Inilah Acara di Sail Wakatobi-Belitong

Jakarta - Dalam rangka memeriahkan Sail Wakatobi Belitong (SWB), berbagai acara sudah digelar di kota Wangi-Wangi, Sulawesi Tenggara, sejak 16 Juli 2011. Begitu pula dengan Belitung yang me-launching acara tersebut di Pantai Tanjung Pandan, Sabtu (30/7/2011). Tentu beragam kegiatan menarik juga dilaksanakan untuk menambah semaraknya kegiatan yang bertema "Clean Ocean for the Future" ini.

Selaras dengan tema tersebut, terdapat lima kegiatan utama yang diselenggarakan, yakni Operasi Bahari Surya Baskara Jaya dan International Civic yang dilakukan oleh TNI Angkatan Laut untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau, khususnya yang berkaitan dengan bidang kesehatan.

Kemudian acara Yacht Rally and Race yang diikuti oleh 40 negara dengan mengarungi 21 perairan kabupaten di Indonesia mulai dari Kupang hingga Belitung pada bulan Oktober. Pada saat yang sama juga terlaksana kegiatan Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari. Lalu Seminar nasional dan internasional pada bulan September dan pameran UKM produk perikanan dan kelautan.

Ditambah lagi dengan beragam kegiatan pendukung lainnya, seperti upacara pernikahan bawah laut secara massal, lomba catur dalam laut, gerakan tanam rumput laut, festival film lingkungan internasional, lomba foto dalam air, dan berbagai kegiatan lain di Wakatobi-Belitung yang bersifat konstruktif.

"Kegiatan ini dilakukan untuk menyinergikan berbagai kawasan yang ada, terutama di daerah pulau-pulau terpencil dan kawasan kepulauan dalam rangka mempercepat pembangunan dan kesejahteraan rakyat," ungkap Deputi V Menko Kesra, Sugi Hartanto.

Adapun untuk acara puncak akan dilaksanakan pada 5-12 Oktober 2011 di Pantai Tanjung Kelayang, Belitung. Sementara di Wakatobi berlangsung di Kota Kendari pada 23-29 Agustus. Kedua acara ini juga akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mengenai sarana-prasarana dan infrastruktur serta fasilitas layanan publik di Wakatobi dan Belitung akan terus ditingkatkan. "Apabila daerah berbenah, provinsi mendukung, dan negara juga mendukung. Hal ini tentu akan membantu berbagai hambatan tentu akan terselesaikan," ucap Bupati Wakatobi, Hugua.

Dari tiga dimensi kegiatan yang ada, yaitu olahraga, seni-budaya, dan bakti sosial, ini diharapkan dapat meningkatkan potensi destinasi pariwisata di Wakatobi dan Belitung. "Mudah-mudahan program acara ini bisa berjalan secara optimal untuk mendorong semakin banyaknya wisatawan yang hadir," tutur Kepala Dinas Kominfo Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, KA Tajudin.

Pagelaran Wayang Meriahkan HUT RI di Istana

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono pada Jumat malam menyaksikan pagelaran wayang orang di Istana Negara Jakarta berlakon Banjaran Gatotkaca yang ditampilkan Wayang Orang Indonesia Pusaka pimpinan Jaya Suprana.

Lakon tersebut pernah ditampilkan di Sydney Opera House pada 18 Desember 2010, dan mendapat sambutan yang meriah. Wayang orang tersebut berkisah perjalanan hidup Gatotkaca sejak lahir hingga gugur dalam perang Bharatayudha.

Sejumlah tokoh yang ikut berperan dalam lakon tersebut, antara lain Jero Wacik yang berperan sebagai Batara Guru, Syarifuddin Hasan yang memerankan Batara Panyarikan, Sutiyoso yang memerankan Prabu Kresna, dan Luluk Sumiarso yang memerankan Batara Indro.

Pertunjukan dalam rangka peringatan hari ulang kemerdekaan RI itu dihadiri pula oleh Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati Boediono, para menteri kabinet, duta besar negara sahabat, dan sejumlah undangan lainnya.

