Budaya Munjungan di Leuwimunding

Dari tinjauan kebahasaan, istilah munjung atau ngunjung memiliki arti mengunjungi, menghadiri atau dalam bahasa agama berziarah. Munjung secara bahasa berarti juga memuja atau melakukan persembahan. Istilah lain yang juga merupakan perkembangan makna dan memiliki arti sama adalah sedekah makam. Namun, bagi masyarakat Leuwimunding, Majalengka, istilah yang telah lazim penyelenggaraan ritual ini disebut munjung. Ritual munjung secara teknis dilakukan dengan melakukan ziarah ke makam para leluhur. Karena kondisi geografis pemakaman di desa ini memiliki lima area pemakaman, penyelenggaraan munjung dipusatkan di lima tempat tersebut. Istilah pemakaman di desa ini banyak juga yang menyebut maqbaroh, sebuah istilah serapan dari bahasa Arab yang memiliki arti sama dengan tempat kubur atau pemakaman. Kelima tempat itu adalah kompleks pemakaman Jagakerti, Cibatur, Caruy, Karamat, dan Pengkeur Masjid (di sebelah belakang masjid).

Semua tempat yang menjadi titik konsentrasi ritual munjung itu memiliki sejarahnya masing-masing. Tidak ada data yang menginformasikan mengenai waktu pertama kali ritual munjung dan bongkar bumi ini diadakan di desa ini. Namun berdasarkan cerita-cerita masyarakat setempat, konon munjung dan bongkar bumi ini telah ada sejak zaman Hindu. Jika pendapat ini yang dipegang, dapat disimpulkan bahwa dua ritual ini telah terselenggara sekitar abad ke-15 atau tahun 1400an. Pada tahun-tahun inilah, Leuwimunding kala itu masih berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan Galuh yang menganut agama Hindu. Namun demikian pendapat pertama ini mengandung kelemahan. Salah satunya adalah adanya penggalan zaman yang amat jauh dengan pembukaan lahan perhutan pertama kalinya untuk komunitas manusia yang mendiami daerah Leuwimunding ini. Hal ini diperkuat dengan pendapat Ki Olin bahwa pada abad 15 daerah Leuwimunding masih hutan belantara atau tidak mungkin sudah dihuni sekelompok manusia.

Berbeda dengan uraian di atas, ritual munjung dan bongkar bumi ini dimungkinkan untuk pertama kalinya diadakan sejak ke-18. Pendapat ini merujuk pada momentum pembagian kekuasaan pemerintahan era Rafflesia yang menempatkan Leuwimunding menjadi order district, sebuah penyebutan untuk kewedanan pada era Orde Baru.

Pemerintahan desa kala itu telah memiliki kuwu atau kepala desa serta terstruktur berdasarkan komposisi kebutuhan masyarakat. Bahkan, konon menurut cerita, terjadinya reduksi terhadap ritual munjung dan bongkar bumi yang mensaratkan para pamong desa untuk 'nenggak', meminum air alkohol dan mabuk di arena ritual itu terjadi dipengaruhi oleh mental penjajah yang hedonis atau memburu kenikmatan lahiriyah. Ritual munjung dan bongkat bumi yang memiliki dimensi transendental sebagai wujud persembahan kepada para karuhun (leluhur), ternodai dengan iklim glamor pihak kompeni.

Adanya dua tinjauan kesejarahan yang berbeda ini menunjukkan bahwa baik munjung maupun bongkar bumi telah hadir sejak peradaban manusia untuk pertama kalinya bermukim di wilayah desa ini. Adapun motivasi awalnya lebih ditujukan sebagai ekspresi atas keseimbangan antara kejadian manusia dengan alam semesta. Pencerminan ini dapat dilihat pada ketundukan manusia terhadap siklus alam, di mana perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan atas pergantian musim menuju musim penghujan. Karena musim penghujan inilah, diyakini oleh masyarakat setempat telah membawa keberkahan dan keluasan rizki, terutama bagi kaum petani yang memiliki lahan sawah.

Dari segi kronologis, sejarah ritual penyambutan pergantian musim ini sebenarnya terdiri dari tiga tahap, yaitu munjung, bongkar bumi dan kemudiaan diakhiri dengan ritual mapag Sri. Dua tahap pertama hingga saat ini masih dilestarikan, meski telah terjadi modifikasi dalam berbagai sisi. Sementara tahap terkahir, berupa mapag Sri yang juga memiliki arti menyambut Dewi Sri, tidak lagi diselenggarakan. Bagi banyak daerah yang memiliki latar belakang budaya yang berkarakter agraris, tokoh Dewi Sri hadir di tengah masyarakat petani sebagai sumber inspirasi dan dipercaya pelindung bagi kesuburan tanah dan padi. Upacara yang menekankan arti penting kehadiran sosok Dewi Sri ini dilakukan ketika memulai musim panen dan menjelang penanaman bibit padi.

Dalam kebudayaan masyarakat Sunda, ketiga ritual tersebut telah menjadi rutinitas terutama musim penghujan tiba. Di samping sebagai bentuk penghormatan terhadap siklus alam tentang pergantian musim, bagi kalangan petani di desa ini ritual tersebut seolah menjadi kewajiban untuk dilaksanakan, dengan harapan agar tanaman yang hendak ditanam --terutama padi-- dapat menghasilkan padi yang berlimpah, subur dan tidak diganggu oleh berbagai bentuk hama. Begitu juga ketika memasuki musim panen, ada upacara adat yang dilakukan oleh para petani yang dikenal dengan 'Mipit', yang berarti mengawali musim panen.

