Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Waktunya Pencak Silat Jadi Warisan Budaya Dunia

Bandung, Jabar - Sudah waktunya seni tradisional pencak silat diakui badan dunia UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Peran tokoh-tokoh pencak silat dari paguron maupun perkumpulan akan sangat menetukan segera terealisasinya pengajuan Pencak Silat sebagai warisan budaya tak benda dunia berasal dari Indonesia.

"Saat ini bukan perkara mudah untuk mendaftarkan kekayaan warisan budaya kita untuk mendapat pengakuan badan duni UNESCO. Selain harus melalui tahapan cukup panjang, sejak tahun 2012 Amerikan menghentikan bantuan ke UNESCO mengakibatkan pengajuan warisan budaya dunia diperketan menjadi dua tahun sekali dan setiap negara hanya diberi kesempatan mendaftarkan satu warisan budaya," ujar Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Toto Sucipto, Sabtu 22 Oktober 2016 pada acara "Ngadu Bako Penca" di Lobi Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

Toto mencontohkan pengajuan Kapal Pinisi yang dilakukan sejak tahun 2012 dan baru didaftarkan tahun 2014, ternyata tahun United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization tahun 2015 tidak meloloskan. "UNESCO baru akan melaksanakan rapat tahun 2017 mendatang, diharapkan untuk Kapal Pinisi mendapat pengakuan dan tahun 2017 Pencak Silat sudah dijajaki persyaratan administrasinya agar tahun 2019 mendapat pengakuan (UNESCO)," ujar Toto.

Sementara Ketua Tim Kerja Pencak Silat Menuju Unesco, Wahdat Mardi Yuana, upaya mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia tidak semudah sebagaimana yang selama ini terus disuarakan oleh pemerintah, tokoh pencak silat dan masyarakat. "Selama ini masyarakat merasa khawatir akan klaim negera Malaysia terhadap seni budaya tradisional asal Indonesia, tapi mereka tidak tahu bagaimana upaya yang harus dilakukan, seperti untuk pencak silat , butuh dukungan semua pihak," ujar Wahdat.

Selain dari pemerintah, menurut Wahdat, sudah saatnya semua tokoh pencak silat memberikan bantuan, sumbang saran pemikiran serta informasi. Penguatan data tentang semua hal berkaitan dengan pencak silat akan dijadikan bahan rujukan yang medukung proses kelengkapan administrasi.

Pada "Ngadu Bako Penca", 100 orang tokok pencak silat sejumlah aliran pencak silat dari sejumlah paguron pencak silat yang hadir sepakat untuk bersama memberikan dukungan. Bahkan semua hal tentang pencak diupayakan sebelum pertengahan tahun 2017 sudah dapat dikumpulkan dan dijadikan sumber acuan data.

"Harus, tahun 2017 pencak silat sudah harusdilengkapi semua data tentang pencak silat. Kita harus mendukung pengakuan pencak silat sebagai budaya Indonesia oleh masyarakat dunia," ujar Kusnadi (92) tokoh pencak silat Panglipur Kota Cimahi, menegaskan.

Mari Lestarikan Tembang Sunda Cianjuran!

Bandung, Jabar - Minat generasi muda terhadap seni budaya tradisional belum diimbangi program pemerintah daerah. Permasalahan klasik pendanaan menjadi alasan upaya pembinaan generasi muda dalam menggeluti seni budaya tradisional.

Hal itu diungkapkan seorang sesepuh Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Kota Bandung Herry Wijaya, pada sosialisasi Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran Damas 2016 dan Istrenan Pangurus XXXV Damas, di Gedung YPK, akhir pekan lalu.

Kegiatan seni Tembang Sunda Cianjuran menurut Herry, menjadi salah satu kesenian yang minim perhatian dari pemerintah daerah. “Hampir di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat ini ada pelaku seni Tembang Cianjuran. Namun, dalam hal pasanggiri atau festival mereka sangat berharap banyak dari kegiatan yang dilakukan oleh lembaga atau kelompok independen nonpemerintah seperti halnya Damas,” ujar Herry.

Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran merupakan agenda rutin yang dilaksanakan Damas setiap 2 atau 3 tahun sekali sejak 1962. PTSC tahun ini yang merupakan penyelenggaraan yang ke-21 akan digelar pada 5-8 Oktober 2016, di Gedung Sabilulungan Kabupaten Bandung.

PTSC Damas 2016 akan diikuti lebih dari 100 orang juru tembang dari 27 kabupaten dan kota di Jabar. Adapun tembang yang lombakan atau dipasanggarikan untuk katagori pria berupa tembang, “Rajamantri”, “Jemplang”, “Panganten”, dan “Dangdanggula Degung”. Sedangkan untuk katagori wanita tembang, “Sebrakan Sapuratina”, “Kuring Leungiteun”, “Kaléon”, “Jemplang Pamirig”.

“Pasanggiri (PTSC Damas) merupakan media evaluasi juga silaturahmi para seniman sehingga harus terus diselenggarakan. Kami berharap insan tembang Sunda dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai estetis tembang Sunda dalam kehidupan,” ujar salah seorang tokoh tembang Cianjuran, Yus Wiradiredja.

Festival dan Seminar Seni Budaya Pesisir Jawa Barat Digelar di Cirebon

Bandung, Jabar - Festival dan seminar seni budaya pesisir Jawa Barat bertajuk Gotrasawala kembali digelar di Cirebon, 12-14 Agustus 2016. Seperti Gotrasawala sebelumnya, event tahunan yang sudah digelar sejak 2013 ini akan menyajikan beragam kesenian khas pesisir.

“Di dalamnya ada seni musik, tari, maupun teater. Jadi selain pelestarian (budaya), juga ada pengembangan,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, melalui siaran pers yang diterima Merdeka Bandung.

Ia menambahkan, Gotrasawala antara lain akan memadukan pemusik Cirebon dengan maestro dari luar negeri, misalnya ada musisi Kora (alat musik tradisional Afrika) dari Senegal, Vieux Cissokho, juga seorang penyanyi kelas dunia Maryama Kouyate.

Kolaborasi tersebut diharapkan turut mengangkat pariwisata Jawa Barat di level internasional. “Saya kira untuk kepariwisataan juga harusnya secara bertahap bisa berkembang. Kita kan memang harus menyiapkan event-event apa yang menarik perhatian bagi wisatawan. Itulah dampak kepariwisataan yang diharapkan,” jelasnya.

Akan dihadirkan pula panggung Folk Festival. Panggung ini menampilkan banyak penampilan seni yang melekat pada kehidupan masyarakat pesisir Jawa Barat. Pelaksanaan Folk Festival akan dirangkaikan dengan pasar murah bertajuk “JakCloth”.

Ia mengklaim, selama digelar setiap tahunnya Gotrasawala telah berhasil menghubungkan seniman-budayawan lokal dan internasional. Sebut saja nama Larry Reed di bidang Teater, Peter Chin di bidang tari, dan Ana Alcaide di bidang musik.

Ke depan, kata dia, Gotrasawala diharapkan menjadi wadah berbagai eksplorasi, kreativitas seni-budaya di wilayah Jawa Barat hingga mengangkatnya ke panggung internasional.

