70 Sekolah Ikuti Gebyar Seni Budaya

Takengon, NAD - Sebanyak 70 sekolah Aceh Tengah mulai dari SD, SMP sampai SMA/sederajat mengikuti pagelaran gebyar seni budaya pelajar yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Aceh Tengah. Kegiatan dipusatkan di Komplek Umah Pitu Ruang, Kemili, Kota Takengon.

Wakil Bupati Aceh Tengah, Drs H Khairul Asmara, Senin (5/10) ketika membuka acara mengatakan pihaknya mendukung penuh pelaksanaan gebyar seni budaya pelajar untuk menggali seni budaya Gayo. “Kegiatan ini juga merupakan bagian dari persiapan untuk even yang lebih besar dan kita tidak mau seni dan tradisi Gayo lenyap suatu saat,” kata Khairul Asmara.

Dia berharap, gebyar seni budaya perlu digalakkan dan dikembangkan untuk menjaga marwah Gayo, melalui penanaman jiwa seni kepada para pelajar, sehingga kebudayaan lokal tetap terjaga. “Jika dicermati, banyak juga pesan positif yang disampaikan melalui syair-syair Didong Gayo,” sebutnya.

Sedangkan Kadisbudparpora Aceh Tengah, Subhan Sahara menyatakan , gebyar seni budaya pelajar telah dilaksanakan secara rutin sejak 2009. Untuk tahun ini, sebutnya, sebanyak 70 sekolah ikut ambil bagian dalam gebyar seni budaya pelajar 2015. “Ada enam cabang yang kita perlombakan dalam gebyar seni budaya tahun ini,” kata Subhan Sahara.

Dirincikan, para peserta terdiri dari 36 SD dengan cabang lomba didong dan fashion show. Sedangkan 24 SMP mengikuti cabang lomba tari tradisi dan vocal solo putra dan putri. “Untuk tingkat SMA sederajat, diikut 20 sekolah dengan cabang lomba tari garapan dan musikalisasi seni,” sebutnya.

Makassar Tuan Rumah Festival Sastra Islam 2015

Makassar, Sulsel - Kota Makassar, Sulawesi Selatan, patut berbangga setelah mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) untuk pertama kalinya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) pada 8--14 Desember 2015.

Pembina Forum Lingkar Pena (FLP) Makassar, Edi Susanto di Makassar, Selasa, mengatakan kesiapannya menyukseskan agenda besar tersebut. Pihaknya juga mengapresiasi dengan dukungan seluruh pihak termasuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

"Kami sekaligus mengajak seluruh pihak untuk ikut berkontribusi dan menyukseskan agenda ini. Kami juga bersyukur mendapat kesempatan sebagai penyelenggara FSIN pada tahun ini," jelasnya.

Dalam rangka pelaksanaan FSIN 2015, Forum Lingkar Pena Makassar sebagai pelaksana sudah menggelar soft opening dengan melaksanakan seminar dan workshop kepenulisan yang bertema Sastra dalam Perkembangan Islam di Universitas Islam Makassar (UIM), Makassar, Sulawesi Selatan,

Untuk kegiatan ini, FLP Makassar menghadirkan sejumlah pemateri terbaik seperti Novelis Best Seller Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy. Selain Habiburrahman El Shirazy, sejumlah penulis ternama juga hadir dalam kegiatan seminar itu di antaranya Novelis Best Seller "Ketika Mas Gagah Pergi" Pendiri Forum Lingkar Pena Helvy Tiana Rosa, dan Penulis Kumpulan Esay "Pemimpin Cinta" Edi Sutarto sendiri.

Setelah ini, kata dia, pihaknya juga akan kembali menggelar berbagai kegiatan pelatihan menulis di Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Negeri Makassar (UNM) pada November 2015.

"Sebagai awal dari pelaksanaan FSIN 2015 kita lakukan workshop dan seminar dengan mendatangkan sejumlah novelis ternama. Ini juga sebagai upaya untuk merangsang para kalangan muda baik pelajar dan mahasiswa untuk belajar berkarya," katanya.

Kenalkan Batik Melayu pada Turis

Batam, Kepri - Memperingati Hari Batik Nasional, peragaan busana batik Melayu ramaikan makan malam barbeque di Nagoya Mansion Hotel & Residence Batam, Sabtu (3/10) malam lalu. Koleksi motif batik khas Melayu dari Serendit Emas oleh Martin Baron dan Chatis Art & Gallery oleh Prass menjadi pusat perhatian para turis yang didominasi oleh warga negara asal Singapura dan Malaysia.

Motif batik Melayu berbeda dengan motif batik dari wilayah lainnya di Indonesia. Motif batik Melayu lebih banyak mengambil sketsa hewan laut, seperti gonggong dan sotong. Keunikan lainnya di sini adalah terdapat pula motif batik Jembatan Barelang, sebagai salah satu ikon di Kota Batam. Hadir juga pada malam perayaan, koleksi busana muslimah bertemakan Classy Mysterious, busana yang dominan gradasi warna biru penggabungan dari teknik ombre pada kain batik Batam oleh desainer muda berbakat asal Batam, Luhung Esa Pertiwi.

