7.424 Penari Jaipong Karawang Raih MURI

Karawang, Jabar - Sebanyak 7.424 penari jaipong di Kabupaten Karawang, Jawa Barat berhasil meraih rekor Museum Rekor Indonesia dengan kategori pergelaran penari jaipong terbanyak.

Tari jaipong dengan peserta terbanyak berasal dari pelajar se-Karawang dan sanggar tari itu digelar di Jalan Ahmad Yani sepanjang sekitar 1 kilometer dan di halaman kompleks pemerintah daerah.

Manajer Museum Rekor Indonesia, Yusuf Ngadri, mengatakan, pihaknya pernah mencatat rekor atas pergelaran tari jaipong terlama di Karawang, yakni mencapai 15 jam 45 menit.

Pemecahan rekor MURI dengan menari jaipong paling lama itu digelar pada 2008, dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Karawang pada September, dengan penari Yuminah, Siti Aisyah, Vinalianita, Yayan Diyah Puspitasari, Nurhaeni Hamzah, Desi Kurniawati, Elih Hayati, dan Sumarni.

"Dengan adanya rekor MURI penari jaipong terbanyak dengan 7.424 penari ini, maka bisa menunjukkan kalau tari jaipong benar-benar berasal dari Karawang," kata Yusuf, di sela memberi penghargaan MURI kepada Pelaksana Tugas Bupati Karawang, Iman Sumantri, di Karawang, Minggu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, Acep Jamhuri, mengatakan, kegiatan tari jaipong dengan peserta terbanyak itu digagas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat dengan didukung sejumlah perusahaan dan salah satu media lokal di Karawang.

Para peserta pergelaran tari jaipong itu diikuti dari pelajar se-Karawang, berusia minimal 12 tahun atau berstatus siswa kelas VI SD sedangkan usia maksimalnya tidak dibatasi.

Diantara tujuan kegiatan tersebut, katanya, untuk menumbuhkan kembali seni dan budaya asli Karawang. Sebab, munculnya tari jaipong tersebut berawal dari Karawang.

"Kita sebagai warga Karawang harus bangga terhadap tari jaipong, karena tari jaipong itu merupakan bagian dari seni dan budaya asli Karawang," kata Acep.

Dikatakannya, tari jaipong populer berawal dari seni topeng. Saat itu, salah seorang penggiat tari jaipong asal Karawang mementaskan salah satu seni Karawang itu di Bandung. Selanjutnya, tari jaipong itu diolah ke dalam bentuk koreografi oleh seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira.

"Setelah dikembangkan dan dikemas dengan berbagai bentuk, akhirnya tari jaipong populer hingga saat ini. Tetapi, yang harus diingatkan ialah, tari jaipong merupakan salah satu seni asli Karawang," kata Acep.

Sementara itu, pergelaran tari jaipong kolosal dengan penari terbanyak itu dibuka oleh Pelaksana Tugas Bupati Karawang, Iman Sumantri, dengan tabuhan gendang yang diikuti jajaran Muspida Karawang.

Ribuan masyarakat Karawang dari berbagai kecamatan sekitar Karawang hadir dan memadati kegiatan tari jaipong tersebut.

Modifikasi Rumah Adat Agar Cantik

Banjarmasin, Kalsel - Saat ini, hampir semua rumah adat di Indonesia hampir punah. Begitu juga dengan rumah adat Banjar bubungan tinggi. Agar rumah adat di Indonesia tak punah, tapi tetap bisa mengikuti perkembangan zaman, pemilik rumah bisa memodifikasinya dengan bahan dan bentuk khusus.

Tak dipungkiri, kini warga Banjar lebih memilih membangun rumah bergaya modern dibanding rumah Banjar. Memang ada beberapa rumah bubungan tinggi yang baru dibangun, tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari, terutama untuk perkantoran pemerintah. Sebut saja gedung DPRD Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat, Kantor Gubernur Kalsel dan kantor PT Pertani di Jalan tembus Kilometer 6 Banjarmasin.

