Pasar Seni Ancol Tampilkan Keramik Lima Negara

Jakarta - Pasar Seni Ancol Jakarta Utara akan menampilkan pameran keramik yang merupakan hasil karya perupa dari lima negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

"Ancol akan menyelenggarakan acara ’international art exhibition’ (eksibisi seni internasional)," kata Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., Budi Karya Sumadi, di Jakarta, Senin.

Budi memaparkan, eksibisi itu akan menghadirkan karya seni keramik dari perupa sejumlah negara yang memiliki ciri khas kontemporer dalam berbagai karya seninya.

Pameran ini, ujar dia, sebagai bentuk komitmen Ancol terhadap pengembangan seni dan budaya di Tanah Air yang memiliki nilai kesejarahan yang sangat tinggi.

Eksibisi itu sendiri akan berlangsung di tempat Galeri North Art Space di Pasar Seni Ancol mulai dari tanggal 19 Desember 2009 hingga tanggal 20 Januari 2010.

Para perupa dalam pameran tersebut yang berasal dari Indonesia antara lain Nurdin Ichsan, Nadya Savitri, Trisa Granicia, Ira Suryandari, Evy Yonatan, dan Ahadiat Jedawinata.

Selain itu, perupa tanah air yang akan menunjukkan karyanya adalah Natas Setiabudhi, Lie Fhung, Donna Prawita, Sri Hartono, Hera Pahlasari, F Widayanto dan Marcello Massoni dengan gaya keramik Bali.

Sementara itu, terdapat pula karya perupa Ahmad Abu Bakar dari Singapura, Ahmad Roslan dan Umibaizurah Mahirismail dari Malaysia, Krisaya Leunganantakul dari Thailand, serta Hadrian Mendoza dari Filipina.

Sedangkan pameran keramik tersebut juga melibatkan Rifky Effendi dan Asmujo J Irianto sebagai kurator pameran.

Selain eksibisi seni keramik internasional, Ancol juga menggelar acara wisata kuliner bertajuk "Jimbaran Anniversary" yang diselenggarakan juga dengan tujuan memperingati ulang tahun Jimbaran Resto keempat.

Dalam acara yang akan digelar pada 17 Desember itu, Jimbaran Resto akan mengubah namanya menjadi Jimbaran Bali Entertainment Resto yang berkonsep sebagai sebuah destinasi wisata kuliner yang tidak hanya memiliki keunggulan di menu makanan, tetapi juga memiliki nuansa Bali yang lengkap dengan pertunjukan seperti tari-tarian dan etnik khas Bali lainnya.

Di dalam Taman Impian Jaya Ancol itu sendiri, Budi mengemukakan, dalam menghadapi liburan akhir pekan akan digelar dua pertunjukkan internasional bertajuk "Wolverine" dan "Scorpion Pirates".

Monumen Fisabilillah Akan Dibangun

Batam, Kepulauan Riau - Kantor Dinas Pariwisata Tanjung Pinang merencanakan membangun monumen Raja Haji Fisabilillah di pinggir pantai pada tahun 2010. Selain itu, Pemerintah Kota Tanjung Pinang juga merencanakan mereklamasi pinggir pantai di depan gedung daerah untuk pengembangan sektor pariwisata.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjung Pinang Abdul Kadir Ibrahim, Senin (7/12). ”Tahun 2010, direncanakan membangun monumen Raja Haji Fisabilillah di laut. Nanti juga dibangun jembatan yang menghubungkan pantai dengan monumen,” kata Abdul Kadir. Nilai pembangunan monumen itu diperkirakan mencapai Rp 1,5 miliar.

Raja Haji Fisabilillah merupakan seorang pahlawan yang memimpin perang Kerajaan Riau. Dalam perang Riau, Raja Haji Fisabilillah yang memimpin pasukan menembak kapal VOC yang bersandar di perairan Tanjung Pinang pada tanggal 6 Januari 1784. Peristiwa itu juga dijadikan hari jadi Kota Tanjung Pinang.

