Tampilkan postingan dengan label Sumedang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumedang. Tampilkan semua postingan

Satpol PP Sumedang Ciduk Lima Pasangan Mesum di Hotel Melati

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menjaring lima pasangan bukan suami istri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Notif, kelima pasangan mesum itu diamankan petugas saat sedang asyik bermesraan dan diduga sedang berbuat mesum di dalam kamar penginapan yang berlokasi di Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang pada Jumat, 20 November 2020 malam.

Selain itu, petugas Satpol PP pun menyita sebanyak 51 botol minumas keras berbagai merek yang didapati di empat warung yang berlokasi di kawasan Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, dan Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan.

Fungsional Satpol PP Sumedang, Winny Yusharrini mengatakan, lima pasangan ini tidak bisa menunjukan surat nikah dan didapati tengah asyik bermesraan di dalam kamar hotel.

“Kelima pasangan mesum ini diciduk di dua hotel melati yang berbeda. Mereka kedapatan berduaan di dalam kamar,” kata Yusharrini, kepada Notif via pesan digital, pada Sabtu, 21 November 2020.

Menurutnya, kelima pasangan bukan suami istri itu telah melanggar Perda Nomor 7 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat

“Mereka diamankan ke Kantor Satpol PP Sumedang. Setelah didata dan dimintai keterangan, dan dilakukan pembinaan, pelaku juga menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan hal yang serupa,” tuturnya.
Ditambahkan dia, razia penyakit masyarakat akan terus digelar secara rutin guna menciptakan suasana aman dan kondusif di Kabupaten Sumedang.

“Razia yang sama akan rutin digelar guna menciptakan keamanan, ketertiban, serta menciptakan Sumedang terbebas dari maksiat dan peredaran barang haram,” kata dia.

Sumber: https://notif.id/2020/19435/news/kriminal/satpol-pp-sumedang-ciduk-lima-pasangan-mesum-di-hotel-melati/

Apresiasi Luar Biasa untuk Seni Kuda Renggong

Sumedang, Jabar - Pewarisan kesenian tradisional kuda renggong kepada generasi muda harus secara intens dilakukan agar dapat dipertahankan dan dilestarikan. Selain kuda pandai menari sarana musik dan tari di kesenian kuda renggong dapat menjadi daya tarik tersendiri.

"Pemerintah daerah harus benar-benar serius menangani kesenian tradisional dalam upaya pelestarian dan pemeliharaan serta pemanfaatan. Karenanya pewarisan kepada generasi muda sebagai pewaris harus terus dilakukan secara rutin dan intens jangan sampai terputus," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernida, di sela-sela Festival Seni Kuda Renggong Se-Jawa Barat 2016 yang diselenggarakan di Lapangan Pacuan Kuda Sindangraja (Dano), Sumedang utara, Kabupaten Sumedang, Minggu 14 Agustus 2016.

Menurut Ida, pelaksanaan Festival Seni Kuda Renggong se-Jawa Barat 2016 yang diselenggarakan Paguyuban Kuda Renggong Kabupaten Sumedang (Paskures) serta Pordasi Jabar, menunjukan bahwa ada upaya semua pihak melakukan pelestarian dan pemeliharaan kesenian tradisional kuda renggong. "Bahkan sangat diluar dugaan peserta bukan hanya dari Sumedang sebagai daerah asal seni kuda renggong, tetapi juga dari Subang, Majalengka, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung. Belum lagi apresiasi penonton yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan orang," ujar Ida.

Kesenian tradisional kuda renggong sejak Mei 2015 sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional berasal dari Jawa Barat. Pemberian sertifikat penetapan bernomor 1539908 dari perwakilan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada acara Festival Seni Kuda Renggong se-Kabupaten Sumedang pada 15 Mei 2015 lalu.

"Namun, dengan ditetapkannya ataupun diakuinya kesenian kuda renggong berasal dari Sumedang oleh pemerintah (Kemendikbud) bukan berarti kita sebagai pemilik tidak menjaganya. Justru harus sebaliknya untuk lebih menjaga dan memelihara serta mewariskannya kepada generasi muda," ujar Bupati Sumedang Eka Setiawan.

Dikatakan Eka, sebagai bentuk kepedulian pemerintah Kabupaten Sumedang terhadap kelangsungan kesenian tradisional kuda renggong, kegiatan festival akan secara rutin dilakukan. Bahkan pihaknya meminta dukungan Pemrov Jabar agar menfasilitasi pelatihan kesenian kuda renggong kepada generasi muda.

Dewan Kebudayaan Perjuangkan Membangun Kampung Seni di Pamulihan

Sumedang, Jabar - Dewan Kebudayaan Kabupaten Sumedang tengah memperjuangkan membangun kampung seni di Desa/Kecamatan Pamulihan. Sebab, Desa Pamulihan merupakan sentra kerajinan rakyat di Kabupaten Sumedang. Bahkan masyarakatnya masih memegang tradisi dan adat istiadat budaya sunda yang cukup kuat.

