Beragam Menu Melayu di Restoran Open Kitchen Pertama di Pekanbaru

Riau - Food Exchange All Day Dining bukan satu-satunya restoran berkonsep open kitchen di Indonesia. Namun, khusus di Pekanbaru , mereka yang pertama kali mengenalkan konsep itu. Di sini, menu Melayu bagai jadi primadona.

Retsoran ini berada di lantai tiga Hotel Novotel Pekanbaru, Jalan Riau Nomor 59, Kampung Baru, Senapelan, Pekanbaru, Riau. Open kitchen adalah restoran berkonsep dapur terbuka. Pengunjung bisa melihat langsung para koki mengolah menu-menu yang dipesan. Mulai persiapan bahan hingga proses memasaknya.

Umumnya, yang dihidangkan di restoran open kitchen adalah menu bergaya western. Namun, di restoran berkapasitas 200 orang ini, menu-menu yang disajikan justru khas Melayu.

Beberapa waktu lalu, Executive Assistant Manager Novotel Pekanbaru Yanto Firdo mengantarkan Tempo menjajal menu-menu tersebut.

Menu pertama adalah salty bakhlava atau martabak telur. “Menu Melayu yang diadaptasi dari Turki,” kata Yanto. Rasanya unik bagi lidah yang tak terbiasa mengecap makanan Timur Tengah. Ada sensasi gurih dan manis dari kacang walnut atau pistache yang dicincang dan diberi pemanis.

Menu kedua adalah nasi iga kacang merah. Penampakannya seperti nasi lemak khas Melayu. Bau rempahnya lekat. Nasi itu disajikan bersanding dengan iga yang sudah direbus selama 2,5 jam. Iga lalu dibakar dengan kecap hingga berwarna hitam kemilauan.

Meski luarnya tampak kering, begitu dagingnya bertemu dengan pisau, serat-seratnya langsung melepaskan diri. Tatkala masuk mulut, tekstur juicy pun memudahkan gigi untuk mengunyah. Iga ini tambah sedap dinikmati dengan nasi yang dimasak dengan campuran kayu manis, pala, bawang putih, dan daun jeruk.

Menu ketiga adalah mi Bengkalis. Warga lokal menyebutnya mi asli Selat Panjang. Bahan utamanya dari sagu. Sekilas mirip dengan mi jagung. Teksturnya kenyal, warnanya transparan. Mi Bengkalis dimasak bersama teri, udang, telur, dan daun seledri. Penyajiannya ditempatkan di atas pangsit.

Rasanya manis, gurih, dan asin. Bumbunya tak terlalu kuat sehingga rasa asli mi-nya masih bisa dinikmati. Terinya pun spesial lantaran didatangkan langsung dari Bagan—daerah penghasil ikan asin nomor satu di Pekanbaru.

Menu keempat adalah laksamana mengamuk--minuman tradisional khas Riau. Disajikan cantik dalam martini glass. Bahan utamny terdiri atas kueni, santan, dan biji selasih. Dipercantik dengan hiasan daun pandan. Rasanya hampir mirip kolak, hanya lebih manis dan segar.

Beragam menu di Food Exchange All Day Dining dijual dengan harga mulai Rp 40 ribu. Restoran ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 hingga tengah malam.

Sumber: https://travel.tempo.co

Heboh Video Mesum Siswi SMA di Ruang Karaoke

Aparat Kepolisian Resor Tulungagung terus menyelidiki pelaku dan penyebar video berbau pornografi yang diduga dilakukan pelajar SMA di Tulungagung, Jawa Timur.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Mustijat Priambodo, Rabu, mengatakan bahwa pihaknya sudah menelusuri itu dengan memeriksa saksi-saksi dan terduga pemeran video mesum berdurasi 20 detik tersebut.

"Nama pemeran dan lokasi pengambilan gambar (video) sudah berhasil kami identifikasi. Sekarang fokus pada pelaku penyebarnya," kata Mustijat, dilansir Antara, Rabu (31/1/2018).

Akan tetapi, polisi belum bisa memastikan apakah perekam dan penyebar dilakukan oleh orang yang sama atau berbeda.

Menurut dia, perekam maupun penyebar video mesum bergambar pemandu lagu yang masih pelajar dan bernyanyi tanpa mengenakan atasan (topless) tersebut bisa dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak.

Video mesum yang diyakini diambil di salah satu kafe karaoke di Tulungagung itu kini menyebar dan viral di media sosial sehingga menimbulkan "kegaduhan" di tengah masyarakat.