Selain itu, lanjut Abdul Kadir, tahun 2010, Pemerintah Kota Tanjung Pinang melalui Dinas Pekerjaan Umum Kota Tanjung Pinang akan mereklamasi pinggir pantai di depan gedung daerah untuk wisata kota. ”Lebar pinggiran pantai yang direklamasi sekitar 10 meter,” katanya.

Akan tetapi, Abdul Kadir belum dapat menyebutkan nilai pembangunan reklamasi pantai tersebut.

”Proyek itu akan dikerjakan oleh dinas pekerjaan umum. Pihak dinas pariwisata hanya mengusulkan rencana penataan tempatnya,” katanya.

Dengan adanya pembangunan monumen dan reklamasi pantai itu, masyarakat dan juga pendatang, khususnya wisatawan, diharapkan dapat merasa lebih nyaman menikmati Kota Tanjung Pinang. (FER)

Irau Rayeh Warisan Budaya Bangsa

Samarinda, Kalimantan Selatan - Persekutuan Dayak Lundayeh Kaltim (PDLKT) laksanakan upacara Irau Rayeh (pesta besar) Dayak Lundayeh sebagai tanda syukur dan terimakasih kepada sang Pencipta karena situasi daerah dalam keadaan damai yang merupakan bagian dari seni budaya warisan bangsa.

“Pagelaran budaya Irau Rayeh Dayak Lundayeh mengandung makna yang sangat penting dalam upaya melestarikan seni dan budaya warisan bangsa, khususnya seni budaya dayak Lundayeh yang merupakan salah satu etnis Dayak yang berasal dari Utara Kaltim,” ujar Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak dalam sambutannya yang disampaikan staf Ahli bidang Kemasyarakatan dan SDM Dwi Nugroho Hidayanto dalam upacara adat Irau Rayeh Dayak Lundayeh di Desa Berambai Samarinda, Sabtu(5/12).

Seni budaya masyarakat Kaltim terlihat dari upacara adat, gerak tari maupun berbagai ungkapan seni budaya lainnya terus berkembang dengan baik dan agar tidak hilang serta terpengaruh budaya asing, maka seni budaya dari Dayak Lundayeh ini harus terus dipelihara dan dilestarikan dengan baik sehingga menjadi warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang.

“Pemerintah mengharapkan agar seluruh etnis atau suku bangsa yang ada di Kaltim untuk terus memelihara dan menghidupkan seni budayanya sendiri yang dapat diwujudkan seperti halnya kegiatan-kegiatan seni budaya suku adat lainnya,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum PDLKT Yansen TP mengatakan kegiatan seni budaya yang dikemas dengan upacara Irau Rayeh ini untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada yang Pencipta serta dijadikan sebagai wadah untuk berkumpul kembali dengan sanak saudara yang terpisah didaerah-daerah lainnya, selain juga untuk menghindarkan daerah ini dari bahaya dan bencana dengan ritual-ritual adat dan keagamaan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari rasa syukur masyarakat Lundayeh (suku dayak Lundayeh) atas limpahan hasil pertanian dan sekaligus sebagai upacara untuk menghindarkan dari bala bencana,” ujar Yansen TP usai upacara Irau Layeh Dayak Lundayeh Kaltim di desa Berambai.

Pada upacara Irau untuk yang kedua kalinya ini dilaksanakan cukup besar, karena selain dihadiri seluruh masyarakat dayak Lundayeh se Kaltim yang tersebar di kabupaten dan kota ini juga dihadiri Presiden Persatuan Kebudayaan Lundayeh Sabah Malaysia Enci Pengiran Lalong dan Timbalan (Wakil Presiden) Enci Rymond Isak Uta.

Irau Layeh ini dilaksanakan di Samarinda karena masyarakat suku ini memang dianggap cukup terasing dan hidup di pedalaman Kaltim wilayah utara antara Sabah dan Serawak Malaysia dan alasan dipilihnya kota ini karena ada sekitar tujuh ribuan jiwa lebih yang warga suku Lundayeh tidak termasuk masyarakat suku-suku dayak lainnya.