“Membangun kampung seni di Desa Pamulihan sampai sekarang masih kami perjuangkan. Bahkan usulan tersebut sudah diajukan kepada Pemkab Sumedang melalui hasil musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat desa dan kecamatan. Kami berharap, pemda ikut mendorong dan mengapresiasi terwujudnya pembangunan kampung seni ini,” tutur Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Kabupaten Sumedang Tatang Sobarna di kantor Induk Pusat Pemerintahan (IPP) Pemkab Sumedang di Jalan Prabu Gajah Agung Sumedang, Jumat (12/2/2016).

Menurut dia, dipilihnya lokasi pembangunan kampung seni di Desa Pamulihan, karena wilayah itu dari dulu menjadi sentra kerajinan rakyat terutama produk ukiran kayu. Berbagai produk ukiran tersebut, antara lain kerajinan wayang golek, tanimar atau ukiran kayu pada patung-patung khas Papua dan Kalimantan serta pahul atau panah. Produksi layang-layang termasuk layang-layang hias pun, berasal dari Desa Pamulihan.

“Jadi di Desa Pamulihan, pusatnya kriya (kerajinan) di Kabupaten Sumedang. Itu lah salah satu yang menjadi pertimbangan kami memilih lokasi kampung seni di Desa Pamulihan,” kata Tatang.

Dari berbagai produk kerajinan yang dihasilkan masyarakat, lanjut dia, produk kerajinan wayang golek yang paling tersohor sampai ke luar kota khususnya di Jawa Barat. Dari mulai wayang golek untuk pertunjukan sampai pajangan dan untuk mainan anak yang dijual oleh para pedagang pada setiap pertunjukan wayang golek terutama dalang almarhum Asep Sunandar Sunarya, semuanya diproduksi di Pamulihan. Bahkan Wa Iim menjadi dalang wayang golek juara kedua di Jawa Barat.

“Seandainya kampung seni ini sudah dibangun di Pamulihan, kami akan menggelar pertunjukan wayang golek secara rutin dan terjadwal. Minimal sebulan dua kali. Hal itu untuk memperkuat keberadaan kampung seni,” ujarnya.

Tak hanya berbagai produk kerajinan saja, kata dia, masyarakat Desa Pamulihan juga hingga kini masih memegang dan melestarikan tradisi dan adat istiadat budaya sunda. Misalnya, setiap Bulan Muharam rutin diselenggarakan tradisi bubur syuro serta menggelar hajat lembur.

“Sampai-sampai ketika meronda, kentungannya ditabuh menyerupai kesenian reak. Masyarakat di Pamulihan pun masih mempercayai hitung-hitungan hari yang baik, saat akan melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi, tradisi sunda di Pamulihan sangat kental dan sampai sekarang tetap lestari,” katanya.

Lebih jauh Tatang menjelaskan, apabila pengajuan kampung seni di Desa Pamulihan direalisasikan oleh Pemkab Sumedang, akan menjadi daya ungkit perekonomian masyarakat sekitar. Terlebih Desa Pamulihan dekat dengan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) termasuk posisi interchange-nya (pintu tol), sehingga wilayahnya sangat strategis. Para pengunjung dari luar kota seperti Bandung dan Jakarta bisa singgah dulu ke kampung seni untuk belanja berbagai produk kerajinan.

“Tak hanya itu saja, pengunjung pun bisa menikmati berbagai pertunjukan wayang golek dan menyaksikan langsung cara pembuatannya,” katanya.

Sumedang Sudah Sepantasnya Memiliki Keraton

Sumedang, Jabar - Sejarawan dan budayawan Sumedang menilai Kabupaten Sumedang sudah sepatutnya memiliki keraton. Sebab berdasarkan sejarah, di Jawa Barat hanya ada dua kerajaan yakni Kerajaan Pajajaran dan Kesultanan Cirebon. Penerus Kerajaan Pajajaran yakni Kerajaan Sumedang Larang yang ada di wilayah Kabupaten Sumedang.

“Jadi, sudah sepantasnya Kabupaten Sumedang mempunyai keraton,” ujar sejarawan dan budayawan Kabupaten Sumedang Rd. Aom Achmad Wiriaatmadja ketika ditemui di rumahnya di Jalan Pangeran Kornel Sumedang, Senin (9/11/2015).

Menurut dia, selain dilatarbelakangi Kerajaan Sumedang Larang penerus Kerajaan Pajajaran, juga hingga kini hanya Kabupaten Sumedang dan Cirebon yang menjadi peserta Festival Keraton Nusantara (FKN).

