Tampilkan postingan dengan label Kupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kupang. Tampilkan semua postingan

Pemerintah Dukung Tradisi Tangkap Ikan Paus Lamalera

Kupang, NTT - Pemerintah mendukung upaya pelestarian budaya menangkap ikan paus oleh masyarakat Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tradisi unik ini digelar rutin dan menjadi perhatian khalayak dalam dan luar negeri. "Pemerintah menginginkan agar budaya penangkapan ikan paus di Lembata tetap lestari sebagai keunikan yang tidak dimiliki oleh masyarakat mana pun di belahan dunia," kata Asisten Deputi Budaya, Seni dan Olahraga Maritim Kemenko Maritim Kosmas Harefa di Kupang, Kamis sore, 29 September 2016, seperti dilansir Antara. Dia mengatakan aktivitas menangkap ikan paus merupakan kekayaan budaya bahari yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian masyarakat dan nilai-nilai luhur sehingga harus dipelihara. "Semua itu harus dilihat sebagai kekayaan yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan aspek lain seperti pariwisata yang mampu mendatangkan keuntungan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat," kata dia. Untuk itu, kata dia, pihaknya tengah menggagas seminar internasional tentang ikan paus yang direncanakan akan diadakan pada Oktober ini. "Seminar ikan paus ini dilakukan untuk mengangkat budaya tersebut ke permukaan sehingga bisa diketahui oleh masyarakat dari berbagai belahan dunia," ucap dia. Untuk itu, pihaknya menargetkan akan menghadirkan ahli atau pemerhati lingkungan dari Australia, Selandia Baru, tokoh adat dan masyarakat Lamalera, pemerintah pusat dan daerah, dan juga berbagai elemen masyarakat lainnya. Kosmas berharap, dengan mengangkat budaya menangkap ikan paus tersebut menjadi perhatian masyarakat dunia nantinya Lamalera dan budayanya menjadi destinasi wisata unggulan. Dia menambahkan, pemerintah pusat saat ini pun tengah gencar mengembangkan potensi pariwisata alam dan budaya masyarakat di berbagai daerah hingga ke pelosok. "Untuk NTT tahun ini sudah mendapat juara untuk pariwisata dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia. Kita dorong agar budaya menangkap ikan paus ini juga ke depan menjadi destinasi wisata unggulan di daerah tersebut," ucap dia.

Sumber: http://regional.liputan6.com

Ada Festival Budaya Lamaholot di Alor Expo X Kalabahi

Kupang, NTT - Tahun ini Pemerintah Daerah Kabupaten Alor kembali menggelar event tahunan Alor Expo X di Kalabahi.

Namun, event kali ini akan lebih berbeda dengan event sebelumnya. Sebab pada Alor Expo X, selain ada penampilan Alor Karnaval III, kunjungan peserta Sail Indonesia, Alor Expo juga menggelar Festival Budaya Lamaholot.

Hal ini disampaikan Bupati Alor, Amon Djobo, pada jumpa pers Bupati Alor bersama puluhan media massa, di Aula Rapat Kantor Dinas Pariwisata dan Kreatif NTT, belum lama ini.

Lewat Expo Alor ini, kata Bupati Alor, Amon Djobo, pemda juga ingin menduniakan Alor dari sisi pariwisata, potensi ekonomi dan juga potensi-potensi lokal yang mengangkat harkat dan martabat orang Alor di pentas nasional dan regional.

Expo Alor yang berlangsung selama empat malam, akan memamerkan potensi lokal, ekonomi berdaya saing mulai kelompok usaha, BUMN/BUMD serta pemerhati-pemerhati yang menyambut baik digelarnya event ini.

Sumba Perlu Diperkenalkan Lewat "Tour de Sumba"

Kupang, NTT - Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur yang sarat dengan berbagai macam objek wisata perlu juga diperkenalkan kepada dunia internasional lewat olahraga bersepeda keliling Pulau Sumba atau Tour de Sumba.

"Tour de Flores kan sudah digelar, dan tahun ini akan ada lagi Tour de Timor, maka perlu juga ada Tour de Sumba, karena Sumba juga memiliki beragam macam objek wisata yang memiliki nilai jual tinggi di mata wisatawan mancanegara," kata anggota Komisi V DPRD Nusa Tenggara Timur Yunus Takandewa kepada Antara di Kupang, Kamis.

Ia mengatakan Komisi V DPRD NTT terus mendorong para bupati di empat kabupaten yang ada di Pulau Sumba untuk mempersiapkan event pariwisata tersebut "Tour de Sumba".

Takandewa menambahkan "Tour de Sumba" sudah sempat dibicarakan oleh para anggota dewan dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD NTT, Rabu (20/7).

"Kami berharapkan bupati Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat daya bisa duduk bersama untuk membicarakan rencana kegiatan dimaksud karena sudah mendapat dukungan politis dari DPRD NTT," katanya.

Menurut dia, Pulau Sumba memliki banyak keindahan alam dan budaya yang patut mendapat tempat untuk dipromosikan sebagai destinasi wisata unggulan di NTT bagi wisatawan mancanegara.

Karena itu, tambahnya, kegiatan Tour de Sumba merupakan sebuah pilihan yang tepat untuk mempromosikan kekayaan pariwisata di Pulau Sumba kepada dunia internasional lewat para peserta dari berbagai negara yang terlibat dalam agenda olahraga tersebut.

"Even tersebut bisa disinergikan dengan festival tenun ikat, parade kuda sandelwood, dan juga adanya budaya Pasola yang menarik untuk dikunjungi," katanya.

Dia mengatkan bahwa hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat yang sudah menyambut baik dan siap dengan rencana tersebut, sementara Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya masih dalam koordinasi.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan Pulau Sumba memiliki potensi pariwisata yang istimewa, baik itu wisata alam maupun budaya.

"Salah satu wisata alam yang sangat cantik ialah Pantai Nihi Watu di Sumba Barat ditambah kekhasan corak tenun ikat, dan juga budaya atraksi berkuda Pasola yang sudah tersohor hingga ke mancanegara itu," katanya kepada Antara yang dihubungi secara terpisah.

Pantai Nihi Watu salah satu destinasi wisata terpopuler di Sumba yang terkenal karena keindahan dan kebersihannya yang terpilih ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016 yang diadakan pihak Jakarta melibatkan semua provinsi di Indonesia.

Yunus Takandewa mengatakan untuk bisa merealisasikan rencana tersebut maka pemerintah daerah perlu menyiapkan daerahnya sehingga bisa layak dikunjungi oleh wisatawan.

"Salah satunya kesiapan infrastruktur penting di perahatikan di daerah seperti air, jalan, listrik, perhotelan, kuliner, dan lainnya," katanya.

Ia berharap, rencana "Tour de Sumba" bisa direalisasikan dan tidak hanya mempromosikan sektor pariwisata yang dimiliki Pulau Sumba namun juga mampu menggerakan ekonomi masyarakat sehingga sepenuhnya bisa dinikmati oleh masyarakat lokal.

Sambut Sail Indonesia, Kupang Gelar Festival Budaya

Kupang, NTT - Pemerintah Kota Kupang menggelar festival budaya daerah untuk menyambut para peserta Sail Indonesia yang akan datang dan singgah di wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir Juli hingga awal Agustus ini.

