Tampilkan postingan dengan label Lebak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebak. Tampilkan semua postingan

Kejaksaan Sidik Dugaan Korupsi KUT Lebak

JAKARTA–Jaksa penyidik Bagian Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Kamis (27/3) memeriksa Mardono, mantan Kepala Kantor Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Lebak, Banten. Mardono diperiksa sebagai saksi dalam perkara tindak pidana korupsi dana Kredit Usaha Tani (KUT).

Sebagaimana disampaikan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Bonaventura Daulat Nainggolan melalui siaran pers, pemeriksaan Mardono berkaitan dengan dugaan korupsi dalam penyimpangan dana KUT periode 1989-1999 pada PT Bank Danamon.

"Diperoleh fakta adanya KUT sebesar lebih kurang Rp 3,6 miliar yang berasal dari Koperasi Kebun Permai, Koperasi Mutiara Banten Selatan, Koperasi Bumi Tani Lestari, dan Koperasi Sekar Tani yang tidak disalurkan," tulis siaran pers itu.

Dana tersebut tidak disalurkan kepada petani. Melainkan untuk kepentingan pengurus koperasi.

Sumber : Kompas.com : 27 Maret 2008

"Festival Baduy 2016" Bukti Geliat Pariwisata Banten

Lebak, Banten - Dorongan menuju destinasi kelas dunia membuat Kementerian Pariwisata terus meminta semua pihak berinovasi, terutama daerah yang berada dalam radius dekat dengan 10 Bali baru. Hal ini kemudian dilakukan Provinsi Banten, lebih tepatnya Kabupaten Lebak, Banten.

”Untuk pertama kalinya, kami mengadakan Festival Baduy 2016. Kami memancing wisatawan untuk datang ke Banten, khususnya Lebak, untuk bisa menengok Tanjung Lesung yang indah. Semoga ini debut yang baik untuk Festival Baduy,” ujar Panitia Pelaksana Festival Baduy 2016, Banten, Arman Bin Kaipin, beberapa waktu lalu.

Perhelatan itu rencananya akan dilaksanakan pada 28-30 Oktober 2016, di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

”Target utamanya adalah kehadiran wisatawan mancanegara dan meningkatkan ekonomi kreatif, karena kami memiliki banyak kerajinan tangan berkelas dunia,” ujar laki-laki, yang juga tokoh Desa Kanekes itu.

Ia menambahkan, berbagai kegiatan menarik akan hadir dalam acara tersebut, seperti pagelaran seni dan budaya, pameran produk buatan masyarakay Baduy, pemecahan rekor menenun, pembangunan gerbang Baduy, dan sosialisasi digital marketing.

”Budaya Baduy sangat menarik untuk wisatawan. Ini merupakan salah satu kekuatan kami, termasuk Pantai Tanjung Lesung yang indah. Jika ingin lihat budayanya, bisa kunjungi Baduy,” ujarnya bangga.

Sekadar informasi, Suku Baduy di pedalaman Banten lebih senang menyebut diri mereka sebagai “urang Kanekes”. Banten yang dikenal selama ini, ternyata tidak hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa indah, namun jika masuk lebih dalam, Anda akan menjumpai masyarakat adat yang unik.

Masyarakat adat ini tinggal di perbukitan, yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, dengan ketinggian hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Menuju Baduy tidak sulit. Jika Anda dari terminal Ciboleger Banten, Anda hanya tinggal melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam.

Masyarakat Kanekes dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tangtu dan panamping. Kelompok tangtu dikenal sebagai Kanekes Dalam atau Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat. Mereka tinggal di tiga desa, yaitu Cikertawana, Cikeusik, dan Cibeo.

Masyarakat Kanekes tidak memakai alat elektronik, tidak menggunakan alas kaki, tidak menggunakan kendaraan untuk transportasi, dan menggunakan pakaian adat yang ditenun dan dijahit sendiri.

Mereka masih menganut kepercayaan tradisional berupa Sunda Wiwitan, yang dipimpin oleh seorang Pu’un, yang juga berkedudukan sebagai pemimpin masyarakat Kanekes.

”Sangat indah menikmati Kanekes. Di Desa Cibeo sudah langsung terasa kenyamanan sebuah permukiman adat. Sinar matahari masuk menyelinap di antara dedaunan, suara burung-burung merdu bernyanyi bersahutan. Suasananya sangat tenang,” kata Arman.

