Tampilkan postingan dengan label Palembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palembang. Tampilkan semua postingan

Filosofi Hidup Mati pada Rumah Limas Palembang

Palembang, Sumsel – Rumah Limas menjadi salah satu ikon rumah daerah khas Sumatera Selatan (Sumsel). Rumah tradisional dengan ornamen kayu berusia ratusan tahun dengan ukiran yang khas menjadi ciri khas rumah panggung ini.

Belakangan, keberadaan Rumah Limas di Sumsel, khususnya di Palembang, semakin tergerus zaman. Wisata sejarah rumah Limas yang mengulik tentang budaya Sumsel juga terbatas di museum saja.

Sadar akan minimnya promosi budaya khas Sumsel membuat salah satu pemilik Rumah Limas, Abdul Aziz, kembali mengenalkan rumah daerah ini ke masyarakat Sumsel dan wisatawan luar daerah.

Berawal dari kecintaannya terhadap rumah tradisional ini, Abdul Aziz membangun Rumah Limas sekitar 1990-1991. Ornamen yang dibuat sangat mirip dengan rumah tradisional masyarakat tempo dulu, mulai dari perabot rumah tangga, ukiran hingga baju tradisional Sumsel yang disiapkannya.

"Awalnya hanya koleksi pribadi saja, tapi memang niatnya untuk melestarikan budaya Sumsel di tengah modernisasi bangunan di Palembang. Selain untuk koleksi pribadi, Rumah Limas ini memang ditujukan untuk wisata heritage di Palembang," ujar KH Abdul Aziz melalui Humas Rumah Limas, Sri Handayani, kepada Liputan6.com, Minggu, 4 September 2016.

Rumah panggung yang berada di Jalan Demang Lebar Daun No 51, Palembang itu dibangun dengan dua jenis kayu kokoh, yaitu Kayu Unglen atau Kayu Besi dan Kayu Tembesu pada dinding, lantai, dan atap rumah. Sementara tiang rumah dibuat dari campuran kayu tembesu dan semen, sehingga tahan air dan kuat.

Dari segi arsitektur, rumah lima terdiri dari ruang persegi dan persegi panjang yang menghadap ke arah Timur dan Barat. "Ternyata arah Timur dan Barat memiliki arti tersendiri. Arah Timur yaitu berarti Matoari Edop, yang mana secara filosofi diartikan sebagai awal mula kehidupan manusia. Sementara arah Barat, yaitu Matoari Mati, yang berarti akhir kehidupan atau kematian," tutur Sri.

Rumah Limas juga disebut sebagai rumah panggung karena bagian bawah Rumah Limas terdapat kolong rumah. Kolong rumah yang terbuka ini biasa digunakan untuk kegiatan sehari-hari, mulai dari tempat berkumpul keluarga atau tetangga, hingga aktivitas lainnya.

Rumah Limas ini memiliki dua buah tangga di samping kiri dan kanan depan rumah. Tinggi Rumah Limas bisa sampai sekitar tiga meter.

Tari Kreasi Dominasi Cerita Rakyat

Palembang, Sumsel - Berlenggak lenggok diatas panggung berukuran 10-12 meter dengan diiringi musik para peserta larut dalam pesta Budaya Seni Pelajar Sumsel di Asrama Haji kemarin (3/8). Tampak penampilan peserta asal Lubuk Linggau, memakai pernak pernik khas daerahnya sontak memukau para penonton. “Kita tampilkan cerita asal daerah lewat sebuah tarian,”ujar salah satu peserta Regia dari SMKN 1 Lubuk Linggau . Tak hanya itu, adalagi penampilan dari enam penari asal OKUS dari SMAN 1 Pulau Beringin dengan dibalut pakaian bewarna hijau daun berlapis kain merah, beberapa orang penari begitu gemulai memperagakan setiap gerakannya dengan iringan berbagai alat musik seperti gitar dan keyboard.

“Kami membawa sebuah cerita daerah berjudul bulan juare yang diambil dari suku Semendek yang ada di OKUS zaman dulu. Mengisahkan mengenai kehidupan seorang pendekar sakti dengan sikap tempramen, yang hidup tanpa bisa memanfaatkan ilmunya. namun berakhir dengan kesedihan hingga kematian sang anak,” Ucap Pembina grup seni Tari dari SMA N 1 pulau beringin, Abi Zarrin. Untuk juara pertama lomba Karnaval budaya pelajar direbut oleh Lubuklinggau, juara 2 prabumulih, juara 3 muratara. Lomba modifikasi pakaian adat: juara 1 muratara, juara 2 banyuasin, juara 3 pagar alam, harapan 1 MUBA, harapan 2 PALI, harapan 3 palembang. LOMBA Tari kreasi daerah Juara 1 OKUT, juara 2 Muratara, juara 3 PALI, harapan 1 ogan ilir harapan 2 linggau, harapan 3 Banyuasin.

Sementara kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel Drs Widodo MPd mengatakan, lomba seni budaya pelajar memberikan wadah bagi guru dan pelajar dalam berkreasi dan berkompetisi dalam lomba seni budaya. Ini juga upaya menggali, menemukan dan mengembangkan potensi pelajar dalam olah seni budaya baik tradisional lokal maupun seni budaya. “Saya terkesan dan puas dengan acaranya, semua daerah di 17 kabupaten/kota ikut dan para peserta tamu dari Salatiga,” ucapnya.

Ia mengatakan, pagelaran ini sebagai ajang persiapan Sumsel menyambut dan, menyemangati Asian Games 2018. Pelajar yang saat ini belum berpikir diharapkan dapat tergugah untuk ikut andil dalam mengeglorakan Asian Games. “Ini bentuk hiburan, tamu yang hadir di sumsel perlu hiburan untuk melepas penat yang bisa di pertontonkan dalam menghibur mereka pada waktunya nanti,”ucapnya, usai acara. Kegiatan yang digelar selama tiga hari diikuti 304 peserta dari 17 Kabupaten/Kota di Sumsel. Tema tahun ini, Rangkaian kegiatan yakni tari kreasi daerah dan lomba modifikasi pakaian adat. “Untuk pesertanya, setiap kabupaten kota mengirimkan 16-48 peserta berasal dari SMA/SMK di Sumsel,”pungkasnya.(nni/nan)

Gubernur Sumsel Tersandung Dugaan Korupsi APBD OKU

Palembang - Untuk mengusut dugaan korupsi miliaran rupiah dana APBD Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang dilakukan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) terpilih Syahrial Oesman ketika menjabat bupati daerah tersebut, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel segera membentuk tim terpadu. Tudingan terhadap Syahrial Oesman yang dijadwalkan bakal dilantik menjadi Gubernur Sumsel periode 2003-2008 pada 12 September 2003 ini, dikemukakan Himpunan Aksi Masyarakat Sumatera Selatan (Hamass) unjuk rasa di halaman kantor Kejati Sumsel, Senin (1/9).

Demonstrasi puluhan massa Hamass tersebut berlangsung dalam pengawalan yang cukup ketat dari polisi. Sebab, dalam aksi sebelumnya massa Hamass ini telah diserang sekelompok preman yang mengakibatkan seorang aktivis bernama Chandra Madjid Chaniago terkena tusukan pisau dan lima lainnya babak belur terkena pukulan aparat kejaksaan dan polisi.