Perhelatan tersebut diselenggarakan rutin dua tahun sekali. Bahkan Sumedang sempat diminta menjadi tuan rumah FKN. Hanya saja, karena terkendala minimnya fasilitas dan sarana untuk menyambut tamu undangan, sehingga urung dilaksanakan. Minimnya fasilitas itu, diantaranya kurang memadainya hotel dan penginapan di Sumedang.

Kondisi itu diperburuk, seringnya terjadi kemacetan di Jatinangor dan Tanjungsari hingga akan menghambat perjalanan para peserta dari luar kota se-Indonesia.

“Saya sangat bangga, Sumedang selalu menjadi tamu kehormatan dalam setiap gelaran FKN, seperti waktu FKN di Kutai Kartanegara, Kaltim serta Palembang. Bahkan saya sendiri sewaktu FKN di Kutai, disebut yang mulia. Disangkanya saya rajanya, padahal saya hanya mewakili Pemangku Adat Keraton Sumedang Larang. Ini menjadi kebanggaan bagi Sumedang secara nasional. Oleh karena itu, memiliki keraton menjadi kebutuhan yang mendesak. Bahkan keberadaan keraton itu, bisa memperkuat program ‘Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS)’,” tutur Aom Achmad.

Sebetulnya, lanjut dia, Sumedang dinilai ketinggalan oleh beberapa daerah di Indonesia yang memiliki keraton. Bupati Kutai Kartanegara sengaja membangun keraton hingga miliaran rupiah sehubungan Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama dan tertua di nusantara. Begitupula dengan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar di nusantara.

“Bupati Sumedang juga seharusnya lebih peka melihat potensi sejarah dan khazanah budaya di Sumedang. Salah satunya, segera membangun Keraton Sumedang Larang. Kalau kita sudah punya keraton, selain lebih menguatkan program SPBS, juga Sumedang akan lebih eksis lagi jika menjadi tuan rumah perhelatan FKN. Pengunjung yang datang bisa ribuan orang sehingga bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar. Meski terlambat, lebih baik berbuat dari pada tidak sama sekali,” ucapnya.

Lebih jauh Aom Achmad mengatakan, mendirikan Keraton Sumedang Larang tak usah membuah bangunan baru. Bangunan Gedung Negara di Jalan Prabu Geusan Ulun yang kini dipakai rumah dinas bupati, bisa dijadikan Keraton Sumedang Larang.

Sebab, tanah berikut bangunan Gedung Negara menjadi aset Yayasan Pangeran Sumedang wakap dari Pangeran Aria Soeriaatmadja atau Pengeran Mekkah. Oleh karena itu, Gedung Negara sangat cocok jika dijadikan keraton.

“Terlebih di kawasan Gedung Negara akan dijadikan pusat kebudayaan sehubungan ada Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) serta gedung sunda klasik Gedung Srimanganti,” katanya.

Ia menuturkan, ketika Gedung Negara dijadikan Keraton Sumedang Larang, secara otomatis rumah dinas bupati harus dipindahkan ke kantor Induk Pusat Pemerintahan (IPP) di Jalan Prabu Gajah Agung. Konsekuensinya, Pemkab Sumedang harus segera membangun rumah dinas bupati di IPP. Dengan begitu, tata ruangnya jelas. Di kawasan GN sebagai pusat kebudayaan dan di IPP sebagai pusat pemerintahan.

“Jadi, Pemkab Sumedang harus membangun rumah dinas bupati di IPP. Bahkan sewaktu zaman Bupati Don Murdono, sudah ada rencana rumah dinas bupati akan dipindahkan ke IPP. Hal itu, seiring kepindahan pusat pemerintahan Pemkab Sumedang dari kawasan GN ke kantor IPP,” tuturnya

Sebelumnya, Sekda Kabupaten Sumedang Zaenal Alimin mengatakan, usulan membangun keraton itu akan dipertimbangkan. Terlebih diakui, pembangunan keraton bisa memperkuat program SPBS dan menjadi salah satu pembangunan fisik monumental di Kabupaten.

Hanya saja, usulan itu tak bisa dibahas dan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebab, tahun depan Pemkab Sumedang sudah memprogramkan membangun fisik monumental di wilayah perkotaan Sumedang.

Hal itu, seperti menata Alun-alun Sumedang dengan monumen Lingga, Taman Wisata Alam Gunung Kunci dan Palasari, penataan taman Tegalkalong termasuk membangun trotoar di sepanjang ruas jalan di kawasan perkotaan

“Kalau pun pembangunan keraton itu diperlukan, lokasi yang cocok yakni di Jalan Kutamaya, Kecamatan Sumedang Selatan yang dulunya tempat Kerajaan Sumedang Larang,” ucapnya.