"Kami masih fokus pada Undang-Undang ITE dahulu. Selebihnya, masih penyelidikan," ujarnya.

Video mesum tersebut diduga diperankan seorang siswi SMA Negeri Tulungagung. Siswi itu kini masih duduk di kelas X SMA tersebut.

Dalam video berdurasi 20 detik itu, si wanita berperan sebagai pemandu lagu yang menyanyi tanpa mengenakan busana bagian atas di sebuah ruangan karaoke yang diduga di wilayah Tulungagung.

Sementara, lelaki yang berada di dekatnya ikut menyanyi sembari sesekali menyawer dengan uang lembaran Rp 100 ribu. Video ini juga menyebar di kalangan siswa, tempat siswi itu bersekolah.

Menurut informasi, video tersebut bukan yang pertama. Siswi yang sama pernah direkam tengah melakukan hal serupa di ruang karaoke bersama laki-laki lain.

Sumber: http://regional.liputan6.com

Gandeng Mahasiswa , Disparbud Gelar Festival Solo Lagu Melayu se-Rohul

PASIRPANGARAIAN- Gandeng mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (UPP) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) gelar Festival Solo Lagu Melayu se-Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) di lapangan Dataran Tinggi Pematang Baih, Pasirpangaraian.

Dimana, Festival yang diprakarsai Kabupaten digelar selama dua hari resmi dibuka Kepala Disparbud Rohul Drs. Yusmar M.Si, pada Jumat malam (26/1/2018).

Dimana, ‎pembukaan Festival turut dihadiri Rektor UPP Adolf Bastian, Kepala Bapenda Rohul Jonni Muchtar, masyarakat luas.

Ketua Panitia, Budiman, mengungkapkan, Festival Solo Lagu Melayu se-Rohul perdana dipusatkan di lapangan Dataran Tinggi Pematang Baih diikuti sekitar 27 peserta.‎

"Setiap peserta membawakan dua lagu, yakni satu lagu tetap dan kedua lagu yang sudah ditentukan oleh panitia," katanya.

Budiman juga mengungkapkan, pada malam pertama festival, ada 9 peserta‎ dari 27 peserta yang akan memamerkan suara emasnya. Festival sendiri digelar selama dua hari, Sabtu malam (27/1/2018) sudah memasuki babak final.

Sementara, Rektor UPP ‎Adolf Bastian mengucapkan terima kasih kepada pihak Disparbud Rohul karena telah mendukung penuh kegiatan budaya yang diprakarsai mahasiswa UPP. Festival ini menurutnya menjadi tantangan bagi agent of change.

Menurutnya, mahasiswa bukan hanya sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), namun mereka harus ikut dalam pengembangan budaya daerah.

‎Masih ditempat yang sama, Kepala Disparbud Kabupaten Rohul Yusmar, mengungkapkan, festival ini juga sebagai tepat yang pas untuk mengenalkan brand pariwisata Kabupaten Rohul "Rokan Hulu The Diversity Of Melayu"‎.

Bukan hanya brand, Yusmar juga mengenalkan Tanjak Melayu‎ Khas Rohul yang diberinama "Unak Serantau" kepada mahasiswa dan masyarakat umum yang hadir menyaksikan festival di Pematang Baih.

Dirinya mengaku, kerjasama antara Disparbud Kabupaaten Rohul dengan mahasiswa UPP untuk Festival Solo Lagu Melayu se-Rohul perdana merupakan awal kecil, tidak menutup kemungkinan akan ada kerjasama lebih besar lagi ke depannya.

‎"Kita mengharapkan seluruh peserta menampilkan bisa membumingkan dan ikut melestarikan lagu khas Melayu Rohul dan Riau ini, sehingga dikenal oleh masyarakat luar daerah," imbuhnya, Sabtu (27/1/2017).

Lebih lanjut dijelaskanya, melalui festival ini juga dirinya sangat berharap mahasiswa bisa lebih mengkreasikan dirinya pada lagu-lagu melayu.

"Semuanya bagus-bagus suaranya, semoga lagu melayu akan tetap lestari," pungkasnya.

Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com

15 Kegiatan Akan Meriahkan Festival Pulau Penyengat Tanjung Pinang 2018

Sebanyak 15 kegiatan akan memeriahkan Festival Pulau Penyengat (FPP) 2018 di Kota Tanjung Pinang, 14 - 16 Februari 2018. Acara yang masuk dalam 100 Wonderful Event Kementerian Pariwisata (Kemenpar) itu, dipusatkan di Balai Adat Melayu Pulau Penyengat.

