"Topeng Monyet Itu Seni Budaya, Jokowi Harus Beri Tempat"

Jakarta - Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Nurul Qomar mengritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang memberikan uang pengganti sebesar Rp 1 juta untuk para pawang monyet ketika razia topeng monyet dilakukan. Politisi Partai Demokrat ini juga meminta Jokowi tidak melarang adanya topeng monyet di Jakarta.
"Jangan dibeli monyetnya, dampaknya nanti banyak orang ternak monyet terus jual monyetnya ke Jokowi. Nanti Jokowi jadi tukang tampung monyet," kata Qomar, di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (24/10/2013).
Menurutnya, topeng monyet merupakan salah satu seni budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan. Qomar mengatakan, sebaiknya Jokowi memberikan tempat khusus untuk menampung para pawang monyet menampilkan kesenian topeng monyet. Selain untuk melestarikan budaya, langkah ini dianggapnya dapat membantu masyarakat yang ingin menyaksikan topeng monyet.
"Jangan gitu, itu kan kekayaan kita, sebaiknya mereka (topeng monyet) dilokalisir atau ditempatkan di beberapa tempat wisata.," ujarnya.
Razia topeng monyet
Untuk diketahui, Jokowi memastikan larangan keberadaan topeng monyet di Jakarta mulai 2014. Jokowi menginginkan agar monyet-monyet itu dibeli dan dipelihara di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan.
Menurut Jokowi, permainan topeng monyet telah menyakiti fisik hewan primata itu. Selain itu, pelarangan topeng monyet juga dimaksudkan untuk menekan bahaya penyebaran penyakit dari hewan kepada manusia.
Untuk meniadakan topeng monyet tersebut, Jokowi menyatakan, Pemprov DKI akan membeli monyet-monyet tersebut dan akan memindahkannya ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Di TMR akan disediakan lahan seluas satu hektar khusus untuk menampung bintang liar.
Adapun, tukang topeng monyetnya akan diberi pembinaan. Kebijakan itu memiliki empat landasan hukum, yakni Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Pasal 66 Ayat 2g, Peraturan Kementerian Pertanian Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan Pasal 83 Ayat 2, Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies, serta Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Pasal 6 ayat 1 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum Pasal 17 Ayat 2.

13 Grup Meriahkan Festival Jepen Se-Kaltim

Tenggarong, Kaltim - Sebanyak 13 grup memeriahkan Festival Jepen se-Kaltim ke-3, yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kutai Kartanegara (Kukar) bekerja sama dengan Total E&P Indonesie, Senin (21/10) malam di Pasar Seni, Tenggarong. "Tak hanya sanggar seni dari Tenggarong dan kecamatan lain di Kukar, dari Balikpapan dan Penajam Paser Utara juga ada," ujar Edi Mulyadi dari Yayasan Total Indonesia, pada pembukaan lomba tersebut.
Edi berharap kegiatan ini bukan sekadar festival, tetapi menjadi pemicu tumbuh kembangnya sanggar seni Jepen khas Kutai di Kaltim. Dia juga mengapresiasi peserta tahun ini yang umumnya pelajar dan remaja. "Mereka ikut melestarikan sekaligus mempromosikan seni budaya daerah, kami sangat bangga kepada peserta," ujarnya.
Sementara Kepala Disbudpar Kukar Sri Wahyuni mengatakan, dengan festival tersebut, diharapkan Jepen yang merupakan tarian melayu khas Kutai tak hanya terkenal di Kukar dan di Kaltim, tetapi juga bisa menjadi ternama di Indonesia dan mancanegara. "Semoga melalui momen ini, masyarakat selalu diingatkan untuk mencintai Jepen Kutai, agar tak tergerus perubahan zaman," harapnya. Dikatakan Sri, guna menjaga kelestarian Jepen, pihaknya telah membagikan ke sekolah-sekolah, panduan tertulis Jepen, yang merupakan hasil workshop dan kajiannya.
"Ada sebelas gerakan dasar Jepen Kutai yang semuanya ada di panduan tersebut. Pihak sekolah dapat mengajarkan kepada murid-muridnya dan mengembangkan gerakan dasar itu," ujarnya. Festival Jepen yang berlangsung hingga Selasa (22/10) malam, dalam rangkaian Festival Kota Raja ke-2 untuk memeriahkan hari jadi ke-231 Tenggarong tersebut, menghadirkan juri dari Jakarta, Irianto Catur, kemudian dua juri dari Kukar yaitu M Ikhsan dan Erhamsyah "Cacah".

