Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan

Anggota DPD Ajukan Korupsi Tator ke KPK

MAKASSAR--Tim anti korupsi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menindaklanjuti delapan kasus korupsi yang terjadi di lima provinsi, yakni Sulsel, Jambi, Sumatra Utara, Papua, dan Sultra.

Salah satu kasus itu yakni korupsi anggaran dana APBN Tana Toraja (Tator) 2004 sampai 2006 sebesar Rp1 miliar.

Hal ini dikemukakan Anggota DPD/MPR RI, Benyamin Bura, kepada Upeks, Jumat (4/4) saat pertemuan bersama pengurus LSM Matras, Lembaga Adat Toraja, wartawan, dan mahasiswa 45 dan Unhas di restoran Istana Laut. Selain membahas kasus korupsi, Benyamin juga menjelaskan komitmen DPD kepada masyarakat untuk mengatasi kasus korupsi.

"Ini kami lakukan karena korupsi semakin meresahkan masyarakat. Sehingga dapat tercipta bangsa menjadi negara bersih dan berwibawa. Kami juga tetap mengawasi pengelolaan dana APBN jangan sampai pihak-pihak legislatif sendiri yang mengambil uang rakyat," tambah Benyamin.

DPD sendiri mempunyai tugas mengontrol mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan dan pemeriksaan hasil audit penggunaan dana APBN tersebut kemudian di tindak lanjuti.

Misalnya tindak korupsi di daerah-daerah yang merupakan kasus lama ataupun kasus yang meresahkan masyarakat. Ini dengan tujuan untuk menjadikan negara yang bersih dari penyelewengan dana. Selain itu, juga memperjuangkan daerah untuk memperoleh dana dekonsentrasi.

Dana ini akan diberikan ke daerah sehingga pemimpin daerah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, DPD bekerja sama dengan KPK dalam hal tukar data dan informasi, penerima pengaduan, pelaporan gratifikasi, pelaporan penyelenggaran harta negara, tindak korupsi di daerah, melakukan pelatihan dan pendidikan, dan juga sosialisasi kepada masyarakat. (mg03/aka/C)

Sumber: Ujungpandang Ekspres, Sabtu, 5 April 2008

Seniman Makassar Mainkan Teater Klasik Musang Berjanggut

Makassar, Sulsel - Sekumpulan seniman gaek yang tergabung dalam Sinerji Teater Makassar akan memainkan pertunjukan teater bertajuk “Musang Berjanggut” di Gedung Kesenian Societet de Harmonie Makassar, 23-25 Oktober 2016.

Musang Berjanggut merupakan karya naskah klasik melayu yang sudah dimainkan dalam berbagai versi sejak puluhan tahun lalu.

“Naskah Musang Berjanggut akan dimainkan dengan gaya klasik sebagai pewarna baru dalam sajian pertunjukan seni di kota Makassar,” kata sutradara pertunjukan, Yudhistira Sukatanya.

Pimpinan produksi pertunjukan, Soeprapto Budisantoso mengatakan teater kali ini akan melibatkan puluhan seniman yang sudah lama bergelut dengan seni pertunjukan. Mereka rata-rata telah bermain di atas panggung sejak usia muda hingga kini.

“Para seniman kawakan yang sudah berpuluh tahun mendedikasikan diri pada dunia seni sepakat untuk kembali bekerjasama dalam sebuah proyek spesial ini,” ujar Soeprapto.

Naskah Musang Berjanggut karya Djamalul Abidin bercerita tentang seorang raja muda yang ingin mencari pasangan hidup. Pencarian membawanya pada suatu pengembaraan dan bertemu dengan gadis idaman. Cerita ini mengajarkan nilai-nilai peradaban melayu dahulu kala dan kearifan.

Salah satu perupa yang juga kerap main diatas panggung, Is Hakim menyebut keunikan naskah membuatnya tertarik ikut ambil bagian dalam pertunjukan. “Teater digarap dengan genre komedi yang menyentil tetapi pesan moralnya masih sangat relevan dengan kondisi kekinian. Seperti bagaimana tiga godaan besar, tahta harta dan wanita yang bisa menggerogoti pemerintahan kita," katanya.

Pertunjukan akan digelar dua kali sehari, yakni pukul 16.00 WITA dan 19.00 WITA. Tiket bisa diperoleh di lokasi sebelum pertunjukan berlangsung.

Saat Taruna Asean Belajar Budaya Bugis-Makassar

Makassar, Sulsel - Taruna Asean atau Asean Cadet Sail akan mempelajari kebudayaan beberapa suku di Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis dan Makassar.

Kepala Departemen Ilmu dan Teknologi Akademi Angkatan Laut, Isworo mengatakan pihaknya akan berada di Sulsel hingga 23 September. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke Balikpapan untuk mempelajari suku Daya dan Banjar nya.

"Kita melakukan pelayaran bersama antara seluruh cadet asean ke beberapa destinasi kebudayaan di nusantara. Diantaranya di Lombok dengan suku sasaknya, Bali dengan suku Bali-nya, kemudian Ujung Pandang dengan suku Makassar dan Bugis-nya. Nanti akan ke Balikpapan dengan suku Dayak dan Banjar-nya, dan terakhir ke Semarang dengan suku Jawa-nya," jelasnya seusai bertemu dengan wakil Gubernur Sulsel di Kantor Gubernur, Selasa (20/9/2016).

Adapun Taruna Asean yang ikut melakukan pelayaran ini terdiri dari perwakilan 8 negara Asean. Dengan masing-masing empat Cadet dan satu Perwira Pendamping.

"Bruney dan Laos cancel. Seain dua itu semua negara di Asean ikut. Dengan tujuan menanamkan kebersamaan Asean pada generasi muda kita," kata Isworo.

Rencananya, para taruna ini juga akan mengunjungi wisata Bantimurung, kemudian masuk di Leang-leang. Juga akan mengunjungi Benteng Rotterdam.