Perpaduan masyarakat adat yang hangat dan alamnya masih terjaga dengan baik dan jarang dijumpai di kota besar, termasuk Jakarta. Udara di kawasan ini masih segar, tanpa polusi dan bersih, tanpa sampah berserakan.

Untuk sampai Desa Cibeo, Anda akan melalui kelompok masyarakat panamping, yang dikenal sebagai Kanekes Luar atau Baduy Luar. Kelompok masyarakat ini telah mengenal teknologi dan alat elektronik, serta sudah menggunakan pakaian yang modern.

”Namun kita masih bisa mengenali masyarakat ini dengan ciri khas mereka, yaitu menggunakan ikat kepala berwarna hitam,” kata Arman.

Kepercayaan masyarakat Kanekes Luar sudah bercampur dengan masyarakat pada umumnya. Mata pencaharian mereka adalah bertani, namun masih membuat tenun yang biasa digunakan sebagai suvenir.

”Inilah yang akan kami kedepankan di Festival Baduy yang pertama kalinya ini,” tandasnya.

Tanjung Lesung, Banten, merupakan sebuah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tengah dibangun sebagai amenitas baru. Proses pembangunan jalan tol Serang-Panimbang, menurut Menpar Arief Yahya sedang dalam proses.

"Begitu tol 84 kilometer itu selesai, maka Tanjung Lesung akan cepat berkembang," katanya.

Tradisi Kawalu, Baduy Dalam Terlarang Didatangi Wisatawan

Lebak, Banten - Wisatawan domestik maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, karena mulai tanggal 18 Februari 2016 melaksanakan tradisi Kawalu sehingga tertutup bagi masyarakat luar.

"Kami meminta wisatawan menghormati dan menghargai keputusan adat karena masyarakat Baduy Dalam sedang menjalani ritual adat peninggalan nenek moyang itu," kata Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang juga tetua adat Baduy Saija saat dihubungi di Rangkasbitung, Senin (15/2/2016).

Pelaksanaan Kawalu dilaksanakan selama tiga bulan untuk menjalankan tradisi dengan puasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera.

Tradisi Kawalu tersebut berlangsung sejak nenek moyang hingga kini masih dipertahankan oleh suku Baduy.

Mereka melaksanakan tradisi Kawalu pertama itu mulai Februari, dan Maret Kawalu dua serta Kawalu ketiga pada Maret mendatang.

Selama perayaan Kawalu, wisatawan domestik maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik.

Warga Baduy akan menjalankan tradisi Kawalu. Mreka berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera.

"Kalau negara ini aman dan damai tentu masyarakat akan sejahtera," katanya.

Menurut dia, larangan tersebut nantinya dipasang peringatan di pintu gerbang Baduy di Ciboleger agar pengunjung menaati hukum adat.

tradisi Kawalu warisan nenek moyang yang harus dilaksanakan setiap tahun, dirayakan tiga kali selama tiga bulan dengan puasa seharian.

Perayaan Kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Baduy Dalam sehingga perlu menghargai dan menghormati keyakinan agama yang dianut mereka.

"Selama melaksanakan Kawalu, kondisi kampung Baduy Dalam sepi karena mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di rumah-rumah," katanya.

Penggiat Masyarakat Baduy, Asep mengatakan, selama kawalu perkampungan Baduy Dalam tertutup bagi pengunjung, sekalipun itu pejabat daerah ataupun pejabat negara.

Mereka menjalankan kawalu karena peninggalan adat yang turun temurun dan harus dilaksanakan.

Setelah berakhir perayaan Kawalu, lanjut dia, tentu pengunjung kembali diperbolehkan mendatangi kawasan Baduy Dalam.

Dia menjelaskan, setelah Kawalu, satu bulan yang akan datang merayakan acara "Seba" dengan mendatangi bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian).

"Setiap Seba mereka masyarakat Baduy akan membawa hasil pertanian ladang, seperti gula merah, pisang dan petai," katanya.

Tenun Baduy Diminati Wisatawan

Lebak, Banten - Produk kerajinan tenun Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, kini diminati wisatawan sehingga dapat mendorong pendapatan ekonomi masyarakat Baduy.