“Jadi bukannya mengambil seni dari luar ke dalam, tapi bagaimana apa yang kita miliki bisa ‘nge-blend’ (berbaur) ke dunia internasional. Inilah yang kita harapkan. Jadi kita sendiri tidak tertinggal dari segi seni yang ada di Jawa Barat untuk Go- Internasional,” ucapnya.

Pada sesi seminar, Gotrasawala akan mengangkat topik Kerajaan Tarumanagara. Rencananya seminar ini akan dihadiri 50 perwakilan raja-raja seluruh Nusantara.

Topik lainnya adalah seni pesisir kontemporer di wilayah Jawa Barat yang akan dikupas narasumber antara lain Dr. Jakob Soemardja, Embie C. Noer, Nurdin M. Nur, serta Dr. Eric North, dari USA.

Festival Ujungberung Hidupkan Kesenian Khas Sunda

Bandung, Jabar - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung bekerjasama Badan Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Kota (BKPMK) menggelar perhelatan Festival Ujungberung, Rabu (10/8). Acara ini digelar di Alun-Alun Ujungberung yang menjadi pusat kecamatan yang terletak di Bandung bagian timur.

Festival Ujungberung 2016 ini ditujukan untuk memperingati hari jadi Kecamatan Ujungberung ke-201. Setelah sejak 2008 menjadi perhelatan tahunan yang rutin digelar Kecamatan Ujungberung.

Berbagai pertunjukan seni dan budaya ditampilkan untuk memeriahkan acara. Di antaranya atraksi seni khas Ujungberung seperti Benjang Ream, Helaran Jampanan, dan Kuda Renggong.

Selain itu, penampilan lain seperti Buncis, Reog, Calung, Pencak Silat, Bajidoran, dan Karinding juga menjadi atraksi penghibur bagi pengunjung yang datang. Camat Ujungberung, Taufik mengatakan perayaan ulang tahun Ujungberung ini juga dibalut dengan konsep kesenian dan kuliner khas budaya sunda.

"Hari ini tanggal 10 agustus menurut sejarah tokoh-tokoh merupakan hari jadi Ujungberung. Rangkaian festival yang dilakukan berupa kesenian dan juga kuliner," kata Taufik di Alun - alun Ujungberung, Kota Bandung, Rabu (10/8).

Taufik mengatakan bila rangkaian acara ini bagian dari promosi budaya Sunda. Dengan cara memperkenalkan kesenian budaya Sunda yang banyak tidak dikenal terutama oleh generasi muda.

Dalam pelaksanaannya, ia mengaku melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Serta murid-murid sekolah dari tingkat SD sampai SMA untuk mengisi pertunjukan seni.

Ia menilai dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, budaya dan seni sunda bisa semakin terjaga kelestariannya. Seni budaya menjadi hal yang penting karena merupakan identitas akan Ujungberung yang juga merupakan bagian dari tugas pemerintah. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar budaya dan kesenian sunda dapat terus dipertahankan dan dilestarikan," tuturnya.

Penggiat Seni Bandung, Mbah Njum megatakan festival seperti ini harus terus dilestarikan. Karena menampilkan kesenian khas Sunda yang harus dikenal masyarakatnya.

Mbah Njum menilai ke depannya acara serupa harus diadakan lebih baik. Sehingga jauh lebih mengesankan bagi masyarakat khusunya warga Ujungberung. "Harapan saya di festival ujung berung, lebih terkonsep dari , sebelum ada pelaksanaan, adanya workshop," ujarnya.

Selain sebagai bagian dari pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kesenian tradisional di wilayah Bandung timur, menurut Wawan, festival juga dalam rangka silaturahmi. Baik sesama seniman, juga masyarakat Ujungberung.

Festival ini diadakan selama dua hari yakni 10-11 Agustus. Di samping menikmati pertunjukan kesenian khas Sunda, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai bazzar kuliner untuk memanjakan lidah.

Pengajuan Pencak Silat ke UNESCO Harus Lebih Matang

Bandung, Jabar - Pengajuan pencak silat sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia ke badan dunia UNESCO tahun ini akan disiapkan lebih matang. Pencak silat sebagai seni budaya dan olah raga bela diri semakin diakui dan berkembang di sejumlah negara.

Salah seorang sesepuh Pencak Silat Panglipur Haji Masri Atmadja mengungkapkan, dalam minggu-minggu ini pihaknya akan melakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Rencananya kami akan diterima Dirjen Kebudayaan (Hilmar Farid). Agenda utama audiensi adalah membicarakan upaya-upaya pengajuan pencak silat karya budaya bangsa ke UNESCO,” ujar Masri, di Gedung YPK, Jalan Naripan 7-9 Bandung, Senin 8 Agustus 2016.

Menurut dia, sejak diupayakan pengajuan beberapa tahun lalu pencak silat selalu gagal mendapat pengakuan UNESCO. Kegagalan tersebut lebih dikarenakan data-data pendukung yang masih kurang.

Senada dengan Haji Masri, sesepuh pencak silat Panglipur lainnya Asep Gurwawan mengatakan bahwa sudah saatnya pemerintah serius melakukan pengumpulan data pendukung pengajuan pencak silat sebagai warisan budaya dunia. “Saya mendapat informasi bahwa Malaysia sudah empat kali mengajukan Pencak Silat Melayu. Data mereka sangat komplit, tapi pihak UNESCO menolak dengan alasan pencak silat diketahui berasal dari Indonesia,” ujar Asep.

Ia menambahkan, pencak silat sebagai seni budaya maupun olah raga di sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam berkembang pesat. Khusus di Malaysia, pencak silat yang berkembang berasal dari Minangkabau (Silek).

Menyadari keterbatasan referensi ilmiah dan juga untuk mengantisipasi klaim Malaysia dan Thailand terhadap seni budaya pencak silat, Menteri Pemuda dan Olahraga saat dijabat Roy Suryo pada April 2014 mengirim tim riset pendahuluan ke Belanda. Tim riset pencak silat dipimpin Deputi Bidang Harmonisasi dan Kemitraan beranggotakan sejumlah periset di bidang seni bela diri pencak silat.

Alasan utama untuk melakukan riset ini adalah karena disadari sepenuhnya bahwa sumber historis warisan budaya Indonesia masih sangat banyak ditemui di Belanda. “Hasil riset tersebut hingga kini belum dipublikasikan, mudah-mudahan hasil riset ini akan memperkuat ajuan pengakuan pencak silat sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia oleh UNESCO,” ujar Asep.

Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama Digelar

Bandung, Jabar - Yayasan Rancage bersama pemerintah Jawa Barat bersama menggelar Kongres Bahasa Daerah Nusantara pertama. “Kongres ini diharapkan dapat membuka kesadaran masyarakat untuk upaya penyelamatan bahasa daerah,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar saat membuka kongres yang digelar tiga hari di Gedung Merdeka, Bandung, 2 Agustus 2016.

Deddy mengatakan Indonesia merupakan negara terkaya kedua setelah Papua Nugini jika dihitung dari jumlah bahasa daerahnya. Papua Nugini tercatat memiliki 800 bahasa daerah, sedangkan Indonesia 749 bahasa daerah.