"Festival budaya itu akan kita gelar di Pantai Kopan di Kelurahan La Lais Besi Kopan (LLBK) saat kedatangan peserta sail nanti," kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang Ester Muhu kepada Antara di Kupang, Kamis (21/7/2016).

Menurut dia, selain festival budaya, Pemerintah kota Kupang juga akan mementaskan sejumlah olah raga tradisional seperti permainan 'gala asin' dan sejenisnya untuk meraimakan lokasi dekat tambatan kapal layar 'yatch' para sailor nanti.

Selain itu, untuk anak-anak para peserta Sail Indonesia yang dimungkinkan ikut hadiri kegiatan itu, akan disugguhkan sejumlah permainan anak-anak daerah unik dan melibatkan anak-anak di daerah ini. "Selain menghibur kita juga mau memperkenalkan sejumlah permainan khas unik anak-anak di daerah ini," kata Ester tanpa merinci jenis permainan unik itu.

Secara kelembagaan Kota Kupang, lanjutnya, sangat siap menyambut para peserta Sail Indonesia itu, karena sudah saban tahun dilakukan dan Kota Kupang menjadi salah satu tempat singgahan para sailor dengan 'yatch'-nya masing-masing.

Nyeri Pinggang, Waspadai Kondisi Batu Ginjal
Menurut Ester, untuk Sail Indonesia 2016 ini akan hadir sedikitnya 40 kapal layar (yatch) dan akan melabuhkan diri di pantai Kota Kupang di Kelurahan LLBK.

Seperti biasa Pemerintah Kota Kupang akan menyambut para peserta dan menyapanya dalam seremoni 'gala dinner' dan selanjutnya menyampaikan sejumlah lokasi wisata yang ada untuk bisa didatangi dan dikunjungi.

"Termasuk kuta juga mempersiapkan para pengrajin dan penenun dengan segala hasilnya untuk nantinya bisa dikunjungi oleh para peserta sail tersebut," katanya.

Wali Kota Kupang Jonas Salean terpisah mengatakan, secara kelembagaan pemerintah sangat siap menyambut para peserta Sail Indonesia itu.

Kegiatan Sail Indonesia yang saban tahun dilakukan itu sudah menjadi agenda tahunan untuk Pemerintah Kota Kupang, sehingga sangat mudah dipersiapkan untuk kelancaran penyambutannya.

"Kalau tidak salah ini yang ke-12 peserta Sail Indonesia mampir di Kota Kupang dan karena itu pemerintah dan masyarakatnya sudah sangat familiar dengan kegiatan ini," katanya.

Tenun Ikat NTT Bersaing Dalam Peta Seni dan Budaya Dunia

Kupang, NTT - International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden University dan Textie Research Center (TRC), The Netherlands, bekerja sama dengan Dekranasda NTT mengadakan workshop selama dua hari yaitu 31 Mei hingga 1 Juni 2016 di TRC, Leiden, Belanda.

Workshop tenun ikat yang berlangsung di Leiden, Belanda, ini merupakan workshop berkelas internasional karena dihadiri delapan negara, termasuk Indonesia. Tujuan workshop ini adalah untuk melakukan studi akademis tentang menenun dan pewarnaan tenun ikat Nusa Tenggara Timur.

Workshop di Leiden kali ini merupakan tindak lanjut dari workshop internasional tentang Tenun Ikat yang pernah diselenggarakan di Pulau Ndao, Kabupaten Rote Ndao, pada Oktober 2012 lalu.

Kala itu, kegiatan tersebut dilaksanakan atas kerja sama IIAS dan Dekranasda NTT. Kegiatan itu bertema Tenun Ikat sebagai warisan budaya dalam pembangunan yang berkesinambungan di NTT.

Tahun ini, tim Dekranasda NTT yang menghadiri undangan IIAS dan TRC dalam workshop ini dipimpin langsung Lusia Adinda Lebu Raya selaku Ketua Dekranasda NTT. Anggota timnya berjumlah lima orang, antara lain Bunga Anne Marlyn (Sekretaris Dekranasda NTT), Rosalin Chandra (staf Dekranasda) dan tiga pengrajin tenun ikat NTT yaitu Sariat Tole, Dortje Lusi, dan Wilhelmintje Ratu.

Yetty Van Der Made-Haning, melalui surat elektronik kepada Timor Express (JPNN Group), Sabtu (4/6), mengatakan, workshop yang berlangsung dua hari tersebut, berjalan dengan baik. Peserta yang hadir berasal dari Amerika, Australia, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Indonesia, Portugal dan juga Belanda.

Kegiatan workshop ditangani langsung oleh ketiga pengrajin. “Masing-masing memperagakan dan menjelaskan tentang teknik-teknik dasar yang penting dalam proses pembuatan tenun ikat NTT,” kata Yetty.

Disebutkan, Sariat Tole sebagai seorang ahli pewarna alam, menjelaskan soal pewarnaan. Sariat sendiri merupakan penemu 201 macam pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan dan binatang laut. Pada kesempatan itu ia secara detail menjelaskan soal teknik meracik warna alam.

Sedangkan Wilhelmintje Ratu dari Tenun Ikat Jula Huba menjelaskan dan memeragakan cara mengikat benang mengikuti desain motif, cara menenun dan lain-lain. Selanjutnya, Dortje Lussi, yang lebih dikenal dengan Ina Ndao, menjelaskan dan mendemonstrasikan cara memasang benang pada alat tenun dan teknik menenun.

Menurut Yetty, seluruh proses menenun mulai dari membersihkan kapas, memintal benang, mengikat benang, pewarnaan, pengeringan hingga menenun dan menyelesaikan satu tenunan ditunjukkan dan diajarkan dalam dua hari workshop tersebut.

“Peserta yang hadir juga langsung mempraktikkan teknik-teknik yang dijelaskan dengan mengikuti petunjuk dari ketiga pengrajin,” kata Yetty.

Menurutnya, workshop berjalan secara praktis dan komunikatif. Para peserta antusias bertanya dan langsung mencoba teknik-teknik menenun.

Selain itu, diadakan juga pameran untuk mempromosikan dan menjual hasil-hasil tenunan, baik dari ketiga pengrajin maupun pengrajin lainnya yang dibawa oleh Dekranasda NTT. Pameran ini berlangsung di showroom TRC, Leiden selama tiga hari, sejak dimulainya kegiatan workshop pada 31 Mei hingga sehari setelah kegiatan yakni 2 Juni 2016.

Disebutkan, workshop ditutup dengan resepsi bersama pada 1 Juni petang waktu setempat. Hadir dalam resepsi ini para pejabat dari institusi terkait, seperti Direktur IIAS, Dr. Philippe Peycam bersama Pembantu Direktur IIAS, Willem Vogelsang dan Direktur TRC, Dr. Gillian Vogelsang-Eastwood. Hadir pula Duta Besar Indonesia untuk kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

Yetty mengatakan, pada resepsi ini, baik pihak IIAS maupun TRC memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada delegasi Dekranasda NTT, terutama kepada ketiga pengrajin dengan keahlian mereka telah mewakili NTT di Belanda. Undangan dari berbagai lembaga dan instansi terkait maupun pencinta tekstil terutama tekstil Indonesia juga hadir dalam resepsi ini.

