Kurang Pelamar, Formasi CPNS Bisa Diubah

Jakarta - Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang sudah ditetapkan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) EE Mangindaan ternyata masih bisa diubah. Perubahan ini bisa dilakukan apabila jumlah pelamarnya kurang atau tidak ada pelamar.

Hanya saja menurut Kepala Sub Direktorat Perencanaan Formasi Badan Kepegawaian Negara (BKN) Badi Mulyono perubahan formasi itu hanya bisa dilakukan sebelum tes. "Kalau sudah dekat pelaksanaan tes atau setelah tes dilakukan ya tidak bisa diutak-atik lagi," ujar Badi di Jakarta, Jumat (25/3).

Dia menyebut, dari tahun ke tahun selalu ada saja daerah yang mengeluhkan formasinya banyak kosong akibat kurangnya pelamar. Bahkan ada di posisi tertentu seperti dokter spesial minus pelamar.

"Dari pengalaman itulah banyak daerah yang datang konsultasi ke BKN minta petunjuk bagaimana menyusun formasi. Termasuk kemungkinan formasi yang sudah ditetapkan, tidak ada pelamar. Prinsipnya, bisa saja diubah asalkan jarak tesnya masih jauh. Ini agar pelamar punya kesempatan untuk menyiapkan berkas-berkasnya," bebernya.

Badi menyarankan dalam menyusun formasi CPNS, pemda berkoordinasi dengan DPRD agar bisa diketahui tenaga aparatur apa yang dibutuhkan. Di samping menjaga proses seleksi bisa berjalan transparan. "DPRD bisa ikut mengawasi jalannya pelaksanaan seleksi CPNS," cetusnya.

Mengenai kasus di daerah yang ditolak permintaan perubahan formasinya, menurut Badi, karena usulannya diajukan setelah tes CPNS sudah dilakukan. Untuk mengatasi itu, pemerintah akan menyarankan kuota yang kosong diajukan dalam seleksi berikutnya.

"Kuota yang kosong akan tetap diperhitungkan di tahun berikutnya. Karena itu panitia seleksi harus jeli membaca keadaan. Bila ada tanda-tanda tak ada pelamar, cepat-cepatlah mengajukan usulan perubahan formasi. Tapi formasi penggantinya harus sesuai kebutuhan daerah, bukan asal ganti saja," jelasnya. (esy/jpnn)

Solo Promosikan Wisata Kuliner

Solo - Solo yang memiliki keunikan beraneka makanan khas daerah, dan sudah terkenal sampai di daerah-daerah lain, kini sudah sepantasnya beraneka makanan itu dikemas dengan baik dan dijadikan objek wisata kuliner.

Sekretaris Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Edi Suseno yang didampingi Wakil Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, mengatakan hal itu ketika meninjau pembuatan gerobak dorong yang akan diperbantukan kepada para pedagang untuk wisata kuliner di Jalan Mayor Sunaryo Solo, Selasa.

Ia mengatakan potensi seperti ini perlu terus digali dan diharapkan akan bisa menjadi daya tarik baik untuk wisatawan dalam negeri maupun asing datang ke Solo, bagi menikmati makanan khas yang ada di daerah ini.

Melalui cara-cara seperti ini pula diharapkan bisa membuka kesempatan kerja lebih banyak dan sekaligus meningkatkan ekonomi. "Saya juga berharap makanan khas Solo nanti bisa menjadi makanan yang bisa dikenal di dunia internasional," katanya.

“Solo yang banyak mempunyai keaneka ragaman budaya dan makanan khas ini dalam pengembangan wisata kuliner dijadikan percontohan nasional. Untuk itu dalam program tersebut hendaknya ditangani secara serius,” katanya.

Wakil Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan, pihaknya mengajukan bantuan ke Departemen Perdagangan untuk pengembangan wisata kuliner ini sebanyak 100 gerobak dorong dan saat ini baru diberikan 75 gerobak dorong sedangkan sisanya akan diberikan pada tahun anggaran berikutnya.

Gerobak dorong untuk para pedagang di wisata kuliner ini setiap unitnya senilai Rp6,5 juta. Program wisata kuliner ini pada bulan April 2008 diharapkan sudah bisa diresmikan.

