Pedagang Pasar Gede "Fashion Show" Batik

Solo, Jateng - Para pedagang Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, mengikuti peragaan busana (fashion show) ala pedagang pasar, Selasa (2/10/2012), untuk memperingati Hari Batik Nasional. Fashion show digelar di depan pintu utama pasar yang diikuti 12 pedagang.

Sambil mengenakan busana batik, mereka memegang kain batik dan melambai-lambaikan kain sambil berjalan melenggak-lenggok ala peragawati dan peragawan.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gede, Solo, Jumadi mengatakan, pedagang secara rutin setiap Sabtu sudah menggunakan seragam batik pedagang.

Salah seorang pedagang, Situm, mengatakan, setiap ada acara biasanya pedagang mengenakan seragam batik. "Halalbihalal pakai batik, 17 Agustus-an pakai batik, kami sudah terbiasa pakai batik," kata Situm.

Ayo, Pakai Batik di Hari Batik Nasional!

Jakarta - Pemerintah menetapkan hari ini sebagai Hari Batik Nasional. Sebagai salah satu warisan budaya dunia yang lahir dari Indonesia, batik harus dipertahankan salahsatunya dengan cara memakai busana batik di Hari Batik Nasional.

"Peringatan hari Batik Nasional tahun 2012 ini memasuki tahun ketiga, sejak pemerintah menetapkannya pada 2 Oktober 2009. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik nasional," seperti tertulis dalam laman setkab.go.id yang merupakan situs resmi Sekretariat Kabinet, Selasa (2/10/2012).

Pemilihan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, mengingat pada tanggal itu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap mata budaya Indonesia.

"Penerbitan Kepres Nomor 33 Tahun 2009 sebagai usaha pemerintah meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia di forum internasional. Selain untuk menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia," ungkap lama setkab itu.

Penetapan hari Batik Nasional juga dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia. Batik sebagian besar diproduksi oleh industri kecil, sehingga dengan makin sering masyarakat memakai batik sama artinya menghidupkan usaha kecil menengah.

"Kepada kalangan institusi yang telah mewajibkan seragam batik kepada para pegawainya, pemerintah menyampaikan terima kasih dan penghargaan. Saat ini sudah ada tiga warisan budaya khas Indonesia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia yakni batik, keris, dan wayang," ungkapnya.

Pemkab Agara Gelar Pentas Seni dan Budaya

Kutacane, NAD - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara (Agara) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Rabu (26/9) menggelar festival dan pentas seni di plataran parkir Stadion H.Syahadat Kutacane. Festival dan pentas seni itu merupakan kegiatan rutin tahunan Pemkab setempat.

Bupati Aceh Tenggara, H.Hasanudin Beruh mengungkapkan, dialektika peradaban pada suatu bangsa sering dihubungkan dengan nilai-nilai kultural dan budaya yang dimiliki serta kultur budaya yang tinggi melahirkan interaksi sosial masyarakat yang tercermin dalam beragam kreasi karya seni dan budaya.

Komunikasi antar komunitas sering menggunakan seni menjadi perantara dan media, persoalan yang akut dalam interaksi sosial kemasyarakatan sering kali bermuatan kultural atau budaya yang menjadi perekat sosial.

"Kita tidak bisa memandang sebelah mata tentang seni dan budaya. Seni membuat hidup menjadi indah dan bergairah, budaya membuat hidup lebih tertata," kata bupati.

Lebih spesifikasi, melalui pagelaran pentas seni dan budaya yang bertemakan; "Sebuah upaya melestarikan seni dan budaya sebagai potensi kekayaan budaya bangsa" ini, bupati menyatakan generasi muda mempunyai naluri dan kreatifitas seni yang perlu diwadahi sebagai bagian dari berlangsungnya siklus peralihan generasi baru.

Kehadiran festival seni dan budaya ini diharapkan akan menjadi bagian dari wadah penyaluran kreativitas generasi muda, sehingga terhindar dari segala aktivitas yang bernuansa negatif.

Berbagai jenis perlombaan mewarnai pagelaran seni dan budaya yang berlangsung 26-30 September 2012, di antaranya festival band yang melibatkan 21 grup, festival lagu daerah tingkat dewasa 45 peserta dan festival lagu tingkat anak-anak 31 peserta.

Kemudian lomba tarian daerah, di antaranya tari mesekat 18 peserta, tari batak (tor-tor) 23 peserta, tari rantak dan tari indang 14 peserta, tari karo 14 sanggar, tari gayo (tari saman) 8 sanggar, tari singkil (tari dampeng) 5 sanggar serta tarian kreasi melibatkan 37 sanggar.