Menurutny, seluruh rangkaian acara diakhiri dengan kunjungan delegasi Dekranasda NTT ke Museum Tekstil (Textile Museum) di Kota Tilburg, Belanda, pada 3 Juni 2016. Selain itu, dalam rangkaian kegiatan workshop di Leiden ini, Ketua Dekranasda NTT, Lusia Adinda Lebu Raya, bertemu dengan pihak IIAS dan TRC untuk membicarakan beberapa program penting terutama dalam rangka melanjutkan studi-studi akademik dan penelitian tentang tenun ikat NTT.

Program-program lanjutan dari berbagai aspek diharapkan dapat dilakukan pada waktu mendatang dan juga upaya peningkatan mutu, produksi, manajemen, hak paten, pasar, dan lain-lain.

Ia menjelaskan, program-program yang dibicarakan memiliki tujuan agar tenun ikat sebagai warisan budaya NTT terus dilestarikan ke generasi penerus, sebagai aset dalam perbaikan ekonomi pengrajin dan pembangunan daerah. Selain itu, tenun ikat NTT juga dapat bersaing di dunia internasional dan mengambil bagian dalam peta seni dan budaya dunia.

Lembata dan Maumere Memukau Saat Pentas Seni Budaya

Kupang, NTT - Pada hari pertama di malam pentas seni budaya yang digelar di Jambore Tagana Daerah NTT, ditampilkan oleh lima kontingen yaitu dari kabupaten Lembata, Timor Tengah Selatan, Sikka, Manggarai Timur dan Malaka.

Dari penampilan kelima kontingen, kata Koordinator Tagana NTT, Irvan Mega, semuanya tampil maksimal, namun persiapan matang dan tampilan yang mononjol serta memuka para penonton ialah kontingen Lembata dan Sikka.

Kontingen Sikka menampilkan tarian Waibuan Sibulamen.

"Tarian tersebut ialah tarian kegembiraan yang selalu ditampilkan pada saat upacara adat atau pesta dengan menunjukkan kegembiraan," kata dua orang peserta asal Sikka, Nining dan Ita.

Tarian yang ditampilkan kontingen Sikka merupakan kolaborasi antara tarian tradisonal dengan menggunakan musik tradisional serta tarian kreasi moderen.

Delapan orang penari, yang terdiri dari empat perempuan dan empat laki-laki ini tampil sangat maksimal.

Tak kalah bagusnya juga ditampilkan oleh, kontingen asal Lembata yang mempersembahkan Tarian Hedung.

Tarian tersebut ialah tarian campuran yang menceritakan tentang bagaimana tagana bisa dibentuk. Tarian ini dibawakan oleh 9 penari perempuan.

Masyarakat Adat Perlu Diakomodir Dalam Kebijakan Pembangunan

Kupang, NTT - Pengamat hukum dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Karolus Kopong Medan SH.MHum mengatakan persoalan lahan yang menjadi kendala bagi para investor selama ini, karena pemerintah tidak mengakomodir kepentingan masyarakat adat dalam kebijakan pembangunan.

"Kita semua tahu bahwa hampir sebagian besar lahan di wilayah Nusa Tenggara Timur ini adalah tanah ulayat, milik masyarakat adat. Namun, peran masyarakat adat diabaikan begitu saja oleh pemerintah dalam menata kebijakan pembangunan," katanya kepada Antara di Kupang, Rabu.

Kandidat kuat Dekan Fakultas Hukum Undana Kupang mengemukakan pandangannya tersebut ketika ditanya soal hambatan investasi di NTT, dimana salah satu kendalanya adalah hak kepemilikan atas lahan tersebut.

Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Undana Kupang ini mengatakan kebijakan pembangunan di daerah, tidak cukup dengan hanya mengakomodir kepentingan para investor, dan di sisi lain, justru mengabaikan peran masyarakat adat dalm kebijakan pembangunan.

Ia menambahkan antara pemerintah, investor dan masyarakat adat harus dilibatkan dalam setiap kebijakan pembangunan di daerah, guna mengeliminasi atau meminimalisir persoalan lahan yang menjadi hambatan investasi selama ini.

"Masyarakat adat harus diikutsertakan dalam pembangunan tersebut, dengan menjadikan lahan investasi itu sebagai saham agar mereka pun pun ikut menikmati hasil dari kegiatan inverstasi tersebut," ujarnya.

Dengan demikian, kata Kopong Medan, persoalan lahan yang menjadi kendala investasi selama ini, dapat terpecahkan dengan baik.

"Pemerintah seharusnya bisa merubah arah kebijakan pembangunan di daerah ini dengan melibatkan masyarakat adat yang menjadi pemilik tanah ulayat dimaksud," katanya.

Akibatnya ketika para investor ingin berinvestasi, muncul klaim atas kepemilikan lahan tersebut yang berakibat pada ketidaknayamanan investor untuk membuka usahanya di daerah itu.

Lebih lanjut Karolus yang juga merupakan pembantu Dekan ini mengatakan kepentingan masyarakat adat ini penting untuk diperhatikan, karena kendalah utama yg menjadi penghambat pembangunan adalah lahan yang selama ini dikuasai oleh masyarat adat.

"Konflik-konflik pembangunan yang ada di NTT selama ini lebih banyak didominasi oleh persoalan lahan. Contohnya seperti pembangunan dan pelebaran bandara, pembangunan bendungan, pelebaran jalan selalu menjadi kendala hanya karena sengketa," tururnya.

Karolus menilai selama ini pemerintah baik provinsi dan daerah lebih fokus untuk mengakomodir kepentingan pemerintah dan pihak investor semata, tanpa melihat betapa pentingnya peran dari masyarakat adat tersebut. Padahal keberadaan masyarakat adat dalam penguasaan dan pengolahan lahan tersebut sudah diklaim sebagai tanah ulayat.

Melihat hal tersebut maka menurutnya perlu ada kebijakan pembangunan yang mampu mengakomodir kepentingan masyarakat adat yang selama ini terabaikan perannya. Pemerintah daerah sendiri harus memperhatikan tiga kepentingan sekaligus termasuk kepentingan masyarakat adat sebagai pemilik lahan.

"Kalau perlu lahan yang dikuasai oleh masyarakat adat itu menjadi modal bagi masyakat dalam kolaborasi antara pemerintah, investor, serta masyarakat adat," ujarnya.

Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Kupang pada 27-28 Desember 2015 lalu juga mengakui masalah lahan di NTT sering menjadi kendala masuknya investor untuk menanamkan modalnya.

Presiden Jokowi memandang penting untuk mendiskusikan persoalan tanah dengan para kepala suku dan tokoh-tokoh masyarakat setempat guna mencari jalan pemecahannya, agar bisa menggiring para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia Timur.

Beri Makan Laut Jadi Agenda Tahunan di Namosain Kupang

Kupang, NTT - Hari Senin, 23 November 2015 pukul 12.00 Wita, langit di Namosain cukup cerah. Matahari memancarkan sinar menusuk kulit. Angin sepoi di Pantai Namosain menjadi penyejuk bagi warga yang hadir di lokasi tersebut. Untuk pertama kalinya mereka menggelar ritual adat memberi makan laut. Ritual yang diharapkan menjadi agenda tahunan di Kota Kupang.

