Tampilkan postingan dengan label Seni Tari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Tari. Tampilkan semua postingan

Tarian Lapambai, Tarian Langka Tampil di Pesta Adat Buton

Buton Sultra - Lantunan gendang dan gong terdengar sepanjang malam dari dalam galampa atau tempat pertemuan adat. Beberapa warga yang berada dalam galampa melantunkan nyanyian daerah sambil mengikuti irama gendang dan gong.

Tak berapa lama, satu per satu warga desa secara bergantian menuju di tengah galampa sambil menari dengan menggunakan selendang di tangan. Tariannya bergerak lincah sambil mengikuti nyanyian dan suara gendang.

Malam yang semakin larut dan embusan angin dingin, tak menyurutkan tokoh masyarakat dan adat untuk menghentikan tarian dalam pesta adat ‘Pidoano Kuri’ yang masih tetap dilestarikan warga Desa Wabula, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara sejak abad ke 12 hingga saat ini.

“Pesta adat ini untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen. Di pesta adat ini, gendang ini sudah bisa bunyikan di setiap ada hajatan perkawinan, gunting rambut atau sunatan, gendang sudah bisa dibunyikan,” kata Tetua Adat Wabula, La Taiso, Sabtu (23/7/2016).

Dalam pesta adat tersebut, beberapa warga mulai menari Linda dari malam hari hingga subuh. Tarian yang dilakukan merupakan tarian tradisional yang telah ada sejak abad 11 ketika Islam belum masuk di tanah Buton.

“Dalam tarian itu, ada tarian Lapambai, ini tarian yang langka. Tarian ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sejak Raja Wakaka atau raja pertama masuk di sini. Kalau ada yang datang melihat tarian ini di Galampa dilarang pulang kalau tarian ini belum selesai,” ujar seorang tokoh adat lainnya, La Gapu.

Menurut La Gapu, tarian Lapambai juga merupakan tarian menghibur bagi Raja Wakaka, sehingga raja tidak jadi bersedih. Tarian Lapambai ini dilaksanakan hingga menjelang subuh.

Keesokan harinya, pada pagi hari, lantunan gendang dan gong kembali berkumandang. Beberapa laki-laki dengan menggunakan pakaian jubah adat Buton dan wanita yang mengenakan baju adat menelusuri jalan desa yang berpasir putih di tepi laut.

Warga desa kembali menuju ke Galampa yang berada di tengah kampung. Tak lama kemudian, warga desa kembali menarikan tarian Linda dan tarian Bajoge untuk kegembiraan.

Bupati Buton, Umar Samiun, yang menghadiri pesta adat tersebut sangat mengapresiasi dan mendukung budaya adat Wabula yang tetap lestari hingga saat ini.

Ia menambahkan, kegiatan pesta adat tersebut juga bisa merupakan ajang silaturrahmi dan tatap muka antara masyarakat Wabula. “Kegiatan ini juga sebagai ajang saling tukar informasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat khususnya tentang perkembangan dan pembangunan daerah,” ucap Umar.

Ia berharap, budaya pesta adat Wabula tetap terus dijaga dan dilestarikan serta terus dilaksanakan setiap tahunnya.

Tari Joged Bali Pukau Hongaria

Jakarta - Tari Joged Bali yang ditampilkan secara energik dengan diiringi alat musik khas Bali Rindik memukau pelajar dan staf pengajar di Sekolah Kejuruan Simon Karoly di kota Pecs dalam Program Indonesia Goes to School yang diadakan KBRI Budapest.

"Selain penampilan tari Joged dari Bali, juga dipersembahkan Tari Merak dan Degung Sunda dari Jawa Barat, Gamelan Rindik dari Bali serta presentasi singkat mengenai Indonesia," kata Pensosbud KBRI Budapest, Yudhi Gunawan, Jumat (29/04/2016).

Dubes RI untuk Hongaria Wening Esthyprobo memimpin delegasi seni budaya KBRI Budapest dalam mempromosikan Indonesia bagi generasi muda Hongaria di Sekolah Kejuruan Simon Karoly di kota Pecs dalam program Indonesia Goes to School.

Dikatakannya pengenalan budaya Indonesia ini adalah hanya sebagian kecil dari sekitar 1.128 kelompok etnis yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau sehingga Indonesia dikenal sebagai mutu manikam dari khatulistiwa. Diharapkannya kunjungan hari ini akan memperluas dan melengkapi pengetahuan para siswa.

Selain beragam budaya, Indonesia juga sangat terkenal dengan berbagai daerah tujuan wisatanya. Semua jenis wisata dapat dijumpai baik wisata pantai, gunung maupun wisata petualang dapat dinikmati.

Untuk itu Dubes mengajak pelajar dan guru disekolah tersebut untuk merencanakan liburan musim panas tahun ini dengan berlibur di Indonesia bersama dengan orang tua dan keluarganya masing-masing.

Sementara itu Direktur Sekolah Simon Karoly, Tibor Deri dalam sambutannya menyatakan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kunjungan pertama kalinya dari Kedutaan Besar tersebut mempromosikan Indonesia secara menyeluruh.

Pengenalan ini dapat memberikan wawasan serta pengetahuan tambahan tidak hanya bagi para pelajar akan tetapi bagi staf pengajarnya pula karena didapatkan dari sumbernya langsung.

Sementara itu, Direktur Komite Kesejahteraan, Pemuda dan Olahraga dari Pemda Pecs, Eva Sztojkovics menyatakan ketakjubannya atas penampilan tim seni budaya Indonesia yang sebagian besar dibawakan remaja Hongaria sendiri yang merupakan mantan penerima beasiswa Darmasiswa yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dikatakannya promosi yang dilakukan KBRI Budapest menyasar generasi muda merupakan langkah yang tepat karena mereka ini lah yang akan menjadi pemimpin di masa depan yang akan menjadi bridging between two nations.

Selain penampilan tari Joged dari Bali, juga dipersembahkan Tari Merak dan Degung Sunda dari Jawa Barat, Gamelan Rindik dari Bali serta presentasi singkat mengenai Indonesia. Kegiatan ini diakhiri dengan Flahmob Tari Gemu Fa Mire dari Nusa Tenggara Timur yang diikuti oleh seluruh siswa siswi dan staf pengajar.

Tari Kabasaran

Menari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai.
Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.
Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.
Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.
Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari kabasaran menjadi Waranei (prajurit perang). Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.

Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :
Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.
Sangat disayangkan bahwa sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan, Bentenen. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yag diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan).
Pada jaman penjajahan Belanda tempo dulu , ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa
Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri.
Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran.
Kabasaran bertugas sebagai “Opas” (Polisi desa).
Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari.
Kabasaran yang telah ditetapkan sebagai polisi desa dalam Staatsblad tersebut diatas, akhirnya dengan terpaksa oleh pihak belanda harus ditiadakan pada tahun 1901 karena saat itu ada 28 orang tawanan yang melarikan diri dari penjara Manado. Untuk menangkap kembali seluruh tawanan yang melarikan diri tersebut, pihak Belanda memerintahkan polisi desa, dalam hal ini Kabasaran, untuk menangkap para tawanan tersebut. Namun malang nasibnya para tawanan tersebut, karena mereka tidak ditangkap hidup-hidup melainkan semuanya tewas dicincang oleh Kabasaran. Para Kabasaran pada saat itu berada dalam organisasi desa dipimpin Hukum Tua. Tiap negeri atau kampung memiliki sepuluh orang Kabasaran salah satunya adalah pemimpin dari regu tersebut yang disebut “Pa’impulu’an ne Kabasaran”. Dengan status sebagai pegawai desa, mereka mendapat tunjangan berupa beras, gula putih, dan kain.
Sungguh mengerikan para Kabasaran pada waktu itu, karena meski hanya digaji dengan beras, gula putih, dan kain, mereka sanggup membantai 28 orang yang seluruhnya tewas dengan luka-luka yang mengerikan.

Tari Piring Minangkabau

Sejarah Asal Tari Piring Minangkabau - Tari Piring Minangkabau merupakan Salah satu seni tari asal Minangkabau, Sumatera Barat yang masih sering dipentaskan .

Tari Piring dikatakan tercipta daripada ”wanita-wanita cantik yang berpakaian indah,serta berjalan dengan lemah lembut penuh kesopanan dan ketertiban ketika membawa piring berisi makanan yang lezat untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa sebagai sajian. Wanita-wanita ini akan menari sambil berjalan, dan dalam masa yang sama menunjukan kecakapan mereka membawa piring yang berisi makanan tersebut”. Kedatangan Islam telah membawa perubahan kepada kepercayaan dan konsep tarian ini. Tari Piring tidak lagi dipersembahkan kepada dewa-dewa, tetapi untuk majlis-majlis keramaian yang dihadiri bersama oleh raja-raja atau pembesar negeri.

