Video Mesum Mahasiswi Kembali Hebohkan Sumenep

Sumenep - Warga Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dihebohkan dengan beredarnya video mesum yang diduga diperankan oleh mahasiswi dari salah satu akademi kesehatan yang ada disana.

Dalam video mesum berdurasi 10 menit 20 detik itu, pemain wanita mengenakan celana panjang putih dan atasan putih. Baju tersebut mirip dengan seragam salah satu akademi kesehatan di Sumenep.

"Video mesum itu sekarang sudah banyak beredar dari handphone ke handphone milik warga. Yang perempuan terlihat masih mengenakan seragam putih-putih, mirip dengan seragam mahasiswi kesehatan," kata Rofik (23), salah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Sumenep, Selasa (17/12/13).

Menurutnya, pemain wanita dalam video mesum itu, mirip dengan pemeran wanita dalam video mesum yang sebelumnya sempat beredar, yang mengenakan seragam kuning kecoklatan. Kebetulan, baju kuning kecoklatan yang dikenakan pemain wanita itu juga mirip dengan seragam akademi kesehatan yang sama.

"Kalau dari postur tubuh si pemain perempuan, memang terlihat ada kesamaan dengan video mesum sebelumnya. Cuma kalau yang sekarang menggunakan seragam putih-putih, kalau yang sebelumnya menggunakan seragam kuning kecoklatan," ujarnya..

Dalam video mesum yang diduga direkam menggunakan kamera handphone tersebut, terlihat adegan dua pemeran melakukan hubungan suami istri di sebuah kamar rumah. Pemain melakukan adegan syur itu di tempat tidur sederhana yang terbuat dari kayu bercat coklat. Di kamar itu juga terdapat satu jendela dengan korden warna merah muda.

Sedangkan wajah pemain laki-laki tidak terlalu jelas, karena nyaris tidak pernah menghadap kamera. Wajah pemain laki-laki ini terlihat dari samping. Ia mengenakan atasan kaos warna merah dan sarung warga hijau dengan motif kembang.

Sebelumnya, Sumenep sempat dihebohkan dengan beredarnya video mesum "Wawan Bergoyang" yang diduga diperankan petugas puskesmas.[bay]

10 Perwakilan Negara Kerajaan Akan Ramaikan Kirab Budaya

Jakarta - Pemprov DKI menyelenggarakan acara pagelaran agung Keraton Se Dunia dengan menghadirkan 10 perwakilan dari negara-negara sahabat. Mereka pun nantinya akan mengenakan pakaian khas negara mereka pada kirab budaya.

"Untuk kereta kerajaannya memang belum bisa didatangkan tahun ini. Tapi 10 perwakilan negara sahabat akan ikut dalam kirab budaya nanti," kata Kepala Dinas Pariwisata DKI, Arief Budiman saat dihubungi detikcom, Kamis (5/12/2013).

Ke sepuluh perwakilan tersebut adalah Filipina, Singapura, Jepang, Brunei, Afrika Selatan, Malaysia, Inggris, Portugal, Norwegia dan Denmark. Sekitar 80 kereta didatangkan dari keraton Yogyakarta dan Solo untuk pagelaran kali ini.

"Mereka nanti akan mengenakan pakaian khas kerajaan di negara mereka dan naik kereta keraton untuk kirabnya," lanjutnya.

Tak hanya itu, untuk memberikan nuansa keraton yang kental, nantinya akan hadir prajurit-prajurit keraton sebagai pagar betis kereta-kereta ini. Berbagai kesenian tradisional beberapa daerah di Indonesia pun akan menghibur masyarakat Jakarta mulai esok hari dan Sabtu.

Kirab budaya sendiri akan dilaksanakan pada hari Minggu (8/12) sekitar pukul 15.00 WIB. Rombongan akan bertolak dari Monas menuju jalan Medan Merdeka Utara- Medan Merdeka Barat- Medan Merdeka Selatan.

