Tampilkan postingan dengan label Temanggung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Temanggung. Tampilkan semua postingan

Ribuan Warga Lereng Sumbing Gelar Gerebek Nusantara

Temanggung, Jateng - Ribuan warga di lereng Gunung Sumbing mengikuti Gerebek Nusantara Kirap Merah Putih dan Haul Ki Ageng Jogopati di Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (10/4/2016).

Gerebek diawali upacara bendera dengan inspektur Danramil Tembarak Kapten Hermanto dengan komandan upacara Pelda Suroso di lapangan Desa Menggoro, dilanjutkan kirab sejauh dua kilometer menuju ke Desa Tawangsari.

Beberapa gunungan yang terbuat dari makanan tradisional dan hasil bumi diarak. Gunungan ini dibagikan pada warga usai didoakan oleh tokoh agama. Namun, besarnya antusias warga mengikuti kegatan tersebut menjadikan mereka saling berebut.

Danramil Tembarak Kapten Hermanto berharap melalui kegitan gerebek dapat terwujud sinergi yang harmonis antara TNI, Polri dengan masyarakat yang dipadu dalam seni budaya masyarakat sebagai upaya menjaga dan melestarikan budaya Jawa. "Gerebek untuk mewujudkan dan menyepakati bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah menjadi harga mati," katanya.

Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi mengatakan tradisi gerebek telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain punya makna religi, katanya ritual gerebek juga menjadi even pariwisata, sehingga harus dikembangkan dan semakin menarik. "Pemkab mendorong ritual tradisi menjadi even pariwisata, namun jangan sampai hilang makna dan pesan religi serta sosial kemasyarakatannya," katanya.

Warga Sukomarto Gelar Kirab Tumpeng-Bebek

Temanggung, Jateng - Ratusan warga Dusun Bentisan, Desa Sukomarto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu, menyelenggarakan kirab dengan mengarak dua gunungan besar berisi hasil bumi, replika bebek, tumpeng, dan ingkung bebek.

"Kirab ini merupakan perayaan tahunan untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW dan sebagai wujud syukur kepada Tuhan, Warga percaya dengan menggelar gerebek ini akan mendapatkan berkah," kata Kepala Desa Sukomarto, Miftahudin.

Kirab dari permukiman menuju makam sesepuh desa, bernama Sayid Abdurrakhman. Gerebek Sukomarto yang sudah menjadi agenda tahunan ini memang menjadi magnet bagi masyarakat, tidak hanya dari Sukomarto tetapi juga dari luar daerah.

Diiringi alunan nada gending Jawa, warga berbaris teratur berjalan menyusuri jalan desa. Mereka berpakaian tradisional dan baju muslim sambil membawa tumpeng dan ingkung bebek.

Dua kostum berbeda itu menggambarkan perpaduan tradisi Jawa dan Islam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu kilometer, tumpeng dan ingkung bebek yang dibawa diletakkan pada sebuah bangsal sekitar kompleks makam Sayid Abdurrakhman. Di tempat ini pula dilakukan upacara tabur bunga. Sayid sendiri di kala hidup dipercaya merupakan ulama besar pada masa lalu di wilayah Jumo.

Usai arak-arakan, gunungan besar berisi hasil bumi dan replika bebek diletakan di halaman depan makam. Masyarakat kemudian memanjatkan doa bersama.

Usai berdoa, Kepala Desa Sukomarto, Miftahudin, memercikan air dari sumur peninggalan leluhur dan menyebar bunga beserta uang koin ke arah khalayak. Upacara ditutup dengan perebutan isi gunungan oleh masyarakat.

Bupati Temanggung Bambang Sukarno, menyambut baik pelaksanaan kegiatan melestarikan budaya ini.

Ia berharap gerebek Sukomarto bisa terus lestari dan bebek Sukomarto juga terus dibudidayakan sebagai ciri khas dan kekayaan Temanggung.

Nyadran Ngropoh, Ritual Ungkapan Rasa Syukur Warga

Temanggung, Jateng - Tradisi nyadran di Desa Ngropoh Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sebagai salah satu potensi untuk mendukung desa tersebut sebagai desa wisata.

“Tradisi tahunan ini terus kami lestarikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tradisi ini sebagai potensi pariwisata di desa kami,” kata Kepala Desa Ngropoh, Kecamatan Kranggan, Haryono, di Temanggung, Jumat (11/12/2015).

Pada tradisi nyadran yang diselenggarakan pada Jumat Wage, bulan Sapar penanggalan Jawa itu ratusan warga datang ke Makam Donorojo di Desa Ngropoh dengan membawa “tenong” yang berisi nasi tumpeng, ingkung ayam, dan jajan pasar.

Haryono mengatakan tradisi nyadran sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Setelah ritual di makam, pada Jumat malam digelar wayang kulit dan pada Sabtu (12/11/2015) malam digelar pentas kesenian tradisional kuda lumping.

Ia mengatakan Desa Nropoh telah dijadikan Desa Wisata di Kabupaten Temanggung bersama 11 desa yang lain.