“Kegiatan Irau ini selain sebagai perayaan seni budaya dan adat lokal, diharapkan kedepannya menjadi salah satu agenda tetap daerah untuk kegiatan kepariwisataan daerah Kaltim untuk mendukung peningkatan kunjungan tahun wisata Kaltim dan Berambai dipilih sebagai lokasi pusat acara karena kondisi serta potensi wilayah yang sangat mendukung kegiatan upacara ini,” ujarnya.(vb-016).

Festival Budaya dan Promosi Kota Medan Dukung Kunjungan Turis ke Indonesia

Medan, Sumatra Utara - Gaung Festival Budaya dan Promosi Kota Medan tahun ini turut mendukung kunjungan turis ke Indonesia.

“Gaungnya lebih luas karena ikutnya partisipasi dari sejumlah negara tetangga, dan juga sejumlah provinsi dari berbagai wilayah nusantara, hal ini harus kita cermati dengan sunguh-sungguh demi menata pencitraan Kota Medan sebagai kota Budaya yang multi etnis,” kata Pj Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM pada pembukaan Festival Budaya dan Promosi Kota Medan 2009, yang digelar di Royal Room Hotel Danau Toba Medan, Senin (7/12).

Hadir unsur Muspida Kota Medan, Ketua DPRD Kota Medan H Deny Ilham Pangabean SH, Sekda Medan Drs H Dzulmi Eldin S MSi, Ketua MABMI Kota Medan Drs Safwan Khayat M Hum, serta perwakilan Negara tetangga dan sejumlah provinsi.

Dikatakannya, semua rangkaian kegiatan festival budaya ini dimaksudkan untuk menggebyarkan program kepariwisataan Kota Medan dalam mendukung Visit Indonesia Year 2009, selain itu untuk memperlihatkan jati diri Kota Medan sebagai kota tujuan wisata.

Menurutnya, dengan festival dan pesta budaya ini diharapkan kunjungan wisatawan ke Kota Medan akan dapat meningkat, juga hubungan persahabatan dengan negara tetangga dapat meningkat dengan kerja sama yang lebih konkrit, demikian juga dengan provinsi lainnya.

Ramah Tamah
Pj Walikota Medan juga meminta kepada para panitia, peserta festival, seminar dan pertunjukan lima etnis Kota Medan yang menjadi tuan rumah, agar dapat mencerminkan keramah tamahan yang lebih familier, sehingga dapat mencitrakan Kota Medan sebagai kota yang berbudaya dengan masyarakatnya yang berbudi pekerti luhur.

Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kota Medan Maju Siregar SH melaporkan, kegiatan ini berlangsung 7 sampai 9 Desember di Royal Room Hotel Danau Toba, kegiatan ini sebagai promosi budaya delapan etnis di Kota Medan, yang diisi dengan festival serampang 12 tingkat nasional dan internasional, dan festival dendang melayu.

Selain itu kegiatan diisi dengan seminar songket Melayu, pameran budaya 8 etnis, pertujuan tarian serampang dua belas, hiburan live musik dan city tour ke objek daya tarik wisata Kota Medan. Dimana, Negara-negara tetangga yang ikut berpartisipasi adalah Malaysia, Singapore, Brunai Darussalam dan Thailand. Sedangkan partisipasi dari sejumlah provinsi antara lain Provinsi NAD, Sumbar, Palembang, Riau, Kepri, Jambi, Bengkulu dan Jakarta. (maf)

Tujuh Provinsi Pastikan Ikut KSM

Batam, Kepulauan Riau - Acara Kenduri Seni Melayu (KSM) akan digelar di Dataran Engku Putri dari hari Sabtu (12/12) hingga Rabu (16/12). Acara yang telah menjadi agenda rutin Dinas Paariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Batam ini akan menampilkan berbagai bentuk kesenian Melayu dan Nusantara serta negara Rumpun Melayu.

Sebanyak tujuh provinsi di Indonesia sudah menyatakan kesiapannya untuk hadir mengisi acara yang bakal dibuka Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan tersebut. Bagi provinsi yang berhalangan hadir, pentas seni akan diisi oleh paguyuban yang ada di Kota Batam.