Dalam aksinya Hamass meminta pengusutan terhadap Syahrial Oesman, mantan Bupati OKU segera dilakukan. ”Kejaksaan Tinggi Sumsel harus segera menuntaskan kasus-kasus korupsi yang dilakukan Syahrial Oesman semasa menjabat Bupati OKU,” teriak Koordinator aksi Hamass Hazairin di hadapan Wakil Kejati Zubr Rahmat dan Asisten Intelijen Kejati Sumsel Patuan Siahaan, SH.

Dengan melepaskan tanggung jawab sebagai Bupati OKU dan meninggalkan berbagai kasus korupsi, Syahrial Oesman, menurut Hamass, tidak pantas dan tidak layak memimpin Sumsel. ”Kami sudah melaporkan kasus korupsi yang dilakukan Syharial Oesman pada akhir tahun 2002, tapi kenapa kejaksaan tidak pernah meneruskan kasus itu,” Hazairin mempertanyakan.

Asisten Intelijen Kejati Sumsel Patuan Siahaan menegaskan semua orang tidak akan lepas dari tuntutan hukum bilamana memang benar-benar terbukti melakukan korupsi. ”Kami tidak memandang siapa yang melakukan korupsi, semuanya akan diusut sesuai prosedur hukum,” tegas Patuan sembari meninggalkan kerumunan massa.

Mendapat jawaban yang sangat umum tersebut, massa meneriakkan bahwa Patuan Siahaan telah disogok Syahrial Oesman untuk tidak mengusut kasus tersebut. Massa mulai mendesak memasuki ruang lantai bawah kantor Kejati Sumsel, namun disepakati diadakan dialog dengan wakil Hamass.

Hasil dialog disepakati pihak Kejati Sumsel segera berjanji membentuk tim gabungan antara Kejati Sumsel dengan Kejari Baturaja untuk mengusut dugaan kasus korupsi terhadap Syahrial Oesman tersebut. Dijelaskan kasus korupsi yang dilakukan Gubernur Sumsel terpilih tersebut antara lain proyek peternakan 48 ribu ekor Itik dan penggemukan 2.400 ekor Sapi bantuan Menteri UKM dan Koperasi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Kedua proyek yang diresmikan suami Presiden RI, Taufik Kiemas tersebut, saat ini terbengkalai.

Hazairin mengungkapkan, Proyek Peternakan Itik sebanyak 48 ribu ekor tersebut gagal total. ”Saat ini tinggal 700 ekor saja. Banyak Itik yang mati karena tidak terurus. Semestinya ribuan ekor Itik itu untuk petani di 8 Desa, tapi sekarang hanya Desa Lubuk Batang saja yang berjalan,” kata Hazairin.

Selain proyek itik, kegagalan juga dialami oleh proyek penggemukan sapi. Sebanyak 2.400 ekor sapi bantuan Menkop UKM Ali Marnan Hasan yang didatangkan dari Australia banyak yang mati. Menanggapi gagalnya kedua proyek tersebut, mantan Bupati OKU Syahrial Oesman kepada wartawan menegaskan, kedua proyek tersebut sama sekali tidak gagal.

”Wartawan boleh cek ke lapangan, yang mana yang gagal. Ini adalah cara-cara lama yang bertujuan untuk menjegal saya menjadi Gubernur Sumsel,” tegas Syahrial. (sir)

Sumber: Sinar Harapan, Selasa, 02 September 2003

Massa Desak Usut Korupsi Mantan Bupati OKU

Palembang - Sekitar 100 orang yang mengatasnamakan Himpunan Aksi Masyarakat Sumatra Selatan unjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Tinggi Sumatra Selatan, Kamis (28/8). Mereka menyoal indikasi korupsi gubernur terpilih Syahril Oesman semasa menjabat Bupati Ogan Komering Ulu dan meminta kejaksaan segera membentuk tim penyidik untuk mengusut kasusnya.

Menurut koordinator aksi, Hazairin Holidi, indikasi korupsi itu bisa dilihat pada proyek pembangunan jembatan Ogan III. Proyek yang direncanakan dari tahun 2000 dan memakai dana APBD Kabupaten Ogan sebesar Rp 7 miliar itu sampai sekarang masih bermasalah dan terbengkalai. Selain soal itu, Holidi juga menyebut proyek penggemukan sapi sebanyak 2400 ekor bantuan Menteri Koperasi dan dana APBD Ogan tahun 2002 sebesar Rp 4,5 miliar yang masih bermasalah.

Wakil Kejaksaan Tinggi Sumatra Selatan, Zober Rahmat, yang menerima massa di depan kantor, mengatakan, Kejaksaan sedang melakukan pematangan terhadap laporan-laporan yang diberikan oleh masyarakat berkaitan dugaan korupsi Syaril. Pihaknya sudah memberi penugasan terhadap unitnya di Batu Raja untuk menyelidiki kasus ini.

Namun Rahmat juga mengingatkan, penyelidikan korupsi yang melibatkan pejabat bupati dan gubernur membutuhkan waktu lama sebab. Selain itu juga butuh kecermatan. "Jangan sampai kami membawa kasus ini ke pengadilan, tapi memutuskan bebas karena ketidak cermatan kita," kata Rahmat, yang saat menerima massa didampingi Asisten Intelijen Patuan Siahaan.

Ketika Rahmat meminta dua orang perwakilan untuk masuk, massa tidak mau. Mereka meminta 22 orang perwakilan. Karena ketidak ada kesepakatan, Wakajati meninggalkan massa. Sampai saat ini, massa masih berkumpul di depan kantor kejaksaan. (Arief Ardiansyah)

Sumber: Tempo Interaktif, Kamis, 28 Agustus 2003

Buang Sial, Warga Suku Anak Dalam Jalan Kaki Jambi-Palembang

Palembang, Sumsel - Ruangan di Panti Sosial Karya Wanita Harapan (PSKWH) KM 10 Palembang, Sumatra Selatan, penuh warga suku Anak Dalam dari pedalaman Jambi. Ada 31 orang ditampung sementara di situ. Mereka lemas dan lelah. Sudah tiga pekan mereka menjalani adat melangun atau membuang sial.

Dalam adat Suku Anak Dalam, apabila ada anggota keluarga yang meninggal wajib menjalankan adat melangun atau buang sial. Caranya satu keluarga besar keluar dari hutan adat dan berjalan ribuan kilometer untuk membuang sial.

Ketua Kelompok Melangun, Mengko, 49, mengungkapkan ia bersama rombongan keluarganya berangkat dari Bukit 12 Jambi sejak dua bulan lalu menuju Palembang. Perjalanan jauh itu untuk menjalankan tradisi melangun.

“Kami harus keluar dari hutan selama tiga bulan. Kalau tidak ditepati, maka kami harus membayar denda 500 kain kepada kepala suku,” ungkap Mengko saat ditemui Media Indonesia, kemarin.

Mengko menuturkan adik iparnya meninggal. Sebagai ketua kelompok, ia memimpin rombongan keluarga besarnya untuk menjalankan melangun. Rute yang ditempuh mulai dari Sarolangun, Lubuk Linggau, Tebing Tinggi, Lahat, Muara Enim, dan Indralaya.

