Tampilkan postingan dengan label Ciamis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ciamis. Tampilkan semua postingan

Satpol PP Ciamis Pergoki Siswi SD Kelas VI yang Sudah Jadi Pelacur

Ciamis – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Ciamis merazia ke beberapa hotel di wilayah Ciamis. Hasilnya pun sungguh mengagetkan. Ada siswi kelas VI salah satu SD di Ciamis didapati sedang berbuat asusila. Di dalam kamar itu, SA, 14, sendang bersama pria beinisial AP, 18.

Kasatpol PP Kabupaten Ciamis Zaenal Abidin menjelaskan, pihaknya menangkap tiga pasangan, termasuk SA. ”SA ditangkap di Hotel Sodara saat sedang bersama seorang lelaki berinisial AP. Dari tangan AP, kami sita juga diamankan botol miras,” terang Zaenal pada Rabu (27/4/2016).

Saat diperiksa di kantor Satpol PP Kabupaten Ciamis, pengakuan SA membuat petugas kaget. Dia menjelaskan bahwa dirinya terjun ke dunia prostitusi untuk memuaskan lelaki hidung belang.

SA mengungkapkan, dirinya sebeumnya tinggal bersama sang nenek di Pabuaran Ciamis. Namun, dia karena dicibir tetangga. Dia kerap diolok-olok sebagai anak jalanan.

Lalu, dia mengontrak di daerah Sukajadi, Sadananya, Ciamis, dengan anak jalanan lainnya. ”Kalau malam hari saya ikut ngamen di Ciamis kota sama teman-teman anak jalanan,” ucapnya.

Awalnya, dia dijual temannya kepada anak jalan lainnya. Untuk sekali kencan saat itu, dia mendapat Rp 50 ribu. ”Saya digilir tiga orang anak jalanan,” katanya.

Kini SA menyesal karena kabur dari rumah neneknya dan menjadi anak jalanan serta pelacur. Dia saat ini harus berurusan dengan aparat tengah. (Tita Yanuantari – harianindo.com)

4 Event Seni dan Budaya Berskala Nasional akan Digelar di Ciamis

Ciamis, Jabar - Pemkab Ciamis mulai tahun 2017 mendatang akan menggelar 4 event seni dan budaya berskala nasional. Event itu pun sudah mendapat dukungan dari Kementerian Parawisata dan Ekonomi Kreatif serta masuk dalam agenda parawisata nasional yang bertajuk ‘Pesona Indonesia’.

Tujuan digelarnya event tersebut, tak lain ingin menegaskan bahwa Kabupaten Ciamis memiliki segudang seni dan budaya yang layak dijual serta sebagai icon parawisatanya.

Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Ciamis, Budi Kurnia, mengatakan, 4 event seni dan budaya yang akan digelar tersebut, diantaranya Festival Bebegig, Pesona Galuh Nageri, Jayagiri Festival dan Wisata Religi di Pesantren Sinarasa Panjalu.

Budi menjelaskan, pada acara Festival Bebegig, tak hanya menampilkan kesenian Bebegig asal Kecamatan Sukamantri saja, tetapi juga akan mengundang sejumlah kesenian topeng dari berbagai daerah di Indonesia. “Kami namai Festival Bebegig memang ada misi untuk lebih memperkenalkan kesenian bebegig supaya lebih dikenal secara luas,” ujarnya.

Budi menambahkan, karena kesenian bebegig merupakan seni tari topeng, maka perlu diundang kesenian serupa dari daerah lain untuk ikut menyemarakan acara tersebut. “Nanti akan kami undang kesenian Ondol-ondel, Reog Ponorogo, Topeng Ireng, Tari Topeng Cirebon dan kesenian topeng lainnya yang ada di Indonesia,” katanya, kepada Koran HR, pekan lalu.

Sementara event Pesona Galuh Nageri, kata Budi, merupakan acara untuk membangkitkan semangat kegaluhan dengan menampilkan seni dan budaya Kerajaan Galuh.

“Pada event Pesona Galuh Nageri tahun 2017, kita akan menggelar Kirab Pusaka Galuh. Dalam acara itu nanti akan dikumpulkan seluruh budayawan dan kolektor yang memiliki benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Galuh. Hal itu agar masyarakat Ciamis dapat mengenal kekayaan sejarah dan budaya Kerajaan Galuh,” terangnya.

Menurut Budi, Fesvital Bebegig dan Pesona Galuh Nageri, rencananya akan digelar pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Ciamis tahun 2017. Dua event itu, lanjut dia, kedepannya akan menjadi agenda rutin yang digelar pada setiap tahun.