Menurut Deddy, dari ratusan bahasa daerah itu kondisinya beragam. Dari jumlah penutur misalnya, bahasa daerah sejumlah etnis relatif aman karena jumlah penuturnya di atas satu juta orang seperti bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Minang, Batak, Bugis, Bali, Aceh, Sasak, Makasar, serta Lampung. Namun ada yang terancam karena jumlah penuturnya kurang dari seribu orang.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dadang Sunendar mengatakan, lembaganya hingga saat ini tengah meneliti 659 bahasa daerah di Indonesia dari 2.348 lokasi penelitian di seluruh Indonesia sejak 1992. “Sampai hari ini baru 617 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi,” kata dia di kongres itu.

Data itu masih akan berubah karena penelitian masih terus dilakukan. Catatan penelitian soal identifikasi bahasa daerah bisa berbeda tergantung metode penelitian yang digunakan. Penelitian etnolog misalnya mencatat di Indonesia terdapat 726 bahasa daerah, dari jumlah itu 139 bahasa daerah terancam punah, dan 14 bahasa daerah sudah punah.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahasa daerah di Pulau Jawa relatif masih aman. Sedangkan di Kalimantan satu bahasa terancam punah, di Maluku 22 bahasa daerah terancam punah dan 11 punah, Papua Halmaehera mencatat 67 bahasa terancam punah dan dua punah. Di Sulawesi 36 terancam punah dan satu punah. Di Sumatera dua terancam punah dan satu punah. Di Flores, Bima, Sumbawa ada 11 terancam punah.

Dadang mengatakan, penelitian lembaganya mendapati bahasa daerah terancam punah disebabkan sejumlah penyebab. Di antaranya menyusutnya jumlah penutur, peperangan, bencana alam, kawin campur antar suku, lokasi geografis daerahnya, hingga sikap bahasa penutur itu sendiri.

Dadang mencontohkan kasus bahasa Taijo di Sulawesi Tengah yang berstatus terancam punah dengan jumlah penutur bahasa itu hanya berkisar 12 ribu orang. Bahasa Taijo belum memiliki sistem aksara, tidak diajarkan di sekolah, bersaing dengan bahasa daerah sekitar hingga bahasa Jawa dan Bali yang dibawa transmigran di daerah itu. “Pemerintah mencoba mendorong orang-tua menggunakan bahasa daerah di rumah serta mengembangkan komunitas penutur bahasa itu,” kata dia.

Ketua Yayasan Rancage Rachmat Taufiq Hidayat pada pengantar kongres itu mengatakan, dalam pertemuan-pertemuan yang membahas bahasa daerah tertentu sering muncul salah paham saat membahas kedudukan bahasa daerah, sekaligus cemas dengan masa depannya. “Sudah waktunya diselengarakan kongres bahasa daerah yang membahas pokok persoalan yang dihadapi oleh bahasa daerah,” kata dia.

Rachmat mengatakan, gagasan menggelar kongres bahasa daerah sudah lama disuarakan oleh Ajip Rosidi, budayawan sekaligus pendiri yayasan itu. Baru pada Agustus 2014, program kerja yayasan memutuskan untuk menggelar kongres bahasa daerah.

Ajip Rosidi mengatakan, ide kongres bahasa daerah sudah dilontarkannya sejak tahun 80-an. Pusat Bahasa misalnya sempat tertarik menggelar kongres itu tapi batal. “Tidak tahu alasannya, tidak bisa dilaksanakan. Sekarang juga kalau bukan Pak Deddy Mizwar jadi wakil gubernur, belum tentu terlaksana, kata dia, Selasa, 2 Agustus 2016.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernida mengatakan, kongres bahasa daerah nusantara itu diikuti 225 peserta dari berbagai kalangan yang berasal dari seluruh Indonesia. Terdapat 28 pemakalah dari dalam dan luar negeri yang akan membahas beragam masalah bahasa daerah.

Di Kongres itu, Yayasan Rancage sempat memperkenalkan Kamus Bahasa Sunda yang disusunnya sejak 2011 dan rampung tahun lalu. “Kamus ini sekarang sudah selesai, berisi 150 ribu lema dan sub lema. Sebagai perbandingan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 4 tahun 2008 berisi 90 ribu lema dan sub lema,” kata Ketua Yayasan Rancage Rachmat Taufiq Hidayat.

Komunitas HONG akan pamerkan permainan tradisional di Tafisa 2016

Bandung, Jabar - Pusat kajian mainan dan permainan tradisional Indonesia, Komunitas HONG Bandung akan turut meramaikan The 6th Association for International Sport for All (TAFISA) World Games 2016 di Jakarta pada 6-12 Oktober 2016.

Momen ini menjadi kesempatan baik bagi Komunitas HONG untuk mengenalkan permainan dan mainan tradisional Indonesia ke level dunia. TAFISA sendiri merupakan ajang internasional yang sering disebut sebagai olimpiade-nya olahraga rekreasi.

“Alhamdulillah kita diundang Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) untuk mengikuti TAFISA 2016. Saat ini Komunitas HONG sedang persiapan mengikuti ajang internasional tersebut,” kata pelatih permainan tradisional Komunitas HONG, Anjas Gembol, kepada Merdeka Bandung.

Ia menyebutkan, event TAFISA nantinya akan diselenggarakan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Indonesia sebagai tuan rumah mengundang sekitar 60 negara.

“Sedangkan Komunitas HONG akan membawa olahraga tradisional. Jadi nanti undangan akan menyaksikan olahraga tradisional khas Indonesia,” katanya.

Komunitas yang didirikan Doktor FSRD ITB, M Zaini Alif, itu hingga saat ini sudah menghimpun lebih dari 2.500 permainan dan mainan tradisional di Indonesia. Dari data tersebut, sebagian di antaranya berupa olahraga tradisional yang bersifat rekreasi.

“Kita bersyukur diundang Kemenpora, jadi kita punya kesempatan kita untuk mengenalkan khasanah budaya Indonesia ke luar negeri,” tandasnya.

Komunitas HONG, tambah dia, bukan hanya sekedar pengumpul mainan. Di dalamnya, ada kegiatan pengkajian atau penelitian mainan dan permainan nusantara.

Dari temuan Komunitas HONG, pada dasaranya setiap permainan yang ada di daerah di Indonesia memiliki kesamaan dengan daerah lainnya. Hanya saja nama dan aturan mainnya yang berbeda.

“Tetapi inti dari permainan tradisional adalah rekreasi, kesenangan. Bukan menang kalah. Kalau permainan modern kan tujuannya menang dulu, bukan kesenangan,” terangnya.

Komunitas ini bertempat di Pakarangan Ulin Komunitas HONG, Jalan Bukit Pakar Utara No 26 Dago Pakar Bandung. Komunitas ini kerap dikunjungi turis lokal dan mancanegara.

Anak-anak Sambut Riang Festival Budaya dan Seni Sunda

Bandung, Jabar - “ORAY-ORAYAN luar leor mapay sawah. Entong ka sawah parena keur sedeng beukah. Oray-orayan luar leor mapay leuwi. Entong ka leuwi , di leuwi loba nu mandi. Saya anu mandi anu mandina pandeuri. Oray-orayan luar leor mapay kebon. Entong ka kebon loba barudak keur ngangon. Mending ge teuleum di di leuwi loba nu mandi. Saha anu mandi anu mandina pandeuri.”