“Banyak keseruan yang bisa didapatkan di Festival kali ini. Ada 15 kegiatan yang akan digelar. Tapi, ada 3 event unggulan yang akan menjadi atraksi paling menarik dan akan menjadi pusat perhatian masyarakat dan wisatawan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata (Dispar) Tanjungpinang, Reni Yusnel, Kamis (8/2).

Menurut Reni, top three even itu adalah Fashion Malay Penyengat Serantau, Short Film Netizen Penyengat Halal Competition, dan yang ketiga Tour Pattern Penyengat Halal Competition. “Event ini juga terus menyasar crossborder tourism, karena dekat dengan Batam dan Singapura,” ujarnya.

Dijelaskan Reni, Fashion Malay Penyengat Serantau sangat unik. Event ini merupakan ajang kreativitas para fashion designer dan perajin pakaian karnaval untuk menggali konten lokal Melayu secara Islami.

“Nanti akan terlihat seni fashion yang unik dan penuh warna,” katanya.

Acara ini juga akan memeriahkan Pembukaan Road to Fesyar Pulau Penyengat – Syawal Serantau. Kegiatan ini terbagi tiga jenis yaitu Kompetisi Malay Fashion Carnaval, Parade Melayu & Muslim Fashion, dan Bazar Melayu Fashion.

Sedangkan Short Film Netizen Penyengat Halal Competition adalah kompetisi pembuatan film pendek yang melibatkan para netizen untuk membuat promosi Pulau Penyengat melalui tayangan multi media dan di-upload pada website maupun media sosial.

Yang tak kalah seru adalah Tour Pattern Penyengat Halal Competition, kompetisi menciptakan paket tur baru dengan memanfaatkan potensi lokal Kepri, dengan indikator keberhasilan berupa jumlah turis yang membeli paket tur tersebut.

”Paket tour yang di-create bukan berupa one day tour, nantinya akan dijadikan pattern paket tour untuk perjalanan wisata di Pulau Penyengat dan Kepulauan Riau,” ucap Reni.

Sedangkan untuk venue di Balai Adat Melayu, nantinya akan digelar berbagai lomba seperti, lomba melukis, penyajian sejarah, sampan layar, sampan dayung, tangkap itik, pertandingan pukul bantal, kuliner Melayu, pidato sadar wisata, layang-layang dan lomba gasing.

Sementara di Balai Kelurahan, akan diadakan lomba Gurindam 12, lomba pantun, lomba baca puisi, lomba renang tradisional, dan lomba peragaan busana Melayu. Di kawasan Kampung Bulang, digelar lomba fotografi, lomba Jong, lomba pompong hias dan lomba becak hias.

Deputi Pemasaran I Kemenpar, I Gde Pitana, didampingi Kepala Bidang Pemasaran Area II pada Asdep Regional I Deputi Pemasaran I Kementerian Pariwisata Hendry Noviardi, optimis kegiatan ini akan meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Terima kasih kepada panitia pelaksana untuk mengkombinasikan acara ini dengan baik. Harus sukses dan menarik. Karena, festival yang dilandasi dengan budaya dapat meningkatkan tingkat kunjungan wisata dan itu akan memajukan daerah, serta meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat," tutur Pitana.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap festival ini dapat mengangkat pariwisata Kepulauan Riau, khususnya potensi destinasi wisata alam dan budaya setempat. Selain itu, kegiatan ini juga dapat memperkenalkan Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah dan budaya Melayu.

"Letaknya yang strategis, berbatasan dengan Malaysia dan Singapura menjadi keuntungan tersendiri. Evennya, atraksinya, aksesnya, Semua harus digarap secara serius. Kalau Tanjung Pinang serius, komitmen, pariwisatanya pasti cepat tumbuh. Letaknya sangat strategis, berbatasan dengan Malaysia dan Singapura. Kebetulan Kepala Daerahnya termasuk yang peduli dengan pariwisata. CEO kalau sudah jalan, semua akan mudah," jelas pria berdarah Banyuwangi itu.(ags/lis)

Sumber: https://indopos.co.id

Nuansa Melayu di Lingkungan Pemkot Palembang, Para Pegawainya Cindo Nian

PALEMBANG - Suasana berbeda tampak di lingkungan Pemerintah Kota Palembang.

Tidak seperti biasanya, nuansa Melayu sangat terasa karena semua pegawai menggunakan pakaian adat Palembang.