Selain itu, juga akan digelar lomba budaya daerah terdiri dari Ngekhane dengan jumlah peserta 14 orang dan tangis dilo dengan jumlah peserta 18 orang, dengan harapan mampu menggali potensi dan peningkatan seni budaya di Aceh Tenggara.

DKA Aceh Utara Gelar Pentas Seni Budaya Aceh

Lhokseumawe, NAD - Para pelajar dari sejumlah desa di Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, unjuk kebolehan dalam event apresiasi seni budaya Aceh tingkat kecamatan yang dilaksanakan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Utara di halaman kantor camat setempat, Sabtu-Minggu (22-23/9).

Dalam pagelaran bertajuk "Dengan Senin Kita Cerminkan Kebudayaan yang Heroik dan Islami" ini, para peserta bersaing ketat dalam lomba pagelaran busana islami yang menampilkan pelajar Sekolah Dasar (SD) dan SLTP.

Tarian-tarian Aceh juga dibawakan sejumlah sanggar dari beberapa desa, seperti tari rapa’i geurimpheng (tarian khas Aceh memakai beduk) yang memukau ratusan warga yang memadati lokasi.

Ketua Umum DKA Aceh Utara, Nurdin Ismail, mengungkapkan, tahun ini telah dicanangkan ajang pagelaran seni bernafaskan kebudayaan Islam yang diselenggarakan di 27 kecamatan di Aceh Utara.

"Sejauh ini, kita sudah bekerjasama dengan Dinas Syariat Islam dan Dinas Pendidikan untuk mengembangkan seni kebudayaan islami ini," ujarnya.

Dikatakan keragaman seni dan budaya yang dimiliki Aceh selama ini mulai tenggelam di tengah masyarakat, seperti tari seudati, biola Aceh, cara ayunan anak, tari ranup lampuan, rapa’i debus dan rapa’i pasee.

"Seni-seni ini perlu dihidupkan kembali. Karena DKA lahir atas permintaan insan seni yang berperan bukan hanya menari dan mengukir melainkan menjaga dan melestarikan seni, budaya dan adat-istiadat masyarakat agar tidak tenggelam ditelan zaman," jelasnya.

Selain itu, pihaknya akan mengembangkan seni yang bernafaskan Islam antara lain dalail khairat (membaca kitab dengan berirama yang menyampaikan pesan-pesan agama secara bersama-sama), nazam (syair) agama, hafiz Al-Quran, lomba azan, lomba membaca ayat suci dan menggalakkan membaca Al-Quran di kalangan remaja.

"Kita akan melakukan rekrutmen dari kalangan pelajar di masing-masing kecamatan untuk mengikuti pembinaan yang dilakukan qari dari Pase. Setelah mereka benar-benar mapan membaca Al-Quran akan dikembalikan ke kecamatan masing-masing,"sebutnya.

Menurut dia, upaya menggalakkan membaca Al-Quran di Aceh Utara karena berdasarkan survei pada bulan Ramadan lalu, terbukti minat membaca Al-Quran di tengah masyarakat menurun. Ini sangat berbeda dengan periode 1980-an di mana minat membaca Al-Quran khususnya di Aceh Utara sangat tinggi.

"Ini kita lakukan untuk menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terutama remaja untuk membaca dan mempelajari Al-Quran sehingga generasi kita tetap berpegang teguh pada akidah yang benar dan tidak mudah terpengaruh ajaran-ajaran sesat," demikian Nurdin Ismail.

Ribuan Warga Dairi Hadiri Pesta Budaya Njuah-njuah

Sidikalang, Sumut - Pemerintah Kabupaten Dairi menggelar pesta Njuah-Njuah satu hari penuh di Stadion Utama Sidikalang, Jumat (28/9). Empat ribuan warga dari seluruh kecamatan hadir memadati lokasi acara serta membawa hasil pertanian masing-masing daerah.

Bupati Dairi KRA Johnny Sitohang Adinegoro menyampaikan apresiasi atas pesta budaya tersebut. Ia mengatakan, pesta Njuah-njuah ini akan melestarikan budaya leluhur serta mempererat persaudaraan di dalam kemajukan. Dengan budaya maka tercermin sikap yang terpuji dari setiap warga masyarakat dalam bertindak dan berpikir.