Parade Bedug Buka Kampung Ramadhan Jogokaryan

Yogyakarta - Parade bedug keliling Kota Yogyakarta, Sabtu, mengawali dimulainya kegiatan Kampung Ramadhan Jogokaryan Ke-7 yang akan menampilkan sejumlah aktivitas selama satu bulan penuh untuk mengisi bulan puasa.

Sejumlah mobil bak terbuka berisi bedug berukuran besar dan berbagai alat musik lainnya seperti drum dan gamelan yang ditabuh "Bregada Bedug Jogokaryan", menyemarakkan suasana menyambut Ramadhan.

Selain mobil yang membawa bedug berkeliling kota, ratusan warga kampung turut mengiringi parade itu dengan mengendarai mobil pribadi serta sepeda motor.

"Kegiatan Kampung Ramadhan Jogokaryan akan semakin menguatkan citra kampung ini sebagai objek wisata religi," kata Ketua Takmir Masjid Jogokaryan Jazir di sela pembukaan kegiatan itu.

Sejumlah kegiatan yang telah disiapkan dalam Kampung Ramadhan Jogokaryan di antaranya pasar sore di sepanjang Jalan Jogokaryan yang menjajakan aneka makanan dan minuman, pakaian, souvenir, pernak-pernik Islami, yang menampilkan berbagai potensi ekonomi warga.

Selain itu, akan digelar pula lesehan sore yaitu buka puasa yang dikemas dengan berbagai acara menarik seperti "tausyiah humor" dan dongeng anak.

Ada pula "Angkringan Ramadhan", pengajian humor, tabligh dan konser kemerdekaan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang kebetulan jatuh pada bulan puasa.

"Selama bulan puasa, takmir masjid juga akan memberikan subsidi sahur bagi warga yang memerlukan, serta menyediakan buka puasa," katanya.

Ia mengatakan khusus untuk buka puasa, akan disediakan sekitar 1.000 porsi setiap harinya yang berbentuk nasi beserta lauk pauk dan minumannya yang akan dimasak oleh ibu-ibu dasawisma di kampung itu.

"Kami memberikan dana sebesar Rp1,5 juta kepada masing-masing dasawisma untuk memasak lauk pauk buka puasa," katanya.

Untuk menyediakan sekitar 30.000 porsi buka puasa selama satu bulan, diperlukan sekitar 1,2 ton beras, dan 600 kilogram gula pasir.

Total dana yang dianggarkan untuk pelaksanan berbagai kegiatan Kampung Ramadhan Jogokaryan tersebut adalah sekitar Rp256 juta.

Sementara itu, Ketua Panitia Kampung Ramadhan Krisna Yuniar mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk apresiasi dan aktualisasi Masjid Jogokaryan untuk menghidupkan dan menghadirkan Ramadhan dengan nuasan khas, rekreatif sekaligus menghibur namun tidak mengurangi muatan dan kesuciannya.

"Kami berharap, Ramadhan sebagai bulan yang mulia dapat hadir di hati masyarakat dan disambut dengan penuh suka cita sehingga mampu meningkatkan kualitas ibadah dan produktivitas masyarakat secara luas," katanya.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto yang membuka kegiatan itu mengatakan kegiatan ini menjadi bukti bahwa masyarakat di wilayah setempat mampu berdaya, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

"Kegiatan ini sesuai dengan gerakan semangat gotong royong `agawe majune Ngayogyakarta (Segoro Amarto)` yang dicanangkan beberapa waktu lalu untuk mengentaskan kemiskinan," katanya, yang juga berharap masjid bisa menjadi bagian dari pencerahan masyarakat.

"Lampu Pendem" Sambut Malam Ramadhan di Pemalang

Pemalang, Jateng - Warga Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak Minggu sore mulai memasang "lampu pendem" aneka warna di halaman rumah masing-masing untuk menyambut dan menyemarakkan malam Ramadhan 1432 Hijriah.

"Pemasangan `lampu pendem` di halaman rumah sudah menjadi tradisi turun temurun sejak puluhan tahun silam, dan berlangsung hingga malam Lebaran," kata seorang warga Desa Purwosari, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Hadi (43), di Pemalang, Minggu.