"Keunggulan tenun Baduy itu, karena memiliki nilai seni tradisional dan warnanya berbeda dengan tenun lain di Tanah Air," kata Meti (40), seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rabu (27/1).

Selama ini, wisatawan dari berbagai daerah yang mengunjungi wisata budaya di kawasan adat, mereka tertarik kain Baduy.

Mereka wisatawan domestik ingin mengetahui kehidupan warga Baduy.

Bahkan, banyak wisatawan yang datang ke sini membeli tenun dengan jumlah banyak. Pengunjung membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat. Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

"Kami sejak sebulan omzet penjualan relatif baik karena memasuki musim liburan tahun baru itu," katanya.

Menurut dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan. Pengerjaan kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

Mereka mengerjakan tenun Baduy itu dengan berbagai motif dan corak warna. "Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan kerajinan kain Baduy itu," katanya.

Begitu juga perajin tenun lainnya, Jali (55) mengaku, selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domestik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Adapun, kata dia, harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000 per busana. "Semua wisatawan domestik itu sangat mencintai produk masyarakat adat," katanya.

Pemerhati: Objek Wisata Baduy Bisa Mendunia

Lebak, Banten - Pemerhati sosial dari Rangkasbitung Ahmad Kusaeni mengatakan objek wisata adat masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, bisa dijadikan wisata dunia karena memiliki keunikan suku terasing.

"Kami yakin wisata budaya Baduy memiliki nilai jual yang mendunia, seperti kehidupan komunitas suku Aborigin di Australia, suku Amish di Amerika Serikat, atau suku Incha di Manchu Pichu Peru," kata Ahmad saat dihubungi di Lebak, Rabu.

Khasanah budaya masyarakat Baduy cukup menarik untuk dilakukan wisata penelitian antropologi, karena kehidupan masyarakat itu hingga kini masih mempertahankan adat leluhurnya.

Untuk itu, banyak pengunjung wisata domestik dan mancanegara melakukan penelitian kehidupan masyarakat Baduy.

Masyarakat Baduy hingga kini masih mempertahankan adat istiadat dan menolak kehidupan modern.

Kawasan hutan yang dihuni masyarakat Baduy seluas 5.100 hektare tanpa jalan, jaringan listrik, televisi, radio, dan kendaraan.

Bahkan, masyarakat Baduy Dalam berpakaian putih-putih bepergian ke luar daerah harus berjalan kaki dan dilarang naik angkutan kendaraan.

"Banyak para antropolog datang ke Baduy untuk melakukan penelitian," katanya.

Menurut dia, keberadaan suku terasing itu akan menjadi objek wisata dunia sehingga memberikan nilai tambah untuk peningkatan ekonomi masyarakat juga pendapatan asli daerah (PAD).

Dengan begitu, ujarnya, pemerintah daerah harus memprogramkan wisata Baduy menjadi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA).

Pengembangan wisata ini nantinya ditata melalui pembangunan terintegrasi dengan infrastruktur, penginapan, dan pusat perdagangan.

Apalagi, produk-produk kerajinan suku Baduy cukup unik di antaranya aneka jenis souvenir, tas koja, golok, tenun, dan gula aren.

"Saya yakin jika dibangun secara terintegrasi di kawasan Baduy dipastikan bisa menjadi objek wisata mendunia," kata mantan Direktur Pemberitaan LKBN Antara itu.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Lebak Okta mengatakan pemerintah daerah terus membangun jalan menuju objek wisata budaya Baduy dari Rangkasbitung hingga Ciboleger atau pintu gerbang masuk kawasan Baduy.

Kunjungan wisatawan domestik 2015 kemungkinan bertambah hingga mencapai 6.849 orang, sedangkan tahun sebelumnya hanya 5.380 orang.

Sedangkan, wisatawan mancanegara tercatat 158 orang berasal dari Belanda, Inggris, dan Swiss.

Sebagian besar wisman itu, katanya, untuk kepentingan konservasi maupun mempelajari budaya setempat.

Para pengunjung kawasan permukiman Baduy tidak dibebani retribusi oleh pemerintah daerah.

"Kami memberikan kemudahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Baduy dengan tidak tidak memungut biaya," katanya.

Emuy Mulyanah, seorang Anggota DPRD Kabupaten Lebak mengatakan potensi objek wisata Baduy memiliki nilai jual hingga mendunia karena cukup menarik untuk dijadikan bahan penelitian.

