Festival Rebana IPB Terobosan Baru Media Syiar

Bogor, Jabar - Pembina Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Dr Ifan Haryanto mengemukakan Festival Rebana se-Bogor Raya dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2012 di kampus perguruan tinggi tersebut merupakan terobosan baru media syiar.

"Ini juga sekaligus memperkenalkan kesenian Islam (rebana) di IPB," katanya di Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Festival Rebana se-Bogor Raya dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu puncaknya dilaksanakan pada Minggu (23/12) dengan mengusung tema "Gebyar Shalawat Cinta Rasul untuk Melestarikan Tradisi Rebana dan Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah".

KMNU IPB berhasil melangsungkan acara Festival Rebana yang pertama kali sepanjang sejarah IPB.

Ifan Haryanto mengaku sangat mengapresiasi KMNU IPB karena telah menyelenggarakan acara ini dengan sukses.

Ia juga berharap indahnya alunan musik tersebut akan membawa perubahan yang lebih baik, dan bisa menular ke kampus lain.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan IPB Dr Rimbawan menilai, Festival Rebana itu suasananya berbeda dengan lomba yang lain. "Karena lomba ini juga merupakan syi`ar," katanya.

Pihaknya menyampaikan terima kasih dan selamat kepada panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara itu.

"IPB sangat mendukung minat dan bakat mahasiswanya. Alangkah senangnya, apabila minat dan bakat di bidang seni yang membawa kehalusan budi dapat meningkatkan daya ingat untuk selalu mensyukuri nikmat," kata Rimbawan.

Dalam festival itu, juara 1 diraih oleh tim An-Nur dengan total nilai 880, dan berhak atas piala, sertifikat dan hadiah berupa uang senilai Rp2 juta yang diserahkan oleh perwakilan dari Robithoh Al-Alawiyah Indonesia.

Juara 2 diraih oleh tim Nurul Iman dengan total nilai 850, meraih piala, sertifikat serta hadiah uang senilai Rp1,5 juta, diserahkan oleh Direktur Kemahasiswaan IPB.

Sedangkan juara 3 diraih oleh Al-Khidmah IPB dengan total nilai 810, meraih piala, sertifikat dan uang senilai Rp1 juta yang diserahkan oleh pembina KMNU yaitu Dr Aji Hermawan.

Di samping itu, juara favorit diraih oleh tim En-Ha dengan total nilai 800, mendapat piala, sertifikat dan uang senilai Rp750.000, yang diserahkan oleh ketua KMNU Aldy Khusnul Khuluq.

Usai penganugerahan juara festival, acara dilanjutkan dengan pembacaan "Asmaul Husna" dipimpin oleh Al-Habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Athas.

Ia mengatakan sungguh di luar dugaan IPB menyelenggarakan kegiatan seperti ini. Usai membaca "Asmaul Husna", Al-Habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Athas beserta tim hadrah membacakan Simtud Duror.

Kakawin Nagarakretagama

Kakawin Nagarakretagama (Nāgarakṛtâgama) (aksara Bali: ) atau juga disebut dengan nama kakawin Desawarnana (Deśawarṇana) (aksara Bali) bisa dikatakan merupakan kakawin Jawa Kuna karya Empu Prapañca yang paling termasyhur. Kakawin ini adalah yang paling banyak diteliti pula. Kakawin yang ditulis tahun 1365 ini, pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1894 oleh J.L.A. Brandes, seorang ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok. Ia menyelamatkan isi perpustakaan Raja Lombok di Cakranagara sebelum istana sang raja akan dibakar oleh tentara KNIL.

Isi

Kakawin ini menguraikan keadaan di keraton Majapahit dalam masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja agung di tanah Jawa dan juga Nusantara. Ia bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 Masehi, pada masa puncak kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara. Bagian terpenting teks ini tentu saja menguraikan daerah-daerah “wilayah” kerajaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti. Naskah kakawin ini terdiri dari 98 pupuh.[1] Dilihat dari sudut isinya pembagian pupuh-pupuh ini sudah dilakukan dengan sangat rapi. Pupuh 1 sampai dengan pupuh 7 menguraikan raja dan keluarganya. Pupuh 8 sampai 16 menguraikan tentang kota dan wilayah Majapahit. Pupuh 17 sampai 39 menguraikan perjalanan keliling ke Lumajang. Pupuh 40 sampai 49 menguraikan silsilah Raja Hayam Wuruk, dengan rincian lebih detailnya pupuh 40 sampai 44 tentang sejarah raja-raja Singasari, pupuh 45 sampai 49 tentang sejarah raja-raja Majapahit dari Kertarajasa Jayawardhana sampai Hayam Wuruk. Pupuh 1 – 49 merupakan bagian pertama dari naskah ini.

Bagian kedua dari naskah kakawin ini yang juga terdiri dari 49 pupuh, terbagi dalam uraian sebagai berikut: Pupuh 50 sampai 54 menguraikan kisah raja Hayam Wuruk yang sedang berburu di hutan Nandawa. Pupuh 55 sampai 59 menguraikan kisah perjalanan pulang ke Majapahit. Pupuh 60 menguraikan oleh-oleh yang dibawa pulang dari pelbagai daerah yang dikunjungi. Pupuh 61 sampai 70 menguraikan perhatian Raja Hayam Wuruk kepada leluhurnya berupa pesta srada dan ziarah ke makam candi. Pupuh 71 sampai 72 menguraikan tentang berita kematian Patih Gadjah Mada. Pupuh 73 sampai 82 menguraikan tentang bangunan suci yang terdapat di Jawa dan Bali. Pupuh 83 sampai 91 menguraikan tentang upacara berkala yang berulang kembali setiap tahun di Majapahit, yakni musyawarah, kirap, dan pesta tahunan. Pupuh 92 sampai 94 tentang pujian para pujangga termasuk prapanca kepada Raja Hayam Wuruk. Sedangkan pupuh ke 95 sampai 98 khusus menguraikan tentang pujangga prapanca yang menulis naskah tersebut.

