Tampilkan postingan dengan label Gorontalo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gorontalo. Tampilkan semua postingan

Ketahuan Indehoy, Pasangan Mesum Lari ke Atas Plafon

GORONTALO - Sedikitnya lima pasangan mesum terjaring razia tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Polri dan TNI saat razia di kos-kosan dan penginapan di Kota Gorontalo, Minggu (16/4/2017), malam.

Dalam razia tersebut, seorang pria yang panik saat digerebek nekat bersembunyi di atas plafon kos-kosan. Alhasil, petugas pun harus memaksanya turun dari persembunyian itu.

Kelima pasangan itu diduga sedang berbuat mesum karena saat diperiksa, mereka tidak bisa menunjukan bukti sebagai pasangan suami istri yang sah. Petugas pun langsung membawa mereka untuk diproses.

Selain itu, penangkapan pria yang ternyata rumahnya berada di depan kos-kosan juga sempat membuat seorang ibu menangis dan meminta petugas untuk melepaskan anaknya. Namun, petugas tetap membawa pasangan mesum itu.

"Bersama pasangan lainnya, pria ini langsung diamankan ke kantor Satpol PP Kota Gorontalo," ujar Arifin Mohamad, Kepala Satpol PP, Kota Gorontalo.

Tim gabungan juga mengamankan sepuluh orang lainnya. Hal tersebut karena mereka tidak memiliki tanda pengenal.

Selanjutnya, pasangan mesum dan juga yang tidak memiliki identitas harus menjalani proses pendataan di kantor Satpol PP.

Festival Kue Tradisional Apangi Di Gorontalo

Gorontalo - Warga Kelurahan Dembe I, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo menggelar Festival "Apangi" yang akan dimulai pada 10 hingga 28 Oktober 2016.

Festival tersebut bertujuan untuk memperkenalkan apangi, kue tradisional Gorontalo yang berbahan dasar tepung beras dan gula merah.

"Apangi ini makanan khas bulan Muharam, sepanjang bulan ini biasanya warga Gorontalo memasak apangi. Sama halnya ketika bulan Ramadhan," kata Ketua Panitia Festival, Zulkarnain Hasan di Gorontalo, Jumat (7/10/2016).

Tak hanya sebagai penganan khas daerah, kata dia, kue apangi juga memiliki nilai religius dan filosofi yang penuh makna dalam perspektif budaya Gorontalo.

"Menurut para tetua, kue ini memiliki makna yang dalam. Gula merah melambangkan darah, keberanian atau pengorbanan sementara kue apangi berwarna putih sebagai simbol kesucian," jelasnya.

Dalam festival tersebut, warga setempat akan menyajikan "apang colo" di setiap rumah untuk pengunjung dan mempraktekkan cara-cara tradisional dalam memasaknya.

Selain itu, berbagai literatur dan penuturan terkait adat, budaya dan asal-usul apangi juga berusaha dikumpulkan dari berbagai pihak untuk memperkaya pengetahuan tentang kue tersebut.

Zul menambahkan, festival merupakan inisiatif warga setempat dan menggunakan dana yang dikumpulkan sukarela oleh masyarakat.

Kegiatan lain yang akan memeriahkan festival tersebut yakni parade kue, makan gratis, lomba penyajian, lomba foto, bazar dan klinik bisnis.

"Saya optimistis apangi akan meningkatkan perekonomian warga Dembe, terlebih saat wisatawan datang selama festival," imbuhnya.

Selain kuliner itu, warga setempat juga mengandalkan obyek wisata pendukung selama festival yakni Benteng Otanaha dan pemandangan di pesisir Danau Limboto.

Festival Pesona Danau Limboto Digelar di Gorontalo

Gorontalo - Festival Pesona Danau Limboto dibuka Bupati Goronalo Nelson Pomalingo di Kawasan Wisata Air Panas Petadio Resort, Jumat (16/9/2016) sore.

Festival dimulai dengan pawai budaya yang menampilkan busana adat dan seni tradisi berbagai suku di Indonesia yang ada di Kabupaten Gorontalo, seperti Reog Ponorogo, busan adat Sangihe-Talaud, Bolaang Mongondow, Jawa Tondano, Bali dan lainnya.

Seni tradisi Gorontalo dipersembahkan secara rinci dan detail dengan menampilkan prosesi pernikahan, dikili, dayango, mopilihu lo limu (mandi lemon) yang melibatkan Lembaga Adat Kabupaten Gorontalo bersama masyarakat.

“Kami mengharapkan festival ini dapat mengangkat keindahan budaya dan alam Gorontalo. Kegiatan ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Nelson.

Prosesi pembukaan Festival Pesona Danau Limboto menyedot perhatian ribuan masyarakat. Mereka memenuhi kawasan pentadio resort hingga di bibir danau.

“Dalam pembukaan ini kami menyuguhkan karnaval budaya etnik di Indonesia, parade karawo, kendaraan tradisional, dan atraksi seni tradisi,” kata Azis Nurhamidin, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Kominfo Kabupaten Gorontalo.

Azis menambahkan, Festival Pesona Danau Limboto merupakan sarana promosi pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Gorontalo yang digelar di kawasan air panas di pinggir Danau Limboto.

Sejumlah kegiatan dilaksanakan selama beberapa hari hingga Senin mendatang. Kegiatan itu adalah pemilihan Nou dan Uti, Alanggaya atau layang-layang tradisional dan lomba perahu tradisional Danau Limboto, Gorontalo Gemilang Expo, burung berkicau, Adventure Motor Trail dan Fotografi, balap merpati dan pesta kuliner tradisi.

“Gorontalo kaya budaya dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Ayo datang ke Gorontalo,” ungkap Nelson.