Sejumlah anak menyanyikan lagu “Oray-orayan” dengan sangat riang sambil memperagakan bagaimana permainan itu dilakukan. Dua anak mengangkat tangan dengan posisi perpegangan sedangkan beberapa anak lainnya terus berjalan beriringan sambil memegang bagian pundak teman yang ada di bagian depannya. Pernainan terus dilakukan seperti itu samabil menyanyi lagu.

Zaman dahulu, permainan ini biasa dilakukan anak-anak saat terang bulan atau siang hari saat bermain di tempat yang lumayan luas atau terkadang di depan sekolah saat istirahat belajar.

Kini, permainan tersebut hanya terlihat dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti hari anak atau festival seperti yang diselenggarakan di halaman Kecamatan Panyingkiran, Selasa 25 Juli 2016.

Menurut keterangan Camat Panyingkiran Junaedi, pihaknya sengaja menyelenggarakan festival budaya dan seni Sunda untuk semua tingkatan sekolah mulai TK hingga SLTA yang ada di Kecamatan Panyingkiran. Festival itu dihelat untuk menggelorakan kembali tradisi Sunda yang biasa dimainkan semasa anak-anak oleh warga.

“Lagu ‘Oray-orayan’, mungkin hanya sebagian sekolah saja yang mengajarkannya kembali kepada anak-anak. Itu pun mungkin pada ekstrakurikuler atau saat akan melaksanakan lomba. Saya ingin budaya ini terus terpelihara dan dimainkan anak-anak masa kini. Terlebih, Kecamatan Panyingkiran sebagian besar adalah wilayah pedesaan bukan perkotaan seperti wilayah lain sehingga permainan itu bisa tetap lestari,” kata Junaedi.

Salah seorang murid SD yang menjadi peserta festival, Meliawati mengatakan, ia bersama beberapa temannya mendadak belajar jaipongan untuk mengikuti festival budaya dan seni Sunda. Sebelumnya mereka tidak pernah mengikuti kegiatan kesenian di sekolah ataupun di luar sekolah.

“Latihan sekitar seminggu menggunakan kaset. Kalau permainan anak-anak itu diajari juga oleh guru,” ujar Meliawati.

Demikian juga yang disampaikan Aulia yang sama menjadi peserta jaipongan dari SD Bantrangsana. Dia menyatakan, hanya belajar tiga hari sebelum mengikuti festival. Dia diajar oleh guru meski sudah bisa menari jaipong.

Dari kegiatan festival tersebut, sebagian besar peserta memperagakan tari jaipong. Hanya beberapa sekolah yang memperagakan permainan dan nyanyian anak tempo dulu, seperti oray-orayan, eundeuk-eunduken lagoni, serta oyong-oyong bangkong.

Namun demikian, acara berlangsung meriah. Sejumlah orangtua anak yang mengikuti festival, guru, dan aparat desa hadir memberi semangat bagi perwakilannya masing-masing. Mereka pun berupaya memberi saweran saat anak-anaknya pentas, tak terkecuali camat dan aparat desa. Tak ayal, uangpun berserakan di panggung.

Paguyuban Pasundan pentas angklung di Eropa

Bandung, Jabar - Tim angklung dari Paguyuban Pasundan akan melakukan pementasan angklung di tujuh negara di Eropa dengan tema Muhibah Angklung 40 Days in Europe.

"Hari ini (Sabtu) kami melepas tim pelajar Paguyuban Pasundan yang akan pentas angklung di tujuh negara Eropa," kata Ketua Umum Paguyuban Pasundan, Prof Dr Didi Turmudzi, di Bandung, Sabtu.

Kegiatan itu merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-103 Paguyuban Pasundan. Sebanyak 41 pelajar yang berasal dari beberapa sekolah di lingkungan pendidikan Pasundan menjadi bagian dari duta kesenian Pasundan di Eropa itu.

"Selain pendidikan, kami juga membina kesenian. Dan tim ini akan tampil di Inggris, Irlandia, Republik Ceko, Jerman, Belgia, Polandia, dan Prancis," katanya Turmudzi .

Ada Festival Kaulinan Barudak di Taman Budaya

Bandung, Jabar - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menggelar Festival Permainan Tradisional 2016 diikuti 18 kabupaten dan kota se-Jawa Barat hingga Sabtu 23 Juli 2016.di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jalan Bukit Dago Utara Kota Bandung. Penyelenggaraan Festival Permainan Tradisional dengan tema "Menanamkan silih asah, silih asuh, dan berjiwa korsa" itu dilaksanakan dalam upaya mengembalikan ruh permainan tradisional sebagai media interaksi sosial masyarakat.

"Sejak diperkenalkan ke masyarakat melalui kegiatan festival kaulinan urang lembur oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, telah terjadi pergeseran nilai permainan tradisional. Permainan yang seharusnya dilakukan anak-anak, namun dalam penyelenggaraan melibatkan orangtua. Karenanya tahun 2016 ini kita berupaya melakukan revitalisasi dan rekonstruksi permainan tradisional ke ruhnya sebagai media interaksi sosial dengan kandungan nilai filosofinya," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Ida Hernida. Ia ditemui pada pembukaan Festival Permainan Tradisional 2016 (Festival Sendra Kaulinan Urang Lembur) yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Kamis 21 Juli 2016.

Hal yang tidak kalah pentingnya menurut Ida, permainan tradisional bukan merupakan olah raga tradisional yang diperlombakan dalam bentuk kompetisi yang mengutamakan fisik. “Ini yang terjadi saat ini disejumlah daerah karena kondisi yang diciptakan oleh Disparbud Jabar, hal ini menjadi kewajiban Disparbud melalui Taman Budaya sebagai balai UPTD Disparbud Jabar untuk meluruskan,” ujar Ida.

Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Mochamad Darajatun, menambahkan bahwa rangkaian Festival Kaulinan Tradisional 2016, selain diisi dengan Sendra Drama Kaulinan Tradisional, juga workshop dan jajanan tradisional.

"Kita mencoba untuk menggugah masyarakat modern saat ini bahwa segala hal yang berbau tradisional tidak selalu buruk dan ketinggalan jaman, bahkan sekarang ini ada banyak sejumlah permainan yang kembali disukai dan dimainkan, demikian pula halnya dengan makanan seperti cilok, cireng dan lainnya," ujar Darajatun.

Atap Gedung Kesenian Ambruk, Seniman Gelar Aksi Budaya

Bandung, Jabar - Ambruknya sebagian atap gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Bandung, mengundang keprihatinan seniman. Selain berunjuk rasa dengan menggelar aksi budaya, Rabu, 20 Juli 2016, para seniman membuat petisi agar pemerintah daerah melindungi gedung-gedung seni dan budaya serta memperbaiki bangunan sejenis yang terbengkalai.

Robohnya sebagian atap gedung YPK pada Rabu, 13 Juli 2016, memicu aksi tersebut di gedung YPK, Jalan Naripan, Bandung, sejak Ahad, 17 Juli 2016. Gedung yang biasa dipakai untuk sejumlah kegiatan seni, seperti pameran seni rupa serta latihan menari, tersebut terakhir diperbaiki pada 2013. Adapun bagian atap yang roboh berada di belakang panggung gedung.