Hadi yang sesepuh masyarakat desa setempat itu mengatakan, lampu aneka warna itu disebut "lampu pendem" karena pemasangan lampu minyak tersebut tidak digantung atau ditempatkan di atas meja, namun ditimbun di halaman rumah sebagai lampu penerang sekaligus hiasan menyambut malam Ramadhan.

Selain proses pembuatannya mudah, katanya, bahan pembuatan lampu tradisional tersebut juga sederhana dan banyak terdapat di sekitar rumah, yakni dari botol bekas, sepotong kain berukuran sekitar 2x10 centimeter, tutup minuman ringan, minyak tanah sebagai bahan bakar, dan tempat sabun bekas atau wadah lainnya berbahan plastik.

"Prosesnya sama dengan membuat lampu minyak pada umumnya, yakni botol kaca yang sudah tidak terpakai diisi minyak tanah dan diberi sumbu menggunakan kain, kemudian ditanam hingga leher botol, setelah badan botol tertimbun tanah selanjutnya sumbu dinyalakan lalu tutup minuman ringan yang berbahan aluminium yang sudah diberi lubang pada bagian tengahnya ditutupkan pada bagian atas botol," katanya.

Jika api sudah menyala dan berkedip-kedip karena ditimpa tutup botol, katanya, kemudian bekas tempat sabun yang bagian bawahnya telah dihilangkan, kemudian ditutupkan di lampu tersebut, sehingga selain cahaya yang memacar dari lampu tersebut berubah warna sesuai dengan warna benda plastik yang menutup sekelilingnya, "lampu pendem" juga berkedap-kedip terlihat indah saat malam hari.

"Kalau `lampu pendem` sudah menyala dan kedap-kedip, suasana Ramadhan semakin menjadi semakin semarak," katanya.

Ia mengatakan, lampu khas warga pesisir pantai utara tersebut biasanya dibuat oleh anak-anak menjelang malam Ramadhan, mereka beramai-ramai mencari bahan dan membuatnya bersama-sama.

Seorang warga Kecamatan Ampelgading, Pemalang, Rito (45), mengatakan, sejak lima tahun terakhir tradisi memasang "lampu pendem" di kecamatan tersebut semakin berkurang, karena warga sekarang beralih memasang lampu listrik aneka warna yang lebih praktis.

"Sekitar lima tahun silam, hampir semua rumah warga memasang `lampu pendem` saat malam Ramadhan, namun sekarang hanya beberapa rumah yang memasang lampu tradisional tersebut," katanya.

Ia mengemukakan, selain praktis, warga lebih memilih memasang lampu listrik beragam warna untuk menyemarakan malam bulan suci Ramadhan karena harga minyak tanah mahal.

"Sekarang warga tidak ingin repot menyalakan, mematikan, mengisi minyak tanah jika botol telah kosong, dan menutup lampu dengan plastik jika hujan turun," katanya.

Indonesia Promosi Budaya di Jambore Pramuka Dunia

Kristianstad, Swedia - Indonesia memperkenalkan kekayaan budaya bangsa dalam pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia Ke-22 di Bumi Perkemahan Rinkaby, Kristianstad, Swedia. Indonesia ambil bagian dengan menggelar pameran budaya dan kegiatan menjamu pimpinan perwakilan kontingen tiap negara dalam acara Indonesia Day.

Sejak Jambore Pramuka Dunia dibuka, Indonesia membuka stand pameran yang digagas Kwartir Nasional Gerakan Pramuka bekerjasama dengan Kemneterian Pariwisata dan Kebudayaan.

Indonesia menampilkan warisan budaya tak benda yang telah diakui UNESCO yakni angklung, wayang, keris, dan batik. Permainan tradisional conglak dan gasing juga diperkenalkan. Dipajang pula boneka-boneka berpakaian khas daerah dari 33 provinsi.

Peserta jambore yang hadir ke stand Indonesia diajak untuk membuat batik dan bermain angklung. Mereka yang hadir diberi sertifikat sebagai bukti telah mengikuti kursus membatik dan bermain angklung.