Penataan Gunung Lingga Harus Sesuai Nilai Sejarah dan Budaya

Sumedang, Jabar - Dewan Kebudayaan Sumedang (DKS) meminta Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Kabupaten Sumedang untuk menata Destinasi Kawasan Wisata Gunung Lingga di Kec. Cisitu sesuai aslinya supaya lebih alami dan memiliki nilai sejarah.

Dengan penataan seperti itu, diharapkan kawasan Gunung Lingga bisa menjadi objek wisata baru yang diminati wisatawan lokal dan mancanegara. Pasalnya, wisatawan kini cenderung lebih menyenangi suasana alam dengan adat istiadat masyarakat yang murni memegang teguh tradisinya.

“Jadi dalam penataannya nanti, harus mempertahankan nilai-nilai sejarah, tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat. Kondisi ini akan menjadi daya tarik wisatawan,” tutur Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Sumedang, Tatang Sobarna di Gedung Seni, di Lapangan Pacuan Kuda, Kec. Sumedang Utara, Minggu (26/7/2015).

Ia mengatakan, penataan Destinasi Kawasan Wisata Gunung Lingga, meliputi penataan makam Prabu Tajimalela, pondok tradisional sunda atau kampung adat di Kampung Sempur Mayang di Blok Ki Datar di Desa Cimarga, Kec. Cisitu serta bumi perkemahan Gunung Lingga.

Untuk penataan makam Prabu Tajimalela, disarankan arsitekturnya dikembalikan pada bangunan awal zaman dulu. Berdasarkan referensi yang ada, bangunan awal makam Prabu Tajimalela, dulunya berbentuk punden berundak.

Selain ada tangga, juga ada semacam altar atau pelataran luas di sekitar makam di puncak Gunung Lingga. Pelataran tersebut, dibangun untuk tempat berdoa dan bertawasul para peziarah.

“Karena usianya sudah ratusan tahun, sehingga bangunan punden berundak tersebut kini sudah hilang. Kondisi itu, kemungkinan besar akibat tanahnya erosi. Jadi hilangnya situs punden berundak itu, akibat faktor alam. Supaya lebih yakin dan pasti lagi, perlu berkonsultasi dengan Balai Arkeologi tentang keberadaan punden berundak di makam Prabu Tajimalela. Tapi saya menduga kuat, bangunan awal di sekitar makam dulunya memang berbentuk punden berundak yang dipuncaknya ada semacam altar untuk para peziarah. Jadi kami sarankan, penataan tempat ziarah makam Prabu Tajimalela harus direkonstruksi ke kondisi awal,” ujarnya.

Penataan lainnya, menurut Tatang, yakni penataan kawasan pondok tradisional sunda di Kampung Sempur Mayang di Blok Ki Datar. Penataannya harus dilakukan secara komprehensif. Tak hanya proses membangun rumah dan bangunan saja, melainkan ruh, prilaku dan adat istiadat masyarakat sundanya harus dilestarikan dan dipertahankan kemurniannya.

Sebab, kebiasaan masyarakat sunda yang masih asli menjadi daya tarik wisata budaya. “Konsep kesundaannya harus ditonjolkan. Bila perlu ditambah supaya kesan ki sundanya lebih tampak,” katanya.

Lebih jauh Tatang menjelaskan, tradisi dan prilaku masyarakat sunda di Kampung Sempur Mayang, nantinya harus menjadi ciri khas masyarakat sunda di Sumedang.

Misalnya, cara berpakaian dengan mengenakan pangsi khas kasumedangan zaman dulu, yakni baju pangsi warna putih dan celana hitam lengkap dengan iket.

Tradisi membangun rumah pun harus dilestarikan. Sebab, ada beberapa bagian tertentu dalam proses pembangunannya yang harus memakai acara ritual syukuran. Contohnya, memasang palupuh (lantai bambu) atau suhunan (atap).

“Jadi mulai cara berpakaian, membangun rumah, bahasa dan prilakunya, semuanya mesti menerapkan tradisi budaya sunda. Penataan itu, akan mendorong program unggulan ‘Sumedang Puseur Budaya Sunda’ (SPBS). Seandainya ada wisatawan yang ingin melihat tradisi masyarakat sunda di Sumedang, bisa berkunjung ke kampung adat tersebut, ” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sumedang, Endah Kusyaman mengatakan, tahun ini Disparpora akan menata objek wisata unggulan, yakni Destinasi Kawasan Wisata Alam Gunung Lingga.

Di kawasan itu, ada empat objek wisata yang diyakini bakal menyedot wisatawan, yakni objek wisata ziarah makam Prabu Tajimalela, bumi perkemahan Gunung Lingga, kampung adat sunda di Kampung Sempur Mayang dan wisata olah raga Paralayang di Puncak Bukit Batudua, Gunung Lingga.