SCW Soroti Polres Wajo

MAKASSAR--Society Corruption Watch (SCW) mempertanyakan kinerja penyidikan yang dilakukan penyidik Polres Wajo terhadap berkas perkara 'mantan tersangka kasus dugaan penyelewengan proyek pengerasan jalan poros Menge-Tancung Purai Wajo, Ir Johny Peohoa MM dan H Pateddungi.

Pasalnya berita acara pemeriksaan (BAP) dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (kejari) Sengkang, penyidik diduga telah mengubah status kedua orang tersebut menjadi saksi. Sebelumnya, Ir Johny Peohoa MM, mantan Kadis PU-PE Wajo dan pimpronya H Pateddungi telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Wajo.

"Perlu dipertanyakan ada permainan apa, sehingga orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, bahkan sudah ditahan oleh polisi, kemudian BAPnya tidak dilimpahkan. Berarti ada sesuatu yang tidak beres," tandas Direktur Eksekutif SCW, Arifuddin Mane SE SH MH, Kamis (14/9) kemarin.

Arifuddin mengatakan penyidik Polres Wajo harus konsisten dalam melakukan penyidikan, dan memperlakukan setiap tersangka kasus korupsi sama di hadapan hukum. Menurutnya, wajar bila kemudian Kejari Sengkang mengembalikan (P-18) BAP tersebut karena ada hal yang tidak wajar sesuai logika hukum.

"Seharusnya polisi tetap melengkapi BAP dengan mengikuti petunjuk jaksa. Jangan kemudian inkosisten dengan apa yang sudah ditetapkannya sendiri," tegas Arifuddin kembali. (Silisuli)

Sumber: Ujungpandang Ekspres, 15 September 2006

Dugaan Korupsi Rp 18,12 Miliar di DPRD Sulawesi Selatan Ditangani Polisi

Makassar, Kompas - Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan tidak akan campur tangan dan tidak akan ikut melakukan penyidikan terkait kasus dugaan korupsi sebesar Rp 18,12 miliar di DPRD Sulsel. Pasalnya, sejak awal pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut. Kejaksaan hanya menunggu hasil penyidikan polisi dan siap melanjutkannya dalam kapasitas sebagai penuntut umum.

Demikian ditegaskan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel Prasetyo kepada wartawan di Makassar, Kamis (22/7), seusai Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-44.

"Kami khawatir akan terjadi tumpang tindih di lapangan, jadi untuk penyidikan kasus ini kami tidak akan ikut campur. Kami akan menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk melakukan penyelidikan karena mereka yang menangani sejak awal. Kami akan menunggu hasilnya dalam kapasitas sebagai penuntut umum," ungkap Prasetyo.

Ditambahkan, sebenarnya untuk menangani kasus dugaan korupsi ini sudah dibentuk Tim 15, di antaranya kepolisian dan kejaksaan. "Tetapi, kejaksaan tidak ikut dalam penyidikan, kami percayakan saja pada polisi," tandasnya.

Pertengahan Juni lalu, koalisi masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok lembaga swadaya masyarakat, akademisi, badan eksekutif mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, pengacara, termasuk lembaga bantuan hukum, melaporkan dugaan korupsi DPRD Sulsel ke Kejati Sulsel. Koalisi itu menuntut kejaksaan segera bertindak menangani kasus ini. Tetapi, hingga kini kejaksaan belum turun tangan.

Izin Mendagri

Sementara itu, polisi yang bekerja menangani kasus tersebut juga cukup terhambat karena izin dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk memeriksa anggota DPRD belum turun.

Menurut Kepala Kepolisian Daerah Sulsel Irjen Saleh Saaf, pihaknya sudah mengirim surat ke Mendagri untuk memeriksa 13 anggota DPRD, sejak tiga pekan lalu. Sampai kini pemeriksaan tim penyidik Polda Sulsel baru sebatas memeriksa saksi-saksi, di antaranya pejabat dan mantan pejabat Sulsel.

Abraham Samad, Ketua Anti Corruption Committee, salah satu LSM yang melaporkan kasus ini ke kejaksaan menyatakan, saat ini pihaknya bersama Koalisi Masyarakat Anti Korupsi mempersiapkan bukti- bukti baru untuk dibawa ke penyidik kepolisian.

Kendati belum merinci bukti- bukti baru itu, Abraham menyebutkan bukti ini akan dibawa ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bukti baru itu juga dipersiapkan bila polisi tidak menuntaskan kasus ini.

"Untuk alasan keamanan, kerahasiaan dan kemungkinan bukti-bukti baru ini dikaburkan, saya belum akan mengatakannya. Bukti ini siap kami bawa ke KPK kalau ternyata kasus korupsi ini dipetieskan," ungkapnya.

Sejumlah LSM dan pengamat keuangan menilai terjadi manipulasi APBD Sulsel khususnya dalam pos anggaran DPRD Sulsel yang totalnya Rp 18,12 miliar. Selain penggelembungan, sejumlah pos anggaran yang dibuat menyalahi Peraturan Pemerintah Nomor 110/2000 tentang Keuangan DPRD. (REN)

Sumber : kompas.com : Jumat, 23 Juli 2004

Mahasiswa Asia dan Eropa Bakal Belajar Budaya Khas Sulsel di Unismuh

Makassar, Sulsel - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali melakukan gebrakan dengan mencanangkan program Summer Course pada pertengahan September 2016 mendatang.

“Program ini nantinya akan melibatkan mahasiswa dari berbagai negara Asia dan Eropa dengan maksud mengajarkan Seni dan Budaya Indonesia, khususnya budaya khas Sulawesi Selatan,” kata Erwin Akib, Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Unismuh, Selasa (12/7/16).

Erwin menambahkan, bahwa program Summer Course ini akan berlangsung kurang lebih 15 hari yang metode pembelajarannya akan dilaksanakan di kelas dan juga Camp di kawasan wisata yang ada di Sulawesi Selatan.