Kakawin ini bersifat pujasastra, artinya karya sastra menyanjung dan mengagung-agungkan Raja Majapahit Hayam Wuruk, serta kewibawaan kerajaan Majapahit. Akan tetapi karya ini bukanlah disusun atas perintah Hayam Wuruk sendiri dengan tujuan untuk politik pencitraan diri ataupun legitimasi kekuasaan. Melainkan murni kehendak sang pujangga Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bhakti kepada sang mahkota, serta berharap agar sang Raja ingat sang pujangga yang dulu pernah berbakti di keraton Majapahit. Artinya naskah ini disusun setelah Prapanca pensiun dan mengundurkan diri dari istana. Nama Prapanca sendiri merupakan nama pena, nama samaran untuk menyembunyikan identitas sebenarnya dari penulis sastra ini. Karena bersifat pujasastra, hanya hal-hal yang baik yang dituliskan, hal-hal yang kurang memberikan sumbangan bagi kewibawaan Majapahit, meskipun mungkin diketahui oleh sang pujangga, dilewatkan begitu saja. Karena hal inilah peristiwa Pasunda Bubat tidak disebutkan dalam Negarakretagama, meskipun itu adalah peristiwa bersejarah, karena insiden itu menyakiti hati Hayam Wuruk. Karena sifat pujasastra inilah oleh sementara pihak Negarakretagama dikritik kurang netral dan cenderung membesar-besarkan kewibawaan Hayam Wuruk dan Majapahit, akan tetapi terlepas dari itu, Negarakretagama dianggap sangat berharga karena memberikan catatan dan laporan langsung mengenai kehidupan di Majapahit.

Arti judul

Judul kakawin ini, Nagarakretagama artinya adalah “Negara dengan Tradisi (Agama) yang suci”. Nama Nagarakretagama itu sendiri tidak terdapat dalam kakawin Nagarakretagama. Pada pupuh 94/2, Prapanca menyebut ciptaannya Deçawarnana atau uraian tentang desa-desa. Namun, nama yang diberikan oleh pengarangnya tersebut terbukti telah dilupakan oleh umum. Kakawin itu hingga sekarang biasa disebut sebagai Nagarakretagama. Nama Nagarakretagama tercantum pada kolofon terbitan Dr. J.L.A. Brandes: Iti Nagarakretagama Samapta. Rupanya, nama Nagarakretagama adalah tambahan penyalin Arthapamasah pada bulan Kartika tahun saka 1662 (20 Oktober 1740 Masehi). Nagarakretagama disalin dengan huruf Bali di Kancana.

Penulis

Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September – Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca, berdasarkan hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui bahwa penulis naskah ini adalah Dang Acarya Nadendra , bekas pembesar urusan agama Buddha di istana Majapahit. Beliau adalah putera dari seorang pejabat istana di Majapahit dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Negarakretagama diusia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana.Hingga sekarang umumnya diketahui bahwa pujangga “Mpu Prapanca” adalah penulis Nagarakretagama.

Naskah

Teks ini semula dikira hanya terwariskan dalam sebuah naskah tunggal yang diselamatkan oleh J.L.A. Brandes, seorang ahli Sastra Jawa Belanda, yang ikut menyerbu istana Raja Lombok pada tahun 1894. Ketika penyerbuan ini dilaksanakan, para tentara KNIL membakar istana dan Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar Nagarakretagama ini. Semua naskah dari Lombok ini dikenal dengan nama lontar-lontar Koleksi Lombok yang sangat termasyhur. Koleksi Lombok disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda.

Status naskah

Naskah Nagarakretagama disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023. Lalu dengan kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973, naskah ini diserahkan kepada Republik Indonesia. Konon naskah ini langsung disimpan oleh Ibu Tien Soeharto di rumahnya, namun ini tidak benar. Naskah disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan diberi kode NB 9.

Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO.

***

Sumber: Wikipedia | Foto: majapahit1478.blogspot.com

Kitab Ranggalawe

Ranggalawe atau Rangga Lawe (lahir: ? – wafat: 1295) adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan ini. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban sampai saat ini.

Peran awal

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Songeneb (nama lama Sumenep). Ia sendiri bertempat tinggal di Tanjung, yang terletak di Pulau Madura sebelah barat.

Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik (di sebelah barat Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit. Konon, nama Rangga Lawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya karena berkaitan dengan penyediaan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang raja Kadiri atau juga mempunyai arti rangga berarti ksatria / pegawai kerajaan dan Lawe merupakan sinonim dari wenang, yang berarti “benang”,atau dapat juga bermakna “kekuasaan” atau kemenangan. dan Ranggalawe kemudian diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut.

Penyerangan terhadap ibu kota Kadiri oleh gabungan pasukan Majapahit dan Mongol terjadi pada tahun 1293. Ranggalawe berada dalam pasukan yang menggempur benteng timur kota Kadiri. ia berhasil menewaskan pemimpin benteng tersebut yang bernama Sagara Winotan.

Jabatan di Majapahit

Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya dalam perjuangan Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama Jawa Timur saat itu.

Prasasti Kudadu tahun 1294 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit pada awal berdirinya, ternyata tidak mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada ialah nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja. Menurut Pararaton, Arya Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja. Namun prasasti Kudadu menyebut dengan jelas bahwa keduanya adalah nama dua orang tokoh yang berbeda.

Sejarawan Slamet Muljana mengidentifikasi Arya Adikara sebagai nama lain Ranggalawe. Dalam tradisi Jawa ada istilah nunggak semi, yaitu nama ayah kemudian dipakai anak. Jadi, nama Arya Adikara yang merupakan nama lain Arya Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama gelar Ranggalawe ketika dirinya diangkat sebagai pejabat Majapahit.

Dalam prasasti Kudadu, ayah dan anak tersebut sama-sama menjabat sebagai pasangguhan, yang keduanya masing-masing bergelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka dan Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara.

Tahun pemberontakan

Pararaton menyebut pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1295, namun dikisahkan sesudah kematian Raden Wijaya. Menurut naskah ini, pemberontakan tersebut bersamaan dengan Jayanagara naik takhta.

Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia dan digantikan kedudukannya oleh Jayanagara terjadi pada tahun 1309.Akibatnya, sebagian sejarawan berpendapat bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1309, bukan 1295. Seolah-olah pengarang Pararaton melakukan kesalahan dalam penyebutan angka tahun.

Namun Nagarakretagama juga mengisahkan bahwa pada tahun 1295 Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau “raja muda” di istana Daha. Selain itu Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara.

Fakta lain menunjukkan, nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara sama-sama terdapat dalam prasasti Kudadu tahun 1294, namun kemudian keduanya sama-sama tidak terdapat lagi dalam prasasti Sukamreta tahun 1296. Ini pertanda bahwa Arya Adikara alias Ranggalawe kemungkinan besar memang meninggal pada tahun 1295, sedangkan Arya Wiraraja diduga mengundurkan diri dari pemerintahan setelah kematian anaknya itu.

Jadi, kematian Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 bertepatan dengan pengangkatan Jayanagara putra Raden Wijaya sebagai raja muda. Dalam hal ini pengarang Pararaton tidak melakukan kesalahan dalam menyebut tahun, hanya saja salah menempatkan pembahasan peristiwa tersebut.

Sementara itu Nagarakretagama yang dalam banyak hal memiliki data lebih akurat dibanding Pararaton sama sekali tidak membahas pemberontakan Ranggalawe. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah ini merupakan sastra pujian sehingga penulisnya, yaitu Mpu Prapanca merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib.

Jalannya pertempuran

Pararaton mengisahkan Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Kisah yang lebih panjang terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe.

Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan daripada Nambi.

Ranggalawe yang bersifat pemberani dan emosional suatu hari menghadap Raden Wijaya di ibu kota dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora. Namun Sora sama sekali tidak menyetujui hal itu dan tetap mendukung Nambi sebagai patih.

Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe memilih pulang ke Tuban.

Mahapati yang licik ganti menghasut Nambi dengan melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan di Tuban. Maka atas izin raja, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.

Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe segera menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras. Perang pun terjadi di sana. Ranggalawe bertanding melawan Kebo Anabrang di dalam sungai. Kebo Anabrang yang pandai berenang akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe secara kejam.

Melihat keponakannya disiksa sampai mati, Lembu Sora merasa tidak tahan. Ia pun membunuh Kebo Anabrang dari belakang. Pembunuhan terhadap rekan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Sora pada tahun 1300.

Silsilah Ranggalawe

Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Ranggalawe memiliki dua orang istri bernama Martaraga dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan. Dari Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani.

Kedua naskah di atas menyebut ayah Ranggalawe adalah Arya Wiraraja. Sementara itu, Pararaton menyebut Arya Wiraraja adalah ayah Nambi. Kidung Harsawijaya juga menyebutkan kalau putra Wiraraja yang dikirim untuk membantu pembukaan Hutan Tarik adalah Nambi, sedangkan Ranggalawe adalah perwira Kerajaan Singhasari yang kemudian menjadi patih pertama Majapahit.

Uraian Kidung Harsawijaya terbukti salah karena berdasarkan prasasti Sukamreta tahun 1296 diketahui nama patih pertama Majapahit adalah Nambi, bukan Ranggalawe.

Nama ayah Nambi menurut Kidung Sorandaka adalah Pranaraja. Sejarawan Dr. Brandes menganggap Pranaraja dan Wiraraja adalah orang yang sama. Namun, menurut Slamet Muljana keduanya sama-sama disebut dalam prasasti Kudadu sebagai dua orang tokoh yang berbeda.

Menurut Slamet Muljana, Nambi adalah putra Pranaraja, sedangkan Ranggalawe adalah putra Wiraraja. Hal ini ditandai dengan kemunculan nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara dalam prasasti Kudadu, dan keduanya sama-sama menghilang dalam prasasti Sukamreta sebagaimana disinggung sebelumnya.

Versi dongeng

Nama besar Ranggalawe rupanya melekat dalam ingatan masyarakat Jawa. Penulis Serat Damarwulan atau Serat Kanda, mengenal adanya nama Ranggalawe namun tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kisah hidupnya. Maka, ia pun menempatkan tokoh Ranggalawe hidup sezaman dengan Damarwulan dan Menak Jingga. Damarwulan sendiri merupakan tokoh fiksi, karena kisahnya tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah, serta tidak memiliki prasasti pendukung.

Dalam versi dongeng ini, Ranggalawe dikisahkan sebagai adipati Tuban yang juga merangkap sebagai panglima angkatan perang Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Kencanawungu. Ketika Majapahit diserang oleh Menak Jingga adipati Blambangan, Ranggalawe ditugasi untuk menghadangnya. Dalam perang tersebut, Menak Jingga tidak mampu membunuh Ranggalawe karena selalu terlindung oleh payung pusakanya. Maka, Menak Jingga pun terlebih dulu membunuh abdi pemegang payung Ranggalawe yang bernama Wongsopati. Baru kemudian, Ranggalawe dapat ditewaskan oleh Menak Jingga.

Tokoh Ranggalawe dalam kisah ini memiliki dua orang putra, bernama Siralawe dan Buntarlawe, yang masing-masing kemudian menjadi bupati di Tuban dan Bojonegoro.

***

Sumber: Wikipedia | Foto: mmzrarebooks.blogspot.com

Bangunan Air dari Masa Majapahit

Bangunan air yang ditemukan di masa Majapahit adalah waduk, kanal, kolam dan saluran air yang sampai sekarang masih ditemukan sisa-sisanya. Berdasarkan penelitian, diduga bahwa bangunan-bangunan air tersebut dibangun untuk kepentingan irigasi pertanian dan sarana mengalirkan air sungai ke waduk: penampungan dan penyimpanan air, serta pengendali banjir.

Hasil penelitian membuktikan terdapat sekitar 20 waduk kuno yang tersebar di dataran sebelah utara daerah Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno. Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton dan Kedung Wulan adalah waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya diantara Kali Gunting di sebelah barat dan kali Brangkal di sebelah timur. Hanya waduk Kedung Wulan yang tidak ditemukan lagi sisa-sisa bangunannya, baik dari foto udara maupun di lapangan.