Sumber: www.mediaindonesia.com (28 Februari 2008)

VIY 2008 dari Lanaken dan Charleroi Expo di Belgia

Brussel - KBRI Brussel kembali lakukan promo wisata marathon Visit Indonesia Year (VIY) 2008 di dua kota yang berbeda, di kota Lanaken, wilayah Belgia yang berbahasa Belanda tanggal 21 Februari 2008 dan sepekan mengikuti pameran wisata Idee Vacant dalam Charleroi Expo di kawasan berbahasa Perancis, 19-14 Februari 2008 lalu.

Duta Besar RI Nadjib Riphat Kesoema dalam sambutan pembukaan acara Ean Haart voor Indonesie di Lanaken menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi tempat tujuan wisata yang menarik. Tidak hanya keindahan alam, keunikan budaya dan kesenian, yang menjadi daya tarik, tapi juga kebiasaan kita memperlakukan orang asing menjadi tamu yang terhormat, mungkin menjadikan mereka memiliki luxury ekslusif, pelayanan unik yang tidak diperoleh di negeri lain.

Ajang promosi wisata Visit Indonesia Year (VIY 2008) kembali digelar untuk kedua kalinya. Dari kota kecil Lanaken Belgia yang hanya berjarak 4 km dari kota Maastricht (Belanda) ini, KBRI Brussel bekerjasama dengan yayasan Davidfonds dan dr Sardjono Pribadi, ahli jantung, pada tanggal 21 Februari 2008 telah digelar malam dana Een Hart voor Indonesia.

Acara ini telah dihadiri Marino Keulen, Mendagri wilayah Flams dan Urusan Integrasi Flanderen, Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Nadjib RIPHAT Kesoema, para pejabat Pemerintah daerah kota Lanaken dan masyarakat Lanaken pada umumnya. Tari, musik gamelan, dan makanan Indonesia terasa tetap menyedot perhatian.

Sementara secara marathon, KBRI Brussels kembali gelar acara yang sama VIY 2008 di Charleroi Expo, 19-24 Februari 2008. Gelar budaya dalam pameran wisata Idees Vacant di wilayah masyarakat Belgia yang berbahasa Perancis (Wallonia) mendapat sambutan meriah. Arena promosi seluas 53m2 di lokasi Charleroi Expo dikunjungi warga yang ingin menyaksikan tarian dan musik gamelan Bali terasa membludak, menghentak para pengunjung. Sekalipun India dengan incredible India nya terletak tidak jauh dari lokasi. Di depan stand Indonesia, Tunisia menjual paket wisata menarik. Sekalipun stand Tunisia membuka galeri hiasan keramik yang dibagikan secara cuma-cuma, Indonesia terutama Bali tetap menyedot perhatian.

Partisipasi Indonesia pada event Idees Vacant di Charleroi Expo tersebut merupakan promosi lanjutan yang kedua setelah tampil dengan peluncuran perdana (kick-off) promosi seni, budaya, dan wisata Indonesia di wilayah Eropa pada Vakantiesalon (Indonesia Travel Days) di kota Brugge pada tanggal 5 – 6 Januari 2008 yang lalu.

Tari pendet, rantak dan jaipong mampu mengoyang pengunjung di hari Sabtu dan Minggu (23-24 Februari) lalu. Selain Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa tampak hadir di tengah pengunjung pagelaran ini Messenger de Colombe, dari pemerintah daerah Stavelot yang akan member gelar bangsawan dari Stavelot pada Duta Besar RI, Nadjib Riphat Kesoema pada tanggal 02 Maret 2008 ini. Rententan kegiatan promosi Indonesia ke pelosok Belgia dan partisupasi Indonesia dalam Carnaval Blanch Moussi 2007 lalu di wilayah perbatasan Belgia-Jerman ini pun terasa membuahkan hasil.

Rangkaian 6 (enam) hari promosi tersebut diisi antara lain acara gelar kesenian tradisional Indonesia, workshop mengenai gamelan dan tarian Indonesia ternyata cukup seksi untuk mengundang publik memberi perhatian kepada Indonesia. Sanggar gamelan Bali Salih Asah, yang dibina KBRI Brussel dengan mayoritas pemain orang-orang Belgia terasa mendekatan jiwa musik gamelan dan esotisme Indonesia.