Mengenai waktu kemunculan pertama kali Tari Piring ini belum diketahui pasti, tapi dipercaya bahwa Tari Piring telah ada di kepulaian melayu sejak lebih dari 800 tahun yang lalu. Tari Piring juga dipercaya telah ada di Sumatra barat dan berkembang hingga pada zaman Sri Wijaya. Setelah kemunculan Majapahit pada abad ke 16 yang menjatuhkan Sri Wijaya, telah mendorong Tari Piring berkembang ke negeri-negeri melayu yang lain bersamaan dengan pelarian orang-orang sri wijaya saat itu.

***

Sumber: http://www.websejarah.com

Foto: pixoto.com

Seblang Banyuwangi

Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Dalam budaya Jawa-Mataraman dikenal yang namanya upacara ‘Bersih Desa’. Pada budaya Jawa non-Mataraman, dikenal pula upacara ‘Sedekah Bumi’. Di Bugis-Makassar, ada upacara bernama Mappalili. Dalam budaya Suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur ada pula upacara kesuburan yang disebut Lepeq Majau. Di Bali ada upacara ‘Mungkah’, ‘Mendak Sari’ atau ‘Muat Emping Ngaturan Sari’.Simbol kesuburan dilambangkan dengan sesosok dewi cantik jelita bernama Dewi Sri. Lain daerah, lain pula nama simbol padi dan kesuburannya. Dalam budaya Jawa, ada simbol yang bernama Nini Thowok. Pada budaya Sunda, dikenal dewi bernama Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati. Pada budaya Dayak, simbol padi dan kesuburan dilambangkan dengan penokohan ‘Bini Kabungsuan’.Tokoh Dewi Sri dalam budaya kesuburan adalah sakral. Folklore tiap daerah pun mempunyai versi yang berbeda tentang Dewi ini. Dalam folklore Sunda, Dewi Sri lahir dari sebutir telur dari air mata seorang Dewa cacat bernama Dewa Anta. Konon, saking cantiknya sang Dewi, raja para Dewa; Bathara Guru, jatuh cinta dan ingin mengawininya. Namun niat itu digagalkan oleh dewa lain dengan cara membunuh Dewi Sri dan menguburkannya di bumi. Beberapa hari kemudian, dari kuburannya muncul beberapa jenis tanaman pangan. Dari bagian kepala, munculah kelapa. Dari bagian mata, tumbuh padi biasa. Dari dadanya, muncullah padi ketan. Dari kemaluannya tumbuh pohon enau dan dari bagian lain muncullah rerumputan. Kejadian di daerah lain, hampir sama, yakni sosok sentral wanita meninggal. Lalu dari kuburannya muncul tanaman-tanaman pangan.

Bukan hanya di Indonesia, Curt Sachs sang penulis buku World History of the Dance mengungkapkan bahwa jauh sebelum Masehi, para ‘Shaman’ telah menciptakan hujan dengan ritual tari gembira. Kalau anda penasaran seperti apa ghost dance atau rain dance ini, tengoklah sosok Jim Morrison – JIM MORRISON (THE DOORS) INDIAN DANCE 1968 – saat sedang tampil di atas panggung dan dalam keadaan trance. Morrison yang terobsesi dengan budaya Indian akan menari-nari liar. Itulah ‘ghost dance’.

Di suku Amazon , ada tari bernama Tari ‘Itogapuk’. Tari ini membentuk gerakan laki-laki dan perempuan yang saling bersatu, melingkari sebuah tanaman, saling menempelkan pinggul lalu sang penari perempuan digendong untuk kemudian dibawa pergi.

Ben Suharto, sang penulis buku ‘Tayub‘ ; Pertunjukan dan Ritus Kesuburan, mengungkapkan bahwa tari ritual kesuburan selalu berusaha mencapai suatu sikap mistis tentang seksual dengan cara mendekatkan manusia berbeda kelamin atau dengan cara saling melingkari.

Tari Seblang pun, melambangkan kesuburan dengan simbol mahkota yang dipakai oleh sang penari yang dihias dengan kembang aneka warna yang melambangkan kesuburan. Seperti terdapat pada petikan dari sebuah naskah kuno bernama ‘Atharvaveda’ yang berbunyi “Perempuan datang sebagai lahan hidup; taburkanlah benih ke dalamnya, oh para lelaki.” Satu kesimpulan yang bisa ditarik dari sini adalah betapa wanita merupakan sosok penting dalam mitos kesuburan, baik kesuburan tanaman maupun kesuburan reproduksi.

Ritual Seblang

Pada awalnya kesenian Seblang merupakan bentuk kesenian berdasarkan mithologi, konon seblang adalah sisa dari kebudayaan para Hindu yang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia pada masa lampau.

Menurut cerita dahulu Seblang dilakukan di setiap desa di Banyuwangi sekarang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan Glagah, Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan Olihsari ( Olehsari ). Walaupun ada beberapa perbedaan diantara keduanya, tetapi pada dasarnya berintikan sama, yaitu : memanggil Roh Halus untuk menari melalui wadag seorang perempuan.

Upacara Seblang biasa dilakukan di pedesaan, konon pada abad ke XVI pernah dipindahkan ke istana oleh seorang bangsawan Blambangan yang bernama ‘LOKENTO‘. Tetapi Seblang yang dilakukan di Pendopo Kadipaten dan dikenal orang dengan nama “Seblang Lokento” itu kini telah musnah.

Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual ‘Sintren’ di wilayah Cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil baliq, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid (menopause).

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah ‘Semi‘, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung. ( lihat – Semi: Peletak Dasar Gandrung Banyuwangi).

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan anyaman dari bambu). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau ‘kejiman’ dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal. Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok. Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.

Upacara kesenian ritual Seblang adalah salah satu bentuk tradisi tari sakral yang bermotivasikan agraris spiritual. Bertujuan untuk kemakmuran masyarakat, dengan mengupayakan kesuburan tanah atau mengusir penyakit. Dengan mengadakan Seblang, masyarakat setempat akan terhindar dari malapetaka.

Seblang Bakungan

Sejarah Seblang Bakungan

Warga Kelurahan Bakungan sudah lama menggelar Ritual Seblang, agar dijauhkan dari segala marabahaya, mereka menggelar ritual seblang semalam suntuk, yakni, ritual tarian yang diperankan seorang wanita tua berusia lanjut. Tradisi ini sudah ada sejak 316 tahun silam.

Konon, mereka yang membuka perkampungan Bakungan berasal dari Bali. Bakungan adalah salah satu nama tumbuhan yang banyak hidup di tempat itu. Dahulu, Bakungan adalah sebuah hutan belantara yang banyak ditumbuhi tanaman bakung.

‘Seblang‘ berasal dari bahasa Using kuno yang berarti hilangnya segala permasalahan dan kesusahan. Upacara ini diawali selamatan massal yang dilakukan sesaat setelah matahari terbenam. Seluruh warga duduk di depan rumah masing-masing sambil mempersembahkan tumpeng yang terdiri atas beberapa jenis makanan khas. Di antaranya, pecel ayam, yaitu daging ayam yang dicampur urapan kelapa muda. Sehari sebelumnya, beberapa tokoh masyarakat melakukan ritual minta izin di makam ‘buyut Witri’. Dia diyakini sebagai leluhur masyarakat ‘Kelurahan Bakungan’. Di tempat ini, warga meminta doa sambil mengambil air suci. Air ini nantinya digunakan penari seblang untuk penyucian dan disebarkan kepada seluruh warga kampung.

Sebelum santap tumpeng, dukun membacakan doa-doa khusus menggunakan bahasa Using. Isinya meminta seluruh penguasa jagat memberikan kerahayuan kepada seluruh masyarakat. Suasana terasa mistis ketika aroma kemenyan yang ditaburkan dukun menyebar ke seluruh arena seblang. Setelah itu, ketua adat memukul kentongan berkali-kali sebagai pertanda selesainya upacara tumpengan. Warga menyambut dengan pekikan ayat-ayat suci Alquran. Setelah itu seluruh warga menyantap tumpengnya masing-masing. Selama selamatan, seluruh anggota keluarga berkumpul di halaman rumahnya.

