"Makepung" Diusulkan Jadi Warisan Budaya

Negara, Bali - Makepung atau tradisi balap kerbau di Kabupaten Jembrana, Bali, diusulkan kepada Badan PBB yang mengurusi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia (WBD).

Untuk melengkapi usulan tersebut, tim dari Balai Pelestarian Budaya Bali dan Pusat Kajian Bali Universitas Udayana (Unud) Denpasar melakukan verifikasi dan inventarisasi tradisi Makepung, Kamis.

"Verifikasi dan inventarisasi ini merupakan langkah awal sebelum dilanjutkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kata Dr Ida Bagus Dharmika selaku ketua tim di Kabupaten Jembrana.

Ia berharap, Makepung bisa menjadi WBD seperti Subak Jati Luwih, Pura Taman Ayun, dan Tukad Pakrisan, yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya nonbenda.

Menurut Dharmika, melihat sejarah tradisi pacuan kerbau yang sudah ada sejak tahun 1920 ini, Makepung memiliki peluang untuk diakui UNESCO.

"Apalagi Makepung hanya ada di Kabupaten Jembrana. Meskipun banyak budaya lain yang masuk, tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang," ujar Dharmika.

Dalam verifikasi itu dilibatkan pula pengurus "sekaa" atau kelompok Makepung dari tim Ijogading Barat dan Ijogading Timur serta Kepala Dinas Dikporaparbud Jembrana Nengah Alit.

Dharmika mengaku, saat ini pihaknya fokus pada pengisian kuisioner dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pengumpulan data dari kelompok dan tokoh Makepung.

Ia juga mengingatkan, usulan agar Makepung ini diakui UNESCO sebagai WBD sangat ditentukan oleh aspirasi dari masyarakat luas.

Sementara itu, Nengah Alit menyatakan siap memfasilitasi berbagai kebutuhan seperti data dan informasi terkait Makepung.

Cirebon Akan Gelar Budaya Keraton

Jakarta - Keraton Kasepuhan Cirebon akan menggelar Budaya Keraton pada 5 Desember 2012 untuk menghidupkan kembali tradisi keraton sebagai pusat pengembangan seni dan budaya sekaligus mengaktifkan ruang kreatif bagi masyarakat sekitar.

"Perlu ada tindakan nyata untuk mengembangkan seni dan budaya keraton yang dulu pernah menjadi tolok ukur berkembangnya sebuah peradaban," kata Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat di Jakarta, Senin (26/11/2012).

Menurut dia, budaya keraton yang berkembang sebagai hasil kreativitas para pendahulu sangat perlu untuk dilestarikan.

Seiring perkembangan zaman, seni dan budaya keraton dikhawatirkan akan ditinggalkan generasi muda karena minimnya acara yang menampilkan produk seni keraton. "Gelar Budaya Keraton Cirebon ini merupakan tindakan nyata untuk menggali kembali, melindungi, dan mengembangkan budaya keraton," katanya.

Pihaknya mendapatkan dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) untuk menggelar acara itu di Keraton Kasepuhan.

Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kemenparekraf, Ukus Kuswara, pada kesempatan yang sama mengatakan, pihaknya mendukung upaya pelestarian seni budaya keraton sekaligus mengaktivasi ruang kreatif bagi masyarakat.

"Selain Taman Budaya, keraton memiliki ruang-ruang kreatif yang perlu dikembangkan sebagai tempat berkreasi, pertunjukan, pameran, lokakarya, dan diskusi untuk masyarakat," kata Ukus Kuswara.

Kemenparekraf sendiri mengemban amanah untuk mengembangkan ruang-ruang kreatif dan ruang-ruang publik sebagai ajang gelar seni dan budaya.

Kesenian yang akan ditampilkan dalam Gelar Budaya Keraton Cirebon pada 5 Desember 2012 di Keraton Kasepuhan itu di antaranya seni pertunjukan dari Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabon. Kesenian itu akan ditampilkan bersamaan dengan tradisi menjamu makan siang tamu keraton di Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan.

Di sana akan ditampilan tari Topeng Cirebon, tari Topeng Beling, tarian garapan SMKI Pakungwati, Genjring Sukapura, serta wayang kulit Cirebon semalam suntuk. Pada kesempatan itu Sultan Kasepuhan Cirebon akan menempatkan gamelan renteng Cirebon untuk mengiringi acara.

Gelar Budaya Keraton akan dirangkai dengan peluncuran program nasional terpadu dari Kemenko Kesra yang diberi nama Pandu Gerbang Kampung (Program Nasional Terpadu Gerakan Pembangunan Kampung). Pandu Gerbang Kampung Cirebon itu melibatkan beberapa instansi lain di samping Kemenko Kesra yakni Kemenpera, Kemenkes, Kemensos, Kemendikbud, SIKIB, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

360 Peserta Ikuti Kejuaraan Serumpun Melayu

Medan, Sumut - Sebanyak 360 peserta yang berasal dari Malaysia, Singapura dan Indonesia ambil bagian pada Kejuaraan Badminton Serumpun Melayu ASEAN memperebutkan Piala Gubsu 2012 yang dimulai Senin di Gedung PBSI Sumut, Jl Pancing Medan Estate.