Tiga Budaya Bengkulu Diusulkan Jadi Warisan Dunia

Bengkulu - Tiga warisan budaya Bengkulu yakni tulisan kuno Ka Ga Nga, serat kayu lantung, dan Tabot diusulkan masuk dalam daftar warisan dunia ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, Balai Pelestari Nilai Budaya Padang, tokoh adat, dan budayawan.
Usulan tiga warisan budaya Bengkulu itu dideklarasikan dalam Diseminasi Hasil Pencatatan Budaya Tak Benda di Hotel Ananda, Kota Bengkulu, Rabu, 23 Oktober 2013.
Aksara Ulu (Ka Ga Nga) digunakan oleh suku Rejang, Serawai, dan Pasemah yang tersebar di Provinsi Bengkulu. Hingga kini ratusan naskah kuno banyak yang masih tersimpan dan belum diterjemahkan dengan alasan para ahli huruf kuno yang bisa menerjemahkannya sangat terbatas.
Sementara itu, lantung merupakan kulit kayu yang dikelola sedemikian rupa sehingga menghasilkan kain. Penggunaan lantung ini dilakukan sejak zaman penjajahan Jepang. Hingga kini pengolahan lantung, salah satunya untuk cendera mata, masih tetap berlangsung di Bengkulu.
Sedangkan Tabot merupakan ritual budaya yang dibawa oleh penyebar ajaran Islam asal Punjab (Pakistan dan Iran). Ritual Tabot merupakan kegiatan untuk mengenang pengorbanan cucu Rasulullah SAW, Hosen bin Ali bin Abi Talib di Padang Karbela. Tradisi ini dikenang setiap tanggal 1 Muharam hingga 10 Muharam di Provinsi Bengkulu dan selalu dijadikan acara budaya tahunan.
Sementara itu Kepala Pengembangan Produk dan Pelayanan Wisata Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Suparhim menjelaskan, pengusulan tiga warisan budaya Bengkulu diharapkan mampu meningkatkan khazanah budaya dan angka kunjungan wisata ke Bengkulu.
"Semua langkah-langkah dan syarat untuk usulan tiga warisan daerah itu menjadi warisan dunia ke UNESCO akan cepat kita penuhi," kata Suparhim.

Sumatra Selatan Promosi Budaya Lewat Tari

Palembang, Sumsel - Sebanyak 19 tim dari perwakilan SMA dari 15 Kabupaten/kota se-Sumsel kemarin mempromosikan budaya daerahnya masing-masing, melalui perlombaan seni tari kreatifitas yang diselenggarakan oleh pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel di atrium Palembang Indah Mall (PIM), rabu (23/10).
“Selain menjaring kreatifitas dan minat bakat seni tari murid SMA, dengan kegiatan perlombaan ini otomatis seni tari yang ditampilkan dari perwakilan setiap daerah akan di promosikan kepada masyarakat banyak. Oleh sebab itu, kegiatan ini sekaligus bertujuan lebih dalam untuk mengenalkan seni tari yang sudah diexplore oleh masing-masing tim penari,” ungkap ketua panitia Herlina.
Dikatakan, selama ini seni tari sering ditampilkan secara monoton karena pagelaran tari yang dijumpai hanya menampilkan tarian yang murni dan sudah dikonsep oleh ciri khas yang sudah mendarah daging kepada pelaku seni tari. “Yang membuat kegiatan ini berbeda, penampilan seni tari digabungkan dengan seni penokohan. Misalnya, kisah tentang putri kembang dadar diperebutkan oleh dua pangeran yang akhirnya putri kembang dadar mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,” ujarnya.
Menurut Herlina, pihaknya melibatkan tim juri yang berpengalaman dan menguasai bidang tari diantaranya Nungki Kusumastuti yang merupakan artis senior, penari nasional bahkan tenaga pendidik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Universitas Indonesia.
Selain itu, Sartono guru seni tari di Sumsel, dan Elly Rudi penari senior Sumsel.“Saya melihat murid SMA yang mengikuti kegiatan ini sangat kreatif karena menggabungkan seni tari dengan penokohan cerita rakyat. Kreatifitas seperti tentu harus ditingkatkan karena akan memberikan warna tersendiri untuk seeni tari,” kata Nungki Kusumastuti.