Seniman yang berunjuk rasa antara lain Tisna Sanjaya, Herry Dim, dan Matdon yang tergabung dalam Dewan Kebudayaan Jeprut Jawa Barat. Demonstrasi yang menghasilkan petisi dengan enam poin itu mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara konsisten melindungi dan melakukan konservasi gedung YPK sesuai dengan Undang-Undang tentang Bangunan Cagar Budaya.

Seniman juga menuntut dilibatkan dalam perencanaan, pengawasan, dan evaluasi kebijakan serta program Dinas Pariwisata dan Budaya sebagai wujud pelaksanaan dan penganggaran yang partisipatif, transparan, serta akuntabel.

Tak hanya itu, mereka juga mendesak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meninjau ulang surat keputusan tentang Dewan Kebudayaan Jawa Barat. Dewan yang bertugas dengan masa periode 2014-2019 itu juga dituntut mempertanggungjawabkan kinerjanya selama tiga tahun.

Selain itu, mereka meminta Gubernur dan Wakil Gubernur serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat membuka forum dialog dengan seniman dan budayawan. Aksi akan diteruskan jika pemerintah tidak menanggapi isi petisi tersebut.

Seniman teater, Iman Soleh, menuturkan robohnya atap gedung YPK mewakili kondisi gedung-gedung tempat seniman serta budayawan berkumpul yang terbengkalai dan tak diperbaiki di berbagai daerah. “Seperti di Cianjur, Garut, Ciamis, Kuningan, gedung lama pada rusak atau dibangun tanpa perbaikan,” ucapnya kepada Tempo, Rabu, 20 Juli 2016. Dia pun mempertanyakan kerja dan program Dewan Kebudayaan Jawa Barat, yang diharapkan bisa mendorong pemerintah daerah menjaga ruang seni dan budaya bagi publik.

Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat Asep Warlan Yusuf mengatakan pihaknya berencana mengadakan pertemuan dengan Wakil Gubernur Jawa Barat segera untuk menyikapi tuntutan seniman tersebut. Dia mengakui, Dewan selama ini berfokus pada kajian budaya, seperti pelestarian dan transformasi budaya.

“Sementara ini belum bicara sarana fisik untuk kepentingan budayawan dan seniman karena pemerintah daerah yang memperbaiki gedung-gedung yang tidak layak. Kami tidak bisa mengeksekusi,” ujar pakar hukum tata negara dari Universitas Parahyangan, Bandung, itu.

Kecewa pada Dewan Budaya, seniman Jabar tuntut strategi kebudayaan

Bandung, Jabar - Sejumlah seniman Jawa Barat yang tergabung dalam Dewan Kebudayaan Jeprut Jawa Barat (DKJJB) menggalang petisi yang berisi kekecewaan terhadap Kebudayaan Jawa Barat (DKJB).

Dalam petisi tersebut, DKJJB meminta berdialog dengan Gubernur dan Wakil Gubernur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, serta Dewan Kebudayaan Jawa Barat (DKJB) dalam satu forum resmi.

"Kami juga meminta pertanggungjawaban Dewan Kebudayaan Jawa Barat atas kinerjanya selama tiga tahun soal strategi kebudayaan di Jawa Barat," kata salah seorang seniman yang juga pimpinan Majelis Sastra Bandung, Matdon, Senin (18/7).

Tuntutan tersebut mengacu pada pembentukan Dewan Kebudayaan Jawa Barat yang hingga kini dinilai belum membuahkan langkah nyata dalam menyelamatkan kebudayaan Jawa Barat.

Poin lainnya dalam petisi tersebut, jika tidak ada respon terhadap petisi maka seniman Jawa Barat akan melakukan aksi lanjutan yang melibatkan seniman dan budayawan se-Jawa Barat lebih banyak lagi.

Poin terakhir petisi adalah menuntut Pemprov Jabar mengkonservasi dan melindungi Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Jalan Naripan.

"Gedung YPK adalah cagar budaya dan tempat aktivitas kebudayaan yang harus dilindungi," ujar Matdon mengacu pada robohnya sebagian atap YPK beberapa waktu lalu.

Petisi tersebut ditandatangani seniman dan pemerhati kebudayaan dari Dewan Kebudayaan Jeprut Jawa Barat antara lain, Malik, Kiki Kurnia, Retno Haye, Ety RS, Tisna Sanaya, Isa Perkasa, Nandang Gawe, Memet Hamdan, Trino Yuwono dan lain-lain.

Penyair Godi Suwarna menilai, Dewan Kasenian Jawa Barat sebagai pemberi masukan terhada Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait rencana program seni-budaya.

Namun dalam program yang dipilih dinilai tebang pilih, hanya program kalangan tertentu saja yang didukung Pemprov Jabar. Sementara banyak usulan program dari seniman yang tidak diakomodir.

"Rekomendasi DKJB justru banyak yang tidak digubris Pemprov Jabar, Jadi buat apa DKJB dibentuk jika usulan dan pertanyaan DKJB sendiri tidak direspon?" ujar Godi menandaskan.

Polisi Akan Panggil 42 Anggota DPRD Bogor untuk Kasus Korupsi

Bandung–Gara-gara meloloskan laporan pertanggungjawaban bupati Bogor tahun 2001/2002, Polda Jabar segera akan memanggil ke-42 anggota DPRD Kabupaten Bogor. Mereka diduga terlibat politik uang yang berbuah korupsi.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar, Feisal Muryan,kasus tersebut terungkap setelah wakil ketua pimpinan daerah PAN Kabupaten Bogor, Ibrahim Sulaiman, menyampaikan laporannya ke Polda Jabar. Dalam laporan tersebut dinyatakan, telah terjadi pencairan dana APBD sebesar Rp 1,2 miliar, berkaitan dengan pelolosan LPJ tersebut.

“Sementara, Polda Jabar berkesimpulan pencairan dana tersebut merupakan tindak pidana penyelewengan,” kata Feisal. Dana itu sendiri diketahui diambil dari APBD Pos 2.15.1, yang seharusnya digunakan untuk penangganan bencana alam dan bencana sosial. Pencairannya terjadi 5 April 2002, dengan ditandatangani Sekretaris Dewan Drs. H. Tjepy Surpiana. (upiek supriyatun/TNR)

Sumber : TempoInteraktif.com : 05 Agustus 2003

Seni Budaya Bagian dari Sarana Syiar Agama Islam

Bandung, Jabar - Kekayaan seni budaya bangsa jangan dibenturkan dengan akidah dan pandangan agama. Sejak masa para Wali Sanga seni budaya merupakan bagian dari sarana syiar agama Islam tidak ada pertentangan.

Demikian ditegaskan anggota Komisi X DPR RI bidang pendidikan Popong Otje Djundjunan, dalam sambutannya pada pembukaan Pesona Semarak Ramadhan 1437 Hijriah.

“Islam merupakan agama toleran, sejak masa para wali (sanga) menyebarkan agama Islam di tanah Jawa tidak timbul pertentangan di masyarakat yang mempermasalahkan seni, budaya dan agama (Islam) yang terjadi justru seni budaya menjadi alat atau sarana menyebarkan ajaran agama Islam,” ujar Ceu Popong pada acara yang digelar Sabtu, 18 Juni 2016 malam bertempat di Plaza Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung, Jalan Diponegoro Bandung.