Gedung DPRD Kalsel dan PT Pertani merupakan rumah bubungan tinggi yang sudah disesuaikan dengan kemajuan zaman di mana bahan bangunannya tidak lagi dari kayu ulin, tapi dari beton semen dan berlantai keramik.

Karyawan PT Pertani, Sarwono mengatakan, mereka memilih rumah khas Banjar tersebut karena untuk melestarikan budaya Banjar. "Kantor PT Pertani di Jawa Tengah pun merupakan rumah adat setempat, yaitu rumah Joglo," katanya.

Menurut dia, salah satu kelebihan rumah bumbungan tinggi adalah sirkulasi udara lebih terbuka sehingga lebih sejuk di dalam rumah. "Makanya karyawan perusahaan kami betah bekerja karena suasananya sejuk. Walaupun udara di luar panas, di dalam ruangan tetap sejuk karena bubunggan rumah sangat tinggi sekitar lima meter. Bentuknya lancip dengan konstruksi atap pelana, membentuk sudut 45 derajat. Apalagi gedung ini dindingnya terbuat dari beton, sehingga terasa lebih dingin," paparnya.

Menurut Kasi Keuangan dan Umum PT Pertani ini, di kantornya terdapat tangga depan (tangga hadapan). Di kanan kiri tangga terdapat semacam pagar ukir dengan motif bunga dan hiasan buah nanas.

Lepas dari tangga, terdapat palataran yang digunakan untuk tempat santai. Halaman yang luas digunakan untuk parkir mobil dan kendaraan karyawan. "Kalau rumah bubungan asli, anjungan rumah terbuka. Karena ini perkantoran, dimanfaatkan sebagai ruang tamu. Untuk memperindah ruangan, kita beri gorden seng yang bisa membuka dan menutup," paparnya.

Dia menyarankan, masyarakat Banjar harus mempertahankan rumah bubungan tinggi. Agar kelihatan kokoh, jangan ragu membangun dengan beton dan dimodifikasi dengan gaya modern.

Rudi Ahadi, warga Jalan Gatot Subroto, Kompleks Mandastan mengatakan, cukup prihatin dengan punahnya rumah bubungan tinggi. "Sekarang ini orang lebih memilih membangun rumah bergaya modern dibanding rumah asli Banjar. Rumah Banjar seperti bubungan tinggi dianggap ketinggalan zaman dan membangunnya menelan biaya lebih besar, padahal itu tidak benar," paparnya.

Sebenarnya, lanjut dia, jika dimodifikasi, rumah bubungan tinggi bisa lebih menarik. Malah bentuk rumah Banjar itu banyak keuntungannya, yaitu aman dari banjir yang beberapa tahun ini melanda Kota Banjarmasin.

"Tiang rumah bubungan tinggi sekitar 2,5 sampai 3 meter, sehingga walaupun banjir datang saat musim hujan disertai air pasang, penghuni rumah tak perlu risau. Lantai rumahnya tak bakalan kebanjiran," ucapnya.

Membangun rumah bubungan tinggi, lanjut dia, memang lebih mahal dibanding bangunan biasa. Namun, dengan musibah banjir yang kerap melanda, pemilik rumah tak perlu membongkar rumah dan meninggikan tongkat rumah.

220 Penari Puncak Perayaan “Lovely December”

Makale, Sulsel - Sebanyak 220 siswi SMA se-Kabupaten Tana Toraja melakukan atraksi tarian massal dalam puncak perayaan “Lovely December” di sekitar bundaran kolam Kota Makale, Sulawesi Selatan, Senin (27/12).

Dengan menggunakan pakaian adat kebesaran Toraja, para penari ini memukau ribuan peserta termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur, Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu'mang, Kapolda Sulselbar, Irjenpol Jhony Wainal Usman, Dan Lantamal VI Makassar, Brigjen TNI (Mar) Chaidier Patonnory.

Even pariwisata terbesar Sulsel tersebut juga diisi dengan pentas musik bambu yang diperagakan 144 murid SD, serta atraksi 19 jenis seni tradisional dari seluruh kecamatan se-Tana Toraja.