“Sebenarnya kami ke Palembang ini hanya singgah sebentar dan langsung akan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jambi,” ujarnya.

Dahulu kala tradisi melangun dilakukan cukup lama. Umumnya keluarga dan kerabat yang melakukan melangun bisa 10-12 tahun melakukan perjalanan keluar pedalaman. Namun, kini hanya berkisar empat bulan hingga setahun karena wilayah mereka sudah sangat sempit.

Perjalanan panjang ini membuat anggota keluarga yang ikut tradisi melangun jatuh sakit dan cedera. Melalui Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan, mereka ditampung sementara di PSKWH.

“Kami sudah melakukan cek kesehatan mereka dan memberikan ruang untuk bisa beristirahat,“ kata Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Sumatra Selatan, Belman Karmuda, saat mendampingi warga Suku Anak Dalam.

Kehadiran warga Suku Anak Dalam asal Jambi di Palembang langsung mendapat respons dari dinas sosial. Petugas dinas sosial langsung memberikan fasilitas untuk mengantisipasi agar tidak ada yang sakit.

“Sebetulnya sudah kami tawarkan untuk istirahat beberapa hari, tetapi mereka tetap ingin melanjutkan perjalanan pulang ke Jambi,“ lanjut Belman.

Dinas sosial juga memberikan bantuan berupa pakaian dan makanan untuk bekal selama perjalanan pulang. Belman mengungkapkan kondisi 31 warga Suku Anak Dalam cukup memprihatinkan. Bahkan, salah satu dari mereka kehilangan uang karena dicuri. “Kami berharap mereka selamat sampai tujuan,“ harapnya.

Mengko mengaku tidak bersedia menginap di panti sosial. Mereka harus pulang ke rimba usai melangun.(Dwi Apriani)

Sumsel Siap Gelar Musi Triboatton 2016

Palembang, Sumsel - Peserta lomba Musi Triboatton yang telah dijadikan agenda tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan pada Mei 2016 akan diperbanyak dibanding tahun sebelumnya.

Asisten Kesra Setda Provinsi Sumatera Selatan Ahmad Najib di Palembang, Selasa mengatakan guna meningkatkan jumlah peserta pihaknya akan menyebarkan undangan ke sejumlah negara tetangga untuk mengikuti Triboatton tersebut.

Jumlah peserta Triboatton ditingkatkan juga sebagai ajang promosi daerah, oleh karena itu pihaknya menargetkan pesertanya tahun ini harus lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Dia mengatakan, pelaksanaan Musi Triboatton ini masih seperti tahun yang lalu dengan lima etape dimulai atau start dari Tanjung Raya Kabupaten Empat Lawang, Muara Kelingi (Kabupaten Musirawas), Sekayu (Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin (Kabupaten Banyuasin), dan finish di Kota Palembang.

Sementara pembukaannya akan dilakukan di Musi Banyuasin juga sebagai tuan rumah pelaksana.

Finish di Kelurahan 10 Ulu Kota Palembang dan bukan di Benteng Kuto Besak karena sedang perbaikan, ujar dia.

Menurut dia, Musi Triboatton tersebut juga akan dijadikan atau dalam rangkaian menyemarakkan Asian Games 2018.

Memang, lanjut dia, Musi Triboatton itu sendiri bukan saja sebagai olahraga tetapi sebagai ajang promosi sungai yang ada di daerah ini.

Menurut dia, dengan lomba Musi Triboatton akan berdampak banyak bagi Sumsel, di antaranya mampu mempromosikan obyek wisata alam atau air Sungai Musi yang memiliki banyak keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya.

Oleh karena itu Musi Triboatton jangan hanya dijadikan ajang olahraga tetapi juga sebagai kajian bagi peserta dan daerah, ujar dia.

Nantinya, para peserta akan memberikan kajian menyeluruh terhadap Sungai Musi, mengingat sungai tersebut merupakan kebanggaan Sumsel sejak masa Kerajaan Sriwijaya.

Dengan promosi sungai melalui Triboatton diharapkan nantinya dapat menjadi sungai yang terbaik dan bersih sehingga ada perubahan prilaku bagi masyarakat untuk menjaga kelestariannya, tambah dia.

Tradisi Pernikahan Adat Palembang Kini Tinggal Sejarah

Palembang, Sumsel - Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang memiliki banyak tradisi daerah yang sangat khas. Namun sayangnya, banyak tradisi ‎yang turun-temurun digelar sudah hilang ditelan zaman. Bahkan, tradisi pernikahan adat Palembang kini sudah tidak digunakan lagi oleh warga Palembang.

"Banyak yang sudah hilang dan tidak digunakan. Tradisi pernikahan sekarang lebih praktis dengan bujet yang murah. Kalau mengikuti tradisi lama, bisa berminggu-minggu dengan biaya yang besar. Semakin besar, semakin terlihat tingkat kesejahteraan," ujar RM Ali Hanafiah, sejarawan Sumsel, kepada Liputan6.com, Sabtu (2/4/2016).

Beratib saman, nama tradisi pernikahan daerah ‎digelar dengan berbagai acara. Sebelum pernikahan, digelar acara madik. Calon pengantin pria menunggu ngebet atau persetujuan dari calon pengantin wanita. Biasanya ngebet berlangsung selama 2-7 bulan.

Setelah setuju, calon pengantin pria memberikan cincin 1 suku dan sarung batik. Lalu ada proses berasan, yaitu proses menentukan apa saja mas kawin, adat, hari dan kapan mengantarkan seserahan tersebut. Tenda akad nikah juga dibuat dari bambu‎ oleh para warga.

Masyarakat terdahulu mempercayai bahwa ‎prosesi pernikahan tidak boleh dilakukan di bulan Safar dan Hafid. Bulan Safar sendiri dipercaya sebagai waktu panas dan hafid (sesudah syawal) juga akan membuat rezeki pengantin menjadi sempit. Sehingga mereka lebih memilih menggelar di waktu Rabiul Awal hingga Jumadil Akhir.

"Dulu akad nikah dilakukan di rumah mempelai laki-laki. Saat nikah, ada pendelegasian wanita ke rumah laki-laki. Calon mempelai wanita tidak ikut.

Sehari sebelumnya, penghulu dan saksi nikah menanyakan ke calon mempelai wanita, apakah setuju dipinang. Kalau diam, menandakan setuju. Kalau sekarang akad nikah langsung dari kantor Urusan Agama (KUA),‎" kata dia.

Saat akad nikah, ada acara munggah di rumah pengantin wanita. Kegiatannya seperti cacap-cacapan, keliling kamar dan keliling pasar. Ini ditujukan untuk simbol pengenalan keluarga baru ke masyarakat setempat.

Ada juga acara upacara sirih penyapo, sirihnya diberikan mempelai wanita ke mempelai pria dari ketiak sebelah kiri ke belakang punggung mempelai pria. Kedua mempelai duduk di papan penyapah.

Lalu acara malamnya, yaitu mengantar bangkeng oleh keluarga pengantin pria. Bangkeng sendiri berisi satu perangkat pakaian pria ke wanita. Mempelai wanita juga menyediakan pemampang yang diantaranya berisi peci, jas, pakaian dalam pria dan handuk.

