Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Kemeriahan Gelar Wisata Budaya Dayak Meratus

Paringin, Kalsel - Puncak kegiatan Gelar Wisata Budaya Dayak Meratus yang digelar di Desa Wisata Wadian Tambai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, Minggu (5/3/2017) berlangsung meriah.

Hadir sejumlah pejabat, di antaranya Bupati Balangan, Ansharuddin serta pejabat di lingkungan Pemkab Balangan, Kapolres Balangan, jajaran PT Adaro Indonesia, serta pejabat di Provinsi Kalsel dan juga Pemimpin Redaksi BPost Group.

Tak hanya itu, sejumlah fotografer dari berbagai kalangan juga hadir dan antusias untuk mendokumentasikan setiap kegiatan.

Masyarakat setempat dan dari berbagai daerah pun turut hadir untuk menyaksikan gelaran tahunan bergengsi ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan, Mandan dalam sambutannya mengatakan, gelaran ini merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan.

"Sejak pertama kali dilaksanakan hingga saat ini, gelaran terus mengalami kemajuan. Hal ini tak lain berkat dukungan seluruh elemen dari berbagai pihak," katanya.

Menurutnya, gelaran ini dilaksanakan bertujuan untuk merawat kebudayaan Dayak Meratus serta memperkenalkannya kepada seluruh masyarakat.

Dikatakan Mandan, ke depan sangat diharapkan lagi adanya dukungan lebih dari berbagai pihak agar gelaran ini semakin meriah serta budaya Dayak Meratus terus dipertahankan dan semakin dikenal.

Dalam kegiatan itu, DAD Balangan juga memberikan piagam penghargaan kepada sejumlah pihak karena telah mensuport kegiatan tersebut, salah satunya Pemkab Balangan.

Sementara itu, Bupati Balangan, Ansharuddin mengatakan, kegiatan ini luar biasa karena kali ini dihadiri oleh Sekber Jokowi dengan harapan kegiatan ini semakin dikenal di luar sana.

"Kami bangga karena kegiatan ini untuk mempertahankan budaya di suku Dayak Meratus," ujarnya.

Ditegaskan bupati bahwa pihaknya selalu siap mendukung kegiatan ini seterusnya.

"Selain membanggakan tentu saja melalui acara ini Halong sekaligus Balangan juga semakin dikenal," pungkasnya.

Seperti apa keramaian puncak kegiatan Gelar Wisata Budaya Dayak Meratus, simak dalam tayangan video di atas.

Kukuhkan Perguruan Silat Tradisional Dayak

Sampit, Kalsel - Kutau, Bangkui dan Sending yang merupakan Kesenian Bela Diri warisan dari leluhur dayak Kalimantan Tengah memang seharusnya dilestarikan. Seperti yang dilakukan Perguruan Manggatang Utus yang mana mampu mempertahankan dan kini terus berkembang dengan membina para generasi muda, untuk lebih mengenal bela diri tradisional tersebut.

Sebelumnya untuk mempelajari bela diri tradisional dayak ini terbilang sangat sulit, hal ini disebabkan para pengembang kesenian ini kesulitan untuk mengenalkan pada masyarakat lantaran tidak memiliki tempat tetap untuk membangun sebuah perguruan.

Dengan di kukuhkannya Perguruan Manggatang Utus yang dipusatkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bhakti Mulia kilometer 2,7 Jalan Jenderal Sudirman ini, tentunya tidak lagi membuat masyarkaat sulit untuk mengetahui atau sekaligus mempelajari silat tradisional khas dayak tersebut yang kini terbilang sangat langka.

“Kita ingin memberdayakan kesenian bela diri trandisional dayak ini terus dilestarikan dan dikembangkan, apalagi bela diri Kutau, bangkui dan Sending 12 ini sangat langka dan hanya ada di Kalimantan Tengah, maka sangat beruntunglah dengan terbentuknya Perguruan ini, bisa mengenalkan dan memberdayakan kesenian bela diri daerah ini hampir tertinggal oleh perkembangan zaman saat ini,”ungkap Ketua Inti Perguruan Manggatang Utus, Gunawan, ditengah puluhan anggota baru di acara peresmian Perguruan itu, Sabtu (30/7).

Silat tradisional dayak ini menurut Gunawan memang sangat jarang sekali dikenal masyarakat, sebagian besar masyarakat hanya bisa lihat aksinya ketika ada acara pernikahan maupun penyambutan tamu kehormatan secara adat, seperti lawang sekepeng. Dibawah binaan Guru Besar Sadarmansyah atau yang akrab dipanggil Meo Salamat Kambe ini, tentunya masyarakat tidak perlu ragu untuk bisa mengenal lebih dalam kesenian bela diri ini.

“Saya sangat bangga, karena sebagian besar yang bergabung dan ingin mendalami ilmu bela diri dayak trandisional ini adalah para generasi muda. Saya optimis, dengan terus berkembang dan dikenal masyarakat, kesenian bela diri ini akan bisa bertahan dan terus melebarkan sayapnya bukan hanya di Sampit. Namun keseluruh Kalimantan Tengah,”paparnya.

Gunawan menambahkan, sehubungan Bela diri Khas Dayak ini juga masuk dalam kategori silat tradisional. Dirinya juga berharap bela diri ini bisa mendapatkan pengakuan oleh pemerintah dan bergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sebagai lembaga yang menaungi seluruh perguruan pencak silat.

“Besar keinginan kita Perguruan Manggatang Utus ini yang memberdayakan bela diri tradisional dayak seperti kutau, bangkui dan sending ini bisa masuk ke IPSI, sehingga kita juga nantinya bisa memiliki atlet yang bisa berkompetisi dalam setiap event yang digelar oleh IPSI Kabupaten, Provinsi maupun Pusat,”tandasnya.

Sementara itu, pada hari pertama diresmikannya Perguruan Silat tradisional Manggatang utus, mendapatkan antusias yang tinggi oleh masyarakat. Tercatat sekitar 80 orang lebih telah bergabung untuk menjadi warga perguruan itu, dan yang menariknya sebagian besar pesertanya adalah para pelajar dari tinggal SMP dan SMA.

Tarian dan Pakaian Khas Dayak Jadi Magnet Festival Budaya Isen Mulang

Palangkaraya, Kalteng - Suasana kawasan Bundaran Besar Palangkaraya Kalimantan Tengah, Rabu (18/5/2016) semarak.

Ribuan warga Kalimantan Tengah tumplek disepanjang jalan lokasi pawai budaya.

Jalan yang dilalui rombongan karnaval budaya dengan pakaian khas adat dayak Kalteng ini dipenuhi para penonton yang ingin menyaksikan event tahunan yang sudah masuk dalam kalender budaya nasional ini.

Kegiatan pawai budaya tersebut sebagai bagian dari rangkaian kegiatan untuk Festival Budaya Isen Mulang tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

Kegiatan pembukaan tersebut secara resmi dibuka oleh Pj Gubernur Kalimantan Tengah, Hadi Prabowo, Rabu (18/5/2016) siang menjelang sore.

Persiapan pelaksanaan kegiatan tersebut sudah terlihat dengan dibangunnya tenda untuk kegiatan pawai budaya di Kawasan Bundaran Besar Palangkaraya, Selasa (17/5/2016) kemarin.

Festival Budaya Isen Mulang dimulai tanggal 18-21 Mei 2016 di Kota Cantik Palangkaraya.

Kegiatan Festival budaya ini merupakan upaya untuk melestarikan seni dan budaya daerah ini, sehingga tidak pupus ditelan zaman.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan dalam setiap tahunnya di antaranya menggelar berbagai event budaya, seperti Lomba Balogo, Lomba Manewang, Manetek, Manyila Kayu, Lomba Lagu Budaya Karungut, Sepak Sawut, Besei Kambe dan lainnya.

Event budaya tersebut akan dilaksanakan di sejumlah tempat di Palangkaraya, yakni Sungai Kahayan tepatnya di bawah Jembatan Kahayan, Lingkungan Museum Balanga, ‎Lapangan Temanggung Tilung yang akan diikuti oleh 13 Kabupaten dan satu Kota se Kalimantan Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata Kalteng, Yuel Tanggara, mengatajan, perayaan tahun ini dilaksanakan cukup meriah yang dihadiri bukan hanya warga lokal tetapi banyak juga turis asing.

"Kegiatan ini, diikuti kabupaten dan kota di Kalteng mereka mengirimkan perwakilannya untuk memeriahkan festival ini." katanya.

Pusat Budaya Dayak di Pulau Kumala Kutai Kartanegara Diresmikan

Tenggarong, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) akan segera meresmikan Pusat Budaya Dayak di Pulau Kumala. Pusat budaya ini menyajikan informasi seputar kehidupan suku dayak mulai dari cara tenun kain ulap doyo, penggunaan alat musik tradisional untuk menari hingga alat berburu seperti sumpit.

Kepala Disbudpar Kukar, Sri Wahyuni mengatakan ada 7 etnik suku Dayak yang ditunjukan lainnya di Pulau Kumala. Setiap pekan, nantinya digelar acara tarian dayak, cara menyumpit dan tenun kain ulap doyo di Lamin (sebutan rumah khas suku Dayak) berada di Pulau Kumala.

“Insya Allah, bulan depan kita meminta Ibu Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari meresmikan pusat budaya dayak di pulau Kumala sebagai pusat informasi 7 etnis sosial budaya ekonomi masyarakat dayak. Jadi, ada penampilan kostum dan alat musik tradisional, benda-benda budaya, proses pembuatan tenun, menyumpit dan berburu,” kata Sri Wahyuni, Kamis (10/3/2016).

Dikatakan Sri Wahyuni, pihaknya saat ini mengharapkan ada investor yang masuk mengelola dan menghidupkan kembali pulau Kumala sebagai arena wisata. Karena ada beberapa fasilitas yang sangat disayangkan tidak dimanfaatkan seperti cottage, sarang burung dan rencana pembuatan wahana air bermain.