Penyelenggaraan destinasi kepariwisataan Sulsel ini juga dihadiri seluruh unsur muspida se-Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, serta anggota DPR RI, Markus Nari dan DPD RI, Bahar Ngitung.

“Lovely December” menurut Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo adalah ajang untuk mengembalikan Toraja sebagai pusat pariwisata Indonesia Timur, serta tujuan utama wisatawan nasional dan internasional, setelah Bali.

"Toraja memiliki modal yang diberikan Tuhan, ini adalah aset dan modal yang luar biasa. Siapa lagi yang mau menata dan membangun kalau bukan orang Toraja. Setelah itu seluruh dunia akan berbondong-bondong ke sini," ujarnya. Selain itu, ia menyebut sektor pariwisata adalah industri paling cepat dan menjanjikan serta tidak membutuhkan modal terlalu besar, di samping dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Hanya saja ia dan anggota DPR RI, Markus Nari, menyayangkan 'even' tersebut tidak dihadiri oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata maupun perwakilannya.

"Saya dan masyarakat Toraja sangat menyayangkan tidak ada perwakilan dari Kementerian pariwisata. Padahal mereka yang punya acara. Kalau tahun depan juga tidak hadir maka kami di DPR RI akan melengserkannya," ujar Markus yang juga putra Toraja.

Sementara Kapolda Sulsel, Jhony Wainal Usman menyatakan bangga dan takjub setelah disuguhi sekitar 20 lebih atraksi kesenian Toraja.

Ia mengemukakan "Loveley December" dan pengembangan pariwisata Toraja harus didukung penuh oleh semua pihak, termasuk kepolisian yang akan siaga setiap saat untuk menjaga kebesaran dan keindahan alam dan budaya di daerah yang terkenal dengan sebutan "Bumi Laki Padada".

Puncak “Lovely December” juga diisi dengan festival masakan khas Toraja yang tersaji di atas 30 stan. Yang juga menyita perhatian pengunjung adalah sarung khas Toraja dan parang dengan ukiran unik. Di samping itu, juga dipamerkan 30 karya terbaik para fotografer yang memenangkan lomba foto dengan tema "eksplorasi keunikan dan keindahan obyek wisata Toraja.

Indonesia Ajukan Lagi Tiga Aset Budaya ke UNESCO

Denpasar, Bali - Indonesia akan memasukkan tiga aset budayanya kepada UNESCO pada 2011 untuk masuk dalam daftar World Cultural Heritage (Warisan Budaya Dunia), demikian ujar Direktur Badan Sumber Budaya dan Turisme, Harry Waluyo, Senin (12/12).

Ketiga aset budaya yang akan diajukan itu, menurut Harry, adalah piranti tradisional rumah tinggal asli Papua, Noken, Taman Mini Indonesia Indah dan sejumlah tarian Bali.

Waluyo mengataka tiga aset budaya itu diajukan karena mewakili bagian geografis Indonesia di luar Jawa. Sejauh ini aset budaya yang telah diajukan dan diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO berasal dari Jawa, seperti Angklung, alat musik bambu dari Jawa Barat, kain batik dan boneka wayang, keduanya dari Jawa Tengah.

Setelah menyeleksi aset budaya dari Jawa, pilihan berikut adalah kebudayaan dari Bali dan Papua. Waluyo mengatakan khusus Bali, Indonesia mengajukan sembilan tarian yang mewakili daerah tertentu di Bali.

Dari Papua, aset yang dinominasikan yaitu Noken, sebuah ikon masyarakat Papua, alat multiguna terbuat dari serat hutan yang kuat. Wanita Papua menggunakan untuk meletakkan bayi dan meninabobokan mereka hingga tertidur, atau untuk mengangkut makanan serta baju.

Kini, Noken didekorasi dengan ornamen penuh warna dibuat jadi lebih atraktif. Noken dapat dibeli di pasar tradisional Papua seharga Rp15.000,00 hingga Rp100.000,00.

Sedangkan TMII di Jakarta Timur, yang dikonstruksi pada 1971 adalah taman yang mencerminkan kekayaan budaya di setiap provinsi di Indonesia. Wahana itu terpilih diajukan ke UNESCO dengan pertimbangan bahwa konsep itu bisa menjadi model manajemen budaya non-material ke negara lain.