Disamping waduk-waduk tersebut, di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo. Kolam Segaran memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Balong Bunder sekarang merupakan rawa yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran. Balong Dowo juga merupakan rawa yang terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran. Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal di keempat sisinya, sehingga terlihat merupakan bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.

Foto udara yang dibuat pada tahun 1970an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 m atau hanya 12 m, dan bahkan 94 m yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini.

Kanal-kanal di daerah pemukiman, berdasarkan pengeboran yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sedalam empat meter dan pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul, seperti di tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil.

Kanal, waduk, dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit. Di wilayah Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan ukurannya cukup besar, memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya. Candi Tikus yang merupakan pemandian (petirtaan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah, serta temuan pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Majapahit telah mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap sanitasi dan pengendalian air.

Sampai sekarang, baik dari prasasti maupun naskah kuno, tidak diperoleh keterangan mengenai kapan waduk dan kanal-kanal tersebut dibangun serta berapa lama berfungsinya. Rusaknya bangunan-bangunan air tersebut mungkin diawali oleh letusan Gunung Anjasmoro pada tahun 1451 yang membawa lapisan lahar tebal yang membobol Waduk Baureno dan merusak sistem jaringan air yang ada. Candi Tikus yang letaknya diantara Waduk Kumitir dan Waduk Kraton bahkan seluruhnya pernah tertutup oleh lahar.

Melihat banyak dan besarnya bangunan-bangunan air dapat diperkirakan bahwa pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur. Hal ini terbukti dari pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki dalam mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindungi serta aman dihuni. (_soedi)

***

Sumber: http://wacananusantara.org/bangunan-air-dari-masa-majapahit-2/

Foto: wacananusantara.org

Keberadaan Waduk dan Kanal Kuna

BAGIAN I

Kawasan situs Trowulan yang merupakan bekas ibukota Majapahit, memiliki tinggalan-tinggalan budaya fisik manusia dari masa kerajaan Majapahit. Salah satu peninggalan budaya fisik manusia dari masa itu berupa cekungan-cekungan pada permukaan tanah. Cekungan-cekungan ini terdiri dari cekungan-cekungan alami dan cekungan-cekungan buatan manusia. Namun demikian, terdapat perbedaan pendapat tentang cekungan-cekungan yang ada di kawasan ini. Cekungan-cekungan di kawasan situs ini diduga digunakan sebagai sumur, waduk, dan kanal oleh orang-orang yang hidup di masa kerajaan tersebut. Hal ini menurut kami menarik untuk diamati, karena keberadannya pasti memiliki alasan tertentu.

Data mengenai keberadaan waduk maupun kanal, terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama berupa studi literatur dan bagian kedua hasil pengamatan. Bagian pertama, terdiri dari beberapa tulisan yang menyebut adanya waduk maupun kanal, seperti laporan Penelitian Macline Pont tahun 1926 dan 1936 penelitian oleh Bondan H. 1999, penelitian Karina Suwandi tahun 1983, dan Hasil Analisa Foto Udara oleh Bakosurtanal tahun 1981/1982. Bagian kedua terdiri dari bekas waduk dan kanal dari adanya cekungan-cekungan yang alami maupun buatan yang masih dapat kita temukan di kawasan situs Trowulan. Cekungan-cekungan ini biasanya sudah dangkal, menjadi nama dusun atau desa, atau hanya tinggal toponim saja. Contoh dari waduk yang menjadi nama dusun atau desa adalah waduk Kedung Wulan yang kemudian menjadi nama Dusun Kedung Wulan, dan waduk Kedung Maling yang kemudian menjadi nama Desa Kedung Maling di kecamatan Sooko Mojokerto.

A. Waduk

Waduk yang dalam istilah lokal dikenal dengan sebutan Balong atau Kedung, merupakan sebuah cekungana alami yang tak terbentuk. Cekungan ini ada kemungkinan diperluas oleh tangan manusia. Biasanya cekungan ini pada bagian ujung maupun pangkalnya menyempit dan dalam yang diduga digunakan sebagai terusan antara waduk satu dengan waduk lainnya. Menurut Macline Pont, di kawasan situs Trowulan terdapat 18 waduk Kuno. Salah satunya adalah Waduk Baureno yang terdapat di kecamatan Jatirejo Mojokerto. Waduk ini sangat besar dan menampung air dari 8 aliran sungai (Macline Pont, 1936). Berbeda dengan Macline Pont, menurut pengamatan yang telah dilakukan, waduk kuno yang berada di kawasan ini berjumlah 24 waduk. Sebagian dari waduk-waduk ini telah mengalami pendangkalan yang serius, bahkan beberapa diantaranya sudah tidak terlihat lagi. Kemudian, berdasarkan arah alirannya dari Waduk Baureno, waduk-waduk yang berada di kawasan ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok waduk yang berada di Barat Laut Waduk Baureno dan kelompok waduk yang berada di Timur Waduk Baureno

1. Kelompok Waduk Barat Laut

Kelompok waduk ini dimulai dengan Waduk Baureno yang mengalir ke arah Barat laut dan mengikuti alur Sungai Boro dan Sungai Pikatan dan berakhir menjadi Sungai Brangkal. Pada sisi Barat Sungai Brangkal ini terdapat beberapa waduk kuno seperti Waduk Dinaya, Waduk Kumitir, Waduk Domas, dan Waduk Kepiting (Waduk Temon) Masing-masing waduk ini dihubungkan dengan terusan (semacam sungai kecil yang sangat dalam ) dan terusan-terusan ini berhubungan dengan Sungai Brangkal.