“Mudahan ada investor yang tertarik masuke pulau Kumala. Untuk ketertiban pengunjung, nantinya memang ada dikenakan retribusi masuk ke Pulau Kumala dan Pusat Budaya Dayak. Retribusi ini nantinya untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kukar,” kata Sri Wahyuni.

Tarian Khas Dayak Bertelinga Panjang Penampilan Murid SD Pukau Hadirin

Samarinda, Kaltim - Tarian khas Dayak yang dibawakan murid SD 016 (eks 028) Jalan Budaya Pampang, Kelurahan Pampang, Sungai Siring, Samarinda, Rabu (20/1/2016), mengundang riuh tepuk tangan hadirin.

Selain memang tarian dibawakan dengan sangat apik, ternyata kehadiran seorang murid perempuan dengan telinga panjang lengkap dengan anting-anting juga semakin menambah kemeriahan tarian yang memang menjadi salah satu ciri khas Desa Budaya Pampang.

Walau masih terbilang berusia muda, keindahan tarian yang dibawakan murid baik laki-laki dan perempuan tersebut tak kalah dengan penampilan penari dewasa yang sering terlihat.

Siang itu, penampilan belasan murid yang tampil lengkap dengan pakai adat dan diiringi musik khas Dayak tersebut penutup di acara peletakan batu pertama bangunan sekolah yang dihadiri sejumlah pejabat dari Pemkot Samarinda.

Seperti diketahui, Desa Budaya Pampang yang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota ini memang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Desa yang juga menjadi salah satu objek wisata andalan Samarinda ini, sudah sering dikunjungi tamu-tamu lokal maupun mancanegara.

Di desa ini, memang masih bisa didapati eksotisme budaya dan adat istiadat yang masih dipegang kukuh masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Selain tari- tarian khas Dayak, di tempat ini para tamu juga bisa menemui sejumlah cideramata seperti kerajinan manik-manik yang bisa memang menjadi salah satu ciri khas Suku Dayak.

Kepala Sekolah SD 016 Jl Budaya Pampang Yuliana mengatakan, dari 158 murid yang ada, memang baru ada satu orang saja yang sudah memang memiki kuping panjang.

Pihak sekolah, kata dia, memang sangat mendukung hal tersebut dalam upaya melestarikan budaya kedepannya.

"Baru satu saja. Biasanya, memang umur segini nggak mau, masih malu dia. Tapi dia mau budaya itu dia bawa sampai besar nanti," katanya.

Untuk aktivitas sehari-hari di sekolah, hal itu tidak akan mengganggu.

Sampai saat ini baru ada 1 SD saja yang ada di wilayah tersebut. Oleh karena itu, pembangunan gedung baru sekolah yang sebelumnya masih terbuat dari kayu, menurutnya bisa semakin meningkatkan taraf pendidikan yang ada di wilayah tersebut.

"Kalau belajar nanti antingnya dilepas. Kalau sudah di rumah atau tampil baru dipakai. Itu untuk melatih itu berat, supaya lubangnya semakin besar," katanya.

Gawai Dayak Sanggau Dimeriahkan 13 Lomba

Sanggau, Kalbar - Hari ini Pekan Gawai Dayak (PGD) Sanggau XI dimulai, berlangsung di rumah betang Dori Mpulor Sanggau. PGD yang dibuka asisten II Setda Provinsi Kalbar Lensus Kandri itu berlangsung Selasa (7/7/2015) hingga 9 Juli 2015.

Ketua Panitia Pelaksana Pekan Gawai Dayak (PGD) Sanggau, Markus mengatakan, PGD kali ini mengangkat tema, “Melalui gawai dayak nosu mino podi Kabupaten Sanggau kita dukung seven brand image Sanggau”.

Tujuan dilaksanakannya PGD yang digelar setiap tahun ini adalah untuk melestarikan adat istiadat dan seni budaya masyarakat adat dayak yang merupakan identitas dan jati diri masyarakat dayak.

“Sebagai wahana untuk saling intropeksi diri bagi masyarakat adat dayak terhadap seluruh aktivitas masyarakat adat dayak yang telah dilaksanakan satu tahun sebelumnya, ” kata Kepala BLHKPK Sanggau ini dalam sambutannya pada saat pembukaan PGD Sanggau.

Lanjut Markus, untuk acara yang ada di dalam PGD ini akan dilaksanakan 13 perlombaan, di antaranya, tarian kreasi, lomba mendongeng, membuat kue tradisional, pantun, menyumpit, domamang domia, lagu daerah, busana daerah, dan gasing, suovenir motif dayak, pencak silat, dan menumbuk padi. Selain itu, akan ada pameran, ada tersedia warung-warung.

Sementara itu, Gubernur Kalbar yang diwakilkan Asisten II Setda Provnsi Kalbar Lensus Kandri mengatakan, pelaksanaan gawai dayak merupakan ucapan rasa syukur bahwa kita sudah menyelesaikan panen.

“Yang merupakan nilai-nilai yang tertuang dalam masyarakat adat dayak yang harus dikembangkan, ” katanya.

Selain itu, nilai yang harus selalu dikembangkan adalah gotong royong, cara cocok tanam, seni tari dan kearifan lokal lainnya yang mengatur jalinan interaksi antara manusia dan alam.

“Masyarakat adat dayak diharapkan dapat meningkatan sikap kita, baik itu masalah pendidikan, kesehatan dan masalah sosial lainya, ” katanya.

Gawai Dayak Sanggau Digelar Tiga Hari

Sanggau, Kalbar - Ketua panitia pelaksana Pekan Gawai Dayak (PGD) Kabupaten Sanggau, Markus mengatakan, pelaksanaan PGD akan berlangsung di Rumah Betang Dori Empulor, Kabupaten Sanggau, 7-9 Juli 2015.

Tema PGD tahun ini adalah "Melalui gawai dayak nosu mino podi Kabupaten Sanggau kita dukung seven brand image Sanggau".

Tujuan dilaksanakannya PGD yang digelar setiap tahun ini adalah untuk melestarikan adat istiadat dan seni budaya masyarakat adat dayak yang merupakan identitas dan jati diri masyarakat dayak.

"Sebagai wahana untuk saling intropeksi diri bagi masyarakat adat dayak terhadap seluruh aktifitas masyarakat adat dayak yang telah dilaksanakan satu tahun sebelumnya," kata Markus yang juga Kepala BLHKPK Sanggau ini, Minggu (21/6/2015).

Selain itu, untuk menyatukan sudut pandang kegiatan gawai dayak sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta alam semesta yang harus dilaksanakan secara murni dan terpola.

PGD yang dimulai 7 Juli ini akan dibuka Gubernur Kalbar, Cornelis pada pukul 08.30 WIB dengan upacara adat. Tuan rumah PGD jatuh pada DAD Kecamatan Kembayan.

"Yang menjadi tuan rumah PGD ini, berdasarkan hasil diskusi dari DAD Sanggau setiap tahunnya, karena memang setia tahun pasti berganti tuan rumahnya, " jelasnya.

Acara yang ada di dalam PGD ini akan dilaksanakan 13 perlombaan, di antaranya, tarian kreasi, lomba mendongeng, membuat kue tradisional, pantun, menyumpit, domamang domia, lagu daerah, busana daerah, dan gasing, suvenir motif dayak, pencak silat, dan menumbuk padi.

Untuk malam hari pertama acara PGD berlangsung pada pukul 08.30 WIB sampai pukul 00.00 WIB. Untuk hari kedua dimulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 23.30 WIB sedangkan penutup dimulai pukul 07.00 WIB sampai 20.30 WIB.

Pekan Gawai Dayak Akan Digelar di Kota Pontianak

Pontianak, Kalbar - Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) Pontianak akan menggelar Pekan Gawai Dayak (PGD) ke XXX. Gawai akbar masyarakat Dayak tersebut rencananya dilaksanakan pada 20-27 Mei 2015, yang dipusatkan di Rumah Radank, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat. Ketua Panita PGD XXX, Yohanes Nenes menyampaikan, rangkaian perhelatan akbar tersebut akan dibuka langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis.

Beragam kegiatan pun sudah dipersiapkan untuk memeriahkan PGD XXX, di antaranya parade budaya, lomba cipta lagu, lomba permainan tradisional, pemilihan Bujang Dara Gawai, dan lainnya. “Acara akan dimulai pada tanggal 20 Mei 2015. Tapi sebelumnya akan didahului dengan beberapa agenda tambahan, di antaranya anjangsana ke rumah tahanan dan panti asuhan pada tanggal 18 Mei 2015,” kata Yohanes Nenes dalam jumpa pers, Selasa (12/5/2015).

Selain itu Yohanes Nenes menambahkan, momentum PGD XXX ini sebagai upaya penegasan terhadap pelestarian alam dan budaya. Menurut Yohanes, sejauh ini banyak bentang alam yang memiliki nilai budaya tinggi rusak akibat kepentingan investasi dibidang perkebunan dan pertambangan.

Sementara itu, Ketua Sekberkesda, Yosef A.Oendoen menyampaikan bahwa tahun ini dalam kegiatan PGD ada beberapa kesenian tradisional yang nyaris punah akan dimunculkan kembali. Satu diantaranya adalah kesenian musik Jonggan, yang merupakan perpaduan orkestra beragam alat musik tradisional Dayak seperti gong, kenong, dan seruling.

“Kita ingin mengangkat kembali kesenian Jonggan. Bagi masyarakat Dayak Kenayatn, Jonggan tidak hanya sebagai hiburan semata, tapi juga sebagai bagian budaya yang tidak terpisahkan,” kata Yosef.

PGD tahun ini juga akan dimeriahkan peserta dari negara Malaysia, yaitu 4 organisasi dayak yang dari Sabah. Perhelatan akbar ini juga merangkul seluruh organisasi etnis yang ada di Pontianak, di antaranya Melayu, Batak, Jawa, Flores, Madura, dan etnis lainnya.