"‎Menjelang malam, pengantin pulang ke rumah pria dan mengikuti prosesi mandi simburan menjelang malam pertama pengantin. Malam harinya digelar zikiran di rumah pengantin pria," ucap Ali Hanafiah.

‎Kegiatan zikir digelar dari pukul 20.00 WIB hingga 00.00 WIB. Dalam acara zikir dilantunkan sebanyak 100 ‎kali zikir dengan 10 irama syahadat. Makanan yang disajikan yaitu kari kambing‎.

"Karena kegiatan zikir menguras tenaga ditambah makan kari kambing yang meningkatkan libido, jadinya orang dulu punya banyak anak," ucap Ali.

Pentas ’Naga Memakan Matahari’ Sambut Gerhana di Palembang

Palembang, Sumsel - Sejumlah seniman di Palembang bakal memainkan mitos "Naga Memakan Matahari" dalam sebuah pertunjukan teater di puncak perayaan Festival Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016. Saat ini mereka sedang merampungkan persiapan agar dapat tampil maksimal saat hari H.

Toton Dai Permana, penanggung jawab acara, mengatakan para seniman akan tampil di bawah Jembatan Ampera beberapa saat setelah matahari kembali bersinar normal. "Mitos ini akan kami pentaskan di atas panggung dengan melibatkan hingga delapan pemain," kata Toton, Rabu, 24 Februari 2016.

Menurut kepala UPTD Museum Balaputra Dewa ini, dalam mitos Tionghoa, banyak sekali pesan moral yang dapat dipetik dari lakon yang akan mereka mainkan. Sesuai dengan mitos tentang gerhana matahari total, masyarakat Tiongkok percaya bahwa terjadinya gerhana matahari disebabkan adanya seekor naga yang sedang melahap matahari. Menurut legenda, dua astrolog pada saat itu, Hsi dan Ho, dieksekusi mati karena gagal dalam memprediksi waktu terjadinya gerhana.

Toton, yang juga dikenal sebagai seniman ternama di Sumatera Selatan, menambahkan, untuk menakut-nakuti naga, warga membunyikan suara-suara keras seperti petasan, kentungan, dan suara gaduh lainnya. Alhasil, matahari pun kembali memancarkan sinarnya.

Mitos tersebut hingga saat ini masih dipercaya oleh sebagian orang, termasuk warga non-Tionghoa. "Sewaktu kecil dulu, para ibu melarang anaknya ke luar rumah," ujar Toton.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan Irene Camelyn Sinaga menjelaskan, lakon "Naga Memakan Matahari" dipastikan semakin menambah semarak festival budaya di Palembang seusai gerhana matahari total. Pada hari itu, pelancong dan warga akan memadati seputaran Jembatan Ampera sebagai tempat utama pengamatan gerhana matahari total.

Selain aksi panggung, panitia juga akan menggelar food truck, tur edukasi, foto selfie, glowing nite run, dan acara lainnya. "Keseruan itu akan dimulai sebelum gerhana," ucapnya.

Napak Tilas Kerajaan Melaka di Kota Palembang

Palembang, Sumsel - Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan budaya. Khususnya di Pulau Sumatera, kebudayaan pulau Swarna Dwipa itu dapat dikatakan memiliki kembarannya di semenanjung Malaya. Hubungan perdagangan di masa lalu telah membuat kedua wilayah itu menjadi jantung kebudayaan Melayu.

Di Malaysia ada salah satu kerajaan Melayu yang dikenal dengan Kerajaan Melaka di Malaysia. Untuk mengenalnya, ternyata Anda tidak perlu jauh-jauh datang ke sana. Cukup Anda berkunjung ke kota Palembang, di Museum Balaputra Dewa untuk mencari tahu jawabannya.

Selain menyimpan Rumah Limas, serta aneka motif dan sejarah kerajinan kain songket, traveler yang berkunjung ke Museum Balaputra Dewa bisa juga melihat koleksi benda bersejarah dari Kerajaan Melaka, Malaysia. Benda ini meliputi kerajinan porselen, hingga baju adat yang lumayan mirip dengan busana masyarakat Indonesia.

Lalu, apakah memang ada hubungan antara Kerajaan Melaka dengan Indonesia? Mengapa ada koleksi benda bersejarah milik Kerajaan Melaka tersimpan di Palembang? Pendiri Kerajaan Melaka sebenarnya adalah orang asli Palembang bernama Parameswara. Dia adalah anak raja Sriwijaya yang melarikan diri hingga ke Temasik (Singapura) dan akhirnya mendirikan Melaka. Namanya berganti menjadi Iskandar Syah dan menjadi raja pertama di sana.

Beny juga menjelaskan, akar budaya masyarakat Melaka pada dasarnya berawal dari Indonesia, terutama Palembang dan juga Jawa. Banyak kemiripan budaya yang bisa dijumpai, dari mulai segi bahasa maupun pakaian. Hal itu dilihat dari pakaian kebaya yang dipakai wanita dan juga adanya kesamaan kata-kata pada bahasa yang digunakan.

Oleh karena Indonesia, terutama Palembang dianggap sebagai nenek moyang bangsa mereka, pihak Kerajaan Melaka memutuskan untuk menjalin kerja sama dan menyumbangkan beberapa koleksinya untuk dipajang di Museum Balaputra Dewa sejak beberapa tahun silam. Koleksi ini bisa traveler temukan di Ruang Pamer Gedung 1 museum yang terletak di Palembang tersebut.

Sebagai bentuk kerja sama antar keduanya, pihak Museum Balaputra Dewa juga mengirimkan beberapa koleksi benda bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya untuk dipamerkan di Museum Melaka. Ini adalah konsep pertukaran budaya yang disepakati oleh kedua pihak tersebut.

Dengan adanya pertukaran koleksi antar kedua museum ini, masyarakat Melaka bisa mengetahui asal usul akar budaya mereka, sementara penduduk Palembang juga bisa tahu bahwa budaya mereka dipakai menjadi identitas awal berdirinya Kesultanan Melaka.

Museum tersebut terletak di Jalan Srijaya Negara I No 288, Palembang, Sumatera Selatan. Museum buka di hari Selasa sampai Minggu, pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. Harga tiketnya Rp 2.000 saja.

Kirab budaya Sriwijaya jadi daya tarik wisatawan

Palembang, Sumsel - Ritual Kirab Budaya Garuda Sriwijaya yang menggambarkan perjalanan masuknya agama Budha di Kota Palembang Sumatera Selatan, ternyata menawarkan keunikan serta kekhasan budaya etnis Tionghoa memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Budaya tersebut kini sedang dikembangkan oleh pihak Kementerian Pariwisata RI menjadi salah satu destinasi wisata berbasis tradisi dalam menarik minat wisatawan berkunjung ke Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan, kata Asisten Deputi Pengebangan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata RI, Lokot Ahmad Enda di Palembang, Selasa.

Dijelaskannya, tradisi ritual ini dimulai dengan penyambutan rupang Buddha dan patung dewa atau lebih dikenal Pratime yang dibawa oleh sejumlah biksu memasuki Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya di kawasan Jalan Sayangan Pasar 16 Ilir Palembang.

Dilanjutkan dengan melakukan upacara suci api homa dipimpin oleh seorang Bikku Va Lian Yuan, ratusan etnis Tionghoa memanjatkan dona kepada Sang Pencipta seraya membakar sesembahan berupa dupa dan sesajen lainnya, karena dipercaya api homa tersebut dapat menghapus serta menghilangkan aura negatif dan juga menolak balak, katanya.