Sebelumnya, warga laki-laki bersama para pemuda berjalan keliling desa sambil membawa obor. Ritual ini dimaksudkan untuk mengusir roh jahat yang akan mengganggu desa. Mereka mengumandangkan ayat-ayat suci Alquran. Sekitar pukul 19.30, ritual seblang dimulai. Acara ini diawali memanggil roh yang akan masuk ke dalam tubuh penari. Setelah diberi mantra khusus, penari kesurupan. Penari ini keturunan asli mbah buyut Witri yang diyakini leluhur warga Bakungan, kata sesepuh adat Bakungan, ‘Yalin’.

Prosesi Ritual Seblang Bakungan

Selayaknya ritual lain, secara detail Tari Seblang Bakungan pun memiliki beberapa tahapan sebelum mencapai ritual puncak. Inilah urutan ritual yang harus dijalankan :

1. Penari Seblang dirias dan mengenakan busana tarinya. Pada bagian tubuh dan wajahnya, dibaluri sejenis tepung batu halus berwarna kuning (biasa disebut atal ) yang dicampur dengan air. Lalu sang penari pergi berjalan menuju arena dengan beberapa penyanyi perempuan dan pemilik hajat.

2. Pada tahapan kedua ini, sang penari dikenakan mahkota yang dihias beraneka bunga dengan beragam warna. Tak lupa, sang penari memegang nyiru dengan tangannya. Lalu ada seorang perempuan tua yang menutup mata sang penari dengan tangannya. Setelah itu ada sang pawang yang membakar dupa serta merapal mantra untuk memanggil dhanyang (roh penjaga desa) yang dikenal dengan nama Buyut Kethut, Buyut Jalil, dan Buyut Rasio agar memberkahi pertunjukan Seblang ini. Saat nyiru yang dipegang penari Seblang itu jatuh, maka dia sudah mulai kejiman alias kesurupan.

3. Tahap ketiga, adalah tahap pemilihan lagu untuk mengiringi sang penari. Ada kalanya, lagu yang dimainkan tidak disetujui oleh sang penari yang sudah trance ini. Kalau sang penari setuju, maka ia akan berdiri dan menari dengan gemulai berlawanan dengan arah jarum jam. Kalau tidak setuju, dia tidak mau berdiri serta memberi isyarat agar sang pengiring memainkan lagu lain. Kadang kala, disaat jeda pemilihan lagu dan sang penari beristirahat, disisipkan pula ritual sabung ayam.

4. Setelah ritual tari berhenti sejenak, maka ada beberapa gadis cantik dengan kebaya memegang kembang dirma yakni bunga beraneka warna yang dipercayai bisa mendatangkan berkah. Lalu bunga ini diberikan pada penonton, lalu penonton memberikan derma uang ala kadarnya.

5. Tahapan ini disebut ‘tundik’ dan beberapa menyebutnya Ngibing, yakni saat dimana sang penari mengajak penonton untuk ikut menari. Cara memilih penontonnya unik, yakni sang penari Seblang melemparkan ‘sampur’ pada penonton. Siapa yang ketiban sampur itu harus menari bersama penari Seblang. Suasana menjadi ramai dan penuh tawa saat penonton lari berhamburan menghindari sampur yang dilempar itu.

6. Inilah titik puncak dari upacara Seblang. Saat sang pengiring memainkan lagu Candradewi yang dimainkan dengan cepat, sang penari juga berputar dengan cepat. Lalu sang penari rebah dan tergeletak menelungkup. Saat ini petugas kembali meminta derma dari para penonton.

Seusai pertunjukkan, ada satu ritual lain yang tak afdol rasanya jika tak diikuti. Yakni acara berebutan sesajen hasil pertanian yang digantung di beberapa bagian kantor balai desa. Ada durian, padi, alpukat, sirsak, pisang hingga kelapa.

Ritual Seblang Olehsari

Sejarah Seblang Olehsari

Menurut catatan di buku historis di Desa Olehsari, Seblang pernah tidak diselenggarakan antara tahun 1943 s/d 1956. Bagi masyarakat Olehsari ketiadaan acara Seblang seperti merasa kehilangan sesuatu. ‘Pageblug‘ terjadi, panen banyak gagal dan serangan penyakit terhadap ternak dan manusia tak terhindarkan. Maka pada tahun 1957 acara tersebut dimulai lagi. Konon suasana jadi pulih.

Prosesi Ritual Seblang Olehsari

Masih dalam suasana Lebaran, di Desa Olehsari (sekitar 5 km sebelah barat Kota Banyuwangi) diselengarakan acara adat tahunan Seblang. sebenarnya tak begitu sulit mencari lokasi karena arena, karena dari kejauhan sudah terdengar musik gamelan yang “ngelangut’ sekakan-akan memanggil siapa saja untuk datang.

Walaupun prosesi dilaksanakan pada siang yang cukup terik, disekeliling arena telah berjubel masyarakat yang akan mengikuti acara Seblang. Dahulu diantara kerumunan penonton itu selalu dibuka jalur yang disediakan untuk jalan tamu gaib yang naik kuda. Juga disediakan kursi-kursi kosong. Siapapun tak berani menginjak jalur atau menduduki kursi tersebut, karena untuk tamu-tamu gaib.

Di pusat upacara tampak sebuah tonggak berupa tongkat panjang yang ditempel batang tebu segar. Disisi tonggak tertanam kokoh sebuah ‘Payung Agung’. Selain berfungsi sebagai sebagai tempat Pemain Musik, sepertinya juga merupakan ekspresi Yoni, yaitu sentral kegiatan upacara yang bersifat metafisik tersebut.

Di sebelah barat, tak kurang 8 (delapan) orang wanita setengah baya yang bertindak sebagai penyanyi (sinden) duduk di sebuah gubuk tak berdinding, siap mengiringi Penari Seblang. Pada gubuk yang beratapkan daun nyiur tersebut, bergelantungan puluhan buah-buahan dan ‘Poro-Bungkil’ (hasil bumi) yang merupakan simbolis kemakmuran desa.

Tak lama muncullah seorang gadis yang berpakaian aneh. Dengan wajah bercadarkan rumbai-rumbai daun pisang muda dituntun oleh seorang wanita setengah baya, seraya diiringi oleh puluhan orang menuju ke pusat kegiatan upacara. Salwati (16 tahun), gadis penari seblang itu pelan-pelan dituntun dan didudukkan di dekat ‘prapen’ empat asap kemenyan mengepul…

Seorang dukun atau pawang paling tua, Mbah Asnan (70 tahun), tampak membolak-balikan nyiru kecil diatas pedupaan seraya berkomat-kamit mebacakan mantra. Mendadak nyiru kecil tersebut disorongkan ke arah Salwati. Saat Salwati menerima Nyiru itu, seketika itu iapun terkulai lemas tak sadarkan diri.

Diiringi oleh para pawang sebanyak 5 (lima) orang, terdiri dari 3 (tiga) pria dan 2 (dua) wanita kesemuanya berusia lanjut. Salwati menjadi ‘kejimen’ (baca : in-trance) dan menari gontai dengan indahnya. Terdengar mengalun gending pembuka ‘Seblang Lokento’ Salwati terus menari mengelilingi arena yang luasnya 7 x 7 meter mengitari tonggak dan payung. “Seblang yo Lokento sing dadi encakono …” berulang-ulang dinyanyikan oleh para pesinden dengan antusias penuh riang.

Dengan mata terpejam,penari seblang sesekali seperti mengajak bercanda para penonton dengan mengibas-ngibaskan selendangnya.Ketika itu pula penonton memberi semangat dengan seloroh-seloroh bernada canda. Sang penaripun menyambut canda manis itu dengan goyang-an pinggul-nya yang indah.

Disaat rombongan koor mendendangkan tembang Kembang Dirmo saat itu pula susunan bunga-bungaan aneka warna yang terdiri dari 5 (lima)sampai 7 (tujuh) kembang yang disusun dalam tusukan lidi mirip sate, dijajakan kepada penonton. Maka berebutlah para muda mudi membelinya. Karena kabarnya cukup bertuah untuk urusan cinta asmara. Adegan lain yang juga tak kurang menarik adalah atraksi ‘Ngibing’. Ini terjadi di hari ketiga dan seterusnya dari 7 (tujuh) hari pementasan seblang. Sang penari seblang oleh para pawang tubuhnya diangkat dan ditempatkan diatas sebuah meja yang tersedia,sehingga tampak lebih tinggi dari penonton. Mendadak penari tersebut melemparkan sampur ke arah penonton. Siapa saja yang tertimpa selendang (biasanya laki-laki), haruslah bersedia menari bersama dengan sang penari Seblang. Pada acara yang cukup atraktif tersebut, begitu seseorang selesai ‘ngibing’ dengan penari Seblang, maka dliemparlah berulang kepada yang lain. Sehingga berkesan bergiliran.