Selama acara kirab berlangsung, Arie berharap jika masyarakat yang datang menyaksikan dapat bersama-sama menjaga kenyamanan dengan tertib berada diluar barikade yang akan dibuat.

"Ini kan mengikutkan negara sahabat. Ya kita butuh kesadaran masyarakat juga. Jangan sampai terlalu antusias sampai membuat rombongan tidak nyaman," pungkasnya.

Gambang Orkestra Jadi Pelestarian Budaya Betawi

Jakarta - Pertunjukan seni perpaduan antara Gambang Kromong dan Orkestra modern menjadi hiburan yang menarik dinikmati. Lebih dari itu, kolaborasi kedua jenis musik yang berbeda massa itu termasuk bentuk pelastarian budaya Betawi di era modernisasi.

Seperti yang terlihat dalam pementasan Pagelaran Gambang Orkestra di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (2/12/2013) malam lalu. Kesenian gambang kromong yang dibawakan melalui orkestra menjadi hiburan masyarakat Ibukota.

Beberapa lagu ciptaan musisi legendari asal Betawi, alm Benyamin Sueb yang diaransemen ulang dan dipadukan aliran musik rock, jazz maupun blues menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Kualitas penyanyi jadi pembuktian.

Komproser Orkestra Chandra Buana, Jassin Burhan mengatakan, penampilan penyanyi dalam gambang orkestra cukup menentukan. "Kemampuan sang penyanyi dibutuhkan dalam event ini," kata Jassin.

Lebih lanjut, Jassin mengatakan, meski pembawaan pertunjukan dilakukan secara orkestra namun, apa yang disajikan merupakan perwujudan dari pelestarian budaya lokal, dalam hal ini budaya Betawi.

"Kita berterimakasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI yang telah mendukung pertunjukan ini. Para pekerja seni mendapat kesempatan yang baik menampilkan kemampuan terbaiknya menghibur masyarakat," kata Jassin Burhan.

Sementara itu Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Ahmad Ghozali menegaskan, pagelaran Gambang Orkestra di TIM beberapa waktu lalu, merupakan upaya pelestarian kesenian Betawi yang telah diintruksikan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

Tak hanya itu, melalui pertunjukan kesenian Betawi ini, Pemerintah Provinsi memberikan apresiasi terhadap para seniman Betawi yang sudah lama eksis.

"Pentas Gambang Orkestra ini tujuannya untuk mengapresiasi para seniman Betawi. Juga memenuhi amanat UU No 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah DKI Jakarta sebagai ibukota yang memiliki kewajiban membina seni budaya Betawi dan kesenian lain dari luar daerah," ucap Ghozali.

Lebih lanjut Ghozali menambahkan, sebagai event yang bertujuan melestarikan kesenian asli daerah, makan pihaknya akan menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin untuk memberi kesempatan kepada para aktifis seni budaya Betawi.

Seperti diketahui, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI sukses menggelar pertunjukan Gambang Orkestra di Gedung Theater Besar TIM, Senin (2/12/2013) lalu. Dalam ajang tersebut turut menampilkan sejumlah seniman besar, diantaranya Adi Bing Slamet, Widhi AB Three, Ajul ’Jiung’, Zee Zee Shahab dan mantan Vokalis Edane Ecky Lamoh.

Kirab Budaya Raja Nusantara Digelar Minggu di Monas

Jakarta - Kirab budaya raja-raja Nusantara dalam rangkaian Pagelaran Agung Keraton se-Dunia "World Royal Heritage Festival" akan digelar pada Minggu (8/12) di kawasan Monumen Nasional (Monas).

Para raja dan sultan yang mengenakan pakaian kebesaran kerajaan akan diarak menggunakan 30 kereta kencana dalam kirab budaya yang juga akan diikuti oleh para pangeran, ratu, putri, penglisir, panembahan dan pemangku adat itu.