Festival Karawo 2016, Memperkenalkan Kain Gorontalo ke Tamu Timur Tengah

Gorontalo - Festival Budaya Karawo 2016 digelar di Provinsi Gorontalo. Festival ini dimulai 9-13 Oktober 2014, dan menampilkan sejumlah kegiatan yang bertemakan kain khas Gorontalo, Karawo di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo.

"Yang menarik adalah festival ini juga bertepatan dengan kegiatan IMEU (Indonesia Midle East Update,Red). Ini merupakan pertemuan saudagar, pengusaha, kedutaan negara timur tengah di Indonesia," ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Jamal Nganro didampingi Kasi Promosi dan informasi Fahmi Ihsan.

Seperti diketahui, Gorontalo memang harus lebih cepat dari rata-rata pengembangan pariwisata di daerah lain. Mengapa? Manado sudah semakin overload wisman dari Tiongkok, dan sebentar lagi juga datang dari Filipina. Manado juga sudah confirm, bakal menjadi Hub City, tempat connector perhubungan udara di Indonesia Utara. Karena itu, kota-kota sekitar seperti Gorontalo, Morotai, Sangihe, Ambon, Ternate, Tidore, bakal menjadi sasaran wisman berikutnya.

Tidak ada pilihan lain, Gorontalo pun harus bersiap-siap. Tahun ini Gorontalo sebagai tuan rumah IMEU, jadi kami akan siapkan acara dengan sebaik mungkin. “Ibarat sambil menyelam minum air, kegiatan IMEU itu kerjasama dengan Kementerian Luar Negri,” ujar Jamal Nganro.

Fahmi Ihsan juga mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan semua hal dengan matang untuk menyambut para tamu negara timur tengah tersebut. Dari Hotel hingga membawa mereka menyaksikan atraksi yang dimiliki oleh Gorontalo. "Kegiatan ini juga bertepatan dengan Festival Boelamo yang dilaksanakan pada tanggal 5 hingga 12 Oktober 2016. Sesuai instruksi Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya kami juga sukses mengundang acara Dahsyat RCTI sebagai bagian dari promosi agar festival kami dikenal Indonesia, jadi tamu dari Timur Tengah itu bisa menyaksikan semua rangkaian acara," kata Fahmi.

Untuk acara Fashion Karawo, pihak panitia pelaksana mendatangkan desainer kaliber tinggi agar hasil desainnya tidak memalukan dan bisa mendunia. ”Kita akan undang Yurita Pudji Djadjang untuk mendesain karawo sesuai arahan pak Menteri, agar festival fashionnya juga mendunia,” ujarnya bangga. Fashion Karawo berlangsung di Gorontalo. Tak lain, untuk memperkenalkan Kain khas Karawo.

Fahmi menambahkan, acara yang bertujuan untuk lebih memperkenalkan sulam Karawo khas Gorontalo tersebut, merupakan rangkaian kegiatan dari Festival Karawo dan Festival Boalemo 2015. Tahun ini Fashion Karawo mengadakan empat kategori lomba untuk tiap designer dan busana yang dibawakan oleh peserta, yaitu busana muslim, gaun pesta, pakaian kasual dan pakaian kantoran.

Fashion Karawo, imbuh Fahmi, kesempatan perancang muda untuk berkreasi. "Lomba Fashion Karawo ini merupakan ajang designer muda lainnya untuk unjuk gigi dan belajar, untuk dapat tampil lebih percaya diri serta menambah pengalaman dan memajukan sulam karawo hingga semakin dikenal di nusantara maupun internasional," ungkap dia.

Fahmi juga mengatakan, Festival Budaya Karawo 2016 terdapat sejumlah kegiatan antara lain, family song karawo, festival band, fashion band, desain karawo dan lomba fotografi karawo. Selain itu, dalam festival karawo ini para peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut akan ikut terjun dalam karnaval karawo.

"Jadi banyak sekali agenda kegiatan yang kami sudah siapkan, yang pastinya semua akan bernuansa karawo” ungkap Fahmi.

Karawo sendiri merupakan kain sulam khas Gorontalo yang dibuat dari anyaman benang. Keunikan dari kain ini adalah kain ini hanya dapat diproses dengan menggunakan tangan manusia saja dan tak bisa dibuat dengan menggunakan tenaga mesin. Pada jaman dulu, kain karawo hanya menggunakan motif bunga, namun seiring perkembangan jaman, kini karawo telah menggunakan motif modern, seperti logo instansi dan burung. Di Gorontalo sendiri yang menjadi sentra pembuatan kain karawo adalah di Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo.

Seniman Kondang Diundang Gaungkan Wisata Gorontalo

Gorontalo - Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengapresiasi kerja keras pemerintah Gorontalo dalam mengangkat sektor pariwisata. Kekompakan gubernur, walikota, bupati hingga camat dalam menjalankan program pemerintah mendapat pujian sebagai corporate culture.

Dalam menyambut empat perhelatan akbar yang akan dirayakan masyarakat Gorontalo, Arief menyatakan dukungan penuh. Salah satunya dengan mendatangkan televisi nasional untuk menyiarkan secara langsung. Menurutnya, keberhasilan acara di daerah tak lepas dari peran pendukung (endorser). Sehingga dapat memperkuat citra yang akan dijual daerah dalam mempromosikan wisatanya.

"Salah satu event nanti akan disiarkan di televisi nasional, jadi biar endorser ini yang membantu mengangkat Gorontalo lebih cepat menasional," terang Arief Yahya di peluncuran Calendar of Event Gorontalo 2016 pada Kamis, 17 Maret 2016.