“Kegiatan Summer Course ini merupakan implementasi dari program yang ditawarkan pada hibah PKKUI yang didapatkan Unismuh beberapa waktu yang lalu,” ujarnya.

Bupati Enrekang Diadukan Ke Kejati

MAKASSAR--Societes Corruption Watch (SCW) mengadukan Bupati Enrekang, Iqbal Mustafa, kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel sehubungan dengan dugaan kasus pembangunan Pasar Baraka. Rombongan yang terdiri dari belasan orang itu, diterima Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Alex Sato Bya SH di aula Kejati Sulsel, Rabu kemarin.

Alex Sato Bya di depan demonstran mengatakan bahwa untuk mengusut sejumlah kasus korupsi di Enrekang, kejaksaan mengalami kesulitan. "Terus terang, jaksa di Enrekang masih sedikit. Saya telah berkali-kali mengajukan ke Jakarta untuk mengangkat jaksa di Enrekang," katanya.

Keterbatasan jaksa, katanya, tidak menyebabkan kasus korupsi di Enrekang dibiarkan begitu saja. "Kami tetap melakukan pengusutan dengan memaksimalkan kemampuan yang ada," tegasnya.

Tentang laporan dugaan korupsi dari SCW, Alex mengatakan akan membentuk tim untuk menindaklanjutinya. "Tiap ada laporan korupsi kami akan tindaklanjuti dengan membentuk tim. Tidak ada kasus korupsi yang ditangani perorangan," urainya.

SCW mengadukan dugaan korupsi Iqbal Musfata tentang pembangunan Pasar Baraka. Menurut Sekretaris SCW Andi Rizal, pembangunan pasar tersebut tidak sesuai dengan bestek dan tidak sesuai dengan anggaran yang semestinya.

Dugaan penyimpangan lain yang dilaporkan SCW kepada Kejati Sulsel menyangkut penetapan pelaksana proyek pembangunan Pasar Baraka yang tidak melalui tender. "Bupati Iqbal langsung menunjuk pelaksana dari keluarganya sendiri," ungkap Rizal.

Untuk pembangunan pasar tersebut kata Rizal, jumlah anggaran yang diduga bermasalah sebanyak Rp 3,72 miliar. Bupati Iqbal Mustafa, belum bisa dihubungi untuk dikonfirmasi tentang tuduhan yang dilaporkan SCW ke Kejati itu.

SELESAIKAN 72 KASUS

Pada kesempatan tersebut, Alex Sato Bya menyampaikan bahwa untuk menuntaskan kasus korupsi tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu satu minggu.

Selama dia menjabat Kepala Kejati Sulsel katanya, sudah menyelesaikan 40 persen dari 72 kasus koruspi yang 'diwariskan' Kepala Kejati sebelumnya. "Saat saya mulai menjabat di sini (Kajati Sulsel, Red), saya diwarisi 72 kasus korupsi," urainya.

Untuk menuntaskan, sejumlah kasus korupsi yang belum diselesaikan, katanya, Kejati Sulsel akan melakukannya secara marathon. "Sampai Oktober diusahakan selesai 20 persen lagi," ujarnya.

Menurut dia tidak ada kasus korupsi yang masuk di Kejati Sulsel yang tidak diselesaikan. Namun demikian harus diakui, untuk menyelesaikan sejumlah kasus korupsi tersebut butuh waktu karena Kejati menyelesaikan berdasarkan skala prioritas. "Kasus yang membutuhkan perhatian orang banyak, kami dahulukan. Seperti kasus bom Makassar kami genjot," urainya.

Alex tidak setuju kalau jaksa dianggap tidak profesional dalam menyelesaikan sejumlah kasus yang ditanganinnya. Ketika seorang demonstran menyatakan jaksa tidak profesional, Alex langsung meninggalkan tempat dengan wajah tegang. (fj/jpnn)

Sumber: Radar Sulteng, Jumat, 15 Agustus 2003

Sudah di Atas Ranjang, Tinggal Dorong.. Eh, Pasangan Mesum Digerebek

Makassar, Sulsel - Sepasang remaja kembali diamankan Dinas Sosial bersama tim gabungan dari Satpol-PP dan Polrestabes Makassar yang melakukan razia penyakit masyarakat (pekat), Sabtu (2/7/2016) malam.

Berdasarkan pantauan Rakyatku.com, para petugas yang melakukan razia di Wisma Seven Jalan Sungai Sadang, sempat dibuat menunggu oleh salah satu penghuni kamar.

Saat pintu dibuka secara manual, kedua pasangan yang masih berumur belasan tahun ini sedang berduaan diatas ranjang sambil ditutupi selimut. Saat diperiksa keduanya sudah mengenakan pakaian dalam.

Keduanya pun diamankan tim gabungan dari Satpol-PP Makassar dan Polreatabes Makassar yang melakukan razia. Dari tangan pasangan mesum ini petugas juga menemukan kondom yang akan digunakan pasangan lelaki.

Saat diamankan, pasangan perempuan mencoba melakukan perlawanan kepada petugas, bahkan ia sempat memaki-maki petugas.

"Kenapa kalian ini, saya bisa keluar sendiri tidak usah dipaksa-paksa. Salah kah kalau sama pacar cuman duduk dikamar," kata Wanita yang mengenakan baju kuning.

Walkot Makassar Pamerkan Batik Lontara Kreasi Sendiri di Denmark

Makassar, Sulsel - Wali Kota Makassar Ramdhan "Danny" Pomanto memamerkan baju batik Lontara saat menghadiri malam syukuran "Credential" atas penerimaan Ratu Denmark pada Duta Besar Indonesia Ibnu Said di kantor KBRI kota Kopenhagen, Selasa (7/6) malam waktu setempat.

Baju batik yang dikenakan Danny berwarna dasar putih bertuliskan "Batturatema ri Bulang" menggunakan aksara kuno Makassar, Lontara, yang berarti "Saya Sudah Pernah ke Bulan", yang dipadu motif daun pohon Lontar. Batik yang dikenakannya ini hasil kreasi Danny sendiri yang berlatarbelakang arsitek.

