Maluku Siap Berlaga di "Bintang Gambus"

Ambon, Maluku - Sedikitnya enam artis asal Maluku siap berlaga di pemilihan bintang vokalis gambus tingkat nasional di Jakarta, 21 - 28 November 2012.

"Kami telah merekrut masing-masing satu pasangan putra dan putri untuk berlaga di tiga mata lomba yang dipertandingankan nanti," kata , kata Ketua DPD Lembaga Seni Qasidah (Lasqi) Maluku Ny Retty Assagaff di Ambon, Rabu.

Tiga mata lomba yang diikuti adalah vokal anak putra-putri, vokal remaja putra-putri dan vokal dewasa putra-putri.

"Jadi ini merupakan hasil penjaringan artis terbaik dari Maluku yang siap berlaga di pentas nasional karena sebelumnya telah dibina sejumlah pembina maupun musisi," ujar Ny Retty.

Dia tidak mau sesumbar soal target para artis binaan DPD Lasqi Maluku karena yang terpenting tampil prima mewakili daerah ini.

"Rasanya anak-anak bertekad menyumbangkan prestasi terbaik untuk mengharumkan nama Maluku sehingga dimotivasi untuk tekun berlatih sesuai program para pembina agar tampil prima dan mempesona penonton maupun dewan juri nantinya," ujar Ny Retty Assagaff.

Para duta Maluku itu telah dilepas Wagub setempat, Said Assagaff di Ambon, Selasa (20/11) yang optimitis mereka bakal tampil prima guna menyumbangkan prestasi terbaik untuk daerah ini.

"Saya optimistis karena orang Maluku ini menyanyikan lagu apa saja bisa sehingga kebanggaan itu hendaknya memotivasi enam artis ini agar mengukir prestasi terbaik sehingga terpilih mewakili Indonesia di tingkat regional maupun internasional," katanya.

Wagub juga mengimbau peserta agar mengejar prestasi hendaknya tidak mengabaikan nama baik Maluku.

"Hidup orang basudara (saudara) dibingkai budaya pela dan gandong itu dicerminkan di Jakarta sehingga berbaur dengan sesama anak bangsa Indonesia memelihara stabilitas keamanan nasional maupun Maluku," ujarnya.

27 Grup Ikut Festival Nasyid se-Kalsel

Martapura, Kalsel - Sebanyak 27 grup mengikuti festival Nasyid se Provinsi Kalimantan Selatan yang berlangsung di Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar.

Festival Nasyid tersebut dalam kaitan memperingatimilad atau ulang tahun kesultanan Banjar yang ke - 508 tahun 2012, dekikian Kepala Bagian Pemberitaan Humas Kabupaten Banjar, Sugiyanto, Senin.

Festival yang dibuka Bupati Banjar, Pangeran Gusti Khairul Saleh tersebut memperoleh perhatian warga setempat, sekaligus wisatawan yang datang ke kota santri yang dikenal sebagai daerah berjuluk serambi Mekkah dan kawasan objek wisata keagamaan tersebut.

Menurut Bupati yang sekaligus memangku jabatan sebagai Sultan Banjar tersebut, festival Nasyid tingkat Kalsel merupakan sebuah ajang yang cukup tepat dalam menyalurkan bakat dan kemampuan para remaja di Kalsel, apalagi di dalam sya¿ir Nasyid banyak terkandung pesan-pesan religius yang diharapkan dapat menggugah generasi muda untuk selalu ingat kepada Allah SWT.

Ia berpesan generasi muda menghindari perilaku menyimpang yang saat ini kerap melanda remaja di Indonesia, dan sudah menjadi bagian dari permasalahan nasional dan menuntut penanganan segera.

Penomena tersebut juga menjadi sorotan pemerintah kabupaten Banjar, untuk dicarikan solusi terbaik guna penanganan permasalahan penyimpangan perilaku remaja tersebut dan sedini mungkin dapat dicegah.