Selain itu, Arief Yahya juga mencatat tiga poin yang penting untuk segera diperbaiki. Melihat kemeriahan pertunjukan tari dan lagu-lagu dari Gorontalo, Arief berharap mereka segera menggaet desainer kondang untuk merancang kostum yang lebih sepadan.

"Untuk baju-baju datangkan desainer nasional untuk mendesain Sulam Kerawang. Jangan tersinggung tapi orang daerah harus mengkombinasikan culture dan comercial value. Misal untuk hijab datangkan Dian Pelangi atau disesuaikanlah dengan daerah," imbuhnya.

Selanjutnya Menpar juga berharap, pemerintah Gorontalo bekerjasama dengan seniman nasional untuk mengerjakan aransemen musik pertunjukan. Didukung dengan koreografer yang juga terbiasa menangani level nasional untuk menciptakan pertunjukan yang lebih besar lagi.

"Selain arrangger harus pakai koreografer dengan level nasional. Anda mungkin tidak membayangkan kan kalau pertunjukan wayang golek bisa diiringi dengan musik Batak. Jadi ketiga hal tersebut mohon dibawa ke level nasional," pungkas Arief Yahya.

Museum Budaya Jawa-Tondano Segera Berdiri di Gorontalo

Gorontalo - Desa Reksonegoro Kecamatan Tibawa yang dihuni masyarakat Jawa-Tondano akan segera memiliki museum budaya. Pembangunan museum ini menegaskan pentingnya Reksonegoro dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Gorontalo.

Dipilihnya Reksonegoro karena desa ini dinilai memiliki banyak kelebihan. Potensi yang ada di desa ini adalah sumber daya manusia (SDM) dan budaya Jawa-Tondano yang masih terpelihara baik. Untuk itu, di masa datang Desa Reksonegoro akan lebih dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang unik.

"Museum budaya ini sebagai pusat informasi budaya Jawa Tondano, semua hal tentang budaya Jaton akan lebih tertata rapi dan menjadi pusat dokumentasi budaya yang memiliki edukasi tinggi bagi masyarakat," ungkap Nelson Pomalingo, Bupati Kabupaten Gorontalo, Rabu (16/3/2016).

Masyarakat Jawa-Tondano, terbentuk setelah Kiyai Mojo dan 62 orang pengikut dibuang di tanah Minahasa setelah dikhianati Belanda saat perang Jawa tahun 1830.

Mereka kemudian menikah dengan para gadis Tondano yang kemudian melahirkan masyarakat Jawa-Tondano yang unik, percampuran budaya Jawa dan Minahasa.

Keberadaan masyarakat Jawa-Tondano di Gorontalo dimulai pada awal tahun 1900, saat beberapa kelompok datang secara bertahap.

Hingga kini di Kabupaten Gorontalo terdapat beberapa permukiman masyarakat Jawa-Tondano, antara lain di Yosonegoro, Kaliyoso, Reksonegoro, Mulyonegoro dan Bandungrejo.

Tidak hanya berpindah secara fisik, mereka juga membawa kebudayaan uniknya yang hingga kini masih tetap lestari. Kesenian hadrah, salawat jawa, dan dames tetap menjadi ikon tradisi mereka.

Demikia juga dengan kebiasaan merawat tradisi midodareni, tingkeban, hingga kenduren masih dipegang teguh masyarakat Jawa-Tondano.

Ribuan Masyarakat Jaton Hadiri Festival Seni Budaya Jawa Tondano

Gorontalo - Ribuan masyarakat Jawa Tondano (Jaton) yang berasal dari berbagai Provinsi di wilayah Indonesia Timur tumpah ruah di desa Rejonegoro selama 4 hari, mulai Rabu (17/2/2016) hingga Sabtu (20/2/2016).

Anak keturunan Kyai Mojo dan pengikutnya yang ini saling bertemu menggelar Festival Seni Budaya Jawa Tondano. Mereka beradu apik menampilkan rebana hadrah tradisional dan shalawat Jawa.

“Ada ribuan saudara kami dari berbagai daerah yang berkumpul di Rejonegoro Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo ini. Kami sama-sama bertemu untuk melepas rindu dan saling memupuk kebersamaan dalam berbagai kegiatan lomba,” kata Sahida Thajeb, peserta dari Desa Kaliyoso Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo.

Ribuan peserta dari luar daerah berkumpul di satu desa di pinggir jalan trans Sulawesi, tidak ada hotel atau fasilitas mewah yang disediakan selama acara. Para peserta sudah tahu, rumah saudara sesama keturunan Jaton adalah tempat yang mewah di hati mereka.

Di setiap rumah, saling tegur sapa dengan menggunakan bahasa Jaton, campuran bahasa Tondano dan Jawa, adalah penyambung silaturahmi anak temurun pahlawan bangsa.

“Fesbujaton memberi makna silaturahmi, bukan hanya lomba semata,” jelas Sahida.

Peserta yang datang dalam hajat ini berasal dari Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Ternate. Bahkan ada yang dari daerah lain secara pribadi datang untuk bersilaturahmi.

“Kami bangga menjadi generasi penerus perjuangan Kyai Mojo, leluhur kami adalah generasi terbaik bangsa ini pada masanya, dan kami akan meneruskan nilai-nilai perjuangan, nasionalisme dan keadilan dalam kehidupan” kata Sahida.

Miliki Banyak Peninggalan Sejarah, Pemkot Gorontalo Belum Tetapkan Cagar Budaya

Gorontalo - Pemerintah Kota Gorontalo belum pernah menetapkan lokasi cagar budaya daerah di wilayahnya. Meskipun daerah ini dikenal memiliki banyak bangunan tua, terutama dari masa kolonial Belanda.