Anehnya saat senja turun, terjadi adegan yang cukup mengharukan hati. Penari Seblang tampak memperlihatakan kegirangannya tatkala gending “Chondro Dewi” dinyanyikan. Dengan suka citanya, penari Seblang mencapai puncak orgasme tariannya. Karenanya, ia menjadi kelelahan dan kemudian terkulai pingsan ….

Tetapi ajaib, begitu lagu Erang-erang berkumandang, secara fantastic kekuatan lagu sendu itu seakan membangkitkan kembali sang penari dari pingsannya. Menurut beberapa sumber, membangkitkan kembali dari pingsannya adalah pekerjaan sulit bagi “Pengutuk” (pawang) yang merupakan mediator dengan mahluk halus tersebut. Harus dilakukan extra hati-hati, karena merupakan pekerjaan yang sulit dan berbahaya. Khabarnya jika tidak berhasil maka sang penari bisa kehilangan nyawa.

Akhirnya ketika Matahari nyaris lenyap di balik Pegunungan Ijen, berkumandanglah tembang penutup yang berbunyi : “Sampun Mbah Ktut sare sampun osan, yang kundangan yang muleh-muleh”. Artinya kurang lebih demikian : “Sudahlah Mbah Ketut, acara sudah berakhir, pengunjung sudah akan pulang”. Begitu usai diulang-ulang sebayak 10 (sepuluh) kali, sang penari Seblang tampak sadar kembali layaknya orang bangun dari tidurnya. Terbersit raut kebingungan di rona penari. Sesekali ia menyingkap rumbai-rumbai daun yang menatap wajahnya, Salwati tampak pucat pasi. Padahal keesokan harinya ia harus bertugas menari lagi sampai genap 7 (tujuh) hari.

Menonton Seblang di Olehsari tahun ini, ada satu hal yang sangat menarik. Seperti diketahui, prosesi penunjukkan kandidat penari Seblang juga tak luput dari aspek kekuatan supranatural. Setiap bulan puasa menjelang hari raya Lebaran, gergiliran salah satu ibu rumah tangga yang biasanya berusia 30 (tiga puluh) tahun keatas kesurupan. Tahun ini adalah Mbok Sutrinah, yang diluar kesadarannya menyebut-neyebut nama Wiwin berulang-ulang. Itu berarti Wiwin adalah anak perawan yang tiba bergiliran menjadi penari Seblang tahun ini.

Tetapi diluar dugaan, Wiwin yang ditunjuk oleh Roh Halus sebagai penari Seblang tahun ini justru tidak bersedia. Mengapa sampai demikian ? Tidak takutkah dia terhadap Roh Halus ? Seorang pemuda yang saya temui di arena pertunjukkan mengatakan : “Wiwin, heng oleh ambi sir-siranek !!”. “Wiwin tidak boleh (menari) sama pacarnya” demikian ujarnya sambil menikmati pertunjukan Seblang.

Semenjak dahulu, penari Seblang selalu memiliki garis keturunan dengan penari-penari Seblang sebelumnya. Sehingga, karena warga takut dengan batalnya acara sakral tersebut, Salwati (yang masih bersaudara dengan Wiwin) dibujuk menggantikannya. Dengan penuh kesadaran Salwati akhirnya bersedia. Ditanya tentang konsekwensi ketidaksediaan Wiwin sebagai penari tahun ini, seorang tetua mengatakan : “Kadung ono paran-paran, ison heng ero jawanek !!” Artinya : “Jika ternyata terjadi sesuatu, saya tidak tahu menahu !!’ Belakangan ada isyu yang terdengar, Wiwin mengalami “Stress dan depresi yang aneh”.

Lagi Perbedaan dengan Seblang Bakungan

Secara awam jika kita perhatikan sepintas, prosesi penyelenggaraan Seblang di Bakungan tidaklah jauh berbeda dengan di Olehsari. Meskipun jelas banyak sekali terdapat perbedaan jika kita tinjau lebih mendalam.

Di Bakungan persiapan Seblang dimulai dengan mempersiapkan sesaji dan membersihkan benda-benda pusaka di ‘Balai Tajuk’. Disusul dengan pawai obor Ider bumi dengan mengumandangkan Adzan, Istigfar dan doa Qunut. Tak ketinggalan “selamatan kampung” dengan sajian berupa Nasi Putih dengan lauk Ayam Panggang yang dicampur kukuran kelapa dengan sayuran terung, pakis dan kacang panjang yang tidak boleh dipotong-potong.

Waktu penyelenggaraan tidaklah sama, di Olehsari dilakukan disekitar 3 (tiga) hari setelah Hari Raya Lebaran, dan pertunjukan dilakukan sejak Mentari diatas kepala sampai dengan lenyap dari pandangan mata. Tetapi di Kelurahan Bakungan, upacara dilaksanakan malam hari, selepas magrib sampai pukul 24.00 tengah malam, dimalam Senin atau malam Jum’at pertama bulan Haji (Besar).

Penunjukkan Siapa bakal penari Seblang di Kelurahan Bakungan dilakukan atas dasar ‘wisik gaib’ yang diterima Sang Pawang, bukan lewat seorang ibu setengah baya yang kesurupan sepertihalnya di Desa Olehsari. Dan penari Seblang di Bakungan dilakukan oleh seorang janda tua, bukan seorang anak perawan yang baru akil balik.

Beberapa hal yang berbeda lagi antara keduanya adalah mengenai “Omprok” (mahkota) dan Gamelan. Di Kelurahan Bakungan, Omprok penari dibuat secara permanen dari tahun ke tahun. Berlainan di Desa Olehsari, setiap penampilan selalu dibuatkan Omprok baru, sebab bahannya terbuat dari daun pisang yang cepat layu.

Sedangkan untuk instrumen musik pendukung pada Seblang Bakungan menggunakan perangkat Gamelan Jawa Laras Selendro dan terkadang ditambahkan Biola. namun berlainan dengan di Olehsari yang mempergunakan ‘Instrumen Banyuwangi’ yang terdiri dari : Kendang, Gong, Peking, Slenthem dan Biola.

Kemudian karena penari Seblang di Bakungan menari dengan membawa Keris yang terhunus, sehingga di acara penutup terdapat prosesi Manjer Keling yaitu penari Seblang menari seraya mengadu dua Keris yang dipegangnya. Seblang di Olehsari tidak terdapat fase prosesi ini.

***

Sumber: http://dotcomcell.com/BANYUWANGIONLINE/SEBLANG/

Foto : wisatadanbudaya.blogspot.com

Tari Rapa’i Geleng

Rapai adalah salah satu alat tabuh seni dari Aceh. Rapai (rebana) terbagi kepada beberapa jenis permainan, rapai geleng salah satunya. Rapai Geleng dikembangkan oleh seorang anonim Aceh Selatan. Permainan Rapai Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair (lagu-lagu) yang dinyanyikan, kustum dan gerak dasar dari unsur [tarian meuseukat.

Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial. Rapai geleng pertama kali dikembangkan pada tahun 1965 di Pesisir Pantai Selatan. Saat itu Tarian Rapai Geleng di bawakan pada saat mengisi kekosongan waktu santri yang jenuh usai belajar. Lalu, tarian ini dijadikan sarana dakwah karena dapat membuat daya tarik penonton yang sangat banyak.

Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan tarian ini ada 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi kepada mayarakat tentang bagaimana hidup bermasyarakat, beragama dan solidaritas yang dijunjung tinggi.