Salah satu mencegah perilaku negatif tersebut adalah dengan memberikan ruang serta wadah bagi para remaja dalam mengekspresikan segala bakat, kemampuan mereka kearah yang positif dan di dalamnya dapat diselipkan nilai-nilai budaya, agamis, serta nilai-nilai seni yang kedepan dapat membawa mereka dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Dalam festival Nasyid tingkat Kalsel yang keluar sebagai juara I adalah group nasyid The Sun Voice, juara II group nasyid Al-Hawa, juara III group nasyid D'Mo Voice.

Sementara juara harapan I group nasyid Al-Dhurroh, juara II group nasyid Dur Voice, juara III group nasyid Sweet Mufidhah Smatra.

Para juara mendapat hadiah berupa uang pembinaan, piala bergilir dan piala tetap, piagam serta hadiah hiburan lainnya yang diserahkan oleh Ketua Milad Kesultanan Banjar ke 508 pangeran H. Chairiansyah.

Bupati: Lestarikan Alat Musik "Bambu Gayo"

Banda Aceh, NAD - Penjabat Bupati Aceh Tengah Mohd Tanwier meminta berbagai pihak untuk berperan aktif menyelamatkan alat musik "bambu gayo" dengan mempopulerkan kembali alat musik tradisional itu di masyarakat.

"Di Indonesia bambu banyak digunakan sebagai alat musik tradisional, seperti Sasando di NTT, Saluang Sumbar, Calung dan Angklung di Jabar. Ternyata di dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah) juga menyimpan alat musik dari bambu," katanya di Takengon, Senin.

Namun melalui Kabag Humas Pemkab Aceh Tengah Windi Darsa, penjabat bupati mengatakan, alat musik bambu dari dataran Gayo itu belum populer termasuk ditengah-tengah masyarakat Aceh.

Padahal, katanya, alat musik bambu dari dataran Gayo itu mulai dari suling, bansi, teganing, kecapi dan gerantung tidak kalah menariknya dengan alat musik tradisional lain.

Karena itu, Tanwier mengajak komunitas seni budaya dan warga khususnya Aceh Tengah bersama-sama mempopulerkan kembali alat musik bambu yang telah mengiringi kehidupan masyarakat setempat sejak masa lalu.

Di pihak lain, penjabat bupati menjelaskan festival musik bambu yang mulai digelar diharapkan bertujuan untuk menguatkan komitmen dalam upaya bersama memajukan seni musik tradisional tersebut.

"Alat musik bambu yang kita miliki harus dapat lestari dan memiliki nilai jual baik sebagai alat seni maupun sebagai upaya menarik minat wisatawan," katanya menambahkan.

Pemerintah mendukung upaya menggali dan melestarikan nilai seni dan budaya. "Karena saya yakin melalui seni dan budaya maka terpancar nilai-nilai luhur, makna, karakter serta pranata hidup yang telah lama melekat dalam masyarakat Gayo di Aceh Tengah," katanya menambahkan.

"Masyarakat kita dahulu membangun kehidupan dan kebersamaan melalui seni dan budaya miliki. Kita semua tentu menginginkan nilai-nilai dan karakter tersebut menjadi bagian dari kehidupan sekarang," kata dia mengharapkan.

Tari Tortor Dipengaruhi Nyanyian Opera Batak

Balige, Sumut - Perkembangan tari tortor dipengaruhi nyanyian tumba (gerak tari bersifat minimalis) dalam seni opera Batak, yang banyak dipertunjukan pada 1920 hingga tahun 1980.

"Tari tortor, masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan seni lakon pada opera Batak," kata budayawan Thompson Hs di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Minggu.

Saat ini, tortor kreasi baru dipengaruhi rekaman musik gondang atau instrumen Barat. Representasinya telah banyak digantikan alat musik elektronik untuk mengiringi tarian tradisi tersebut.