Dikatakan Ceu Popong, sebagai kekayaan dan warisan milik bangsa, seni budaya bernilai positif yang berkembang dan akan terus berkembang harus dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan bila di elaborasi dan diadumanis antara seni budaya dan agama, akan menambah dinamisasi hubungan seni budaya dan agama di masyarakat.

“Jangan seperti yang terjadi sekarang ini, tidak sedikit dibeberapa daerah seni budaya dianggap bertentangan dengan agama (Islam). Padahal bila diadumanis seperti halnya yang dilakukan para wali dahulu dimana wayang menjadi sarana menyebarkan agama (Islam), justru dengan mudah masyarakat memahami, jadi intinya tinggal memberikan pemahaman yang benar bukan seni budaya dipergunakan untuk membelokan ajaran agama,” ujar Ceu Popong yang disambut tepuk tangan riuh.

Hal senada juga diungkapkan guru besar ilmu budaya Unpad Bandung, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M. Hum., pada pengantar pertunjukan Wayang Ajen dengan dalan Ki Dalang Wawan Gunawan. “Meskipun merupakan budaya yang datangnya dari luar, wayang merupakan budaya warisan para wali yang sangat tinggi nilainya, bukan hanya nilai seninya saja tetapi juga nilai filosofinya,” ujar Dadang.

Wayang Ajen menurut Dadang merupakan bukti dinamisasi seni budaya wayang golek yang mengikuti kultur masyarakat yang terus berkembang. Selain bentuk wayang yang berupa replikan wajah tokoh juga cerita yang disampaikan tidak hanya kisah Ramayana atau Mahabharata, tapi berceritakan kondisi kekinian.

“Penciptaan tokoh baru dalam jagat pewayangan bukan merupakan bentuk pemurtadan dalam seni padalangan, tapi merupakan naturalisasi budaya terbarukan. Tapi hal ini merupakan sebuah jawaban seorang dalang akan kondisi kekinian dalam mempertahankan dan melestarikan seni budaya bangsa,” ujar Dadang.

Pegelaran Wayang Golek Ajen dengan dalang Ki Dalang Wawan Gunawan membawakan cerita “Sembilan Cahaya Kawalian”. Berceritakan tentang kondisi negara yang berantakan akibat ulah kawanan buta yang terus menghasut manusia agar berbuat kesalahan.

Kehadiran para buta penghasut membuat amarah Yudistira tokoh Pandawa lima tertua memuncak dan berubah menjadi sosok Brahala (raksasa). Setelah ditenangkan oleh Semar, Yudistirapun kembali ke wujud semula hingga untuk mendamaikan isi dunia turun para wali yang menyebarkan agama Islam dan syiar agama diteruskan oleh para kyai dan ustad serta para alim ulama.

Saat menampilkan tokoh para wali, Ki Dalang Wawan Gunawan memainkan sembilan tokoh wali. Sementara saat cerita bergeser ke peran kyai, ustad dan alim ulama berperan menyiarkan agama Islam, Ki Dalang Wawan Gunawan berkolaborasi dengan Mamang Dai, seorang dai juara DAI TPI.

Keramaian muncul saat Ki Dalang Wawan bergantian menyampaikan ajaran agama Islam dengan Mamang Dai. Saat Mamang Dai meniru suara dan gaya ustad Maulana, Ki Dalang Wawan Gunawan menampilkan wayang dengan wajah ustad Maulana, saat Mamang Dai meniru gaya Rhoma Irama, muncul wayang Rhoma Irama membawa gitar, dan tokoh lainnya hingga penonton tanpa sadar telah mendengarkan petuah-petuah Islami dan tanpa sadar waktu telah beranjak menuju pukul 1.00 WIB Minggu, 19 Juni 2016 dinihari.

Parade Seni Budaya Meriahkan Perayaan Hari Pancasila

Bandung, Jabar - Perayaan peringatan Pancasila yang puncaknya digelar di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6) tampak meriah. Acara Hari Pancasila dimulai dengan pertunjukkan parade seni budaya pada pukul 09.00 WIB. Aksi dari para penampil menambah kemeriahan tanggal yang diperingati sebagai momen bersejarah bangsa Indonesia yakni lahirnya Pancasila dan pidato Bung Karno, Presiden Indonesia Pertama.

Dalam parade seni budaya tampil berbagai jenis kesenian. Di antaranya penampilan marching band dari personil TNI, aksi Paskibra dan Pramuka yang membawa umbul-umbul bertemakan Pancasila dan Bung Karno. Selain itu ada pawai sepeda ontel hingga tari-tarian.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan perayaan peringatan Hari Pancasila tidak harus dilakukan dalam bentuk formal seperti upacara. Ada cara lain untuk mengenang secara meriah dengan kreatif. "Demikian rasa kecintaan kami (Pemkot Bandung,Red) terhadap Pancasila dan tentunya presiden pertama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Sukarno. Di Bandung selalu ada benang merah kreativitas dalam memperingati hari bersejarah. Tidak hanya seremoni," kata Ridwan Kamil di sela-sela acara.

Tampak Ketua MPR Zulkifli Hasan beserta para wakilnya sudah menempati tempat tepat di depan panggung seni budaya. Selain itu terlihat juga Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Ketua DPR RI Ade Komarudin serta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Usai melihat pertunjukan seni budaya, para tamu undangan memasuki Gedung Merdeka untuk memperingati Hari Pancasila dan peringatan Pidato Bung Karno. Setelah itu dijadwalkan napak tilas dengan berjalan kaki ke situs yang menjadi saksi sejarah perjuangan Bung Karno, Penjara Banceuy.

Untuk mendukung suasana Pancasila dan Bung Karno, sepanjang Jalan Asia Afrika dipasang umbul-umbul dan gambar bertemakan Pancasila juga Bung Karno.

Kompetisi Pariwisata Indonesia Angkat Keberagaman Budaya Jawa

Bandung, Jabar - Keragaman budaya Jawa memiliki nilai luhur yang perlu diangkat sebagai landasan kegiatan wisata dan perlu dijadikan suatu keunggulan di mata internasional. Ini pula yang diusung dalam gelaran Kompetisi Pariwisata Indonesia (KPI) ke-7.

Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Politeknik Negeri Bandung (UPW-Polban) bekerjasama dengan Prodi Manajemen Pemasaran dan Pariwisata MPP-UPI, Prodi Perhotelan Telkom University, dan prodi Perhotelan Universitas Tujuh Belas Agustus, Cirebon menggelar Kompetisi Pariwisata Indonesia (KPI) ke-7 pada 12-13 Mei 2016 di Polban dan Tekom University.

KPI adalah kompetisi yang diikuti dan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki prodi pariwisata di Indonesia.

"Setiap tahun kami buka juga untuk umum. Karena pariwisata luas dan bisa diketahui semua orang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengangkat budaya-budaya lokal, masyarakat lokal, kekayaan lokal yang ada di Indonesia untuk dikenalkan ke dunia," ujar Ketua Divisi Operasional KPI 7 Hadiansyah, saat ditemui di Pendopo Agung Polban, Kamis (12/5).

Setelah sukses mengusung pariwisata ekologi tahun lalu,

KPI tahun ini mengangkat kebudayaan Jawa yang dapat dikenal secara global di dunia pariwisata Internasional. KPI ke-7 bertajuk Chronicle Van Java.