Melalui medium kesenian, tari dan musik ini kita buka cakrawala dan kita dekatkan Indonesia kepada publik. Masyarakat luas, people to people contact dengan cara interaktif. Kita bangun perhatian dan rasa ingin tahu dari tingkat yang paling bawah, people on the street, kalangan profesional, para dokter hingga kantor para wakil rakyat Belgia.

Sumber: www.deplu.go.id (28 Februari 2008)

Terumbu Karang di Pulau Enggano Terancam Habis

Bengkulu - Keberadaan terumbu karang di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, terancam rusak dan habis, karena terus diambil secara ilegal untuk dijadikan bahan bangunan proyek-proyek pembangunan fisik dan keperluan pribadi warga setempat.

Basir Kauno, salah seorang tokoh masyarakat Enggano, Senin, menilai, pemerintah sampai sekarang belum berhasil mengatasi penambangan liar batu karang di Enggano tersebut, sehingga keberadaannya terancam habis dan akan berdampak pada rapuhnya pondasi pulau tersebut.

Menurut dia, yang sangat mengkhawatirkan adalah pengambilan secara besar-besaran oleh pihak kontraktor pembangunan jalan dan bangunan fisik proyek pemerintah lainnya di pulau tersebut, padahal terumbu karang itu berfungsi memperkokoh pondasi Pulau Enggano yang berjarak 97 mil dari Kota Bengkulu itu.

Bila terumbu karang itu habis akan mengancam pulau terpencil itu menjadi tenggelam, karena kawasan hutannya pun sekarang sudah mulai dibabat dan diambil kayunya oleh masyarakat.

Ia juga menilai, pembangunan di Pulau Enggano selama ini masih sebatas proyek uji coba dan bukan untuk pengembangan dan mempertahankan kekayaan alam yang ada.

Basir mencontohlan beberapa proyek besar tahun lalu antara lain transmigrasi yang menghabiskan dana puluhan miliar rupiah sampai sekarang terbengkalai termasuk pengadaan kapal nelayan sampai kini tidak ada realisasinya.

Pembangunan jalan dan irigasi seluruhnya menggunakan terumbu karang yang ada di daerah itu, bila terumbu karang tersebut habis, Pulau Enggano ke depan tinggal kenangan dan akan tenggelam apalagi hutannya terus dibabat untuk diambil kayunya.

Menurut penetian ahli kepulauan, kata Basir Kauno, Pulau Enggano berada di atas kekuatan karang, bila karang-karang itu terus diambil pondasinya akan runtuh.

Untuk mengantisipasinya, pihak Pemkab Bengkulu Utara harus tegas menindak dan menyetop pencurian sumber daya alam yang ada di pulau terpencil yang berada di Samudra Indonesia itu.

Sebelum masuknya transmigrasi ke daerah itu, banyak pengusaha berpura-pura ingin menanamkan modalnya dengan membuka perkebunan besar, namun setelah berjalan ternyata hanya mengambil kayu dan gulung tikar.

Menanggapi rencana masuknya investor ke daerah itu, Basir menyambut positif asalkan kepentingan masyarakat setempat tak diabaikan.

Sumber: www.mediaindonesia.com (28 Februari 2008)

Tiga Stasiun TV Asing Liput Ritual Nyepi

Denpasar - Tiga stasiun televisi asing telah memastikan akan meliput rangkaian kegiatan ritual umat Hindu melaksanakan tapa brata penyepian menyambut Tahun Baru Saka 1930 tanggal 7 Maret 2008.

"Ketiga stasiun televisi itu masing-masing CNN Amerika Serikat, televisi dari Taiwan dan Korea," kata Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Bali, Drs I Gede Nurjaya, di Denpasar, Rabu.

Dikatakannya, banyak rangkaian kegiatan ritual yang bisa diliput untuk disebarluaskan kepada masyarakat internasional, tanpa mengganggu umat Hindu menunaikan empat pantangan yang akan dilakukan umat Hindu.