Tingginya penghormatan masyarakat terhadap kebudayaan lokal dalam bidang pertanian ini, tidak bisa terlepas dari kepercayaan nenek moyang dan telah lama dipegang oleh masyarakat petani Leuwimunding di masa lalu tentang peranan Dewi Sri. Tokoh Dewi Sri yang berkembang dalam sastra Sunda, menurut penelitian Hidding, dikenal dengan sebutan Nyi Pohatji Sanghyang Sri dan sering dikaitkan dengan mitos asal mula adanya padi di Jawa Barat. Dalam banyak literatur, terutama kehidupan masyarakat Jawa dan Sunda, Dewi Sri merupakan tokoh yang cukup terkenal, terutama di kalangan masyarakat petani. Dalam masyarakat petani Jawa dan Sunda, tokoh Dewi Sri sering diidentikkan dengan dewi padi, dewi kekayaan, dewi kesuburan dan kemakmuran, dewi yang melimpahi ketenaran, kesuksesan, yang dapat memberi umur, panjang, sehat, dan banyak anak. Oleh karena posisinya yang amat sentral, masyarakat petani di masa lampau sangat memberikan penghormatan terhadap keberadaan tokoh Dewi Sri, sebagaimana terlihat dalam adat istiadat dan tradisi budaya Jawa-Sunda. Salah satu tradisi yang mencerminkan terhadap adanya kepercayaan dan penghormatan terhadap tokoh Dewi Sri, dapat dilihat dalam sikap dan perlakuan masyarakat agraris Jawa dan Sunda terhadap padi.

Dalam memperlakukan padi, masyarakat petani Jawa dan Sunda, khususnya di daerah pedesaan, tidak akan bersikap sembarangan dan mengambil sikap yang sangat berhati-hati, penuh kasih dan hormat, sebagaimana memperlakukan manusia yang dikasihi dan dihormati.

Sebagaimana dalam penelitian Santikno yang menyebutkan adanya keterkaitan Dewi Sri dengan konsep Dewi Ibu dalam kebudayaan masyarakat Agraris. Menurutnya, Sri atau Tisnawati dianggap sebagai lambang atau perumpamaan biji tanaman. Dalam proses pertumbuhan suatu tanaman, pada umumnya biji harus ditanam di dalam tanah terlebih dahulu, dan biji akan hancur apabila tanaman tersebut tumbuh. Uraian singkat inilah yang kemudian menurut Santikno, berkaitan erat dengan menjawab mitos asal mula adanya padi yang dilukiskan tumbuh dari kuburan jenazah Dewi Sri atau Dewi Tisnawati.

Berbeda dengan Santikno, ketokohan Dewi Sri di Indonesia dalam banyak kemiripan cerita menurut penelitian Pitono, memiliki hubungan dengan tokoh di India. Bahkan, menurut Pitono, dasar-dasar padi itu telah ada di Indonesia sebelum kedatangan kebudayaan Hindu, sebab pulau Jawa atau nusantara adalah negara agraris. Adapun mitos Dewi Sri dari India hanyalah memperluas mitos padi yang telah ada di Indonesia. Sementara itu, berdasarkan penelusuran kesejarahan, menurut penelitian Rassers, tokoh Dewi Sri dijelmakan sebagai putri Prabu Sri Mahapunggung di Kerajaan Purwacarita yang bersaudara dengan Raden Sadana, dan cerita Dewi Sri sebagai bidadari istri Dewa Wisnu di Kahyangan, yang karena dikejar-kejar oleh Kalagumarang lalu turun ke dunia.

Tampilnya Dewi Sri sebagai tokoh dan sekaligus sebagai pusat magnet dalam struktur budaya munjung, bongkar bumi dan mapag Sri menunjukkan bahwa ritual tersebut memiliki ketergantungan dengan dunia gaib. Dalam studi antropologi, perilaku masyarakat semacam ini dapat tergolong pada kelakuan keagamaan atau religious behaviour. Dengan kata lain, bisa jadi ritual-ritual tersebut juga merupakan perwujudan bentuk aktivitas atau kegiatan untuk memberikan rasa cinta kepada Dewi Sri, agar tanaman-tanaman dijaga, tanahnya subur dan melimpah hasilnya. Masyarakat Leuwimunding di zaman lampau yang masih memiliki struktur kepercayaan terhadap dunia gaib inilah yang menempatkan Dewi Sri sebagai causa prima, terutama dalam bidang pertanian. Walaupun tata cara ritual munjung, bongkar bumi, dan mapag Sri tersebut banyak pengaruh Hindu, namun pelaksanaannya hingga kini mengalami perubahan dalam berbagai sisi, termasuk substansinya.

Sumber: http://portalcirebon.blogspot.com

Warga Sumur Adem Gelar Syukuran Mapag Sri

Indramayu - Kendati hasil panen kurang memuaskan, Ratusan warga petani Desa Sumur Adem Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu, tidak mengurungkan niat untuk melakukan syukuran.
Pada Sabtu (31/5/2008) di halaman kantor desa setempat, dilangsungkan pesta tani Mapag Sri dimeriahkan panggung hiburan pagelaran wayang kulit, demikian kata Ketua BPD Sumur Adem Drs H Mahmud Rois.

Pesta tani Mapag Sri merupakan kegiatan rutin dilaksanakan tiap tahun disaat musim rendeng, hal itu dilakukan lantaran meneruskan peninggalan adat nenek moyang. Adapun puncak kegiatan ritual dilaksanakan pukul 16.00 WIB dipandu oleh pemuka adat serta melibatkan sejumlah tokoh masyarakat dan dilangsungkan dengan doa bersama, tapi pada intinya kegiatan pesta panen adalah syukuran bagi warga petani.

Kendati panen musim sekarang tonasenya menurun, lantaran selain hama yang menyerang juga sulitnya air, tetapi tidak mengurungkan niat syukuran sebab selain masih diberikan nikmat dan hidayah juga kesehatan dari Tuhan.

Menurutnya, upacara adat Mapag Sri atau sedekah bumi secara turun temurun dilakukan oleh warga petani, merupakan ajang temu silaturahmi.