Menurut dia, setelah melakukan berbagai ritual puluhan rupang atau patung dewa ini dibawa dan diarak dalam kirab laut menuju ke Sungai Musi menggunakan tiga unit tongkang atau berahu berukuran besar kapasitas puluhan orang, puluhan patung dewa disembahyangkan di Klenteng Ta Pekong di Pulau Kemaro.

Ia menilai, ini adalah salah satu daya tarik wisata dikemas dalam sebuah tradisi yang bisa mendatangkan wisatawan, sehingga mampu menjadi magnet dan harus tugas pemerintah di sini bagaimana mempromosikannya.

Sementara, menurut Anggota Penggagas Kirab Budaya Sriwijaya, Chandra Pasadena, etnis Tionghoa punya seni budaya yang cukup besar termasuk pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Masa itu Kerajaan Sriwijaya termasuk besar di dunia namun selama ini sudah tenggelam, dan mencoba untuk membangkitkan kembali dan mengenalkannya pada anak cucu melalui kirab tersebut.

Asisten Deputi Pengebangan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, Lokot Enda, menambahkan, saat ini sangat diperlukan dukungan semua pihak untuk dapat lebih mengembangkan potensi wisata khususnya berbasis tradisi yang ada di Sumatera Selatan, sehingga nantinya dapat dikemas lebih baik dan berkelanjutan.

Hal yang lebih penting lagi mengenai informasi kegiatan apa saja di Sumsel menarik wisatawan dapat disenergikan dengan program Kementerian Pariwisata di tahun mendatang, katanya.

Tradisi Midang dalam Adat Perkawinan Sumsel Kehilangan Makna

Palembang, Sumsel - Sebuah perkawinan memiliki makna yang sangat sakral bagi masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir atau OKI, Sumatera Selatan. Hal ini terlihat dari rangkaian upacara adat pernikahan masyarakat OKI yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyangnya. Salah satu bagian dari upacara adat pernikahan yang memiliki makna sakral adalah prosesi Midang.

Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, tradisi Midang sudah menjadi agenda wisata budaya tahunan di OKI. Tradisi ini diselenggarakan beberapa hari setelah Lebaran.

Ratusan muda-mudi berbusana pengantin serta pengiringnya melakukan perarakan dengan berjalan kaki, mengelilingi sejumlah ruas jalan Kota Kayu Agung, ibu kota OKI. Perarakan ini dimeriahkan musik tanjidor.

Tradisi ini tidak hanya mendapat sambutan hangat ribuan masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dari luar daerah. Bahkan hampir tiap tahun media cetak dan televisi nasional selalu memberitakan tradisi ini.

Abdur Rahman Ahmad, Ketua Pembina Adat Kabupaten OKI, mengatakan, Midang sendiri berarti berjalan-jalan sambil menjalin silaturahim dengan handai taulan yang dijumpai di sepanjang jalan. Dalam upacara adat perkawinan di OKI, Midang yang biasanya diselenggarakan Sabtu siang, dimaknai sebagai upaya memperkenalkan sepasang muda-mudi yang hendak menikah kepada khalayak.

Upacara adat pernikahan masyarakat OKI sebenarnya diawali dengan prosesi ”Manjau Ngajak”. Tradisi ini dilakukan Jumat sore, sehari sebelum Midang.

Dalam prosesi Manjau Ngajak, mempelai laki-laki beserta keluarganya bertandang ke rumah pengantin perempuan dengan membawa hantaran berupa makanan, pakaian, perhiasan, dan uang. Selanjutnya, mempelai laki-laki dan perempuan mengajak para bujang (pemuda) serta gadis setempat untuk mengiringi mereka dalam prosesi Midang esok harinya.

Senjata Tradisional Pulau Andalas Dipamerkan di Palembang

Palembang, Sumsel - Sebanyak 95 jenis senjata tradisional yang berasal dari pulau Andalas (Sumatera) dipamerkan di Museum Balaputra Dewa Palembang, 21-26 Oktober 2015. Pameran ini merupakan yang pertama digelar sebagai bentuk untuk melestarikan budaya dan memperkenalkan senjata tradisional kepada masyarakat.

Senjata-senjata tradisional itu merupakan koleksi dari berbagai Museum di pulau Sumatera, diantaranya Museum Negeri Aceh, Museum Negeri Sumatera Barat, Museum Negeri Riau, Museum Negeri Bengkulu, Museum Negeri Lampung, Museum Negeri Bangka Belitung dan Museum Balaputra Dewa sebagai tuan rumah.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana, mengatakan pameran senjata tradisonal dapat memberikan aspirasi kepada semua pihak akan kekayaan warisan budaya kita, bukan hanya senjatanya tetapi jauh dari nilai-nilai historisnya dan ini menunjukkan bangsa kita bangsa yang besar telah mampu menunjukkan berbagai budaya yang ada.

“Kami dari asosiasi membawahi hampir 400 museum yang berada di daerah, dengan adanya pameran seperti ini kami yakin akan mendorong kemajuan dari museum-museum yang telah ada di Indonesia, sehingga memancing minat untuk dikunjungi,” ujar Putu, Rabu (21/10) kepada Gatra.

Dikatakan Putu kedepan pihaknya ingin mendorong pemerintah melalui komisi X DPR RI agar bisa membangun museum khusus untuk senjata tradisional, bukan hanya senjatanya yang dipamerkan tetapi sisi pembuatannya serta nilai-nilai magis yang terkandung di dalamnya.

“Kita baru saja memperingati hari museum pada 2 Oktober lalu, dan kegiatan seperti ini harus selalu kita dorong agar pemerintah dapat memberikan biaya yang lebih besar, karena selama ini yang terjadi kesulitan merawat benda-benda pusaka termasuk senjata tradisional ini,” tuturnya.

Kepala Museum Balaputra Dewa Sumatera Selatan, Toton Dai Permana menambahkan Pameran senjata tradisional se Sumatera ini, mengambil tema Senjata Tradisional Sebagai Konstruksi dan Reproduksi Budaya.

Menurutnya konstruksi dan reproduksi budaya tersebut adalah teknologi pembuatan senjata dan fungsi senjata yang terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan peradaban, senjata yang dibuat berubah bentuk dan fungsinya

“Dahulu senjata dalam peradaban manusia sebagai alat untuk mempertahankan diri, berburu. Tetapi sekarang ada perubahan budaya senjata sudah dijadikan simbol dan hobi,” katanya.

Toton berharap dari pameran senjata tradisional ini dapat menjadi pembelajaran untuk masyarakat dan pelajar sehingga meningkatkan orang berkunjung ke museum. Dan ini juga dihadiri beberapa museum yang berasal dari pulau Sumatera, seperti Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Festival dan Lomba Seni Siswa Tingkat Nasional Digelar

Palembang, Sumsel - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyelenggarakan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Palembang, Sumatera Selatan, mulai 24 Agustus hingga 29 Agustus 2015.

Festival bertema "Mewujudkan Revolusi Mental Melalui Seni" ini dihadiri oleh siswa dari berbagai daerah di Tanah Air.

