Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Lestarikan Budaya, Karangnangka Gelar Suran

Banyumas, Jateng - Budaya leluhur masih dilestarikan di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Hal ini ditandai dengan dilaksanakannya tradisi Suran dan Ruwat Bumi secara rutin seperti yang dilaksanakan pada Minggu (23/10).

“Kita mencoba untuk tetap melestarikan budaya ini dari tahun ke tahun, biasanya malah sampai nyembelih kerbau. Kkalau sekarang tidak, ini kan merupakan penyatuan yang kental dari adat Jawa dan Islam” Ujar Jafar Aerudin, Kades Karangnangka.

Rangkaian acara Tradisi Suran dan Ruwat Bumi di Desa Karangnangka dimulai dari acara Karnaval Grebeg Suran, Tarian Daerah dan Wayang Ruwat. Menurut penuturan Kepala Desa Karangnangka, Karnaval Grebeg Suran ini dimulai dari Lapangan Desa Karangnangka memutari lingkar desa hingga finish di Kantor Desa Karangnangka. Acara ini di ikuti oleh seluruh warga Desa Karangnangka, dari yang muda hingga yang tua dengan antusias.

Dalam acara tersebut disediakan pula gunungan hasil bumi yang nantinya akan diperebutkan oleh warga setelah acara Wayang Ruwat Tradisi ruwat ini dilakukan untuk tetap melestarikan budaya di Desa Karangnangka agar tidak hilang di telan zaman.

“Warga Desa Karangnangka ini tetap uri-uri budaya dari leluhur” ujar Camat Kedungbanteng, dalam sambutan pidatonya.(ayu/bdg)

Kenduri Pohon, Tradisi untuk Menjaga Mata Air di Tunggularum

Sleman, Yogyakarta - Jika tradisi kenduri umumnya adalah kegiatan masyarakat dengan berkumpul membawa berbagai maknan untuk didoakan sesepuh adat. Tapi ada kenduri unik yang bakal digelar di Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Yakni ‘Kenduri Pohon’ yang bakal digelar besok Minggu (23/10/2016). Acara ini bakal digelar mulai pukul 09.00 WIB dan bakal dihadiri Gubernur DIY.

Menurut Tomon Wirosobo, Kepala Desa Wonokerto, kegiatan tersebut merupakan bentuk ekspresi budaya dari komitmen bersama semua pihak baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan semua stakeholder yang peduli untuk melestarikan dan menyelamatkan mata air yang terletak di kaki Gunung Merapi agar tetap mengalir.

“Acara kenduri pohon ini sekaligus sebagai penanda peresmian hutan lindung dan penanda tanganan komitmen bersama tentang penyelamatan dan kelestarian mata air oleh Gubernur D.I.Yogyakarta,” ujar Tomon Wirosobo kepada KRjogja.com, Kamis (20/10/2016).

Kegiatan kenduri pohon ini merupakan satu rangkaian acara Gelar Potensi dan Budaya WONOKERTO EXPO TAHUN 2016 yang dibuka 18 Oktober 2016 dengan rangkain kegiatan diantaranya pameran potensi desa seperti kuliner, kerajian dan pariwisata serta penampilan seni pertunjukan kerakyatan yang ada di Desa Wonokerto. Kegiatan akan berakhir pada tanggal 23 Oktober 2016.

Wonokerto adalah desa paling atas diutara Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah disisi barat dan gunung merapi disisi utara yang merupakan daerah tangakapan air dan menjadi wilayah penyangga ketahanan suplay air ke daerah yang ada dibawahnya yaitu Kota Yogyakarta. Oleh sebab itu penyelamatan dan pelestarian mata air ini diharapkan tetap terjaga.

“Salah satunya program yang dikembangkan untuk menyelamatkan dan melestarikan mata air adalah dengan menanam berbagai jenis tanaman yang mampu menahan dan menyimpan air di sepanjang aliran sungai yang bersumber dari Merapi,” pungkas Tomon.

Dari Dusun Gebug, Seni Kuda Lumping Dilestarikan

Ungaran, Jateng - Sejak 1988, Dusun Gebug, Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, memang dikenal sebagai lingkungan yang mempunyai kesenian tradisional kuda lumping. Tidak hanya di Kabupaten Semarang, kesenian rakyat dari salah satu dusun di lereng Gunung Ungaran ini pun kerap pentas ke luar wilayah.

Sesepuh kesenian kuda lumping Rukun Karya Budaya Sakti (RKBS) Kalisidi, Suwarsono (62) mengatakan, hingga saat ini paguyuban kuda lumping tertua di Ungaran Barat tersebut masih aktif berlatih. Selain melibatkan belasan pemain yang sudah sepuh, pihaknya juga mengajak generasi muda atau anak usia sekolah untuk ikut berlatih.

“Masih aktif berlatih, latihan rutin setiap Senin malam. Anak-anak kita libatkan untuk kepentingan regenerasi,” katanya kepada Suara Merdeka, Kamis (13/10) siang.

Seiring berjalannya waktu, disamping seni kuda lumping sekarang juga dikembangkan kesenian pendamping. Diantaranya kesenian reog, gerakan prajuritan, tarian topeng penthul, dan seni barongan. Demikian halnya dengan alat musik yang digunakan, menurut dia, sudah mengaplikasikan musik gabungan tradisional dan moderen.

“Musik tradisional sudah terpadu dengan instrumen drum dan keyboard. Ketika tampil biasanya kita belibatkan 20 hingga 25 orang pemain, termasuk petugas pengiring musik,” ujarnya.

Ditanya cirikhas seni kuda lumping Dusun Gebug, pria yang gemar berkebun ini menjawab, permainannya tergolong kalem atau tidak beringas. Artinya, saat ada pemain yang kerasukan tidak serta-merta mengejar penonton berbaju merah.

“Ciri khasnya jarane kalem, mangane sitik ora kaya jaran liya. Jadi yang nanggap juga tidak repot,” imbuhnya.

Ketika berada di rumah Suwarsono, di RT 1 RW IX Dusun Gebug, Kalisidi, pandangan tamu yang datang pasti tertuju pada instrumen musik kesenian kuda lumping yang tertata rapi. Mulai dari kendang, gong, beberapa gamelan, hingga tratak pentas ada di sana.

Demikian halnya dengan barongan yang ia pesan dan didatangkan langsung dari Purbalingga, serta kelengkapan topi tarian hanoman putih dan hanoman merah. Semuanya ditempatkan di pendapa halaman depan rumah.

Dirinya mengakui, sejak didirikan hingga sekarang seni kuda lumping RKBS tetap direspon baik oleh masyarakat. Tidak jarang, beberapa warga sering bertanya-tanya kapan ada pentas lagi? Menyusul bagaimanapun juga, perekonomian ikut bergerak. Ditandai dengan larisnya jajan khas desa yang dijual warga setempat.

Bila mengacu sejarah dan cerita tutur, kebudayaan dan kesenian tradisional kuda lumping di Dusun Gebug, Desa Kalisidi, Ungaran Barat erat hubungannya dengan sosok dan peran Mbah Kyai Surowono atau Mbah Kyai Ageng Sudrajad. Keterangan yang dihimpun dari masyarakat setempat menyebutkan, bila Mbah Kyai Surowono memang dikenal sebagai panglima perang saat itu.