Proses pengajuan ketiga aset tersebut telah dilakukan dan akan berakhir 31 Maret, 2011 nanti. Terlepas dari tiga aset tadi, UNESCO pada 2011 juga akan mengumumkan tarian unik Saman dari provinsi Aceh sebagai Warisan Budaya Dunia.

Membanting Kemurungan di Bantimurung

Oleh Amril Taufik Gobel

Sedang murung atau sedih? Jangan risau.

“Banting saja kemurunganmu di Bantimurung,” seloroh kawan saya saat kami bercakap mengenai obyek wisata andalan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya lebih kurang 45 km dari Kota Makassar.

Dan memang benar, selama saya melewatkan masa SMA di Maros dulu (1986-1989), Bantimurung menjadi pilihan berwisata bagi kami sekeluarga dan teman-teman sekolah. Selain memang tempatnya dekat, air terjun serta obyek wisata lain yang ada di sekitarnya menawarkan keindahan. Kemurungan itu rasanya bagai terbanting. Dari pusat kota Maros, Bantimurung sudah dapat dijangkau dengan waktu lebih kurang 20 menit dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Secara geografis objek wisata Bantimurung memiliki luas wilayah mencapai 6.619,11 km2 Memasuki kawasan ini, kita akan disambut oleh sebuah gapura besar dengan kupu-kupu raksasa, diikuti patung kera berukuran jumbo. Ini menandakan Bantimurung merupakan habitat asli kupu-kupu dan kera.

Air terjun jatuh perlahan melalui batu cadas dari ketinggian 15 meter dan lebar 20 meter menyajikan nuansa alam yang khas. Selain pemandangan alam yang indah, air terjun ini juga dimanfaatkan oleh pengunjung untuk kegiatan mandi atau sekadar untuk merasakan percikan sejuk air pegunungan.

Di sekitar air terjun, terdapat cekungan-cekungan sungai yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berenang. Di sebelah kiri air terjun terdapat jalan wisata dan tempat duduk permanen yang membatasi jalan dengan sungai, terusan dari air terjun. Biasanya pengunjung yang datang sekadar mengabadikan gambar panorama air terjun. Di sebelah kanan air terjun, terdapat areal yang cukup landai untuk berkumpul bersama keluarga dengan menggelar tikar sambil menikmati pemandangan. Pengunjung juga bisa duduk di bawah pepohonan rindang atau mandi di air terjun.

Taman Wisata Alam Bantimurung secara umum bergelombang sampai berbukit-bukit. Batuan kapur membentuk bebukitan terjal di kanan kiri sungai. Daerah datar terletak di bagian selatan, tempat terdapatnya air terjun dan kolam. Daerah datar lainnya yang mempunyai panorama cukup menarik terletak di bagian utara taman wisata alam, dapat ditempuh melalui jalan setapak dari air terjun. Vegetasi yang terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung adalah tipe hutan hujan pegunungan yang didominasi oleh famili Liniaceae, antara lain; jambu hujan (Eugenia sp), jabon (Anthocepalus cadamba), pala-pala (Mangifera sp), enau (Arenga pinnata), centana (Pterocarpus indicus) dan lain-lain.

Selain menikmati pesona air terjun Bantimurung, terdapat objek wisata lain di sekitar kawasan ini yakni goa mimpi dan goa batu. Goa Mimpi merupakan salah satu tempat yang digemari. Di dalam goa terdapat stalaktit (relief batu yang terbentuk dari tetesan air dan menggantung di atas langit-langit goa) indah dengan kumpulan kristal. Bening dan mampu memantulkan cahaya. Di sekelilingnya diterangi lampu sehingga memperindah suasana dalam goa. Inilah yang membuatnya disebut goa mimpi karena ketika berada di dalamnya, kita seakan-akan berada dalam mimpi.