Kota yang dulunya merupakan ibu kota kerajaan Gorontalo itu berperan sebagai pusat pemerintahan di masa VOC dan menjadi wilayah yang dikelola seorang asisten residen pemerintah kolonial Belanda.

Peninggalan masa lalu seperti rumah batu atau kayu, bekas bangunan militer, sekolah hingga bangunan dan struktur yang terkait dengan kegiatan sehari-hari banyak ditemukan di sekitar pelabuhan hingga bundaran Tugu Saronde.

“Cagar budaya yang ada selama ini seperti Benteng Otanaha sudah ditetapkan kementerian, kami hanya melakukan koordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo” kata Gafar Dude, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Gorontalo, Rabu (10/2/2016).

Meskipun demikian pihaknya sudah melakukan inventarisasi sejumlah bangunan dan struktur di kota Gorontalo. Berbagai peninggalan dari masa lalu ini menjadi daya tarik wisata.

Bangunan tua di Gorontalo terpusat di satu lokasi, mengingat masa lalu kota ini merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan di tepian Teluk Tomini.

Pada masa kolonial, seluruh pejabat dan pemimpin pribumi dikumpulkan di pusat kota. Rumah, hotel, tempat ibadah, tempat pertemuan dan bangunan lain juga berada di sekitar kawasan ini.

Bila tidak ada penetapan cagar budaya, dikhawatirkan peninggalan bernilai sejarah, arsitektur atau sosial ini akan rusak atau dibongkar.

Sudah banyak bangunan tua yang dibongkar pemerintah atau pemiliknya, seperti penjara lama yang diratakan dengan tanah untuk lahan parkir.

Demikian juga dengan rumah sakit bersalin yang dihancurkan pemerintah untuk pembangunan hotel.

Ribuan Orang Hadiri Walima di Bongo Gorontalo

Gorontalo - Ribuan orang memadati puncak peringatan Walima (kelahiran Nabi Muhammad) di desa wisata relijius Bongo, Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.

Sejak pagi mereka memadati jalan-jalan di tepi bukit gersang dari desa-desa sekitar dan luar kota, Minggu (3/1/2016) kemarin.

Iring-iringan Tolangga (usungan kayu menyerupai perahu atau menara) dipenuhi kue kolombengi dan toyopo (wadah ayaman janur berisi ayam panggang atau ikan) sudah mulai diarak penduduk ke masjid At-Taqwa.

Satu keluarga menyediakan satu tolangga untuk diantar ke masjid. Namun, bagi yang mampu, beberapa tolangga bisa membuat lebih dari satu.

Prosesi membawa tolangga dari rumah ke masjid ini adalah atraksi yang ditunggu masyarakat yang memadati desa yang dihuni nelayan tradisional ini.

Membawa tolangga bukan perkara mudah, karena besarnya tolangga dan banyaknya kue yang menghias. Diperlukan minimal dua orang atau lebih untuk bisa membawanya, bahkan ada yang tingginya mencapai empoat meter, sehingga dibutuhkan kendaraan gerobak.

Puji-pujian dan doa syukur dllafalkan masyarakat saat mengarak tolangga. Inilah wujud rasa cinta masyarakat Gorontalo atas kelahiran Nabi Muhammad.

Di masjid, ratusan masyarakat melantunkan dikili, syair-syair yang berisi sejarah kelahiran nabi dalam bahasa Arab dan Gorontalo.

Sejak semalam dikili dikumandangkan tanpa henti, hingga menjelang siang saat tolangga tiba di masjid. Inilah prosesi unik walima di Gorontalo yang paling banyak dikunjungi orang.

Tradisi walima adalah tradisi tua semasa kerajaan-kerajaan Islam ada, yang dilaksanakan turun-temurun antar generasi. Diperkirakan mulai ada sejak Gorontalo mengenal Islam, pada abad XVII.

Menurut Alex Bobihoe, Ketua Lembaga Adat Limboto, walima merupakan tradisi lama yang hingga kini masih terpelihara dengan baik.

Tanpa diperintah, setiap masjid di seluruh Gorontalo melaksanakan tradisi ini, dan masyarakatnya menyiapkan kue-kue tradisional seperti kolombengi, curuti, buludeli, wapili, pisangi.

“Sejak tahun 1673, saat kerajaan Gorontalo menetapkan semboyan adat bersendikan syara dan syara bersendikan kitabullah, sejak itu tradisi walima mulai ramai dilaksanakan masyarakat,” kata Alex Bobihoe.

Salah satu yang khas di Bongo ini adalah sikap tulus dan ikhlas masyarakat dalam menyambut tamu, termasuk yang tidak dikenal sekalipun.

Tamu-tamu tersebut akan dipersilakan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Makan minum dan membawa oleh-oleh kule kolombengi sudah disiapkan oleh tuan rumah.

“Saya sudah sebulan lalu menyiapkan kolombengi untuk walima, sebagian dikirim ke masjid dalam bentuk hiasan tolangga, dan sebagian lagi dikemas dalam plastik untuk dijadikan oleh-oleh pengunjung,” ungkap Abdullah Nihe.

Hingga sore, Bongo masih riuh dengan kemeriahan walima. Lalu lalang kendaraan mengular memenuhi jalan, kemacetan tidak terelakkan, namun semua puas, pulang membawa oleh-oleh kolombengi.

Penutur Tinggal 5.000 Orang, Bahasa Suwawa Diprediksi Akan Punah

Gorontalo - Bahasa Suwawa di Provinsi Gorontalo diperkirakan punah dalam waktu 75 tahun.

Prediksi ini disampaikan Dr Sukardi Gau, peneliti dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, saat mengunjungi Desa Tulabolo Barat, Kecamatan Suwawa Timur, Kamis (22/10/2015).