Menurut pendiri Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Sumatera Utara itu, beberapa perubahan dalam pola dan gerak tortor telah terjadi melalui kebijakan interaksi kebudayaan dan peran perguruan tinggi, yang mungkin bisa disebut sebagai modernisasi tortor.

Sebagai tarian tradisional Batak, secara umum istilah tortor digunakan di daerah Angkola-Mandailing, Simalungun, dan Toba pada sub kultur (sosio-antropologis) Batak.

"Di daerah Karo, tari tortor dikenal dengan landek dan di wilayah Pakpak, Dairi disebut tatak," ujar Thompson.

Tortor merupakan tarian tradisi yang digunakan di wilayah sub-kultur Toba secara administratif, mencakup Samosir, Toba Holbung, Humbang, dan Silindung, serta ditemukan juga di sekitar lingkar luar Danau Toba.

Dikatakannya, musim Tortor di daerah Batak Toba, terkait dengan berbagai upacara, di antaranya pendirian `huta` (perkampungan) dan `horja bius` (konfederasi kampung dalam kaitan tanah dan pertanian).

Selain itu, terkait dengan adat (pernikahan, orang meninggal) dan penyembuhan penyakit (Tortor Sibaso dan Tortor Saem), kepemimpinan spiritual (Hamalimon) serta konteks hiburan, yakni tari tumba sebagai pemicu kreasi baru dalam pertunjukan opera Batak dalam zaman transisi.

Pola dan gerak dalam Tortor Toba dikenal dengan urdot, yakni gerak turun naik badan dengan bertumpu di tumit (bukan jinjit) dan lenggang badan ke kanan dan ke kiri dengan posisi tangan sejajar atau dengan gerak tertentu disebut eol.

"Tortor terikat dengan spiritual, moral adat, dan instrumen yang sudah ada serta merupakan bagian tidak terpisahkan dari gondang Batak," kata Thompson.

21 Sanggar Ikuti Lomba Tari Kreasi Tabot

Bengkulu - Sebanyak 21 sanggar mengikuti lomba tari kreasi Tabot dalam rangka memeriahkan Festival Tabot di Lapangan Merdeka Kota Bengkulu pada 15-25 November 2012.

"Sebanyak 21 sanggar seni di daerah ini mengikuti lomba tari kreasi Tabot dalam rangka memeriahkan Festival Tabot di Lapangan Merdeka pada 1-10 Muharram atau 15-24 November 2012," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bengkulu Kemas Zaini di Bengkulu, Minggu.

Pada hari pertama, Jumat(16/11), tampil 10 sanggar yang mengikuti lomba tari kreasi Tabot 2012.

Mereka yang tampil terdiri atas Sanggar Duo Perkusi, menampilkan tari jari-jari, Sanggar Puspa Kencana menampilkan tari tabot bekabung, Sanggar Cilik menampilkan tari arak jari-jari, dan Sanggar Fadillah menampilkan tari lenggok meradai.

Sanggar Cilik menampilkan tari perang badar, Sanggar Gabe menampilkan tari menabu ari, Sanggar Gatra B menampilkan tari menating, Sanggar Anggrek Bulan menampilkan tari coki-coki, Sanggar Watassi menampilkan tari fisabilillah, dan Sanggar Muaro Rafflesia menampilkan tari tabot tebuang.

Pada hari kedua, Sabtu (17/11), tampil 11 peserta yakni Sanggar Arastra Kelurahan Lingkar Barat, Rossika dari Pondok Besi, Pasir Putih dari Lempuing, Muaro Rafflesia dari Pasar Bengkulu, dan Salsabila dari Kebun Ros.

Peserta lainnya, Sanggar Gatra dari Kelurahan Tengah Padang, Puspa Kencana dari Sukamerindu, Gratil dari Pondok Besi, Jessica dari Penurunan, Universitas Bengkulu, dan Prameswara dari Anggut.