Waduk Temon berada di sebelah Tenggara Trowulan. Bentuk waduk ini tidak beraturan. Pada bagian ujung sisi Tenggara terdapat Sungai Kepiting, yang aliran ainya ke Barat dan bersatu dengan Saungai Majaranu yang mengalir dari arah Selatan. Gabungan kedua sungai ini menjadi Sungai Gunting. Sementara itu, ujung sisi Utara Waduk Temon ini terdapat terusan yang masuk ke dalam aliran Sungai Temon dan bermuara di Waduk Kraton. Berdasarkan pengamatan penulis, Waduk Temon ini (diduga) pada awalnya merupakan terminal air masuk Ibukota Majapahit. Hal ini tersirat dalam isi Prasasti Canggu (Prasasti Trowulan I) dari masa Raja Hayam Wuruk. Isi prasasti ini menyebut tempat penyeberangan yang pertama kali adalah Temon (Soekarto K. Atmodjo, 1993). Dengan demikian, Temon dapat diinterpretasikan sebagai nama sebuah tempat atau desa. Selain itu, dengan pengamatan Hasil Analisa Foto Udara Trowulan, terlihat bahwa pada sisi Barat waduk Temon yang panjang ini, bermuara 2 kanal kuno yang berasal dari Barat. Berdasarkan sumber primer yang sesuai dengan kenyataan di lapangan, dapat diduga bahwa Waduk Temon merupakan terminal waduk dari waduk-waduk yang ada dalam ibukota Majapahit. Selain itu, Waduk Temon merupakan salah satu pintu masuk kota dengan melalui kanal.

Waduk selanjutnya adalah Waduk Kraton. Waduk ini berada di dekat Waduk Temon. Antara Waduk Temon dan Waduk Kraton dihubungkan dengan terusan Sungai Kraton. Berdasarkan pengamatan awal penulis, Waduk Kraton ini juga mengalir ke Balong Bunder. Konon Balong Bunder ini merupakan sumber air Kolam segaran dan Balong Dowo. Pada ujung Barat Laut Waduk Kraton terdapat terusan (mungkin dulu Sungai Kraton) yang berhubuingan dengan beberapa kanal. Kanal paling Barat waduk ini berorientasi Barat-Timur dan bermuara ke Waduk Kedung Wulan.

Waduk lainnya yang masih termasuk kelompok ini adalah Balong Wono, Kedung Wulan dan Kedung Maling. Balong Wono ini terletak di sebelah utara Ibukota Majapahit. Antara Balong Wono dan Kedung Wulan terdapat terusan sungai yang saat ini disebut dengan Sungai Balong Wono. Sementara itu, pada bagian Timur Laut Balong Wono, terdapat waduk kuno yang oleh penduduk disebut dengan Kedung Maling. Waduk ini bermuara di Sungai Brangkal. Waduk Kedung Maling pada saat ini juga telah hilang dan menjadi nama desa. Waduk-waduk yang berada dalam kelompok ini diduga berhubungan dengan keberadaan Ibukota Majapahit di Trowulan.

2. Kelompok Waduk Timur

elompok waduk ini dimulai dari Waduk Baureno, yang mengalir ke arah Timur menuju Waduk Kumitir serta Waduk Domas melalui terusan sungai (Macline Pont, 1936). Waduk-waduk ini berfungsi sebagai penyeimbang dan waduk penampung apabila waduk-waduk di kelompok Barat Laut sudah tidak mampu menampung derasnya air yang datang. Waduk-waduk lain yang termasuk kelompok ini adalah Waduk Selomalang, Waduk Ketanen, Waduk Karangemplak, Waduk Kemiri, Waduk Candirejo, Waduk Pandan, Waduk Randengan, Waduk Mojoroto, waduk Awang-Awang, Waduk Segaren, Waduk Sumberejo Kulon, Waduk Randu Embung, Waduk Sumber Tugu, Waduk Tambak Suruh.

Waduk Domas mengalir dengan sebuah terusan menuju Waduk Selomalang. Pada bagian Timur Waduk Selomalang ini terdapat Waduk Ketanen. Antara Waduk Selomalang dengan Waduk Ketanen dihubungkan dengan sebuah terusan. Akan tetapi, aliran Waduk Ketanen ini berakhir di Waduk Karangemplak. Waduk ini kemudian dihubungkan dengan terusan dengan Waduk Kemiri, Waduk Candirejo, Waduk Pandan, Waduk Randengan, Waduk Mojoroto, Waduk Awang-Awang, Waduk Segaren, Waduk Sumberejo Kulon, Waduk Randu Embung, Waduk Sumber Tugu, Waduk Tambak Suruh (Macline Pont, 1926; Bondan Harmanislamet, 1999: 193).

Berdasarkan pengamatan ini, waduk-waduk yang termasuk dalam kelompok Timur ini berperan sebagai waduk penyeimbang debit air. Hal ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa air yang datang dan masuk ke Waduk Baureno sangat tinggi dan deras pada waktu itu. Menurut gambar hasil analisi foto udara, dapat diketahui peran Waduk Temon dan Kanal terpanjang sangat erat. Dengan demikian, waduk-waduk kuno ini dapat diungkapkan keberadaannya dan berhubungan satu sama lain melalui terusan-terusan.

B. Kanal

Pada bentang lahan yang dianggap sebagai bekas Ibukota Majapahit, terdapat bentukan cekungan yang lurus, panjang, dan dalam. Bentukan ini membentuk saling silang yang secar jelas merupakan buatan manusia. Bentukan seperti ini oleh ahli Purbakala disebut dengan kanal. Ukuran fisik kanal menurut pengamatan penulis adalah sebagai berikut: Lebar badan kanal paling pendek 40 m dan paling Panjang 80 m, dan kedalaman antara 6-9 m (menurut Tim Hidrologi UGM). Kanal berfungsi sebagai berikut:

transportasi lokal Ibukota Majapahit
irigasi
pertahanan (Mundardjito, et. Al., 1986).
BAGIAN II

POLA KOTA MAJAPAHIT

A. Lima Hal Penting

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh ahli-ahli berbagai bidang, terutama penelitian tentang keberadaan kanal dan sistem jaringannya di Ibukota Majapahit, ada lima hal penting yang harus diperhatikan. Hal pertama: kanal-kanal yang berpotongan saling tegak lurus, memberikan petunjuk dan gambaran bahwa kota Majapahit dikembangkan dan berkembang atas dasar pola papan catur (grid pattern), yang terbentuk oleh kanal-kanal yang relatif lurus dan berpotongan tegak lurus serta membujur Utara-Selatan dan Barat-Timur. Hal kedua: hubungan antara bujur kanal-kanal terhadap sumbu Utara-Selatan magnet bumi, bila diamati dengan seksama maka dapat diketahui arah kanal-kanal itu tidak tepat sejajar dengan Utara magnit bumi. Kanal-kanal tersebut bergeser minus 10 derajad ke arah kanan perputaran jarum jam dalam kuadran Cartesian. Hal ini berarti ada kemungkinan penataan kanal-kanal lebih diorientasikan pada kondisi fisik geologis dan geografis setempat daripada makna simbolis magnit bumi. Selain itu ada indikasi bahwa kanal-kanal itu lebih digunakan untuk mengatasi kondisi fisik alam setempat.