Pada momen bersejarah itu hadir Walikota Kupang, Jonas Salean, para asisten Sekda Kota Kupang, kepala dinas, camat dan lurah, tokoh adat dari empat etnis besar di Kelurahan Namosain. Juga ratusan warga Kelurahan Namosian dan sekitarnya yang memadati pantai tersebut. Empat etnis, yakni Timor, Rote, Solor dan Buton-Bajo.

Tujuh Negara Ikut Festival Budaya Melanesia

Kupang, NTT - Tujuh negara ikut ambil bagian pada Festival Budaya Melanesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama lima hari, yakni sejak 26 hingga 30 Oktober 2015.

"Tujuh negara itu terdiri atas Papua Nugini, Timor Leste, Fanuatu, New Kaledonia, Salomon Island, dan tuan rumah Indonesia," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sinun Petrus Manuk, kepada wartawan di Kupang, Kamis (8/10).

Dia mengatakan, sudah ada kepastian dari tujuh negara kelompok Melanesia untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan itu. Sementara untuk Indonesia, ada lima provinsi yang masuk dalam kelompok budaya Melanesia.

Lima provinsi yang juga akan hadir dalam festival tersebut, masing-masing, Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur, selaku tuan rumah. Dia mengatakan, ada sebelas kabupaten yang sudah menyiapkan diri untuk mementaskan budaya daerah masing-masing, yakni Malaka, Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kupang, Alor, Lembata, Sikka, Ende, Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Terkait persiapan tersebut, Pemerintah Nusa Tenggara Timur menggelar rapat pemantapan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Polhukam, dan Kementerian Luar Negeri di Jakarta. "Rapat nanti akan membahas peran masing-masing kementerian dalam kegiatan tersebut sekaligus rapat pemantapan kegiatan," katanya.

Dalam agenda dan rancangan kegiatan yang disediakan, lanjut dia, kegiatan tersebut akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Kupang.

Selanjutnya, dilakukan simposium yang menghadirkan sejumlah pembicara yang mewakili masing-masing negara peserta.

Pembicara yang mewakili Indonesia, kata dia, adalah Pater Dr Gregorius Neonbasu, SVD yang merupakan antropolog dan pakar Melanesia. "Terhadap rohaniwan Katolik itu, juga menjadi pilihan Kemendikbud karena kepakarannya," kata mantan kepala dinas sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

Kegiatan lainnya selama festival itu, peserta akan menikmati pemutaran film Melanesia di Aula El Tari. Selain itu, mengunjungi Museum Negeri Kupang dengan 7.000-an koleksi yang mirip enam negara lainnya di Pasifik Selatan.

Kegiatan lainnya adalah temu budaya di Taman Budaya NTT dengan pentas budaya Melanesia. "Semua rencana kegiatan itu sudah disediakan dan tinggal dilaksanakan pada hari pelaksanaannya," katanya. Dia berharap ada dukungan dari seluruh pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Kupang, yang adalah tuan rumah langsung pelaksanaan kegiatan ini.

NTT Gelar Festival Budaya Lamaholot

Kupang, NTT - Tiga kabupaten di Nusa Tenggara Timur menggelar festival Budaya "Lamaholot" di Lewoleba, Kabupaten Lembata yang diikuti oleh masyarakat Lamaholot mulai dari Solor, Flores Timur Daratan, Adonara, Lembata dan Alor.

"Festival budaya Lamaholot yang digelar bersama oleh Kabupaten Flores Timur, Lembata dan Alor itu ini untuk tetap mempertahankan budaya Lamaholot yang satu dan sama antara masyarakat Watan Lema (lima pulau) yang tergabung dalam masyarakat Lamaholot," kata Kepala Seksi Pasar dan Informasi Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Diparektif) Nusa Tenggara Timur, Nani Carvallo, kepada Antara dari Lembata, Senin (28/9/2015).

Festival yang akan berlangsung 28-30 September 2015 itu katanya dilakukan untuk tetap mempererat persatuan diantara warga Lamaholot sendiri dan tetap mempertahankan dan melestarikan budaya Lamaholot

Karena itu jauh hari sebelumnya sudah diagendakan dengan baik antara pemerintah kabupaten Lembata, Flotim dan Alor, karena itu festival ini dan Pemerintah tiga Kabupaten memberikan dukungan penuh untuk kegiatan tersebut.

Dia mengatakan, salah satu acara yang dirancang dalam Festival Budaya Lamaholot itu adalah parade Budaya Lamaholot keliling kota Lewoleba pada awal pembukaan yang akan digelar sekitar pukul 15.00 WITA, setelah dibuka Bupati Lembata.

"Semua peserta memakai pakaian khas daerah masing-masing sambil memperagakan budaya dan seni masing-masing pulau," katanya.

Ketika parade budaya itu berlangsung, katanya akan ada paralayang yang selalu mengitari parade itu dari udara. Tim paralayang itu sudah siap dan mereka akan datang meramaikan Festival Budaya Lamahlot tersebut.

"Keragaman seni dan budaya masyarakat Flores Timur dan Lembata di ujung timur pulau Flores dan Alor itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga setempat dan wisatawan nusantara dan mancanegara," katanya.

Karena itu, suksesnya kegiatan festival ini sangat bergantung dari partisipasi warga Lembata dan Flores Timur dan Alor dalam memperkenalkan berbagai bentuk seni dan budaya, termasuk menunjukan hasil karya kreatif dari masyarakat kedua kabupaten ini.

“Kita akui sejauh ini potensi seni dan budaya masyarakat ketiga kabupaten ini belum dikelola secara baik sehingga belum menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.

Sebelumnya kata dia, telah dilangsungkan Festival Lamaholot di Jakarta pada 6 Juni 2015 digagas oleh Kerukunan Keluarga Flores Timur (Tite Hena) bersama Paguyuban Keluarga Besar Lembata (KBL) dan puncaknya pada hari ini.

Flores Timur dan Lembata dan Alor merupakan tiga kabupaten yang memiliki kesamaan sejarah, budaya,dan bahasa bahkan warganya memiliki jalin kekeluargaan yang sangat dekat. Kesamaan yang mempersatukan ketiga kabupaten ini sering dikenal dengan sebutan Lamaholot.

"Ini momentum bagi seluruh masyarakat Lamaholot untuk menggali dan bersama-sama memperkenalkan potensi wisata Lamaholot baik alam maupun budayanya sebagai sebuah kekayaan yang dapat memberi nilai manfaat bagi kehidupan masyarakat,¿ katanya.

Tim Kesenian Riau Tampil Membanggakan di Kupang

Kupang, NTT - Tim Kesenian Provinsi Riau tampil membanggakan di ajang Temu Karya Taman Budaya seIndonesia di Nusa Tenggara Timur, Kupang pada Kamis malam (10/9 lalu. Tim kesenian yang langsung dibawa oleh UPT Museum dan Taman Budaya Provinsi Riau itu membawakan sebuah garapan kolaborasi antara seni musik, tari, teater dan sastra.