”Dalam event ini kita akan menampilkan ragam seni budaya Melayu dalam bentuk pementasan dan expo cluster. Nanti juga akan ditampilkan pentas seni budaya dari masing-masing daerah di Indonesia. Acara dibuka mulai pukul 19.30-23.00 WIB,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Guntur Sakti dalam rilisnya kemarin. Guntur menambahkan agenda ini merupakan rangkaian Hari Jadi Kota Batam ke-180 tahun dan mendukung Visit Batam 2010.

Penyelenggaraan KSM tahun ini, menurut Guntur berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, akan dibuat cluster khazanah budaya Melayu dalam tenda berukuran besar. Di sana akan ditampilkan kontens kue tradisional, masakan Melayu, perkakas rumah tangga Melayu, senjata tradisional Melayu, sejarah, serta karya sastra lisan dan tulisan Melayu.

Event KSM ini juga dimeriahkan dengan Batam Big Bazar (BBB) yang dibuka pada hari yang sama dan berlangsung selama sembilan hari berturut-turut. Pada stand-stand ini akan dijual berbagai produk dan mulai dibuka dari pukul 16.00-23.00 WIB.

Stand berlokasi di depan kantor PLN Batam Centre sampai ke Jalan Engku Putri. Masih dalam rangkaian acara KSM ini, juga akan digelar bincang tokoh Noeng Isa di televisi lokal di Kota Batam. Adapun yang menjadi narasumber dalam bincang tokoh tersebut, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, mantan Ketua Pansus Hari Jadi Kota Batam Aswandi Syahri, Irwansyah, dan Nyat Kadir. Bertindak sebagai moderator, Samson Rambah Pasir. (prs)

Tana Toraja Diperkenalkan ke Bali

Denpasar, Bali - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan berupaya memperkenalkan objek wisata Tana Toraja dan potensi lainnya lewat suatu pertemuan dengan kalangan pelaku pariwisata di Bali.

Ketua Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA) Bali Nusa Tenggara Chapter Ratna N Soebrata mengatakan pertemuan yang digelar Senin (7/12) malam itu bertujuan untuk memperkenalkan daerah tujuan wisata Sulsel kepada pemangku kepentingan wisata di Bali.

"Pada kesempatan itu, Kepala Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Selawesi Selatan Safrudin, menjelasan bahwa kegiatan ini juga untuk lebih mendekatkan para pelaku pariwisata Sulawesi Selatan dengan Bali," katanya di Denpasar, Selasa (8/12).

Mengutip Safrudin, Rantepao di Tana Toraja akan memiliki bandar udara baru pada tahun 2010 yang bisa didarati oleh pesawat dengan kapasitas 60 tempat duduk. Pembukaan bandara itu diupayakan dapat melayani rute Denpasar - Rantepao - Denpasar.

Ia mengemukakan, Rantepao dengan museum hidupnya, yakni Tana Toraja secara tradisional biasa ditempuh dengan jalan darat selama enam hingga tujuh jam dari Makassar. Perjalanan tidak akan terasa penat karena wisatawan bisa berhenti di Bukit Nona untuk menikmati kopi khas Toraja dengan pemandangan yang amat cantik.

"Sebelum sampai di Bukit Nona, wisatawan bisa mampir ke Pare Pare untuk menikmati makanan ikan laut segar, yang terkenal dengan ikan dan udangnya," katanya.

Irham Ilyas selaku pimpinan dari Asita Sulawesi Selatan Chapter menambahkan bahwa di Sulawesi Selatan tersedia pemandu wisata dengan kemampuan beragam bahasa asing, seperti Jerman, Prancis, Inggris dan Mandarin.

"Sementara untuk pemandu wisata berbahasa Rusia masih harus didatangkan dari Bali," kata Ratna mengutip pernyataan Irham.

Menurut dia, kegiatan yang dikemas dalam acara Bali Gathering itu juga dihadiri Anggiat Sinaga, sebagai ketua PHRI Makassar. "Bali Gathering ini diharapkan bisa lebih mengeratkan hubungan antara Bali dan Makassar sehingga bisa terjalin kerja sama yang saling menguntungkan," kata Ratna. (Ant/Ol-5)

-

Arsip Blog

Recent Posts