Tarian Rapai Geleng ada 3 babak yaitu:

1. Saleum (Salam) 2. Kisah (baik kisah rasul, nabi, raja, dan ajaran agama) 3. Lani (penutup)Nama Rapai diadopsi dari nama Syeik Ripai yaitu orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini. Syair yang dibawakan tergantung pada Syahi. Hingga sekarang syair-syair itu banyak yang dibuat baru namun tetap pada fungsinya yaitu berdakwah. Contoh : Rapai-i Geleng; Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh Alhamdulilah Pujo Keu Tuhan Nyang Peujeut Alam Langet Ngon Donya Teuma Seulaweut Ateuh Janjongan Panghulee Alam Rasul Ambiya (Segala Puji kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan dunia selawat dan salam pada junjungan penghulu alam Rasul Ambiya) Nanggroe Aceh nyo Tempat loun lahee Bak Ujoung Pantee Pulo Sumatra Dilee Baroo Kon Lam jaro Kaphe Jino Hana lee Aman sentosa… (Daerah Aceh ini Tempat lahir ku di ujung pantai pulau sumatera Dulu berada di tangan penjajah Kini telah aman dan sentosa)

Kostum yang dipakai berwarna hitam kuning berpadu manik-manik merah, serempak menggeprak panggung dengan duduk bersimpuh. Gerakannya diikuti tabuhan rapai yang berirama satu-satu, lambat, lama kemudian berubah cepat di iringi dengan gerak tubuh yang masih berposisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke kanan. Gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat. Pada dasarnya, ritme gerak pada tarian rapai geleng hanya terdiri dalam empat tingkatan; lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan Agama, politik, sosial dan budaya mereka.

Pada gerakan lambat, ritme gerakan tarian rapa-i geleng tersebut coba memberi pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Maaf dan permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang mesti di berikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sebagai contoh bisa tergambar dari nukilan syair dari salah satu bagian tarian;Meu nyo ka hana raseuki, yang bak bibi roh u lua Bek susah sare bek sedeh hatee, tapie kee laen ta mita (Kalau sudah tak ada rezeki, yang sudah di bibirpun jatuh ke luar jangan lah susah, jangalah bersedih hati, mari kita pikirkan yang lain untuk di cari) Kata “raseuki” yang bermakna “rezeki” dalam syair di atas, merupakan simbol dari peruntungan. Bagi masyarakat Aceh, orang yang melakukan perbuatan baik kepada mereka dimaknakan sebagai sebuah keberuntungan. makna sebaliknya, ketika orang melakukan perbuatan jahat, maka masyarakat Aceh mengartikan ketakberuntungan nasib mereka, dan ketakberuntungan itu merupakan permaafan.

Gerakan beritme Cepat adalah gerak kedua, sesaat pesan yang terkandung dalam gerakan beritme lambat namun sarat makna usai dituturkan. Pada gerakan ini, pesan yang disampaikan adalah pesan penyikapan ketika perbuatan jahat, yang dimaknakan sebagai ketakberuntungan nasib, kembali dilakukan oleh orang atau institusi yang sama. Penyikapan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun, tapi masih sebatas protes keras belaka. Seperti bunyi syair di bawah;Hai Laot sa, ilak ombak meu Aloun kapai die eik troun meu lumba Lumba hai bacut teuk, salah bukon sa Lah loun salah mu, lah poun awai bak gata (Wahai Laut yang berombak mengayunkan kapal naik dan turun sedikit lagi kemasukan air, itu bukan salah ku, engkaulah yang mengawalinya)

Gerakan beritme cepat ini tak lama, kemudian disusul dengan gerakan tari beritme sangat cepat mengisyaratkan chaos menjadi pilihan dalam pola perlawanan tingkat ketiga. Sebuah perlawanan disaat protes keras tak diambil peduli. Tetabuhan rapa-i pada gerakan beritme sangat cepat inipun seakan menjadi tetabuhan perang yang menghentak, menghantam seluruh nadi, membungkus syair menjadi pesan yang mewajibkan perlawanan dalam bentuk apapun ketika harkat dan martabat bangsa terinjak-injak. Cuplikan sajak “perang” nya (alm) Maskirbi yang biasa dilantunkan menjadi syair dalam gerakan beritme cepat pada tarian rapai geleng ini bisa menjadi contoh sederetan syair-syair yang dijadikan pesan.

Doda idi hai doda idang Geulayang balang ka putoh talo Beureujang rayeuk banta sidang Jak tulong prang musoh nanggro

(doda idi hai doda idang –nyanyian nina bobo untuk anak- layangan sawah telah putus talinya cepatlah besar wahai ananda pergilah, perangi musuh negeri) Pada titiknya, semua gerakan tadi berhenti, termasuk seluruh nyanyian syair. Ini merupakan gerakan akhir dari tarian. Gerakan diam merupakan gerakan yang melambangkan ketegasan, habisnya semua proses interaksi.

***

Sumber: rampoeacehfestival.com

Tari Giring-giring

Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh suku-suku yang berdiam di Kalimantan adalah tari giring-giring. Utama suku Ma’anyan yang menetap di daerah Barito, Kalimantan Selatan. Oleh masyarakat setempat, tarian giring-giring juga disebut dengan nama Ganggereng.

Tari giring-giring merupakan jenis tarian yang menggambarkan suasanan gembira, sehingga tarian ini biasanya digunakan untuk menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa.

Selain itu, tarian giring-giring juga ditampilkan pada acara-acara dengan suasana gembira dan acara selingan. Dan terkadang juga dijadikan tarian pergaulan oleh para muda-mudi Kalimantan.

Tata Cara Pementasan Tari Giring – giring

Pada penampilan tari giring-giring, biasanya penari akan membawa alat yang disebut dengan giring-giring. Giring-giring ini biasanya terbuat dari bambu yang tipis (telang).

Sebelum digunakan dalam tari giring-giring, bambu ini biasanya diisi dengan biji ‘piding’ sehingga ketika digunakan dalam pertunjukan tari giring-giring, bambu ini akan menghasilkan suara yang berirama dengan alunan gamelan.

Cara menarikan tari giring-giring adalah dengan menghentakan giring-giring atau bambu ke lantai dan mengoyang-goyangkan bambu agar mendapatkan bunyi yang ritmis.

Tongkat yang dihentakan ke lantai adalah tongkat yang dipegang dengan tangan kiri, sedangkan bambu yang digoyang-goyangkan adalah bambu yang dipegang oleh tangan kanan.

Ketika menhentakan dan mengoyangkan bambu, kaki penari biasanya akan bergerak maju-mundur seirama dengan irama yang dihasilkan oleh bambu dan irama lagu yang mengiringi tarian tersebut.

Keserasian antara ritme musik dan gerakan penarinya itulah yang menjadi daya tarik bagi orang menonton pertunjukan tari giring-giring. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/budaya-kalimantan-tari-giring-giring | Foto: melayuonline.com

Tari Cokek

Tari cokek merupakan salah satu budaya Betawi yang dipengaruhi oleh budaya etnik China. Walaupun merupakan salah satu kekayaan budaya Betawi, tarian ini sebenarnya tarian khas Tangerang. Tari cokek merupakan salah satu jenis tarian pergaulan yang biasanya dibawakan oleh 10 orang penari wanita dan 7 orang penari laki-laki.

Sedangkan untuk musik pengiringnya biasanya menggunakan orkes gamang kromong untuk mengiringi pertunjukan tari cokek.

Untuk kostumnya sendiri biasanya penari tari cokek hanya memakai baju urung dan celana panjang dari bahan sejenis sutra dengan warna yang cerah dan mencolok.

Biasanya penari juga akan memakai selendang yang disebut cokek. Fungsi dari selendang ini adalah untuk mengajak para penonton untuk ikut penari.

Dalam pertunjukanya biasanya penari akan menarik tamu yang dianggap paling terhormat untuk ikut menari bersama atau ngibing.

Cara mengajaknya adalah dengan mengalungkan selendangnya ke tamu terhomat dan bila tamu tersebut bersedia untuk menari bersama, maka mereka akan mulai menari bersama.

Secara sepintas, pertunjukan tari cokek hampir sama dengan pertunjukan tari sintren dari Cirebon atau tari ronggeng dari Jawa Tengah.

Sejarah Tari Cokek

Tari cokek disinyalir telah berkembang di daerah Tanggerang, Banten sejak abad ke–19. Menurut beberapa berkas, tarian ini pertama kali diadakan oleh tuan tanah Tionghoa.

Awalnya cukong atau tuan tanah Tionghoa yang tinggal di sekitar wilayah Tangerang terkadang mengadakan pentas hiburan atau pentas seni.

Untuk meramaikan pentas seni tersebut kemudian salah satu tuan tanah, Tan Sio Kek mengikutsertakan 3 orang penari cantik dalam pentas seni tersebut.

Berawal dari keikutsertaan mereka dalam pentas seni tersebut, kemudian penari tersebut menjadi terkenal hingga akhirnya mereka mendirikan kelompok tari sendiri.