Ia menyebutkan potensi di Desa Ngropoh, antara lain menyaksikan matahari terbit di Embung Ngropoh, penghasil durian yang selalu diselenggarakan festival durian setiap tahun. Selain itu, Desa Ngropoh juga penghasil gula kelapa dan kopi.

Wakil Bupati Temanggung Irawan Prasetyadi yang menghadiri tradisi nyadran tersebut mengatakan sangat terkesan dengan tradisi itu, masyarakat makan bersama-sama usai memanjatkan doa kepada Tuhan YME.

“Tradisi ini sebetulnya menarik, tetapi masyarakat perlu menggali cerita atau latar belakang tradisi ini,” katanya.

Ia mengatakan pihaknya telah meminta Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Temanggung untuk melakukan pendataan tradisi sejenis yang ada di Temanggung guna melestarikan budaya ini.

“Tradisi ini memiliki daya tarik, tetapi masyarakat belum menggali yang sebenarnya. Tradisi ini merupakan potensi yang bisa mendukung pariwisata,” katanya.

Produksi Seni Tradisional Terbatas

Temanggung, Jateng - Dalam perkembangan dewasa ini, produksi seni budaya tradisional di Indonesia, khususnya di Jawa, sangatlah terbatas, terlebih jika dibanding pada zaman kerajaan-kerajaan dahulu. Saat ini, kebanyakan seni budaya tradisional dikembangkan hanya sebatas pelestarian adat istiadat.

Hal tersebut diungkapkan pemerhati seni dari Solo, Suradi ketika menjadi nara sumber dalam workshop kesenian di Gedung Pemuda dan Kebudayaan Temanggung, pekan ini. Kegiatan yang diadakan Dinas Pariwisata, Kebudayaan Pemuda dan Olahraga itu diikuti pejabat terkait dan para pelaku seni di Temanggung.

“Dalam perkembangan masa kini, pengembangan seni budaya tradisional sangat terbatas. Seni budaya tradisional saat ini dipelihara dan ditampilkan, kebanyakan sebatas pelestarian adat istiadat,’’ tandasnya.

Menurutnya, keraton-keraton yang masih ada di Jawa, seperti Kraton Solo dan Yogyakarta, makin terbatas dalam memproduksi seni budaya tradisional. Seni budaya tradisional dipentaskan dan dijaga keberadaannya oleh kraton, sebagai pelestarian adat, dan bukan reproduksi atau inovasi baru seni budaya tradisional.

“Demikian pula di masyarakat, produksi, distribusi dan konsumsi seni tradisional juga semakin terbatas,” tambahnya.

Dalam paparannya yang mengambil tema “Seni Tradisional di Tengah Lajunya Roda Perkembangan Zaman” tersebut, Suradi mengatakan, dahulu kraton memang menjadi pusat dalam produksi dan pengembangan seni budaya tradisional. Sekaligus sebagai pusat kegiatan masyarakat dalam berkesenian dan budaya.

“Masyarakat juga terlibat dalam proses memproduksi seni dan budaya di lingkungan kraton, seperti dalam bentuk karya sastra, gending, beksa dan sebagainya,” ujarnya.

Di luar lingkungan kraton pun, saat itu, masyarakat berkreasi sendiri memproduksi seni budaya tradisional. Karya seni budaya masyarakat yang sering disebut seni rakyat dan dihasilkan oleh para seniman, sastrawan, empu dan sebagainya itu, memiliki berbagai macam corak.

Dengan terbatasnya produksi seni budaya tradisional tersebut, Sunardi menilai saat ini juga perlu peran pemerintah, pemerhati, dan pelaku seni untuk mencari inovasi baru dalam menggairahkan produksi seni budaya tradisional.

Batu Wajah Wanita Dicuri, Candi Pringapus Tutup Untuk Umum

Temanggung, Jateng - Dikarenakan hilangnya salah satu batu candi di Candi Pringapus yang terletak di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, untuk sementara candi peninggalan Dinasti Syailendra tersebut ditutup untuk umum.

Juru pelihara Pringapus, Kustrianto (28) yang dikonfirmasi oleh sejumlah awak media membenarkan tentang penutupan Candi Pringapus. Hal tersebut dikarenakan faktor keamanan, mengingat belum lama ini salah satu batu candi hilang dicuri orang yang tidak bertanggung jawab.

“Saya tahu ada batu candi hilang hari Rabu (16/9) yang lalu, yang hilang yakni batu candi berukuran sekitar 50 cm X 20 Cm dengan relief setengah badan dengan wajah seorang wanita,’’ terangnya di komplek Candi Pringapus, Senin (22/9).

Ia menambahkan kehilangan tersebut sudah dilaporkan kepihak Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, dan pihak BPCB memutuskan menutup untuk sementara candi yang dibangun sekitar 850 masehi tersebut.

”Selain BPCB pihak kepolisian juga sudah melakukan pemeriksaan di kawasan candi,” paparnya.