Kegiatan yang berlangsung hingga 1 Desember mendatang itu dibuka oleh Sekda Provsu H Nurdin Lubis SH MM. Dalam sambutannya, Nurdin mengatakan event ini punya makna penting untuk meningkatkan tali silaturahim antar-sesama rumpun Melayu sekaligus meningkatkan pembinaan atlet antarnegara ASEAN.

"Melalui event ini, peserta khususnya Malaysia, Singapura, dan lainmua dapat menikmati berbagai wisata yang ada di Sumut seperti wisata alam atau kuliner di berbagai kota/kabupaten," ujarnya.

Ketua Panpel, HM Nasir Mahmud SE MSi MBA, mengatakan event tersebut telah dilaksanakan 21 tahun dan tahun ini baru digelar di Medan dengan 23 tim. Peserta terbanyak berasal dari Malaysia, yakni PBM Kuala Lumpur, Razali Badminton Akademi Kuala Lumpur, PBM Perak, PBM Perlis, PBM Negeri Sembilan, PBM Pulau Penang, PBM Malaka, PBM Kelantan dan MSN Selangor, DACS Selangor, JRA Elite Selangor, dan MRSB Selangor.

Selanjutnya ada SMBA Singapura, Al Mubaraq Jambi, Politeknik Negeri Padang, Kotamadya Binjai, PB Mabin Medan, PB Pro Deli Medan, PB Campur Sari Medan, PB Angkasa Pura II Medan, PBMI Medan, Kodam I/BB, dan PB JBMC Medan.

Kejuaraan ini memperebutkan Piala Gubsu 2012 itu dengan mempertandingkan 12 kategori, yakni tunggal putra U-19, tunggal putra usia bebas, tunggal veteran U-45, tunggal putri, ganda putra U-19, ganda putra usia bebas, ganda putra veteran U-45, ganda putri, beregu putra U-19, beregu putra usia bebas, beregu veteran U-45, dan beregu putri.

Sudah Saatnya Batik Jadi Industri Dunia

Pekalongan, Jateng - Presiden Komisaris Gabungan Kerajinan Batik Indonesia Investment Romi Oktabirawa berpendapat, memasuki era globalisasi, kerajinan batik Indonesia sudah bisa menjadi industri berskala dunia sebagai upaya menarik investasi modal asing ke Tanah Air.

"Sekarang ini, batik Indonesia hanya terpaku pada usaha kecil menengah, tetapi belum pernah berpikir bagaimana kerajinan ini menjadi industri berskala dunia," katanya di Pekalongan, Selasa.

Menurut dia, kerajinan batik sudah lama menjadi produk budaya masyarakat dan bangsa Indonesia, bahkan pada beberapa literatur menuliskan bahwa batik sudah ada di bumi Nusantara sejak abad ke-17.

Pada masa kejayaan Majapahit, katanya, masyarakat sudah mengenal batik sebagai pakaian sehari-hari, bahkan pada masa Kerajaan Mataram kerajinan yang sudah diakui UNESCO terdefinisikan menjadi pakaian yang membedakan status masyarakat pada saat itu.

Ia mengatakan bahwa dengan melihat begitu panjang dan lamanya sejarah kerajinan batik di Nusantara ini, maka sudah saatnya pelaku batik kembali memikirkan bagaimana kerajinan batik dapat digunakan sebagai kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia.

"Tidaklah mudah menjadikan batik sebagai kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia karena semua pihak harus mengambil langkah yang berani dan berfikir out of the box dari kerangka yang selama ini sudah ada," katanya.

Menurut dia, untuk menjadikan kerajinan batik sebagai kekuatan ekonomi bangsa, maka pelaku usaha harus berani dalam berpola pikir bahwa batik selain sebagai produk budaya, juga merupakan produk industri ekonomi yang mempunyai ciri khas lokal, tetapi memenuhi keinginan masyarakat pasar dunia.

"Kami berobsesi kerajinan batik harus bisa masuk menjadi bagian fashion dunia yang berciri khas lokal, tetapi mampu mengakomodasi kebutuhan konsumen terhadap tren fashion dunia," katanya.

Ia mengatakan bahwa pada kancah industri berskala internasional, industri batik harus masuk dalam area perusahaan go public’ atau masuk dalam ranah investasi publik.

"Dengan memasuki area investasi publik ini maka batik akan lebih mudah dijadikan produk fashion dan budaya berskala internasional. Pemerintah juga harus menyiapkan regulasi dalam persiapan industri batik masuk ke kancah industri dan ekonomi global," katanya.

Sejumlah Seniman Gelar Piasan Seni Aceh

Banda Aceh, NAD - Piasan Seni Banda Aceh 2012 akan dibuka Rabu, (28/11/2012) malam besok. Sejumlah persiapan dari panitia dan seniman hari ini mulai dirampungkan di Taman Sari, Banda Aceh.