“Penataan dan peningkatan kawasan wisata itu bersumber dari anggaran bantuan provinsi Rp 10 miliar. Pembangunan fisiknya akan dilakukan tahun ini,” katanya

Khusus untuk penataan di makam Prabu Tajimalela, lanjut dia, di antaranya dengan membangun pelataran luas untuk tempat berdoa dan tawasulan para peziarah serta membangun tembok penahan tanah di sekitar makam supaya tidak erosi.

Selain itu, membangun berbagai sarana dan fasilitas umum, seperti sarana air bersih, musala, penerangan jalan umum dan memperbaiki tangga ke puncak gunung sekalian dengan besi pegangannya.

“Mudah-mudahan, dengan penataan Destinasi Kawasan Wisata Gunung Linggga ini, minat kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sumedang bisa meningkat,” ujar Endah.

Dewan Kebudayaan akan Ciptakan Kampung Seni di Pamulihan

Sumedang, Jabar - Dewan Kebudayaan Sumedang (DKS) akan menciptakan kampung seni di Kecamatan Pamulihan. Pasalnya, di daerah itu banyak sekali acara kesenian dan budaya yang menjadi tradisi rutin masyarakat setempat. Dengan kampung seni, diharapkan tradisi dan adat istiadat warga menjadi agenda tahunan pariwisata sehingga bisa menyedot kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.

“Yang tadinya sebatas tradisi dan adat istiadat, kita fasilitasi menjadi event besar seni dan budaya tahunan. Kami fasilitasi potensi ini dengan menciptakan kampung seni hingga menjadi daya tarik pariwisata,” tutur Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Sumedang, Tatang Sobarna di Gedung Seni Kab. Sumedang di Jalan Mayor Abdurachman Sumedang, Senin (27/4/2015).

Tatang menuturkan, tradisi masyarakat Kec. Pamulihan yang rutin dilakukan setiap tahunnya, seperti acara hajat lembur, bubur syuro, siskamling reak dan pertunjukan wayang golek. Acara hajat lembur sebagai wujud syukuran warga atas berkah nikmat, rezeki dan keselamatan kampung mereka. Dalam hajat lembur, selain diisi acara syukuran, juga dimeriahkan berbagai kesenian dan budaya serta hiburan lainnya. Sementara tradisi bubur syuro diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharam. Dalam acara itu, masyarakat menyajikan berbagai macam jenis bubur. “Ada juga yang unik di Pamulihan. Kentungan yang dipakai oleh masyarakat saat meronda, seperti kesenian reak,” katanya.

Potensi seni dan budaya lainnya di Kecamatan Pamulihan, lanjut dia, yakni banyak perajin wayang golek. Bahkan kerajinan wayang golek menjadi home industry masyarakat Pamulihan. Seperti halnya di daerah Citali dan Cimasuk, hampir setiap rumah ikut membuat kerajinan wayang golek. Ada yang membuat kepalanya, badannya, bajunya hingga pernak-perniknya. Bahkan hasil kerajinannya tak hanya dipasarkan di daerah lokal di Indonesia saja, melainkan tembus ke luar negeri.

“Para pedagang wayang golek yang sering berjualan setiap pergelaran wayang golek Asep Sunandar Sunarya (alm), produksi wayang goleknya dari Pamulihan. Kerajinan wayang golek ini, ada yang untuk dimainkan, untuk pajangan dan ada juga yang untuk mainan anak-anak,” ucap Tatang.

Festival Cut Nyak Dhien Meriah

Sumedang, Jabar - Acara pembukaan Festival Cut Nyak Dhien (FCND) berlangsung meriah. Meski penontonnya belum begitu banyak, pementasan kesenian tari Sunda dan Aceh memikat para penonton dan tamu yang hadir.

Masyarakat, pejabat dari dua daerah yakni Kab. Sumedang dan Pemprov Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) serta tamu undangan penting lainnya, berdecak kagum seraya memberikan tepuk tangan meriah saat pementasan kedua tarian tersebut.

Pentas kesenian tari kedua daerah itu, diawali dengan pertunjukan tarian Sunda yakni tari Napak Tilas Cut Nyak Dhien yang berjudul “Kujang Nyanding Rencong Aceh”.

Tarian tersebut, menggambarkan kegigihan pahlawan nasional wanita Aceh, Cut Nyak Dhien berjuang melawan penjajah Belanda, hingga akhirnya diasingkan oleh Belanda ke kota kecil di Jawa Barat, yaitu Sumedang.