Keempat pantangan tersebut meliputi tidak melakukan kegiatan (amati karya), tidak menyalakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan) serta tidak mengumbar hawa nafsu (amati lelanguan).

Rangkaian kegiatan ritual tersebut antara lain prosesi "Melasti/Melis" bermakna membersihkan pratime, yakni benda suci yang disakralkan ke laut, danau atau sumber mata air yang melibatkan warga di masing-masing desa adat, sesuai dengan kondisi daerah setempat antara 3-5 Maret 2008, katanya.

Warga berbondong-bondong ikut ambil bagian dalam kegiatan melasti sambil membawa sesaji dan peralatan suci, diiringi alunan musik tradisional Bali (gamelan) yang bertalu-talu.

Selesai Melasti dilanjutkan dengan melaksanakan upacara "Tawur Kesanga" pada hari kamis(6/3), sehari menjelang Nyepi, dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat rumah tangga, dusun, Desa adat, Kecamatan, kabupaten/kota hingga tingkat Propinsi Bali.

Kegiatan bermakna meningkatkan hubungan yang lebih serasi dan harmonis antara sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa.

Tawur Kesanga yang berakhir pada petang hari itu dilanjutkan dengan "Ngerupuk" yang bermakna menetralkan semua kekuatan dan pengaruh negatif "bhutakala" dengan harapan alam semesta tentram, damai dan harmonis.

Malam harinya dilanjutkan dengan arak-arakan ogoh-ogoh, yakni boneka berukuran besar menyerupai raksasa dengan wajah menyeramkan, diarak keliling banjar dan desa adat.

Semua itu dapat diliput secara lengkap dan baik televisi luar negeri, tanpa mengganggu kegiatan ritual yang digelar umat Hindu setempat. Sedangkan pada hari suci Nyepi di mana seluruh umat Hindu akan mengunci pintu rumahnya, dapat diliput kameramen dari hotel tempatnya menginap.

"Kalau ingin merekam suasana Bali yang hening secara keseluruhan, sebaiknya stasiun televisi luar negeri itu memanfaatkan banyak petugas dan kamera, saat nyepi menginap secara terpencar," ujar Nurjaya.

Belasan wartawan media elektronik asing itu sudah dikoordinasikan dengan Ketua Majelis Desa Pekraman (MDP) Bali AA Arnawa.

Peliputan tersebut dilakukan terkait dengan ajakan masyarakat Bali kepada dunia untuk secara bersama-sama melakukan "Berata Penyepian" pada hari suci tersebut.

Ajakan atau seruan tentang itu dilakukan delegasi dari Bali pada konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, awal Desember 2007.

Menurut delegasi dari Bali, dengan melakukan "Berata Penyepian" dalam sehari saja, akan dapat ditekan tingkat pencemaran karbon dalam jumlah yang sangat besar pada atmosfer bumi.

Arnawa mengatakan, meski "Berata Penyepian" merupakan ajaran Hindu, namun masyarakat Bali tidak ingin meng-Hindu-kan dunia, melainkan ingin mengajak dunia dapat melakukan model kearifan lokal yang dapat diterapkan untuk menekan pencemaran karbon di atmosfer bumi.

Mengenai aktivitas jurnalis asing nantinya, Arnawa mengatakan bahwa pihaknya tidak keberatan selama mereka dapat mematuhi dan tidak mengganggu jalannya "Berata Penyepian" yang dilakukan umat Hindu.

Sumber: www.antara.co.id (28 Februari 2008)

Pameran Indonesia di Eropa Tengah dan Timur (IE CEE) di Warsawa 7-10 Mei 2008

Ogan Komering Ilir - Perkembangan kebudayaan Sumatera Selatan tak lepas dari pengaruh China di masa lampau, mulai dari bangunan, ukir-ukiran, kesenian, hingga makanan. Namun, saat ini serbuan produk China yang masuk ke Indonesia hingga pelosok desa justru menyebabkan kepunahan perahu kajang Kayu Agung, salah satu perahu kuno di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Perahu kajang biasanya dipakai sebagai alat transportasi untuk menjual kerajinan tembikar buatan warga Kayu Agung ke daerah-daerah lainnya di sepanjang Sungai Komering yang merupakan sungai besar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Perahu yang memiliki panjang delapan meter dan lebar dua meter tersebut kini tak pernah terlihat karena bisnis tembikar gulung tikar akibat munculnya produk China yang jauh lebih bagus dengan harga relatif terjangkau.