Kendati terkenal garang saat menghadapi musuh, nama Suro yang berarti pemberani dan Wono yang artinya hutan ini, di sisi lain memang penyuka seni budaya. Itu diperkuat dengan cerita adanya beberapa benda milik Mbah Kyai Surowono yang ditempatkan di beberapa lokasi yang saat ini merupakan sekitar lokasi makam dirinya bersama isterinya di Dusun Gebug RW IX Desa Kalisidi.

Benda yang dimaksud berupa gamelan lengkap, perabotan dapur, beberapa pusaka, dan kuda putih. Ketika Suara Merdeka berusaha menelusuri jejak peninggalan di sekitar lokasi Makam Mbah Kyai Surowono bersama Juma’in (74) sesepuh Dusun Gebug, dan Pamong Budaya setempat, masih terlihat jelas pohon belimbing yang oleh warga disebut pohon belimbing keris.

Warga setempat meyakini, di bawah pohon belimbing berumur ratusan tahun itulah pusaka milik Mbah Kyai Surowono ditempatkan. Begitu pula dengan hamparan sawah yang disebut-sebut sebagai kandang kuda putih.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih melalui Pamong Budaya Kecamatan Ungaran Barat, Bramantyo Agus Saputra menambahkan, pihaknya memang terus berupaya memacu kreatifitas pegiat seni kuda lumping.

“Sebagai pamong budaya saya tetap berkeinginan agar kesenian ini bisa lestari,” terangnya.

Pihaknya tidak memungkiri, untuk berkumpul kemudian berlatih rutin memang sulit. Alasannya lebih dikarenakan adanya rutinitas harian para pemain atau pegiat seni. Mereka ada yang bekerja di pabrik, sekolah, dan berkebun.

“Perlu dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk membangkitkan atau mengundang wisatawan luar daerah datang ke sini. Apalagi bila dikaitkan dengan paket wisata ke suatu obyek, saya pikir itu akan lebih baik,” tukas Bramantyo.

Warga Bonosari Gelar Tradisi Selamatan Bumi

Kebumen, Jateng - Warga Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, Kebumen masih memang teguh adat dan tradisi yang yang diwariskan para leluhur. Salah satunya adalah tradisi selamatan bumi yang digelar setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa.

Selamatan bumi diawali dengan babat kuburan yakni bekerja bakti membersihkan makam para leluhur.Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kenduren yang digelar secara bersamaan di empat RW di wilayah desa setempat. Doa bersama juga dilaksanakan di lokasi yang disebut panembahan adipati, tempat yang disakralkan warga desa setempat.

Selain kenduren, selamatan bumi dimeriahkan dengan pesta rakyat. Pada siang hari, kesenian kuda kepang menghibur warga desa. Sejumlah tamu undangan pada acara itu tampak antusias. Bahkan sebagian ikut menarik dengan para seniman kudang kepang.

Tidak cukup itu saja, pada malam harinya hiburan dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Pergelaran wayang yang menghadirkan dalang Ki Sunarko Hadi Warsono dari Kutowinangun tersebut membedah lakon Semar Sang Pamomong. Seluruh warga tampak antusias mengikuti rangkaian tradisi yang setiap tahun dilaksanakan tersebut.

Kepala Desa Bonosari Darsono mengatakan, digelarnya selamatan bumi sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberikan melalui kesuburan bumi. Selain itu, dengan berdoa bersama warga mengharapkan masyarakat terhindar dari bencana alam.

“Selamatan bumi adalah simbol dari merawat bumi. Selain melalui ritual dan doa juga ditindaklanjuti dengan karya nyata sehingga bumi tetap subur dan masyarakat menjadi makmur,” ujar Darsono kepada suaramerdeka.com, Senin (10/10).

Lestarikan Tradisi, Warga Tuban Gelar Sedekah Laut

Tuban, Jatim - Sesuatu yang dipercaya dan sudah menjadi keramat memang sulit ditinggalkan. Pribahasa atau mitos itu nampaknya sudah menjadi salah satu bagian dari adat kebudayaan masyarakat nelayan di Kabupaten Tuban. Kali ini, warga kampung nelayan Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban menggelar sedekah laut, Rabu (28/9). Melalui sedekah laut diyakini akan memberikan berkah untuk nelayan.

Berdasarkan data yang diperoleh suarajatimpost.com, Tradisi sedekah laut yang dilakukan setiap tahun oleh para nelayan tersebut merupakan tradisi warisan leluhur. Sesaji yang disiapkan berupa makanan nasi tumpeng, ayam jantan jawa, kembang ijo boreh, kepala sapi jantan merah, miniatur perahu, kemenyan jati, cabe serta boneka laki-laki dan perempuan.

"Acara ini merupakan warisan Mbah Kyai Mancung sesepuh adat sini terdahulu yang sampai saat ini masih eksis. Tujuannya untuk tolak balak kelancaran dalam bekerja dan menghormati leluhur, dan kita berharap acara seperti ini bisa digelar setiap tahun," ungkap Widodo, koordinator acara.

Menurut dia, berlangsungnya acara ini juga didukung penuh oleh Klentheng Kwan Sing Bio (KSB) Tuban yang ikut meramaikan dengan atraksi barongsai. Sehingga pastinya akan menarik perhatian warga setempat maupun pengguna jalan yang melewati jalur ini.

"Tak hanya itu, dalam acara ini masyarakat karangsari akan melakukan kirab dengan berjalan kaki diiringi atraksi barongsainya," papar Widodo.

Terpisah, Kabid Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tuban, Sunaryo menyampaikan tradisi yang dilakukan masyarakat Karangsari dan sekitarnya ini merupakan upacara tahunan yang diyakini bisa mendatangkan berkah bagi masyarakat setempat yang mayoritas nelayan. Menurutnya hal demikian ini tak hanya dilakukan di Tuban saja, di daerah lain yang cara hidupnya menggantungkan dari hasil laut tentunya juga meyakini tradisi sedekah laut seperti ini.

"Mayoritas para nelayan meyakini bahwa tradisi sedekah laut ini harus dilakukan setiap tahun, dan menjadi harapan agar nelayan memperoleh rezeki yang lancar dalam mencari ikan. Selain itu, acara ini menjadi salah satu doa nelayan kepada Tuhan agar dihindarkan dari musibah," jelasnya.

Seharusnya, lanjut Sunaryo, pemandangan seperti ini bisa dijadikan cara untuk menarik perhatian wisatawan lokal maupun asing, tinggal bagaimana mengkonsep dan mempromosikannya.

"Harapan kita Tuban ini memiliki destinasi wisata budaya yang terkenal, melalui acara tahunan seperti inilah tentunya harus mampu," harapnya.

Jaran Kencak Lumajang Diakui Warisan Budaya

Lumajang, Jatim - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lumajang menyambut baik dengan dijadikannya Kesenian Jaran Kencak sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan (Menbud) Indonesia.

"Kabar ini disamaikan oleh Bu Hartini, Kabid Kebudadayan Disbudpar Jawa Timur," kata Indrijanto, Kabid Budaya Disbudpar pada beritajatim.com, Senin(19/9/2016).

Lanjut dia, kabar ini adalah hadiah yang luar biasa bagi para pelaku kesenian jaran kencak di Lumajang. Pasanya, pelestarian kebudayaan secara turun temurun mampu diakui oleh Negara.

"Jaran kencak sejajar dengan Reog Ponorogo, Wayang kulit," jelasnya.