Sebab, katanya, masyarakat Baduy masuk kategori suku terasing yang ada di Tanah Air.

Masyarakat Baduy bersahabat dengan alam, sehingga kawasan Baduy tidak ada penerangan listrik, elektronika, maupun jalan beraspal.

Namun, pihaknya prihatin kekayaan potensi wisata adat itu tidak didukung infrastuktur dan sarana lainnya yang memadai.

Saat ini, di kawasan wisata Baduy tidak terdapat hotel, wisma, pasar, dan pasokan air bersih.

Dengan demikian, ujar dia, hingga kini objek wisata adat Baduy relatif kecil dikunjungi wisatawan mancanegara.

"Kami yakin objek wisata itu bisa mendatangkan wisatawan mancanegara," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Sekretaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Sarpin mengatakan selama ini rombongan pengunjung objek wisata Baduy kebanyakan dari perguruan tinggi, sekolah, peneliti, lembaga, instansi swasta, dan pemerintah, sedangkan dari kalangan keluarga relatif kecil.

"Kami yakin ke depan kunjungan wisata adat Baduy meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal," kata Sarpin.

Tenun Baduy, Unik dan Bernilai Ekonomi Tinggi

Lebak, Banten - Kerajinan tenun tradisional produksi masyarakat komunitas adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati wisatawan.

"Kelebihan tenun Baduy itu warnanya berbeda dengan tenun lain di Tanah Air," kata Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustreian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Herisnen di Lebak, Selasa (28/10).

Selama ini, kata dia, banyak wisatawan yang berkunjung ke wisata budaya Baduy membeli kain tenun tradisional dengan jumlah banyak. Mereka para wisatawan itu tertarik dengan tenun Baduy karena dinilai cukup unik dan berbeda dengan tenun lainnya di tanah air. Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Baduy berasal dari domestik dari Jakarta, Bandung, Bogor, dan Bekasi.

Mereka para wisatawan, kata dia, membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni. Sementara, benang bahan baku kain tenun didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat.

Kerajinan kain tenun itu dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

Biasanya, kata dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan. Para perajin merajut kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

"Kami terus mempromosikan tenun Baduy agar bisa mendunia sehingga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," katanya.

Menurut dia, pemerintah daerah terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy. Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal. "Kami berharap kerajinan tenun Baduy itu dapat menyerap lapangan pekerjaan juga meningkatkan pendapatan ekonomi mereka," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat. Adapun harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp 70 ribu sampai Rp 350 ribu per busana. "Saya kira banyak wisatawan domestik semakin mencintai produk Baduy karena memiliki keunikan itu," katanya.

Disdikbud Lebak Inventarisir Cagar Budaya di Kota Multatuli

Lebak, Banten - Keanekaragaman seni budaya di Kabupaten Lebak, Banten, patut dilestarikan, agar budaya-budaya luar yang masuknya begitu cepat melalui berbagai sendi kehidupan masyarakat, tidak terus menggusur keberadaan seni budaya di Kabupaten yang dijuluki sebagai Kota Multatuli itu.

Kabupaten Lebak, selain kaya akan seni budaya, juga banyak ditemukan situs situs purbakala, termasuk kekayaan seni ‘Batik Lebak’ yang akan dilaunching pada perayaan ulang tahun Kabupaten Lebak ke 187 tanggal 2 Desember 2015 mendatang. Hal ini diungkapkan H Asep Komar Hidayat, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lebak, kepada indopos.co.id di Rangkasbitung, Kamis (25/6).

Menurut Asep, saat ini Disdikbud Lebak yang dipimpinnya tengah menginventarisir jumlah cagar budaya dan situs situs yang ada di Kabupaten Lebak, sebagai peninggalan sejarah. Salah satunya adalah situs Kosala yang terletak di pegunungan Kendeng yang memiliki keunikan tersendiri.

Situs Kosala, kata asep, terdiri dari lima undakan dengan arah timur-barat menghadapi puncak Gunung Kosala. Tidak jauh dari situs tersebut, terdapat kolam tempat mereka menyucikan diri sebelum melakukan aktivitas ritual.