Satu kekhasan perahu yang diperkirakan berasal dari masa kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII masehi) tersebut adalah bagian atap yang terbuat dari daun nipah. Atap terdiri dari tiga bagian bersusun, bagian depan disebut kajang tarik, tengah disebut kajang tetap, dan belakang disebut tunjang karang. Dari namanya dapat ditebak bahwa bagian tengah dipasang permanen, sedangkan bagian depan dapat disorong sehingga pada saat hujan atau istirahat di siang hari akan melindungi penumpang dari terik matahari.

Perahu ini juga memiliki ciri khas pada buritan bagian depan karena terdapat tonjolan seperti kepala yang disebut ”selungku”. Bagian ini mungkin untuk meredam guncangan saat perahu menabrak sesuatu.

Bahan yang biasa digunakan untuk pembuatan perahu ini adalah jenis kayu rengas yang tidak ditemukan lagi di wilayah Kayu Agung. Namun, kepunahan kayu tersebut bukan penyebab perahu kajang punah karena bisa saja diganti bahan lain yang tak kalah kuat.

Manusia perahu
Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti bahkan mengatakan, para pemilik perahu kajang disebut sebagai manusia perahu. Itu karena mereka lebih banyak berada di atas perahu untuk berdagang ketimbang hidup di darat.

”Mereka merupakan pedagang tembikar buatan warga setempat yang dipasarkan ke luar daerah, bahkan ke Palembang melalui Sungai Musi. Kadang kala, tembikar ditukar dengan beras atau barang kebutuhan warga desa penghasil tembikar,” ujar Rangkuti.

Namun, berjalan dengan perkembangan zaman, produk tembikar mulai kehilangan peminat karena muncul produk pabrik yang lebih menarik dengan harga bersaing. Meredupnya pasar usaha tembikar diikuti oleh lesunya pemasaran produk tersebut yang berbuntut punahnya perahu kajang.

Perahu kajang diperkirakan masih marak digunakan sampai tahun 1980-an. Satu per satu perahu kajang yang bertahan hilang karena kehilangan fungsi.

Menurut Rangkuti, dalam penelusuran yang dilakukan Balai Arkeologi Palembang beberapa waktu lalu di sepanjang Sungai Komering, hanya ditemukan satu perahu kajang yang sudah dimodifikasi menjadi kapal ketek dengan mesin dan kemudi seperti setir mobil.

”Tetapi kami masih menemukan beberapa nelayan yang menyimpan bagian kapal, di antaranya dayung sepanjang tiga meter dan kemudi sepanjang dua meter. Dayung ditempatkan di bagian depan dan kemudi di bagian belakang,” ujar Rangkuti.

Nasib perahu kajang memang berbeda dengan perahu sandeq yang digunakan etnis Mandar di Sulawesi Barat. Perahu layar tradisional khas Mandar tersebut tidak hanya lincah dan tangguh mengarungi laut lepas Selat Makassar, tetapi juga mampu bertahan hingga saat ini.

Bayangkan, sandeq mampu melaju dengan kecepatan 20 knot dengan mengandalkan dorongan angin yang ditangkap layar berbentuk segitiga. Nelayan yang biasa mencari telur ikan terbang itu tidak pernah repot dan ribut soal kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).

Mungkin Pemerintah Kabupaten OKI ataupun Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus belajar melestarikan perahu kajang dari orang-orang Mandar. Bukan hanya karena alasan ekonomi, melainkan mungkin perahu tersebut memiliki nilai-nilai kearifan lokal.

Salah satu kearifan lokal adalah perahu-perahu yang merupakan hasil karya nenek moyang tersebut tidak perlu membakar (BBM). Perahu kuno itu juga ramah lingkungan dan membantu pemerintah menekan biaya subsidi BBM.

Sumber: www.kompas.co.id (29 Februari 2008)
-

Arsip Blog

Recent Posts