Tampilkan postingan dengan label Bireuen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bireuen. Tampilkan semua postingan

Dinas Pendidikan Bireuen Buka Festival Seni

Bireuen, NAD - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen dengan resmi membuka festival dan lomba seni siswa (FLS2SN) tingkat SMA dan SMK se-Bireuen yang berlangsung hingga besok (hari ini), Kamis (31/3), di aula Setdakab Bireuen, Aceh.

Ketua Panitia, Zamzami S.Pd mengatakan festival tersebut dibuka guna mencari siswa-siswi yang berprestasi dalam bidang seni, dan juga untuk siswa bisa lebih mengenal dengan budaya, seni dan tari yang ada di Indonesia maupun dengan ketrampilan siswa dengan hasil karyanya sendiri.

Festival dengan mengusung tema Kreasi Seni yang memancarkan prestasi dan membentuk karakter mulia diperlombakan untuk sejumlah bidang. Diantaranya tari berpasangan diikuti 20 peserta, tari tradisional 20 peserta, seni musik tari tradisional 7 peserta.

“Kemudian solo vocal 28 peserta, baca puisi 24 peserta, cipta puis 19 peserta, desain poster 15 peserta, kriya 32 peserta dan film pendek 21 peserta. Tapi ada juga hari ini yang tidak hadir untuk mengikuti diantaranya lomba kriya yaitu merupakan lomba ketrampilan atau kreasi tangan, lomba film pendek dan desain poster,” ujarnya.

Kontingen Seni Budaya Umuslim Wakili Indonesia ke Australia

Bireuen, NAD - Kontingen muhibah seni budaya Universitas Almuslim Bireuen terdiri dari 33 orang akan mewakili Indonesia ke Australia pekan depan. Pelepasan kontingen oleh Rektor Umuslim di Aula MA Jangka, Selasa 2 September 2014.

Acara ini dirangkai dengan pelepasan peserta Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Palangkaraya. Di Peksiminas, Umuslim mengirim tiga peserta yaitu lomba dangdut pria, baca puisi putrid, dan desain grafis.

DR Amiruddin Idris, SE, M.Si, Rektor Umuslim mengatakan muhibah seni budaya tersebut merupakan kepercayaan Kemendiknas kepada Umuslim mewakili Indonesia untuk menampilkan seni daerah di Australia.

”Mendapatkan kepercayaan kementerian ini bukan hal yang mudah. Butuh persiapan dan perjuangan kita semua. Hanya enam perguruan tinggi di Indonesia yang memenangkan muhibah seni ini di tahun 2014,” imbuh Amiruddin.

Umuslim adalah satu-satunya perguruan tinggi swasta dan belum memiliki Fakultas Seni, tetapi mendapat kepercayaan dari kementerian untuk mewakili Indonesia di dunia internasional. Seluruh dana kebutuhan ditanggung kementerian.

”Meski kunjungan ini adalah seni budaya, namun banyak tujuan yang ingin capai di negara tujuan. Seperti melakukan studi banding dengan perguruan tinggi di Sydney dan Canberra,” ucap Amiruddin.

Selama di sana, Umuslim turut melakukan seminar di dua universitas, seminar terkait dengan politik dan perdamaian di Aceh dan seminar tentang investasi di Aceh yang disampaikan Asisten III Setda Provinsi Aceh, Muzakkar, SH, M.Si.

Kepala Bagian Humas Umuslim, Zulkifli, S.Kom mengatakan, kesenian yang akan ditampilkan di negara Kangguru yaitu Tari Seudati, Tari saman, Rapai Grimpheng, Tari Piring (Sumbar), Tari Enggang (Kalimantan) dan Angklung (Jawa Barat).

Perempuan yang Tak Lelah Telusuri Sejarah Leluhur Melayunya

Bireuen, NAD - Genap berusia 67 tahun pada 16 Desember 2013 tidak menyurutkan semangat dan langkah Hj Pocut Haslinda Syahrul binti Teuku Hamid Azwar untuk terus menelusuri sejarah leluhurnya, yakni Tun Sri Lanang yang merupakan raja pertama di Samalanga, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Kendati sudah menetap lama di Jakarta, perempuan yang memiliki darah asli Aceh dari pasangan almarhum Teuku Hamid Azwar dan almarhumah Cut Nyak Djariah Kemala Putri Azwar ini serius menggali berbagai informasi menyangkut leluhurnya di abad ke-17 itu.

“Beberapa upaya saya lakukan seperti penerbitan buku-buku sejarah, seminar sejarah agar sejarah yang tersimpan berabad-abad ini terungkap serta bisa diketahui oleh generasi penerus,” ungkap perempuan yang akrab disapa Pocut Haslinda ini kepada Kompas.com, Senin (17/2/2014).

Memiliki sejarah erat dengan negeri jiran, Malaysia, keturunan Tun Sri Lanang sendiri diakuinya menyebar di sejumlah daerah di wilayah itu. Hal itu terbukti dari banyaknya lawatan ke situs makam Tun Sri Lanang yang terletak di Desa Lueng, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Suatu konsep besar yang masih ingin diciptakan Pocut adalah berdirinya suatu lembaga penelitian, Pusat Pengkajian Sejarah Aceh-Melayu di Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh.