Festival Budaya Dayak Borneo Undang Negara Serumpun

Palangka Raya, Kalteng - Festival budaya Dayak Indonesia rencananya digelar pada 1-6 Juni mendatang. Gelaran di kompleks pameran Temanggung Tilung Kota Palangka Raya, menjadi suatu event menjalin dan mempererat rasa persatuan dan kesatuan. Masyarakat Dayak dari berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS), pulau, dan negara berkumpul.

Ketua panitia pelaksana Thoeseng TT Asang mengatakan, dalam acara seremoni pembukaan kegiatan tersebut direncanakan dihadiri dan dibuka Presiden Republik Indonesia.

“Kegiatan ini mencakup se-Kalimantan dan juga mengundang negara-negara tetangga dan serumpun di antaranya, Serawak, Sabah, Kucing, Brunei, dan Malaysia,” katanya, kemarin.

Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam kegiaan ini di antaranya perlombaan, sajian kuliner dayak daerah masing-masing, pameran budaya dan produk unggulan, hingga konvensi dan seminar.

“Dalam kegiatan tersebut nantinya akan dimeriahkan dengan berbagai macam perlombaan seperti tari garapan etnik dayak, lagu bahasa dayak masing-masing daerah dan karnaval budaya Borneo,” ucapnya.

Kegiatan konvensi dan seminar itu nantinya akan membahas tentang budaya. Narasumber dari kementerian kebudayaan, agraria dan tata ruang, tokoh dayak, hingga pengusaha.

Event selama 6 hari, rencananya bakal dibuka dengan menampilkan tarian kolosal dengan jumlah 500 penari.

“Melibatkan sanggar-sanggar seni di Kota Palangka Raya dan juga pelajar dan mahasiswa. Selain itu kami sangat mengharapkan setiap kabupaten se-Kalimantan ikut serta dalam kegiatan ini,” tambah Asang.

Pekan Budaya Dayak (Kaltim) Bersama 1.000 Siswa Sekolah Dasar se-Jakarta

Jakarta - Komunitas Penjaga Budaya - Sekar Nusa Jakarta berencana menggelar Pekan Budaya Kalimantan Timur (Kaltim) di Museum Nasional Jakarta berlangsung selama empat hari 27-30 April 2015. Acara ini akan melibatkan 1.000 siswa sekolah dasar kelas 3-5 se-Jabodetabek, demikian penjelasan Ketua Panitia Arie Bekti Budi Hastuari, kepada Tribun, Minggu (8/3).

Dia menyebutkan pertimbangan pemilihan peserta di usia SD sesuai ciri-ciri dimasa perkembangan, dimana anak usia 7-12 tahun merupakan usia menuju peralihan dan usia yang baik untuk memberikan stimulus sehingga dapat menambah cakrawala anak sebagai bekal di kemudian hari.

Lewat Program Pekan Budaya Dayak Kalimantan Timur Bersama 1000 Anak melibatkan lebih dari 20 sekolah dasar di Jakarta. Dengan menggunakan metode edutainment secara berkelompok anak- anak terlibat untuk: Menjelajah Museum Nasional; Membuat penganan khas; Membuat kerajinan masyarakat suku Dayak; Menyanyikan lagu Burung Enggang, dan Buah Bolo; Mendengarkan cerita legenda yang mendidik; Mengenalkan dan mencoba membunyikan alat musik Sampe; Memperagakan tari Enggang - yang telah diajarkan pelatih-pelatih yang dikirim ke sekolah-sekolah yang telah mendaftar 1 (satu) bulan sebelum hari H.

"Ini semua sebagai bagian untuk memperkenalkan budaya Suku Dayak kepada anaka-anak di luar Kalimantan. Sekaligus untuk memperingati Ulang Tahun ke- 237 Museum Nasional dalam sekaligus dengan adanya Program Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang dicanangkan Tahun 2012 – 2014 oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata adalah momen yang tepat untuk tetap melanjutkan program tersebut dan bersama museum dapat beriringan mengenalkan salah satu budaya.

Sebagai info juga, program yang sama telah kami lakukan dengan nama Jelajah Budaya Jawa bersama 1000 anak SD pada tanggal 24 – 28 Oktober 2011, dengan melibatkan lebih dari 20 sekolah dan home schooling dengan dukungan Ibu Kanjeng Ratu Hemas. Tahun ini, panitia berencana mengangkat lima daerah (Kalimantan Timur , Papua, Bali, Manado dan Sumatra Utara) .

Disisi lain, kata Arie, sejauh ini Prof. Edi Sedyawati (Mantan Dirjen Kebudayaan-red) sebagai Penasihat yang mempunyai keprihatin yang sama karena semakin mengemukanya budaya serba instan, serta serangan program-program tekhnologi yang bertubi-tubi, menambah anggapan seni tradisi sesuatu yang tua, kuno, lamban, dan tidak modern.

"Hal ini seolah menjadi kewajiban kami mengingatkan dan membuktikan dinamisnya budaya Nusantara kepada banyak kalangan terutama pada anak-anak usia 9-12 tahun," kata Arie.

Dia menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah kurang lebih 230 suku bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara. Keberagaman suku yang ada di Indonesia berbanding lurus dengan kebudayaan yang diciptakan dari masing-masing suku atau daerah. Keanekaragaman budaya Indonesia adalah salah satu kekayaan dan menjadi ciri khas jati diri bagi bangsa Indonesia.

Budaya Nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Untuk mencapai puncak yaitu Kebudayaan Nasional, maka perlu dilakukan pelestarian dan pengembangan budaya daerah.

Begitu halnya dengan Museum, sebagai sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif, merupakan salah satu media sosialisasi. Idealnya menjadi wadah bagi generasi muda agar dapat mengetahui identitas, memahami keberagaman budaya, menghargai kekayaan bangsa agar dapat turut serta melestarikan budaya Indonesia.

Pesta Seni dan Budaya Dayak Kalimantan di Yogya

Yogyakarta - Perhelatan Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan XII dengan tajuk 'Utus Dayak Mamut Menteng, Cerdas dan Menjaga Tradisi' akan dilangsungkan di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, 6 hingga 8 November 2014 mendatang.

Arti dari tema yang dipilih tahun ini secara umum dalam bahasa Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, Utus memiliki arti turunan, jati diri, sehingga definisi Utus Dayak itu sendiri adalah turunan Dayak, berjati dirinya Dayak. Sedangkan pengertian Mamut Menteng dalam Bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah merupakan sebuah sikap, pribadi, perilaku yang gagah berani, gagah perkasa.

"Mamut Menteng mengarahkan pada sebuah prinsip, orang Dayak memiliki pribadi yang gagah berani. Keberanian orang Dayak yang bisa terjabarkan dalam arti luas, keberanian dalam bertindak, dalam bersikap, dalam berkarya, dan berintelektual berdaya saing," ujar Ketua panitia Stefanus Tri Joko dalam siaran pers, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan, penyelenggaraan pesta seni dan budaya Dayak tahun ini merupakan yang ke-12. Awalnya agenda ini hanya sebagai wadah untuk mengisi kerinduan dan pelestarian budaya Dayak bagi pelajar dan mahasiswa Kalimantan yang sedang menempuh study di Yogyakarta. Tapi melihat antusias yang tinggi dari komunitas pengamat budaya dan masyarakat khususnya yang ada di Yogyakarta, tujuan tersebut bergeser menjadi ajang memperkenalkan dan mempromosikan budaya Dayak kepada masyarakat luas, bahkan bagi turis luar negeri.

Stefanus Tri Joko menambahkan, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tahun ini menjadi penyelenggara acara tersebut, kerja sama dengan Himpunan Pelajar Mahasiswa Kalteng. Kegiatan pesta seni dan budaya Dayak yang akan berlangsung selama tiga hari akan diisi pameran budaya, permainan tradisional rakyat, seminar budaya, kuliah umum, malam festival kesenian dan acara kreasi mahasiswa.

"Acara ini akan dibuka dan dihadiri Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang SH, sekaligus juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN)," pungkas Stefanus Tri Joko.

Seni Tari Suku Dayak

Ragam Seni Tari Suku Dayak

Beragam sen tari pada masyarakat dayak sebagaimana diketahui bahwa suku dayak terdiri dari subsuku subbahasa yang digunakan setiap sub suku tersebut juga berbeda. Termasuk didalamnya seni tari

1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
Tari Perang

2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.
Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

3.Tari Kancet Ledo
Tari Kancet Ledo / Tari GongJika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

4. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

5.Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

6. Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).
Tari Belian Bawo

9. Tari Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.
10. Tari KuyangSebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

11. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.
12. Tari DatunTarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

13. Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.
14. Tari Baraga' BagantarAwalnya Baraga' Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

Kepercayaan Magis pada Etnik Dayak Selako

Alam roh atau dunia roh merupakan kepercayaan yang melekat dengan orang Dayak Selako. Menurut kepercayaan orang Dayak Selako sendiri, alam roh dihuni oleh para roh yang bukan manusia tetapi diyakini ada di sekitar kehidupan mereka yang mempunyai tugasnya masing-masing. Roh ini biasa dikenali juga sebagai makhluk halus yang bertempat tinggal di langit, di bumi, di air, dan sebagainya.

Alam Roh yang hidup di alam yang tidak dapat dilihat, namun mereka mempunyai keperluan yang sama dengan manusia. Hubung kait kehidupan manusia dengan roh dalam konteks kepercayaan tradisional terjalin rapat. Jalinan yang rapat inilah yang oleh etnik Dayak Selako diyakini sebagai dunia Ilmu Magis (bandingkan, Madrah, 1997: 2-4). Hal ini juga selaras dengan yang dikatakan oleh Clark Chilson and Peter Knecht bahwa …

as repressive, ideologies and political sistems started to dissolve, many ethnic groups in Asia and elsewhere began to reflect on their distinctive cultural proparties in order to reconnect themselves with their tradition and their cultural roots. This led to a new appretiation and revival of folklore in various fields such us oral traditions, music, and religion.

Masyarakat etnik Dayak Selako percaya bahawa kepatuhan dan kesetiaan manusia terhadap roh akan mendatangkan berkah dan mendapatkan imbalan dalam berbagai bentuk daripada para roh. Sebaliknya akan terjadi kemurkaan roh yang dapat menimbulkan kemalangan atau mara bahaya. Oleh sebab itu, manusia berusaha untuk dapat berkomunikasi dengan roh-roh tersebut melalui suatu ilmu, yang sering kali tidak dapat diterima oleh akal manusia. Tetapi memang terjadi.