Budaya Melayu dalam perayaan Hari Batik Nasional menjadi primadona lewat kehadiran tarian tradisional khas melayu yaitu, Tari Zapin Kontemporer dengan alunan musik Melayu yang mengalun merdu. Tarian ini langsung dibawakan yang oleh tim kesenian hotel.

“Ini pertama kalinya saya dan teman-teman datang ke Batam dan berkenalan langsung dengan budaya di Batam, pertunjukan fashion show batik dan tarian tradisionalnya begitu berbeda dengan budaya kami,” ucap Hewagama Mahawattage, turis asal Srilangka yang terkesan dengan acara perayaan Hari Batik Nasional di Nagoya Mansion.

Batik merupakan salah satu warisan dunia yang sudah diakui oleh UNESCO sejak 2009 lalu, motif batik di setiap daerah pun berbeda. Menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk turut serta melestarikan budaya kita.

Penataan Cagar Budaya Dimulai dari Penyengat dan Lingga

Tanjungpinang, Kepri - Cagar budaya yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau mulai mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri sudah mulai melakukan pendataan dan penataan sejumlah cagar budaya yang ada. Namun, upaya itu tidak bisa dilakukan serentak mengingat keterbatasan anggaran dan tenaga di Disbud Kepri.

“Jadi harus dibagi dulu. Dan dimulai dari Penyengat dan Kabupaten Lingga,” kata Kepala Disbud Kepri, Arifin Nasir, kemarin.

Di Pulau Penyengat, berdasarkan data mutakhir yang dicatat Disbud Kepri, setidaknya ada 31 cagar budaya yang sudah didata dan ditata. Sebanyak 15 di antaranya sudah beralih status menjadi cagar budaya nasional. “Sisanya dan beberapa cagar budaya di daerah lain juga akan kami gegas agar bisa jadi cagar budaya nasional,” ungkap Arifin.

Pulau Penyengat, sambung mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri ini, juga nantinya akan dijadikan konsentrasi awal penerapan langsung rancangan peraturan daerah mengenai cagar budaya yang sedang dibahas di tingkat legislatif. Rencana ini, masih kata Arifin, merupakan bagian dari upaya untuk mendorong program pengajuan pulau yang pernah dijadikan mahar ini menjadi warisan budaya dunia.

“Lebih seperti kerja sejalan. Agar mimpi besar itu juga lebih mudah terlaksana,” ungkap Arifin.

Sementara itu, Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) mengenai pelestarian, perlindungan dan pengelolaan cagar budaya, digadang menjadi payung hukum, untuk mencantumkan anggaran demi menjaga cagar budaya yang ada di Provinsi Kepri. Pada penyampaian Ranperda cagar budaya, Senin (29/9), Penjabat Gubernur Provinsi Kepri, Agung Mulyana secara umum mengatakan peraturan daerah yang diharapkan segera terbentuk ini, dapat menjaga segala bentuk peninggalan budaya baik fisik maupun nonfisik.

“Ini sangat penting. Semua cagar budaya yang di Kepri berpotensi untuk ikut menumbuhkan perekonomian masyarakat. Tapi satu yang harus diingat, cagar budaya ini harus dilestarikan dan pengelolaannya pun harus mengikuti aturan ini nantinya,” tutur Agung yang ditemui usai paripurna.

Menurutnya, selama ini pemerintah daerah baik di tingkat provinsi Kepri maupun kabupaten/kota mengalami sedikit kendala ketika akan menganggarkan pengeluaran untuk kepentingan pelestarian cagar budaya. Dan kesulitan juga turut dirasakan pula ketika pemerintah setempat ingin melaksanakan pengelolaan di wilayah cagar budaya.

“Seperti Penyengat itu, jika semakin lama semakin ramai dikunjungi maka di sekitarnya pun semakin banyak yang membuka lokasi untuk berjualan. Kalau dibiarkan tanpa diatur oleh pemerintah daerah setempat dampaknya akan kurang baik,” lanjut Agung kemudian.

Ia melanjutkan, menjamurnya pedagang di berbagai lokasi cagar budaya tanpa diatur tata letak mengikuti estetika, dikhawatirkan mampu menurunkan pamor cagar budayanya yang telah ada sebagai lokasi pariwisata. Yang dampaknya juga turut dapat menurunkan perputaran ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu, kekhawatiran lain juga timbul dari semakin tidak terpeliharanya cagar budaya tersebut. Utamanya pada cagar budaya berupa situs cagar budaya, benda cagar budaya, kawasan cagar budaya dan struktur bangunan cagar budaya.