Tampil di panggung terbuka yang lebih tepatnya berada di area Taman Budaya Kupang itu, Tim Seni Budaya Riau mengusung tema besar, Riau sebagai tanah tumpah darah Melayu (Homeland of Malay). Oleh karena itu seni pertunjukan yang berdurasi sekitar 30 menit itu membawakan ragam kekayaan seni dan tradisi yang ada di Riau.

Di panggung yang kira-kira berukuran 15 x 10 meter itu, di antara tiup angin kencang, tim seni Provinsi Riau memulai pertunjukan dengan garapan musik yang diarensmen oleh Afdal. Konsep garan tentu saja berangkat dari kekayaan seni tradisi yang ada, sehingga tak heran kemudian di dalam garapan musik pembuka itu terdengar syair dan senandung khas Riau.

Sementara itu, dari unsur seni,dihadirkan pula zapin tradisi. Empat orang penari zapin asal Meskom yang berproses di Sanggar Tengkah Zapin, menarikan tarian kebangaan mereka di hadapan ratusan penonton yang hadir.

Dalam pada itu, sebuah fragmen singkat dari teater,disuguhkan pula kisah Raja Kecik yang diperankan oleh aktor-aktor dari Provinsi Riau, Monda Gianes dan kawan-kawan. “Namun ke semua unsur garapan itu menyatu dalam judul besar Menggapai Kemuliaan,” jelas pimpinan rombongan, Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Dinas Pendidikan Provinsi, Sri Mekka.

Lebih jauh disebutkan Mekka, helat Temu Karya Taman Budaya ini dimaksudkan terjadinya keterbukaan ruang komunikasi budaya melalui seni pertunjukan. Disamping itu dapat pula menjadi dialog-dialog kreatif antara sesama pelaku seni se-Indonesia melalui karya-karya yang dipentaskan. “Agenda ini memang dilakukan setahun sekali yang menghadirkan sanggar atau komunitas yang dibina oleh Taman Budaya sei-Indoensia,” ujar Sri Mekka.

Lebih lanjut disebutkan Mekka, perhelatan akbar yang dihadiri oleh kementrian kesenian dan juga petinggi dan pejabat negeri NTT itu juga dapat dijadikan ajang di mana masing-masing kita bisa menghargai keanekaragaman budaya yang ada di Republik Indonesia ini. Kata Mekka lagi,budaya merupakan identias sebuah bangsa yang diturunkan dan diwarisi turun temurun dari pendahulunya. Budaya juga menembus berbagai dimensi ruang,dari masa ke masa sehingga pemaknaanya dapat ditindak lanjuti.

“Dengan demikian, helat ini juga sebagai upaya penggalian dan pelestarian terhadap nilai-nilai tradisi sehingga ke depannya dapat menjamin pola pelestarian yang diperlukan. Itulah saya kira temu karya taman budaya ini menjadi penting karena sesuai dengan topoksi dari Taman Budaya dalam hal pembinaan,” ujarnya lagi.

Sementara itu, usai penampilan,tim kesenian Riau mendapat sambutan hangat dari penonton yang hadir. Tepuk tangan bergemuruh sebagai bukti apresisasi yang baik dari tetamu yang hadir, dari tim kesenian dari provinsi lainnya. “Alhamdulilllah, penampilankita dari Riau cukup membanggakan dan mendapat sambutan hangat dari para hadirin yang hadir. Meskipun sebelumnya kitamendapat kesulitan dalam keberangkatan ke NNT diakibatkan kabut asap, tapi dengan tampilan yang memuaskan ini, tentunya dapat mengobati semua kesulitan yang dihadapi,” ujar Kasi Taman Budaya, Efie Andrani.

Salah seorang apresiator asal Kupang, Mirsak Toy usai pertunjukan mengatakan, pementasan dari tim kesenian Riau mantap. “Menarik, karena ada banyak unsur seni yang terdapat di dalamnya. Saya sangat suka toh, tim kesenian dari Riau, mantap,” ucapnya dengan logat khas NTT yang dalam kesempatan itu juga, dia mengaku sangat menyenangi pantun dan mengagumi Raja Ali Haji itu.

Lumpen NTT Gelar Konser Musik dan Festival Budaya NTT

Kupang, NTT - Dewan Pengurus Lumbung Pemuda Nusantara (LUMPEN) NTT akan menyelenggarakan Festival dan Konser Musik Budaya bersama Ivan Nestroman di GOR Flobamora Oepoi Kupang, Sabtu (13/6/2015). Konser ini dilakukan sebagai aksi serta upaya kampanye integritas kaum muda dan keterlibatan kaum muda dalam mengembalikan kearifan lokal budaya NTT.

Ketua Lumpen NTT, Agustinus Budi Utomo Gilo Roma, S.Pd, didampingi sekertarisnya, Yoan BW Niron, dalam keterangan pers kepada wartawan di Gedung Olahraga (GOR) Flobamora Oepoi Kupang, Kamis (11/6/2015) malam, mengatakan, dalam festival ini juga akan menampilkan pameran, yakni pameran batu akik, aneka stand kebudayaan NTT, tarian-tarian daerah NTT, festival tenun ikat motif terpanjang NTT dan pameran fotografi dan lukisan budaya NTT.

Bedi Roma mengatakan, Lumpen NTT adalah lembaga seni dan budaya yang terdiri dari perkumpulan komunitas seniman dengan prespektif ekonomi kreatif.

Dimana, katanya, semua orang bisa hidup dari karya seni masing-masing, baik seni lukis, seni tari, seni peran dan sebagainya. Dan, Lumpen NTT sebagai sebuah wadah baru di NTT even pertama yang dilakukan adalah festival dan konser mudik budaya NTT.

Ia mengatakan, dalam persiapan panitia sudah 24 komunitas di seni di Kota Kupang yang akan terlibat.

"Komunitas seni lukis akan lebih banyak dalam mengikuti pameran dan yang unik adalah pameran tenun ikat terpanjang dari motif Sabu dengan panjang 39 meter," katanya.

Ia mengatakan, Ivan Nestorman akan berklaborasi dengan Jurusan Sendratasi FKIP Unwira Kupang.

Kegiatan ini, ujarnya, merupakan kerja sama dengan empat universitas di Kota Kupang, yakni BEM Undana, Unwira Kupang, Stikom Uyelindo dan FKIP UKAW Kupang, yang didukung oleh Dinas P dan K Propinsi NTT, Dispora NTT, dan Dinas Pariwisata Propinsi NTT.

Panitia menarik tiket masuk untuk kegiatan konser ini, yakni Rp 100.000 untuk umum. Saat ini, panitia sudah melepas 500 undangan, dan masih terbuka untuk semua masyarakat Kota Kupang terutama orang muda.

Kegiatan ini, katanya, bertujuan mempromosikan budaya NTT, mengajak pemuda untuk mencintai budaya NTT, dan memberi nilai edukasi kepada para siswa di Kota Kupang.

Juli 2015, Kabupaten Alor Gelar Festival Pariwisata Bahari

Kupang, NTT - Pemerintah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan menggelar Festival Pariwisata Bahari pada Juli 2015 untuk mewujudkan Kabupaten Alor sebagai kabupaten yang memiliki potensi ekonomi kemaritiman dan pariwisata yang layak dikembangkan.