Menurut kepercayaan Mereka, Ilmu magis ini dapat diperolehi dengan beberapa cara seperti betapa (bertapa), mimpi, rajaki (keberuntungan), baguru (belajar) dan ilmu magis warisan sejak lahir. Ilmu Magis ini dapat dibahagi kedalam dua jenis iaitu : ilmu magis panas dan ilmu magis dingin. Ilmu magis panas bermakna bahwa ilmu ini dapat digunakan untuk mencelakakan orang lain (membunuh orang). Racun, dawak, dan polong termasuk dalam kumpulan ini, sedangkan ilmu magis dingin bermakna ilmu magis untuk antisipasi, menangkal atau untuk mengobati akibat dari ilmu magis panas. Misalnya azimat dan mantra-mantra.

Di Kecamatan Sajingan besar, kedua macam ilmu magis ini dapat dijumpai tetapi bilangan pemiliknya semakin berkurang karena usia lanjut dan pengaruh agama Kristian. Di Kampung Batu Itapm, misalnya, masih ada beberapa orang yang memiliki racun. Keberadaan orang yang memiliki racun di kampung tersebut sangat dikenal di berbagai kampung di Kecamatan ini. Penulis selalu diingatkan bilamana akan berkunjung ke kampung tersebut supaya jangan sembarangan minum atau makan. Di Kampung Sasak juga dijumpai 14 orang yang memiliki azimat dan kemampuan membaca mantra serta ada pula dua orang yang memiliki racun di kampung ini.

Secara tradisional, orang Dayak Selako percaya kepada Tuhan yang mereka sebut sebagai Jubata, ada juga yang menyebutnya Dervata (Roth, 1968: 7). Gould (1909: 38) mengatakan, “Dewata is the Land Dayak name of a God from Sanskrit word dewata divinity, deity, gods.” Seterusnya Roth (1968: 216) menulis, “we may recall the fact that Land Dayaks have a kind of Hindu Trimurti, viz-Tapa or Yang, the Preserver (Vishnu or Dewa-dewa of Hindus), Jirong-Brama, the creator (Brahma of the Hindus), Triyuh-Kamang, the destroyer (Shiva of the Hindus).”

***

Sumber: wacananusantara.org

Tari Giring-giring

Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh suku-suku yang berdiam di Kalimantan adalah tari giring-giring. Utama suku Ma’anyan yang menetap di daerah Barito, Kalimantan Selatan. Oleh masyarakat setempat, tarian giring-giring juga disebut dengan nama Ganggereng.

Tari giring-giring merupakan jenis tarian yang menggambarkan suasanan gembira, sehingga tarian ini biasanya digunakan untuk menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa.

Selain itu, tarian giring-giring juga ditampilkan pada acara-acara dengan suasana gembira dan acara selingan. Dan terkadang juga dijadikan tarian pergaulan oleh para muda-mudi Kalimantan.

Tata Cara Pementasan Tari Giring – giring

Pada penampilan tari giring-giring, biasanya penari akan membawa alat yang disebut dengan giring-giring. Giring-giring ini biasanya terbuat dari bambu yang tipis (telang).

Sebelum digunakan dalam tari giring-giring, bambu ini biasanya diisi dengan biji ‘piding’ sehingga ketika digunakan dalam pertunjukan tari giring-giring, bambu ini akan menghasilkan suara yang berirama dengan alunan gamelan.

Cara menarikan tari giring-giring adalah dengan menghentakan giring-giring atau bambu ke lantai dan mengoyang-goyangkan bambu agar mendapatkan bunyi yang ritmis.

Tongkat yang dihentakan ke lantai adalah tongkat yang dipegang dengan tangan kiri, sedangkan bambu yang digoyang-goyangkan adalah bambu yang dipegang oleh tangan kanan.

Ketika menhentakan dan mengoyangkan bambu, kaki penari biasanya akan bergerak maju-mundur seirama dengan irama yang dihasilkan oleh bambu dan irama lagu yang mengiringi tarian tersebut.

Keserasian antara ritme musik dan gerakan penarinya itulah yang menjadi daya tarik bagi orang menonton pertunjukan tari giring-giring. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/budaya-kalimantan-tari-giring-giring | Foto: melayuonline.com

Gawai Dayak dan Fanatisme Rumah Panjang

Oleh TIm Wacana Nusantara

Gawai Dayak merupakan satu-satunya peristiwa budaya Dayak yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam gawai, selain acara inti yakni nyangahathn (pembacaan mantra), juga ditampilkan berbagai bentuk budaya tradisional seperti berbagai upacara adat, permainan tradisional, dan berbagai bentuk kerajinan yang juga bernuansa tradisional. Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Gawai Dayak, menjadikannya sebagai event yang eksotis di tengah masyarakat perkotaan yang modern.

Gawai Dayak bukanlah peristiwa budaya yang murni tradisional, baik dilihat dari tempat pelaksanaan maupun isinya. Gawai Dayak merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak yang diselenggarakan pertama kalinya oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (Sekberkesda) pada tahun 1986. Perkembangan tersebut kuat dipengaruhi oleh semangat upacara syukuran kepada Jubata yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kalbar setiap tahun setelah masa panen. Upacara adat syukuran sehabis panen ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak dengan nama berbeda-beda. Orang Dayak Hulu menyebutnya dengan Gawai, di Kabupaten Sambas dan Bengkayang disebut Maka‘ Dio, sedangkan orang Dayak Kayaan, di Kampung Mendalam, Kabupaten Putus Sibau menyebutnya dengan Dange.

Dalam bentuknya yang tradisional, pelaksanaan upacara pascapanen ini dibatasi di wilayah kampung atau ketimanggungan. Acaranya pun hanya terbatas pada nyangahathn (pelantunan doa/mantra) dan saling kunjung dengan suguhan utamanya seperti: salikat/poe‘ (lemang/pulut dalam bambu), tumpi‘ (cucur), bontokng (nasi yang dibungkus dengan sejenis daun hutan seukuran kue), jenis makanan tradisional yang terbuat dari bahan hasil panen tahunan dan bahan makanan tambahan lainnya. Gawai tradisional pelaksanaannya memakan waktu sampai tiga bulan, yakni sekitar April sampai Juni. Karena itulah, Gubernur Kalbar, Kadarusno mengarahkan agar upacara syukuran ini dilaksanakan pada tanggal 20 Mei setiap tahun. Pada saat ini di beberapa daerah kabupaten acara syukuran ini telah dimodifikasi dan diangkat menjadi acara tingkat kabupaten. Selain liputan wilayahnya diperluas, acaranya pun ditambah dengan penampilan berbagai tradisi Dayak yang ada di daerah yang bersangkutan, dan daerah lainnya yang bersedia mengikuti acara tersebut. Di tingkat provinsi acara yang sama disebut Gawai Dayak atau Upacara Adat Gawai Dayak.

B. Gawai Dayak sebagai Upacara Adat
Telah dikemukakan Gawai Dayak adalah nama lain upacara adat syukuran pascapanen di Pontianak. Hakikatnya sama dengan Naik Dango, atau Maka‘ Dio. “Tujuannya sendiri kurang labih sama, mengadakan pesta atau selamatan atas karunia yang diberikan oleh Jubata” (Akcaya, 1997:16). Gubernur Aswin dalam Akcaya 29 April 1994:03 mengatakan, “Upacara Naik Dango merupakan ungkapan rasa syukur atas keamanan, kesehatan, dan hasil panen yang melimpah, selain berusaha mencari terobosan baru sebagai usaha meningkatkan hasil pertanian pangan”. Jadi, Gawai Dayak pada prinsipnya sama dengan Naik Dango.

“Orang Dayak paling tidak mengenal 18 tahapan upacara adat perladangan mulai dari Baburukng sampai tahap terakhir yaitu, upacara adat Naik Dango atau Ka‘ Pongo”, (1999:2). Sebelum hari H dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan pelantunan mantra (nyangahathn), yang disebut matik. Tujuannya ialah memberitahukan dan mohon restu kepada Jubata bahwa besok akan dilaksanakan pesta adat. Pada hari H dilaksanakan upacara adat dengan nyangahathn di ruang tamu (sami), memanggil semangat (jiwa) padi yang belum kembali, nyangahathn di lumbung padi (baluh atau langko) untuk mengumpulkan semangat padi di tempatnya, dan nyangahatn di tempayan beras (pandarengan) tujuannya memberkati beras agar bertahan dan tidak cepat habis.

Nyangahathn dapat disebut sebagai tata cara utama ekspresi religi suku Dayak. Bahari Sinju dkk. (1996:146), berpandangan bahwa Nyangahatn adalah wujut upacara religius. Ia menjadi bagian pokok dalam setiap bentuk upacara, dengan urutan atau tahapan yang baku, kecuali bahan, jumlah roh suci, para jubata yang diundang, dan tentu saja konteksnya. Dari segi tahapannya nyangahatn terbagi menjadi (1) matik, (2) ngalantekatn, (3) mibis, dan (4) ngadap Buis. Matik bertujuan memberitahukan hajat keluarga kepada awa pama (roh leluhur) dan jubata. Ngalantekatn bertujuan permohonan agar semua keluarga yang terlibat selamat. Mibis bertujuan agar segala sesuatu (kekotoran) dilunturkan, dilarutkan, dan diterbangkan dari keluarga dan dikuburkan sebagaimana matahari terbenam ke arah barat. Terakhir adalah ngadap buis, yakni tahapan penerimaan sesajian (buis) oleh awa pama dan jubata, dengan tujuan ungkapan syukur dan memperoleh berkat atau pengudusan (penyucian) terhadap segala hal yang kurang berkenan, termasuk pemanggilan semua jiwa yang hidup (yang tersesat) agar tenang dan tenteram.