Adanya Perda Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya Kepri dikemudian hari ini, akan menjadi payung hukum. Agar pemda setempat dapat mengalokasikan perbaikan dan pelestarian secara total terhadap cagar budaya di wilayah Kepri. Baik yang berada di darat, maupun benda di bawah air yang banyak ditemukan di sekeliling Kepri.

“Perda ini merupakan upaya untuk menyelamatkan cagar budaya Kepri. Dari itu harus ada pengaturan yang dibuat dalam bentuk perda sebagai dasarnya,” papar Agung.

TBY Gelar Pekan Seni Anak 2015

Yogyakarta - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar Pekan Seni Anak bertempat di ruang pameran dan Hall TBY mulai 6 hingga 11 Oktober 2015 ini.

Acara secara resmi akan dibuka oleh Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Diah Tutuko Suryandaru, pada Selasa (6/10/2015) pukul 15.30.

Pekan Seni Anak TBY ini merupakan presentasi karya peserta bimbingan seni anak yang dilakukan TBY.

Digelar setahun sekali, Pekan Seni Anak ini menampilkan Pameran Seni Rupa hasil karya anak-anak mulai dari usia PAUD, TK dan SD.

Panitia acara, Sri Wahyuni menyatakan, sejak tahun 2003 TBY rutin menggelar bimbingan seni kepada anak- anak dari berbagai daerah di DIY setiap seminggu sekali.

Bimbingan seni itu meliputi berbagai bidang seni mulai dari tari, seni rupa, teater, musik, vokal dan sebagainya.

"Setiap tahun kita menggelar presentasi untuk mereka. Ada 200an anak yang memamerkan karya mereka baik lewat pameran maupun pentas di TBY. Pameran dan pentas ini terbuka untuk umum atau gratis," katanya pada Selasa (6/10/2015).

Ia menyatakan Taman Budaya sebagai laboratorium seni diharapkan dapat menjadi wadah atau ruang bagi anak untuk berkreasi.

"Hal itu kita lakukan lewat bimbingan seni. Tujuannya agar mereka lebih mencintai dan mengapresiasi seni sejak dini," lanjutnya.

Pekan Seni Anak ini ditujukan sebaga wahana sosialisasi dari hasil bimbingan dan pelatihan Art For Children (AFC) di Taman Budaya Yogyakarta.

Dalam kegiatan AFC anak anak diberi kebebasan dalam berekspresi sehingga terbuka ruang dialogis untuk lebih menekankan kepada tumbuhnya kecintaan anak terhadap seni dan kebudayaan secara luas.

Tradisi Ngarot di Indramayu Diakui Kemendikbud RI

Indramayu, Jabar - Tradisi Ngarot yang rutin digelar setiap tahun oleh masyarakat Desa/Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu, resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Jawa Barat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Secara bersamaan, 2 kesenian lainnya Sintren (Kabupaten Cirebon) dan Mamaos (Kabupaten Cianjur) juga mendapatkan pengakuan resmi pemerintah tentang keaslian seni-budaya lokal di tahun 2015. Dari 30 warisan budaya tak benda asal Jawa Barat yang diajukan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar dan instansi terkait di kota/kabupaten, hanya tiga yang diakui secara nasional oleh Kemendikbud yakbni Sintren, Ngarot dan Mamaos.

Adat tradisi Ngarot adalah satu dari sekian banyak kekayaan budaya Indramayu. Hal itu diakui oleh Kasi Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Asep Ruchiyat. “Di Indramayu boleh dibilang sebagai sentra budaya, karena memiliki banyak keragaman budaya se-Jabar, dan Ngarot merupakan satu-satunya budaya yang tak dimiliki daerah lain di Indonesia,” papar Asep kepada wartawan belum lama ini.

Menurutnya, sebelum penetapan sebagai warisan budaya tak benda, tradisi Ngarot telah lolos verifikasi pada Juni 2015 lalu. Kemudian pada 21-23 September lalu melalui sidang penetapan di Hotel Millenium Jakarta, Kemendikbud akhirnya mengakui secara resmi Ngarot sebagai warisan budaya tak benda asal Jabar. Tim pengusul bisa meyakinkan keberlangsungan tradisi upacara adat Ngarot, baik tentang kekhasan yang dimiliki, keunikan bahasa maupun lagu-lagu daerahnya.

Pada momentum Hari Jadi Indramayu ke-488, Disporabudpar Indramayu bekerjasama dengan tim kreatif dan Dewan Kesenian Indramayu (DKI) akan menampilkannya dalam sebuah karnaval bertajuk “Exotica Sewu (1.000) Gadis Ngarot”. “Pada karnaval tersebut, 1.000 Gadis Ngarot dengan busana khas yang dikenakan para pelajar ambil bagian di barisan paling awal, disusul Topeng Kelana, jangkungan dan penampilan kesenian 31 kecamatan,” pungkas Asep.

-

Arsip Blog

Recent Posts