KPI 7 terdiri dari 16 jenis mata lomba yang mencakup 9 provinsi dengan jumlah peserta sejumlah 478 orang. Adapun 16 mata lomba tersebut yakni tour package, event proposal, guiding, sabre, Cerdas Cermat Pariwisata, travel writing, short movie, poster, photography, acoustic, tari tradisional, cipta karya kostum festival, tourism advertising video, tray on the road, table set up dan battle cooking.

Sebanyak 9 provinsi yang terdiri dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, Bali. Kupang, Kalimantan selatan dan Sulawesi Selatan ikut serta dalam KPI 7.

Kegiatan ini pun memberikan keuntungan kepada para pengusaha UKM dalam hal promosi produk lokal. "Organisasi-organisasi Daerah di Polban mempromosikan baik makanan maupun kesenian daerah di KPI 7. Dipamerkan pula paket-paket wisata. Ini menjadi peluang siapa tahu nanti ada yang tertarik dengan hal-hal tersebut," jelasnya.

"Penyelenggaraan KPI diharapkan dapat memicu semangat mahasiswa untuk menunjukkan potensi, bakat, kreativitas dan minat dalam mengenal dan memperkenalkan budaya Indonesia secara internasional," ujar Ketua KPI 7 Genja Damai Aulia.

Teater Getih Terbaik di Festival Drama Basa Sunda XVII

Bandung, Jabar - Dewan Juri Festival Drama Basa Sunda XVII menobatkan Kelompok Teater Getih asal Kota Bandung sebagai Pementasan Pinunjul Kahiji. Festival drama tahunan yang digelar Teater Sunda Kiwari juga menetapkan Desta Mahardika dari Shocking Rajah Perfoming Art sebagai Aktris Pinunjul dan Mohammad Aditya dari Teater Getih sebagai Aktor pinunjul.

Pada pembacaan pemenang, Minggu 8 Mei 2016 menjelang tengah malam, Dewan juri yang terdiri dari Godi Suwarna, Bambang Aryana Sambas, dan Rahman Sabur, dari 64 kelompok teater menetapkan lima nominasi kelompok teater. Kelima noiminasi pementasan pinunjul tersebut adalah kelompok Teater Toneel, Teater Awal, Teater Getih, Teater Pecut Kuningan, dan Shocking Rajah Perfoming Art.

Dalam keputusan akhir, dewan juri akhirnya menetapkan kelompok Teater Getih yang membawakan naskah “Manusa Jero Botol” karya Yusef Muldiyana dan diterjemahkan bebas Rosyid E. Abby sebagai pementasan pinunjul kahiji (terbaik kesatu). Sementara untukpPinunjulkKadua (terbaik kedua) dan pinunjul katilu (terbaik ketiga) diraih,kelompok teater Shocking Rajah Performing Art yang membawakan naskah “Kalangkang” (N. Nazaruddin Azhar) dan kelompok Teater Awal Bandung membawakan naskah “Manusa Jero Botol”.

Selain menetapkan pementasan pinunjul, dewan juri juga nenetapkan kelompok Teater Coret Besik’s Unwir (Indramayu), Laskar Banua (Kabupaten Berau Kalimantan Timur), dan Smile Motivator (Kota Bandung) sebagai Pinunjul Kayungyun. Untuk katagori Aktris Pinunjul disabet Desta Mahardika dari Shocking Rajah Perfoming Art dan Aktor Pinunjul oleh Mohammad Aditya dari Teater Getih.

Sementara untuk katagori Panata Musik Pinunjul diraih Ridwan Saidi (Shocking Rajah Performing Art), Panata Artistik Pinunjul oleh Mugianto (Teater Awal Bandung), dan Sutradara Pinunjul menjadi milik Nurhadi Hasan (Teater Getih Bandung).

Festival Drama Basa Sunda XVII berlangsung selama 20 hari di Gedung Kesenian Rumentangsian Jalan Baranang Siang, Kosambi Bandung, sejak 18 April 2016. FDBS XVII diikuti 64 peserta dari 69 peserta yang sudah melakukan registrasi. Selain dari kota dan kabupaten di Jawa Barat, juga dari DKI Jakarta, Banten dan bahkan dari Berau Kalimantan Timur.

Tahun ini Teater Sunda Kiwari selaku penyelenggara menyediakan tujuh naskah pilihan yang sudah diseleksi sangat ketat dalam hal bobot kekaryaan. Naskah tersebut terdiri dari, “Jam Hiji Duapuluh Salapan Menit” karya Ayi G. Sasmita, “Dayeuh Simpe” (Lugiena de), “Kalangkang” (Nunu Nazarudin Azhar), “Manusa Jero Botol” (terjemahan bebas Rosyid E. Abby dari Naskah Di Dalam Botol karya Yusef Muldiayana), “Nu Garering” (Dhipa Galuh Purba), “Mojang Dua Rebuan” (Dadan Sutisna) dan “Polbakik”

Menumbuhkan Kecintaan Budaya Sunda Lewat Gamelan Bambu

Bandung, Jabar - Kreativitas warga Kabupaten Bandung bisa dikatakan tak ada habisnya. Kali ini kreativitas ditunjukkan oleh Wawan (50), warga Kampung Cilebak RT 1/6 Desa Nagrak Kecamatan Pacet.

Dia berhasil membuat seperangkat gamelan berbahan bambu, namun mampu menghasilkan suara indah dan memikat hati siapa saja yang mendengarnya.

Jika biasanya gamelan sebagian besar berbahan logam, namun berbeda dengan seperangkat gamelan yang dibuat oleh Wawan. Justru sebaliknya, sebagian besar peralatan musik tradsional ini berbahan bambu.

Meskipun terbuat dari bambu, suara yang dihasilkannya tak kalah merdu dengan gamelan berbahan dasar logam seperti kuningan, tembaga, dan jenis logam lainnya.

"Saya pakai bambu hitam atau biasa disebut dalam Bahasa Sunda Awi Wulung. Memang jenis bambu ini sudah biasa dipakai untuk membuat peralatan musik calung. Nah ini saya kembangkan menjadi seperangkat alat gamelan yang hampir semunya dari bambu, kalau alat lainnya selain bambu dalam gamelan ini, cuma goong dan kendang saja," kata Wawan, Minggu (1/5/2016).

Tak ubahnya gamelan berbahan logam, gamelan bambu ini pun biasa dimainkan oleh lima orang yang masing-masing memainkan alat musik berupa jenglon, saron 1,2 dan 3, dan peking. Ditambah pemain suling, kendang dan gong. Hasilnya, alunan gamelan bambu yang indah terdengar harmonis mengiringi lantunan syair lagu Sunda dari mulut seorang sinden yang terlihat begitu rancak.

"Permainan gamelan bambu ini sama saja seperti gamelan lainnya. Alhamdulillah gamelan bambu yang saya buat bersama teman-teman ini mendapatkan respons cukup luar biasa dari masyarakat," ujarnya.

Wawan menceritakan, idenya membuat seperangkat gamelan berbahan bambu ini berdasarkan pengalamannya selama ini menjadi pemain calung. Selain itu, ini juga hasil penelitian dan penelusuran dari beberapa buku atau naskah kuno tentang peralatan kesenian di masa lampau.

