melihat perkembangan sejarah sikap tubuh tari Jawa, yang mulanya sangat klasik India tapi kemudian terkena pengaruh gerak lokal," tutur Edi Sedyawati, arkeolog yang juga dikenal sebagai penari alusan, yang memberikan penjelasan dasar bagi pencarian Mugiyono. Eko Supriyanto, penari asal Magelang, pernah mempelajari pencak silat di masa kecilnya. Penari yang pernah bergabung dengan penyanyi akbar Madonna itu kini tengah melatih bagian-bagian tubuh yang jarang dieksplorasi tarian klasik Jawa. Di Jawa, lazimnya bagian pinggul ke bawah penari perempuan dan bagian punggung dan dada penari lelaki jarang dieksplorasi karena dianggap tabu dan tak pantas bagi keanggunan priayi. "Saya pernah menyaksikan di Pendopo Mangkunegaran empu tari Ngaliman menarikan tari tunggal klasik pamungkas, tapi saya sengaja menonton dari belakang. Ternyata gerakan punggungnya luar biasa." Ia menganggap banyak elemen tak terduga bisa digali dari torso klasik. Dalam pengamatan Eko, pola-pola gerak tangan di Jawa selalu difungsikan untuk membuat garis atau lengkungan. Garis itu seperti banyu mili alias air mengalir. Karena itu, Eko mencoba melatih aliran tertahan, dengan sentakan-sentakan bergereget. Anehnya, beberapa teman melihat gerakannya cenderung ngepop. "Saya tak peduli," katanya menanggapi komentar rekan-rekannya. Penjelajahan yang dilakukan para penari tunggal bukan hanya gerak, tapi juga perspektif ruang. Berangkat dari dasar tari klasik, mereka sadar bahwa koreografi yang berasal dari keraton, seperti bedoyo, sangat terpengaruh oleh ruang arsitektur tertentu, yaitu pendapa. Lazimnya, tari klasik mementingkan posisi ketika penari harus menghadap raja, tidak boleh membelakanginya. Itu membuat prinsip-prinsip klasik sesungguhnya diperuntukkan bagi perspektif satu visi mata, yang kurang leluasa bila ditampilkan di panggung berbentuk arena yang melingkar. Hal itu membuat Mugiyono mempelajari konsep tubuh pipih, seperti wayang kulit yang bisa dipandang dua dimensi. Bila menari sembari mengenakan topeng, Mugiyono yang bertubuh lencir ini dengan sadar memposisikan tubuhnya agak miring, mengeksplorasi gesture serong, sehingga dua sisi penonton dapat melihat detail tubuhnya. Akan halnya Eko, ia sadar betul bahwa kecenderungan penari Jawa adalah dada flat ke depan. Sikap klasik torso Jawa adalah, tari harus dilakukan tegak lurus tanpa ada tegangan terhadap bahu. Sikap torso demikian dikenakan juga pada waktu penari berdiri ataupun duduk. Eko suka mengutip diktum tari post-modern bahwa jarak satu sentimeter dari tubuh pun sudah merupakan ruang yang lain. Maka, dia kini aktif melatih gerak dengan arahan multidimensional, berputar tidak satu arah. Eko Supriyanto dan Mugiyono adalah sedikit di antara penari muda yang kita aktif di berbagai festival tari internasional. Mereka bertemu dengan berbagai karakter penari asing, menakar, mengenali kelemahan dan kekuatan gerak antigravitasi ala penari balet, hingga gerak menekuk, mengerut, terhisap ke tanah seperti pada Butoh. Menurut para kritikus tari, seorang koreografer yang baik harus memiliki keingintahuan yang besar tentang tubuh manusia, dan itu tak terbatas pada tubuhnya sendiri, tetapi juga tubuh orang-orang lain yang beraneka ragam. Dengar pengalaman Eko Supriyanto, yang bergabung dalam kelas koreografi penari Victoria Mark. Ia diminta membayangkan menari di atas bahan yang selalu bergelombang. "Selama dua bulan, saya pusing sampai muntah-muntah terus," demikian ia mengenang. Sebelumnya ia terpola dengan kondisi tubuh yang selalu flat. Akhirnya, ia tak memaksa dirinya dan perlahan-lahan mengatur tempo yang cocok dengan kebutuhan tubuhnya. Bagaimana dengan gagasan dalam koreografi tari tunggal Indonesia? Konon, kita dianggap miskin gagasan. Itulah sebabnya penari seperti Setyastuti dari Yogya membawa burung atau anak-anak ayam ke pentas, untuk kesegaran penampilan. Pernah dalam tari tunggalnya berjudul Voice of the Mother, dosen Institut Seni Indonesia, Yogya, ini membawa bayinya yang masih berusia beberapa bulan ke panggung. Di atas panggung, ia menyusui bayinya. Gerakan itu mengagetkan penonton. "Wah, selepas pentas, banyak yang kepingin jadi bayinya, ha-ha-ha," kata Setyastuti, bercanda. Toh, gagasan yang berhasil justru adalah gagasan sederhana tapi didukung oleh keterampilan tubuh dan bukan hanya semacam sensasi mata belaka. Di panggung Graha Bakti Budaya yang luas, keelokan perpaduan gagasan dan tubuh semacam itu pernah terjadi. Sayangnya, itu ditampilkan penari mancanegara seperto Katzuo Ohno dari Jepang dan Henrietta Horn. Ohno, saat itu 89 tahun, dengan tubuh kerut-merut berbalur pupur putih, memperlihatkan metamorfosis tubuhnya menjelma menjadi pelbagai sosok perempuan dan laki-laki. Akan halnya Henrietta Horn, ia duduk di sebuah kursi kayu sederhana, lalu berselonjor. Berdiri, kembali duduk. Ia menggali kemungkinan duduk di kursi dengan gerak sehari-hari. Tapi kemudian bayang-bayang kursi membesar di dinding belakang, sementara Horn menjadi bagian dari sebuah kursi. Sungguh perubahan yang mengejutkan penonton. Harus diakui, sajian kedua penari internasional itu luar biasa. Di situ teknik, gagasan, keindahan visualisasi bentuk, dan rasa kedalaman menggedor secara bersamaan. Kenapa tari tunggal modern kita belum memiliki pencapaian seperti itu? Tantangan tari tunggal modern kita adalah menggali dengan intens unsur-unsur lain tradisi; membuat kejutan visual sekaligus tak melupakan kedalaman batin. Lapangan tradisi sesungguhnya menyediakan diri untuk idiom-idiom yang selalu bernas dengan perkembangan zaman. "Kekurangan kita semestinya bisa menjadi kekayaan," komentar seorang penonton setelah menyaksikan keseluruhan festival. Ia percaya, dengan bertumpu pada pengolahan tubuh belaka, tidak dengan bantuan manipulasi teknologi yang canggih-canggih, tubuh tunggal penari kita sesungguhnya-bahkan dalam kesunyian pun-masih memiliki getar yang mempesona. Seno Joko Suyono (Jakarta), Syaiful Amin, Heru C. Nugroho (Yogyakarta)