Maka di tempat inilah mereka saling berbagi rasa, sebagai ungkapan rasa syukur melakukan doa bersama meminta berkah dari Tuhan.

Menurut Kuwu Sumur Adem H Karlim NZ didampingi ketua LPM H Nono S acara syukuran digabungkan antara poanenan dan awal tanam gadu. Sebab ada juga lahan pesawahan ada yang baru tanam. Karena sedekah bumi itu bisa diartikan syukuram masa awal tanam.

Hal tersebut dilakukan karena faktor situasi dan kondisi, bagi persawahan yang dekat irigasi bisa p[anen lebih awal, sebaliknya bagi yang di hilir masa tanamnya biasanya belakangan.

Sedangkan Nono Sudarsono mengatakan nasib petani di wilayah ini kurang beruntung tidak sedikit yang kesulitan air, harga saprotan meroket ditambah imbas naiknya harga BBM, sehingga dengan berbagai pertimbangan acara Mapag Sri disatukan, yang peting intinya tercapai syukuran adalah berdoa bersama. (kus-2)

Sumber: http://www.pelita.or.id/

"Mapag Sri", Syukuran Hasil Panen di Cirebon

Tradisi tahunan warga Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, menggelar upacara adat "Mapag Sri" setiap menjelang musim panen sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen musim kali ini.

Para petani desa tersebut turun ke jalan berpesta merayakan upacara "Mapag Sri" ini dengan menggelar arak-arakan yang menampilkan hasil panen sawah mereka, Jumat.

Kuwu (Kepala Desa) Desa Ujunggebang Tarudin, mengatakan meski hasil panen kali ini menurun karena serangan hama wereng namun upacara adat tersebut tetap digelar walau dengan berbagai keterbatasan.

"Meski dengan keterbatasan dana, cukup dengan mengandalkan kreativitas warga Alhamdulillah upacara adat ini bisa terlaksana dan mendapat sambuatan luar biasa dari masyarakat," ujar Tarudin.

Upacara adat "Mapag Sri" diawali dengan arak-arakan dua calon "mempelai" pria putra Kuwu Ujunggebang dari kediaman kuwu tersebut menuju kediaman dua putri juru kunci makam keramat desa setempat untuk dikawinkan.

Namun kedua pasangan mempelai tersebut bukan laiknya calon pengantin berwujud manusia pada umumnya, melainkan berbentuk "golek" atau boneka kayu yang didandani seperti pengantin.

Perjalanan dua mempelai pria menuju rumah juru kunci ini diantar oleh ribuan warga desa yang ingin menyaksikan prosesi lamaran.

Layaknya perkawinan manusia sungguhan, kedua pasang pengantin "golek" ini dikawinkan oleh seorang penghulu desa sedangkan wali dari mempelai wanita adalah "kuncen" (juru kunci) makam keramat Buyut Nyi Mas Junti dan nyi Mas Kejaksan yang ada di desa tersebut.

Setelah prosesi pernikahan selesai, dua pasang pengantin berwujud boneka ini pun diarak keliling desa.

Mengawali perjalanannya dari rumah Kuwu Ujunggebang, dua pasang pengantin golek ini diarak sambil diikuti oleh penampilan kreasi warga berupa replika berbagai jenis binatang seperti ikan, naga dan burung raksasa yang diiringi musik dan kesenian tradisional serta atraksi akrobat yang menghibur menuju komplek makam keramat desa setempat.

Peserta arak-arakan adalah warga masyarakat di 13 blok yang ada di Desa Ujunggebang.

Arak-arakan yang sebagian besar diikuti oleh para pemuda desa tersebut menampilkan sejumlah kreasinya diantaranya seorang pemuda dengan dandanan mirip "limbad" lengkap dengan burung hantu kertas atau orang dewasa yang didandani seperti bayi yang dilengkapi dot raksasa.

Penampilan para pemuda desa ini cukup menghibur dan mengundang gelak tawa warga yang dilalui oleh arak-arakan.

Bahkan Camat Susukan, Sudarjo Adam berpendapat pesta rakyat tersebut bisa dijadikan ajang silaturahmi antarwarga sehingga semakin mempererat tali persaudaraan dan keakraban warganya.

"Ini merupakan wisata rakyat yang cukup menghibur terutama untuk anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga. Dengan adanya kegiatan ini saya yakin dapat mempererat hubungan kekeluargaan antarwarga sehingga kebersamaan dan kerukunan pun dapat terwujud," katanya. (M Taufik)

Sumber: http://www.antarajawabarat.com

Baronda ke Ternate

Oleh: Wuragil

Ternate, Maluku Utara, Kamis, tepat pertengahan April lalu. Waktu pelesir telah tiba untuk kami, kelompok lima wartawan yang sejak lima hari sebelumnya singgah di provinsi kepulauan itu. Hari memang masih terlalu pagi--apalagi kalau menuruti jam tangan waktu Jakarta--dan kami sudah harus nongkrong di ruang VIP Bandara Sultan Babullah.

Pagi itu kami menunggu pejabat dari Departemen Kehutanan tiba dari Jakarta untuk sebuah wawancara. Tapi lupakan saja, karena itu adalah “pekerjaan” terakhir kami. Mengikuti anjuran di sebuah baliho kecil di sudut ruangan yang istimewa karena leganya itu, yang bertuliskan “Ayo, Baronda ka Ternate”, kami pun segera memulai untuk bersenang-senang berkeliling pulau.

Diawali dengan menelusuri Jalan Pahlawan Revolusi, yang menggaris tepat di sepanjang bibir pantai, untuk sebuah perburuan oleh-oleh. Ternyata sulit juga mencari cendera mata selain kue bagea atau roti dari kenari di pulau yang dihidupi oleh sebuah gunung api aktif itu. Tak ada kaus atau kerajinan tangan selain besi putih. "Di sini yang terkenal memang besi putih," ujar Iskandar, warga lokal yang memandu kami.