Dilihat dari kondisi bahan yang digunakan, tahapan pertama sampai ketiga, disebut nyangahatn manta, yakni nyangahathn dengan bahan yang belum masak (mentah), sedangkan ngadap buis disebut nyangahathn masak, disiapkan dengan bahan-bahan yang siap hidang (sudah masak). Sebenarnya ada nyangahathn dalam bentuk yang sederhana, yakni berupa ungkapan/doa pendek dengan sajian sederhana: nasi, garam, dan sirih masak (kapur, sirih, gambir, tembakau, dan rokok daun nipah), nyangahathn sederhana ini disebut babamang.

Gawai Dayak atau Naik Dango didasari mitos asal mula padi yang populer di kalangan orang Dayak Kalbar, yakni cerita nek baruang kulup. Cerita asal mula padi berawal dari setangkai padi milik jubata di Gunung Bawakng yang dicuri seekor burung pipit dan jatuh ke tangan nek jaek yang tengah mengayau. Kepulangannya yang hanya membawa setangkai buah rumput menyebabkan ia diejek, dan keinginan membudidayakannya menyebabkan pertentangan dan bahkan ia diusir. Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan jubata. Hasil perkawinannya dengan Jubata, adalah nek baruang kulup. Nek baruang kulup inilah yang akhirnya membawa padi kepada talino (manusia,) lantaran ia suka turun ke dunia bermain gasing. Perbuatan ini juga menyebabkan ia diusir dari Gunung Bawakng dan akhirnya kawin dengan manusia. Padi akhirnya menjadi makanan sumber kehidupan yang menyegarkan, sebagai pengganti kulat (jamur) bagi manusia. Namun, untuk memperoleh padi terjadi tragedi pengusiran di lingkungan keluarga manusia dan jubata yang menunjukkan kebaikan hati Jubata bagi manusia. Fungsi padi dan kemurahan jubata inilah yang menjadi dasar upacara Naik Dango.

Menurut Bahari, dkk. (1999:243)., makna upacara Naik Dango antara lain, adalah

menyukuri karunia jubata;

- mohon restu kepada jubata untuk menggunakan padi yang telah disimpan di dangao padi;

- pertanda penutupan tahun berladang;

- mempererat hubungan persaudaraan/solidaritas.

Dalam kemasan modern, upacara adat ini dimeriahi oleh berbagai bentuk acara adat, kesenian tradisional, dan pemeran berbagai bentuk kerajinan tradisional. Hal ini menyebabkan Gawai Dayak lebih menonjol sebagai pesta daripada sebagai upacara ritual. Namun, dilihat dari tradisi akarnya, ia tetap sebuah upacara adat.

C. Faktor-Faktor Pendukung Keberadaan Gawai Dayak

1. Spirit Kelompok Urban
Keberadaan Gawai Dayak tidak lepas dari spirit kelompok urban asal Dayak. Sampai tahun 1980-an jumlah orang Dayak di kota Pontianak masih sangat sedikit. Meski demikian, beberapa figur telah ada yang aktif di partai, antara lain, PC Palaoen Soeka, Masardi Kaphat, Moses Nyawath, Rahmat Sahudin, dll. Kiprah kelompok politisi yang senantiasa berurusan dengan konsep kelompok dan massa, telah mendorong upaya untuk membangkitkan kebersamaan di antara sesama Dayak.

Pada tahun 1986 dibentuklah Sekretariat Kesenian Dayak (Sekberkesda), yang salah satu tugasnya adalah mengorganisasikan pelaksanaan pergelaran seni budaya Dayak, yang selanjutnya berubah menjadi Gawai Dayak. Keinginan untuk saling memperkuat dan memperkenalkan tradisi Dayak mendorong kehadiran simbol yang dapat menjadi perekat sesama orang Dayak. Gawai Dayak menjadi simbol yang menyadarkan bahwa setiap Dayak berasal dari leluhur dan budaya yang sama. Simbol ini telah menjadi media untuk menyegarkan kesadaran akan tradisi masa lalu di antara sesama urban selama kurang lebih dari satu dasa warsa.

Bolehjadi Sekberkesda pada mulanya merupakan sarana politik. Namun, keberadaan organisasi ini menandai awal perhatian dan kecintaan terhadap budaya Dayak di kalangan Dayak di perkotaan secara terorganisasi dalam lingkup yang lebih luas daripada sekedar sanggar-sanggar. Hal ini terlihat dari bergabungnya sekitar 8 buah sanggar pada waktu itu. Manufer di sektor politik pada waktu itu berdampak positif, yakni memajukan perhatian untuk mengembangkan seni budaya Dayak di Pontianak.

2. Telah Bertahan Lebih dari Satu Dasa Warsa

Jika dihitung dari dilaksanakannya Malam Pergelaran Kesenian Dayak pertama kalinya, 30 Juni 1986, upacara adat Gawai Dayak telah bertahan lebih dari 10 tahun. Perlu diinformasikan juga bahwa sejak 1992, nama Gawai Dayak berubah menjadi pekan Gawai Dayak, yang artinya Gawai Dayak dicanangkan untuk dilaksanakan selama sepekan. Namun, pelaksanaan Gawai Dayak tidak selalu mulus. Gejolak konflik bernuansa etnis yang terjadi berulang kali di Pontianak berdampak pelaksanaan tidak sesuai dengan jadwal, bahkan ditiadakan.

Kemampuannya bertahan lebih dari sepuluh tahun menunjukkan bahwa Gawai sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Dayak di Pontianak. Ia telah menjadi media yang dibutuhkan untuk menyegarkan semangat solidaritas sesama Dayak dalam lingkaran rutinitas kehidupan kota.

3. Dukungan Masyarakat Budaya

Kemampuannya bertahan tidak terlepas dari kekuatan atau faktor-faktor luar seperti pendanaan dari pemerintah daerah, kepentingan pengembangan periwisata, atau bahkan kepentingan-kepentingan yang bernuansa politis. Namun, Gawai Dayak sebagian besar mendapat dukungan masyarakat budaya; dalam arti, masyarakat Dayak dengan orientasi kepentingan budaya. Pada saat ini, Sekberkesda didukung oleh lebih kurang 23 sanggar yang dapat dilihat sebagai representiasi berbagai kelompok subsuku Dayak yang ada di Pontianak.

Dukungan ini menjadi faktor kekuatan yang luar biasa. Yang masih menjadi persoalan bagi Sekberkesda adalah bagaimana memanfaatkan kekuatan itu, bagaimana mengembangkan Sekberkesda menjadi lembaga yang dapat berbuat optimal dalam mengembangkan dan mendayagunakan potensi yang ada., termasuk mengangkat Gawai Dayak menjadi peristiwa budaya bertaraf nasional, bahkan internasional.

D. Fanatisme Rumah Panjang

Gawai Dayak di Pontianak selalu difokuskan di rumah panjang atau (oleh Pemda diberi nama) rumah betang. Menurut Ketua Harian Majelis Adat Dayak, Ir Syaikun Riyadi, rumah betang ini didirikan sekitar tahun 1980 –an. Hampir seluruh kegiatan Gawai dilaksanakan di tempat ini, kecuali kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin dilaksanakan lagi di rumah betang, misalnya pemilihan bujang dara Gawai, pameran benda-benda kerajinan yang pesertanya cukup banyak, dll. Rumah betang ini juga menjadi sekretariat MAD (Majelis Adat Dayak), yakni sebuah organisasi yang memfokuskan diri pada pengkoordinasian beberapa Dewan Adat Dayak (DAD), terutama dalam hal penanganan masalah pelanggaran hukum adat. MAD dan DAD dapat dilihat sebagai wujud konkret dari kecintaan dan perhatian terhadap budaya Dayak, yang moralnya secara akumulatif dibentuk oleh rangkaian kegiatan Gawai Dayak.

Di Kalimantan Barat rumah panjang identik dengan orang Dayak. Tidak ada suku lainnya di Kalimantan Barat, bahkan di Kalimantan yang memiliki tempat tinggal sama atau mirip dengan rumah panjang. Meski demikian, pada saat ini bagi sebagian besar generasi Dayak, budaya rumah panjang hanya tinggal cerita. Sepengetahuan penulis salah satu peninggalan rumah panjang orang Dayak Kabupaten Pontianak ada di Desa Saham, sedangkan menurut Fran l. dan Kanyan, Orang Dayak Iban di Kecamatan Embaloh Hulu masih memiliki tiga rumah panjang. Fran (1994:201) juga menulis bahwa orang Iban yang mendiami desa-desa di Kecamatan Batang Lupar dan lanjak Kabupaten Kapuas Hulu hampir semuanya tinggal di rumah panjang yang mereka sebut rumah panjae.

Punahnya rumah panjang merupakan bagian dari sejarah panjang mengenai penghancuran budaya Dayak di Kalimantan Barat. Penghancuran budaya Dayak telah bermula sejak masuknya agama baru, baik Islam maupun Kristen. Orang Dayak yang masuk Islam mengidentifikasi diri sebagai orang Islam, yang berarti meninggalkan identitas mereka sebagai orang Dayak. Demikian juga, para penyebar agama Kristen yang mengemban tugas yang mereka sebut La mission sacre (tugas suci). Orang Dayak yang tidak menganut Nasrani disebut kafir, menyembah berhala, primitif, animisme dsb. Tugas Nasrani memberadabkan orang Dayak karena menganut budaya yang mereka sebut sebagai Ragi Usang. Konsep Ragi Usang ini pada prinsipnya ialah ingin mengosongkan orang Dayak dari budaya mereka sendiri (Djuweng, dalam KR, 1998:7).

Pada masa Orba salah satu bentuk penghancuran budaya Dayak adalah penghancuran rumah panjang pada tahun 1970–an karena hidup di rumah panjang dianggap menyerupai cara komunis, berbahaya bagi kesehatan, dan tidak bermoral karena melakukan seks bebas. “Kebijakan itu bukan saja menyinggung perasaan orang Dayak, melainkan juga bisa mempercepat proses kehilangan identitas mereka” (Jopsef, 1992:XVI).