"Saya diminta oleh warga Indonesia di Denmark untuk getol mempromosikan batik Lontara yang saya gunakan sebagai kebanggaan Makassar di Denmark untuk memberitahu masyarakat dunia bahwa di Indonesia, bukan hanya batik dari Jawa, tapi ada juga batik Lontara yang memiliki desain kreatif," ujar Danny pada Detikcom.

Danny menambahkan, batik Lontara hasil kreasi anak muda Makassar ini beragam motif dan penyimbolan yang bermakna tentang kearifan lokal adat Bugis-Makassar.

Jamuan makan malam bersama Dubes RI untuk Kerajaan Denmark di kantor KBRI Kopenhagen dimulai dengan buka puasa ini. Beragam kuliner nusantara disajikan, mulai dari Soto Ayam, Dendeng Balado, Tumis Tahu dan Ambengan. Puasa berdurasi 20 jam di Denmark pun terobati.

Danny berada di Kopenhagen bersama Kabag Humasnya, Firman Pagarra untuk menghadiri Konferensi Global Green Growth Forum (3GF), selama dua hari (6-7/6), atas undangan pemerintah Denmark. Sebelumnya Danny menghadiri Makassar Day di Solidario Indonesia yang digelar KBRI di Madrid, Spanyol.

Wali Kota Makassar Ajari Anak-anak Spanyol Tari Ganrang Bulo Makassar

Makassar, Sulsel - Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto turun tangan langsung memperkenalkan sejumlah kesenian Makassar seperti Tari Ganrang Bulo kepada anak-anak di Madrid, Spanyol.

"Tari Ganrang Bulo memang dimainkan oleh anak-anak di Makassar dan Ganrang Bulo ini juga diperkenalkan di Spanyol. Ternyata, anak-anak di Madrid suka dengan tarian ini," ujar Kabag Humas Makassar Firman Hamid Pagarra melalui WhatsApp Spanyol-Makassar, Senin.

Pengenalan kebudayaan, kesenian dan kuliner pada warga Spanyol itu dilakukan pada kegiatan Solidario Indonesia yang dibingkai dalam Makassar Day di Madrid, Spanyol, oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Ganrang bulo sendiri merupakan tarian simbol keceriaan orang-orang Makassar yang di dalamnya diselipkan berbagai humor yang membuat para penontonnya tertawa.

"Dulu, tarian ini merupakan pembangkit semangat perjuangan yang kemudian menjadi kesenian rakyat yang amat populer dan hingga saat ini masih diminati," ucap Wali Kota Ramdhan Pomanto saat memberikan sambutan di Makassar Day, Spanyol.

Wali kota berharap keceriaan dan keramahan orang-orang Makassar bisa dikenalkan melalui momen seperti ini sehingga kedatangan wisatawan mancanegara bisa meningkat utamanya dari negeri Matador tersebut.

Hari pertama pembukaan Makassar Day ini berlangsung sangat meriah. Terlihat masyarakat Madrid begitu antusias memadati dan menyaksikan aneka pertunjukan kebudayaan serta kesenian Makassar.

Tidak ketinggalan mereka juga tampak mengantri sekedar untuk mencicipi kuliner Makassar seperti sate, konro, coto, dan onde-onde yang disuguhkan beserta cara membuatnya. Selain Duta Besar Indonesia untuk Spanyol, Yuli Mumpuni hadir pula Duta Besar Indonesia untuk India.

"Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto menyatakan ingin menjadikan Makassar seperti Singapura dalam hal menyedot kunjungan wisatawan mancanegara," ujar Firman.

Singapura berhasil mengembangkan industri pariwisatanya dan banyak menyedot minat para turis internasional kata Firman karena didesain dengan begitu baik.

Karena itu, ia menilai jika Makassar didesain secara kreatif dan diperkenalkan melalui kegiatan yang sama di berbagai tempat maka pastilah mampu menjadi magnet wisatawan untuk berkunjung ke kota ini.

Mahasiswa Flores Timur Pentaskan Budaya 4 Etnis

Makassar, Sulsel - Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Boleng Tika Timu (FKPPM-BTT) Flores Timur mengadakan pentas seni di Gedung PKK Kota Makassar, Jl Anggrek, Makassar, Minggu (5/6/2016).

Acara yang mengangkat tema revitalisasi kultur kearifan lokal sebagai upaya pembagunan moral bangsa, ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal, Budayawan Sulsel Prof Ihsan Ngeljeratan, perwakilan Polda Sulselbar, dan perwakilan Pemerintah Flores Timur.

Ketua Umum FKPPM-BTT Fitria Dahlan mengatakan dilaksanakannya kegiatan ini untuk mempertahankan budaya-budaya lokal yang kian hari nampak pudar oleh budaya-budaya asing.

Ia mengungkapkan kegiatan ini merupakan langkah awal, dari FKPPM BTT mempertahankan nilai -nikai budaya lokal.

Pentas Seni ini diselenggarakan, atas kerjasama dengan perwakilan komunitas budaya Makassar, Toraja, Bugis, dan Mandar.

Berbagai budaya disuguhkan dalam pentas seni ini, diantaranya tarian NTT dan Toraja, Teatrikal, musikalilsasi Puisi, dan nyanyian daerah mulai dari lagu NTT, Bugis, Makassar.

"Dengan kolaborasi ini kami yakin, budaya lokal akan tetap berjaya dimasa yang akan datang," ujar Fitria.

Fitria menambahkan, alasan sehingga melibatkan komunitas Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar sebagai penghormatan kepada warga lokal Makassar, selaku tuan rumah.

"Ini bentuk penghargaan kami," ujarnya.

Wakil Walikota Makassar Syamsu Rizal saat mengataka apresiasinya atas kegiatan pentas seni yang digelar.

Menurutnya hal ini menambah kekayaan budaya di kota Makassar.