Untuk menuju Goa Batu dibutuhkan stamina yang prima meskipun pengelola sudah membuatkan anak tangga setinggi 10 meter. Perjalanannya cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menit. Namun setelah tiba, segala kelelahan segera terbayar dengan pemandangan indah serta air terjun kecil yang begitu asri. Belum lagi keindahan di dalam goa dengan stalaktit dan stalagmite sepanjang lorong 30 meter.

Pada 1856 – 1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu, termasuk kupu-kupu Bantimurung. Menurut Wallace, Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly karena ditemukan beragam spesies kupu-kupu langka yang jarang terdapat di daerah lain. Berbagai jenis kupu-kupu yang terdapat di kawasan tersebut antara lain dari family Saturnidae, Nocturnidae, Spingidae dan Nyphalidae. Jenis kupu-kupu tersebut menurut para ahli hanya terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung. Menurut Matimu (1977) dan Achmad (1998) dalam Buku Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (2006), terdapat 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan di sana, dan sebaran kupu-kupu jenis komersil seperti Troides haliptron dan Papilio blumei adalah dua jenis endemik yang mempunyai sebaran sangat sempit, yaitu hanya pada habitat berhutan di pinggiran sungai.

Untuk menjaga kupu-kupu dari kepunahan, pemerintah setempat membuat penangkaran di lokasi ini, dan tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Selain penangkaran, ada juga museum kupu-kupu sebagai informasi dan pusat data kupu-kupu yang hidup di alam Bantimurung. Sebelum pulang jangan lupa untuk membeli oleh-oleh kupu-kupu indah Bantimurung yang sudah diawetkan dalam bingkai kaca dengan jumlah variatif. Oleh-oleh ini bisa dipajang di dinding rumah sebagai kenangan dan tanda bahwa Anda sudah mengunjungi “Kerajaan Kupu-Kupu” di Bantimurung.

Untuk menikmati kesejukan dan keindahan Bantimurung, pengunjung cukup membayar retribusi karcis sebesar Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3500 bagi anak-anak. Bagi Anda yang ingin berlama-lama di sini, tersedia fasilitas penginapan dengan kisaran harga antara Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu plus fasilitas televisi di dalamnya.

Selamat membanting kemurungan di Bantimurung!

Laskar yang Mengubah Belitong

Oleh Ilham Khoiri

Bisakah karya sastra mengubah masyarakat? Tengok saja Pulau Belitong, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Novel ”Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengisahkan perjuangan anak-anak kampung untuk bersekolah di pulau itu, ternyata bisa memicu kegairahan baru.

Puluhan orang berbondong- bondong mendatangi sebuah bukit bekas penambangan timah di Desa Linggang, Kecamatan Gantong, Kabupaten Belitung Timur. Di situ, ada bangunan sekolah dari kayu yang doyong. Bagian kanannya disangga batang kayu.

Tiba di situ, sudah ada Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini. Ditemani Bupati Belitung Timur Basuri Tjahaja Purnama, menteri membuka selubung kain di teras depan. Terkuaklah papan nama bertuliskan warna-warni: ”SD Laskar Pelangi”.

Ini salah satu puncak Festival Laskar Pelangi, akhir November lalu. Sekolah itu adalah replika dari SD Muhammadiyah, yang diceritakan dalam novel sebagai tempat 10 anak kampung yang dulu berjibaku belajar. Festival ini memang untuk mengukuhkan jejak- jejak perjuangan mereka.

”Dulu, Belitung Timur ini tak dikenal. Setelah muncul novel Laskar Pelangi, apalagi kemudian difilmkan, pulau ini menjadi terkenal,” kata Basuri Tjahaja Purnama.

Bagi masyarakat Pulau Belitong, khususnya Kabupaten Belitung Timur, novel karya Andrea Hirata itu punya tempat istimewa. Lewat karya sastra ini, kawasan itu kian dikenal luas. Masyarakat setempat semakin bergairah dan percaya diri.

Demi memendarkan gairah itu lebih luas, mereka kemudian menggelar Festival Laskar Pelangi yang mempertontonkan rupa-rupa seni budaya lokal. Tujuannya untuk memajukan pendidikan, pariwisata, dan ekonomi rakyat.