Kepala Seksi Pengembangan Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bengkulu Teti Rukmayati mengatakan, lomba tari diiringi musik Dol tersebut dilakukan pukul 20.00 WIB hingga selesai, dan dinilai oleh tiga orang juri khusus tari serta tiga juri khusus musik Dol.

Kriteria penilaian meliputi penataan, penampilan, keserasian, hingga kolaborasi musik.

"Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas para seniman di daerah ini sehingga Kota Bengkuliu semakin banyak memiiki jenis tarian untuk ditampilkan dalam berbagai acara," katanya.

Para dewan juri akan menetapkan enam pemenang yakni juara pertama sampai dengan harapan ketiga. Setiap pemenang akan diberikan hadiah dan piagam penghargaan.

Upacara tabot dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Bengkulu untuk menyambut Tahun Baru Hijriah dan memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW bernama Husien di Padang Karbala Irak.

Tabot yang berarti peti mati adalah lambang peti yang berisi jenazah Husien yang diarak masyarakat Bengkulu pada hari ke-10 menuju pemakaman Karabela yang mencerminkan kawasan Karbala di Irak.

Lembaga Budaya Perlu Maksimalkan Tortor

Balige, Sumut - Budayawan Thompson mengemukakan, lembaga budaya lokal perlu memaksimalkan fungsinya untuk memikirkan pelaksanaan latihan tari tortor dan gondang Batak, karena kesenian tradisional tersebut merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan kelestariannya.

"Tortor dan gondang merupakan bagian tidak terpisahkan serta memerlukan perhatian seluruh kalangan, terutama lembaga kebudayaan lokal, seperti lembaga adat dalihan natolu," kata budayawan Thompson Hs di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Jumat.

Lewat para akademisi, menurut Pendiri Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Sumatera Utara di Pematangsiantar itu, pihak pemerintah perlu membuat kebijakan terkait tortor dan gondang melalui peraturan daerah sebelum ditampung dalam undang-undang kebudayaan yang masih dalam proses pembentukan draf.

Sejak 1920 hingga 1980, kata dia, etnis Batak di wilayah Sumatera Utara pasti masih mengenal seni pertunjukan Opera Batak, dengan unsur-unsur tradisi instrumen musikal gondang dipadukan tarian tortor dalam gerak tari bersifat minimalis melalui tumba dari awal hingga akhir pagelaran.

Gondang Batak merupakan salah satu karya seni musik yang sangat kaya dan menjadi kekaguman bagi dunia, karena repertoarnya yang beragam memenuhi segala kebutuhan seni yang digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti pada upacara keagamaan, adat dan hiburan.

Sedangkan, tortor, masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan pada opera Batak.

Dikatakannya, Opera Batak mengembangkan fungsi "uning-uningan" (gondang) untuk mengiringi penampilan lakon, nyanyian, tumba, dan repertoar musik khusus dan pada masa Tilhang Gultom kelengkapan ansamble tersebut ditambahi dengan sordam, sulim, tanggetang, dan sagasaga, sarune bolon, dan odap.

Beberapa perubahan dalam pola dan gerak tortor terjadi melalui kebijakan, interaksi kebudayaan dan peran perguruan tinggi, yang mungkin bisa disebut sebagai modernisasi tortor.

Namun, lanjutnya, tortor kreasi baru semakin dipengaruhi oleh rekaman musik gondang atau instrumen Barat, dan representasinya telah banyak digantikan alat musik lainnya untuk mengiringi tortor.

Makna dalam repertoar gondang sudah mengalami reduksi atau pembongkaran makna dan pelaksanaan gondang tergantung kepada konsensus yang disesuaikan dengan lembaga-lembaga tertentu dan individu.

"Sehingga, pembinaan sanggar-sanggar yang terkait dengan tortor dan gondang perlu mendapat pemahaman yang luas dan mendetail," ujar Thompson.

-

Arsip Blog

Recent Posts