Disbudpar Lumajang mengajukan kesenian jaran kencak sebagai warisa budaya Indonesia tak benda ke Disbudpar Jawa Timur untuk ditetapkan. Kemudian oleh Disbudpar Jatim di daftarkan ke Kementerian Kebudayaan untuk diakui menjadi budaya khas Indonesia.

"Alhamdulillah, kabarbaik itu datang," Terang Indri.

Jumlah pelaku kesenian para kencak di Lumajang mencapai ratusan orang, sedangkan paguyuban kesenian ada 65 kelompok. Sedangkan untuk jaran kencak ada sekitar 200-an ekor yang siap ditampilkan.

"Kalau ingin tahu parade jaran kencak, silakan hadir di Hari Jadi Lumajang awal Desember," paparnya.

Ratusan Warga Berebut Gunungan Grebeg Besar Keraton

Yogyakarta - Ratusan warga dari berbagai daerah berebut Lima Gunungan "Grebeg Besar" dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Selasa.

Dalam acara "Grebeg Besar" itu, tujuh gunungan hasil bumi yang terdiri atas gunungan kakung, puteri, gepak, darat, pawuhan dan dua gunungan jaler diarak ratusan prajurit dari Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lima di antaranya diarak menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, sedangkan dua gunungan lainnya menuju Kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Beberapa waktu setelah selesai didoakan oleh penghulu Keraton Ngayogyakarta di serambi masjid itu, ratusan warga yang sudah menunggu langsung berlari memperebutkan isi gunungan itu tidak terkecuali wisatawan mancanegara.

Kelima gunungan itu habis dalam sekejap.

Wasinem (63) warga Kota Yogyakarta yang berhasil mendapatkan bagian dari gunungan berupa dua tusuk kue tradisional dari ketan, mengaku akan menyimpan di rumahnya sebagai sarana tolak bala dan meyakininya dapat membawa keberkahan hidup.

"Saya simpan di rumah, semoga bisa membawa keberkahan dan kesehatan," katanya yang datang bersama cucunya.

Berbeda dengan Zaidun (45) warga Wonokromo, Kabupaten Bantul yang berhasil mendapatkan empat lonjor kacang panjang.

Bagi Zaidun kacang panjang itu dipercaya dapat digunakan untuk penyubur tanaman.

Tepas Keprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Enggar Pikantoko menjelaskan Grebeg Besar merupakan perayaan untuk memperingati Hari Raya Kurban (Idul Adha).

Keraton Yogyakarta baru menyelenggarakannya hari Selasa (13/9) karena disesuaikan dengan penanggalan Keraton yang di tahun 2016 kebetulan berbeda dengan penanggalan Hijriyah.

Secara historis, menurut dia, gunungan berisi hasil bumi itu merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud rasa syukur raja kepada Allah SWT.

"Grebeg selalu diselenggarakan bersamaan memperingati hari-hari besar Islam. Selain saat Idul Adha, grebeg juga diadakan saat Idul Fitri serta Maulud Nabi," kata Enggar.

Uniknya Tradisi Selamatan Bergilir Warga Banyuwangi

Banyuwangi, Jatim - Warga Banyuwangi punya berbagai cara unik saat menyambut hari raya Idul Adha. Salah satunya di Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, masing-masing warga telah menyiapkan aneka macam masakan di rumahnya sebagai hidangan selamatan secara bergilir.

Mulai sekitar pukul 15.00 WIB, warga sudah mulai berdatangan di rumah yang memiliki acara selamatan. Setelah aneka hidangan seperti ketupat, sayur, lauk-pauk dihidangkan, tuan rumah akan membakar kemenyan sebagai simbol adat istiadat leluhur.

Kemenyan dibakar, menandakan doa selamatan dimulai. Usai berdoa dilanjutkan makan hidangan ketupat bersama. Sebagai makanan penutup, warga seringkali menyajikan jajanan pisang goreng, minum air putih, teh dan kopi.

Selamatan lebaran ini, merupakan doa syukur bersama sekaligus mendoakan para leluhurnya. Ada sajian wajib seperti teh dan kopi sebagai simbol sajian para leluhur yang sudah meninggal.

"Teh dan kopi, itu istilahnya sebagai sandingane Kakek saya yang sudah meninggal. Harus ada itu," ujar Munahju (61), warga lingkungan Papring yang menggelar selamatan, Minggu (11/9).

Selain kopi dan teh, selamatan lebaran ini juga menyajikan hidangan makanan takir (mangkuk dari daun) yang berisi nasi dan lauk pauk, sebagai simbol rasa syukur hasil bumi.

"Kalau takir ini sebagai simbol kebun. Hasilnya panenan sini," jelasnya.

Menariknya, selamatan lebaran di Lingkungan Papring dilakukan secara bergilir. Bila diundang untuk hadir, ada tips yang menjadi rahasia umum warga Papring. Meski tuan rumah berulangkali menawarkan agar menambah porsi makan, cukup dihargai misalkan dengan menjawab "iya" atau "sudah".

Sebab, bila makan sampai kenyang, tradisi selamatan ini akan terus berlanjut di rumah-rumah warga lain. Antara lima sampai sepuluh rumah. Artinya, masing-masing tamu undangan selamatan yang hadir, bisa makan sampai sepuluh porsi.

"Ayo dimakan, habis ini lanjut selamatan ke rumah saya," ujar Jumhari kepada Merdeka Banyuwangi.

Jumhari mengatakan, tradisi turun temurun ini biasanya akan lebih ramai bila di hari raya Idul Fitri. Sehabis buka bersama, selamatan bergilir ini akan berlangsung hingga habis isya.

"Yang penting itu dari selamatan ini, selain menjaga tradisi leluhur itu silaturahminya. Jadi bisa datang ke rumah-rumah warga, selamatan sambil berbincang," jelas Jumhari.

Soal tradisi nyekar ke makam sehari jelang hari raya, warga Papring biasanya baru melakukannya usai solat Idul Adha pada pagi hari.

Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan

Sleman, DIY - Sebagai upaya melestarikan Gejog Lesung sebagai sebuah seni tradisi kerakyatan yang juga memiliki sejarah tentang proses usaha menghasilkan makanan pokok berupa beras, Dinas Kebudayaan DIY bakal menggelar Festival Lesung Keistimewaan di Areal Persawahan Banyuraden Gamping Sleman Yogyakarta, 9-10 September 2016. Kegiatan ini juga sebagai wujud peringatan bergabungnya DIY ke dalam NKRI dalam Amanat 5 September oleh Sri Sultan HB IX.

"Selain sebagai upaya peleatarian meliputi menjaga dan mengembangkan seni, juga menjadi ajang semangat kerukunan untuk menjaga bumi dengan memelihara pangan melalui tradisi Gejog Lesung, " tutur Kasi Sejarah Disbud DIY Bambang Marsamtoro kepada wartawan, Rabu (07/09/2016).

Panitia penyelenggara dari Masyarakat Tradisi (Matra) Yogyakarta Agus Sunandar menambahkan, Gejog Lesung memiliki makna mendalam sebagai sebuah media. Seni ini bukan semata sebagai periatiwa budaya, tapi banyak nilai sosio kultural di baliknya. Pasalnha dulu masyarakat desa memiliki andil besar dalam mensuplai pangan. Sedang saat ini tradisi tersebut terus tergerus laju perkembangan jaman.

"Bukannya ingin kembali ke masa lalu yang semu, tapi coba memberi gambaran pada masa depan bahwa kita pernah memiliki sejarah kedaulatan pangan yang pada perkembangannya ikut melahirkan seni tradisi, " kata Agus.