Estimasi punahnya bahasa Suwawa ini berdasarkan pada jumlah penutur yang saat ini hanya berjumlah 5.000 orang. Mereka tersebar di beberapa desa di Kabupaten Bone Bolango.

Sukardi melakukan penelitian tahun lalu dan mendapatkan data-data awal yang menunjukkan adanya perubahan dalam penggunaan bahasa Suwawa.

Menurutnya pada 1960-an hingga 1980-an bahasa Suwawa merupakan bahasa ibu suku itu yang diajarkan langsung kepada anak-anak sejak usia dini.

Memasuki era 1980-an sampai saat ini, bahasa ibu orang Suwawa adalah bahasa Indonesia atau bahasa dialek Melayu Manado. Ketika anak-anak Suwawa menginjak duduki di bangku kelas 5-6 sekolah dasar barulah bahasa Suwawa diajarkan.

“Telah terjadi perubahan penggunaan bahasa Suawawa di keluarga, dulunya bahasa ibu adalah bahasa Suwawa sekarang bahasa ibu adalah bahasa Indonesia dialek Melayu Manado," ujar Sukardi.

"Anak-anak belajar bahasa ibu atau bahasa Suwawa saat sekolah SD bahkan ada yang SMP” tambah dia.

Lucunya, menurut Sukardi Gau, di sekolah justru yang diajarkan adalah bahasa Gorontalo. Menurutnya pengajaran bahasa Gorontalo untuk anak-anak suku Suwawa adalah kebijakan pemerintah.

Selain itu, Sukardi melihat suku Suwawa merasa diri mereka sangat Gorontalo sehingga menerima saja pelajaran bahasa Gorontalo di sekolah-sekolah.

Apalagi untuk interaksi antarwarga di wilayah ini, bahasa Gorontalo menjadi bahasa pergaulan sehari-hari.

Saat mengunjungi sekolah dasar di Tulabolo Timur, sejumlah siswa di sekolah tersebut terdengar berbahasa Indonesia dengan dialek Melayu Manado.

Bahkan saat diminta untuk mengartikan kata-kata tertentu dalam bahasa Suwawa para siswa tersebut kesulitan.

Bahasa Suwawa saat ini dituturkan masyarakat yang mendiami sebagian wilayah Kabupaten Bone Bolango. Saat ini penuturnya sebagian besar adalah warrga lanjut usia.

“Jika diperkirakan satu generasi 25 tahun, maka dalam tiga generasi ke depan atau 75 tahun lagi bahasa Suwawa akan kehilangan penutrurnya” kata Sukardi Gau.

Semakin sedikit penutur bahasa Suwawa, semakin sedikit pula kemampuan menyimpan kosa kata setiap orang, sehingga sebagai ingatan kolektif bahasa Suwawa akan mengalami penurunan.

Apalagi tidak dalam setiap percakapan bahasa ini digunakan. Lazimnya penutur bahasa ini akan menyesuaikan bahasa dengan lawan bicaranya. Dalam banyak kasus, penutur bahasa Suwawa juga mahir menggunakan bahasa Gorontalo.

Penutur bahasa Suwawa, di masa lalu, mendiami kawasan yang luas terutama daerah-daerah di kecamatan Suwawa sebelum pemekaran.

Namun saat ini penutur bahasa Suwawa tinggal 5.000-an orang yang tinggal tersebar di desa-desa pinggiran di pecahan kecamatan Suwawa, seperti di wilayah Dumbaya Bulan, Tulabolo dan sekitarnya, yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Festival Duwo akan Jadi Agenda Tahunan

Gorontalo - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie mengatakan Festival Duwo akan menjadi agenda tahunan dalam kalender pariwisata.

Festival Duwo merupakan salah satu agenda yang diikuti para duta besar saat diplomatic tour pada Festival Boalemo beberapa waktu lalu.

Duwo adalah nama lokal untuk ikan nike yang merupakan endemik Gorontalo.

"Nike itu ikan yang unik dan hanya ada di Gorontalo. Kami menggunakan potensi ikan ini untuk menggaet wisatawan dengan menggelarnya setahun sekali atau bahkan dua kali," ujarnya di Gorontalo, Minggu.

Menurutnya dari sejumlah hasil penelitian, ikan nike memiliki protein dan lemak yang lebih tinggi sehingga baik untuk kesehatan terutama gizi pada anak.

Ikan nike berukuran hanya sekitar 1 cm dan hanya muncul saat bulan gelap di beberapa titik perairan Teluk Tomini.

Dalam Festival Duwo, pengunjung disuguhkan pemandangan pada malam hari saat para nelayan melakukan penangkapan ikan yang dimulai dengan prosesi khusus hingga ikan tersebut tiba di bibir pantai.

Selanjutnya pengunjung akan dihidangkan sejumlah masakan khas Gorontalo berbahan baku ikan tersebut seperti perkedel nike dan ilepao.

Gubernur mengaku pihaknya akan lebih fokus pada pariwisata bahari, karena tidak membutuhkan modal yang banyak dan cukup memelihara sumber daya yang sudah ada.

"Kami memilih tiga wilayah untuk potensi wisata bahari yakni Bone Bolango dengan Taman Laut Olele, Gorontalo Utara dengan Pulau Saronde dan Boalemo dengan Pulau Cinta," tambahnya.

Festival Boalemo 2015 Bisa Kembangkan Budaya Lokal

Gorontalo - Menteri Koordinator ‎Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ‎Puan Maharani‎, menghadiri acara puncak Festival Boalemo 2015 di Gorontalo, Kamis 10 September 2015. Festival itu merupakan rangkaian dari Sail Tomini 2015 yang diberi tema “Mutiara Khatulistiwa untuk Kehidupan Masa Depan”.