Hal ketiga yaitu kerapatan grid kanal-kanal. Pada peta terlihat bahwa di bagian Barat, mulai dari Kanal Utara-Selatan yang pertama terdapat pola Grid kanal yang relatif rapat dan berkembang ke arah Barat dibandingkan pada bagian Timur. Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar pada daerah yang grid kanalnya relatif rapat merupakan kawasan yang padat, seperti pemukiman, pusat kota dan istana Raja Majapahit. Petunjuk keempat yaitu: kanal-kanal yang panjang. Pada peta tersebut juga ditemukan tanda yang menarik yang berupa kanal terpanjang Timur-Barat yang lurus dan “menusuk bagian tengah” pusat sistem kanal, yang kemudian dipotong Kanal terpanjang Utara-Selatan (di Timur Pendopo Agung). Tanda persilangan kanan terpanjang ini menarik untuk diamati dan dapat digunakan untuk menjelaskan adanya hubungan aktivitas sosio-budaya yang erat anatar kawasan Barat, kawasan Timur, kawasan Selatan, dan kawasan Utara dengan kawasan pusat kota Majapahit.

Hal kelima, yaitu hubungan jaringan jalan darat dengan kanal. Jaringan jalan darat yang dikembangkan pada masa Majapahit kemungkinan besar disesuaikan dengan pola grid kanal-kanal. Hal ini berarti ada jalan darat yang terletak di sisi atau tepi kanal yang sengaja dibangun sejajar dengan kanal-kanal.

Sementara itu penulis yang melakukan penelitian tentang jaringan jalan darat di kawasan situs ini menggunakan dua cara, yaitu dengan melakukan over lay gambar, dan melakukan wawancara dengan penduduk asli kawasan situs Trowulan. Cara pertama dilakukan penulis dengan melakukan over lay gambar rekonstruksi Macline Pont tentang kota Majapahit dengan gambar hasil analisa foto udara Trowulan tentang jaringan kanal dan sebagian waduk kuna yang ada di Trowulan. Hasil gambar ada di lembar berikut. Cara kedua, penulis melakukan wawancara untuk mendapatkan cerita atau data jaringan jalan darat dari penduduk asli Trowulan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa jalan darat kerajaan ditandai dengan tugu-tugu batu (“cancangan gajah”). Setelah ditelusuri, penulis mendapatkan petunjuk bahwa antar jaringan jalan air sejajar dan berhimpit dengan jaringan jalan darat, bahkan ada jaringan jalan darat yang dilanjutkan dengan jalan air atau kanal.

Selain itu dalam Kitab Negarakertagama Pupuh VIII. (1-2) menyebutkan adanya parit di ibukota Majapahit yang terletak di pintu Barat. Parit ini disebut juga dengan Pura Waktra, yang menghadap ke lapangan luas dan bersabuk pari [8] (Slamet Mulyana, 1979: 276). Istilah parit ini dapat diartikan dengan kanal. Meskipun uraian tentang parit cukup singkat dalam Kitab Negarakertagama, keberadaannya harus diperhatikan. Hal ini sama dengan uraian tentang tembok bata yang cukup singkat di dalam Kitab Negarakertagama, tetapi kenyataan di lapangan sisa-sisa tembok bata ini sangat luas ditemukan.

Adapun Gambar hasil Over Lay (paduan) dapat dilihat sebagai berikut:

B. Deskripsi Gambar Hasil Over Lay

Berdasarkan paduan gambar (Over Lay) yang telah dilakukan. Dapat diketahui beberapa hal, yaitu:

1. kedudukan pola papan catur Kanal (Bakosurtanal, 1981), berada di sebelah Selatan kedudukan pola papan catur jalan hasil rekonstruksi mikro Macline Pont (1924)

2. ada beberapa jaringan kanal yang sejajar dan berhimpit dengan jaringan jalan yang telah digambar oleh Macline Pont, bahkan ada kanal yang dilanjutkan dengan jalan atau sebaliknya.

3. kolam segaran dikelilingi oleh kanal maupun jalan darat berbentuk empat persegi panjang, sedangkan pada situs Candi Kedaton (Sumur Upas) dan situs Pendopo Agung dikelilingi Kanal sehingga membentuk bidang bujursangkar.

4. terdapat Waduk Kraton di sebelah Utara Situs Gapura Bajang Ratu.

Lebih lanjut dalam Kitab Negarakertagama, juga disebutkan dua buah nama sebagai jalan masuk kota Majapahit. Jalan masuk pertama bernama banasara. Pada masa sekarang nama itu tidak dapat ditemukan lagi. Akan tetapi, di wilayah Kecamatan Majaagung terdapat nama tempat yang dikenal dengan Sabantara. Letaknya di tepi Sungai Gunting. Nampaknya nama Sabantara (Jawa Baru) dan Banasara (Jawa Kuna) merupakan nama satu tempat yang sama (meskipun secara etimologi kedua nama itu tidak sama), yaitu pintu masuk kota Majapahit dari sisi Barat Laut atau jalur sungai Gunting karena terletak di tepi Sungai Gunting.