Selain itu pihaknya juga ingin makin memperkuat kelembagaan Kraton Yogyakarya dan Pura Pakualaman dengan konsep manunggaling kawula gusti yang saat ini bisa diupayakan melalui seni budaya. Fenomena munculnya Gejog Lesung secara sosio kultural juga cukup menarik sebagai seni kerakyatan tanpa ada niatan mengembalikan sejarah pemanfaatannya seperti dulu meski saat ini masih ada sebagian kecil masyarakat yang menggunakannya untuk keseharian.

Perawan Ting Ting dan Magisnya Tari Sintren

Brebes, Jateng - Tari sintren merupakan pertunjukan budaya yang sudah melegenda bagi masyarakat pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Belum diketahui pasti sejak kapan kesenian ini mulai muncul. Namun, kesenian ini diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Hingga kini, seni tari sintren masih kental dengan unsur magis dan mistis ini. Meskipun kini kemajuan teknologi telah menggerus zaman, kesenian yang juga disebut lais itu masih dilestarikan segelintir pegiat seni budaya.

Atas dasar itu, Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Brebes Jateng bekerja sama dengan Lembaga Studi dan Agama (Elsa) dan didukung Dewan Kesenian menggelar kesenian sintren di Pendopo Jaka Poleng, Sabtu, 20 Agustus 2016.

Pagelaran sintren bertajuk "Merajut Harmoni Merawat Tradisi" itu menarik warga dan menjadi ajang pelestarian sintren yang mulai jarang ditampilkan di muka umum.

Salah satu faktor menarik dalam pertunjukan sintren adalah pemilihan pemain utama. Syaratnya adalah gadis belia yang belum mengalami menstruasi dan dijamah lelaki bukan muhrim. Selain itu, selama pertunjukan sintren selalu diiringi musik tradisional dan lantunan lagu yang merupakan mantra untuk memanggil arwah atau roh dari alam gaib.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com, pertunjukan sintren diawali dengan iringan musik tradisional dan lagu-lagu mantra berbahasa Jawa. Alat musik pengiring itu terbuat dari tembikar dan kipas bambu yang ketika ditabuh dengan cara tertentu menimbulkan suara yang khas.

Tak lama berselang, sang penari sintren pun mulai memasuki panggung dengan sedikit gerakan dari kedua tangannya.

Setelah berada di atas panggung pertunjukan, pawang sintren memperebutkan sebuah kurungan dari pohon bambu yang sudah dibalut kain bewarna merah ke sintren yang duduk menunggu.

Sekitar lima menit kemudian, setelah pawang membacakan mantra-mantra, kurungan itu diangkat oleh sang pawang. Ajaib, sang gadis itu sudah berubah penampilan.

Ia berganti pakaian dari kepala hingga kaki, lengkap dengan kaca mata hitam. Sang sintren pun langsung memeragakan tarian dengan gayanya yang lemah gemulai.

Saat menari itulah, tampak sang sintren mulai menunjukkan kemahirannya dan menciptakan suasana yang cukup berbeda serta sedikit menegangkan. Beruntung, empat orang penjaga sintren yang berada tak jauh dari aksi menawan liukan kaki, tangan, dan kepala sang sintren mampu menjaga tubuhnya tidak sampai terjatuh.

Sesekali terlihat penonton memberikan uang dengan cara dilempar ke arah sang sintren. Uang balangan--sebutan untuk uang saweran--itu tak sampai mengenai ataupun menyentuh sang sintren. Jika uang balangan itu sampai menyentuh bagian tubuhnya, sang sintren pun langsung roboh pingsan jatuh ke lantai.

Untuk itu, pawang sintren menyebarkan asap kemenyan. Tujuannya agar membuat sang sintren terus menari dan melanjutkan pertunjukannya sampai usai.

Tradisi Tumpeng Songo Bentuk Rasa Syukur kepada Leluhur

Banyuwangi, Jatim - Warga Dusun Andong, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, kembali menggelar upacara adat bersih desa Tumpeng Songo. Upacara adat turun temurun ini merupakan bentuk rasa syukur agar selalu diberi keselamatan, kesejahteraan dan dijauhkan dari mara bahaya.

Dalam ritual adat ini, ada beragam prosesi yang harus dilakukan. Mulai syarat-syarat pembuatan sembilan tumpeng, perlengkapan arak-arakan, sampai nyekar bersama di makam para leluhur untuk saling mendoakan.

Arak-arakan tradisi Tumpeng Songo ini dilanjutkan dengan makan bersama warga Dusun Andong. Sekaligus ada proses berebut daging tumpeng sebagai simbol kerja keras dan harapan rejeki yang didapat. Tidak berhenti di situ, acara arak-arakan yang dimulai pukul 15.00 WIB sampai 17.00 WIB ini juga masih dilanjutkan dengan gelar tumpeng di sepanjang jalan rumah warga masing-masing. Baru kemudian dilanjutkan acar hiburan seni pertunjukan sampai larut malam.

Sumantri (52), pemangku adat tradisi Tumpeng Songo menjelaskan, ritual bersih desa ini sudah berlangsung turun temurun. Hal ini tidak lepas dari penghormatan kepada para leluhur atau nenek moyang yang sudah berjasa membuka hutan, cikal-bakal Dusun Andong sendiri. "Ini yang disebut slametan. Sejarahnya, sebelum ada rumah, dulu di sini alas curah andong. Banyak bunga, maka disebut Dusun Andong," tuturnya kepada Merdeka Banyuwangi di sela persiapan arak-arakan, Minggu (21/8).

Sumantri sendiri, mengaku sebagai generasi ke-sembilan dari nenek moyang yang sudah babat hutan bernama Buyut Unem dan Buyut Minut. "Tradisi ini disebut bersih desa untuk memperingati kerja keras, desanya supaya aman, biar tentram. Tumbuhan bisa lancar tumbuhnya dan dijauhkan dari balak (petaka)," jelasnya.

Selama proses ritual adat, ada beberapa hal menarik yang menjadi simbol saling menjaga kerukunan dan persatuan. Salah satunya saat memasak tumpeng.

Selama memasak tumpeng, ada pembagian khusus untuk mengolah masakan. Ada yang kebagian membuat kue, menanak nasi, mengolah daging, rempah lauknya, serta kelengkapan tumpeng lain.

Menariknya, selama memasak hingga selesai membuat tumpeng, para juru masak ini tidak boleh saling bicara dan mencicipi masakan. Semua harus diam, dan saling menjaga kepercayaan bahwa hasil masakannya pasti enak. "Ini sebagai simbol kita tidak boleh menghina orang. Meski tidak dirasakan, sudah percaya kalau nanti rasanya akan enak," ujar Sumantri.

Saat Merdeka Banyuwangi menengok ke dapur, para perempuan yang memasak memang hanya sibuk menata tumpeng. Mereka puasa bicara untuk sementara. Selain itu, lauk yang dimasak dalam tradisi Tumpeng Songo ini harusada satu ekor sapi. Setelah disembelih dan diolah, menariknya semua bagian dari organ sapi ini harus dimasak.

"Sapi ini kan satu, ini simbolnya penyatuan masyarakat. Semua bagiannya harus dimasak, meskipun itu bagian telinganya, lidahnya. Semua harus dimasak meski sedikit," jelasnya.