Bayangkanlah kalung-kalung berbandul pelat berisi nama atau tulisan lain yang sering dikenakan tentara. Itulah besi putih umumnya yang bisa ditemukan di pasar. Sayang, banyak yang palsu yang datang dari Tanjung Perak, Surabaya. Setidaknya, itu menurut sopir mobil sewaan yang mengantar kami hari itu.

Menurut dia, besi putih palsu akan tergoda daya tarik magnet. "Banyak pedagang yang tidak mau menguji dagangannya lagi sebelum menjual," katanya. "Takut ketahuan palsunya."

***

Selesai kami mengepak beberapa bungkus kue bagea dan beberapa botol minyak kayu putih, perjalanan bergerak ke situs pertama pada hari itu: rumah tinggal Sultan Muhammad Ilham, bekas Sultan Ternate yang berkuasa cuma sebulan sebelum jatuh sakit dan meninggal pada 1800-an.

Kami berkepentingan singgah di rumah dengan delapan pilar boling di muka terasnya ini untuk menuntaskan napak tilas perjalanan Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris, 150 tahun lalu. Di rumah yang pekarangan aslinya sudah terpangkas untuk jalan raya inilah Alfred menginap setiap kali bertualang menembus hutan-hutan Pulau Ternate untuk mengumpulkan spesies hewan dan tanaman khas.

Oleh pemilik rumah saat ini, Ilham Aim Syah, cicit Sultan Ilham, kamar seluas sekitar 10 meter persegi yang berhadap-hadapan dengan kamar utama di rumah itu masih dipertahankan. Meja riasnya masih ada, ranjangnya pun masih disimpan. "Saya hanya tahu dari cerita orang tua bahwa dulu ada orang bule yang menginap di rumah ini," ujar Ilham Aim Syah.

Rumah itu tepat menghadap Masjid Agung dengan latar Gunung Gamalama. Dulu, halaman belakangnya tak lain hamparan pasir pantai yang dicium langsung gelombang laut. Sekarang pemandangan ke arah laut terganggu padatnya rumah penduduk. O, iya, Pulau Ternate saat ini berperan sebagai ibu kota sementara Maluku Utara sebelum Sofifi di Pulau Halmahera siap.

Puas menghirup aroma 150 tahun lalu di rumah yang sebagian lantai batunya sudah diganti keramik itu, kami berpamitan. Perjalanan berlanjut ke sebuah benteng peninggalan Portugis dengan dua bastion yang berdiri kukuh di atas bukit batuan beku. Benteng Santa Lusia, namanya.

Dalam sejarahnya, benteng ini pernah berpindah-pindah tangan. Dibangun pada 1512, pernah direbut Sultan Babullah pada 1577. Namun, Belanda ganti menguasainya dan memberikan nama baru, Holandia. Pada 1661, Sultan Ternate, Mandar Syah, diizinkan menempati benteng, dan namanya yang sekarang, Benteng Tolukko, berasal dari nama Sultan Ternate pada 1692.

Pekarangan benteng itu kini sempit dan mengesankan bahwa tempat itu terkucil. Tapi tunggu setelah berada di punggungnya, Benteng Tolukko terbukti berdiri di poros bukit yang sangat strategis. Bagian mukanya menghadap langsung laut lepas, sementara ia membelakangi Kota Ternate. Berdiri di atas selasarnya seperti merasakan kejayaan Sultan Ternate yang merebut benteng itu dari Portugis dan menyaksikan kapal musuh lari tunggang-langgang.

***

Jarum jam sudah mulai terlepas dari jeratan pukul dua siang ketika kami beranjak lagi menyusuri jalan mengelilingi pulau ke arah utara. Tidak sampai setengah jam berkendara, kami menemui situs Batu Angus, yang tidak lain batuan lava bekas letusan Gunung Gamalama. Serakan bongkah batuan hitam itu jelas sekali menunjukkan bahwa aliran magma dari kawah gunung setinggi 1.715 meter dari permukaan laut itu melewati wilayah ini sebelum jatuh ke laut di bawahnya lagi.

Hanya berhenti sejenak, kira-kira 15 menit kemudian kami berkendara lagi di jalan yang lengang dan beraspal halus itu ke Danau Tolire. Lagi-lagi danau ini memiliki latar belakang gunung dan latar muka laut lepas. Menyenangkan.

Ali A. Djamal, juru kunci situs, tak bisa mengutarakan luas danau yang lebih mirip kubangan raksasa karena tebing-tebingnya curam dan berdiri sampai dua kali tinggi pepohonan itu. Airnya hijau pekat, tak ada pagar pengaman di bibir tebing. Situs ini seperti tak terperhatikan. Tapi tetap saja asyik.

Danau kawah itu ditingkahi beberapa jenis burung air. Seekor kakaktua putih bahkan tertangkap mata di pucuk sebuah pohon kering di puncak tebing seberang danau. Tiket masuk, yang hanya Rp 2.000 untuk setiap mobil yang masuk, sangat pas untuk mendukung setiap manusia melepas penat atau bahkan memadu kasih. Seperti sepasang muda-mudi yang kami temui sore itu, yang asyik mengobrol di bawah beringin.

Di sini Ali nyambi menjual paket-paket berisi lima batu koral seharga Rp 1.000. "Lemparkan batu ini, kau tak pernah bisa melihat batu mencapai danau," begitu kira-kira pesannya. Betul saja, ketika batu dilempar, batu seperti hilang ditelan udara.

Kemungkinannya, batu-batu itu jatuh hanya di tepian danau, tapi tak terlihat. Pertama, karena mata kita berharap batu ke arah tengah danau. Kedua, tidak mungkin mengikuti gerak jatuh batu ke tepian danau, yang hanya beberapa derajat dari sumbu kaki kita berdiri, kalau tidak ingin terperosok ke dasar tebing.