Acara FLS2N ini akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan.

Menurut Direktur Pembinaan SMA Kabsudit Kelembagaan dan Peserta Didik Suharlan, kegiatan FLS2N diadakan untuk meningkatkan kualitas siswa sehingga mampu mengembangkan potensi dan karakter melalui penghayatan dan penguasaan seni budaya.

Selain itu, untuk memberikan kesempatan yang sama bagi siswa guna meningkatkan pemahaman dan keahlian pada berkesenian yang berakar kearifan lokal untuk meningkatkan eksistensi di dunia global.

"Tujuannya memberikan pengalaman kompetisi dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran untuk mencapai prestasi tertinggi di bidangnya," kata Harlan, di acara Pembukaan FLS2N di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8).

Acara ini juga untuk mempererat tali persahabatan, kesatuan bangsa sesama siswa yang berasal dari berbagai karakter dengan tingkat keterampilan berbudaya yang berbeda.

Harlan menyebutkan, cabang seni yang diperlombakan dibagi menjadi dua yaitu, cabang pertunjukan dan cabang penciptaan.

Adapun seni pertunjukan seperti, baca puisi, tari berpasangan, dan solo vokal. Sementara untuk cabang seni penciptaan, yaitu cipta puisi, pembuatan film pendek, desain poster, dan kriya.

Harlan menjelaskan, setiap provinsi diwajibkan mengikuti tujuh jenis lomba seni dan siswa yang berhak mengikuti lomba adalah siswa kelas X dan XI pada tahun pelajaran 2014/2015.

Karnaval Budaya Pelajar Mengesankan

Palembang - Sumsel - Puncak perayaan Pekan Budaya Pelajar Sumsel tahun 2015 diikuti sekitar 1.500 pelajar seSumsel berlangsung mengesankan, kemarin. Setiap peserta tampil mengagumkan dan menarik perhatian ribuan penonton.

Warga yang awalnya kecewa karena beberapa ruas jalan di dari dan mengarah ke Kantor Gubernur di Jalan Kapt Arivai ditutup, terdecak kagum dengan apa yang mereka lihat. “Selama ini kan di Palembang paling pameran-pameran atau expo, yang kebanyakan mahal– mahal.

Sebelumnya kalau mau lihat karnaval seperti ini harus ke Jember dan daerah lainnya. Ini harus digelar setiap tahun, mantap ini,” ujar seorang warga yang mengaku tidak mengetahuiadanya karnaval. Karnaval diikuti ribuan peserta yang merupakan pelajar dengan menampilkan berbagai kreasi.

Karnaval dimulai dari halaman Kantor Gubernur Sumsel-Jalan Kapten Arivai – perempatan RS Charitas-Jalan Kapt Arivai dan dan finish di PSCC. Wakil Gubernur Sumsel Ishak Mekki mengatakan, Karnaval ini sangat penting dalam mendorong kreativitas dan kreasi generasi muda. Selain memupuk rasa cinta terhadap seni dan budaya daerah ternyata dapat mengangkat dan mempromosikan kemajuan daerah.

“Lewat acara seperti ini maka kebudayaan yang ada di Sumsel dapat terus ditingkatkan, dijaga dan dilestarikan. Selain itu me lalui karnaval ini kita harapkan ke bu dayaan yangadadiSumseldapatmen jadiandalan dalam mempromosikan Sumsel,” ujar Mekkiusaime le paskarnawal. Mantan Bupati OKI menjelaskan, kegiatan seperti ini menjadi salah satu bagian untuk memajukan pendidikan, seni dan budaya di Sumsel.

“Pemerintah berupaya menjalankan komitmennya diberbagai bidang termasuk pendidikan. Sehingga siswa berprestasi dan kurang mampu dapat terus mengenyam pendidikan tinggi melaluikuliahgratis. Untukitukamiharap pelajar di Sumsel dapat terus berprestasi danmenjadiandalanbagi sekolah, daerah bahkanbagi negara,”imbuhnya.

Ishak mengatakan, dalam puncak Pekan Budaya Pelajar Sumsel ini diikuti peserta dari SD, SMP, SMA dan SMK. Bahkan, beragam busana tradisional dan adat ditampilkan dari 17 kabupaten/kota di Sumsel. Selain busana pakaian adat, ada pula busana kreasi yang turutmemeriahkan pagelaran karnaval ini.

“Ajang seni dan budaya ini tidak hanya dipertandingkan di tingkat lokal bahkan di tingkat nasional dan dunia juga dipertandingkan, maka dari itu seni budaya merupakan panggung yang utama dalam mempro mosikan suatu daerah. Apalagi dalam waktu dekat, menjelang Asian Games 2018, kita juga dapat menampilkan seni budaya asal Sumsel bagi tamu-tamu kita yang berasal dari negara lain.

Saya harapkan agar pekan budaya ini terus dilestarikan dan ditingkatkan sehingga kedepannya akan semakin baik,”sebutnya. Sementara Kepala Dinas Pen didikan Provinsi Sumsel Widodo menuturkan, pekan bu daya Provinsi Sumsel sebagai wadah bagi siswa untuk me nun jukkan ke mam puan dan kreativitas. “Ke giat an ini dido rong menjadi agenda tahunan.

Selain itu diharapkan pula pada tahun ketiga pekan budaya Sumsel ini, dapat menjadi agen da nasional, bahkan pada tahun kelima diharapkan menjadi agen da dunia atau negara lain bisa bergabung dalam acara ini,”kata Widodo. Lewat kegiatan seperti ini sambung Widodo, juga dapat menjadi sarana menanamkan karakter bangsa khususnya bagi pe lajar.

Disitulah, mereka akan terus memperkuat akar budaya dan nilai luhir keda e rahan. “Memang besar harapan kita ini jadi agenda rutin se ka ligus menyambut Asian Games 2018 juga menjadi tujuan da lam penyeleng garaanacaraini,” pungkasnya. Adapun, dalam pekan bu da ya ini terdapat beberapa ke giat an turut ditampilkan antara lain lombamusiketnik, lombakuliner, pameran karya seni, lomba tari kreasi, lomba mo difikasi pakaian adat dan lomba barisan karnaval.

Berdasarkan pantauan, pelaksanaan puncak Pekan Budaya Pelajar Sumsel ini berjalan sangat meriah. Tidak hanya ribuan siswa yang ber par ti sipasi ingin membuat bangga sekolah dan daerahnya saja, namun masyarakat pun tak mau ketinggalan untuk menyaksikan kegiatan ini. Nampak, da lam iring-iringan Karnaval para siswa tak goyah meski sore ke marin cuaca cukup panas.

Nam pak meriah, saat siswa dari PAUD dan SD memamerkan pa kaian adat Sumsel dan juga pa kaian adat nusantara. Saat karnival, siswa SD IBA main eng grang, ular tangga, main batok kelapa, dan aneka mainan tra disional anak. Selain itu, para siswa ada yang unjuk kebolehan mar ching band, pencak silat dari SMP Olahraga Sumsel,

hingga parade modifikasi pa kaian adat yang diikuti per wakilan kabupaten/kota. Bahkan dalam kegiatan ini hadir tamu perwakilan dari Salatiga yang menampilkan tarian daerah dan juga modifikasi pa kai an adat yang cukup menawan.