Hal menarik lainnya, para perempuan yang kebagian mengarak sembilan tumpeng dengan cara disunggi, harus dalam keadaan tidak menstruasi. Masing-masing dari mereka mengenakan baju putih.

Setelah merapalkan beberapa doa, dan mengecek semua perlengkapan ritual adat, Tumpeng Songo kemudian diarak bersama seluruh masyarakat. Diiringi alunan musik hadrah dan jidor.

Hanya berjarak kurang lebih 400 meter dari ruang pemberangkatan, rombongan arak-arakan sudah sampai di makam para leluhur. Satu per satu tumpeng diturunkan, kemudian mulai anak-anak, remaja sampai yang tua menggelar doa bersama. "Semoga dijauhkan dari balak, dan diberi kesehatan, panjang umur. Semoga almarhumah ini diampuni dosa-dosanya. Dan terima amal ibadahnya," tutur salah satu tokoh adat yang memimpin doa.

Sementara itu, Nursamsi, Kepala Desa Tamansuruh mengatakan sangat mendukung adanya tradisi Tumpeng Songo. Menurutnya tradisi kebudayaan di desanya ini harus tetap lestari. Warga Dusun Andong sendiri, saat ini sudah mencapai 250 kepala keluarga, semua masih kompak melakukan tradisi tersebut.

"Kami selalu mendukung agar tetap lestari. Selain Tumpeng Songo, di sini masih ada lagi tradisi yang khas yaitu Pencak Sumping di dusun Mondoluko. Biasanya diadakan setelah Idul Adha dan sorenya ada ritual Ider Bumi, itu juga khasnya sini," tuturnya.

Ahli Empat Negara Kaji Sejarah Seni Jawa Kuno

Mojokerto, Jatim - Sebanyak 11 dosen, peneliti, ahli dan pakar dari berbagai disiplin ilmu mengkaji sejarah seni Jawa kuno dalam sebuah kursus singkat atau workshop di Ubaya Penanggungan Center (UPC) Kampus 3 Universitas Surabaya (Ubaya) Training Center Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Workshop tersebut berlangsung mulai 23 Juli hingga 2 Agustus 2016 mendatang. Salah satu pengurus UPC, Kusworo Rahadyan, mengatakan, workshop tersebut merupakan salah satu kegiatan dari UPC untuk konservasi bidang sejarah dan kebudayaan Indonesia pada umumnya dan Jawa pada khususnya.

"UPC merupakan salah satu unit lembaga dalam Ubaya Training Center yang fokus pada kajian dan dokumentasi situs-situs kuno di Gunung Penanggungan," ungkapnya, Minggu (24/7/2016).

Kata Kusworo, dalam workshop tersebut diikuti 40 mahasiswa dan pengajar dari dalam maupun luar negeri, baik Asia dan Eropa. Para ahli akan menyampaikan kajiannya berasal dari sejumlah disiplin ilmu, seperti sejarah seni, arkeologi, filologi (kajian teks kuno dan bahasa) agama dan konservasi atau meusologi (studi museum dan sejarahnya).

"Tujuannya, diharapkan peserta, baik mahasiswa maupun pengajar, mengenal dan mengetahui tentang sejarah seni Jawa kuno yang terkait dengan aspek agama, sejarah, dan sosial budaya dalam menginterpretasikan bangunan, relief dan artefak. Para peserta juga akan dikenalkan dengan dasar teknik konservasi dan pendekatan tertentu dalam studi museum, baik dalam konteks lokal maupun global," katanya.

Kusworo menambahkan, para ahli yang akan memaparkan kajian selain dari Indonesia, juga berasal dari Singapura, Inggris, India dan Belanda.

Selain mengikuti berbagai kajian, peserta.workshop bertajuk Summer Programme in Southeast Asian Art History & Conservation (Focus: Premodern Java) tersebut juga akan melakukan kunjungan ke situs-situs.

"Baik situs di Gunung Penanggungan maupun sejumlah candi serta museum di Jawa Timur seperti di Trowulan, Kediri, Malang dan Blitar. Workshop ini terselenggara berkat kerjasama antara Ubaya dengan The Nalanda-Sriwijaya Centre at the ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura) dan The School of Oriental and African Studies University of London, Inggris," jelasnya.

Ngawi Gelar Tradisi Budaya Kirab Pusaka dan Gunungan

Ngawi, Jatim - Ritual adat dan budaya ‘Rebutan Gunungan’ selama ini mungkin hanya bisa dilihat di Yogyakarta maupun di Surakarta tapi kini warga masyarakat bisa melihatnya di Kota Ngawi sesuai rencana digelar besok Rabu, (20/07). Acara yang digelar setiap empat tahun sekali ini sekaligus untuk melengkapi acara Kirab Pusaka milik Pemkab Ngawi dari pelataran Kantor Desa Ngawi Purba yang diarak sampai Pendopo Wedya Graha Ngawi.

Sukadi seksi kirab dari Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparyapura) Ngawi mengatakan, Kirab Pusaka maupun prosesi pengarakan Gunungan dimulai sekitar pukul 07.30 WIB start dari Desa Ngawi Purba atau tiga kilometer dari Kota Ngawi. Dipastikan untuk Gununganya sendiri ada dua unit masing-masing diberi nama Gunungan Jaler dan Gunungan Estri setinggi 2 meter dengan bobot 1,5 kwintal yang diarak sekitar 60 anak secara tambal sulam.

“Untuk gununganya memang berasal dari hasil bumi seperti sayur maupun buah-buahan demikian juga nasi tumpeng sebagai dasar gunungan komplit dengan lauk pauknya. Dua unit gunungan baik jaler dan estri ini bakal diarak masing-masing mengerahkan tiga puluh anak dengan pakaian kejawen utamanya memakai lurik,” ujar Sukadi, Selasa (19/07).

Dikatakan, ritual budaya ‘Rebutan Gunungan’ memang perintah langsung dari Bupati Ngawi Budi Sulistyono/Kanang untuk melakukan sedekah bumi sebagai filosofi rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah. Sedangkan untuk Kirab Pusaka Pemkab Ngawi yang meliputi Tombak Kyai Singkir dan Kyai Songgolangit selain itu Payung Tunggul Warono dan Tunggul Wulung bakal diarak 13 Kereta Kuda dari Kraton Solo.

Tidak sebatas itu, bakal mengerahkan 160 Bergoto atau prajurit khas Kraton Solo, 30 prajurit Watangan dari jajaran Pemkab Ngawi, 6 orang Senopati dengan menunggang kuda plus Manggoloyudho 1 orang ditambah dokar sekitar 30-40 unit. Kirab Pusaka Pemkab Ngawi dilakukan sebagaimana diketahui, setelah sehari sebelumnya (hari ini-red) ke empat pusaka yang usianya sudah ratusan tahun tersebut dijamas (dimandikan) serta disemayamkan di Desa Ngawi Purba.

Dilain sisi Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar menerangkan, baik Kirab Pusaka maupun Rebutan Gunungan memang dikemas sedemikian rupa sesuai tradisinya untuk melestarikan serta mewariskan ke generasi muda khususnya Budaya Jawa. Ujarnya, Ngawi sesuai historinya memang satu daerah bagian wilayah Mataram namun era Kolonial Belanda dimasukan ke Karesidenan Madiun.