Dalam tarian itu, digambarkan pula semangat juang Cut Nyak Dhien semasa pengasingannya di Sumedang hingga akhir hayatnya. Dalam pengasingannya, Cut Nyak Dhien di mata warga Sumedang dulu, sebagai sosok yang taat beribadah, bahkan sering mengajarkan mengaji dan ilmu agama Islam kepada warga Sumedang. Namun, masyarakat Sumedang kala itu tidak mengetahui bahwa Cut Nyak Dhien seorang pahlawan nasional.

Setelah dua tahun lamanya tinggal di pengasingan di Sumedang, akhirnya Cut Nyak Dhien meninggal dunia hingga dimakamkan di Tempat Pemakaman Gunung Puyuh, Kec. Sumedang Selatan, tak jauh dari Alun-alun Sumedang. Ketika Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa pahlawan nasional Cut Nyak Dhien telah meninggal dunia di pengasingannya di Sumedang hingga terdengar oleh masyarakat Sumedang, barulah mereka mengetahui bahwa sosok wanita taat beribadah dan sering mengajarkan mengaji dan ilmu agama itu, seorang pahlawan nasional yang sangat gigih berperang melawan penjajah Belanda di tanah “Rencong”.

Sebagai pahlawan nasional yang taat beribadah, pemerintahan dan warga Sumedang saat itu, menyebutnya sebagai “Ibu Prabu”. Hingga saat ini, ikatan batin dan hubungan emosional antara warga Sumedang dengan Aceh begitu kuat. Tak sebatas karena dimakamkan di Sumedang dan sebagai pahlawan nasional, melainkan Cut Nyak Dhien sudah dianggap sebagai sosok ibu di mata warga Sumedang sampai sekarang ini.

Kehangatan dan kemeriahan acara FCND itu semakin terasa tatkala beberapa orang penari dari Aceh mempertunjukkan tarian daerahnya yakni “Tari Perang Sabilillah” yang ditampilkan Sanggar Cut Nyak Dhien.

Selain penonton dan para tamu undangan merasa terhibur, tarian itu mampu menumbuhkan semangat patriotisme. Pasalnya, tarian yang bertema “Perjuangan Masyarakat Aceh” itu, menggambarkan kegigihan Cut Nyak Dhien bersama para pejuang wanita Aceh saat berperang melawan penjajah Belanda dan melenyapkan penjajahan di bumi serambi mekah tersebut.

Dengan semangat juang tinggi dan sebilah rencong di tangannya, Cut Nyak Dhien dan para pejuang wanita aceh mampu mengalahkan tentara Belanda bersenjata lengkap.

“Saya sangat tertarik melihat tarian tersebut. Seolah-olah pertunjukan tarian dari Aceh itu memotivasi jiwa patriotisme. Selama ini, kita hanya melihatnya di layar televisi, kini saya bisa melihat langsung tarian tersebut dalam acara festival ini. Kalau bisa, acara seperti ini dilaksanakan rutin setahun sekali,” ujar Devi Supriadi salah seorang penonton warga Kec. Sumedang Selatan, Jumat (31/10/2014).

Hadir dalam acara itu, Istri Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Hj. Niazah Abdul Hamid Zaini Abdullah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi NAD, Riza Pahlevi, Wabup Aceh Besar Rahmatsyah Fitriadi, para pejabat dari Provinsi NAD serta tamu undangan penting lainnya.

Sementara dari Pemkab Sumedang, hadir Bupati Sumedang H. Ade Irawan sekaligus membuka FCND secara simbolis dengan memukul goong, Ketua DPRD Kab. Sumedang, Irwansyah Putra, Sekda Kab. Sumedang H. Zaenal Alimin, Kepala Disbudparpora Kab. Sumedang sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara FCND, Endah Kusyaman, unsur muspida Kab. Sumedang, sejumlah kepala dinas serta sejumlah seniman dan budayawan Sumedang.

Budayawan Harapkan Gedung Kesenian Angkat Potensi Sumedang

Sumedang, Jabar - Budayawan dan seniman di Kab. Sumedang mengharapkan Dinas Kebudayaan, Kepariwisataan, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kab. Sumedang mengelola gedung kesenian guna mengembangkan potensi kesenian rakyat dan kebudayaan sunda di Kab. Sumedang. Selain menjadi sarana hiburan rakyat, sekaligus juga menjadi daya tarik wisata.

“Dengan pembangunan gedung kesenian yang baru, pengelolaan dan pemanfaatannya harus dioptimalkan untuk memajukan kesenian rakyat dan kebudayaan sunda, khususnya di Kab. Sumedang,” kata Budayawan Kab. Sumedang, R. Achmad Wiriaatmadja ketika ditemui di rumahnya di Jln. Pangeran Kornel, Sumedang, Minggu (16/3/2014).

Menurut dia, pergelaran kesenian rakyat dan kebudayaan sunda di gedung kesenian yang baru di Lapang Pacuan Kuda Kec. Sumedang Utara, idealnya yang bersifat komunikatif. Misalnya, pentas seni yang memuat pesan mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun Sumedang.