Tariannya yang dibawakan oleh penari tersebut kemudian dinamakan dengan tari cokek sebagai penghargaan terhadap Tan Sio Kek karena telah mengilhami pertunjukan tersebut. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/budaya-betawi-tari-ngibing-cokek/4763/ | Foto: gambang.wordpress.com

Tari Serimpi

Tari serimpi merupakan tari klasik daerah yang berasal dari Yogyakarta. Tari serimpi biasanya dibawakan oleh empat orang penari, ini karena kata srimpi merupakan sinonim dari bilangan empat. Komposisi empat penari serimpi merupakan lambang dari empat mata angin dan empat unsur dunia yaitu grama (api), angin (udara), toya (air) dan bumi (tanah).

Tari serimpi mempunyai ciri khas yang lemah gemulai yang merupakan pembawaan bagi sebagian besar gadis Jogja. Gerakan yang membuat kita seakan – akan sedang dibawa ke alam mimpi.

Dulu satu kali pertunjukan tari serimpi biasanya akan memakan waktu kurang lebih 15 – 60 menit. Namun sekarang ini durasi tari serimpi sudah dipangkas menjadi 11 – 15 menit, dengan menghilangkan gerakan pengulangan.

Awalnya tari serimpi hanya ditampilkan di istana Yogyakarta untuk menyambut tamu – tamu agung. Namun seiring perjalanan waktu, tari serimpi sudah mulai dipertunjukan dalam seluruh lingkungan masyarakat.

Dalam pertunjukan tari serimpi biasanya diiringi alunan musik gamelan, baik itu secara langsung maupun dalam bentuk kaset rekaman.

Sebagai tari klasik, tari serimpi tidak hanya menampilkan keindahan pada gerakannya. Namun juga sarat akan nilai – nilai kehidupan.

Hal ini digambarkan dengan tema yang ditampilkan pada tari serimpi yang menggambarkan pertarungan antara dua unsur kehidupan yaitu baik dan buruk, benar dan salah, antara akal dan nafsu manusia.

Sekarang ini sudah banyak jenis tari serimpi yang biasa dibawakan dalam pertujukan tari serimpi. Jenis tari serimpi antara lain adalah,

Tari serimpi sangopati
Tari serimpi anglirmendung
Tari serimpi ludira madu
Tari serimpi renggawati
Tari serimpi cina
Tari serimpi pistol
Tari serimpi padhelori
Tari serimpi merak kasimpir
Tari serimpi pramugari
Di mana pada setiap jenis tari serimpi memiliki ciri khas sendiri, tanpa menghilangkan ciri khas dasar pada tari serimpi yang mengandalkan gerakan lemah gemulai penari. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/tari-serimpi/3809/ | Foto: cano.blogdrive.com

Tari Cakalele

Tari Cakalele merupakan seni tari perang khas Maluku yang biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu agung atau dalam upacara adat sehingga tari Cakalele disebut sebagai tari kebesaran oleh masyarakat Maluku. Tari Cakalele biasanya dibawakan oleh 30 oarang penari yang terdiri dari wanita dan laki – laki. Kostum para penari laki – laki lebih dominan berwarna merah dan kuning.

Sebagai tarian perang, tentu saja dalam membawakan tari Cakalele penari membawa alat perang. Penari laki – laki biasanya membawa parang di tangan kanannya dan tameng di tangan kiri.

Sedangkan untuk penari wanita akan mengenakan pakain warna putih dengan membawa sapu tangan di kedua tangannya.

Alat musik yang mengiringi tari Cakalele adalah alat musik tifa, drum, fluet dan bia. Sebagai tarian kebesaran masyarakat Maluku banyak makna yang terkandung dalam tari Cakalele.

Diantaranya adalah pemakaian warna meraha yang mengandung makna kepahlawanan dan keberanian masyarakat Maluku dalam menghadapai perang untuk mempertahankan tanah Maluku.

Pemakaian parang dan tameng dalam tari Cakalele melambangkan harga diri dan martabat masyarakat Maluku yang akan dijaga hingga mati.

Serta tameng yang merupakan protes dari masyarakat Maluku yang merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah.

Ketika Tari Cakalele ditampilkan masyarakat Maluku percaya bahwa terkadang arwah leluhur masuk ke dalam raga penari.

Dan kehadiran arwah leluhur tesebut hanya bisa dirasakan oleh penduduk asli Maluku. (nn)

***

Sumber: http://indobeta.com/tari-cakalele/3107/ | Foto: gaedegambarist.blogspot.com

Penamaan Rentak Dalam Tari Melayu

Oleh Tom Ibnur

Masyarakat Melayu tak mengenal julukan "tari" pada awalnya. Mereka lebih cenderung menyebut "tandak", dan apabila ada perhelatan maka mereka mengajak sanak keluarga untuk "menandak". Dalam perkembangannya dan kata "dance" diterjemahkan menjadi "tari" maka lazimlah kata tersebut dipakai dan kata tandak menghilang karena itu. Hal semacam ini juga terjadi dalam komunitas-komunitas etnik lainnya, seperti "tayub"dan "joged" di Jawa dan Bali, "lenso" di Maluku dan Manado, dan lainnya.

Dalam tari Melayu, tariannya dikenal dengan nama "rentak", antara lain: rentak zapin, rentak senandung / asli, rentak mainang / inang, rentak lagu dua / jogged, rentak cik minah sayang, dan rentak pulau sari. Masing-masing rentak memiliki latar belakang penamaan dan mungkin juga sejarah singkatnya. Setiap daerah mempunyai sejarah yang berbeda, tapi satu di antaranya dapat dijelaskan dalam tulisan ini.

RENTAK ZAPIN
Zapin berasal dari Hadralmaut di Jazirah Arab. Dia berkembang ke nusantara melalaui dua jalur yaitu langsung dari Hadralmaut dan satu lagi dating dari Gujarat, India. Diperkirakan dalam abad ke 13 dan 14 zapin dibawa oleh para pedagang Arab dan India yang bukan hanya membawa barang dagangannya saja tetapi juga membawa para seniman dari tempat mereka berasal.

Kedatangannya telah mewariskan zapin yang dikenal dengan nama ZAPIN ARAB. Sedangkan zapin yang telah beradaptasi dengan kesenian setempat (melayu) disebut sebagai ZAPIN MELAYU.

Zapin berasal dari kata "al-zafn" yang berarti langkah kaki. Hal ini terlihat dari gerakannya yang banyak bertumpu dan bervariasi pada kaki.

RENTAK SENANDUNG / ASLI
Selain dari rentak zapin maka rentak-rentak dalam tari melayu banyak mendapat pengaruh dari berbagai daerah seperti: portugis, spanyol, India, dan seni tradisional di mana tempat dianya tumbuh.

Rentak senandung / asli merupakan rentak yang halus dan lembut. Rentak ini menunjukkan gambaran hati yang lemah lembut dan ditujukan untuk tarian puteri. Kata senandung tampil ketika seseorang ingin mengungkapkan perasaan hati dengan bersenandung atau bernyanyi. Ada rasa cinta, kasih saying, dan mungkin pula patah hati. Sedangkan nama asli terkait dengan perasaan pula yang dpat diartikan sebagai perasaan yang dalam.

RENTAK MAINANG / INANG
Rentak ini ditujukan untuk gerak tari para pengasuh atau inang. Kata "ma" dapat diartikan sebagai panggilan "mak" untuk inang pangasuh. Rentak ini sedikit lebih cepat dari rentak asli dan dapat pula menampilkan gerakan yang rancak dan lucu.

RENTAK LAGU DUA / JOGED
Rentak yang cepat ini mengungkapkan rasa gembira dan puas hati. Kata "lagu dua" diartikan sebagai kata bersahutan antara dua insan untuk menyampaikan hati yang riang sambil bernyanyi. Kemudian muncul kata "joged" dalam arti menari bersama, bergembira dan mengajak.

RENTAK LAINNYA
Rentak Cik Minah Sayang merupakan pecahan antara rentak inang dan joged, sedangkan Rentak Pulau Sari merupakan kumpulan dari semua rentak yang diambil sarinya menjadi suatu kumpulan gerak. Rentak ini menghasilkan tari Serampang 12.

Tari Jaipong

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Berkembang
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tari Saman, Simbol Kebersamaan dan Kekompakan

Ada yang berbeda pada pembukaan acara pembinaan kiat cegah korupsi dengan metode THD (Tafakur Hisab Dzikir) angkatan ke XI (sebelas) yang diselengggarakan pada tanggal 28 - 30 Juni 2010 di Botani Square yakni penampilan CPNS Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian 2009 yang menampilkan Tari Saman. Tari Saman yang berasal dari Aceh merupakan jenis tarian yang sangat menarik, dinamis, dan mengedepankan kekompakan gerakan.