“Kekayaan sejarah Aceh, khususnya Tun Sri Lanang, bukanlah milik Aceh semata, tetapi lebih dari itu, Tun Sri Lanang merupakan milik Nusantara, bahkan dunia,” jelas perempuan yang mengaku keturunan ke-8 Tun Sri Lanang.

Berbekal kemampuan analisis sejarah, ibu lima anak ini masih aktif mengikuti seminar internasional di beberapa negara, berbasis seni dan budaya. Keseriusan Pocut Haslinda dalam mengawal sejarah leluhurnya itu ia buktikan pula dengan lahirnya Seminar Ketokohan Tun Sri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa yang dilaksanakan pada 8 Desember, serta Peresmian Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara di Samalanga pada 9 Desember 2011 lalu.

Rabbani Wahed, Tarian Khas Bireuen yang Perlu Diselamatkan

Bireuen, NAD - Ini dia tarian khas Aceh bernuansa Islam kental asal Kabupaten Bireuen, Aceh. Ya, Rabbani Wahed, asal Desa Pante Rheng, Kecamatan Samalanga—berjuluk kota santri—yang banyak dikisahkan tari ini dilahirkan oleh Abu Syamsyah alias Abu Sab awal 1950-an.

Pantas saja, syair atau bacaan di dalam tarian yang hanya dimainkan oleh para lelaki ini semuanya berisi takbir, tasbih, salawat serta puji-pujian kepada Allah dan rasulnya. Kalaupun ada kalimat dalam bahasa Aceh itu juga merupakan kalimat pujian yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah tersebut sambil memadukan dengan gerakan yang unik namun penuh heroik melebihi Seudati maupun Saman.

Penuturan Ketua Sanggar Seni Rabbani, Desa Pante Rheng, Muzakkir, tarian Rabbani tersebut saat ini sudah dikenal hingga ke mancanegara, seperti Turki dan Malaysia. Bahkan mereka beberapa kali sudah diundang ke Malaysia untu mengisi acara-acara kenegaraan di sana.

“Tahun 2002 mewakili Indonesia ke Turki, selanjutnya 2011 pernah diundang TV Alhijrah Malaysia dalam acara pengambilan gambar titian ombak, serta beberapa acara baik di beberapa provinsi di Indonesia maupun luar negeri,” jelas Muzakkir, Minggu (9/2/2014).

Menurut Muzakkir, dalam penampilan ke luar negeri tersebut selalu mendapat pujian serta kekaguman dari para penonton yang menyimak syair maupun gerakan para penarinya. Sebanyak sembilan orang penari didampingi Syeh Radar sebanyak dua orang, mereka dilatih keras untuk bisa mahir menarikan tarian terbilang sulit itu.

Sekilas, saat klimaks tarian ini ditampilkan, ada gerakan-gerakan yang mana pada pada saat doa penutup para penari benar-benar larut dalam doa sehingga seperti tidak sadarkan diri, namun itu sebenarnya larut dalam doa atau benar-benar menyerahkan diri kepada Allah sambil mengucapkan tahlil atau Lailahaillallah terus menerus dengan kusyuk, sehingga mereka semua tergeletak seperti tak sadarkan diri.

Ditambahkan Muzakir, dirinya akan melakukan penyelamatan terhadap kesenian daerah ini agar tidak diklaim oleh pihak lain. “Kita akan mengurus perizinan seperti akte notaris dan lain sebagainya, agar rabbani wahed menjadi tarian khas asal Samalanga, Bireuen, sehingga diketahui masyarakat luas,” katanya.

Pembukaan Festival Seudati Se-Aceh Dimeriahkan Rafly

Bireuen, NAD - Pembukaan Festival Seudati Se-Aceh 2012 yang berlangsung pada 8-10 Oktober 2012 akan dibuka Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan dimeriahkan penyanyi Aceh Rafly.

Ketua Panitia Festival Seudati Se-Aceh 2012, Dewa Abdullah, mengatakan informasi tersebut dalam Coffe Morning yang dihadiri Bupati Bireuen, wakil Bupati Bireuen dan Kadis Perhubungan, Informatika dan Pariwisata Bireuen di Aula Meligoe Hotel Bireuen, Jumat (5/10).

Selain Rafly, festival itu juga diramaikan grup band Tangke asal Banda Aceh. Festival tersebut juga dirangkai dengan pameran pembangunan.

Untuk malam pembukaan atau malam pertama kata Dewa, Selasa (8/10) grup yang tampil yaitu Aceh Besar, Bireuen, Kota Langsa. Malam kedua yaitu Rabu (9/10) yang tampil Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh selatan, Banda Aceh, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Malam Kamis(10/10) Lhok Seumawe, Aceh Barat, Sigli, Nagan Raya.

Bupati Bireuen, Ruslan M. Daud meminta agar Festival itu diselenggarakan semeriah mungkin, “Walau pun festival ini sumber dananya dari APBN, kami selaku tuan rumah mendukung sepenuhnya acara ini,” kata Ruslan.

-

Arsip Blog

Recent Posts