Penghancuran budaya Dayak ini ternyata memiliki dampak sangat mendalam. Terdapat orang Dayak yang akhirnya malu disebut atau menyebutkan diri sebagai orang Dayak. Ada yang berpendapat citra buruk itu dapat dihapus dengan mengganti identitas diri dengan cara masuk Islam, atau menghilangkan konsonan ‘K‘ pada istilah Dayak, sehingga menjadi Daya. Namun, ada yang berpendapat perbaikan citra bersifat lebih luas daripada sekedar mengganti istilah Dayak, yakni meliputi perbaikan di segala sektor kehidupan orang Dayak. Menurut Djuweng (2001:82), penggantian istilak Dayak menjadi Daya tidak menguntungkan, bahkan merugikan karena justru menghilangkan etnisitas sebagai salah satu wujud identitas Daya.

Fanatisme rumah panjang selain menuntut pengadaan fisik rumah panjang sebagaimana tuntutan upacara di daerah-daerah, juga menghendaki agar fungsinya sebagai pusat kebudayaan diberlakukan kembali. Hal ini terlihat dari keinginan memusatkan segala kegiatan Gawai Dayak di rumah panjang. Dengan kata lain, fanatisme rumah panjang, menyangkut rumah panjang sebagai pusat kebudayaan yang meliputi bergai sistem sosial yang ada di dalamnya. Gawai Dayak menjadi proses penelusuran kembali salah satu identitas penting dalam budaya Dayak yang terlindas sejarah masa lalu.

Harian Akcaya (30 Mei 1994: 03), berkaitan dengan pelaksanaan Maka‘ Dio di Kabupaten Sambas menulis “Upacara Maka‘ Dio, kata Libertus, suatu wadah komunikasi budaya asli daerah yang perlu dilestarikan sebagai bahan dalam usaha menyukseskan pembangunan. Selain itu, hal ini juga mengenal dan memantapkan identitas Dayak dalam bentuk yang mudah dikenal dan diamati oleh masyarakat.

Dalam harian yang sama tertulis, “Gubernur dalam sambutannya mengatakan upacara adat Naik Dango dilihat dari kacamata budaya perlu dilestarikan karena mempunyai nilai budaya yang perlu diangkat ke permukaan sehingga identitas budaya suku Dayak di Kabupaten Pontianak dapat dikenal sebagai sesuatu yang menarik, baik wisman maupun domestik (Akcaya, 29 April, 1994:03).

Dikaitkan dengan penghancuran rumah panjang di masa silam, penegasan kembali identitas budaya rumah panjang juga dapat dilihat sebagai proses perlawanan panjang atas sejarah untuk memperoleh kembali apa yang sebelumnya dipaksahilangkan melalui penghancuran budaya Dayak, yakni pengakuan dan penghargaan terhadap orang Dayak sebagai sesama dengan segala kekhasannya. Orang Dayak tidak ingin sekedar dianggap ada, tetapi hak-hak mereka sebagai warga dihormati dan dihargai. Dalam perspektif ini Gawai Dayak tidak hanya strstegis bagi pengembangan seni budaya Dayak, tetapi juga strategi bagi membangun dimensi kemanusiaan penting lainnya, yakni perasaan sederajat, dan keyakinan terhadap budaya sendiri.

E. Pembuka Wawasan Pluralitas

Kalbar tergolong wilayah yang rentan konfliks bernuansa etnis. Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan penyeragaman semasa Orba. Penyeragaman di bidang seni budaya merupakan tindakan sensor terselubung yang mengekang kebebasan berekspresi dan kreativitas. Dengan konsep budaya nasional sebagai puncak budaya daerah, negara mendapat legitimasi menentukan seni budaya daerah yang boleh berkembang dan tidak, bahkan menghancurkan kebudayaan tertentu yang dinilai menghambat agenda ekploitasi pusat terhadap daerah. Tekanan juga dilakukan dengan melancarkan istilah-istilah negatif bagi kebudayaan daerah seperti terbelakang, tidak modern, kafir, primitif, dsb. Hasilnya adalah masyarakat tidak terbiasa hidup dalam perbedaan dan tidak bisa menghargai perbedaan. Menurut Kusni (1994:50), masyarakat yang tidak tumbuh dalam budayanya menyuburkan gejala skeptifisme dan ketidakacuhan terhadap lingkungan.

Bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan perbedaan, perbedaan budaya cenderung dilihat sebagai alasan untuk mengambil jarak, bahkan alasan untuk saling menekan. Penyeragaman menumbuhkan sikap konfrontatif dalam memandang kondisi pluralistik. Persoalan individual mudah memancing sentimen etnik, dan persoalan kecil mudah berkembang menjadi konfliks berskala besar. Situasi penyeragaman di satu sisi menyebabkan setiap kelompok cenderung tetap terisolasi, di sisi lain tidak memiliki arah berkembang yang jelas karena budaya nasional yang dijadikan kiblat tidak jelas wujudnya. Akibatnya, masyarakat daerah retak-retak dalam pluralisme dan budaya menjadi kerdil.

Menurut Awuy (2000:1), salah satu upaya eliminasi kebijakan penyeragaman adalah mengakui bahwa kekuasaan yang tidak realistis pada prinsipnya menyangkal keberagaman dan kepentingan sebagaimana muncul dari keberagaman budaya kita. Artinya, pembukaan wawasan pluralitas pertama-tama menghendaki adanya kesadaran bahwa stigmatisasi sosial budaya, berbagai pandangan negatif terhadap kebudayaan daerah, termasuk seni budaya adalah anak kandung dari penyeragaman pusat sebagai strategi mempertahankan dominasi atas daerah. Berikutnya, perlu ditumbuhkan kecintaan terhadap budaya sendiri dan penghargaan terhadap budaya yang berbeda. Dalam konteks ini, Gawai Dayak menjadi salah satu event budaya selain dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Dayak, sekaligus mempertegas identitas orang Dayak sebagai media pemahaman budaya bagi pihak lainnya. Gawai Dayak diharap menjadi fenomena budaya yang dapat menumbuhkan sikap mau menghargai perbedaan dan sensitivitas terhadap perbedaan.

Di mata aktivis Gawai Dayak, keberadaan Gawai harus dipertahankan karena menjadi sarana pendidikan dan pewarisan budaya bagi generasi muda Dayak dan media berkomunikasi dengan pihak lainnya. Dalam masyarakat yang pluralistik, pemberdayaan dan pelestarian setiap unsur budaya menjadi hal penting mengingat setiap budaya/tradisi memberikan pegangan bagi pemilik budaya dalam menata kehidupannya, baik dalam berhubungan dengan sesama, lingkungan dan Sang Pencipta, serta memberikan identitas jelas agar dapat berkomunikasi (dialog) secara sejajar dengan pihak lainnya. Kusni (1994:50), mengatakan bahwa yang memiliki tempat dalam dialog budaya nasional hanyalah mereka yang memiliki kebudayaan yang hidup, setia, dan bertolak dari asalnya dan penuh kreativitas.

Hilangnya identitas dapat menyebabkan hilangnya pengakuan, kepincangan komunikasi, kebijakan yang diskriminatif, dan berbagai bentuk kecemburuan sosial yang dapat menyebabkan keretakan, bahkan konflik dalam pluralitas. Dalam perspektif ini penegasan identitas penting bagi memupuk kesadaran akan kemajemukan, sedangkan bagi pemilik budaya, penegasan identitas penting sebab sebagaimana diungkap Kusni (1994:50), apabila keadaan tanpa kreativitas berlangsung terus, kebudayaan Dayak akan didominasi sehingga yang tertinggal hanyalah darah yang mengalir secara alami. Namun, secara kebudayaan hal itu sudah menjadi tidak jelas sehingga pengingkaran diri sebagai orang Dayak gampang terjadi.

F. Kesimpulan
Gawai Dayak merupakan satu-satunya peristiwa budaya Dayak Kalimantan Barat yang digelar rutin setiap tahun di Pontianak pada setiap Mei. Event budaya ini berakar dari tradisi terpenting suku Dayak, yakni upacara adat perladangan. Masyarakat Dayak mengenal 18 tahapan upacara adat perladangan. Upacara adat terakhir adalah Naik Dango. Upacara Naik Dango inilah yang selanjutnya disuguhkan dalam kemasan baru menjadi Gawai Dayak di tingkat Propinsi.

Beberapa hal yang mendukung pelaksanaan Gawai Dayak, antara lain, spirit kebersamaan kelompok urban telah dipandang sebagai tradisi dan dukungan masyarakat budaya.

Bagi masyarakat Dayak, Gawai Dayak merupakan peristiwa budaya yang strategis dalam arti membuka peluang menghadirkan kembali budaya rumah panjang, dan memulihkan kembali dimensi kemanusiaan yang sebelumnya telah dicabik-cabik, yakni perasaan sederajat dan keyakinan terhadap budaya sendiri.

Di tengah-tengah masyarakat Kalimantan Barat yang pluralistik, Gawai Dayak diharapkan menjadi media yang potensial untuk menumbuhkan sensitivitas dan penghargaan terhadap perbedaan, khususnya perbedaan seni dan budaya. Sensitivitas dan penghargaan terhadap perbedaan ini penting karena penyangkalan terhadap keragaman kepentingan sebagaimana muncul dari keberagaman budaya merupakan tindakan penindasan yang menghasilkan masyarakat yang tidak terbiasa dengan perbedaan dan rawan konflik. Dari persfektif ini, Gawai Dayak dapat dipandang sebagai salah satu media pembuka wawasan pluralitas.

***

Sumber: http://wacananusantara.org/gawai-dayak-dan-fanatisme-rumah-panjang-sebagai-penelusuran-identitas/

Naik Dango Suku Dayak Kanayant Saat Panen Usai

Bunyi gong yang ditabuh terdengar dari speaker di sisi kiri dan kanan betang (rumah panjang) Suku Dayak yang berada di atas bukit Desa Sadaniang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Pontianak. Dari bawah panggung betang bagian kanan, keluar para penari yang mengenakan baju adat Suku Dayak lengkap dengan atributnya, mengikuti irama gong.