"Potensi ekonomi kemaritiman dan pariwisata yang mencolok di Kabupaten Alor adalah taman dasar laut yang indah dan bersih, pantai yang pasir putih dan alamiah dan budaya dan kerajinan serta keunggulan pariwisata di Alor kecil tepatnya di Pulau Kepa," kata Bupati Alor, Amon Djobo, ketika dihubungi dari Kupang, Minggu (24/5/2015).

Dalam festival bahari ini akan digelar berbagai tradisi nelayan Alor untuk memperkenalkan budaya dan keunikan-keunikan kehidupan laut para nelayan.

"Para warga nelayan dari berbagai daerah di NTT akan hadir dengan berbagai perlengkapan perabot perahu untuk melakukan berbagai atraksi yang menggambarkan tradisi kehidupan laut orang Alor," katanya.

Selain itu dalam festival tersebut juga akan ditampilkan budaya masyarakat pesisir, tarian-tarian dan atraksi-atraksi seni budaya dan pangan lokal. "Ini semata mau mengangkat masyarakat nelayan. Ini pesta nelayan yang pertama kali diadakan di NTT yang akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun," katanya.

Obyek Wisata ini dipilih lokasi Pulau Kepa sebagai lokasi Festival Bahari, karena Pulau Kepa adalah salah satu obyek wisata pantai terindah di Alor.

Menurut Amon Djobo, Festival Bahari ini akan dihadiri juga oleh berbagai tamu pemerintahan baik dari Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi dan para wisatawan asing maupun lokal. "Ini momentum kebangkitan pariwisata Alor. Karena itu, kami akan mengundang semua pihak terkait untuk menyaksikan Festival Bahari ini semata-mata lebih memperkenalkan potensi pariwisata Alor di Indonesia, Asia dan dunia Internasional," katanya.

Momentum bersejarah ini harus dipromosikan ke dunia internasional. Jadi saya sebagai pencetus kegiatan ini meminta dukungan semua pihak untuk memberi perhatian terhadap pembangunan pariwisata Alor," katanya.

Saat ini pembangunan infrastruktur untuk kemajuan pariwisata di Alor terus dilakukan. Oleh karena itu, lanjut Amon Djobo, pihaknya meminta dukungan dari semua pihak, baik DPR, Pemerintah Pusat dan Provinsi NTT, pengusaha/pelaku pariwisata dan terutama seluruh warga Alor.

Mantan Ketua Bappeda Alor itu mengatakan pantai di Pulau Kepa, menawarkan kelegaan bagi mereka yang penat dengan keriuhan. Pulau ini memiliki hamparan pasir putih selembut tepung dan lautan biru jernih yang jauh dari keramaian. "Memandang laut di Alor dari pantai Pulau Kepa, ketenangan terasa menenteramkan jiwa," katanya.

"Lautan jernih terlindung dalam barisan perbukitan kokoh di pulau-pulau sekitarnya. Gelombang kecil mengalun lamban bersama perahu-perahu nelayan yang sesekali melintas, ikan-ikan sebesar betis pun tak enggan bermain hingga ke bibir pantai," katanya.

Dia menyebut Pulau Kepa berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Kalabahi dan dapat ditempuh dalam waktu 10 menit berperahu motor dari Dermaga Alor Kecil.

Dari Bandara Kalabahi di Alor, Pulau Kepa masih berjarak 1,5 jam perjalanan dengan mobil dilanjutkan dengan perahu.

"Pulau Kepa ibarat dunia yang terlupakan oleh laju peradaban. Sentuhan modernitas masih begitu minim. Tak ada jalan beraspal, kendaraan bermotor, atau pun warung yang menjual makanan. Penduduknya pun masih sedikit," katanya.

Perairan Pulau Kepa masuk dalam taman laut Teluk Mutiara yang merupakan salah satu kawasan taman laut terindah di dunia dengan kekayaan keanekaragaman hayati biota laut terbaik di dunia.

Musik Sasando akan Masuk Kurikulum Muatan Lokal Sekolah

Kupang, NTT - Alat musik tradisional Sasando yang telah menjadi ikon Nusa Tenggara Timur akan dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal (Mulok) di sekolah-sekolah di Rote, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Rote Ndao Melkias Rumlaklak, Sabtu.

Melkias mengatakan sebagai alat musik yang aslinya berasal dari Rote, Sasando harus terus dikembangkan, dan diajarkan kepada generasi muda melalui pelajaran-pelajaran muatan lokal di sekolah.

"Alat musik ini sudah ada sejak abad ke-7 namun sampai saat ini alat musik tersebut baru bisa dimainkan oleh segelintir orang," katanya.

Ia menjelaskan saat ini sudah ada beberapa yang mempunyai kemampuan memainkan alat musik tersebut untuk membuka kursus-kursus memainkan alat musik Sasando di Kupang, dan sudah mulai ada perkembangan.

"Sayang sekali kalau alat musik ini sampai hilang begitu saja dan tidak diwariskan secar turun temurun kepada generasi muda NTT. Apalagi sekarang sudah dikenal di dunia internasional," tambahnya.

Oleh karena itu, kata pria yang disapa Melky tersebut, pada 2016 nanti pihaknya akan bekerjasama dengan semua instansi di Rote Ndao untuk mulai memasukan alat musik tersebut dalam ekstra kurikuler muatan lokal di sekolah-sekolah Rote Ndao.

Hal ini juga menurutnya bagian dari mempromosikan pariwisata Rote Ndao sendiri dan menjaga agar kebudayaan Rote Ndao tidak hilang dan terus menurut diajarkan kepada generasi muda.

"Hal ini telah direncanakan dan pada 2016 nanti dapat terlaksana," tuturnya.

40 Eks Anggota DPRD Kupang akan Diperiksa

Kupang - Sebanyak 40 mantan anggota DPRD Kabupaten Kupang masabakti 1999-2004 akan diperiksa Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur dalam dugaan kasus korupsi dana penunjang kegiatan dewan tahun anggaran 2004 sebesar Rp 1 miliar.

Menurut Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati NTT, Hartadi, yang ditemui detikcom di kantornya di Kupang, Jumat (14/1/2005), pihaknya telah menjadwalkan waktu pemeriksaan para anggota dewan.

Dijelaskan, enam mantan anggota dewan telah berstatus tersangka, termasuk mantan anggota dewan yang saat ini menjadi Wakil Bupati Kupang, Ruben Funnay. Sedangkan satu orang lainnya akan diperiksa oleh mahkamah militer karena masih berstatus anggota TNI aktiv, Z. Tule.

Tim penyidik Kejati NTT yang beranggotakan tujuh orang kini sedang mempersiapkan berkas pemeriksaan dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Tim ini dipimpin Kepala Tata Usaha Kejati NTT Herman da Silva.

Menurut Hartadi, berkas-berkas yang berkaitan dengan dugaan korupsi sudah dikantongi jaksa penyidik. Berdasarkan bukti sementara ditemukan adanya penggelembungan dana penunjang operasional DPRD senilai Rp 2,9 miliar lebih.

"Dari dana tersebut sebanyak Rp 1 miliar dibagikan kepada 40 anggota dewan masing-masing Rp 25 juta untuk kepentingan pribadi dan bukan kepentingan umum. Seharusnya dana penunjang operasional hanya berkisar Rp 400 juta karena pendapatan asli daerah Kupang sangat minim," jelasnya.