BAGIAN III

Kerajaan-kerajaan kuna di Asia Tenggara menurut Von Heine Geldern menggunakan konsep kosmologi dalam menjalankan pemerintahannya terutama dalam sistem kewilayahan (tata kota) dan tata pemerintahan. Konsep kosmologis merupakan kepercayaan mengenai adanya hubungan yang erat antara dunia manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos). Asumsi dasar konsep kosmologis adalah adanya pemikiran yang menyatakan bahwa manusia selalu berada di bawah pengaruh kekuasaan alami bintang-bintang dan planet-planet yang dapat menyebabkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, maupun bencana, sehingga suatu kerajaan harus disusun sesuai dengan gambaran makrokosmos dalam bentuk kecil. Konsep kosmologis dalam agama Hindu menyatakan bahwa alam ini terdiri dari benua pusat yang berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dengan dibatasi oleh pegunungan tinggi. Pada bagian benua pusat yang disebut jambudwipa berdiri Gunung Meru sebagai representasi pusat alam semesta. Matahari, bulan dan bintang-bintang bergerak mengelilingi Meru. Puncak gunung terdapat kota para dewa yang dikelilingi oleh tempat tinggal kedelapan dewa penjaga mata angin atau lokapala. Konsep kosmologis agama Budha memiliki kesamaan dengan Hindu. Menurut kosmologi Budha, Gunung Meru dianggap pusat alam semesta yang dilingkari oleh tujuh lautan dan tujuh pegunungan. Puncak Meru merupakan kota tempat tinggal 33 dewa, dengan Dewa Indra sebagai raja para dewa. Lereng Gunung Meru terdapat surga terendah, tempat tinggal empat penjaga arah mata angin. Benua yang dihuni oleh manusia di sebelah Selatan disebut Jambudwipa. Keseluruhan itu dilingkari oleh cakrawala, yaitu deretan pegunungan yang tinggi (Deliar Noor, 1962:2).

Dengan demikian kota kuna menurut konsep kosmologis Hindu dan Budha memiliki tiga unsur, yaitu daratan, gunung, dan laut. Namun, ketiga unsur tersebut belum tentu ada pada daerah yang digunakan sebagai tempat berdirinya kota. Agar ketiga unsur tersebut terpenuhi dalam membangun suatu kota, maka ketiga unsur itu diwujudkan dengan replikanya, yaitu replika benua diwujudkan dalam bentuk ibukota, replika laut diwujudkan dengan waduk atau balong atau kedung, dan replika gunung diwujudkan dengan candi.

BAGIAN IV

KESIMPULAN & PENUTUP

Setelah melakukan pengamatan, studi pustaka, dan melakukan over lay (memadu gambar) dapat diketahui beberapa hal penting, yaitu:

Waduk-waduk Kuna ternyata saling berhubungan satu sama lain, dan dihubungkan dengan terusan atau sungai kecil.
Waduk Baureno yang berada di lereng gunung dan menampung delapan aliran sungai, mempunyai fungsi sebagai penampung dan pengendali air, selain irigasi
Waduk Temon merupakan waduk penyeberangan dan terminal masuk ibukota Majapahit
Terdapat jaringan jalan darat yang sejajar dengan jaringan air yang berupa kanal-kanal. Jaringan jalan darat ini juga dapat digunakan sebagai petunjuk adanya sisa kota kuna atau bekas Ibukota Majapahit di Trowulan.
Dengan demikian, keberadaan waduk-waduk maupun kanal-kanal kuna merupakan representasi atau simbol dari tujuh benua dan lautan dalam konsep agama Hindu dan Budha terlihat diterapkan di ibukota Majapahit. Konsep tujuh benua dan tujuh lautan itu diwujudkan dalam bentuk kanal dan waduk pada situs Trowulan. Selain itu tiga unsur yang terdiri dari benua, gunung, dan laut pada situs Trowulan ini diwujudkan replikanya, yaitu replika benua diwujudkan dalam bentuk ibukota, replika laut diwujudkan dengan waduk atau balong atau kedung, dan replika gunung diwujudkan dengan candi.

Pada akhirnya, pemikiran yang ada pada tulisan ini haruslah dibuktikan lebih lanjut karena baru bersifat mencoba merangkai data yang ada. Masih diperlukan penelitian-penelitian yang lain untuk memperoleh jawaban mengenai keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di kawasan Trowulan. Namun demikian, dengan diketahuinya data mengenai keberadaan kanal dan waduk yang ada dapat berguna bagi setiap orang yang membutuhkannya. Salah satunya adalah dapat digunakan sebagai salah satu bahan pemikiran penanggulangan banjir di Mojokerto dan sarana pengairan di kecamatan Trowulan-Mojokerto.



DAFTAR PUSTAKA

Bokusurtanal, 1981, _____________________

Bondan H., 1999, “Tata Ruang Kota Majapahit”, Desertasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Macline Pont, 1924, Majapahit, Poging Tots Reconstructie Van Het Stadplan, Nagezocht Op Het Terrain an De Band Van Den Middeleeuwschen Dichter: Prapanca, Oudheidkundig Verslag: Bijlage

___________, 1926, De Historische Rol Van Majapahit, Een Hypothese, Djawa, P294-317

___________, 1936, “Woeste Gronden Van De Lieden Van Trik, Voor Zoover Zij Wellicht

Van Belang zullen Kunnen Zijn Voor Eene Herziening Van Den Togenwoordigen Toestand, Oudheidkundig Verslag: Bijlage

Karina Arifin, 1993, “Waduk dan kanal Kuno di Pusat Ibukota Majapahit di Trowulan”, Skripsi sarjana Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Indonesia, Jakarta

Soekarto K. Atmodjo, 1993, “Hari Jadi Kabupaten Ngawi”, Balai Arkeologi Jogjakarta bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Tingkat II Ngawi

Tim Siswa (S2) Arsitektur, 1996,”………………………………..”, Program Studi Arsitektur Pasca sarjana Universitas Gadjah Mada



Tulisan ini didedikasikan untuk (Alm.) Drs. Budi Santosa dan mengenang satu tahun kepergiannya, Rekan senior yang penuh cinta, semangat, dan dedikasi tinggi untuk kemajuan arkeologi Indonesia dengan caranya yang unik. Semoga cinta, semangat, dan dedikasimu menginspirasi setiap insan yang peduli peninggalan purbakala.