Ia juga mengajak agar setiap warga Dairi untuk tetap saling menghormati dan beretika, sehingga dapat terciptanya hubungan kerjasama yang baik dan terjalin persatuan dan kesatuan sehingga dapat mewujudkan pembangunan yang mensejahterakan rakyat.

Kadis Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dairi Drs Bonar Butar-butar melaporkan, pesta Njuah-Njuah ini dimeriahkan kontingen dari 15 kecamatan dan kontingen dari Dinas dan Badan Pemkab Dairi, organisasi pemuda Pakpak dan Dharma Wanita. Bonar juga menyampaikan dalam memeriahkan pesta Njuah-njuah ini diadakan berbagai kegiatan lomba tarian dan lagu.

Bonar Butarbutar memaparkan, tujuan pesta budaya itu adalah untuk menggali dan melestarikan potensi budaya etnis Pakpak sesuai dengan etika dan tata krama, sehingga terwujud rasa persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat Dairi.

Kadis Pariwisata Propinsi Sumut diwakili seorang Kasi Dinas Pariwisata Propsu menyambut baik pesta budaya tersebut. Bantuan spanduk dan seperangkat alat musik tradisional Pakpak juga diserahkan.

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Dairi Irwansyah Pasi SH, Ketua DPRD, Delphi M. Ujung SH, MSi, Kapolres Dairi AKBP Enggar Pareanom S.Sos SIK, serta unsur muspida lainnya dan tokoh adat dan tokoh masyarakat Pakpak.

Pantauan Analisa, masyarakat membawa hasil tani, diantaranya jeruk manis, cabe, durian, jagung dan aneka hortikultura. Kecamatan Sitinjo juga menyuguhkan apel walau komoditas itu belum dibudidayakan di daerah ini. Sementara itu, utusan Kecamatan Parbuluan menonjolkan produksi khas, yakni kopi luwak berikut pengenalan musang sebagai organisme penghasil sebelum processing. Petani Kecamatan Silahisabungan menyuguhkan bawang merah dan ikan mujahir.

Buah tangan diserahkan kepada Bupati, KRA Johnny Sitohang Adinegoro dan Wakil Bupati Irwansyah Pasi SH bersama pimpinan daerah.

Begitupun, kehadiran anggota DPRD terbilang minim. Hanya diikuti 7 dari 30 wakil rakyat, yakni Delphi Masdiana Ujung, Agus Ujung, Pinto Padang, Dahlan Sianturi, Martini Sitinjak, Mangasa Sinaga dan Martua Nahampun.

Acara diawali doa atau "sodip" dipandu Mahadi Kudadiri. Mereka bermohon diberi rezeki serta dijauhkan dari mara bahaya. Ritual itu dilaksanakan dalam bahasa Pakpak. Sepertinya, roh nenek moyang juga dipanggil. Seterusnya, Mahadi menyemburkan "air jeruk purut" kepada hadirin.

Richard Eddy M Lingga SE anggota DPRD Sumut mengatakan, atensi pemerintah terhadap budaya lokal dipandang cukup tinggi. Penetapan menjadi kalender tahunan, plus alokasi anggaran merupakan parameter kepedulian.

Sumsel Tuan Rumah Dunia Melayu Dunia Islam

Palembang, Sumsel - Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan siap menjadi tuan rumah penyelenggara pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam di Palembang, 1-4 Oktober 2012. Demikian ditegaskan Gubernur Sumsel Alex Noerdin kepada wartawan di Palembang, Ahad (30/9).

Persiapan itu, menurutnya, salah satunya dengan menggelar perkampungan belia di Kabupaten Banyuasin. Perkampungan belia antara lain diikuti beberapa provinsi termasuk utusan pemuda Malaysia.

Selain itu juga akan dilepas Kapal Parameswara menuju kerajaan Malaka yang dimulai di Benteng Koto Besak Palembang.

Sesuai jadwal, Dunia Melayu Dunia Islam akan dibuka secara resmi di Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (2/10) yang akan dihadiri utusan pejabat dari Malaysia.

Menurut dia, semua fasilitas dan kepanitiaan sudah siap, sehingga diharapkan kegiatan tersebut berjalan sukses.

Sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Tony Panggarbesi mengatakan, Dunia Melayu Dunia Islam direncanakan diikuti beberapa negara Islam, khususnya negara tetangga seperti Malaysia.

Kegiatannya sendiri antara lain pertukaran pemuda, pembahasan kebudayaan dan lainnya yang berkaitan dengan dunia Melayu.

-

Arsip Blog

Recent Posts