Ali menerangkan legenda yang hidup dalam masyarakat setempat bahwa danau itu dulu sebuah kampung. Seorang ayah dalam sebuah keluarga di kampung itu dikisahkan mabuk berat setelah pesta, lalu memerkosa anak perempuannya sendiri. Seluruh kampung lalu dikutuk karena perbuatan itu. Jadilah Tolire, yang artinya kampung tenggelam.

***

Pelesir hari itu ditutup dengan menyeruput air guraka ditemani pisang tanduk dan singkong goreng yang juga panas, yang disuguhkan dengan sambal. Lokasinya adalah Restoran Loridas, persis di tepian Jalan Raya Ngade, ke arah selatan dari Jalan Pahlawan Revolusi.

Namun, guraka yang diramu dari jahe dan gula aren dalam air mendidih dengan dibubuhi irisan kecil-kecil kenari itu tidak sendirian sebagai sajian utama di restoran tersebut. "Kalian harus ke Loridas. Tempatnya sangat romantis," begitu David Purmiasa, pemuda asli Ambon yang belakangan bertugas di Ternate, mengatakannya jauh-jauh hari.

Ada benarnya juga. Sepasang manula tampak duduk berbincang di teras yang merangkap balkon kafe itu tepat ketika matahari mulai menenggelamkan diri. Romantisisme keduanya dibalut pemandangan laut dan sepasang pulau Tidore-Maitara di muka mereka, persis seperti pemandangan yang tertera di lembar uang seribuan.

Hari semakin redup ketika kami memutuskan kembali ke Hotel Surya Pagi di jantung Kota Ternate. Hotel dua lantai itu termasuk dalam kawasan protokol di pulau mungil tersebut, yang apabila dikelilingi dengan mobil tak sampai menghabiskan waktu dua jam. Kalau ada rusuh yang dipicu di muka kantor gubernur, misalnya, kawasan itu termasuk yang disterilkan pertama kali.

Sumber: http://www.korantempo.com

Tantangan Pariwisata Indonesia

Oleh: Khasan Ashari

Belum lama ini lembaga internasional terkemuka World Economic Forum (WEF) menerbitkan publikasi bertajuk Travel and Tourism Competitiveness Index 2008. WEF menyusun peringkat daya saing sektor pariwisata 130 negara di dunia berdasarkan hasil penilaian pada sejumlah indikator. Semakin tinggi peringkat suatu negara berarti semakin kompetitif sektor pariwisata negara tersebut.

Publikasi tersebut menarik untuk dicermati. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), Indonesia hanya berada di urutan ke-80. Apa yang membuat peringkat Indonesia demikian rendah? Langkah apa yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya?

WEF menilai tiga aspek yang terkait dengan industri wisata yaitu regulasi, iklim usaha dan infrastruktur, serta sumber daya. Tiga aspek tersebut kemudian dibagi menjadi 14 sektor dan masing-masing dinilai dalam skala 1 sampai dengan 7. Semakin tinggi nilai rata-rata yang didapat suatu negara, semakin tinggi peringkat negara tersebut.

Posisi tiga besar seluruhnya ditempati negara Eropa; yaitu Swiss dengan nilai 5,63; diikuti Austria (5,43) dan Jerman (5,41). Australia berada di urutan keempat dengan nilai 5,34; diikuti Spanyol (5,30); Inggris (5,28); dan Amerika Serikat (5,28). Sebagai negara maju, pada umumnya mereka telah memiliki infrastruktur yang bagus, iklim usaha yang sudah terbentuk, dan sumber daya manusia yang handal.

Berada di urutan ke-80 – turun dibandingkan posisi ke-60 tahun lalu - Indonesia meraih nilai 3,70. Dibandingkan anggota ASEAN lain, Indonesia berada di bawah Singapura (urutan ke-16 dunia), Malaysia (32), dan Thailand (42). Tetangga ASEAN yang berada di bawah Indonesia adalah Filipina (81), Vietnam (96), dan Kamboja (112). Pada aspek regulasi, Indonesia mendapat nilai 3,8 dan berada di urutan ke-108. Pada empat dari lima sektor pada aspek ini, nilai Indonesia termasuk sangat rendah dan peringkatnya berada di atas 100. Bahkan pada bidang pelestarian lingkungan, Indonesia berada di urutan ke-126 atau nomor lima dari bawah. Satu-satunya sektor yang mendapatkan nilai tinggi adalah program pemerintah mendukung industri wisata. Nilai yang didapat adalah 5,7 (urutan ke-11). Nilai yang didapat pada aspek kedua, iklim usaha dan infrastruktur, adalah 3,2 atau urutan ke-86. Satu hal menarik untuk dicatat, yaitu harga barang dan jasa di Indonesia diakui sebagai yang paling kompetitif. Pada sektor tersebut Indonesia mendapatkan nilai 6 dan menduduki urutan pertama dari seluruh negara yang dinilai.

Sayangnya tingkat harga yang kompetitif tersebut belum ditopang oleh aspek lain, seperti sarana transportasi udara (urutan ke-61); sarana transportasi darat (98); sarana penunjang di objek wisata (109); dan sarana teknologi informasi (94). Akibatnya nilai rata-rata pada aspek kedua ini juga masih rendah.

Nilai Indonesia pada aspek ketiga - sumber daya – termasuk cukup bagus yaitu 4,2 atau berada di urutan ke-53. Pada sektor sumber daya alam kita menduduki peringkat ke-26 dan sumber daya manusia berada di peringkat ke-34. Yang mengejutkan adalah peringkat di bidang potensi budaya. WEF hanya memberi nilai 2,1 dan mendudukkan Indonesia pada urutan ke-80. Terasa mengejutkan karena selama ini wisata budaya termasuk salah satu sektor yang dijadikan andalan. Tiga negara ASEAN yang peringkatnya lebih baik dari kita semuanya menjadikan industri pariwisata sebagai prioritas. Tidak memiliki sumber daya alam melimpah, Singapura mengembangkan wisata belanja dan budaya sebagai andalan. Mereka juga memiliki infrastruktur
modern dan sumber daya manusia yang handal.