“Contoh kesenian rakyat yang komunikatif, seperti halnya reog, calung dan wayang golek. Sambil menghibur masyarakat, diselingi pesan-pesan pembangunan,” tutur Achmad.

Dikatakan, berbagai potensi kesenian rakyat dan kebudayaan lokal Sumedang dinilai harus dikembangkan. Terlebih saat ini, keberadaannya cenderung banyak ditinggalkan terutama oleh generasi muda. Generasi muda saat ini, lebih menggandrungi kesenian dari luar negeri, ketimbang kesenian daerahnya sendiri.

“Masyarakat sekarang, lebih menyenangi musik organ tunggal, ketimbang musik tradisional sunda, seperti reog, calung atau pun angklung. Kalau tidak dikembangkan dan dilestarikan oleh kita, bukan mustahil kesenian tradisional sunda seperti barang langka yang terancam punah,” katanya.

Achmad menambahkan, untuk menumbuhkembangkan potensi kesenian rakyat dan kebudayaan sunda yang ada di Kab. Sumedang, perlu pementasan secara rutin dan terjadwal. Bahkan komunitas para seniman dan budayawan, bisa berkumpul mengembangkan kreativitas dan berbagai kegiatannya di gedung kesenian.

“Sebelum dibangun gedung kesenian, para guru tari tidak punya tempat untuk melatih murid-muridnya. Sampai-sampai, ada guru tari yang mengajarkan tari di halaman kantor kecamatan. Nah, dengan gedung kesenian yang baru, guru tari bisa melatih anak-anak di sana. Termasuk, para seniman dan budayawan bisa menghidupkan gedung kesenian dengan berbagai kegiatan dan pentas hiburan lainnya. Jika potensi kesenian rakyat dan budaya lokal sudah terangkat, manfaatnya tak sebatas menghibur saja, melainkan bisa menyedot kunjungan wisatawan. ” tutur Achmad.

Gelaran Festival Prabu Geusan Ulun Berlangsung Meriah

Sumedang, Jabar - Penyelenggaraan Gelar Budaya Daerah tahun 2013 (Festival Prabu Geusan Ulun) di Alun-alun Sumedang, Jln. Prabu Geusan Ulun, berlangsung meriah.

Gelar budaya yang dibuka secara resmi oleh Sekda Kab. Sumedang, Drs. H. Zaenal Alimin M.M., mewakili Wakil Bupati Sumedang H. Ade Irawan, Sabtu (23/11/2013) itu, ditonton ribuan masyarakat dan wisatawan lokal.

Mereka sejak pagi sudah menyemut bahkan berjubel di Alun-alun Sumedang, untuk menyaksikan langsung berbagai pertunjukan seni dan budaya dalam festival tersebut.

Masyarakat begitu antusias saat menonton pertunjukan kesenian tari tradisional Sumedang yang menggambarkan Prabu Geusan Ulun sebagai Raja Sumedang Larang mengenakan Mahkota Binokasih peninggalan Raja Pajajaran.

Dengan menggunakan mahkota tersebut, Prabu Geusan Ulun secara resmi dinobatkan sebagai penerus kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kesenian tari tradisional Sumedang itu, menyedot perhatian masyarakat, para pejabat Pemkab Sumedang serta tamu undangan penting lainnya.

Setelah itu, acara dilanjutkan pada Helaran Seni Budaya Daerah. Helaran tersebut, dimeriahkan dengan arak-arakan Kereta Naga Paksi yang dikawal pasukan Kerajaan Sumedang Larang.

Puluhan praja IPDN Jatinangor, ikut ambil bagian dalam helaran tersebut dengan menampilkan kesenian rampak kendang dan antraksin lainnya. Tepuk tangan mewarnai pertunjukan itu hingga membuat suasana helaran begitu meriah.

Helaran makin semarak dengan penampilan kesenian dari beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Purwakarta, Subang dan Garut. Masyarakat sangat terhibur dengan pertunjukan kesenian ketangkasan adu domba dari Garut.

Dua boneka domba ukuran besar yang di dalamnya dimainkan beberapa orang (seperti kesenian barongsai), begitu lucu ketika beradu. Tak pelak, kesenian khas dari kota dodol itu mengundang gelak tawa dari penonton.

Tak kalah menarik dengan pertunjukan kesenian Kuda Renggong yang merupakan salah satu kesenian khas Sumedang. Tarian kuda renggong dengan atraksinya, tak luput dari perhatian ribuan penonton hingga mereka sangat terhibur.