Membangun Kembali Rumah Adat Manggarai

Jakarta - Komunitas Rumah Asuh bekerja sama dengan Yayasan Tirto Kusumo menggelar pameran foto sekaligus peluncuran buku berjudul Pesan dari Wae Rebo. Pembukaan akan dilaksanakan Sabtu (19/6) esok di Teater Atap Salihara.

"Aktivitas yang telah kami lakukan tak lain untuk mempertahankan dan melestarikan tradisi," ujar arsitek dan fotografer, Yori Antar, saat jumpa pers pada Jumat (18/6) di Serambi Salihara. Selain itu, rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan dimaksudkan akan menjawab kegelisahan atas isu konservasi adat dan budaya di nusantara.

Bermula dari ekspedisi aristektur-aristektur muda Han Awal & Partners Architects menemukan kampung Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur dalam perjalanan mereka pada Agustus 2008. Kampung ini adalah satu-satunya kampung adat dengan rumah-rumah adat Manggarai, Flores yang disebut mbaru niang. Meski wilayahnya sangat terpencil, ternyata kampung ini menyedot banyak perhatian para peneliti maupun wisatawan minat khusus dari mancanegara.

Kemudian dari data yang diperoleh, Rumah Asuh dan Yayasan Tirto Utomo mulai membangun dua rumah adat tersebut, salah satunya adalah Tirta Gena Ndorom, yaitu rumah tertua di perkampungan itu. "Dis ana hanya ada 7 rumah adat saja. Dalam rumah adat itu setidaknya dihuni oleh 8 keluarga," ujar Yori. Pembangunan rumah ini sepenuhnya dilakukan oleh warga sebagai proses transfer ilmu dari para tetua kepada generasi muda.

Proses pembangunan yang unik tersebut terekam dalam bentuk film dokumenter dan kemudian juga tercetak dalam sebuah buku. Buku Pesan dari Wae Rebo ini ditulis dari dua sisi yaitu pihak luar (arsitek dan pengamat) dan masyarakat sendiri. Selain itu, buku ini juga merekam budaya dan tradisi yang berkembang di kampung adat tersebut. "Dengan informasi ini diharapkan bisa menjadi formula serta acuan untuk melestarikan rumah-rumah tradisional nusantara," ujar Yori.

Pameran foto tentang proses awal eksplorasi wilayah hingga pembangunan rumah adat tersebut diselenggarakan di galeri Salihara. Selain itu ada juga diskusi mengenai Kain Manggarai dan Kehidupan Sehari-hari di Wae Rebo, Fungsi Kain Ikat dalam Tatanan Budaya Sumba, Kain Tenun Nasional dan Permasalahannya pada Minggu (20/6) di Serambi Salihara. Ada juga presentasi Membangun Rumah Wae Rebo: Membangun Bersama Masyarakat pada Senin (21/6).

Selain di Kampung Wae Rebo, komunitas Rumah Asuh juga telah melakukan kegiatan serupa di Nias, Sumba dan Sintang untuk konservasi arsitektur rumah adat. Kini saatnya merayakan kembali arsitektur nusantara. (Ismi Wahid)

-

Arsip Blog

Recent Posts