Kesadaran pendidikan diperkuat dengan membangun monumen pendidikan, seperti sekolah itu, selain juga mendirikan rumah baca atau perpustakaan umum. Pariwisata diharapkan meningkat bersama pergelaran acara-acara seni budaya. Ekonomi rakyat diperkirakan tumbuh seiring dengan masuknya wisatawan.

Paradigma baru

Usaha masyarakat Belitung Timur itu cukup menarik. Membangun sebuah kawasan ternyata tidak melulu harus mengandalkan dana dan kekuasaan. Karya kreatif, seperti sastra, ternyata juga bisa mendorong perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

”Jika masyarakat punya spirit yang kuat untuk mengubah dirinya, termasuk lewat karya sastra, keadaan akan berubah,” kata Helmy Faishal Zaini.

Ia lantas memuji Kabupaten Belitung Timur karena sudah resmi dikeluarkan dari daftar daerah tertinggal sejak awal tahun 2010. Infrastruktur, ekonomi, dan kondisi sosial di daerah ini dianggap sudah tak lagi tertinggal. ”Ini bisa menjadi cerminan bagi daerah lain di Indonesia,” katanya.

Memang ada beberapa perubahan di kawasan ini. Tak hanya kian populer, jumlah wisatawan yang berkunjung ke pulau itu juga meningkat tajam. Kepala Desa Linggang Fakhrul Rizal bahkan sampai menyebut peningkatan itu mencapai 800 persen daripada tahun-tahun sebelumnya.

”Mungkin ada sekitar 7.000 orang tiap tahun yang berkunjung ke desa kami. Lima tahun lalu, daerah ini masih sangat sepi,” katanya.

Sejak tahun 2000, Pulau Belitong telah dikembangkan menjadi dua kabupaten, yaitu Belitung (induk) dengan ibu kota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur yang berpusat di Manggar. Meski masih kabupaten baru, wilayah ini secara alami memiliki potensi menarik, terutama dalam wisata.

Di Belitong, misalnya, ada dua pantai terkenal yang bersisian, yaitu Pantai Tanjung Tinggi dan Pantai Tanjung Kelayang. Dua pantai ini dikaruniai keindahan alami: air laut jernih dengan dasar karang, pasir putih, dan bebatuan granit yang membingkai sudut-sudut pesisir.

Langkah awal
Namun, cukupkah dengan novel, film, festival budaya, dan musikal lalu keadaan benar- benar berubah? Agaknya karya seni hanya menjadi pemicu atau semacam pintu masuk. Perkembangan berikutnya bergantung pada kerja keras pemerintah dan masyarakat di lapangan.

Apalagi, selain punya potensi alam, Kepulauan Bangka Belitung juga punya banyak persoalan. Meski dipromosikan sebagai kawasan wisata dengan pantai indah, infrastruktur di pulau ini masih minim. Jumlah hotel terbatas. Di Belitung Timur jumlah hotel tidak lebih dari lima unit. Wisatawan pun terpaksa kerap menginap di rumah penduduk. Sarana transportasi umum hampir tidak ada sehingga wisatawan harus menyewa mobil untuk jalan-jalan.

Soal lain, penambangan timah liar masih saja berlangsung. Tak hanya lahan kosong atau perkebunan, daerah di hutan lindung juga digali dan dikeruk tanahnya untuk disedot timahnya oleh para penambang. Jika tak dikendalikan, bukan tak mungkin kerusakan itu menggerogoti pantai yang indah. Toh, kerusakan sudah terbukti memorak-porandakan Pantai Rebo di Sungai Liat, Kabupaten Bangka, yang dulunya indah.

Namun, bagaimanapun, karya seni tetap bisa menjadi titik permulaan yang baik. ”Minimal masyarakat diberi tawaran atau pandangan lain untuk mengembangkan diri di luar kerja mendulang timah yang terbukti merusak lingkungan. Dan karya seni ternyata bisa menjadi pintu masuk ke arah situ,” kata penyair asal Belitung Timur, Larsi de Isral (33).

-

Arsip Blog

Recent Posts