Ia menuturkan Makassar dapat tumbuh dan berkembang karena banyaknya suku yang masuk dan tinggal di Makassar.

"Identitas semua suku sudah sama jika telah tinggal di Kota Makassar, Tidak ada lagi perbedaan suku, ras dan agama," katanya.

Keturunan Kesultanan di Singapura Ikut Hadiri Penobatan Maddusila Jadi Raja Gowa

Makassar, Sulsel - I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II secara resmi telah menjadi raja Gowa ke-37, Minggu (28/5/2016).

Hal tersebut ditandai dengan acara penobatan raja Gowa ke-37, yang dilangsungkan di Ballroom Krakatau Hotel Horison, Jl Jend Sudirman Makassar, Sulawesi Selatan.

Acara penobatan ini dihadiri puluhan raja-raja dari berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan, maupun dari luar.

Mereka di antaranya Brigjen Pol Edward Syah Pernong (Raja Skala Bral Lampung), Tengku Shawal (keturunan Sultan di Singapura), dan Prabu Suryodilogo (Raja Pakualaman Yogyakarta).

Maddusila mengatakan, penobatan ini adalah prosesi adat istiadat kerajaan Gowa yang harus terus dilestarikan.

"Tradisi-tradisi adat istiadat seperti ini harus terus kita lestarikan untuk memperkuat NKRI, karena NKRI ada karena peranan para sultan dan raja terdahulu kita," kata dia.

Ia pun kembali menegaskan bahwa yang boleh dinobatkan menjadi seorang raja hanyalah orang yang memiliki garis keturunan raja.

"Seseorang yang diangkat menjadi raja haruslah orang yang memiliki garis keturunan raja," tegas dia.

Saat ini, kedudukan Raja Gowa masih menjadi polemik dan diperebutkan oleh Maddusila selaku keturunan raja dan Pemerintah Kabupaten Gowa, dalam hal ini Bupati Gowa Adnan Purichta.

Menengok Budaya Lontara di atas Selembar Kain Batik

Makassar, Sulsel - Kenapa Makassar tak memiliki batik seperti daerah lainnya? Andi Bau Aisha Jeanni menjawabnya dengan mengembangkan batik Lontara, merujuk corak budaya Bugis.

Di usianya sudah 62 tahun tak menyurutkan Andi menggoreskan kuas dan canting ke atas selembar kain berukuran dua meter yang sebelumnya sudah terpola motif Lontara.

Kemampuan membatik Aisha diperolehnya saat masih kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada 1975. Jurusan bahasa Inggris yang ia ambil memang tak berhubungan dengan aktivitas membatiknya.

"Saat kuliah itu saya sering ke rumahnya Pak Bagong Kussudiardja, ayah Butet Kartaredjasa untuk belajar membatik," Aisha memulai ceritanya kepada Tribun Timur di beranda rumahnya di Jalan Gunung Nona, Lorong 33, No 35, Kelurahan Pisang Selatan, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Senin (2/5/2016).

Selama kurang lebih dua bulan, saban sore jika sedang tak ada aktivitas, Aisha selalu belajar membatik bersama teman-temannya di rumah Bagong.

Batik Lontara Aisha kembangkan pada 2013, terinspirasi ketika berbagai daerah di Indonesia memilik batik, tapi Makassar tidak. Akhirnya Lontara diambil sebagai motif karena memiliki keunikan.

"Saya sempat buat motif Toraja, tapi kalau dilihat ternyata motifnya hampir sama dengan motif budaya Batak dan Papua. Makanya saya coba Lontara karena saya anggap unik," beber perempuan bertudung itu.

Untuk membuat satu kain batik berukuran dua meter, Aisha memerlukan waktu satu sampai dua minggu, tergantung tingkat kesulitannya.

Dalam membuat kain batik itu ia masih memakai cara dan peralatan sederhana: menggambar motif, mencanting, mencolet, menutup malam, mewarnai, lalu melorot dan semua peralatannya masih sederhana.

Selama proses pembuatan batik Lontara ia dibantu dua karyawan yang sudah dilatih membuat batik.

Meski memiliki produk yang terbilang unik, hingga kini Aisha mengaku peminat batik Lontara masih sangat kurang. Ia hanya membuat beberapa saja untuk mengisi waktu luangnya.

"Saya bikin sesuai pesanan orang saja. Saya bikin kalau orang ada yang mau, karena saya tidak tahu mau dijual di mana," kata Ketua Pokja III PKK Kecamatan Ujung Pandang ini.

Meski begitu, bukan berarti batik Lontara buatan Aisha tidak laris. Ia mengaku beberapa lembar kain batiknya pernah dibeli turis mancanegara yang datang ke Makassar, Sulawesi Selatan.

"Batik Lontara lebih disukai warga negara asing daripada orang-orang Indonesia sendiri. Mereka berpikir mau diapakan sih batik ini, toh ada batik yang lebih bagus," sambung dia.

Ia tak memiliki cara khusus mempromosikan batiknya itu. Cara yang dipakai sekaranya getok tular alias dari mulut ke mulut, toh cukup efektif meski implikasinya belum terlihat benar.

Belakangan usahanya sedikit terbantu berkat Camat Ujung Pandang, Muhamamd Syarief. Ia diminta Syarief membikin batik Lontara untuk kemudian akan dia beli sendiri.

Wanita berdarah Bone ini kadung cinta kesenian sejak dulu. Ia sering membuat percobaan-percobaan sendiri untuk menghasilkan kerajinan tangan. Aisha enggan berdiam diri dan selalu membuat motif lain.

"Saya harap pemerintah mau bantu pengusaha kerajinan lokal untuk melestarikan kebudayaan, supaya budaya kita eksis di dunia internasional. Apalagi banyak yang tertarik," selama ini Aisha mengaku memakai modal pribadi.

Ia mengeluh karena tak ada generasi muda yang tertarik pada kesenian membatik Lontara, bahkan keponakannya masih belum terlalu tertarik. Kebanyakan alasan anak muda zaman sekarang, membatik membosankan.