“Dengan dasar itu tentunya Ngawi ini mempunyai warisan budaya yang adiluhung tentu tidak salah jika hal itu diwariskan kepada generasi dengan kemasan budaya seperti besok itu. Selain itu Kirab Pusaka dan Gunungan tentu sangat berkaitan dengan tahun wisata atau Ngawi Visit Years 2017 mendatang,” pungkas orang nomor dua di Kabupaten Ngawi ini.

Melihat Tradisi Takjil Bubur Samin di Masjid Sabiilurrosyaad Bantul

Bantul, DIY - Setiap bulan Ramadan sejak ratusan tahun yang lalu, warga sekitar Masjid Sabillurrosyad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul, melakukan tradisi berbuka puasa dengan makan bubur samin dan sayur lodeh bersama-sama di Masjid.

Suara sirine bergemuruh dilanjut dengan suara bedug dan kentongan pertanda untuk waktu untuk berbuka puasa telah tiba, sejumlah anak-anak kecil, remaja, dan jamaah pengajian duduk rapi di serambi masjid sembari menunggu pembagian takjil dan berbuka puasa bersama.

Secangkir teh hangat dan sepiring bubur samin lengkap dengan sayur lodeh segera dibagikan, dengan lahap tampak para anak-anak dan jamaah sangat menikmati hidangan sederhana namun sarat akan makna tersebut.

Zurkoni, Wardani, Jamhani, dan Hasanudin juru masak yang selalu menyiapkan bubur beserta lodeh sangat terlihat cekatan dan sigap dalam menyajikan takjil bubur yang katanya sudah menjadi tradisi di Masjid peninggalan Panembahan Bodho (Raden Trenggono) yang didirikan sekitar akhir abad XIV itu.

Kurang dari hitungan satu menit kemudian anak-anak sudah berlari menuju tempat untuk berwudhu, satu piring bubur samin yang tadi ada di depan mereka kini hanya tersisa piring dan sendoknya saja, tampaknya anak-anak sangatlah menyukai makanan bubur yang bersejarah itu.

Sekretaris Takmir Masjid Sabiilurrosyad, Hariyadi, mengatakan tradisi berbuka puasa dengan bubur ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu bahkan saat Panembahan Bodho masih hidup. Kini, tradisi peninggalan yang sangat kaya akan nilai filosifis yang selalu diajarkan oleh Panembahan Bodho masih menjadi bagian dalam kehidupan kehidupan masyarakat di dusun itu.

“Tradisi ini menurut cerita para orang tua sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, karena penuh dengan nilai kebudayaan dan keagaaman masyarakat hingga sekarang mampu terus menjaga keutuhan tradisi ini,” katanya, Minggu (19/6/2016).

Dikatakannya jauh sebelum bubur tersebut siap disajikan, dapur yang berada tepat disamping masjid sudah ramai sejak pukul 14.00 WIB. Juru masak bubur yang telah ditunjuk sudah mulai meracik berbagai bahan masakan. Tidak kurang dari 4,5 kilogram beras setiap harinya dimasak dalam kuali besar yang masih sangat tradisional.

Kelapa, beras, tempe, tahu, dan sayur sebagian besar didapat dari sumbangan masyarakat, rasa kebersamaan warga sangat terasa hangat. Saat bubur telah masak, beberapa rantang nasi dan piring terlihat sudah mengantri di sebuah meja, selain bubur ini disediakan bagi jamaah yang datang ke masjid, ternyata siapapun warga yang meminta bahkan dipersilahkan dan diperbolehkan.

Meski sempat berhenti selama beberapa tahun, rasa cinta masyarakat akan kebudayaan ternyata tidak mampu membiarkan tradisi ini berhenti begitu saja. Dengan gotong royong antar warga hingga kini tradisi tersebut tetap terjada tiap tahunnya.

Saat ditanyai lebih dalam lagi menurutnya bubur yang menjadi santapan untuk berbuka ini memiliki banyak sekali nilai filosofis. “Ada beberapa makna dari bubur ini sendiri yang sejak dulu nilai-nilai filosofinya diajarkan kepada kami, pertama yaitu bibirrin, artinya di masjid adalah sebagai sumber dan pusat kebaikan dan hal yang bagus bagi masyarakat,” katanya

Kedua yaitu beber, artinya membeberkan, menjelaskan dan menerangkan tentang agama Islam termasuk pada zaman dahulu makanan juga dijadikan sebagai sarana dakwah. Kemudian yang ketiga yaitu babar, yang artinya ajaran agama Islam harus bisa diterima semua lapisan masyarakat seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Kalijogo dahulu.

“Yang terahir ya bubur, artinya meleburkan, agama islam harapannya dapat melebur menjadi satu dengan jiwa penganutnya,” ujarnya.

Penuh harapan setelah sempat terhenti, kegiatan tradisi ini akan terus terjaga dan selamanya akan tetap ada. “Karena itu kami juga mendidik anak-anak untuk tetap mencintai kegiatan tradisi ini. Agar nantinya setelah kami tidak ada, kami sudah turut mewariskan tradisi ini kepada mereka,” tegas Hariyadi.

Warga Sraturejo Tetap Lestarikan Tradisi Kirap Encek Nganten

Bojonegoro, Jatim - Tradisi Kirap Encek Nganten yang sudah menjadi tradisi sejak dulu terus dilestarikan oleh Warga Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Warga setempat selalu menunggu tradisi yang dilakukan sebagai wujud syukur tersebut.

Encek Nganten merupakan gunungan yang dibuat dengan rangkaian hasil bumi. Mulai dari buah-buahan, padi, jagung, sayur mayur dan hasil pertanian lain. Encek gunungan itu dibuat dua buah yang mewakili encek lanang (laki-laki) dan encek wadon (perempuan) yang melambangkan pasangan pengantin.

Gunungan yang dirangkai dari hasil bumi itu kemudian diarak mengelilingi desa oleh para pemuda setempat. Setelah diarak keliling desa gunungan dibawa ke petilasan Sumur Nganten. Di sana, warga sudah ada yang menunggu untuk mendapat berkah dari hasil bumi tersebut. Setelah pembacaan doa, hasil bumi tersebut kemudian dibuat rebutan.

Belum selesai dibacakan doa. Ratusan warga sudah saling berebut encek setinggi 1 meter (m) tersebut. Baik pria, perempuan, maupun anak-anak. Mereka saling berdesakan, seakan tidak memperdulikan keselamtannya. "Yang penting dapat," kata salah seorang warga desa setempat, Rohmatullah Umah, kemarin.

Perempuan berusia 45 tahun itu lumayan mendapat sejumlah hasil pertanian. Seperti kacang, cabai, tomat, dan buah-buahan. Rencananya, hasil pertanian dari tumpeng itu akan dimasak. Kemudian dimakan bersama dengan seluruh anggota keluarganya. "Biar mendapat berhakah dan ditambah rezekinya," ujarnya.

Selain Encek Nganten, saat keliling kampung juga lengkap dengan model pasangan pengantin dan pengiringnya. Pasangan pengantin itu berada dibarisan paling depan. Barisan kedua pemuda yang berseragam hitam-hitam memikul encek, serta para pengiring. Barisan terakhir musik pengiring drum band.

Ketika sampai di petilasan Sumur Nganten. Pasangan pengantin tersebut dibasuh muka, tangan, dan kaki. Hal tersebut seperti yang dilakukan pasangan pengantin yang baru mengucapkan ijab-kabul (akad nikah). Sambil memohon kepada ridho Tuhan Yang Maha Esa (YME) agar pernikahnya langeng, dijauhkan dari cobaan, dan dimurahkan rejeki.