“Dua event itu pun sudah dimasukan ke dalam agenda rutin program promosi wisata budaya nasional di Kementerian Parawisata. Jadi, meski digelar di Ciamis, tetapi acaranya berskala nasional,” katanya.

Budi mengatakan, dua event tersebut pada setiap tahunnya akan berubah-ubah temanya. Namun, tema yang akan diangkat, tetap menampilkan seni dan budaya asli Kabupaten Ciamis. “Tahun 2017 kami mengangkat tema Festival Bebegig. Sementara tahun berikutnya temanya akan diubah, misalnya, Festival Ronggeng atau kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Ciamis,” ujarnya.

Sedangkan Jayagiri Festival dan Wisata Religi di Pesantren Sinarasa Panjalu, lanjut Budi, rencananya akan digelar saat menyambut bulan Suci Ramadhan tahun 2017 mendatang. “Karena dua acara itu sudah rutin digelar setiap menyambut bulan ramadhan. Tapi, setelah dua event itu masuk ke dalam agenda wisata budaya, acaranya akan lebih disemarakan,” katanya.

Budi menjelaskan, konten acara Jayagiri Festival, mengangkat budaya masyarakat di Kecamatan Panumbangan. Di daerah Jayagiri Panumbangan, tambah dia, terdapat sebuah budaya warisan masa lalu yang hingga kini masih dilestarikan.

“Setiap menyambut bulan puasa, di daerah Jayagiri selalu digelar acara ngubyag (tangkap ikan) di sebuah kolam yang berada di kaki gunung sawal. Selain ngubyag, digelar juga acara seni dan budaya lainnya, seperti pertunjukan angklung buncis, tari reog dan kesenian lainnya yang merupakan kesenian khas daerah tersebut.

“Namun, puncak acara dari acara tersebut, yakni ngubyag di kolam. Makanya, acara yang akan lebih diangkat pada festival ini adalah acara ngubyagnya,” katanya.

Sedangkan Wisata Religi di Pesantren Sinarasa Panjalu, terang Budi, terdapat sejumlah acara keagamaan yang sudah menjadi budaya turun temurun di daerah tersebut. “Setiap menyambut bulan puasa, di pesantren ini digelar acara rutin yang mengundang ribuan jemaah dari berbagai daerah. Acara itu pun sudah menjadi budaya dan memiliki sejarah dalam perkembangan islam di daerah tersebut,” ungkapnya.

Budi mengatakan, adanya dukungan dari Kementerian Parawisata yang memasukan 4 event budaya asal Kabupaten Ciamis ke dalam agenda parawisata nasional, merupakan peluang untuk menggali potensi wisata budaya.

“Kekayaan budaya di Ciamis ini luar biasa. Karena Ciamis memiliki akar budaya yang kuat dari Kerajaan Galuh. Kabupaten Purwakarta saja yang tidak memiliki akar budaya masa lalu bisa mengubah icon daerahnya menjadi kota budaya. Masa Kabupaten Ciamis yang memiliki akar budaya jelas kalah oleh Purwakarta,” tegasnya.

Wakil Wali Kota Banjar Korupsi Anggaran

Ciamis – Pengadilan Negeri Ciamis menghukum dua tahun penjara Wakil Wali Kota Banjar Ahmad Dimyati karena terbukti korupsi anggaran. Hukuman setimpal juga diberikan kepada anggota DPRD Ciamis Muhammad Taufik.

Putusan sidang dibacakan hakim Saparudin Hasibuan. "Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata Hasibuan.

Mendengar putusan itu, kedua terdakwa menyatakan pikir-pikir untuk melakuan banding. Namun, jaksa penuntut Eman Sungkawa langsung menyergah banding. Putusan hakim dianggap terlalu ringan. Tuntutan jaksa, kata Ernam, 6 tahun penjara untuk kedua terdakwa.

Hakim Hasibuan juga menjatuhkan ganti rugi sebesar Rp 17.485.200 atau tambahan hukuman 3 bulan penjara jika tak sanggup membayar kepada Ahmad Dimyati. Dan Rp. 78 juta atau 6 bulan kurungan kepada Mohammad Taufik.

Kecilnya ganti rugi yang dibebankan kepada Ahmad Dimyati, karena terdakwa telah mengembalikan uang sebesar Rp. Rp 58.885.200 dalam persidangan. Kedua terdakwa juga didenda membayar Rp 150 juta.