Sumsel Gelar Pekan Budaya Pelajar

Palembang, Sumsel - Kesenian daerah dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan tampil pada pagelaran Pekan Budaya Pelajar yang diselenggarakan Dinas Pendidikan provinsi ini.

Pelajar sekolah dari berbagai daerah itu menampilkan kesenian daerahnya masing-masing pada Lomba Musik Etnik dalam kegiatan yang akan dijadikan kalender tahunan ini, kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Widodo, di Palembang, Jumat (21/08/2015).

Dia menjelaskan, tujuan pelaksankan lomba musik tradisional dari kabupaten dan kota di Sumsel tersebut adalah untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada.

Kesenian tradisional daerah harus selalu lestari, sehingga melalui kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi para pelajar dalam mecipta dan mempertahankan budaya daerah, kata dia lagi.

"Para pelajar perlu dimotivasi untuk melestarikan dan mengangkat kesenian daerah," ujar dia.

Apalagi kesenian daerah harus dikembangkan supaya generasi penerus semakin mencintai seni dan budaya tradisional, katanya pula. Karena itu, pihaknya menggelar Pekan Budaya Pelajar Sumsel, di antaranya menghadirkan Lomba Musik Etnik.

Pekan Budaya Pelajar ini akan terus digelar menjadi kalender tahunan Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel.

Tarian Acara Resmi di Sumsel Diseleksi

Palembang, Sumsel - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel akan merinci secara detail kesenian dan budaya yang akan ditampilkan dalam sebuah moment resmi.

Plt Kadisbudpar Sumsel, Irene Camelyn Sinaga mengatakan, tarian yang akan tampil pada acara resmi, akan dilakukan pecekan secara ketat mulai dari ke la yakan dan kepantasan suatu seni, seperti tarian yang akan di tam pilkan pada acara resmi di lingkungan Pemprov Sumsel.

“Kami akan memberi arahan atau screening awal suatu per tun jukan terkait budaya, seperti contohnya tarian khas Sumsel. Sebelum tampil akan di rinci sebelumnya,” ujarnya kemarin. Dia mengatakan, fungsi pengecekan untuk lebih menertibkan dan memantabkan sang gar tari supaya penari atau pe laku seni agar dapat mem-beri kan performance yang attractive.

“Kami harap mereka tampil dengan sepenuh jiwa dan se suai adab budaya dari jenis tarian yang ditampilkan. Misalkan, Gen ding Sriwijaya sendiri me ru pakan tarian yang sakral dan me miliki nilai dan arti sehingga harus diperagakan oleh penari yang benarbenar memahami, menjiwai gerakan dan makna tarian tersebut,” paparnya. Apalagi jelas Irene, tariantarian tersebut biasa diper tunjukkan di hadapan para tamu dari luar Provinsi Sumsel, bahkan mancaneg ara.

Dia menambah kan, mulai saat ini Disbudpar Sumsel selalu menjadi ba gian dalam setiap acara resmi pemerintahan yang me nampilkan budaya seni Sumsel. Tak ha nya tarian, Bujang-Gadis Sum sel sebagai duta budaya Sumsel ju ga akan diikut sertakan untuk menjadi perangkat acara resmi tersebut. “Ini juga untuk men du kung para seni man asal Sum sel untuk tetap semangat berkarya, tentunya dengan fal sa fah seni khas Sumsel yang orisi nil,” jelasnya.

Disbudpar Sumsel, tegas dia, akan berkoordinasi dengan pi hak penyelenggara acara atau ke giatan resmi di lingkungan Pem prov Sumsel yang terdapat pertunjukan seni budaya Sumsel. Sementara itu, Baginda Sultan Palembang Darussalam Iskan dar Mahmud Badaruddin sebelumnya mengatakan, masya rakat Sumsel harus bangga dan menonjolkan aspek seni buda ya Sumsel dan sejarahnya. Bahkan, termasuk kemasyhuran kain-kain tradisional yang cantik seperti songket, jumputan dan blongsong songket (blongket), dan lainnya.

“Meski mengikuti perkembangan za man, keaslian dan keutamaan ni lai yang terkandung dalam se buah seni, temasuk aneka song ket asli Palembang jangan terlupakan,” pungkasnya.

Songket Asli Palembang Bersaing dengan Songket Tenun Mesin

Palembang, Sumsel - Kehadiran Songket India mulai menarik perhatian konsumen untuk dikoleksi. Meski belum meningkat secara signifikan, tapi geliatnya mulai dirasakan sebagai pesaing produk lokal yakni Songket asli Palembang.

Harga relatif murah dengan kualitas baik, jadi faktor utama kenapa Songket India diburu pembeli.

Bahkan mayoritas toko yang menjual Songket Palembang, kini sudah menjajakan Songket India itu, seperti di Komplek Ilir Barat Permai, Ramayana, Palembang.

“Jika dilihat sepintas, orang tidak bakal tahu kalau ini Songket India,” ungkap penjaga Toko AA ketika dibincangi Sripoku.com, Jumat (24/7/2015). Menurut keterangan penjaga toko itu, songket India didapatkan langsung dari Jakarta.

Motifnya bunga-bunga dengan satu warna yang mendominasi seluruh kain. Bentuknya langsung selendang, atau berbahan kain saja. Para pedagang kurang memahami kenapa disebut songket India.

Tapi oleh beberapa penjaja di toko, jika diamati motif kain dijual itu mirip yang dikenakan oleh pemain film-film India di televisi.

“Perlahan banyak konsumen yang beli songket pabrikan India,” ujar penjaga Toko AA lagi.

Satu potong songket India berukuran 80 centimeter dikali dua meter, dijual sekitar Rp 200 ribu.

Harga itu dianggap jauh lebih murah bila dibandingkan kain Songke Palembang yang dibanderol paling murah Rp 1 juta.

Bagi penjual, songket India laris karena bisa dibeli oleh masyarakat ekonomi berkecupun atau menengah ke bawah.

Dengan harga yang relatif murah, mereka bisa tampil cantik dengan kain yang kualitasnya tidak kalah seperti asli.

“Cocok dipakai pergi kondangan,” tambahnya.

Pedagang di Sentra Kerajinan Songket Asli Palembang, Kawasan 30 Ilir Tangga Buntung, Toko Hj Romla Fauzi mengakui, ada peralihan konsumen membeli songket India. Meski perubahan tersebut belum terlalu signifikan.

Menurut Adit, anak pemilik Toko Toko Hj Romla Fauzi, pihak tidak terlalu khawatir dengan hadirnya produk mirip Songket Palembang itu. Ia mengklaim Songket Palembang lebih unggul, dari sisi kualitas maupun harga.

“Songket India itu dibuat menggunakan mesin. Sedangkan Songket Palembang masih cara tradisonal. Namanya buatan tangan pasti lebih mahal dan berkualitas,” ungkapnya.

Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuat Songket Palembang. Paling cepat satu bulan untuk satu songket saja.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan songket India yang bisa menghasilkan banyak karena menggunakan tenaga mesin.

Adit tak tahu dari mana asal songket India itu berasal, makna motif dan kain yang digunakan. Apalagi mengetahui alasan kemunculan songket India yang mirip dengan Songket Palembang, sekedar kepentingan bisnis atau menyaingi budaya Palembang.