Puncak pengenalan budaya Indonesia ditampilkan dengan menggelar acara Indonesia Day di tenda tamu khusus di Bumi Perkemahan Rinkaby, Minggu (31/7/2011) waktu Indonesia.

Yang menjadi tuan rumah adalah Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar serta Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Malarangeng. Para tamu khusus yang hadir antara lain Ketua Komite Pramuka Dunia Simon Rhee dan perwakilan dari organisasi pramuka wilayah Asia Pasifik.

Dalam kesempatan itu, kontingen pramuka Indonesia untuk Jambore Pramuka Dunia Ke-22 menampilkan beragam pertunjukan seni budaya. Peserta Jambore dari berbagai daerah menampilkan tari-tarian seperti saman dan pukat (Aceh), tongkat (Bangka Belitung) , hingga reog ponorogo (Jawa Timur).

Adapun penampilan yang cukup menyedot perhatian adalah permainan alat musik angklung yang ditampilkan perwakilan dari Jawa Barat. Mereka juga membawakan lagu tema Jambore Pramuka Dunia Ke-22.

Indonesia juga menyajikan makanan tradisional dengan menu sate dan soto. Kepada tamu yang hadir Indonesia menyerahkan souvenir berupa wayang dan angklung untuk tiap perwakilan tiap kontingen.

Pemenang Festival Budaya Melayu 2011

Medan, Sumut - Festival Budaya Melayu yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut, di Atrium Paladium Medan disambut antusias oleh pengunjung. Event yang digelar selama dua hari, Senin-Selasa (25-26/7) diharapkan terus digelar setiap tahun dan ditargetkan menjadi event nasional.

Festival Budaya Melayu yang digelar ini berupa lomba tari Zapin, tari Serampang Dua Belas dan juga Lagu Melayu. Peserta yang ikut dalam Festival ini sebanyak 150 peserta yang berasal dari 10 kabupaten/kota di Sumut, yakni Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Tanjung Balai, Deli Serdang, Asahan, Sergei, Batubara, Labuhan Batu dan Langkat.

Berdasarkan keputusan dewan juri yang terdiri dari penari juga praktisi budaya di Sumut, yakni Jose Rizal Firdaus, Yusnizar Henniwati, Irfansyah, Dilinar Adelin dan Syafrizal, adapun pemenang lomba tari Zapin dalam Festival ini adalah, juara I dari Kabupaten Asahan, juara II, Kota Tebing Tinggi, juara III, Medan, juara Harapan I Deli Serdang, juara Harapan II Serdang Bedagai Juara Harapan III Langkat.

Untuk pemenang tari Serampang Dua Belas berpasangan muda mudi, Juara I diraih Asahan, Juara II, Deli Serdang, juara III Binjai. Pemenang tari Serampang Dua Belas berpasangan mudi-mudi yakni juara I, Deli Serdang, juara II, Sergei dan juara III, Medan.

Pemenang lagu Melayu untuk putra Juara I, Asahan, juara II, Batubara, juara III, Tanjung Balai, harapan I, Deli Serdang, harapan II, Medan dan harapan III, Binjai. Untuk pemenang lagu Melayu kategori Putri, juara I, Medan, juara II Batubara, juara III, Deli Serdang, harapan I, Tebing Tinggi, harapan II, Binjai dan harapan III, Asahan.

"Kriteria penilaian yang kami lakukan terhadap pemenang dalam Festival ini terdiri dari beberapa yakni penampilan, penghayatan, keseragaman dan keserasian," ujar seorang Juri, Jose Rizal Firdaus.

Selain itu juga dinilai dari keserasian berbusana, tata rias dan harmonisasi yang tentunya kata Jose tetap berpedoman pada kultur daerah asal peserta sesuai dengan peraturan lomba.

Penutupan Festival Budaya Melayu yang dihelat oleh Flash selaku event organizer ini juga disemarakkan dengan penampilan tari Melayu juga berbagai lantunan lagu Melayu yang berasal dari sepuluh kabupaten/kota di Sumut. (mc)

-

Arsip Blog

Recent Posts