Di samping itu pada saat penetapan anggaran DPRD menggunakan peraturan pemerintah No.110/2002 tentang Kedudukan Keuangan DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Padahal PP tersebut sudah dicabut Mahkamah Konstitusi dan dinyatakan sudah tidak berlaku lagi. (gtp)

Sumber: Detik, 14 Januari 2005

Pengusutan Korupsi Pejabat di Kupang Jalan di Tempat

Kupang - Pengusutan terhadap pejabat di Kupang yang diduga korupsi dinilai sangat lambat, bahkan seperti jalan di tempat. Di Kupang, walaupun sudah lebih dari 10 orang dimintai keterangan terkait dugaan korupsi di Pemerintah Kota Kupang, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), sama sekali belum menjadwal pemeriksaan Wali Kota SK Lerik. Dugaan korupsi di Kupang itu terjadi pada dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2002-2003 Rp 1,4 miliar.

Direktur Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) NTT Sarah Lery Mboeik, Senin (10/1) di Kupang, menilai kinerja penyidik di Kejari Kupang sangat lamban dan mengecewakan. Dia mendesak penyidik untuk mempercepat pengusutan dan dilakukan secara transparan.

Dugaan korupsi di Pemerintah Kota Kupang bermula dari investigasi dan analisis kritis PIAR NTT dan Indonesia Corruption Watch (ICW) Jakarta terhadap APBD Kota Kupang tahun 2002-2003.

Pelaksana Harian Kepala Kejari Kupang T Soegyanto dan Kepala Seksi Intelijen Kejari Oscar Douglas yang ditemui di kantornya tidak bersedia memerinci perkembangan penyelidikan kasus itu. Mereka juga tidak bersedia menyebut berapa orang yang sudah dimintai keterangan.

"Pada prinsipnya, kami ingin agar pengusutan kasus ini berlangsung transparan dan diketahui publik. Sekarang ini masih pada tahap penyelidikan atau masih pengumpulan data, dan bersifat rahasia, belum pada tahap penyidikan. Jika sudah matang, baru akan dijelaskan," kata Soegyanto.

Soegyanto mengakui, kinerja jaksa penyidik sangat lamban mengusut kasus dugaan korupsi itu. "Jika ada yang mengatakan demikian, ya… memang. Saya melihat penilaian itu sebagai cambuk agar jaksa mempercepat pengusutan kasus itu," katanya.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah memerintahkan seluruh penyidik untuk tidak main-main dalam penyelidikan kasus ini. "Saya minta penyidik untuk serius. Kalau tidak begitu, ya minggir saja. Saya telah menginstruksikan agar proses penyelidikan dipercepat," tuturnya. (cal/zal/evy)

Sumber: Kompas, 11 Januari 2005

Kupang Gelar Bazaar Budaya Akhir Tahun

Kupang, NTT - Gagasan untuk terselenggaranya kegiatan bazaar ini sangat gemilang dan kondusif karena sejalan dengan program Gubernur NTT. Gubernur tidak ingin NTT tertinggal dengan daerah lain. Gubernur NTT tidak mau daerah dikatakan miskin. Kita harus dan terus maju."

Demikian disampaikan Asisten III Setda NTT, Drs. Klemens Mebah, M.M, ketika membuka acara Bazaar Kupang Waterpark di halaman Kupang Waterpark, Sabtu (6/12/2014) malam.

Bazaar yang digelar, katanya, untuk membangun potensi sumber daya alam, seperti pangan lokal, budaya-budaya tenun daerah NTT dan lainnya. Panggung sudah ada, silakan berkompetensi dan pamer di sini agar orang mengenal bahwa NTT memiliki potensi- potensi yang bagus. Di sinilah tempat untuk berkreasi.

"Kegiatan ini merupakan inovasi besar akan semangat besar dan kemauan bersaing yang tinggi. Kita tidak boleh kalah dengan yang lain. Semoga kegiatan ini mendapat respon dari semua kalangan. Mari bahu-membahu menyusukseskan bazaar ini sebagai ajang promosi, meningkatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia," katanya.

Ide pelaksanaan event bazaar akhir tahun di Kupang Waterpark adalah membangun optimisme masyarakat NTT khususnya masyarakat Kota Kupang terkait HUT ke 56 NTT yang jatuh pada 20 Desember 2014 dan memeriahkan akhir tahun 2014.

Tema yang diangkat, kata Ketua Panitia Yosafat Haryanto, adalah "Mengenal Potensi Sumber Daya NTT menuju NTT Hebat." Melihat dinamika masyarakat yang ada, kata dia, maka pihak Kupang Waterpark membangun kolaborasi antara pencapaian masyarakat dan sarana hiburan yang dikemas dalam event seperti ini. Kupang Waterpark menjalin kerja sama dengan Serikat Perusahaan Pers (SPS) NTT dan Polda NTT.

Bazaar ini akan menggelar KKR yang dibawakan Pendeta Mel Atok, live music DJ, nonton bareng, seni drama, tarian kreasi girl, show artis Trio Macan Ular, pesta kembang api, seminar bertema Menuju Pengakuan Dunia International Unesco terhadap Alat Musik Sasando. Selain itu, pelatihan jurnalistik bagi Humas instansi, TNI dan Polri, malam penganugerahan kepada jurnalis terbaik saat uji kompetensi wartawan yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo dan PWI, penganugerahan kepada resort kepolisian kota/kabupaten dengan tingkat angka kriminalitas terendah 2014.

Pun penghargaan bagi Satlantas kota/kabupaten dengan tingkat angka kecelakaan terendah 2014, pemberian Award kepada pengusaha NTT yang punya kontribusi aktif bagi pembangunan NTT yang dilansir beberapa media massa di bawah payung SPS NTT dan penghargaan bagi putra daerah NTT yang berprestasi membanggakan nama NTT di tingkat nasional tahun 2014.

Ketua SPS NTT, Herry FF Battileo, mengatakan, SPS NTT merasa bahwa potensi sumber daya NTT sangat luar biasa dan besar, budaya dan pariwisatanya telah mendunia. Di sisi lain, potensi sumber daya manusia tak kalah hebatnya. Sekarang orang NTT dapat menghiasi pelataran ekskutif dan legislatif nasional. Ini sangat membanggakan.

Pembukaan bazaar ini dihadiri oleh Owner PT Tirta Wahana Kupang, Ventje Yapola; perwakilan Danrem 161 Wirasakti, Danlanud El Tari Kupang, Danlantamal VII Kupang, Putri Pariwisata NTT, Nola Dona; Forkompinda NTT dan undangan lainnya.

60 Jeep Iringi Pawai Budaya Nusantara

Kupang, NTT - Sekitar 60 mobil jeep mengiringi Pawai Budaya Nusantara yang diikuti 65 delegasi Stasiun Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) dari seluruh Indonesia. Satu jeep membawa perwakilan dari masing-masing provinsi.

Ratusan peserta Lomba Bintang Radio Indonesia & ASEAN memamerkan pakaian adat daerah masing-masing. Pawai mulai dari depan Rumah Jabatan Gubernur NTT dan finis di halaman RRI Kupang.