Kedua korupsi selama menjadi anggota DPRD Kabupaten Ciamis pada 1999/2004. Itu terjadi saat mereka terlibat dalam penyusunan anggaran sehingga negara mengalami kerugian lebih dari Rp 5 miliar

Sebelumnya, pengadilan ini juga telah memutus vonis 13 anggota DPRD Kabupaten Ciamis yang terlibat korupsi. Mereka adalah panitia anggaran untuk DPRD periode 1999/2004. Para terdakwa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, tapi ditolak.

Sumber : TempoInteraktif.com :29 September 2006

Disdikbud Ciamis Kenalkan Seni Manorek pada Generasi Muda

Ciamis, Jabar - Kepala Seksi Kesenian dan Perfileman, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, Dedi Unay mengungkapkan, Seni Manoret yang pernah mengharumkan nama Ciamis dalam salah satu pementasa Seni di Teater Tertutup, Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat di Dago Bandung dalam rangka revitalisasi terhadap kesenian tradisional.

“Kita patut mengapresiasi, melakukan pembinaan dan selanjutnya melakukan tahapan-tahapan pengenalan terhadap generasi muda,” katanya.

Menurut Dedi, pihaknya akan menggelar pementasan Seni Manorek di Gedung Gelanggang Galuh Taruna (GGT) Ciamis, Rabu (27/7/2016), sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat luas terutama generasi muda.

“Hari ini kita menggelar pementasan dengan dua sesi penampilan, sesi pertamia yakni sekitar pukul 14:00 WIB yang akan ditonton oleh siswa setingkat SLTP dan SLTA dan sesi pertunjukan malam pukul 20:00 WIB untuk masyarkat luas,” papar Dedi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, Dudung Abdullah dalam sambutanya menambahkan, ini sebagai program pengenalan budaya terhadap generasi muda.

“Ini sebagai pangkah kami mengenalkan budaya terhadap generasi muda dan harapan kami regenerasi akan dapat tercipta dengan alami,” ungkap Dudung.

Menurut Diding, di Kabupaten Ciamis ini ada 49 jenis seni budaya, dan baru ada 36 yang tercatat di Disdikbud, ini memang harus ada perhatian, khusus salah satunya dengan penampilan Seni Manorek ini, karena generasi sekarang kebanyakan tidak tahu seni budaya yang ada di daerahnya.

Didung mengaku, sebenarnya pihaknya kehilangan jejak untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah, maka dari itu harus ada komunikasi yang baik antara pelaku seni dan dinas terkait.

“Kita sebetulnya menugaskan tiga orang per daerah untuk mencari informasi jejak budaya sebagai langkah kita melindungi dan melestarikan seni budaya yang ada,” pungkasnya.

Riak Ramadan Ciamis Yang Selalu Ditunggu

Ciamis, Jabar - Setelah absen satu tahun, kegiatan Riak Ramadan (2R) kembali menyemarakkan alun-alun tatar Galuh Kota Ciamis.

Kegiatan yang menampilkan berbagai atraksi budaya kesenian tradisional maupun modern tersebut sudah menjadi salah satu ikon menjelang berbuka puasa atau ngabuburit.

Kegiatan yang melibatkan puluhan budayawan, seniman, kalangan pelajar dan pesantren, selalu ditunggu oleh warga masyarakat yang tengah menunggu waktu berbuka puasa.

Aneka jenis pertunjukkan seni seperti qasidah, marawis, termasuk band dadi berbagai sekolah , serta tausiyah beberapa ulama juga tampil bergantian. Selian itu juga menampilkan juara Tarhib ramadan yang digelar oleh Dewan Masjid Indonesia Ciamis.

Berbeda dengan penyeenggaraan sebelumnya yang berlangsung selama satu bulan penuh, saat ini kegiatan tersebut hanya berlangsung selama 1 minggu menjelang lebaran.

Kegiatan 2 R, yang biasa digelar di Taman Rafflesia, saat ini digeser menjadi di Alun-alun Ciamis, dengan latar belakang masjid Agung Ciamis.

"Kegiatan perdana berlangsung pada tahun 1996, akan tetapi dalam perjalanan waktu sempat bolong atau tidak digelar, karena berbagai alasan. Tahun 2014 juga vakum, sekarang kembali berlangsung, untuk yang ke-15 kali," tutur Noer JM, salah seorang seniman Ciamis, Jumat (10/7/2015).

Di sela memersiapkan pentas membaca puisi religi, dia mengatakan, bahwa kegiatan riak ramadan juga seolah sudah menjadi ajang unjuk kemampuan para seniman tradisi maupun modern di Ciamis. Berbagai jenis kesenian ditampilkan bergantian.

"Tidak khusus untuk seni religi saja, akan tetapi semua jenis kesenian boleh ditampilkan. terus terang, saya juga selalu menunggu moment tersebut. Apalagi animo penonotn juga semakin meningkat," katanya.