Tanpa alas kaki, penari menggoyangkan tubuhnya dengan indah. Dua angan direntangkan, kemudian jemarinya bergerak memutar dengan entik. Seorang penari pria di barisan depan rombongan penari, mengayunkan Mandau ke depan. Dengan mata menatap tajam, tiba-tiba ia
meloncat dan berteriak "huih" dengan nyaring.


Tarian yang disuguhkan oleh rombongan penari dari 23 Kecamatan di wilayah Kabupaten Pontianak, menjadi daya tarik pengunjung upacara adat Naik Dango ke-26. Mata mereka tak melepaskan sedikitpun gerakan para penari. Sesekali, pengunjung bertepuk tangan dan bergumam "wow" dengan pelan.

Adanya Naik Dango membuat Desa Sadaniang yang semula sepi menjadi ramai. Meski berjarak sekitar 87 kilometer dari Pontianak, acara Naik Dango tersebut mampu menyedot ramai pengunjung yang berasal dari kampung atau kecamatan lain. Panas terik tak menyurutkan langkah pengunjung menapaki jalan tanah merah untuk ikut serta dalam prosesi adat Naik Dango yang sudah menjadi agenda tahunan.

Naik Dango sendiri merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Kanayant yang ada di Kalimantan Barat. Upacara adat ini adalah ucapan syukur kepada Sang Pencipta, atas berkat melimpah yang diberikan. Hasil panen tersebut biasanya disimpan di dango (lumbung) padi, yang sebelumnya didoakan oleh panyangahant (juru doa).

Biasanya, usai menyimpan padi dalam dango yang merupakan padi pilihan untuk dipersiapkan sebagai bibit, suku Dayak akan berpesta. Pesta ini dinamakan makant nasi barahu (makan nasi baru). Setiap rumah akan menyuguhkan makanan hasil panen untuk setiap tamu yang datang. Ini merupakan wujud rasa syukur atas panen dan berbagi rezeki untuk dinikmati bersama.

Naik dango dilaksanakan setiap 27 April. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak yang ada di kampung-kampung. Namun juga, mereka yang ada di kota dengan jadwal yang berbeda. Penduduk Kota Pontianak dari Suku Dayak melaksanakan naik dango berupa Pekan Gawai. Acara ini dilaksanakan setiap Mei, di Betang Jl. Sutoyo Pontianak.

"Mahanyari", Pesta Panen Suku Dayak Meratus

Banjarmasin - "Mahanyari" adalah pesta panen padi bagi masyarakat Dayak Pegunungan Meratus Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel, kata peneliti dalam Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012, Koordinator Wilayah 08 HST, Dr.Ir Abdul Haris Mustari.

Mahanyari merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen dan berkah yang diberikan, kata Haris Mustari yang juga dosen Fakultas Kehutanan ITB, Selasa.

Melalui emailnya, ia menyebutkan, secara harfiah, Mahanyari (hanyar baru) artinya memulai panen padi pada tahun itu. Padi sangat dihargai keberadaannya oleh Dayak Meratus, sehingga ketika menanam dan memanen dilakukan acara adat atau ritual, katanya. "Acara itu dilakukan baik secara berkelompok maupun secara idividual oleh setiap keluarga," katanya.

Mahanyari yang dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di Balai Adat disebut Aruh, kata Mustari.

Acara Mahanyari disediakan berbagai bahan sesajin yang akan dibawa ke pehumaan di Tihang Bekambang (tiang bambu kuning yang dihiasi bunga dan dadaunan) yang telah disiapkan.

Salah satu alat dalam acara tersebut disebut "Tihang Bakambang" terdiri dari tiang berupa bambu kuning, bagian paling atas melambangkan huruf atau kepala manusia yang disebut songkol.

Di bawah songkol terdapat daun sejenis palem yang disebut daun Risi dan ditambah kembang merah (habang).

Pada bagian tengah berupa papan bundar berdiameter 70 cm tempat menyimpan berbagai sesajian disebut "Dulang Campan" yang melambangkan bumi.

Sesajian disimpan di atas Dulang Campan terdiri dari darah ayam di tempurung kelapa, wajit, minyak kelapa, dodol ketan, darah ayam, air kunyit yang diletakkan di Campan serta gulungan daun teureup (sukun hutan) yang didalamnya terdapat daun mada, daun risi, buah merah/hiba hibak, daun ribu ribu, daun binturung, daun buluh, daun sirih benaik, daun singgae singgae.

Belian (dukun) memulainya dengan membaca mantra yang pada dasarnya adalah doa dan pemujaan kepada Tuhan atas berkah panen padi yang diberikan.

Ayam dipotong di bawah Dulang Campan. Ayam dipersembahkan kepada Tuhan YMK dimana darahnya dikucurkan dibawah Tihang Bekambang di tanah dan di tiang bambu kuning.

Selanjutnya ayam yang telah dipotong itu dibawa ke pondok untuk dimasak dan dimakan bersama. Setelah itu, Belian membawa berbagai bahan sesajian dan gulungan daun ke pondok/rumah dan disimpan di dekat lumbung padi.

Sesajin diletakkan di dekat lumbung padi di rumah/pondok. Selanjutnya para tetua kampung dan Belian membaca mantra-mantra yang isinya adalah rasa syukur dan permohonan keselamatan pada Tuhan YMK atas berkah dan panen padi yang melimpah dan dapat dimakan oleh anggota keluarga dengan selamat, demikian Mustari.

Dayak Kapuas Lestarikan Budaya Do Dange Kanayan

Pontianak, Kalbar - Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu melestarikan budaya Do Dange Dayak Kanayan yang menjadi salah satu upacara adat masyarakat dayak Kanayan kabupaten tersebut dalam mensyukuri berkat dan rizki yang telah diberikan sang pencipta setiap tahunnya.

"Kami dari pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada masyarakat yang masih mempertahankan serta menjunjung tinggi adat dan budaya. Pasalnya, bangsa yang besar selalu menjunjung tinggi adat dan budaya," kata Wakil Bupati Kapuas Hulu, Agus Mulyana, Minggu.

Menurut dia, sebagai masyarakat berbudaya tentu harus mempertahankan adat dan istiadat yang sudah dititipkan oleh para pendahulu.

Dia menjelaskan, Do Dange merupakan wujud syukur kepada pencipta, bahwa selama setahun bekerja diberikan berkat. Baik mereka yang berprofesi sebagai petani atau pun lainnya.

"Sebagai masyarakat adat, kita juga memberikan rasa syukur kepada tuhan. Acara seperti ini mesti dilestarikan," katanya.

Dalam kegiatan Do Dange itu, dikemukakannya, begitu banyak ritual adat yang dilakukan, di mana, dari setiap ritual yang dilakukan memiliki makna tersendiri.

"Kalau menyimak rangkaian ritualnya, kalau bisa kedepan disertai dengan penjelasan, karena tamu yang datang masih belum mengerti maknanya. Apalagi dlam waktu tidak lama lagi PLB Badau akan dibuka, sehingga mungkin saja banyak warga Malaysia atau Serawak pengen menonton acara-acara seperti ini," katanya.

Ke masa depannya, lanjut Agus, perlu dipikirkan membuat kalender khusus perayaan Do Dange itu sehingga setiap tahunnya dapat digilir pusat penyelenggaraannya.

Namun, ia menilai, acara semacam itu harus diselingi dengan pameran kerajinan, agar tamu-tamu bisa mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sehingga ini bisa menjadi masukan pendapatan bagi masyarakat.

"Kalau dilihat, pada upacara ini banyak dilakukan ibu-ibu yang sudah tua. Kedepannya perlu dipikirkan juga dilakukan remaja atau muda-muda, sehingga acara-acara seperti ini bisa diteruskan oleh generasi penerus," tuturnya.

Mengubur Kepala Kerbau Akhiri Ritual Mamapas Lewu

Palangka Raya - Mengubur Kepala kerbau (mimbul kuluk metu) di Bundaran Besar Palangka Raya akhiri ritual adat suku Dayak mamapas lewu (membersihkan kota dari bencana dan marabahaya) yang digelar Pemerintah Kota dalam rangka pergantian tahun.

Basir (rohaniawan), Uak D Lejon di Palangka Raya, Minggu menuturkan, menanam kepala kerbau bermakna persembahan terakhir yang merupakan sesaji kepada leluhur penguasa bumi yang sudah menjaga alam semesta. "Daging juga dibuat sesajian untuk leluhur di alam semesta, kepala khusus untuk bumi," kata Uak.

Sebelum kepala kerbau dikubur, tanah galian disemprot terlebih dahulu dengan minyak wangi dan di dalam tanah juga ikut dimasukkan telur ayam kampung satu biji, ketan bercampur beras merah dan dua ketupat kecil yang sudah masak.

Mimbul kuluk metu merupakan salah satu rangkaian ritual mamapas lewu dengan berjalan keliling kota bertujuan menghilangkan segala musibah (tolak bala) agar tidak menimpa Kota Cantik Palangka Raya khususnya dan Kalimantan Tengah (Kalteng) pada umumnya.

Ritual tersebut dilakukan selama tiga hari tiga malam dipimpin lima orang basir yang merupakan orang terpilih yang mempunyai hati bersih dan suci, karena arwah leluhur akan masuk menyatu ke dalam raga rohaniawan. "Jadi menjadi basir tidak sembarang orang, karena memang harus benar-benar khusus orang terpilih," tegasnya.

Ia berharap dengan ritual tersebut Kalteng selalu aman dan damai. Masyarakat terlepas dari segala musibah dan hidup sejahtera.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Palangka Raya yang juga ketua panitia, Trecy Anden mengatakan, kegiatan tersebut selalu dilakukan dalam setiap menjelang pergantian tahun. "Ini untuk menjaga agar kota kita tetap aman damai dan terhindar dari malapetaka dan marabahaya," katanya.

Wali Kota Palangka Raya HM Riban Satia memberi apresiasi kepada pihak penyelenggara karena dari tahun ke tahun pelaksanaannya terlihat ada kemajuan dan inovasi diiringi diskusi dengan para tokoh agama dan budaya yang lebih memahami masalah tersebut.