Hari pertama pembukaan Festival Prabu Geusan Ulun itu, berlangsung meriah dan semarak. Dalam festival itu pun, diisi dengan kegiatan pameran hasil kerajinan ekonomi kreatif khas Sumedang, seperti produk batik tradisional kasumedangan, kerajinan dan alat musik tradisional dari bambu, wayang golek dan berbagai makanan kuliner khas Sumedang.

“Acara helaran dan karnaval yang eksotik ini, sebagai upaya untuk melestarikan seni dan budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional. Dalam festival ini, ada 9 varian pertujukan kesenian daerah yang ditampilkan setiap malamnya. Acara gelar budaya daerah ini, akan berlangsung empat hari empat malam,” kata Ketua Panitia Penyelenggara “Gelar Budaya Daerah tahun 2013 (Festival Prabu Geusan Ulun)” yang juga Kepala Disbudparpora Kab. Sumedang, Drs. Herman Suryatman, M.Si., di Alun-alun Sumedang, Sabtu (23/11/2013).

Dalam sambutannya, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNBB), Kemendikbud, Drs. Toto Sucipto mengatakan, penyelenggaraan acara tersebut sebagai wujud komitmen BPNBB yang didukung Pemkab Sumedang dan pihak lainnya dalam melestarikan seni dan budaya daerah di Jawa Barat, khususnya di Sumedang sebagai bagian dari budaya Indonesia.

“Gelaran seni dan budaya daerah ini tak hanya dipertujukan pada acara seremonial saja, melainkan harus digali, diangkat dan dilestarikan oleh semua masyarakat. Sebab, seni dan budaya daerah ini dapat menjaga persatuan dan kesatuan sekaligus membangun karakter bangsa. Oleh karena itu, berbagai potensi kesenian dan kebudayaan daerah termasuk di Sumedang, harus terus dipupuk dan dilestarikan,” ujarnya.

Disela acara itu, Sekda Kab. Sumedang Drs. Zaenal Alimin, M.M., mengatakan, semangat dari gelaran festival tersebut, sekaligus dicanangkan “Gerakan Pembangunan Sumedang Nyunda” sebagai bagian dari visi Kab. Sumedang “Senyum Manis” (Sejahtera, Nyunda, Maju, Mandiri, Agamis).

“Pencanangan ini, kami tindaklanjuti dengan beberapa kebijakan, seperti penggunaan Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di lingkungan Pemkab Sumedang, penggunaan pakaian adat sunda dan batik kasumedangan pada hari-hari tertentu serta pemanfaatan makanan tradisional sunda sebagai menu konsumsi dalam setiap rapat kedinasan,” kata Zaenal Alimin.

Yayasan Pangeran Sumedang Gelar Karya Seni dan Budaya

Sumedang, Jabar - Karaton Sumedang Larang (KSL) Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), akan menggelar “Karya Seni dan Budaya Khas Karaton Sumedang Larang” di Gedung Srimanganti, Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) tanggal 12, 17 dan 18 November 2013.

cara tersebut akan dihadiri Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar serta Wakil Bupati Sumedang H. Ade Irawan.

“Acara ini akan diisi berbagai kegiatan sosial yang dilaksanakan dengan tata cara adat sunda. Seperti halnya acara khitanan massal yang dimeriahkan iring-iringan kuda renggong dan prajurit Sumedang Larang serta pentas seni budaya lainnya. Gelar karya seni dan budaya ini, tak lain untuk melestarikan kesenian dan budaya sunda khas Karaton Sumedang Larang supaya tidak dilupakan dan lekang oleh zaman,” ujar Ketua Panitia Pelaksana “Karya Seni dan Budaya Khas Karaton Sumedang Larang”, Drs. Rd. Gunawan Suria Danu Ningrat ketika ditemui di Gedung Srimanganti, Kab. Sumedang, belum lama ini.

Menurut dia, dalam acara itu, kegiatan khitanan massal akan dilaksanakan melalui tahapan prosesi adat sunda. Sebelum dikhitan, anak-anak peserta khitanan masal akan direndam dalam air pada subuh.

Setelah itu, baru lah mereka akan disunat oleh dokter. Selanjutnya, mereka dikumpulkan di sebuah tempat yang disebut alas kebun.

“Di alas kebun itu sudah dihias dengan gantungan umbi-umbian, seperti singkong, ubi, talas, dll,” katanya.

Setelah itu, kata dia, anak-anak peserta khitanan massal akan diarak dengan menaiki puluhan kuda renggong, delman hias serta becak hias. Bahkan kereta Naga Paksi yang membawa mahkota binokasih serta para prajurit Karaton Sumedang Larang akan ikut arak-arakan.

“Jumlah peserta khitanan massal sebanyak 106 orang se-Kab Sumedang. Ada seorang anak perempuan yang akan didandani layaknya seorang putri raja yang akan ikut iring-iringan kuda renggong,” tutur Gunawan..

-

Arsip Blog

Recent Posts