Kirab akan dimulai pukul 15.00 WIB dengan rute dari Silang Monas Timur Laut lalu ke Jalan Medan Merdeka Utara, Lintas Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Lintas Balai Kota, dan berakhir di Silang Monas Tenggara.

"Kirab dibuka dengan pataka atau simbol-simbol kerajaan, lalu ada kentongan yang merupakan simbol komunikasi," kata Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Djoyonagoro dari Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.

"Lalu ada jaran kepang dan jathilan, prosesi Boyong Kedhaton yang merupakan prosesi yang dilakukan Pakubuwono II saat memindahkan keraton dari Kartosuro ke Solo," kata Haryo di Balai Kota.

Budaya Badui Potensi wisata dunia

Lebak, Banten - Tokoh muda Lebak Akhmad Kusaeni mengatakan budaya Badui yang berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten bisa dijadikan wisata dunia sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.

"Kita memiliki kawasan Badui yang bisa dijadikan objek wisata sejarah dunia dan budaya orang-orang asli," kata Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara Akhmad Kusaeni saat menghadiri Hari Jadi Lebak ke-185 di Rangkasbitung, Senin.

Ia mengatakan, pemerintah daerah ke depan nantinya membangun pusat wisata budaya Badui. Di sana dibangun infrastruktur, hotel dan pusat perdagangan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Sebab Lebak memiliki kelebihan dibandingkan Singapura karena terdapat kawasan suku Badui.

Selama ini, kata Kusaeni, konservasi Badui belum dimanfaatkan untuk kepentingan wisata sebagaimana kawasan Aborigin di Australia, suku Amish di Amerika Serikat, atau suku Incha di Manchu Pichu Peru.

Membangun wisata sejarah Badui menjadi objek wisata dunia bukan mengada-ada. Ini bisa dikaitkan dengan konsep konservasi Jembatan Selat Sunda (JSS).

Kalau di Lampung dibangun kawasan konservasi Tambling, maka kita bisa minta konsesi kepada pengembangan JJS untuk membangunkan konservasi Badui.

"Saya kenal baik dengan penggagas JJS, saya bisa bantu sambungin untuk menyampaikan gagasan ini," katanya.

Menurut Kusaeni, semuanya berawal dari mimpi dan impian itulah yang diihtiarkan jadi kenyataan. Kita harus berani bermimpi, dan mimpi harus besar.

Jangan setengah-setengah. Kalau saja Wright bersaudara tidak bermimpi bahwa manusia bisa terbang seperti burung, tidak mungkin kita menemukan pesawat terbang.

Kalau saja raja-raja Majapahit tidak bermimpi memiliki sebuah monumen yang menjadi warisan mereka, maka tidak mungkin ada Candi Borobudur.

"Bermimpilah untuk segala kebaikan untuk Lebak, maka itu akan terjadi. Man jada wajadda," katanya.

Ia menyebutkan, untuk semua itu bisa terjadi, kuncinya adalah pendidikan. Contohlah Jepang.

Ketika bom atom menghancurkan Hirosima dan Nagasaki, pertanyaan pertama Kaisar Jepang adalah: "Berapa banyak guru yang selamat, berapa banyak sekolah yang tidak hancur"?

Itu suatu bukti, bahwa kaisar ingin membangun kembali Jepang dari kehancuran melalui pendidikan.

Dan dalam waktu singkat Jepang berhasil bangkit kembali.

"Kami memberikan apresiasi terhadap Dinas Pendidikan Lebak dengan membuka sekolah-sekolah baru untuk meningkatkan sumber daya manusia," demikian Kusaeni.

Campursari Tampil Gemilang di Negara Tetangga

Kuching, Malaysia - Kesenian tradisional Jawa (Campursari Kinaryo Laras) tampil gemilang dalam Pesta Pukulan Gendang Enik Nusantara 2013 di Malaysia. Penampilan grup ini mendapatkan sambutan baik dari Dewan Bandaraya Kuching Utara (DBKU), belum lama ini yang dilaksanakan di Gondown Amphitheatre Waterfront.