"Seperti calung juga kan sebelum seperti sekarang, yakni bernama calung renteng, terdiri dari deretan bambu diikat berjajar. Namun saat ini berkembang menjadi alat calung seperti saat ini, yakni bilah bambunya dilubangi dan ditusuk sama bambu lagi sebagai pengikatnya. Itu adalah bagian dari perkembangan alat musik calung. Dari sana saya berpikir untuk mengembangkan bambu, kenapa tidak dipakai untuk membuat gamelan," kata Wawan yang telah menggeluti seni calung sejak tahun 1982 itu.

Dikatakan Wawan, pembuatan seperangkat gamelan bambu ini diperlukan waktu sekitar tiga bulan. Mulai dari menebang bambu, menjemur, membentuk, hingga menyetelnya menjadi seperangkat gamelan.

Pekerjaan membuat gamelan bambu ini, kata dia, dilakukan bersama beberapa temannya sesama pelaku dan penggerak kesenian tradisional Sunda. Kata dia, harga seperangkat gamelan bambu ini jauh lebih murah ketimbang gamelan biasa yang mencapai belasan juta rupiah. Gamelan bambu buatannya hanya memerlukan biaya produksi sekitar Rpjuta hingga Rp5 juta saja.

"Tujuan saya hanya ingin melengkapi atau menambah alat atau waditra kesenian Sunda saja. Nah kalau harga jual, jujur saja belum pernah kami sengaja membuat dan menjualnya. Kali ini sengaja kami tampilkan dengan harapan pak Bupati Bandung Dadang M Naser berkenan mengapresiasi karya kami ini. Karena ini asli produksi orang Kabupaten Bandung," ujarnya.

Wawan melanjutkan, dengan dibuatnya gamelan bambu yang dinamai Gawil alias Gamelan Awi ini, diharapkan bisa membangkitkan semangat dan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional Sunda. Terutama kesenian Sunda yang menggunakan peralatan berbahan bambu seperti calung dan lainnya.

Karena memang, jelas dia, tradisi masyarakat Sunda sejak lama telah menggunakan bambu untuk berbagai keperluan, seperti peralatan rumah tangga, membangun rumah, alat kesenian, dan lainnya.

"Ini yang harus dicontoh dan terus dikembangkan oleh generasi muda, mereka harus mencintai lingkungannya yang telah banyak memberikan manfaat pada kita semua, dan salah satunya adalah bambu," kata dia.

Antoni (34) salah seorang warga Jakarta, begitu antusias melihat seperangkat gamelan bambu ini. Karena sepengetahuannya, gamelan selalu terbuat dari logam. Hadirnya gamelan bambu ini menambah wawasannya mengenai pemanfaatan bambu yang memang banyak tersebar di seantero nusantara.

"Ini luar biasa, ternyata gamelan juga bisa dibuat dari bahan bambu. Saya sangat kagum melihatnya, sangat menginspirasi banyak orang, ternyata bambu itu bisa dibuat dan direkayasa menjadi apa saja, tergantung kreativitas dan kemauan kita," katanya.

Antoni berharap, kreativitas Wawan ini bisa dilirik oleh pemerintah sebagai salah satu potensi ekonomi, sekaligus pelestarian seni budaya Sunda. Kata dia, jika dipromosikan dan dikemas dalam sebuah pertunjukan yang baik, tentunya gamelan bambu itu bisa memikat hati wisatawan.

Dokumentasi Seni Budaya Sangat Penting

Bandung, Jabar - Kesenian wayang masih cukup digemari. Walaupun hanya di daerah-daerah dan komunitas pecintanya yang masih terbatas. Mengingat generasi muda saat ini banyak yang berbelok tertarik dengan budaya luar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat berinisiasi mengadakan pertunjukan wayang yang merupakan bagian kekayaan seni dan budaya. Meskipun pertunjukan kali ini adalah wayang kulit khas Indramayu. Yang mana ditampilkan di Kota Bandung yang belum banyak dikenal.

Kepala Disbudpar Jawa Barat Nunung Sobari mengatakan pertunjukan yang diadakan pihaknya bukan hanya ingin memperkenalkan kekayaan budaya Jawa Barat. Tapi juga sarana pendokumentasian agar tetap bertahan.

"Yang ingin dituju juga kan dokumentasi buat data keberadaan jenis kesenian khususnya wayang di Jawa Barat," kata Nunung kepada Republika beberapa waktu lalu.

Pendokumentasian ini seraya mencatatkan kesenian agar tidak kemudian punah karena semakin tergerus perkembangan zaman.

Selain itu, ujar Nunung, dokumentasi ini dapat menjadi sebuah acuan program kebijakan berkaitan pelestarian seni dan budaya. Sehingga nantinya dapat ditentukan kegiatan untuk mempromosikan dan mengembangkannya.

"Data ini akan berguna membuat kebijakan. Misalnya harus ada festival wayang Jawa Barat," ujarnya.

Dengan begitu, ia berharap kesenian di Jawa Barat yang begitu melimpah bisa terus dikenal. Bahkan hingga anak cucu nantinya tetap tersimpan, terlestarikan dan mewadahi semua seni budaya.

Ia pun mengapresiasi generasi muda yang masih mencintai kekayaan budaya tanah air. Bahkan mengembangkan dengan terjun langsung di dalamnya. Seperti yang dilakukan dalang Dian Pradita Kusuma yang meskipun usianya masih muda tapi tetap eksis di seni perwayangan.

Diharapkan, ini dapat ditiru oleh generasi muda lainnya. "Kita ingin dapat regenerasi yang inovatif diharapkan bisa diapresiasi generasi lainnya," ujarnya.

Tak hanya wayang, Nunung juga akan terus menggelar pertunjukan seni budaya Jawa Barat lainnya. Dengan tujuan yang sama, selain memperkenalkan ke masyarakat luas, Disbudpar ingin mendokumentasikan. Seperti wayang golek, seni tari, musik dan sebagainya.

Barongsai Hingga Wayang Golek Ramaikan Parade Budaya di Bandung

Bandung, Jabar - Akhir pekan ini, Kota Bandung memilki banyak agenda menarik. Salah satunya kirab budaya atau Parade Budaya Pesona Andir Kebon Jati yang digelar mulai tanggal 25-26 Maret 2016.

Kegiatan ini digelar atas kerjasama Vihara Giri Metta Bandung, Paskal Hyper Square, dan Dinas Pariwisata Kota Bandung.

Parade Budaya akan digelar pada Sabtu, 26 Maret 2016 mulai pulul 15.00 WIB dengan rute dari Lengkong Kecil-Asia Afrika-Jenderal Sudirman-Klenteng-Kebon Jati-Paskal Hyper Square.

Pawai kali ini akan menampilkan kesenian Sunda, Kebudayaan Indonesia, atraksi Barongsai, dan atraksi Liong.

Acara juga di meriahkan oleh Grup Band Pasundan Asih by Tan De Seng, Wayang Golek dengan Dalang Muda Adi Kontea Sunarya serta tarian dan gamelan.

Selain itu ada Bazar Parade di Lengkong Kecil yang akan digelar pada Jumat 25 Maret 2016 mulai pukul 13.00 sampai dengan selesai dan Sabtu, 26 Maret 2016 pukul 09.00 sampai selesai.

-

Arsip Blog

Recent Posts