Pawai dilepas oleh Kepala Biro Humas Setda NTT, Lamber Ibi Riti, mewakili Gubernur NTT; Direktur Utama LPP RRI Pusat, Rosarita Niken Widiastuti; dan Kepala LPP RRI Kupang, Enderiman Butar-Butar, SP, Sabtu (18/10/2014) sore.

Hadir, Dewan Pengawas LPP RRI, Komandan Korem 161/Wira Sakti Kupang, Danlanud, Danlanal Kupang, pimpinan satuan kerja perangkat daerah, Direktur Program dan Produksi LPP RRI Pusat, Kepala TVRI Kupang, para Kepala RRI seluruh Indonesia dan undangan lainnya.

Pawai Budaya Nusantara yang merupakan rangkaian acara Pemilihan Bintang Radio Nasional, diramaikan oleh Drum Band SMA Katolik Giovanni Kupang.

Delegasi dari Medan menjadi perwakilan pertama yang membuka Pawai Budaya Nusantara. Disusul Sibolga, Gunung Sitohing, Banda Aceh, Lokseumawe, Melabo, Tatengah, Ambon, Papua, Bali, Singaraja, Pekanbaru, Jambi, Madiun, Surakarta, Bandung, Jakarta, Maluku, Palu, Bukit Tinggi, Ternate, Kupang, dan lannya.

Pantauan Pos Kupang, walaupun terik menyengat, para peserta antusias mengikuti pawai tersebut. Mereka merasa senang memamerkan pakaian adat mereka di atas mobil terbuka. Berbagai ragam warna, model dari suku dan ras yang berbeda menjadi satu dalam tali persaudaraan Indonesia.

Direktur Utama LPP RRI Pusat, Rosarita Niken Widiastuti, mengatakan, Pawai Budaya Nusantara merupakan salah satu implementasi dari visi dan misi RRI sebagai perekat bangsa.

Di Kupang, NTT inilah, demikian Rosarita, seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke berkumpul untuk saling memahami budaya masing-masing. Para peserta bisa bertemu, berkenalan dan bersilaturahmi di ajang kompetisi ini.

Menurut dia, Pawai Budaya Nusantara telah memberikan hiburan kepada masyarakat Kota Kupang. Terlihat masyarakat tua dan muda antusias menyaksi pawai yang diselenggarakan oleh RRI ini. Rosarita mengatakan, biasanya pawai hanya seputar daerah saja, tetapi kali ini pawai diikuti delegasi dari seluruh Nusantara.

Rosarita menjelaskan, pawai ini bertujuan memperlihatkan kepada masyarakat Kota Kupang ciri khas berbagai daerah dan budaya Indonesia yang begitu kaya. Namun, tetap satu dalam kebersamaan dan persaudaraan.

Seorang penonton, Bella, terlihat antusias menyaksikan arak-arakan peserta Pawai Budaya Nusantara. Bella mengatakan, perlu diadakan pawai seperti ini agar masyarakat Kota Kupang bisa melihat langsung berbagai ragam budaya dari provinsi lain di Indonesia.

Sejumlah Raja Timor Gelar Pertemuan Adat

Kupang, NTT - Sejumlah raja di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 24 Februari 2014, menggelar pertemuan adat dan budaya para wangsa di Kupang. Kegiatan ini sebagai napak tilas kekeluargaan yang telah terjadi selama kurun waktu 200 tahun.

Pertemuan raja-raja ini diprakarsai oleh Raja Teflopo, Meo Naek Mutis, dan Yoseph Aryanto Lu Teflopo yang akan dihadiri juga para Meo, Usif, Amaf Apao Mutis, dan Liurai serta para sahabat Meo Naek Mutis, yaitu sekeseler Wangsa Sunda, Kerajaan Kutai, dan Kerajaan Kertanegara. Juga utusan dari negara-negara sahabat, di antaranya Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Meksiko, Arab Saudi, Spanyol, Cina, dan Mesir.

"Napak tilas ini terjadi atas bimbingan para leluhur dan akan lebih mudah dipahami lewat nilai dasar budaya," kata Ketua Tim Penyelenggara Pertemuan Adat dan Budaya Para Wangsa Felysianus Sanga.

Temu para wangsa ini, menurut dia, dilandasi dalam semangat Neka Mese, Ansao Mese, Silu Selo Kit atau satu hati, satu batin terpadu jadi satu menuju Indonesia jaya. Hal ini berkaitan dengan wilayah kerajaan dalam wilayah administrasi NKRI dan keluarga serta kerabat dari kerajaan yang berasal dari luar wilayah NKRI.

Acara ini, katanya, sangat penting dan strategis dilihat dari sisi sejarah. Sebab, ada pertalian budaya yang erat dari beberapa kerajaan di Indonesia, seperti Wangsa Sunda, Kerajaan Kutai, dan Kerajaan Kertanegara dengan raja-raja di Timor.

Dalam pertemuan ini juga digelar sharing sejarah hubungan Mutis Timor, Lamawolo, dan Wangsa Sunda karena hubungan antar-kerajaan tersebut sudah terjalin sangat lama atau ratusan tahun silam.

Seluruh rangkaian kegiatan acara tersebut bertempat di Sonaf Meo Uf Teflopo di Kota Kupang yang dihadiri Pemerintah Provinsi NTT.

Menko Kesra Lepas Peserta Sail Komodo 2013

Kupang, NTT - Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono melepas 129 kapal layar dari 15 negara peserta Sail Komodo di Pantai Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu, 4 Agustus 2013.

"Sail Komodo ini mengusung semangat pembangunan kelautan, termasuk wisata bahari sesusai dengan tujuan penyelenggaraannya yakni mempromosikan NTT sebagai destinasi utama pariwisata dunia," katanya.

Pelepasan peserta Sail Komodo ini dipusatkan di Pantai Kupang. Agung Laksono selaku Ketua Pengarah Sail Komodo 2013, mengatakan event ini sejalan dengan amanat Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Koridor V yang mencakup Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan NTT.

Menurut dia, pemerintah ingin mengembangkan rute pelayaran kapal-kapal dan pelaut ke perairan NTT. Hal ini terbukti dengan menjadikan Kupang sebagai pintu masuk, karena wilayah ini adalah gerbang selatan perairan Laut Indonesia.

Momentum Sail Komodo 2013 juga, kata Agung, menjadikan NTT sebagai "The Best Sailing Passage". Hal ini mengingat potensi besar yang dimiliki daerah ini baik di sektor kelautan dan perikanan serta sektor pariwisata. "Melalui Sail Komodo 2013 diharapkan potensi kelautan dan perikanan di NTT dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai sumber penghidupan rakyat dan sumber pembangunan daerah yang berkelanjutan," katanya.

Dibaginya dua jalur bagi para yachter yang saat ini sudah ada di Kupang, membuat mereka dapat memikmati eksotisme alam NTT. Harapannya adalah ada dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir yang tinggal di wilayah setempat.

Pada kesempatan itu Agung meminta tiga operator sail yakni Sail Indonesia, Baxck to Down Under Rally dan Darwin Ambon Yacht Rally menghadirkan seluruh sailor pada acara puncak Sail Komodo, 14 September 2013 di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Hadir dalam acara pelepasan sail itu Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu serta pejabat daerah setempat.

-

Arsip Blog

Recent Posts