"Diplomasi Sinden" Pererat Hubungan Indonesia-Selandia Baru

Jakarta - Sekitar 200 warga Welington, Selandia Baru, pada Selasa antusias menyaksikan konser gamelan Jawa yang digelar KBRI di ibukota negara tersebut terutama saat mendengarkan pesinden asing melantunkan beberapa lagu dengan "cengkok" khas Jawa.
Siaran pers yang diterima Antara di Jakarta menyebutkan kerja bareng dengan Club Johnsonville, Selandia Baru itu digelar dalam rangka mempererat hubungan antara masyarakat kedua negara.
Dengan ditemani sejumlah pemain gamelan yang berasal dari New Zealand School of Music (NZSM), Universitas Victoria, Selandia Baru, pesiden cantik itu tampil meng-Indonesia dengan tampilan kebaya dan pakaian batik yang dikenakan para pemain musiknya.
"Ketika musik gamelan Jawa semakin langka peminat di Tanah Air, di Selandia Baru justru menjadi ikon budaya Indonesia yang cukup diminati. Gamelan akhirnya dipilih sebagai upaya untuk lebih mendekatkan konektivitas budaya kedua negara," kata Kepala Perwakilan RI/Kuasa Usaha KBRI Wellington, PLE Priatna.
Padhang Moncar, nama kelompok grup gamelan itu, diberikan almarhum Dubes RI untuk Wellington, Abdul Irsan, saat itu tampil unik dengan pesiden yang fasih melantunkan cengkok lagu berbahasa Jawa.
"Ibu Pertiwi sudah memberi segalanya kepada manusia. Memberi rejeki bagi mereka yang berbakti," demikian alunan lagu dalam bahasa Jawa kuno yang dilafalkan Briar Prastiti dengan penuh penjiwaan.
Sementara itu, pengarah seni dan ketua kelompok gamelan Padhang Mochar Budi Putra mengatakan, melalui gamelan kita pererat tali persaudaraan, sehingga bias benar-benar hidup dan saling mengenal dan pada akhirnya saling percaya. Gamelan menjadi instrument komunikasi budaya kita dengan warga Selandia Baru.
Grup gamelan yang berbasis di New Zealand School of Music, Wellington, SelandiaBaru itu sudah tiga kali tampil meramaikan pesta musik dua tahunan terbesar Negara tersebut di World Music and Dance (Womad)-New Plymouth.
Festival musik yang menyedot jumlah pengunjung hingga 25.000 orang dalam sehari. Mereka juga sudah berkeliling Indonesia sejak 1993 hingga sekarang di beberapa kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Solo, Malang dan Bali.
Seni gamelan diperkenalkan pertama kali di Selandia Baru oleh Dr. Allan Thomas, ahli antropologi dan dosen ethno musikologi pada School of Music, Universitas Victoria, Wellington, dengan membawa seperangkat gamelan Cirebon yang cukup tua dan antik pada 1975.
Almarhum Thomas berjasa dalam memperkenalkan musik gamelan sebagai budaya Indonesia di Selandia Baru. Ia mengajarkan gamelan sebagai program studi musikologi di School of Music, Victoria University, hingga tahun 1979.

Pameran Bersama Warisan Budaya Dunia

Semarang, Jateng - Untuk mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata Jateng 2013, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng akan menggelar Pameran Warisan Budaya Dunia pada 24-29 Oktober di Hall Atrium Arjuna Plasa Simpang Lima Semarang.
Acara ini merupakan hasil kerjasama dengan Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng, Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.
Kepala Dinbudpar Jateng Prasetyo Aribowo mengungkapkan, kegiatan ini sekaligus juga mengenalkan warisan budaya dunia tangible (benda) dan intangible (tak benda) yang dimiliki Jawa Tengah kepada masyarakat.
Beberapa hal yang dipamerkan diantaranya wayang, keris dan batik dari  Museum Wayang Wonogiri, Museum Batik Pekalongan, Museum Tosan Aji Purworejo, Paguyuban Pecinta Tosan Aji Semarang, Paguyubab Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono dan klaster Batik Semarang yang turut berpartisipasi dalam acara ini.
’’Warisan budaya ini telah masuk sebagai world heritage dan juga diakui oleh UNESCO,’’ ujar Prasetyo, Selasa (22/10).
Sejumlah koleksi lainnya yang akan ditampilkan diantaranya fosil binatang purba serta replika kehidupan manusia purba dari Museum Purbakala Sangiran.
Kegiatan yang akan memeriahkan pameran ini adalah peragaan kain batik serta pertunjukan wayang dengan dalang cilik dari Kota Semarang. Pembukaan dilakukan Kamis (24/10) pada pukul 10.00 WIB oleh Kadinbudpar Jateng.
’’Pameran ini dibuka untuk umum pada jam kunjung Plasa Simpang Lima. Selain sarat ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi media edukasi atau pembelajaran bagi masyarakat dan juga para pelajar untuk berwisata sekaligus mendapatkan pengetahuan mengenai warisan budaya ini,’’ imbuhnya.
-

Arsip Blog

Recent Posts