Serta dikaruniai keturunan tidak cacat, berbakti kepada orang tua, agama, dan negara. Ritual tersebut diyakini masyarakat setempat, berawal dari sebuah cerita atau legenda desa setempat.

Awal mula ceritanya, pernah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Patih Joyosingo terhadap Akuwu atau Bupati Basunondo alias Prabu Lembu Amiseno dengan permaisurinya Kanjeng Ratu Lebdosari pada masa akhir kerajaan Kahuripan. "Lokasi akuwu Basunondo itu diyakini berada di Desa Staturejo," kata Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Sraturejo, Haryanto Abdoelah.

Puncak pemberontakan patih Joyosingo ketika berhasil memenjarakan akuwu Basunondo beserta permaisurinya, setelah bertarung di kawasn Sendhang Ratu. Dengan kemenagan tersebut, lanjut dia, Patih Joyosingo mengambil alih kekuasan sebagai akuwu, bergelar Akuwu Joyosingo dengan permaisurinya Niken Lembayung.

Tapi rakyat yang masih mencintai akuwu Basunondo dan permaisurinya akhirnya berencana merebut kembali tampuk kekuasaan. Pengikut istana yang masih setia bersidang di suatu tempat di bawah pohon rindang untuk menyusun srategi. Sementara didekat pohon itu ada sumur yang besar sumber airnya. Lokasi itu disebut Sumur Gandring.

Singkat cerita, seteleh dilakukan penyerangan ke pusat pemerintahan berhasil menumpas pemberontak dan menewaskan patih Joyosingo. Kemudian akuwu Basunondo dan permaisurinya disucikan oleh para tertua adat di sebuah sumur agar segala sesuker atau musibah hilang.

Peritiwa tersebut akhirnya melahirkan sebutan nama Mbah Krebut. Artinya kakek-nenek yang berasil direbut. Keduanya bagaikan sepasang pengantin tidak terpisahkan. Kemudian sumur tersebut dinaman Petilasan Sumur Nganten. Yakni berupa pondasi berkas bangunan kuno berbahan batu bata sebesar 20x35 centimeter (cm). "Setiap tahun, masyarakat melakukan Kirap Encek Nganten. Sebagia bentuk rasa syukur atau sedekah bumi," imbuhnya.

Sementara Kepala Dusun Grenjeng, Desa Sraturejo, Sunoko mengungkapkan, sedekah bumi atau nyadran yang dilakukan masyarakat ini merupakan upaya untuk terus menjaga tradisi masyarakat. Selain itu, diharapkan nyadran tersebut menjadi potensi desa sebagai objek wisata. Nyadran itu dilakukan setiap tahun pada hari Senin Pon.

"Bentuk kegiatan ini merupakan bentuk melestarikan kebudayaan yang sudah dilakukan terhadap nenek moyang dulu. Juga diharapkan menjadi potensi wisata tahunan," jelasnya.

Tradisi Jaro Rajab, Kembali Ke Wajah Asli

Solo, Jateng - Ada yang berbeda dalam pelaksanaan prosesi tradisi pemugaran jaro (pagar, red ) bambu pada bulan Rajab di masyarakat Aboge di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, yang berlangsung pekan lalu. Biasanya dalam prosesi itu, selalu ada iring-iringan Raja atau utusan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dengan di barengi Gunungan Tumpeng dan Hasil Bumi sebagai ucapan rasa syukur kepada Sang Illahi yang akan diperebutkan warga masyarakat di sekitar Masjid Saka Tunggal.

Tapi dalam pelaksanaan pemugaran jaro atau pagar yang dikenal dengan sebutan Jaro Rojab tahun ini tidak terlihat tradisi budaya itu. Menurut Suyitno, Kepala Desa Cikakak, ini merupakan kegiatan nyata dan asli dari prosesi pemugaran pagar yang mengelilingi makam keramat Eyang Toleh hingga ke Masjid Saka Tunggal.

“Ini adalah wajah asli Jaro Rojab yang sebenarnya. Kalau ada gunungan tumpeng, itu meupakan rekayasa dari keluarga besar keraton Surakarta Hadiningrat. Karena kalau di telusuri dari silsilah dan asal usul leluhur Desa ini maka eyang Toleh itu datang dari wilayah barat, tepatnya dari Prabu Siliwangi yakni Kerajaan Padjadjaran,”jelas Suyitno, Minggu (15/5).

Memang dengan adanya kemauan tokoh adat Cikakak yang menghilangkan iring-iringan gunungan tumpeng itu, lanjut Suyitno, pihak kraton Surakarta agak sedikit keberatan, karena menurut pihak keraton Surakarta Hadiningrat bahwa eyang Toleh sendiri masih kerabat mereka.

Hal ini Dibenarkan Subagyo, Juru Kunci I Masjid Saka Tunggal Cikakak. Menurut Bagyo, selain itu dengan adanya Kali Cipakis yang mengalir di depan makam keramat eyang Toleh yang di ganti nama di jaman itu dengan nama Kali Asahan. Maka pihak Keraton Surakarta Hadiningrat mengkaitkan hubungan kekerabatan Eyang Toleh yang masuk silsilah Kraton Surakarta. “Nih saya buka sedikit saja tentang keberadaan pepunden kami ini. Eyang Toleh itu merupakan nama samaran dari Eyang Cakra Buana. Jadi sangat jauh hubungannya denga Surakarta. Itu saja,”ujar Subagyo.

Secara terpisah, KRH Palillo Diningrat, Kasepuhan Adat Paguyuban Keluarga Mataram (PAKASA) Cikakak melalui Raden Tumenggung Handoyo Dipuro sangat menyayangkan dengan adanya perselisihan semacam ini. Padahal ada tradisi arak-arakan tumpengan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

“Tapi kenapa baru sekarang adanya ontran-ontran atau mempermasalahkan hal ini ketika eyang Palillo sebagai Kasepuhan Cikakak sudah tidak berdaya karena sudah sepuh. Kalau memang mau membahas asli tidaknya sebaiknya di masa para kasepuhan masih sehat, jadi kita semua tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kalau seperti ini, kami generasi muda yang tidak dibekali pengetahuan silsilah secara lengkap tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya mempersilahkan pak kades bersama kasepuhan adat yang menentang tradisi yang sudah dijalankan sejak lama,”ungkap RT Handoyo Dipuro.

Menurut dia, budaya tumpengan selain menjadi bagian dari sejarah, juga bisa untuk meningkatkan wisatawan di Masjid Saka Tunggal Cikakak ini. “Mengingat Masjid Saka Tunggal dan Desa Cikakak ini sudah menjadi satu kesatuan Desa Budaya. Ini sudah di tetapkan oleh Pemkab Banyumas. Maka marilah di sengkuyung bersama, jangan lagi ada perselisihan pendapat seperti sekarang ini,”pungkas RT Handoyo Dipuro.

Riasan Pengantin Jawa Mengacu Tradisi Kraton

Yogyakarta - Kehidupan masyarakat Yogyakarta khususnya tidak bisa dilepaskan dari tata cara adat tradisional yang sampai saat ini masih dipertahankan keberadaannya. Hal itu juga yang terjadi pada tata rias dan busana pengantin yang dipakai pasangan mempelai ketika memutuskan naik pelaminan. Riasan dan busana yang dipakai tidak lain mengacu pada tradisi yang dipakai di dalam kompleks kraton.