Dikatakan, hilangnya batu candi di kompleks Candi Pringapus itu di luar prakiraannya, mengingat pada saat pintu ditutup Rabu (16/9) sekira pukul 17.30 WIB bebatuan candi itu masih utuh. Juga, saat melakukan patroli sekitar pukul 23.00 WIB juga masih ada batu yang berelief tersebut. Selain itu, kondisi Desa Pringapus malam itu cukup ramai mengingat masih banyak warga yang merajang tembakau.

Kawasan Candi Pringapus memiliki luas 30 meter X 20 meter dengan bangunan candi sekitar 6,64 meter persegi. Ccandi ini ditemukan sekitar tahun 1932 ini diyakini merupakan replikla mahameru yang diyakini sebagai tempat bermukimnya para dewa. Dengan ditutupnya kawasan candi itu, maka warga masyarakat maupun kalangan pelajar sementara waktu tidak bisa mengunjungi candi peninggalan jaman Hindu tersebut.

Terpisah Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Temanggung, Didik Nuryanto, yang diminta konfirmasinya terkait hilanngya salah batu candi tersebut mengaku hingga saat ini belum mendapat laporan mengenai kehilangan batu candi di kompleks Candi Pringapus tersebut.

“Kami belum menerima laporan terkait hal tersebut, hal tersebut mungkin karena pengelolaan Candi Pringapus di bawah wewenang kantor BPCB Jawa Tengah, namun demikian kami akan melakukan pengecekan ke lokasi,” pungkasnya.

Temanggung Helat Festival Budaya

Temanggung, Jateng - Ribuan masyarakat Temanggung tumpah ruah memadati sepanjang area Alun-alun dan Pendapa Pengayoman Temanggung, menyaksikan puluhan kesenian tradisional, dalam acara Festival Budaya, Minggu (17/11).

Sedikitnya 50 grup kesenian dari 20 kecamatan dan berbagai sekolah yang ada ikut mangayubagya, HUT ke 179 Kabupaten Temanggung. Tujuh panggung terpisah digelar dari perempatan BCA hingga sepanjang jalan dan dalam Alun-alun.

Ketua Panitia Hari Jadi ke 179 Kabupaten Temanggung, Suyono, mengatakan, kesenian yang ditampilkan antara lain kuda lumping, warokan, prajuritan, soreng, wulangsunu rebana, bangilun, dayakan, topeng ireng.

Pemainnya seniman mulai anak-anak hingga orang dewasa. Ada juga lomba mewarnai untuk anak-anak yang di gagas seniman Temanggung Catec.

"Kegiatan ini merupakan agenda tahunan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, sebagai rangkaian peringatan HUT Temanggung. Festival untuk memberi kesempatakan para seniman dari desa-desa untuk tampil di depan publik agar mereka bisa berkembang, sekaligus memberikan hiburan gratis bagi rakyat," katanya.

Bupati Bambang Sukarno cukup mengapresiasi festival ini, dia berharap dengan adanya pertunjukkan kolosal ini para pemerhati budaya bisa mengevaluasi penampilan para seniman di atas panggung.

Hal ini juga menjadi pengalaman bagi grup kesenian yang biasa tampil di lapangan terbuka seperti jatilan dan kuda lumping.

"Kami berharap dengan suasana seperti ini (tampil di atas panggung) semakin baik. Kesenian tradisional perlu mendapat masukan-masukan sehingga siapa tahu masing-masing kelompok mempunyai bentuk atau ciri sendiri," ujarnya.

Kabag Humas Pemkab Temanggung, Witarso Saptono Putro menambahkan, kegiatan lainnya yang akan dilaksanakan yakni resespi dipusatkan di Alun-alun setempat pada 30 November mendatang.

Dalam resepsi tersebut akan ditampilkan tari kolaborasi dari Akademi Militer Magelang , band taruna Akmil dan tarian modern karya seniman tari asal Temanggung Didik Ninik Thowok yakni Tari Gadis Tegowanu dan diadakan pesta kembang api.

Festival Budaya Temanggung Dihelat

Temanggung, Jateng - Sebanyak 50 kelompok kesenian tradisional akan memeriahkan Festival Budaya Temanggung, Jawa Tengah pada Minggu (17/11)mendatang. Kegiatan itu dalam rangka Perayaan Hari Jadi ke-179 daerah penghasil tembakau ini.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung, Witarso Saptono Putro, mengatakan, kegiatan Festifal Budaya ini rutin diselenggarakan setiap tahun setiap kali HUT daerah itu.

"Konsepnya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi tiap-tiap kelompok kesenian pentas di panggungnya masing-masing yang dipasang disepanjang jalan dari Tugu Jam hingga perempatan BCA. Nanti para penontonnya yang bergerak ke tiap panggung untuk menyaksikan pentas seni masing-masing," terang Witarso, Jumat (8/11).

Nantinya, kata Kabag Humas, akan ada pula stan-stan kuliner khas Temanggung di dalam lokasi Festifal Budaya. Menurut rencana, kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 - 16.00 WIB.

-

Arsip Blog

Recent Posts