Dengan demikian, ujarnya, budaya Kalteng umumnya dan masyarakat Dayak khususnya bisa menunjukkan eksitensi dan memberi nilai kultur yang tetap bertahan pada posisi tradisionalnya.

"Meskipun dipoles dengan nilai-nilai teknologi dan kreativitas seni yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tetapi tidak meninggalkan nilai lokal dan budaya," ucapnya. 

Dayak dan Falsafah Yang Membumi

Pontianak, Kalbar - "Adil ka`talino bacuramin ka`saruga basengat ka`jubata", mungkin asing terdengar bagi sebagian orang. Namun kata-kata itu, seperti sudah menyatu dalam jiwa sebagian besar warga Dayak di Kalimantan Barat.

Kalimat tersebut, sering kali menjadi sapaan pembuka dalam suatu acara atau pertemuan, baik resmi maupun tidak di Provinsi Kalbar. Bahkan Gubernur Kalbar, Cornelis, selalu memulai sambutannya di depan tamu dan undangan dalam suatu perhelatan resmi dengan sebaris kalimat tersebut.

Misalnya saja, saat akan memberikan sambutan dalam pembukaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat VIII dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-39 di Sentra Bisnis A Yani Mega Mall Pontianak, Selasa (31/5).

Acara tersebut dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono. Cornelis, dengan percaya diri menggunakan salam khas suku Dayak tersebut.

"Adil ka`talino bacuramin ka`saruga basengat ka`jubata", lantas dibalas sebagian tamu yang paham, dengan perkataan "Arus..., arus..., arus" Itulah "salam" Dayak.

Tepatnya lagi, sebuah falsafah yang kini semakin populer di kalangan masyarakat Kalbar. Sebaris kalimat yang tidak jarang disebut sebagian orang sebagai salam Dayak tersebut, kini selalu dikumandangkan dalam setiap perhelatan yang melibatkan masyarakat adat Dayak.

Ketua Harian Dewan Adat Dayak Kalbar, Yakobus Kumis, membenarkan bahwa sebaris kalimat tersebut merupakan falsafah hidup masyarakat Dayak.

Diambil dari Bahasa Kanayatn, yakni bahasa yang biasa digunakan warga Dayak "Ahe" yang bermukim di Kabupaten Pontianak, Landak, Bengkayang dan kini di Kota Pontianak.

"Adil ka`talino" artinya harus bersikap adil kepada sesama manusia. "Bacuramin ka`saruga" artinya kita harus bercermin, berpandangan hidup seperti perkataan baik di surga. "Basengat ka`jubata" bahwa kehidupan manusia itu tergantung kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lantas, dijawab dengan teriakan "Arus, arus, arus" (sebanyak tiga kali), yang artinya "amin", atau pun "ya", "terus-terus mengalir" (seperti air) dan "terus hidup".

"Intinya, kita harus bersikap adil dan berbuat adil kepada sesama manusia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa," katanya.

Menurut Yakobus Kumis, sebaris kalimat tersebut tidak muncul begitu saja. Melainkan melalui olah pikir sejumlah tokoh Dayak dan dibahas dalam suatu pertemuan. Dia menyebut tiga nama tokoh Dayak yang menjadi perumus sehingga lahirnya falsafah tersebut.

Mereka adalah Bahaudin Kay, Ikot Rinding, dan RA Rachmat Sahudin. Baik Bahaudin Kay maupun Rachmat Sahudin kini telah meninggal dunia. Sementara Ikot Rinding, sejak lama tidak muncul ke muka publik karena sakit.

Falsafah itu dikukuhkan pertama kali dalam Musyawarah Adat Naik Dangau pertama tahun 1985 di Anjungan, Kabupaten Pontianak.

Kata "Auk" yang semula menjadi perkataan sahutan (menjawab) salam tersebut, oleh Dewan Adat Dayak Kalbar pada tahun 2002, diganti menjadi "Arus" dan diucapkan sebanyak tiga kali.

Agaknya karena alasan tidak bermakna, selain berarti "Ya" (dalam bahasa percakapan sebagian warga di Kalbar) maka digantilah kata "Auk" itu menjadi "Arus".

Dalam perkembangannya, sejak Musyawarah Nasional Kedua Dewan Adat Dayak se-Kalimantan pada Juni 2006, falsafah tersebut ditetapkan menjadi salam Dayak secara nasional.

Pada 8 Agustus 2010 "Adil ka`talino bacuramin ka`saruga basengat ka`jubata" menjadi falsafah hidup bagi masyarakat Dayak sedunia yaitu pada saat peluncuran Borneo Dayak Forum di Kuching, meliputi Kalimantan, Kuching (Sarawak), Sabah dan Brunei Darussalam.

Maria Goreti, mantan jurnalis yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah RI menganggap falsafah hidup tersebut merupakan spirit yang berasal dari Tuhan.

Menurut dia, falsafah hidup atau sikap batin paling dasar tersebut memiliki arti adil kepada manusia, bercermin di surga, napas semuanya tergantung kepada Tuhan.

"Spirit, jiwa atau pun semangat itu berasal dari Tuhan," katanya.

Secara harfiah atau arti kata yang paling mendasar adalah "keadilan bisa diwujudkan di bumi dan di surga". Di mana pun, manusia harus dapat berlaku adil, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk hidup seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Dia mengaku terkesan dengan falsafah tersebut sejak pertama kali ditetapkan sebagai pandangan hidup masyarakat Dayak. Falsafah itu merupakan kesepakatan yang lahir agar ada harmonisasi antara manusia dan alam.

Ada harmonisasi antarmakhluk yang hidup di bumi, karena sama-sama hidup di bumi atau membumi. Menurut dia lagi, falsafah hidup itu dirumuskan oleh sejumlah tokoh Dayak dalam suatu pertemuan. Mereka adalah Bahaudin Kay, Ikot Rinding dan RA Rachmat Sahudin.

"Tetapi saya rasa, masih ada yang lainnya, termasuk Laurentius Bakweng yang dari Sungai Ambawang (Kabupaten Pontianak)," kata mantan wartawan majalah Kalimantan Review, sebuah majalah pemberdayaan masyarakat adat Dayak di Kalbar itu.

Falsafah itu lahir tidak hanya dalam sekali pertemuan para tokoh perumus tersebut. Tetapi melalui pertemuan yang berulang, sampai lahirlah kalimat yang tampak membumi atau menyatu dengan alam tersebut.

Para perumus Maria Goreti yang kini hari-harinya lebih banyak dihabiskan di Jakarta itu, mengenal secara dekat salah satu tokoh perumus falsafah tersebut, yakni Bahaudin Kay yang berasal dari satu kampung dengannya di Pahauman, Kabupaten Landak.

"Beliau biasa disapa Bapak Elen, dalam tradisi masyarakat Dayak, seorang laki-laki yang sudah menikah dan punya anak, maka dalam kehidupan sehari-harinya akan disapa dengan panggilan nama anak tertuanya," kata Maria.

Kegiatan sehari-hari Bahaudin Kay saat masih hidup, adalah menjadi hakim pada sidang adat. Misalnya saja ketika ada laki-laki Dayak duduk berduaan "mojok" dengan perempuan yang sudah memiliki suami. Maka laki-laki dan perempuan itu akan kena hukum adat yang konsesinya dalam bentuk tempayan dan harus dibayar.

"Jika mojok, `sumbang mata` hukumannya itu," kata dia. Dan menjadi tugas Bahaudin Kay sebagai `timanggong` untuk memberikan hukuman kepada pelaku pelanggar adat.

Sementara RA Rachmat Sahudin dikenal sebagai mantan anggota DPRD dari kabupaten dan provinsi Kalbar selama 5 periode. Terakhir, sebelum tutup usia pada 13 Agustus 2009, Rachmat Sahudin duduk sebagai anggota DPRD Kalbar periode 2009-2014.

Menurut Maria, tokoh Dayak tersebut pernah menyatakan "Adil ka`talino bacuramin ka`saruga basengat ka`jubata" memiliki makna yang sangat dalam.

"Tidak boleh ada ketidakadilan di muka bumi ini. Adil bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada alam," kata Maria, mengutip pernyataan yang pernah disampaikan pria kelahiran Apo, Menjalin, Kabupaten Landak.

Rachmat Sahudin pernah menyatakan, alam sebagai tempat yang dihormati. "Makna ini yang hebat. Yang saya pahami. Tetapi sayangnya falsafah itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris," katanya.

Tokoh lainnya, Ikot Rinding, menurut beberapa sumber pernah menjadi anggota MPR RI Utusan Daerah periode 1999-2004. Kemudian Laurentius Bakweng, pernah bersama-sama Ikot Rinding duduk sebagai anggota DPRD Kalbar.

Bagi Maria yang merupakan generasi muda Dayak, falsafah "Adil ka`talino bacuramin ka`saruga basengat ka`jubata" dapat dipopulerkan dalam pertemuan-pertemuan umum karena tidak bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Menurut dia, slogan tersebut hendaknya dipublikasikan bukan hanya untuk masyarakat Dayak tetapi juga untuk masyarakat luas. Karena jika itu dihidupkan terus niscaya Kalbar akan selalu aman.

"Jika bisa begitu, bagus sekali. Saya terbiasa mengucapkannya," kata perempuan Dayak tersebut.

Maria mengakui masih banyak generasi muda Dayak sendiri yang tidak memahami falsafah tersebut. "Susahnya tradisi kita oral (lisan) dan jarang dituliskan. Sehingga banyak yang tidak paham," katanya.

Sebagai salah satu generasi muda, ia meyakini meski banyak distorsi (penyimpangan atau pemutarbalikan) tetapi falsafah tersebut mempunyai nilai dan makna, salah satunya harus berlaku adil kepada semua makhluk, sehingga setiap yang mendengarkan salam tersebut, selalu mengingatnya.

"Tidak terkalahkan," kata Maria Goreti.

-

Arsip Blog

Recent Posts