Namun seiring waktu, perkembangan tidak terelakkan. Mengingat era globalisasi sedemikian deras memasuki tiap sendi dan lini kehidupan. Dinamisasi budaya juga terjadi kendati tidak harus tercerabut dari akarnya.

"Prinsip itu yang terus kami pegang. Biarlah perkembangan dan perubahan itu terjadi. Tapi jangan pernah lepaskan sejarahnya. Karena itu pegangan untuk terus maju agar tidak terseret arus," tegas Kasi Sejarah Dinas Kebudayaan DIY Nurtyas Yunianto kepada KRjogja.com, Jumat (11/05/2016).

Pemikiran ini pula yang jadi dasar dirinya menggelar workshop bersama untuk menyatukan visi pelaku industri pernikahan agar satu keselarasan. Sehingga satu sama lain tidak terjebak pada pendapat masing-masing namun mengacu pada sejarah awalnya.

"Ketika perias, WO dan panatacara memiliki keinginan sendiri-sendiri, sebaiknya dikembalikan pada sejarah awalnya. Dari situ sebagai pijakan dasar yang bisa disepakati bersama," jelasnya.

Nyadran Berpotensi Jadi Ikon Wisata Adat

Sidoarjo, Jatim - Suasana di sepanjang Sungai Gisik Kidul, Desa Tambak Cemandi, Minggu (8/5), terlihat semarak. Ratusan warga mengikuti perayaan sedekah bumi atau biasa disebut nyadran.

Ritual itu merupakan ungkapan syukur warga yang bekerja sebagai nelayan atas hasil alam yang didapat selama ini. Ada beragam jenis acara. Salah satunya mengarak gunungan makanan dengan menggunakan puluhan perahu menuju muara Desa Tambak Cemandi.

Ada pula pertunjukan campur sari dan wayang. ’’Acara ini memang selalu ditunggu warga sini,’’ ujar Rohamdin, salah seorang pamong Desa Tambak Cemandi.

Iring-iringan perahu bergerak dari sungai depan Balai Dusun Gisik Kidul, lalu mengarah ke timur menuju muara yang berbatasan langsung dengan laut. Sepanjang perjalanan, didengungkan pujian-pujian ungkapan syukur.

Setiba di muara, gunungan dihanyutkan. ’’Ini tradisi turun-temurun,’’ tutur Abdur Rohim, warga Tambak Cemandi. Selain warga Sedati, pengunjung berasal dari sejumlah daerah. Mulai Gresik hingga Surabaya.

Pengunjung pun rela menunggu sejak pagi untuk melihat acara tahunan itu. Melihat antusiasme pengunjung, tradisi nyadran sebetulnya sangat berpotensi menjadi wisata adat daerah. ’’Ini harapannya bisa semakin terkenal dan menjadi salah satu ikon Sedati,’’ kata Camat Sedati Hadi Mulyanto.

Ke depan, lanjut dia, pihaknya membantu warga untuk menyiapkan konsep acaranya dengan lebih matang. Bahkan, Hadi berharap tiap desa nanti juga mengadakan acara tersebut dalam waktu bersamaan.

Dengan demikian, kemeriahannya lebih terasa. Gaungnya pun lebih terdengar ke berbagai daerah. ’’Termasuk sosialisasi tentang rencana acara juga harus lebih berkoar-koar biar semakin dikenal,’’ paparnya.

Keraton Yogyakarta Gelar Upacara Adat Labuhan Merapi

Sleman, DIY - Keraton "Ngayogyakarto Hadiningrat" hari Minggu (8/5/2016) menggelar upacara adat Labuhan Gunung Merapi. Acara tersebut dalam rangka memperingati naik tahta Sultan Hamengku Buwono X pada Minggu.

"Upacara adat yang selalu menarik minat wisatawan tersebut diawali penyerahan uba rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto kepada Camat Depok di Pendopo Kecamataan Depok Minggu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi kepada wartawan, Minggu (8/5/2016).

Ayu menjelaskan, dari Kecamatan Depok yang merupakan wilayah perbatasan dengan Kota Yogyakarta tersebut, uba rampe oleh para abdi dalem dan Camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan dan diserahkan kepada Camat Cangkringan di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

"Camat Cangkringan kemudian menyerahkan uba rampe tersebut kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo untuk dibawa ke Balai Labuhan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan," tutur Ayu.

Ditegaskan, nantinya sesampainya di Balai Labuhan di Kinahrejo (pendopo petilasan Mbah Maridjan) dan diinapkan satu malam.

"Pada pagi harinya yakni Senin, (9/5/2016) sekitar pukul 06.00 WIB rangkaian uba rampe akan diarak dengan berjalan kaki yang dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi Kliwon Suraksohargo menuju ke Bangsal Sri Manganti atau pos dua untuk dilakukan upacara resmi Labuhan Merapi," jelas Ayu.

Ada pun uba rampe yang dilabuh berupa sinjang limar satu lembar, sinjang cangkring satu lembar, semekan gadhung satu lembar, semekan gadhung melati satu lembar, paningset udaraga satu lembar, kambil watangan satu biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, yotro tindih dua amplop, destar doromuluk satu lembar.

Menu lainnya, yaitu berupa kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.

"Acara labuhan Merapi yang sudah menjadi agenda rutin dan hajat Kraton Ngayogyokarto, diharapkan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara," jelas Ayu.

Keraton Yogyakarta akan Gelar Upacara Labuhan Merapi

Sleman, DIY - Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat akan melaksanakan upacara adat Labuhan Gunung Merapi dalam rangkaian peringatan naik takhta Sultan Hamengku Buwono X pada Minggu (8/5) dan Senin (9/5).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi di Sleman, Sabtu, mengatakan upacara tersebut akan diawali dengan penyerahan uba rampe (sesajian) Labuhan dari Keraton Yogyakarta kepada Camat Depok di Pendopo Kecamataan Depok Minggu (8/5).

Dari Kecamatan Depok, ia melanjutkan, para abdi dalem dan Camat Depok akan mengarak uba rampe upacara ke Kecamatan Cangkringan dan menyerahkannya kepada Camat Cangkringan di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

"Camat Cangkringan kemudian menyerahkan uba rampe tersebut kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo untuk dibawa ke Balai Labuhan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan," katanya.

Sesampainya di Balai Labuhan di Kinahrejo (pendopo petilasan Mbah Maridjan), ia menuturkan, pelengkap upacara akan diinapkan satu malam dan pagi harinya, Senin (9/5)sekitar pukul 06.00 WIB, diarak menuju ke Bangsal Sri Manganti atau pos dua untuk upacara resmi Labuhan Merapi.

Juru Kunci Gunung Merapi Kliwon Suraksohargo akan memimpin arak-arakan menuju ke Bangsal Sri Manganti.

Uba rampe yang dilabuh pada upacara itu meliputi sinjang limar satu lembar, sinjang cangkring satu lembar, semekan gadhung satu lembar, semekan gadhung melati satu lembar, paningset udaraga satu lembar, kambil watangan satu biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, yotro tindih dua amplop, dan destar doromuluk satu lembar.

Selain itu ada kembang setaman, nasi tumpeng, serta ingkung (hidangan ayam kampung) dan serundeng yang akan dibagikan kepada pengunjung usai upacara labuhan.

"Labuhan Merapi yang sudah menjadi agenda rutin dan hajat Kraton Ngayogyokarto, diharapkan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan manca negara," kata Ayu.

-

Arsip Blog

Recent Posts