Mengulas tentang tari Saman, Tari Saman pertama kali dibuat oleh Ulama Aceh bernama Syekh Saman sekitar abad XIV Masehi.Tarian ini pada awalnya berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane dan selanjutnya berkembang dengan tambahan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT karena digunakan sebagai media dakwah. Seiring perkembangan zaman, Tari Saman berkembang juga penggunaannya. Saat ini Tari Saman digolongkan sebagai tarian hiburan/pertunjukan karena penampilan tari ini tidak terikat waktu, peristiwa, atau upacara tertentu. Tari Saman biasanya dipandu oleh seorang pemimpin yang biasa disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis. Makna dan fungsi Tari Saman ini pada awalnya dijadikan sebagai media dakwah dan syair-syair yang dilantunkan juga berisi petuah-petuah dan dakwah. Selanjutnya, fungsi Tari Saman bergeser sebagai media hiburan pada pesta, hajatan, atau acara-acara lain.

Pada Tari Saman terdapat 5 macam nyanyian, yakni:

Rengum, yaitu sebagai pembukaan. Rengum ini adalah tiruan bunyi. Begitu berakhir langsung disambung secara bersamaan dengan kalimat yang terdapat didalamnya, antara lain berupa pujian kepada seseorang yang diumpamakan, bisa kepada benda, atau kepada tumbuh-tumbuhan.
Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak.
Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.
Gerakan pada Tari Saman sangat unik karena hanya menampilkan gerakan tepuk tangan, tepuk dada, dan gerakan-gerakan lainnya seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo). Semua penari harus menari dengan harmonis dan biasanya tempo Tari Saman makin lama makin cepat dan hal ini yang membuat tarian ini sangat menarik. Tari Saman umumnya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki dan jumlahnya harus ganjil. Tetapi seiring perkembangan, tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan dan akan semakin semarak apabila ditarikan oleh pemain dalam jumlah lebih banyak.

Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu:

Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan benang seperti baju, sunting kepies.
Pada badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih, hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju bertangan pendek) celana dan kain sarung.
Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan.
Salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui penampilan Tari Saman pada acara pembinaan kiat cegah korupsi dengan metode THD angkatan ke XI adalah sebagai salah satu usaha melestarikan budaya bangsa sekaligus sebagai simbol kebersamaan dan kekompakan.

Tari Saman Menghentak Sanur

Denpasar, Bali - Suasana panggung seni "Kampoeng Art" tiap malam semakin seru di ajang "Sanur Village Festival (SVF) 2010. Pada Kamis malam (5/8), tarian Saman dari Aceh mampu memukau penonton, selain itu juga ada pementasan pembacaan puisi oleh Moch Satria Welang, pementasan teater sahaja, live musik trio No Stress, serta pemutaran film dokumenter WS Rendra.

Selanjutnya pada malam kedua seperti malam pertama yaitu pembacaan puisi oleh penyair muda Friska. Friska adalah penyair muda yang memiliki segudang prestasi dan salah satunya adalah membacakan puisi di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pada malam ke dua terdapat sesuatu yang unik dari malam pertama yaitu adanya �performance� garapan seniman Solo Jawa Tengah yang membawakan karya barong kontemporer, musik dari Patrick the Bastards, tarian Saman Aceh serta ditutup dengan pemutaran film dokumenter Pramoedya Ananta Tour.

Pertunjukan yang sangat menarik yaitu tarian Saman SMP Bakti Mulya 400 Jakarta Selatan. Penari-penari Saman Aceh yang boleh dibilang masih belia membawakan tarian Saman dengan keriuh-riangannya.

Diawali dengan hening seolah membawa malam pada aura magis, namun setelah itu gerakan cepat yang dipadu rebana bersautan menggerakkan tangan dan tubuh-tubuh penari.

Gerakan mereka sangat kompak dan sangat mengingatkan akan ombak Sanur yang tanpa henti gemulai menyapa hamparan pasir putih.

Penonton sangat takjub melihat penampilan mereka, karena mereka menari justru turun dari panggung yang biasa digunakan pentas malam Kampoeng Seni.

Ida Bagus Sutama koordinator Kampoeng Seni menjelaskan, mereka menari dengan jumlah personel sekitar dua puluhan. Sementara panggung tidak mencukupi, dan akhirnya diarahkan ke lahan berumput sebelah panggung dengan alas yang memadai.

Upaya pemindahan tempat ini justru disambut gembira oleh grup penari Saman, karena mereka sangat leluasa menari.

Sutama lebih lanjut mengatakan, mereka turun ke tanah dari panggung benar-benar menyatu dengan segala elemen seni rupa yang dipamerkan di Kampoeng Seni.

"Tari Saman dapat menyatu dan berdialog dengan karya instalasi saya yang memang sangat �colourfull�, kostum mereka yang bewarna-warni dipadu tata lampu dan gerakan yang aktraktif diatas rumput hijau sangat luar biasa mempesona setiap orang yang menyaksikan pertunjukan malam itu," tuturnya.

Yudha Bantono seorang penggiat seni ketika dimintai komentarnya mengatakan bahwa tari Saman yang ditampilkan anak-anak SMP Bakti Mulya 400 Jakarta bukan sekadar tampil dan ikut serta dalam perhelatan SVF 2010.

Tari Saman benar-benar memberikan kontemplasi akan daerah Aceh yang masih dalam ingatan dirundung bencana kedukaan yang dalam, akibat bencana tsunami.

Namun begitu, kata dia, melihat penampilan mereka di kampung seni benar-benar menampakkan pesona tersendiri penuh dengan suasana keriangan.

"Para penari Saman yang menari turun dari panggung di tanah lapang terbuka di atas rumput, sepertinya mereka datang ke Sanur untuk menghormati Desa Sanur dan memberikan salam hangat penuh hormat kepada ibu bumi Sanur," ucapnya.

Dikatakannya, mereka bukan hanya menari namun juga membawa kepada keharuan bagaimana mengingatkan kita akan kesantunan di tanah orang.

"Saya menyaksikan para penonton terpana bahkan berkaca-kaca. Susah untuk mengungkapkan bahasanya karena ketakjupan akan tarian Saman di ajang Kampoeng Seni SVF benar-benar membumi," ujar Yudha.

Sementara Siti Nurjanah pendamping penari saman mengatakan, mereka sangat berterimakasih bisa tampil di ajang tahunan tersebut.

Ia menambahkan bahwa anak-anak didiknya memang harus selalu belajar dan terus tampil di berbagai ajang seni pertunjukan untuk menambah wawasan maupun kepiawaiannya.

Menurut Siti Grup Tari Saman SMP Bakti Mulya 400 Jaksel pernah meraih juara dalam festival tari Saman se-DKI Jakarta. "Grup kesenian nini telah melakukan lawatan ke berbagai daerah, bahkan ke negara di Asean dan sebelum ke Bali mereka baru saja tampil di Singapura," jelas Siti.
Pohon Intaran

Panitia SVF ke-5 tahun 2010 memperkenalkan sesuatu yang unik dan menarik bagi warga masyarakat dan wisatawan, pohon intaran atau mimba atau neem (azadirachta indica).

"Kami memperkenalkan sebuah pohon yang menjadi ikon bagi Sanur. Pohon tersebut adalah pohon intaran. Pohon ini tumbuh banyak di wilayah Sanur dan hampir semua bagiannya bermanfaat bagi manusia," kata Ida Bagus Sidharta Putra yang akrab dipanggil Gusde.

Ia mengatakan, bahwa nilai historis pohon intaran ini, akan diangkat dan dikombinasikan dengan sejarah Sanur, yang sampai saat ini diabadikan menjadi nama kawasan desa wisata ini.

"Ini menjadi bukti kedekatan pohon intaran dengan Sanur. Program lingkungan �go green� yang sempat diusung SVF tahun lalu sangat erat kaitannya dengan program penanaman pohon intaran," kata pemilik Hotel Santrian.

Ia mengemukakan bahwa SVF tahun ini mengangkat tema "Saha Nuhur" atau tempat suci terbitnya matahari untuk meminta berkah.