"Sangat disayangkan para generasi muda cuma pikir kuliah, tidak ada jiwa mempertahankan budaya lokal," kata dia yang terus berharap batik Lontara dapat menggugah generasi muda mengangkat budaya lokal.

Terlepas sepi peminat, Aisha terus menggoreskan canting dan kuasnya untuk membuat batik bermotif Lontara. Produknya mulai dikemas khusus untuk lebih menarik para pembeli.

Batik Balla Sari Motif Lontara, begitu Aisha menamakan batiknya. Satu lembar batik ia jual Rp 400 ribu sampai Rp 1 juta. Ia berharap dapat mengembangkan bisnisnya dan membuka pasar lebih luas.

"Prinsip saya, pertahankan pendapat sendiri meski orang tak menyukai, apapun karyamu yang sudah kau buat dengan keyakinan sendiri," kata Aisha.

Raja-Sultan deklarasikan perjanjian Adat Indonesia Bersatu

Makassar, Sulsel - Sebanyak 14 Kerajaan serta Kesultanan se Nusantara mendeklarasikan Perjanjian Adat Indonesia Bersatu guna memerangi bersama Terorisme, Narkotika dan Korupsi di hotel Aryaduta Makassar, Sulawesi Selatan.

"Deklarasi ini merupakan komitmen kami untuk turun tangan, karena sudah menjadi kewajiban kami memberantas musuh negara," sebut Sultan Tallo ke-XIX, I Paricu Muhammad Akbar Amin Sultan Aliyah Daeng Manaba Karaengta Tanete dalam acara tersebut, Sabtu.

Hadir pada kesempatan itu ada14 kerajaan dan kesultanan se Indonesia seperti Kerajaan Sambalung, Gunung Tabur, Atjeh Darussalam, Salaparang di Lombok, Tiworo Muna, Tai Woi, Moroneme Rumbia, Manggarai dan Fak-fak.

Kemudian Kesultanan lainnya yakni Taliwang, Bulungan, Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Demak, serta Buton. Sementara dari kerajaan negeri tetangga, yaitu Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Sejumlah kerajaan lain yang masuk daftar Dewan Adat Nusantara dilantik

Pertemuan Raja-raja dan Kesultanan digagas Dewan Adat Nasional, Perintis dan Generasi Kemerdekaan Republik Indonesia serta Kesultanan Kerajaan Tallo. Hadir pula Mendagri Tjahjo Kumolo, anggota DPR Akbar Faisal dan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Numang serta undangan lainnya.

Menurut Sultan Tallo ke-XIX, Dewan Adat Nusantara wajib mengambil bagian dari penyelamatan bangsa dan negara serta memberikan konstribusi bagi pembagunan bangsa salah satunya dengan melawan musuh terkait dengan terorisme, narkotika dan perilaku korupsi.

"Kami wajib berperang dan memberantas musuh negara itu karena sudah menyerang semua lini bukan hanya kalangan bawah tetapi hingga kalangan menengah keatas," tambahnya.

Deklarasi ini dikukuhkan dalam piagam istiadat bersama dengan bertandatangan kerajaan dan kesultanan sebagai bentuk peran serta memerangi ancaman terorisme, peredaran narkotika dan mencegah perilaku korupsi.

Sementara itu Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Numang mengatakan perjanjian bersama para pemangku adat Nusantara itu akan menjadi perekat bagi kehidupan bangsa sebagai bentuk perlawanan kepada kelompok-kelompok radikal dan sindikat narkotika ingin menghancurkan Indonesia secara perlahan.

"Ini akan menjadi catatan sejarah agar generasi selanjutnya bisa melawan serta ikut memerangi terorisme, narkoba hingga korupsi di Indonesia yang sudah menjalar ke semua lini," paparnya.

Agus menambahkan komitmen dengan perjanjanjian itu memberantas terorisme, radikalisme, peredaran narkoba dan korupsi nyatanya tidak hanya diserukan pemerintah tetapi mesti dibantu para pemangku adat di seluruh Indonesia.

Tudang Sipulung Dan Kebangkitan Budaya Makassar

Makassar, Sulsel - Pegelaran Tudang Sipulung Kebangkitan Seni Budaya Kota Makassar yang digelar di Fort Rotterdam, Senin (28/3/2016) malam.

Dalam kegiatan ini, sejumlah lukisan karya seniman Makassar dipamerkan. Lukisan tersebut, dipajang di sekitar areal panggung.

Dalam sambutannya, Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto mengatakan, kegiatan Tudang Sipulung yang dilakukan begitu sangat penting untuk menjaga kebudayaan Kota Makassar.

“Banyak aksi kriminal di jalan seperti begal, itu salah satu karena budaya di Makassar kurang dijunjung tinggi,” ujar Danny

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar, Rusmayani Majid mengatakan, kegiatan yang dilakukan ini merupakan program dari Dinas Pariwisata. Sementara untuk anggarannya sendiri menggunakan anggaran APBD.

“Adaji anggarannya itu dipakai dari APBD, kalau nilainya saya tidak tahu pasti yang jelas adaji itu laporannya semua,” singkatnya.

Mahasiswa Indonesia Kenalkan Warisan Budaya di Arab

Makassar, Sulsel - Mahasiswa Indonesia ikut memeriahkan dan memperkenalkan sejumlah warisan budaya asli Tanah Air pada Festival Budaya Bangsa di Universitas Qasim University Saudi Arabia, 31 Januari - 2 Februari 2016.

"Kami sengaja memajang beberapa karya seni budaya seperti pakaian adat, senjata tradisional, anglung, minimatur andong, becak, sepeda ontel, peta Indonesia, patung garuda, wayang kulit, dan uang rupiah," jelas Koordinator Mahasiswa Indonesia di Arab Saudi, Fadli Multazam, dalam surat elektroniknya di Makassar, Rabu (3/2).