Sementara itu Bupati Ciasmis Iing Syam Arifin ketika diminta tanggapannya juga menyatakan sepenuhnya mendukung kegiatan positif menjelang berbuka puasa tersebut. Bahkan dia termasuk salah seorang yang ikut membidani kegiatan riak ramadhan.

"Saya mendukung sepenuhnya kegiatan tersebut. Apalagi kegiatan tersebut terbuka untuk menampung seluruh potensi kesenian di Ciamis, baik yang modern maupun tradisi serta keagamaan. Saya termasuk yang ikut menggagas Riak Ramadan, saat itu masih menjadi Kepala Disparbud Ciamis," tutur Iing Syam Arifein.

Lebih lanjut Iing Syam Arifien juga mengatakan bahwa kegiatan riak ramadhan sudah mendjadi agenda tahunan menjelang waktu berbuka puasa. Dalam perkembangannya, semakin banyak aninmo wasyarakat untuk ikut berpartisipasi.

"Sudah rutin, sehingga juga menjadi salah satu ikon Ciamis menjelang buka puasa. Saya juga melihat penontotn atau masyarakat cukup terhibur dengan tontonan gratis tersebut," ujarnya.

Terpisah Ketua Panitia 2 R, Asep Nirwanda, mengatakan bahwa lkegiatan tersebut tidak hanya sekadar memberikan hiburan, akan tetapi banyak hal positif yang dapat didapat oleh penonton. Pihaknya juga terpaksa menolak setidaknya 13 kelompok yang hendak ikut berpartisipasi mengisi 2R.

"Jadwal sudah sangat penuh, sehingga ada beberapa kelompok yang terpaksa tidak bisa menghisi. Sebenarnya kami juga merasa kasihan, akan tetapi di lain pihak, waktu sangat terbatas. beda dengan sebelumnya nyang berlangsung selama bulan ramadhan," tuturnya.

Didampingi Ketua Karang Taruna Ciamis Aris Firdaus, dia mengungkapkan bahwa kegiatan 2R saat ini digelar hasil kerjasama antara Karang Taruna Kabupaten Ciamis dengan Keluarga Galuh Budaya (KGB). Hal itu juga menunjukkan bahwa kegiatan 2R tidak hanya untuk kalangan seniman tradisi, akan tetapi juga modern.

"Kegiatan 2R tidak hanya milik seniman, akan tetapi sudah menjadi milik seluruh elemen masyarakat Ciamis. Kami juga berharap kegiatan 2R dapat terus mengisi legiatan menjelang waktu berbuka puasa," tutur Asep Nirwanda.

Mainan Tradisional Khas Orang Ciamis Kian Terlupakan

Ciamis, Jabar - Dari tahun ke tahun mainan atau permainan tradisional banyak ditinggalkan oleh generasi muda. Anak-anak sekarang selalu mengekor budaya barat dengan permainan yang dilengkapi kecanggihan teknologi. Seolah-olah, jika tidak mengikuti trend yang berkembang, mereka dikatakan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Salah seorang penjual mainan tradisional yang terbuat dari bambu, Agus Salim (50), ketika ditemui HR di sela-sela berdagang, Sabtu (15/3/2014), mengatakan, jaman sekarang mainan seperti ini (gangsing bambu) sangat jarang ditemui.

Entah mengapa, kata Agus, anak-anak muda sekarang cenderung melupakan permainan lokal. Padahal permainan lokal tidak kalah menariknya dengan mainan modern. Mainan tradisional seperti misalnya gangsing bambu atau peluit suara burung, walaupun hanya sederhana, tetapi menyenangkan.

“Karena bukan hanya harganya murah, tetapi mainan tersebut dapat mengasah kratifitas dan mendidik anak,” katanya.

Dia berharap, mainan tradisional diperkenalkan pada anak-anak sejak dini. Sebab mainan lokal ini merupakan lambang kebudayaan Indonesia. Untuk itu, anak-anak harus diperkenalkan dengan mainan lokal sejak mereka mengenal lingkungan sekitar.

Agus, menjelaskan, mainan tradisional juga bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada, sehingga menghemat biaya produksi. Misalnya bambu bisa dibuat mainan tradisional yaitu gangsingan, seruling, peluit suara burung dan lain-lain.

Menurut Agus, dengan banyaknya melihat mainan tradisional yang dimainkan anak- anak di sekitar, membuktikan bahwa permainan lokal bisa membentuk pendidikan karakter anak. Sebab anak bisa menciptakan mainan sendiri melalui ketrampilan yang mereka miliki.