Menurut dia, eksistensi seni dan budaya di Sanur terjaga sejak kehadiran orang-orang suci atau pemuka agama hingga saat ini. "Tema �Saha Nuhur� yang memiliki makna bahwa Sanur adalah tempat suci terbitnya matahari untuk meminta berkah. Tema ini sengaja diangkat untuk mengingatkan kehadiran Sanur bagi Bali," katanya.

Dia mengatakan, Sanur sebagai tujuan pariwisata mampu mempertahankan budayanya di tengah serangan budaya luar. Kehadiran pendeta-pendeta di Sanur membawa tatanan baru bagi kehidupan di wilayah itu.

"Golongan pendeta ini menjadi panutan yang begitu kental untuk mengawal budaya tradisional hingga kini," ucap pria yang juga praktisi pariwisata Bali itu.

Dikatakan, pihaknya berupaya mengangkat kembali potensi Sanur. Dan pelaksanaan kegiatan akan kembali di lokasi semula, yakni Jalan Segara.

"Sebelumnya SVF sempat kami gelar di Pantai Mertasari. Namun sekarang kembali digelar di sepanjang pantai Inna Grand Bali Beach dan Jalan Segara Sanur," katanya.(MNA-KOMPAS)

Tarian Saman oleh 1.050 Remaja Pecahkan Rekor MURI

Jakarta - Tarian Saman asal Aceh yang ditarikan secara kolosal oleh 1.050 remaja putri di Silang Monas Jakarta Pusat, Sabtu (26/6) pagi, bukan saja mendecakkan rasa kagum penonton, tetapi juga sekaligus memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Atas prestasi itu, Pemerintah Aceh berhak mendapatkan sertifikat MURI yang diserahkan petinggi MURI. Sertifikat itu diterima Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada Sabtu (26/6) malam di Gedung Jakarta Theatre.

“Ya, saya sudah terima sertifikat MURI mengenai tarian Saman kolosal itu dalam acara Temu Ramah Badan Narkotika Nasional, tadi malam. Segera saya bawa pulang ke Aceh,” ujar Gubernur Irwandi yang ditanyai Serambi per telepon, Minggu (27/6) pagi.

Diakuinya, prestasi itu membuatnya bangga, juga seluruh masyarakat Aceh, khususnya para pegiat seni dan pendukung kebudayaan di provinsi istimewa ini. Soalnya, tari Saman sudah begitu memasyarakat di Indonesia dan hampir semua subetnis menyukai dan mampu menarikannya.

Kebanggaan Irwandi kian beralasan, karena sepanjang sejarah Aceh dan Indonesia terbentang, baru kali inilah tarian asal Gayo Lues itu dimainkan lebih dari seribu penari, sehingga dari segi jumlah langsung bisa memecahkan rekor MURI. “Menariknya lagi, tarian tersebut ditarikan remaja-remaja Jakarta. Ini menandakan, produk budaya kita yang luhur disukai dan dikagumi banyak orang,” ujar Irwandi.

Menurut Kepala Perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta, T Eddy Syahputra MSi, seribuan penari Saman itu berasal dari 50 SMA se-Jakarta. Beberapa di antaranya direkrut dari sanggar pada Anjungan Aceh di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kesemua mereka diundang khusus untuk memeriahkan pucak acara Peringatan Hari Antinarkotika Internasional (HANI) 2010 di Silang Monas Jakarta Pusat.

Di depan Wakil Presiden (Wapres) Boediono, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, dan sejumlah duta besar negara sahabat, para penari Saman itu meliuk-liuk kompak. Gerakan mereka ritmis, dinamis, dan memesona. Gubernur Irwandi Yusuf juga hadir menyaksikan atraksi yang memukau itu di Silang Monas.

Malamnya, barulah diselenggarakan acara Temu Ramah Badan Narkotika Nasional (BNN) di Gedung Jakarta Theatre. Di tempat inilah Gubernur Irwandi menerima sertifikat MURI terkait prestasi tari Saman yang dibawakan secara kolosal oleh 1.050 penari tersebut. Penyerahan sertifikat itu disaksikan Ketua Harian BNN, Komjen Goris Mere dan Wakil Gubernur Papua. Acara ramah tamah itu, hanya diisi sambutan tunggal oleh Ketua Harian BNN, tanpa sambutan dari pihak lain, termasuk dari Gubernur Aceh yang menerima sertifikat MURI. dik/serambi Indonesia.

Tari Saman Selalu Memukau Dunia Barat

Jakarta - Tarian dari Nanggroe Aceh Darussalam, Saman, selalu menjadi andalan para pekerja seni Indonesia yang tampil di arena internasional. Seperti saat Saman kembali diperagakan oleh personil Kelompok Paduan Angklung SMA 3 Bandung di Slovenia baru-baru ini.

2.500 penonton yang hadir pada Pembukaan Festival Lent yang berlangsung di Maribor, Slovenia pada 29 Juni 2010 tak berkedip menyaksikan gerakan rancak 37 pemain Saman. Kecepatan dan ketepatan gerakan yang dinamis dari Saman memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Eropa.

Penampilan tarian Saman dalam Festival tersebut merupakan bagian dari rangkaian tour Eropa 2010 di Slovenia, Austria dan Spanyol.

Para penari Saman ini akan berpartisipasi dalam Festival selama satu minggu penuh dari tanggal 29 Juni sampai dengan 3 Juli 2010. Penampilan Kelompok Paduan Angklung SMAN 3 Bandung ini adalah atas undangan Penyelenggara Festival Lent 2010 dan merupakan kesempatan mereka untuk pertama kalinya tampil di Slovenia, salah satu negara bekas Yugoslavia yang baru merdeka
pada 1991.

Festival Lent sendiri merupakan pameran terbesar di Slovenia dan merupakan program tahunan di kota Maribor yang berlangsung setiap musim panas. Festival ini merupakan rangkaian berbagai macam kegiatan antara lain bazaar kuliner, pameran seni, olah raga, serta pertunjukan seni dan musik rakyat.

Selain menampilkan kesenian setempat, acara itu juga menampilkan kesenian tradisional dari berbagai belahan dunia dengan mendatangkan seniman dari negara asalnya. Misalnya saja, Indonesia, Hongaria, Bosnia Herzegovina,
Philipina, Macedonia, dan Selandia Baru.

Namun dengan Saman, tampaknya Indonesia menjadi paling diminati diantara kesenian dari negara lainnya.

Setelah dari Slovenia, KPA SMA 3 Bandung yang tak hanya mahir menampilkan Saman ini- tetapi juga berbagai tarian dan musik tradisional- akan beraksi di Austria. Kelompok ini akan mengikuti Summa Cum Laude International Youth Music Festival Vienna yang berlangsung dari tanggal 3 s/d 7 Juli 2010 di Wina. (Hanum Salsabiela Rais)

Gandrung Banyuwangi

Gandrung Banyuwangi adalah salah satu jenis tarian yang berasal dari Banyuwangi. Kata ""Gandrung"" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Pertunjukan Gandrung Banyuwangi
Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.[1]. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).[rujukan?]
Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.

Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju"[2]

Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Sejarah
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrungditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker

Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.

Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Tata Busana Penari
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.

Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.

Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.

Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.

Bagian Bawah
Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.

Lain-lain
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.

Musik Pengiring
Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.
Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.

Tahapan-Tahapan Pertunjukan
Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian:

Jejer
Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Maju
Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.

Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang subuh
Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.

Perkembangan terakhir
Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.

Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.[4]

Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari[5].

Sejak Desember 200, Tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat[6]

Referensi
^ http://www.banyuwangikab.go.id/kesenian-daerah/kesenian-gandrung.html
^ Novi Anoegrajekti.[rujukan?] "Penari Gandrung: Kontrol Agama, Masyarakat dan Kekuatan Pasar" dalam Merayakan Keberagaman, Jurnal Perempuan, Vol.54 tahun 2007. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, hal.51
^ Antara lain, J.Scholte, Gandroeng van Banjoewangie, 1927; Paul A.Wolbers, Maintaining Using Identity, 1992, hal.89; "The Seblang and its music..." dalam "Performance in Java and Bali, 1993, hal.36; Fatrah Abal, "Seblang Lukento", makalah tidak diterbitkan, 2001; dan Hasnan Singodimayan, dkk., "Gandrung Banyuwangi", Banyuwangi: Dewan Kesenian Blambangan, 2003.
^ Lihat Singodimayan, dkk. Opcit., hal.60
^ Richard Schechner. 1985. Between Theatre and Anthropology. Phyladelphia: University of Pennsylvania Press, hal.125-126
^ http://www.budpar.go.id/page.php?ic=543&id=151

-

Arsip Blog

Recent Posts