Ketua Grup Campursari Kinaryo Laras, Sadimo Yitno Poerbowo merasa tersanjung atas jamuan dari negara tetangga tersebut. “Kehadiran kita di sana hanya sebaga2i tamu undangan. Tapi di sana kita mendapatkan pelayanan sangat baik. Ini merupakan suatu kehormatan bagi Capursari Kinaryo Laras bisa menampilkan pentas seni tradisonal di sana untuk pertamakali,” ujar dia, Selasa (3/12).

Sadimo menilai kegiatan pentas kesenian dan budaya yang dilaksankan Malaysia sangat luar biasa. Pementasan kesenian yang digelar itu tampil meriah. Banyak tamu undangan dari lokal dan mancanegara ikut serta menyaksikan pementasan kesenian tradisional nusantara tersebut. Dia menyampaikan secara keseluruhan pementasan kesenian tradisional nusantara di sana diikuti sembilan kontingen dari perwakilan setiap daerah. Setiap kontestan tampil membawakan beberapa kesenian Melayu, kesenian Dayak, dan kesenian Jawa.

Pementasan kesenian dari perwakilan Indonesia ada dua grup yang hadir. Grup Campursari Kinaryo Laras dan Grup Pinang Sikayoh Mempawah. Kedua kontingen ini mendapatkan undangan resmi dari DBKU dan persetujuan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching.

“Kita berangkat dengan undangan resmi. Setelah sampai di sana pihak KJRI, Gondosoemarto Wibisono membantu menyediakan akomodasi. Sedangkan konsumsi dan trasportasi dan penginapan selama di Kuching disediakan oleh panitia,” jelas Sadimo.Penata musik Campursari Kinaryo Laras, Erlan Suparlan menambahkan semua peserta yang tampil sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Sedangkan dari Campursari Kinaryo Laras menampilkan kolaborasi tiga etnis yakni kesenian Bali, Jawa dan Sunda.

“Kita menampilkan tiga seni etnis sekaligus. Kita gabungkan menjadi satu arensemen menarik. Ketiganya itu kita bawakan dalam satu pementasan. Semuanya tampil dengan kerakteristik sesuai dengan alunan gemelan, gendang, angklung dan ditemani dua sinden,” jelas dia salah satu penggiat musik etnis Jawa yang bertempat di Kota Pontianak.

Erlan menyampaikan selain pementasan seni dan budaya, tim ini berkesempatan melakukan workshop alat musik daerah saat berada disana. Hasil pameran tersebut ternyata menarik perhatian dan minat pengunjung yang membeli.

Ia juga mengatakan ternyata di Malaysia tradisi kesenian kebudayaan Jawa dilestarikan dan diperingati setiap setahun sekali. Anehnya, tradisi budaya Jawa disana sudah lebih dahulu diperingati ketimbang dari Indonesia. “Di Malaysia sebelum Indonesia merdeka, seni budaya Jawa di sana sudah diperingati ke 100 tahun. Tapi di negeri sendiri nilai kesenian budaya kurang terlestarikan dengan baik,” ungkap Erlan heran.

Penggiat kesenian budaya nusantara tersebut merencanakan selesai Pesta Pukulan Gendang Etnik Nusantara 2013 di Malaysia. Ia dan besama tim yang lainnya akan kembali menghadiri undangan di negara tetangga tersebut. “Rencananya grup kita akan hadir lagi dalam kegiatan Rainforest Musik Festival di Kuching, Juni 2014. Setelah itu kita juga di undang pada festival musik etnis di Trengganu, Oktober 2014 mendatang,” ungkap Erlan rencana kedepannya agar musik nusantara Indonesia dapat dikenal negara tentangga dan tamu undangan dari mancanegara.

-

Arsip Blog

Recent Posts