Ia hanya memprediksi songket-songket itu diproduksi langsung oleh negara asalnya dan diimpor. Atau, dibuat di Indonesia tapi menggunakan brand India.

“Sekarang kan momen pakaiannya Jodah, dengan unsur India yang lagi tren. Mungkin itu alasannya,” ujarnya Adit yang mempekerjakan 11 orang penenun.

Diakui Romla, Songket India sudah ada di pasar Palembang sejak 2012 silam. Namun gaungnya baru terasa di awal tahun 2015, sejak kemunculan tokoh dan film India di televisi.

Adit mengakui ketenaran Songket India mempengaruhi penjualan Songket Palembang, meski tidak secara signifikan.

“Ada penurunan 40 persen di tahun ini. Biasanya orang-orang banyak beli songket setelah lebaran untuk bingkisan, tapi tahun ini berkurang.

Tapi penurunan itu tidak semuanya disebabkan Songket India, walaupun ada tapi tidak begitu besar karena kami sudah ada pelanggan tetap,” ujarnya.

Adit membagi tips untuk warga Kota Palembang agar tak salah memilih, antara Songket Palembang dengan pabrikan India. Dimulai dari rajutan benang yang ada di kain tenun. Buatan tangan katanya,

“Susunan benang biasanya berantakan, sedangkan buatan pabrik akan terlihat lebih rapi. Perhatikan warna benang. Pada tenun yang asli, warna akan lebih berkilau dari yang tidak asli.”

Masjid Agung Sultan Badaruddin Jejak Penyebaran Islam di Palembang

Palembang, Sumsel - Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin di Kota Palembang, Sumatera Selatan, merupakan masjid terbesar dan tertua, sebagai bukti sejarah penyebaran Islam di Bumi Sriwijaya itu.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin atau Masjid Agung Palembang yang dibangun pada 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, adalah bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, kata H Kemas Abdul Hamid, pengurus masjid tersebut, Jumat.

Menurut dia, masjid agung yang merupakan bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam ini berada di utara Istana di Belakang Benteng Kuto Besak, atau berdekatan dengan Sungai Musi kawasan 19 Ilir pusat Kota Palembang.

Sementara, konsep bangunan masjid memadukan keunikan arsitektur Eropa dan Tiongkok serta kebudayaan Melayu, terdiri atas dua bangunan utama, di mana bangunan pertama masjid berbentuk persegi empat berukuran 30 meter X 60 meter dengn luas 1.080 meter persegi, serta atapnya berbentuk limas melengkung dan lancip.

Sedangkan pada bangunan kedua dapat dilihat dari rupa jendela yang besar dan tinggi, pilar-pilar berukuran besar pada saat memasuki masjid memberi kesan kokoh penampilan khas Eropa.

Menurut dia, kesultanan Palembang Darussalam berperan penting dalam penyebarkan Islam hingga pelosok negeri. Bahkan Islam menjadi agama negara dan terus berkembang menjadi pusat kajian agama Islam melahirkan para ulama besar dalam menyebarkan siar Islam di masyarakat.

Ia menjelaskan, bangunan yang pertama kali adalah bangunan di depan menjadi masjid pertama dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan dahulu semua berbentuk kayu, sementara sisi kanan kirinya telah mengalami renovasi untuk pengembangan.

Pada tahun 2003 dan 2009 masjid agung ini ditetapkan sebagai Masjid Nasional menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah, karena memiliki peran penting sejarah besarnya siar Islam di Bumi Sriwijaya, katanya.

Pertunjukan Budaya Meriahkan Pembukaan Festival Sriwijaya

Palembang, Sumsel - Pertunjukan budaya turut memeriahkan pembukaan Festival Sriwijaya ke-23 di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di Karang Anyar Gandus Palembang, Kamis malam.

Festival Sriwijaya yang juga menampilkan parade lagu daerah, drama tentang kebangkitan Kerajaan Sriwijaya itu dibuka Gubernur Sumsel Alex Noerdin.

Acara yang disaksikan ribuan masyarakat tersebut juga dihadiri para bupati dan wali kota serta Dirjen Pemasaran Pariwisata Esthy Reko Astuti.

Gubernur mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumsel terus menyemarakan industri pariwisata sehingga dapat mendukung perkembangan ekonomi.

Dengan meningkatkan industri pariwisata diharapkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara akan semakin meningkat, kata dia.

Oleh karena itu kegiatan Festival Sriwijaya sekarang ini harus rutin digelar sehingga promosi wisata semakin lebih maju dan berkembang.

Menurut dia, sudah sepantasnya seluruh lapisan masyarakat menjadi pejuang dalam mendukung perkembangan pariwisata di daerah ini.

Sebagai ahli waris Kemaharajaan bila tidak menjadi yang terdepan maka malu dengan para pewaris terdahulu, ujar dia.

Sehubungan itu pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membangun provinsi ini supaya semakin maju.

Dirjen Pemasaran Pariwisata mengatakan, gubernur Sumsel memang sangat komitmen akan pariwisata, sehingga kegiatan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan para wisatawan.

Pihaknyta sangat mendukung Festival Sriwijaya ini karena dapat meningkatkan kualitas produk dan pesona dunia pariwisata, kata dia.

Apalagi Sumsel sekarang ini sudah cukup dikenal tidak hanya di penjuru Indonesia, tetapi juga di luar negeri dan dengan latar belakang Kerajaan Sriwijaya kaya akan meninggalan budaya.

Pembukaan Festival Sriwijaya juga dihadiri tamu dari luar negeri di antaranya Dubes Indonesia untuk Thailand Lutfi Rauf dan para bupati serta wali kota.

Gubernur Sumsel Terima Presiden Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam

Palembang, Sumsel - Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin menerima kunjungan Presiden Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), YB Tan Sri (DR) Mohd Ali Mohd Rustam di Griya Agung Palembang, Selasa (9/6).

“Presiden Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), YB Tan Sri (DR) Mohd Ali Mohd Rustam beserta rombongan datang ke Palembang yaitu untuk bersilaturahmi dan berinvestasi mengembangkan Kawasan Wisata Bukit Siguntang” ucap Alex.

Sambungnya, pembangunan Bukit Siguntang ini akan dilakukan dengan sistem BOT. “Saya menyambut baik Yayasan DMDI untuk mengembangkan kawasan wisata Bukit Siguntang” tuturnya.

Sementara itu, Presiden Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam, YB Tan Sri (DR) Mohd. Ali Mohd. Rustam mengatakan tujuan kedatangannya ke Palembang Sumatera Selatan yaitu untuk bersilaturahmi sekaligus melihat peluang untuk berinvestasi dalam mengembangkan obyek wisata Bukit Siguntang.

“Kami ingin berinvestasi dalam mengembangkan kawasan wisata Bukit Siguntang. Kenapa Bukit Siguntang. Karena Bukit Siguntang mempunyai hubungan yang kuat dengan sejarah Melayu” ucapnya.

Lanjutnya, Kawasan Bukit Siguntang akan dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang pertama untuk tempat-tempat bersejarah seperti makam, kampung buku, museum kapal, theater, dan bagian yang kedua untuk tempat rekreasi masyarakat seperti tempat untuk memberi makan hewan, taman bunga, restoran tradisional.

-

Arsip Blog

Recent Posts