Menurut Puan, penyelenggaraan festival itu bert‎ujuan menjadikan Boalemo sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah, terutama sektor pariwisata bahari.

"Boalemo berada di pesisir Teluk Tomini, sehingga tidak heran kalau daerah ini memiliki panorama pantai yang indah dan kekayaan sumber daya hayati laut yang tinggi," ujar Puan.

Menurut Puan, Festival Boalemo 2015 digelar juga demi percepatan pembangunan kelautan dan daerah pesisir kepulauan. Percepatan pembangunan tersebut dilaksanakan dengan cara menggalang keterpaduan program kegiatan yang dimiliki oleh berbagai kementerian dan lembaga pusat, provinsi, kabupaten/kota, TNI, ‎swasta, dan masyarakat.

Rangkaian kegiatan Festival Boalemo antara lain,‎ Program BUMN Peduli Tomini dan Festival Boalemo 2015, y‎acht rally, dan Lomba Olahraga Bahari, pameran potensi daerah, ‎konvensi dan seminar nasional serta internasional.

"Dengan berkembangnya pariwisata, akan membuka peluang bertumbuh kembangnya industri-industri lokal berbasis budaya yang pada saat ini mau tidak mau harus siap bersaing baik di pasar domestik maupun internasional," kata Puan.

Menurut Puan, k‎egiatan ini digelar untuk percepatan pembangunan dan pengembangan potensi sumber daya kelautan dan pariwisata yang ada di daerah. Selain itu, festival digelar guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang seluas-luasnya, khususnya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

"Saya berharap‎, ‎pemerintah dan masyarakat Kabupaten Boalemo dapat menggerakkan gerakan sadar wisata, Gerakan ini adalah semangat membangkitkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya pariwisata di Kabupaten Boalemo, dengan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat," ujar Puan.

Untuk mengoptimalkan potensi sumber kelautan dan pariwisata tersebut, harus dipersiapkan sumber daya manusianya. SDM yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing harus disiapkan melalui pembangunan manusia yang sadar budaya dan sadar wisata.

"Dengan kekayaan sumberdaya alam, serta keragaman adat istiadat dan budaya, saya yakin masyarakat Boalemo akan mampu membangun sektor pariwisata sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi pada masa depan," kata Puan.

Sail Tomini dan Festival Boalemo 2015 Hadirkan Presiden dan Wapres

Gorontalo - Festival Boalemo dan Sail Tomini 2015 akan digelar pada September mendatang. Presiden dan Wakil Presiden, serta sejumlah menteri dikabarkan akan menghadiri gelaran tersebut. Menurut data yang diperoleh dari Pemerintah Provinsi Gorontalo, agenda Sail Tomini dan festival Boalemo 2015 telah dicanangkan April 2015 silam di Jakarta.

Puncak acara sendiri akan berlangsung pada 10 September 2015 mendatang. Sejumlah kegiatan seperti pentas budaya dan atraksi wisata, gebyar seni 2015, festival kuliner nusantara serba ikan, hingga fashion karawo dan karawo song 2015 akan meramaikan dua perhelatan ini.

Tak hanya itu, para pengunjung juga akan disuguhkan atraksi dari TNI Angkatan Udara, seperti terjun payung, paramotor, aeromodeling, demo terbang aying, dan playpass pesawat tempur. Gelaran tahunan ini juga menjadi lengkap dengan adanya Festival Layang-layang, Lomba Bahari, Pameran Potensi Daerah, Ekowisata Hutan Nantu, hingga Agrowisata Perkebunan Cokelat.

Namun sebelum puncak acara, sesuai jadwal yang diperoleh awak Liputan6.com, Selasa (25/8/2015), beberapa kegiatan akan diselenggarakan, seperti Festival Saronde pada 30 – 31 Agustus di Kabupaten Gorontalo Utara, Seminar Konservasi dan Taman Laut di Universitas Negeri Gorontalo, hingga bakti sosial pada 4 September 2015.

Sementara itu, Danlanal Gorontalo, Letkol Laut (P), Baroyo Eko Basuki saat ditemui awak media mengungkapkan, untuk pengamanan laut akan dimulai pada H – 5 dan akan disterilkan dalam radius 5 mil.

Ratusan Wisatawan Padati Pusat Festival Tumbilotohe

Gorontalo - Ratusan pengunjung memadati lokasi pusat Festival Tumbilotohe atau pesta lampu tradisional di Lapangan Taruna Kota Gorontalo, Senin (13/7) malam.

Para pengunjung mengabadikan meriahnya ribuan lampu tradisional berbahan bakar minyak tanah dan minyak kelapa yang ditempatkan berjejer di atas tanah. Sejumlah wisatawan dalam dan luar negeri tak ingin melewatkan tradisi khas Gorontalo tersebut.

"Saya datang dari Bekasi, kebetulan sedang berkunjung ke keluarga di Gorontalo dan mencari waktu yang pas agar bisa menikmati tumbilotohe," kata seorang pengunjung, Wahid Gunawan.

Menurut dia, tradisi tersebut memiliki keunikan yang bisa menggaet wisatawan untuk datang ke daerah tersebut. Festival tersebut dibuka Wali Kota Gorontalo Marten Taha yang diawali dengan sidang adat serta doa bersama di penghujung Ramadhan.

"Tumbilotohe memiliki makna religius, budaya dan adat yang kental dimana lampu-lampu tersebut sebagai simbol bahwa setiap manusia menjadi penerang bagi yang lainnya," ujarnya.

Pemkot Gorontalo menggelar lomba pasang lampu antarkecamatan dan dipusatkan di sejumlah titik seperti Lapangan Taruna, Lapangan Buladu, Jembatan Talumolo I, dan Lapangan Bulotadaa.