Selamat jalan rekanku…

Istirahatlah dengan tenang…

Beauty is in the eye of the beholder



Oleh: Drs. Budi Santoso Wibowo

*disusun kembali oleh Ni Ketut Wardani P.D

***

Sumber: wacananusantara.org

Foto: aktualsdn2.blogspot.com

Punden Berundak

Punden berundak merupakan contoh struktur tertua buatan manusia yang tersisa di Indonesia, beberapa dari struktur tersebut bertanggal lebih dari 2000 tahun yang lalu. Punden berundak bukan merupakan “bangunan” tetapi merupakan pengubahan bentang-lahan atau undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu;menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak.

Situs Berundak Pertama dan Kebudayaan Megalitik

Penulis-penulis pertama tentang Indonesia yang sangat dipengaruhi R. von Heine-Geldern, berpendapat setidaknya terdapat dua tahap kebudayaan megalitik di Indonesia yang berkaitan dengan perpindahan penduduk di Asia. Punden berundak dan menhir dipercaya termasuk tahap yang lebih awal dari zaman Neolitikum. Pendekatan ini sesuai dengan kelompok difusionis (ajaran penyebaran) yang berpikir atas dugaan bahwa budaya Asia Tenggara mengalami kemunduran rangsangan dari luar, tidak lebih giat menuntut pembaharuan budaya.

Penafsiran arsitektur bentang-lahan prasejarah Indonesia telah diabaikan secara besar-besaran, sebagian karena perubahan tanggapan mengenai peran orang Indonesia dalam membangun kebudayaannya sendiri, selain itu karena kenyataan banyak situs berundak yang diperkirakan berawal pada zaman prasejarah telah memberi bukti digunakan diwaktu lebih kini. Sangat sulit membuat kesimpulan mengenai umur situs yang mengalami perubahan sejak pertamakali dibangun.

Punden Berundak

Ada kemungkinan, sedikitnya beberapa punden berundak sudah ada sejak zaman prasejarah bila mempertimbangkan keberadaan struktur serupa di Polynesia. Marae dari kepulauan Pasifik barat merupakan ungkapan kearsitekturan dari kepercayaan budaya yang sama seperti punden berundak Indonesia. penduduk kedua wilayah kepulauan ini berbahasa Austronesia, yang mulai mendiami Indonesia dan pulau di Pasifik sejak 5.000-7.000 tahun yang lalu. Punden merupakan kosakata Jawa, secara harfiah bermakna “terhormat”. Kini sering dipakai pada tempat khusus di dekat desa, kerapkali diatas bukit dan dikaitkan dengan roh-roh pendiri desa. Kadang-kadang bangunan kubur bergaya isalam didirikan diatasnya.

“Berundak” berarti ‘bertingkat’. Contoh peninggalan yang terawatt ditemukan didataran tinggi Jawa barat. Salah satu situs terluas, Gunung Padang, muncul kepermukaan pada tahun 1979. Situs, dipuncak bukit berketinggian 885 m, terdiri atas lma undakan yang terluas diantaranya berukuran 28 x 40 m. gunung Padang istimewa karena menggunakan ribuan balok basal yang alami atau dibuat secara sengaja. Penggalian di situs ini pada tahun 1982 oleh Dra. Bintarti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menemukan alat pecah belah sederhana terbuat dari tanah. Tidak ditemukan bukti adanya kuburan. Situs ini mungkin merupakan pusat penyembahan dengan monolit yang dinyatakan sebagai rumah leluhur.

Situs ditata sepanjang sumbu baratlaut-tenggara, sitentukan oleh topografi setempat. Tidak ada usaha untuk mengarahkan ke mata angina tau petunjuk yang dapat dilihat secara signifikan, seperti G. Karuhun (gunung leluhur) yang mudah dilihat. Gunung Padang terbebas dari gangguan penduduk saat ini, tidak seperti situs punden berundak lain di Jawa yang telah mendirikan kuburan Islam atau masih melaksanakan kegiatan upacara keagamaan.

Punden berundak lain di Jawa Barat termasuk Arca Domas ‘sembilan undakan’, terletak di daerah Baduy, dan Lemah Duhur dengan lima undakan di ketinggian 1.000 m diatas permukaan laut. Walaupun beberapa kubur baru dibangun disini, situs ini kembali tampak terpelihara.

Ditempat lain tempat punden berundak berkembang meliputiJawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Nias. Di daerah Pasemah, Sumatera Selatan, Dr haris Sukendar mengenal jenis “kubur berundak” paduan punden berundak dan kubur pra-Islam. Di Nias, bangunan berundak dan menhir masih digunakan.

Situs Berundak Periode Klasik Akhir

Situs zaman Klasik Akhir berdasarkan punden berundak juga ditemukan disejumlah gunung di Jawa, meliputi Lawu, Muria, Penanggungan, Arjuna, Welirang, dan Argapura. Hampir semua contoh ini digunakan antara tahun 1.000 dan 1.500 M. Dr. Hariani Santiko yang mempertanyakan kemungkinan bangunan ini berakar pada zaman prasejarah mengusulkan bahwa bangunan tersebut justru merupakan lambing gunung Semeru. Kemungkinan menyesuaikan penafsiran tersebut ada; bagi orang Jawa, gunung Semeru dapat secara mudah dihubungkan dalam kepercayaan purba pada gunung keramat.

Punden berundak di Bali berjumlah banyak. Situs utama meliputi Panebel, Tenganan, Selulung, Kintamani, dan Sambiran. Miniature punden berundak yang masih digunakan dalam ibadah saat ini ditemukan di dua pura dalem di Sanur. Satu dari pura di Bali yang plaing penting yaitu pura Besakih, dapat dilihat sebagai punden berundak.

Masalah utama bagi ilmuwan yang tertarik mengetahui perlambang punden berundak di Indonesia dan pengaruhnya pada sejarah kearsitekturan adalah penanggalannya. Tidak terdapat penanggalan awal (yakni proto-sejarah) yang pasti untuk berbagai bagian punden berundak. Kendala ini harus dapat diatasi supaya penelitian dapat berkembang. Saat ini tidak meungkin memetakan tahap perubahan bentuk arsitektur bentang-darat pada masa lebih dari 2000 tahun.

***

Sumber Tulisan : Indonesia Heritage

Foto: sasadaramk.blogspot.com
-

Arsip Blog

Recent Posts