Malaysia menggabungkan sumber daya alam yang melimpah dengan infrastruktur yang modern dan harga yang kompetitif. Sedangkan Thailand yang kaya sumber daya alam namun belum memiliki infrastruktur sebagus Singapura dan Malaysia, menjadikan keunggulan sumber daya manusia sebagai andalan.

Terdapat kesamaan di antara ketiga negara tersebut: semuanya gencar melakukan promosi secara berimbang, ke luar dan ke dalam. Promosi ke luar ditujukan kepada konsumen mancanegara. Sedangkan promosi ke dalam ditujukan kepada kalangan di dalam negeri, khususnya mereka yang terkait – langsung maupun tidak langsung – dengan industri pariwisata.

Strategi tersebut terbukti berhasil. Pada tahun 2003 tiga negara ini (seperti juga Indonesia) menghadapi persoalan menurunnya jumlah wisman yang berkunjung. Namun wisman yang berkunjung ke tiga negara tersebut kembali meningkat pada tahun 2004 dan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Berdasarkan catatan WEF, jumlah wisman yang berkunjung ke Malaysia pada tahun 2006 tercatat sebanyak 17,5 juta; ke Thailand 13,8 juta; dan ke Singapura 7,6 juta.

Indonesia justru kebalikannya. Setelah mengalami peningkatan cukup signifikan pada tahun 2004, jumlah wisman yang datang ke Indonesia justru menurun pada tahun-tahun berikutnya. WEF menyebut bahwa wisman yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2006 hanya sebanyak 4,9 juta.

Penilaian WEF atas daya saing industri pariwisata Indonesia bukanlah vonis mati. Meski begitu, tidak berarti kita dapat mengabaikannya begitu saja. Disusun oleh lembaga internasional dengan reputasi tinggi, laporan tersebut layak mendapat perhatian pelaku industri pariwisata di Indonesia. Pertama, penilaian WEF dapat dijadikan acuan untuk mengukur tingkat keberhasilan industri pariwisata kita dan menetapkan prioritas ke depan. Keberhasilan mendapatkan nilai bagus pada sejumlah sektor selayaknya dipertahankan dan ditingkatkan. Sebaliknya, prioritas perlu ditetapkan pada sektor-sektor yang masih mendapatkan nilai rendah.

Keberhasilan (dan juga kegagalan) industri pariwisata tidak berada di tangan satu pihak tertentu, namun akan sangat bergantung pada kerjasama banyak pihak. Pembenahan infrastruktur, misalnya, memerlukan kerjasama pemerintah (pusat dan daerah) dan kalangan swasta. Sedangkan peningkatan iklim usaha yang kondusif juga memerlukan partisipasi publik sebagai tuan rumah bagi wisman yang berkunjung.

Kedua, laporan WEF juga bermanfaat untuk mengintip kiprah kompetitor kita. Sejauh mana mereka berhasil, apa mereka andalkan, apa yang mereka tidak miliki. Keberhasilan mereka dapat ditiru. Apa yang kita miliki namun tidak mereka miliki dapat dijadikan sektor unggulan. Kompetitor Indonesia tentu saja bukan negara-negara maju di belahan utara yang menawarkan wisata musim dingin. Lebih tepat apabila kita menoleh pada negara-negara yang membidik segmen pasar serupa dengan kita. Misalnya negara yang menawarkan perpaduan wisata alam tropis dan wisata budaya.

Ketiga, branding dan marketing memegang peran yang sangat penting. Pemerintah telah melakukan sejumlah program promosi wisata Indonesia, termasuk peluncuran program Visit Indonesia 2008. Yang menjadi persoalan adalah promosi tersebut terkesan lebih difokuskan ke dalam. Publikasi ke luar Indonesia melalui terasa tidak sehebat promosi di dalam negeri. Akibatnya publik di luar negeri, yang notabene merupakan pasar potensial, justru luput dari bidikan. Terlebih program ini tidak disertai dengan paket insentif bagi wisman yang berkunjung. Hal ini membuat Visit Indonesia 2008 sebagai barang dagangan lebih sulit untuk dijual.

Belajar dari publikasi WEF, tidak ada salahnya jika kita berharap tahun depan peringkat Indonesia akan meningkat. Lebih penting lagi, jumlah wisman yang datang juga bertambah dan industri pariwisata kita kembali bergairah.

Bagaimana menurut anda?

Sumber: http://tourism-indonesia.blogspot.com

Yang Magis di Upacara Nyobeng

Oleh: Muhlis Suhaeri

Menghadiri ritual suku Dayak Bidayuh, dengan sebilah mandau, ketua rombongan tamu harus menebas anak anjing di udara.

Menembus pedalaman Kalimantan Barat menyaksikan upacara adat suku Dayak Bidayuh adalah pengalaman penuh sensasi. Selain keasrian alamnya, kita akan disuguhi ritual mistis dan horor. Anda pun harus siap melakukan adegan tak terduga di daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu.

Upacara itu bernama Nyobeng, berupa ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang, yang diselenggarakan Dayak Bidayuh, salah satu sub-suku Dayak di Kabupaten Bengkayang. Mengayau adalah memenggal kepala manusia dan tengkoraknya diawetkan--suatu tradisi yang sekarang tidak dilakukan lagi.

Atas ajakan seorang teman, pertengahan Juni tahun lalu, aku bersemangat menempuh perjalanan kultural itu. Berkendaraan roda empat, dari Pontianak, kami meluncur ke Kota Singkawang, sejauh 145 kilometer, selama tiga jam. Kemudian, dari Singkawang, kami melintasi jalanan sempit beraspal menuju Bengkayang sejauh 80 kilometer selama satu setengah jam.