Hal yang menarik untuk diamati di situs itu adalah, adanya jalan setapak yang terbuat dari batu pipih, bahkan ada yang dibuat membentuk tangga, menghubungkan antara satu undakan ke undakan berikutnya.

“Terdapat juga batu bulat yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan "Batu Pelor" karena bentuknya yang bulat menyerupai peluru, dan disekitar situs ditemukan arca setinggi 50 cm,” jelas Asep.

Selain banyaknya situs purbakala ditemukan di Kabupaten Lebak,salah satu seni budaya di Kabupaten Lebak yang sudah dikenal dan perlu pelestarian adalah, cagar budaya adat Baduy di Desa Kanekes,Kecamatan Leuwidamar, serta upacara Saren Taun di Kesepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber

Dijelaskan, Seren Taun atau perayaan panen padi adalah, tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang Kecamatan Cibeber secara turun temurun, sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil panen padi yang di berikan oleh sang khalik.

“Upacara Seren Taun merupakan ritual tahunan yang khusus digelar untuk memohon berkah dan memanjatkan rasa syukur atas pemberian alam, agar hasil tahun panen mendatang lebih meningkat,” kata Asep.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Lebak, Wawan Sukmara Widarana SE didampingi Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Seni Budaya, Ujang Supandi, menjelaskan, saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan kembali cagar budaya yang ada di Kabupaten Lebak, agar keberadaannya tetap lestari, sebagai kekayaan budaya lokal.

“Sekarang kita mengaktifkan kembali juru pelihara cagar budaya, meski dengan anggaran yang sangat terbatas,” ujar Wawan.

Saat ini, pihaknya mengaku baru mampu memberikan uang insentif kepada juru pelihara cagar budaya sebesar Rp 150 ribu per bulan, kepada 15 orang juru pelihara di 15 cagar budaya yang ada di Kabupaten Lebak.

“Kemampuan anggaran yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah,juga salah satu kendala dalam pelestarian dan promosi cagar budaya yang ada di Kabupaten Lebak,” pungkasnya.

Tenun Baduy Diminati Wisatawan

Lebak, Banten - Kerajinan tenun hasil produksi masyarakat komunitas adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati wisatawan karena warnanya berbeda dengan tenun lain di tanah air.

"Wisatawan yang berkunjung ke sini membeli kain tenun dengan jumlah banyak," kata Meti, seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Kamis.

Selama ini, permintaan tenun cukup tinggi, teruatama para wisatawan dari berbagai daerah yang melakukan perjalanan wisata budaya di kawasan Baduy.

Sebagian besar wisatawan domistik dari Jakarta, Bandung, Bogor dan Bekasi.

Mereka para wisatawan membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat.

Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

Biasanya, kata dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

Mereka para perajin merajut kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

"Kami sudah puluhan tahun menjadi perajin tentu dan bisa memenuhi ekonomi keluarga," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domistik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Adapun harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp70.000 sampai Rp350.000/busana.

"Selama ini banyak wisatawan domistik semakin mencintai produk Baduy," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi mengatakan, pihaknya terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy.

Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.

"Kami berharap kerajinan tenun Baduy itu dapat menyerap lapangan pekerjaan juga meningkatkan pendapatan ekonomi mereka," katanya.

Kain Tenun Baduy tarik Minat Wisatawan

Lebak, Banten - Wisatawan melirik kain tenun Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, karena memiliki nilai seni tradisional dan warnanya berbeda dengan tenun lain di tanah air. "Kami merasa kewalahan permintaan wisatawan untuk membeli tenun Baduy cukup banyak," kata Meti, seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Senin (27/10/2014).

Menurut Meti, selama ini wisatawan yang berkunjung dari berbagai daerah yang melakukan perjalanan wisata budaya di kawasan Baduy mereka tertarik kain Baduy. Wisatawan domestik yang datang ke sini ingin mengetahui kehidupan warga Baduy. Bahkan, banyak juga wisatawan membeli produk kerajinan Baduy dengan jumlah banyak. "Pengunjung membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni," katanya.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat. Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual manual.

Biasanya, lanjut Meti, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

Pengerjaan kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia. "Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan kerajinan kain Baduy itu," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali, mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domistik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Harga kain tenun dan pakaian batik Baduy tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000. "Kini banyak wisatawan domestik semakin mencintai produk Baduy," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi mengatakan, pihaknya terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy. Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.