Selain itu, kata dia, mahasiswa Indonesia yang berjumlah sebanyak 45 orang ini juga menghadirkan dan memperkenalkan beberapa permainan tradisional mulai dari enrang (longga) dan gasing tradisional, termasuk olah raga asli Indonesia yakni pencak silat.

"Sebagai warga Indonesia yang melanjutkan kuliah diluar negeri, kami tidak lupa dengan budaya kita meski jauh diperantauan," katanya.

Mengenai tanggapan dan respon masyarakat atau peserta dari berbagai negara terhadap karya budaya yang ditampilkan, dirinya mengaku mendapat respon yang luar biasa dari para peserta dan mahasiswa asing.

Bahkan tidak hanya disambut tawa dan tepuk tangan, para pengunjung dan mahasiswa dari negara lain juga begitu kagum dengan negara Indonesia yang memiliki begitu banyak aneka ragam budaya.

Pihaknya juga berharap dengan keterlibatan mereka di festival ini membuat Indonesia bisa lebih dikenal jauh. Sekaligus diharapkan semoga mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani study di Qassim saat ini bisa memberikan pengorbanan yang nyata dan persembahan yang lebih berarti bagi ummat dan bangsa kedepan.

"Para pengunjung mengaku kagum melihat penampilan teman-teman mahasiswa Indonesia. Untuk mahasiswa Indonesia di Arab Saudi, kita tentu berharap lebih berarti saat kembali ke kampung halamanya masing-masing,"ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk acara festival ini memang lebih bergengsi. Sebab diikuti sedikitnya 17 negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Filipina, Pakistan, Cina, Pantai Gading, Mesir, Kosova,Gambia, Tajikistan, Afghanistan. Canada, Suriah, Senegal. Yaman, Maladewa, dan Burkina Faso.

"Tentu suatu kebahagian bisa memperkanalkan berbagai seni budaya asli Indonesia di dunia internasional," sebutnya.

Temu Penulis dan Sastrawan Makassar Bahas Peningkatan Geliat Sastra di Makassar

Makassar, Sulsel - Pertemuan penulis dan pekerja sastra se-Makassar berlangsung di Gedung Kesenian Makassar atau Societeit De Harmonie, Minggu (31/1/2016). Selain sebagai momen silaturrahmi, pertemuan tersebut juga membahas mengenai upaya menghidupkan kembali geliat sastra di Makassar.

Sejumlah sastrawan dan penulis yang hadir, antara lain Yudhistira Sukatanya, Asia Ramli Prapanca, Luna Vidya, Bahar Merdu, Chaeruddin Hakim, Gonawan Monoharto, Muhari Wahyu Nurba, Anis Kurniawan, Anis Kaba dan lainnya.

Sejumlah komunitas pekerja seni sastra mewakili kampus juga turut hadir. Dari pertemuan ini, ada masukan dari para penulis mengenai kontribusi penulis dan sastrawan dalam pembangunan kota Makassar.

Ide-ide tersebut, nantinya akan ditindaklanjuti dalam forum “strategi planning” bersama Wali Kota Makassar dan stakeholder terkait, Februari ini.

Lima orang dipilih untuk mewakili Komite Sastra, antara lain Luna Vidya (penyair), Gonawan Monoharto (penyair), Anis Kurniawan (Penulis dan Editor buku), Agus (Akademisi) dan Fatimah (pekerja sastra kampus).

Di akhir pertemuan, ada pembacaan puisi dari sejumlah penyair. Diharapkan, akan ada pertemuan lanjutan sebelum agenda tudang sipulung dengan seluruh pekerja seni budaya se Makassar.

Setiap pertemuan akan selalu diselingi dengan pembacaan puisi.

Adat Maudu Lompoa Jelang Maulid, Wanita Pengisi Bakul Harus Suci

Makassar, Sulsel - Jika masyarakat Yogyakarta memiliki tradisi Sekaten, masyarakat Takalar, khususnya Desa Cikoang, juga mempunyai tradisi khas untuk menyambut peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Tradisi itu disebut Maudu Lompoa.

Tradisi itu bahkan sudah menjadi agenda wisata religi tahunan di Sulawesi Selatan. Maudu Lompoa kembali digelar pada peringatan maulud nabi 1437 Hijriah yang jatuh pada Kamis, 24 Desember 2015. Jarak tempuh dari Makassar ke Cikoang sendiri sekitar 80 kilometer,

"Ritual ini ungkapan syukur atas berlimpahnya berkah rezeki dari hasil panen dengan menyediakan beras, ayam, telur, minyak kelapa, julung-julung (perahu), bagi setiap orang dalam satu keluarga di Desa Cikoang," ujar Daeng Tarring, salah seorang warga Cikoang, di Kota Makassar, Selasa (22/12/2015).

Pelaksanaan tradisi tidak bisa sembarangan. Hanya perempuan yang suci dari hadas dan najis yang boleh mengisi bakul dengan beragam bahan makanan. Tahapan itu sekaligus mengawali jalannya prosesi. Sebelum itu, warga menghias telur-telur ayam dengan warna-warna menarik.

"Nasi setengah masak, kemudian ayam yang telah disembelih dan telah dibersihkan, dibungkus daun pisang lalu dimasukkan ke dasar bakul. Permukaan bakul ditutup dengan daun pisang selanjutnya telur-telur rebus warna-warni yang ditusukkan setangkai kayu kecil ditancapkan di atas nasi dalam bakul," tutur Daeng Tarring.

Munir, mahasiswa asal Kabupaten Takalar, menambahkan persiapan lain yang tidak kalah menarik sebelum prosesi. Sebelum 12 Rabiul Awal atau hari lahir Nabi Muhammad, yakni sekitar 10 Safar, warga sengaja mengurung ayam-ayam yang akan dipersembahkan dalam prosesi agar ayam-ayam itu tidak memakan najis.