Tumbilo berarti memasang atau menyalakan dan tohe adalah lampu. Pada zaman dahulu lampu yang digunakan berbahan bakar getah damar maupun minyak kelapa. Namun saat ini masyarakat menggunakan minyak tanah dan lampu energi listrik untuk memeriahkan tradisi tersebut.

Festival Tumbilotohe Tarik Perhatian Wisman

Gorontalo - Ratusan pengunjung memadati lokasi pusat Festival Tumbilotohe atau pesta lampu tradisional di Lapangan Taruna Kota Gorontalo, Senin (13/7) malam. Para pengunjung mengabadikan meriahnya ribuan lampu tradisional berbahan bakar minyak tanah dan minyak kelapa yang ditempatkan berjejer di atas tanah.

Sejumlah wisatawan dalam dan luar negeri tak ingin melewatkan tradisi khas Gorontalo tersebut.

"Saya datang dari Bekasi, kebetulan sedang berkunjung ke keluarga di Gorontalo dan mencari waktu yang pas agar bisa menikmati tumbilotohe," kata seorang pengunjung, Wahid Gunawan.

Menurut dia, tradisi tersebut memiliki keunikan yang bisa menggaet wisatawan untuk datang ke daerah tersebut.

Festival tersebut dibuka Wali Kota Gorontalo Marten Taha yang diawali dengan sidang adat serta doa bersama di penghujung Ramadan.

"Tumbilotohe memiliki makna religius, budaya dan adat yang kental dimana lampu-lampu tersebut sebagai simbol bahwa setiap manusia menjadi penerang bagi yang lainnya," ujarnya.

Pemkot Gorontalo menggelar lomba pasang lampu antarkecamatan dan dipusatkan di sejumlah titik seperti Lapangan Taruna, Lapangan Buladu, Jembatan Talumolo I, dan Lapangan Bulotadaa.

Tumbilo berarti memasang atau menyalakan dan tohe adalah lampu. Pada zaman dahulu lampu yang digunakan berbahan bakar getah damar maupun minyak kelapa.

Namun saat ini masyarakat menggunakan minyak tanah dan lampu energi listrik untuk memeriahkan tradisi tersebut.

Gorontalo Utara Gelar Festival Saronde Dukung Sail Tomini

Gorontalo - Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara akan menggelar Festival Saronde untuk mendukung Sail Tomini dan Festival Boalemo.

Bupati Gorontalo Utara Indra Yasin, Jumat, mengatakan Festival Saronde akan menjadi ajang welcome party bagi ratusan wisatawan penyuka wisata kapal layar yang akan menghadiri ajang Sail Tomini.

"Beruntung Gorontalo Utara mendapat kehormatan menjadi salah satu titik singgah "rally yacht" sehingga kesempatan ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin," ujar bupati.

Festival Saronde sebagai ajang tahunan di kabupaten ini yang biasanya digelar Februari, sengaja diundur awal September untuk mendukung kemeriahan Sail Tomini.

Mengingat kegiatan ini menjadi peluang emas bagi daerah untuk promosi potensi wisata bahari dan potensi kerajinan tangan khas daerah ini.

"Kegiatan ini diharapkan mendongkrak kunjungan wisatawan di Provinsi Gorontalo khususnya Pulau Saronde," ujarnya.

Festival ini akan dikemas lebih menarik, dengan menampilkan pagelaran tarian tradisional, pameran kerajinan tangan dan komoditi kelautan serta perikanan.

September 2014, Datangi Festival Teluk Tomini

Gorontalo - Teluk Tomini berada di tiga provinsi yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo. Tak hanya keunikan letaknya, tetapi pesona bawah lautnya yang juga terkenal. Bulan depan, kawasan ini akan diramaikan oleh Festival Teluk Tomini 2014.

Festival tersebut akan dilaksanakan pada 10-13 September 2014. Tahun ini, festival akan berpusat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Ada berbagai rangkaian kegiatan yang memeriahkan festival ini. Tentunya berfokus pada aktivitas bahari dan berusaha meningkatkan kesadaran pelestarian lingkungan laut dan budaya Indonesia.

Teluk Tomini berada di jantung Segitiga Terumbu Karang, sehingga memiliki potensi bahari yang besar. Karena potensinya di bidang bahari, Teluk Tomini tengah dikembangkan salah satunya sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia.

Teluk Tomini merupakan salah satu teluk terluas di Indonesia dan rumah bagi 1.031 hektar terumbu karang serta 78.510 hektar hutan mangrove. Dengan festival tersebut, diharapkan potensi Teluk Tomini dapat dikenal di seluruh dunia.

Warga Batudaa Gorontalo Rayakan Malam Qunut

Gorontalo - Warga Kecamatan Batudaa dan sekitarnya di Kabupaten/Provinsi Gorontalo, menggelar tradisi malam qunut yang digelar pada setiap malam pertengahan Ramadhan, Minggu.

Pada malam tersebut, warga berbondong-bondong menuju pasar di Desa Payunga yang khusus menjual kacang dan pisang.

Ratusan pedagang yang ada di pasar tersebut menjual berbagai macam jenis kacang kulit dan pisang, karena keduanya sangat digemari warga Gorontalo.

"Makan kacang tak lengkap rasanya jika tidak disertai pisang. Kami senang bisa ke pasar ini untuk memilih kacang kesukaan untuk dibawa pulang," kata Dewi Abdulah, seorang pengunjung.

Ia mengaku jauh-jauh datang dari Kota Gorontalo untuk turut merayakan tradisi yang hanya bisa ditemukan di wilayah itu.

Harga kacang kulit di pasar tersebut bervariasi mulai dari Rp5.000 hingga Rp9.000/bungkus tergantung jenisnya.

Sementara harga pisang dibanderol Rp10.000 hingga Rp15.000 per sisir. Selain bisa langsung membelinya di pasar, warga yang berkunjung ke Batudaa juga bisa menikmatinya secara gratis di rumah warga setempat yang secara sukarela menyediakan kacang dan pisang.

"Saya sudah borong kacang dan pisang lebih dahulu dan disajikan di halaman rumah, jika ada warga atau kerabat atau siapapun yang ingin makan dipersilakan," ungkap warga setempat, Sam Ase.

Pasar dibuka setelah shalat tarawih dan biasanya digelar hingga sahur tiba.

Pemkab Gorontalo Gelar Adat Tonggeyamo Sambut Ramadhan

Gorontalo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo, menggelar adat Tonggeyamo atau penetapan awal ibadah puasa 1 Ramadhan, oleh para tokoh adat dan agama di daerah itu, dihadiri bupati David Bobihoe Akib, wakil bupati Tonny Junus dan jajarannya.

Kepala bagian humas dan protokoler sekretariat daerah, Azis Nurhamiddin, Sabtu, mengatakan, penetapan awal puasa secara adat Gorontalo tersebut, adalah rangkaian yang wajib digelar setiap menyambut bulan suci Ramadhan, sebagai pemberitahuan resmi lembaga adat dan pemerintah daerah kepada umat muslim, mengacu pada hasil sidang itsbat oleh Kementerian Agama RI.

Uniknya, nuansa timur tengah mewarnai pelaksanaan adat Tonggeyamo tahun ini, yang biasanya para pejabat pemerintah daerah mengenakan baju adat Takowa, namun kali ini seluruhnya seragam mengenakan jubah gamis dan kopiah.

"Ini adalah inovasi bupati untuk menciptakan suasana baru dan berbeda pada rangkaian adat Tonggeyamo, tanpa mengurangi kesakralannya," Ujar Azis.

Nuansa unik dan inovatif memang selalu dicetuskan bupati di setiap kegiatan, sehingga akan menjadi momen tak terlupakan apalagi adat Tonggeyamo rutin digelar setiap tahun, sehingga kreatifitas perlu dibangun untuk menarik perhatian generasi muda pada pelestarian adat Gorontalo, tanpa merusak tradisi yang sudah mengakar di daerah adat bersendikan syara dan syara bersendikan kitabullah ini.

Sementara itu, bupati David Bobihoe Akib mengaku, pemerintah daerah terus berupaya menumbuhkan kecintaan terhadap adat dan kesenian daerah ini, sehingga inovasi tersebut diharapkan mampu merangsang kecintaan generasi muda dalam mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang kental tradisi keislaman.

"Pemerintah daerah wajib membangun kreativitas untuk melestarikan adat dan budaya Gorontalo, khususnya di kalangan generasi muda," ujar Bupati.

Pemerintah daerah menggelar adat Tonggeyamo penetapan 1 Ramadhan 1435 hijriyah, yang jatuh pada Minggu 29 Juni 2014, sesuai hasil sidang itsbat Kementerian Agama RI.

Terkait perbedaan awal Ramadhan, dimana sebagian umat Islam di daerah ini sudah mulai berpuasa pada Sabtu hari ini, bupati mengaku pemerintah daerah tidak mempermasalahkannya dan tidak perlu diperdebatkan.

Anjungan Rumah Adat Gorontalo di Taman Mini akan Direnovasi

Gorontalo - Anjungan rumah adat Provinsi Gorontalo yang berdiri di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bakal direnovasi dan ditata ulang.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Selasa mengungkapkan, berdasarkan keluhan pengunjung TMII, kondisi anjungan dinilai tidak representatif.

"Banyak laporan baik dari orang Gorontalo di Gorontalo atau orang Gorontalo di luar daerah yang berkunjung ke TMII bahwa kondisi bangunannya tidak bagus karena tidak terawat. Saya sudah datang ke sana didampingi ketua dewan adat untuk melihat rencana renovasi anjungan itu," ujarnya.

Anjungan diharapkan memuat berbagai informasi penting menyangkut potensi daerah dan makna adat di setiap sudut rumah.

"Kami akan buat bagus agar ke depan nanti anjungan ini menjadi ikon dan orang bisa melihat segala hal tentang Gorontalo, termasuk program pemerintah. Ada brosur dan informasi penting lainnya," imbuhnya.

Renovasi rumah adat tersebut di antaranya menyangkut struktur bangunan dalam yang dinilai tidak representatif. Bangun dalam rumah terlalu sempit dengan ruang pertemuan yang kecil.

Padahal, dalam adat Gorontalo dikenal istilah "dulohupa" atau musyawarah. Dari tiga kamar yang tersedia, satu di antaranya akan dibongkar untuk memberikan ruang yang lebih luas sebagai ruang musyawarah.

"Dalam rumah adat itu ada tiga ruang penting. Pertama huwali lo wadaka atau tempat rias, huwali lo humbia atau kamar bersanding (suami-istri) dan ada ruangan besar untuk pertemuan dan musyawarah ," jelas Ketua Dewan Adat Gorontalo Karim Pateda.

Anjungan Provinsi Gorontalo merupakan anjungan terkahir yang dibangun di areal TMII. Anjungan ini diresmikan tahun 2011 .

Selain memamerkan rumah adat, pakaian adat dan pelaminan adat, anjungan ini memamerkan transportasi khas Gorontalo Bentor (becak motor) dan Bendi (kereta kuda). Di depan anjungan terdapat patung pria dan wanita yang sedang menari Saronde lengkap dengan pakaian adat.

-

Arsip Blog

Recent Posts