Pemerintah daerah juga memperkenalkan tenunan hasil karya perajin Baduy pada pameran-pameran pembangunan yang diselenggarakan di Banten maupun DKI Jakarta.

Sebab kain tenun Baduy memiliki nilai tradisional dan hasil produk dalam negeri. Bahkan, sekarang produk kain dan batik Baduy sudah banyak dipakai oleh pegawai negeri sipil (PNS) remaja, usia lanjut dan siswa sekolah.

Mereka berbusana pakaian batik Baduy itu, selain digunakan untuk sehari-hari juga undangan. "Kami optimistis produk tenun Baduy itu bisa mendunia karena kualitasnya cukup bagus dan unik," katanya.

Warga Baduy Gelar Ritual Seba

Lebak, Banten - Warga Baduy yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, berdatangan ke Kota Rangkasbitung untuk menggelar ritual Seba di Pendopo Kabupaten Lebak, Jumat. Mereka mulai datang sejak pukul 14.30 WIB. Mereka datang secara berkelompok.

Warga Baduy menggelar ritual Seba untuk mengungkap syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki yang mereka terima selama satu tahun dan menjalin silaturahmi dengan pemimpin daerah.

Dalam ritual itu, mereka antara lain menyerahkan hasil Bumi seperti beras ketan, pisang, gula aren, petai, dan buah-buahan kepada Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya sebagai kepala pemerintah daerah.

Pimpinan Adat Tetua Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Jaro Dainah mengatakan tahun ini warga menggelar ritual Seba Gede.

"Kami setiap tahun wajib menjalin silaturahmi dengan Bapak Gede (Bupati) juga pejabat lainnya dengan acara ritual Seba," ujarnya.

Ritual Seba Gede tahun ini dihadiri sekitar 1.650 orang yang terdiri atas warga Baduy Penamping yang berpakaian serba hitam dan Baduy Dalam yang berpakaian serba putih.

Warga Baduy Dalam diperkirakan tiba di Rangkasbitung sekitar pukul 17.00 WIB karena mereka berjalan kaki sepanjang 36 kilometer untuk mencapai lokasi ritual.

Masyarakat Baduy Dalam yang tinggal di Kampung Cibeo-Cikeusik dan Cikawartana hingga kini berpergian ke mana pun dengan jalan kaki karena adat melarang mereka menggunakan kendaraan.

Seba dilakukan turun-temurun sebagai bentuk kesetiaan terhadap kepala pemerintahan. "Selain itu, juga menyampaikan pesan kepada Bupati Lebak sebagai kepala pemerintah daerah," kata Jaro.

Ritual itu dilakukan setelah warga Baduy menjalankan tradisi Kawalu, puasa selama tiga bulan dan menutup diri dari warga luar.

Kepala Bagian Umum Sekertariat Daerah Kabupaten Lebak Ahmad Agianto Tahir mengatakan pemerintah daerah mendukung warga Baduy menjalankan tradisi ritual mereka.

"Kami akan memberikan pelayanan terbaik kepada warga Baduy yang menggelar perayaan Seba itu," katanya.

Tradisi Kawalu, Wisatawan Dilarang Masuki Baduy Dalam

Lebak, Banten - Wisatawan nusantara maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, karena sedang melaksanakan tradisi kawalu kedua atau "bulan karo".

"Kami meminta wisatawan menghormati dan menghargai keputusan adat karena masyarakat Baduy Dalam sedang menjalani ritual adat peninggalan nenek moyang itu," kata Koordinator Pemandu Wisata Baduy, Danil Ismundaru di Lebak, Rabu (26/3/2014).

Danil mengatakan, selama tiga bulan warga Baduy Dalam menjalankan tradisi ritual kawalu dengan puasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera.

Tradisi kawalu tersebut berlangsung sejak nenek moyang. Saat ini mereka sudah melaksanakan kawalu kedua dan April nanti memasuki kawalu ketiga.

Selama perayaan kawalu, wisatawan nusantara maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik.

Mereka menjalankan tradisi kawalu penuh khusyuk dan penuh sederhana. Warga Baduy sambil berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera.

"Kalau negara ini aman dan damai tentu masyarakat akan sejahtera," katanya.