Kami menginap semalam di sebuah losmen di Bengkayang. Paginya, kami meluncur ke Seluas. Setelah dua jam menempuh perjalanan darat, sampailah kami di sebuah penyeberangan perahu di Sungai Kumba. Belasan perahu tertambat di pinggir sungai. Air sungai kecokelatan dengan arus tidak begitu deras. Sungai dengan lebar sekitar 50 meter itu menjadi pertemuan alur antara Sungai Siding dan Bumbung.

Kami pun menyusuri Sungai Kumba dengan motor air yang disebut perahu bangkong--sejenis perahu berukuran panjang 8 meter dan lebar 80 sentimeter bermesin 15 PK. Ketika dimuati delapan orang, jarak air dengan bibir perahu hanya 5 sentimeter. Kalau bersimpangan dengan perahu lain, jalannya harus pelan agar perahu di sebelahnya tidak terkena ombak dan bisa menyebabkan perahu kemasukan air.

Perahu ini biasanya dimiliki para pedagang untuk mengangkut hasil pertanian dari pedalaman ke ibu kota kabupaten. Pulang ke pedalaman, perahu mengangkut bahan kebutuhan pokok. Di antara barang dagangan itulah penduduk "numpang" perahu menuju perkampungannya dengan merogoh kocek Rp 15 ribu.

Satu setengah jam menyusuri Sungai Kumba, sampailah kami di dua cabang anak sungai, Sungai Siding dan Bumbung. Kami menuju hulu Sungai Bumbung. Sungai ini selebar sekitar 15 meter dengan kedalaman 1-2 meter bila curah hujan sedikit. Jika air surut, perahu harus berjalan zig-zag menghindari batang pohon tumbang yang berserakan di dasar dan permukaan sungai.

Berperahu dua jam di Sungai Kumba, dan mesti berkelok-kelok di beberapa anak sungai, kami pun sampai di jembatan Sohoo, yang terbuat dari dua batang bambu. Dari sana kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah hutan dan ladang.

Setelah sekitar satu jam menerobos hutan, kami sampai di batas Kampung Hli Buei (biasa disebut Kampung Sebujit), Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang.

Puluhan lelaki berselempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang menyambut para tamu. Sebagian di antara mereka membawa senapan lantak dan sumpit, yang biasa digunakan untuk berburu.

Bunyi senapan lantak menggelegar keras sebagai tanda penyambutan. Letupan senapan lantak juga berfungsi memanggil roh leluhur dan meminta izin bagi pelaksanaan adat yang bakal dilakukan.

Para tetua adat menyambut rombongan. Aku terkesiap ketika kepala adat, Pak Amin, melempar anak anjing ke udara. Lalu kepala tamu rombongan harus menebas anak anjing itu di udara dengan mandau. Kalaupun meleset, anjing itu harus dipotong dengan mandau sesampai di tanah.

Lalu ada pelemparan ayam ke rombongan. Senasib dengan anjing, ayam ditebas dengan mandau. Upacara ini disebut naburi.

Setelah ayam, giliran telurnya dilempar ke para tamu. Menurut kepercayaan setempat, bila telur tidak pecah, berarti yang datang tidak ikhlas. Sebaliknya, jika pecah, tamu datang dengan ikhlas. Cukup itu? Tidak. Para tamu juga dilempari beras putih dan beras kuning, sambil dibacakan mantra.

Kembang desa mengedarkan tuak ke segenap tamu sebagai minuman penyambutan. Tuak terbuat dari pohon niru dicampur kulit pohon pakak, yang memberi warna kemerahan dan rasa manis pada tuak. Dengan cawan dari bambu, setiap tamu meneguk tuak.

Seusai upacara penyambutan, rombongan tamu masuk perkampungan. Rumah-rumah di kampung itu tak lagi menampakkan ciri khas rumah adat Dayak, biasa disebut Betang, yakni rumah panggung besar dan memanjang, terbuat dari kayu, serta dihuni puluhan keluarga.

Sebagian besar rumah di Kampung Sebujit terbuat dari semen dan pasir. Bentuk, warna, serta hiasan rumah tak lagi menampakkan ciri khas ornamen dan hiasan khas Dayak. Beberapa rumah memasang antena parabola untuk menangkap siaran TV3 Malaysia.

Kami diantar memasuki tempat upacara yang disebut balug, yakni rumah adat berbentuk bulat, lebar sekitar 10 meter dan tinggi 15 meter dari tanah, serta ditopang kayu belian bulat. Setiap sambungan rumah diikat dengan tali ijuk. Tangga rumah terbuat dari sebatang pohon, yang telah dibuat undakan. Atap rumah mengerucut.

Di rumah adat inilah berbagai benda pusaka disimpan. Empat gong berdiameter sekira 75 sentimeter di lantai bawah. Simlog (beduk) di tengah rumah berbentuk memanjang 7 meter, berdiameter sekitar 30 sentimeter, dan terbuat dari kulit babi hutan.

Nah, pada bubungan rumah tersimpan tengkorak hasil mengayau, yang dilakukan para leluhur. Tengkorak disimpan dalam kotak, yang di dalamnya berisi berbagai kalung dari taring babi.

Memasuki tempat upacara, rombongan diperciki daun anjuang--daun yang dipercaya memiliki kekuatan magis dan biasa dipakai dalam berbagai upacara adat Dayak--dan air yang telah diberi mantra, yang berfungsi sebagai tolak bala. Tamu juga mesti menginjak buah kundur, yang diletakkan dalam baskom. Ritual ini disebut pepasan.

Ratusan orang telah berada di bawah rumah balug. Tarian mamiamis (tari perdamaian) menyambut para tamu. Bersama warga, tamu menari sambil mengitari balug, sementara tetua adat menyanyikan lagu dan membaca mantra.