Piasan Seni merupakan rangkaian kegiatan seni yang memberikan sarana promosi, ruang apresiasi karya seni dan edukasi kesenian bagi seniman, pekerja seni dan masyarakat peminat kesenian.

“Hari ini, panitia juga telah melakukan gladi resik untuk kedua kali dalam rangka mempersiapkan sejumlah agenda acara menjelang pembukaan Piasan Seni besok, selain itu beberapa talent dan seniman juga telah melakukan briefing untuk masing-masing acara,” kata Humas Piasan Seni, Irwanti, Selasa (27/11/2012).

Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin akan membuka Piasan Seni ini serta akan dimeriahkan oleh sejumlah seniman dan grup seni di Aceh, seperti Rafly, Medya Hus, Sanggar Lempia, Sanggar Buana, dan King of Fire.

Panitia Piasan Seni juga mempersiapkan berbagai stand-stand dari mulai pameran kerajinan tangan, alat-alat musik tradisional dan modern, serta posko kemanusiaan amal untuk membantu saudara-saudara di Aceh yang sedang mengalami musibah banjir.

Untuk informasi lainnya, seperti lomba dan workshop kita akan terus menginformasi di situs resmi www.piasanseni.com dan di media sosial Piasan Seni Banda Aceh.

10 Profesor Bahas Khasanah Melayu

Padangpanjang, Sumbar - Seminar Internasional Festival Seni Melayu Asia Tenggara sebagai salah satu upaya menggali, memetakan dan mendefinisikan Melayu, hari ini digelar di Aula DPRD Padangpanjang selama 28-29 November.

Rangkaian kegiatan Sea MAF 2012 yang menghadirkan 10 pakar-pakar seni dan kebudayaan, serta sejarawan terkemuka itu akan mengupas Melayu dalam ruang lingkup sesungguhnya. Sebagai sebuah dunia Melayu dengan keberagaman etnis, budaya dan geografis yang dirajut berlatar belakang nilai-nilai kesamaan humanistik.

Ketua Seminar Febri Yudika menyebut seminar yang bertemakan Rediscovering the Treasures of Malay Culture ini, juga akan mendiskusikan keberagaman kehidupan seni budaya masyarakat Melayu dan politik identitasnya. Melalui kegiatan itu juga akan memperlihatkan sumbangan peradaban Melayu dalam dinamika kehidupan saat ini.

Seminar yang akan diikuti oleh 350 peserta dari kalangan akademisi, guru, mahasiswa berbagai daerah di Indonesia itu, disebutkan Febri bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan pusat perkembangan peradaban Melayu yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan sejumlah negara.

“Secara politis, bangsa Melayu nusantara pernah dipersatukan dua kerajaan besar Sriwijaya dan Majapahit oleh bahasa Melayu yang hingga kini menjadi bahasa pemersatu (lingua franca) berbagai suku bangsa wilayah Melayu,” tutur Febri yang juga dosen Pasca Sarjana di ISI Padangpanjang itu.

Dikatakannya, peradaban Melayu di kawasan Asia Tenggara sangat besar yang punya pengaruh penting dalam peradaban dunia. Namun saat ini wecana kemelayuan justru seringkali mengecilkan peran dan arti penting peradaban Melayu. Sejumlah pihak dikatakannya malah mengklaim sebagai pemilik syah kebudayaan Melayu.

“Persepsi tentang Melayu pun kemudian menjadi sangat lokal dan spesifik. Hal ini tentunya sangat merugikan dan memecah belah masyarakat, serta peradaban Melayu itu sendiri,” jelasnya.

Pelaksanaan seminar selama dua hari itu, Febri menjelaskan terbagi dalam empat sesion. Masing-masing dua sesion hari pertama (hari ini, red) menghadirkan sebagai nara sumber, Prof Margaret Kartomi (Pemetaan Kebudayaan Melayu), Prof Dr Henri Chambert Loir (Jejak Melayu dalam Manuskrip) dan Suryadi MA (Peran Sastra Melayu dalam Pembentukan Karakter Bangsa)

Sedangkan Seson ke dua, menghadirkan Prof Dr Azyumardi Azra (Pengungkapan Kekuatan Melayu sebagai Wilayah Kekuatan Politik Masa Lalu), Prof Dr Mahdi Bahar (Islam sebagai Landasan Ideal Kebudayaan Melayu) dan Prof Dr Abdul Latiff bin Abubakar (Kebudayaan Melayu Serumpun dalam Konteks Geo-culture)

Sementara sesion pertama hari kedua tampil Prof Dr Abdul Hadi WM (Estetika Seni Budaya Melayu), Prof Dr Yusmar Yusuf (Perkembangan Budaya Melayu Populer), Prof Dr Sri Hastanto dan Prof Dr I Wayan Rai (Pengaruh Kebudayaan Melayu dalam Pembentukan Seni Budaya Lokal Nusantara).

“Seminar akan diakhiri dengan diskusi panel dengan pembicara Call Paper yang merupakan hasil seleksi kelayakan makalahnya oleh panitia dan berasal dari berbagai kalangan,” pungkas Febri.

-

Arsip Blog

Recent Posts