Menurut Danil, larangan tersebut juga telah dipasang peringatan di pintu gerbang Baduy di Ciboleger agar pengunjung menaati hukum adat.

Sebab, tradisi kawalu warisan nenek moyang yang harus dilaksanakan setiap tahun, dirayakan tiga kali selama tiga bulan dengan puasa seharian.

Perayaan kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Baduy Dalam sehingga perlu menghargai dan menghormati keyakinan agama yang dianut mereka.

"Selama melaksanakan kawalu, kondisi kampung Baduy Dalam sepi karena mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di rumah-rumah," katanya.

Ketua Wadah Musyawarah Masyarakat Baduy, Kasmin Saelan mengatakan, selama kawalu perkampungan Baduy Dalam tertutup bagi pengunjung, sekalipun itu pejabat daerah ataupun pejabat negara.

Mereka menjalankan kawalu karena peninggalan adat yang turun temurun dan harus dilaksanakan.

Setelah berakhir perayaan kawalu, lanjut Kasmin, tentu pengunjung kembali diperbolehkan mendatangi kawasan Baduy Dalam.

Dia menjelaskan, setelah kawalu, satu bulan yang akan datang merayakan acara 'seba' dengan mendatangi bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian).

"Setiap 'seba' mereka masyarakat Baduy akan membawa hasil pertanian ladang, seperti gula merah, pisang dan petai," katanya.

Budaya Badui Potensi wisata dunia

Lebak, Banten - Tokoh muda Lebak Akhmad Kusaeni mengatakan budaya Badui yang berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten bisa dijadikan wisata dunia sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.

"Kita memiliki kawasan Badui yang bisa dijadikan objek wisata sejarah dunia dan budaya orang-orang asli," kata Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara Akhmad Kusaeni saat menghadiri Hari Jadi Lebak ke-185 di Rangkasbitung, Senin.

Ia mengatakan, pemerintah daerah ke depan nantinya membangun pusat wisata budaya Badui. Di sana dibangun infrastruktur, hotel dan pusat perdagangan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Sebab Lebak memiliki kelebihan dibandingkan Singapura karena terdapat kawasan suku Badui.

Selama ini, kata Kusaeni, konservasi Badui belum dimanfaatkan untuk kepentingan wisata sebagaimana kawasan Aborigin di Australia, suku Amish di Amerika Serikat, atau suku Incha di Manchu Pichu Peru.

Membangun wisata sejarah Badui menjadi objek wisata dunia bukan mengada-ada. Ini bisa dikaitkan dengan konsep konservasi Jembatan Selat Sunda (JSS).

Kalau di Lampung dibangun kawasan konservasi Tambling, maka kita bisa minta konsesi kepada pengembangan JJS untuk membangunkan konservasi Badui.

"Saya kenal baik dengan penggagas JJS, saya bisa bantu sambungin untuk menyampaikan gagasan ini," katanya.

Menurut Kusaeni, semuanya berawal dari mimpi dan impian itulah yang diihtiarkan jadi kenyataan. Kita harus berani bermimpi, dan mimpi harus besar.

Jangan setengah-setengah. Kalau saja Wright bersaudara tidak bermimpi bahwa manusia bisa terbang seperti burung, tidak mungkin kita menemukan pesawat terbang.

Kalau saja raja-raja Majapahit tidak bermimpi memiliki sebuah monumen yang menjadi warisan mereka, maka tidak mungkin ada Candi Borobudur.

"Bermimpilah untuk segala kebaikan untuk Lebak, maka itu akan terjadi. Man jada wajadda," katanya.

Ia menyebutkan, untuk semua itu bisa terjadi, kuncinya adalah pendidikan. Contohlah Jepang.

Ketika bom atom menghancurkan Hirosima dan Nagasaki, pertanyaan pertama Kaisar Jepang adalah: "Berapa banyak guru yang selamat, berapa banyak sekolah yang tidak hancur"?

Itu suatu bukti, bahwa kaisar ingin membangun kembali Jepang dari kehancuran melalui pendidikan.

Dan dalam waktu singkat Jepang berhasil bangkit kembali.

"Kami memberikan apresiasi terhadap Dinas Pendidikan Lebak dengan membuka sekolah-sekolah baru untuk meningkatkan sumber daya manusia," demikian Kusaeni.

-

Arsip Blog

Recent Posts