Agus yang hampir 25 tahun berkeliling untuk menjual mainan tradisional bertekad, akan terus menjual mainan tradisional sampai ke pelosok negeri. Walaupun sekarang terpaksa menjual permainan seadanya.

“Mainan seperti ini saya jual cuma Rp 1000 hingga Rp 10.000, tergantung ukuran. Tetapi tetap saja peminatnya masih kecil, hanya beberapa anak saja. Padahal dulu peminat mainan ini cukup banyak,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Tati (20) mahasiswa sejarah Unigal, mengatakan, mainan tradisional saat ini sudah terkikis karena banyaknya mainan modern, serta lahan bermain yang semakin sempit.

Tati mengatakan, orang tua sekarang jarang yang memperkenalkan permainan tradisonal karena menganggap permainan tersebut sudah ketinggalan jaman. Kebanyakan diantara mereka merasa gengsi bila membelinya, dibandingkan dengan membeli mainan modern.

Menurut Tati, tidak jarang beberapa remaja jaman sekarang yang memang sama sekali tidak mengenal mainan tradisional, karena menganggap permainan tradisional yang sudah kuno. Mungkin, karena sejak kecil mereka sudah diperkenalkan mainan modern (dunia maya), seperti Playstation dan Game Online.

Tati menjelaskan, bahwa permainan tradisional, sudah ada sejak jaman nenek moyang. Permainan tersebut tercipta oleh sekelompok anak-anak tanpa mengenal status ekonomi. bahkan, dalam permainan tradisional juga terdapat pesan mendidik, yakni kebersamaan dan persaingan secara sehat.

“Ini dapat membentuk jiwa seorang anak untuk lebih menyatu dengan teman tanpa ada perbedaan,” katanya.

Dia berharap, pemerintah dapat memfasilitasi permainan tradisional dengan cara membuat pasar khusus untuk menjual mainan tradisional, serta menggelar even tahunan untuk pelombaan mainan tradisional.

Tradisi ‘Samida’ Potensi Wisata Budaya di Panjalu Ciamis

Panjalu, Jabar - Pemerintah Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menggelar acara Sami Dahar (Samida) di bilangan Nusagede Panjalu, belum lama ini. Acara tersebut diselenggarakan sebelum rangkaian upacara adat sakral nyangku digelar.

Ketua Panitia acara, Dulah Abdulah, mengatakan, Samida merupakan salah satu budaya yang dimiliki masyarakat Panjalu jaman dahulu kala. Sami Dahar atau makan bersama ini juga sebagai dakwah dan wujud kehidupan sosial sesama masyarakat.

Menurut Dulah, siapapun yang datang pada acara itu dipersilahkan untuk ikut makan bersama. Acara itu kali pertama dilaksanakan oleh Pemdes Panjalu, dalam rangka melestarikan nilai-nilai budaya.

Ketua Yayasan Borosngora Panjalu, Rd. H. Edi Hernawan, menambahkan, kebudayaan lama yang ada di Panjalu harus dilestarikan. Dia tidak ingin, kebudayaan yang sudah ada malah ditiadakan.

Sebab, kata Edi, kebudayaan nasional pun merupakan kumpulan dari kebudayaan daerah itu sendiri. Menurut dia, kebudayaan merupakan kekuatan suatu bangsa yang harus dilestarikan, sehingga bangsa akan mudah dikenali lewat budayanya.

Warga Dusun Cukangpundung, Panjalu, yang enggan dikorankan, mengaku acara Samida yang dipelopori Pemdes Panjalu, dapat menumbuhkan semangat kebersamaan semua kalangan warga.

“Siapapun dan apapun jabatannya, bisa duduk dan makan bersama, tanpa ada pengecualian,” katanya.

Di tempat terpisah, Miming Mujamil, S.Pd.MM, melalui telepon genggamnya, mengatakan, Samida merupakan tradisi dan budaya masyarakat Panjalu pada jaman dahulu. Pada waktu itu, Abah Anom diistrenan oleh Abah Sepuh.

Menurut dia, tradisi tersebut harus dilestarikan, sehingga kebudayaan maupun tradisi yang ada di Panjalu terus berkembang.

“Ini merupakan aset yang sangat penting. Sebagai generasi penerus kebudayaan, harus belajar mencintai kebudayaan maupun tradisi, sehingga tetap tumbuh dan ada di tengah-tengah masyarakat.

Miming menambahkan, meski tidak ada pada rangkaian acara upacara adat sakral nyangku, kegiatan samida merupakan potensi yang harus terus digali dan dikembangkan.

-

Arsip Blog

Recent Posts