Tarian itu ditujukan bagi Ngngiu (pembela tanah leluhur). Dulu tarian ini untuk menyambut para pahlawan pembela tanah leluhur yang baru datang dari mengayau.

Lalu para tetua adat naik balug. Simlog dipukul, mercon pun dinyalakan untuk memanggil arwah leluhur sebagai tanda ritual Nyobeng telah dimulai.

Selepas membuka acara, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di sekitar balug. Bagi tamu muslim, diberikan makanan khusus yang tidak mengandung babi. Tempatnya juga khusus, dari bumbung bambu dibelah dua dan memanjang.

Setelah makan bersama, para tamu dipersilakan meninggalkan area balug dan menuju rumah-rumah penduduk untuk beristirahat. Kepada tamu muslim, tuan rumah akan menyuguhkan makanan dan lauk "netral".

Sebagian laki-laki menyusuri hutan di sekitar perkampungan untuk mencari bambu. Batang bambu berdiameter 10 sentimeter digotong beramai-ramai ke rumah adat, diletakkan di tanah dengan satu ujungnya diganjal balok. Beberapa lelaki mengitari bambu dan mulai berbaris. Setiap lelaki menyandang mandau--senjata khas Dayak serupa pedang yang dihias dengan motif tertentu. Hiasan melambangkan makna dan prestasi tertentu dari si pemegang mandau. Semakin banyak prestasinya dalam mengayau dan mendapatkan kepala, semakin banyak hiasan di mandaunya. Namun, tradisi mengayau sekarang jarang sekali dilakukan.

Ketika ketua adat menganggukkan kepala, seseorang maju ke depan, meloloskan mandau dari sarungnya. Sriing. Mandau yang bergesek dengan sarung menimbulkan suara. Terasa ngilu bagi yang mendengarnya.

Ia mulai mengangkat mandau. Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan mandau ke batang bambu. Cressssh. Batang bambu terpotong.

Orang bertepuk tangan riuh. Menurut kepercayaan, bila bambu terpotong, berarti pertanda baik. Kegiatan ini sebagai bentuk uji keperkasaan bagi para lelaki.

Sebelum ritual kelompok dilakukan, setiap rumah membuat sesaji yang harus diolesi darah ayam dari sayapnya. Darah ayam dipercikkan ke berbagai tempat yang dianggap sakral di sekitar rumah, rumah adat, dan perkampungan.

Menjelang sore, ketua adat memanggil roh. Ketua adat menaiki rumah panggung. Dia mulai membuka upacara. Sesajian diletakkan di ujung daun buah. Untuk roh baik, dibuat tujuh sesaji dan ditempatkan di berbagai batas desa. Setelah itu, ketua adat mengambil kotak di bubungan rumah balug.

Kotak itu berisi tengkorak manusia dan kalung dari taring babi hutan. Ketua adat melumurkan tangannya pada suatu ramuan dan mengoleskannya pada tengkorak. Setelah itu, seekor ayam dipotong kepalanya hingga putus. Kepala ayam dan tetesan darah dioleskan pada tengkorak. Setelah itu tengkorak dimasukkan lagi ke kotak dan disimpan.

Acara dilanjutkan dengan memotong anjing hitam dengan maksud menolak roh jahat. Darah anjing diusapkan pada rumah-rumahan kecil yang berada di samping balug. Rumah-rumahan itu dianggap sebagai asal-usul nenek moyang Dayak Bidayuh. Ada juga patung lelaki dan perempuan. Yang aneh, ketika akan dipotong, anjing tidak menggonggong sama sekali, seolah tahu nasibnya untuk persembahan suatu ritual. Darah anjing diusapkan pada tiang dan berbagai sudut rumah adat. Potongan anjing juga dibawa ke atas rumah adat.

Mandi-mandi adalah acara berikutnya yang diikuti segenap kawula tua, muda, dan anak-anak bertujuan membersihkan jiwa dan raga. Air yang telah diberi jampi-jampi dimasukkan dalam tempayan besar. Dengan sebuah gayung, tetua adat mengambil air dan mengalirkan air itu lewat daun anjuang.

Selanjutnya, acara memotong babi. Darah babi digunakan untuk memandikan tengkorak. Hati babi dibakar untuk persembahan arwah leluhur. Setelah melakukan upacara ini, setiap orang yang mengikuti upacara berpantang untuk berkata kotor, bersikap kasar kepada perempuan, tidak berhubungan badan, serta tidak berjalan di bawah tiang jemuran. Pelanggaran pantangan dipercaya bisa mendatangkan malapetaka.

Uniknya, ketika upacara berlangsung malam hari, kalangan muda dan anak-anak lebih tertarik menonton pertunjukan dangdut di lapangan. Di tengah lapangan juga bertebaran permainan judi. Meski musik dangdut, yang dimainkan pemuda setempat, biasa saja bahkan boleh dibilang "hancur lebur", itulah salah satu hiburan yang sangat dinantikan.

Walau terjadi persaingan mendapatkan teman joget--perempuan yang disediakan grup band atau penonton perempuan di sekitar arena--pertunjukan dangdut berlangsung tanpa onar. Orang akan berpikir seribu kali bila berbuat rusuh atau berkelahi. Siapa yang berbuat rusuh harus mengganti seluruh biaya pesta adat yang mencapai puluhan juta rupiah itu. Upacara adat juga mesti diulang dari awal. Karena itulah orang tidak berani berbuat sembarangan.

Kampung di tengah hutan itu terus menggeliat, mengikuti kemajuan arus zaman dan modernisasi. Ada kemajuan diraih, tapi ada juga yang mulai terkikis.

Muhlis Suhaeri, penulis lepas tinggal di Pontianak

Sumber: http://www.korantempo.com
-

Arsip Blog

Recent Posts