Hal ini dilakukan karena Jumat (19/1) kali pertama aturan ini dilaksanakan, sebagai tindak lanjut Peraturan Walikota (Perwali) nomor 3 tahun 2018 tentang pakaian adat.

Tidak heran, pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Palembang sudah mulai menggunakan pakaian kemeja Teluk Belango, celana dasar kemudian dililit dengan kain tenun tanjung, songket atau jumputan dan menggunakan tanjak atau peci hitam bagi pria.

Kabag Humas Pemkot Palembang Amirudin Sandi mengatakan, aturan menggunakan pakaian adat ini diharuskan bagi seluruh pegawai.

Dengan ini dapat melestarikan khasanah budaya dan khas Kota Palembang. Pemkot Palembang mengeluarkan Perwali wajib mengenakan pakaian adat setiap jumat bagi ASN dan Non ASN.

Pemkot sudah sebar surat edaran nomor 07/SE/DISBUD/2018 tentang pakaian adat kota Palembang yang mewajibkan bagi pegawai ASN dan NON ASN di Lingkungan Pemerintah Kota Palembang untuk setiap hari Jumat mengenakan pakaian khas adat Kota Palembang.

"Karena ini tertuang dalam Perwali sehingga jelas ini wajib dilaksanakan. Pegawai yang belum menerapkan aturan ini, di Jumat pertama ini masih dimaklumi," ujarnya.

Selain itu juga setiap BUMN, BUMD, pegawai BANK negara dan swasta, perhotelan serta pegawai bandara, diminta untuk juga menggunakan baju adat tersebut.

"Melalui pimpinan masing-masing untuk mengintruksikan dan mewajibkan setiap Jumat mengenakan pakaian adat seperti halnya yang diterapkan di pemkot," ujarnya

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh mengatakan, seluruh pegawai di OPD ini sudah seluruhnya menerapkan aturan itu.

Pemakaian kemeja Teluk Belango satu kali dalam sepekan dinilai tidak akan memberatkan setiap pegawai di lingkungan pemerintah Kota Palembang.

Ia menilai rangkaian dari pakaian ini juga tidak terlalu ribet, hanya menggunakan kemeja dan kain khas Palembang.

"Di OPD kita sudah semua menggunakan, warna kemeja dibebaskan, baik merah, biru dan lainnya. Menggunakan pakaian ini seperti kembali di masa dulu, pakaian ini upaya mempertahankan budaya Palembang. Kita tidak menerapkan sanksi tertentu, hanya saja mungkin pegawai yang tidak pakai jadi malu sendiri karena tidak sama," ujarnya.

Sumber: http://palembang.tribunnews.com

Siak Punya Panduan Khusus Melestarikan Nilai-nilai Budaya Melayu

SIAK - Datuk Setia Amanah Siak, Drs H Syamsuar, mengatakan di Siak ada Perda tentang pembangunan dan pelestarian kebudayaan Melayu. Sehingga dalam kegiatan Pemkab Siak ada arah atau panduan untuk melestarikan nilai-nilai budaya Melayu dan cagar budaya Melayu.
“Kami juga sudah menyusun Kamus Bahasa Melayu Siak - bahasa Indonesia. Bahasa Melayu di Siak juga ada beberapa versi namun perbedaan ini tidak terlalu jauh. Hanya sedikit dan pemaknaannya sama,” ucap Syamsuar.
Di Siak, kata Syamsuar, juga sudah ada Perda berbahasa Melayu dan Perda ini merupakan inisiatif DPRD Siak. Padahal anggota dewan orang Melayu boleh dikatakan minoritas.
Lahirnya Perda ini sangat diapresiasi Pemkab Siak dan LAMR Siak sehingga memberi penghargaan karena DPRD Siak komit terhadap Melayu.
“Kita juga ada Perda berpakaian Melayu. Mudah-mudahan semua Perda itu berkelanjutan sehingga generasi muda tau akan budayanya,” harap Syamsuar.
Melayu sebagai payung negeri, di Siak Kebudayaan Melayu sangat dihormati etnis lainnya. Hal ini, jelas Syamsuar, adalah upaya mesebatikan kebudayaan Melayu dengan masyarakat Siak dan tak menengok apa sukunya.
“Dalam rangka pelestarian Budaya Melayu dan komitmen Pemkab Siak kami juga punya taglen Siak The Truly of Malay. Taglen ini sudah tercatat di Kemenhum-HAM sehingga daerah atau negara lain tak bisa menirunya karena hal ini sudah menjadi hak paten Siak,” ujar Syamsuar.***

Sumber: https://www.goriau.com
-

Arsip Blog

Recent Posts