Nasi dan lauk pauk yang telah masak itu dinamakan Ka'do Minyak. Bentuknya sekilas mirip dengan tumpeng yang sering disajikan dalam berbagai perayaan. Hidangan itu nantinya akan dibawa ke tengah Sungai Cikoang setelah dibacakan doa oleh tetua adat.

Begitu sajian sampai ke tengah sungai, warga segera berenang dan memperebutkan makanan yang dianggap akan membawa berkah itu.

Lomba Bakul Hias

Peringatan Maulid Nabi juga akan digelar warga Makassar di pelataran Anjungan Pantai Losari, Jalan Penghibur, Makassar, Sulawesi Selatan. Warga juga akan menggelar tradisi Maudu Lompoa yang dimeriahkan dengan lomba bakul hias Maulid antarinstansi di Pemkot Makassar.

"Kali ini, kami kemas berbeda karena lokasinya di bibir pantai yaitu Losari. Selain tabligh akbar, ada juga lomba bakul hias Maulid antar instansi se-Kota Makassar," kata Sekretaris Daerah Kota Makassar Ibrahim Saleh di Balai Kota, Jalan Ahmad Yani.

Ibrahim menjelaskan tema yang diangkat tahun ini ialah "Dengan Maulud Lampoa Nabi Besar Muhammad SAW 1437H, Mari Kita Teladani Akhlak Rasulullah dalam Mewujudkan Kota Makassar 2x+ Baik."

"Kita juga berharap peran serta masyarakat menyukseskan Maudu Lompoa untuk ikut dan beramai-ramai memeriahkan tabligh akbar yang rencananya akan dimulai pukul 15.00 Wita hingga selepas Isya," kata Ibrahim.

Bengkel Sastra UNM Pentas di Festival Sastra Islam

Makassar, Sulsel - Bengkel Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM) menyiapkan pementasan teater sebagai raangkain pelaksanaan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) di Sekolah Athirah Kajaolalido, Makassar, Sulsel, Kamis malam.

"Untuk hari ini ada empat agenda FSIN yang digelar termasuk pementasan teater oleh Bengkel Satsra UNM di Sekolah Athirah Kajaolalido malam ini pukul 20.00 WITA," kata Ketua Panitia FSIN 2015, Fitrawan Umar di Makassar, Kamis.

Penampilan Bengkel Sastra UNM ini, kata dia, tentunya akan lebih menarik karena telah mempersiapkan diri sejak awal untuk memeriahkan pelaksanaaan FSIN 2015 di Makassar.

Selaian penampilan teater, lanjut dia, juga ada tiga acara lain yang dilaksanakan di beberapa lokasi di antaranya diskusi buku "Metamorfosis Kura-Kura" yang menghadirkan penulisnya secara langsung yakni Edi Sutarto serta Rektor UNM.

Selanjutnya ada kegiatan workshop menulis travelling yang akan dipandu Rahmadiyanti Rusdi di Ballroom Lantai II Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar.

Begitupun dengan talkshow psikologi dan diskusi "Mencari Senyuman" yang akan dibawakan Sinta Yudisia selaku Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat di SMAN 8 Makassar.

"Kami berharap kegiatan hari ini kembali mendapatkan respon positif dari masyarakat seperti halnya pada hari pertama. Untuk acara hari ini memang juga menarik karena akan mengupas beberapa karya terbaik," jelasnya.

Festival Sastra Islam Nasional 2015 yang pertama kalinya digelar di Kawasan Timur Indonesia ini dilaksanakan pada 16-19 Desember 2015.

Untuk pembukaannya resmi dilakukan pada Rabu dan diikuti sejumlah tokoh dan penulis terbaik di Indonesia termasuk Habiburrahman El Shirazy.

Dalam acara pembukaan itu juga digelar berbagai kegiatan termasuk launching dan bedah buku "Ayat-Ayat Cinta 2" yang penjualannya sukses menembus 10 ribuan eksemplar. Selanjutnya ada tausyiah dari Ust Ahmad Al Habsyi, dan pertunjukan musim dari siswa SMA Athirah.

Ketua Pembina FLP Makassar, Edi Sutarto, menyatakan FSIN 2015 ini memang akan menghadirkan sejumlah novelis ternama, kegiatan orasi budaya workshop penulisan, peluncuran buku dan bedah buku, pertunjukan seni hingga sayembara penulisan.

Untuk workshop penulisan, akan dilaksanakan di beberapa sekolah di Makassar dan sekitarnya. Begitupun dengan lomba cerpen juga tinggal menungu pengumuman resmi para pemenang.

Festival Budaya Lovely Toraja Sasar 6.000 Turis

Makassar, Sulsel - Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan kunjungan kerja ke Makassar menghadiri penyelenggaraan Diplomatic Tour to South Sulawesi Province.

Selain menghadiri penyelenggaraan Diplomatic Tour to South Sulawesi Province, JK juga menghadiri kegiatan Gelar Budaya di rumah jabatan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada Jumat malam (6/11/2015). Wapres rencananya baru akan bertolak ke Balikpapan pada Sabtu siang (7/11/2015).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulsel Jufri Rahman, mengatakan penyelenggaraan tur diplomatik akan dihadiri oleh 20 duta besar negara-negara sahabat.

Kegiatan tersebut akan dirangkaikan juga dengan Festival Budaya Lovely Toraja yang diadakan mulai 6-9 November 2015.

"Kami menargetkan kunjungan 6.000 wisatawan baik lokal‎ maupun mancanegara yang hadir dalam festival Lovely Toraja," ujarnya.

Dia menuturkan, festival budaya di Tana Toraja pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang biasanya baru dilaksanakan pada Desember.

Menurutnya, pelaksanaan acara yang menelan anggaran hingga Rp500 juta itu dimajukan ke bulan November lantaran Pemprov Sulsel memiliki target untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke festival tersebut.

"Dimajukan ke bulan November karena ‎kalau bulan Desember wisatawan asing banyak yang pergi ke negaranya untuk merayakan Natal," tuturnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts