Tampilkan postingan dengan label Bangka Belitung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangka Belitung. Tampilkan semua postingan

Di Bangka Bakal Ada China Town dan Melayu Street

Pemerintah Provinsi Kepulauan Banka Belitung berencana memadukan dua lokasi beda etnis dalam konsep destinasi wisata masa depan. Kota Pangkal Pinang, sebagai ibu kota, dipilih sebagai pilot project karena selama ini dikenal majemuk dan hidup dalam kerukunan.

“Kawasan Kampung Bintang akan menjadi China Town, sementara kawasan Masjid Jamik akan menjadi Melayu Street. Dua kawasan ini masih satu jalur dan akan berdampingan nantinya,” kata Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, Selasa (30/5/2017).

Konsep pembangunan wilayah kota itu, kata Erzaldi, akan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kepulauan Bangka Belitung.

“Saya sudah ada data lokasinya. Ada lahan di ujung jalan yang masih sengketa. Nantinya mereka kami panggil. Bagaimana rencana ini (bisa) diwujudkan,” papar mantan Bupati Bangka Tengah dua periode itu.

Menurut Erzaldi, pembangunan China Town dan Melayu Street, tidak hanya mendukung program pariwisata, melalui produk kuliner dan budaya, juga akan menjadi percontohan keanekaragaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jangan terpengaruh medsos

Gubernur Erzaldi juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi di media sosial. Pasalnya, saat ini banyak pihak yang ingin memprovokasi dan memecah belah persatuan bangsa.

“Kalau baca medsos jangan judulnya saja. Baca seluruh isinya dan konfirmasi,” paparnya.

Bangsa Indonesia, kata Erzaldi, wilayah yang seksi sehingga banyak pihak ingin menguasai. Berbagai cara dilakukan, salah satunya serangan melalui jejaring sosial.

Polres Lidik Tiga Kasus Korupsi

KOBA - Kapolres Bangka Tengah (Bateng) AKBP Djuhandani Raharjo Puro mengungkapkan, pihaknya sedang membidik tiga kasus dugaan korupsi yang terjadi di Kabupaten Bateng. Hanya, Kapolres belum mau menyebutkan secara terperinci ketiga kasus tipikor yang kini sedang diselidiki jajarannya itu.

“Menindaklanjuti Kebijakan dan Strategi (Jaktsra) Kapolri Jendral Sutanto dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di tingkat daerah, maka jajaran Polres Bateng kini tengah melakukan upaya penyelidikan tiga kasus dugaan korupsi yang terjadi di kabupaten ini. Cuma kasus apa saja belum saatnya untuk dieskpos,” ungkap Kapolres Bangka Tengah AKBP Djuhandani Rahardjo Puro ketika ditemui harian ini, Selasa (13/11).

Saat ini, lanjut Kapolres, pihaknya sedang giat-giatnya mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan untuk mengungkapkan kasus tersebut.

Lebih lanjut Kapolres mengatakan, selama kepemimpinannya memang belum ada kasus korupsi dan peredaran narkoba yang berhasil ditangani dan diungkap. Namun, pihaknya akan terus berupaya mengungkapkan bila ada indikasi kedua kejahatan tersebut.

“Dalam Jakstra Kapolri disebutkan, tugas kepolisian selain memberantas terioris, peredaran narkotika dan berbagai kegiatan illegal logging, illegal minning, dan illegal fishing juga pemberantasan korupsi. Yang satu ini harus dapat kita tindaklanjuti di tingkat daerah,” tegas AKBP Djuhandani seraya menambahkan, pihaknya juga sepekan terakhir giat menertiban penambangan timah secara ilegal di kuasa penambangan milik PT Koba Tin.(abm)

Sumber: Bangka Pos, Rabu, 14 November 2007

Sidang Pembelaan Korupsi Bangka Tengah

`Sekda juga Bertanggungjawab`

SUNGAILIAT - Penasihat hukum (PH) enam terdakwa korupsi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bangka Tengah, Marah Rusli dan rekan menyatakan, keberatan dan menolak tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sungailiat, Khaidirman terhadap kliennya.

Pasalnya, tuntutan terhadap Abdul Rahman (Ketua KPUD Bateng), Eddy Soemitro (alm) Sekretaris KPUD Bateng, Alimin (Bendahara KPUD Bateng), Niziz Edward dan Yunita Utia (Anggota KPUD Bateng), serta Suseno (Kasubag Teknis dan Penyelenggaraan KPUD Bateng), dinilai tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan korupsi sebagaimana Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

“Berdasarkan alat bukti di persidangan terbukti bahwa pembayaran biaya kepada PPK, PPS dan KPPS sebesar Rp 104.985.000 merupakan biaya pegawai (uang kehormatan) dan operasional PPK, PPS, dan KPPS selama dua bulan yaitu, bulan Agustus dan September 2005,” jelas Marah Rusli dalam nota pembelaannya di hadapan Majelis Hakim PN Sungailiat dan JPUP Triman Santana, Kamis (1/11) kemarin.

Pembayarannya, berdasarkan pagu dana yang tersedia sesuai rencana anggaran biaya (RAB) Pilkada Bateng tahun 2005. Selain itu, dipertegas dengan surat edaran Bupati Bateng No 120/902/I/2005 tanggal 16 Juni 2005 tentang honorarium KPPS Pilkada Bateng sesuai dengan keterangan Yunita Utia.

Disetujui Gubernur

Bahkan, Abdul Rahman didampingi saksi Zulteri Apsufi dan Iskandar Z telah menghadap gubernur. Gubernur menyetujui untuk membayar biaya tambahan, dan dana itu bantuan dari APBD provinsi. “Pada waktu itu kondisinya sangat dilematis, kalau tidak dibayar tuntutan demo dari PPK, PPS dan KPPS se Bateng. Mereka mengancam tidak mau melaksanakan pilkada sehingga dikhawatirkan chaos sehingga perbuatan para terdakwa sebagai ongeschreven rechtsvaardigingsgronden (alasan pembenar yang tidak tertulis/di luar undang-undang),” papar Marah Rusli didampingi rekan-rekannya, Jaya Kusuma Amin, Saparudin Hasan, dan Yudho H Marhoed.

Mengenai kelebihan pembayaran honorarium pokja, hanya perbedaan penafsiran antara BPK dan KPUD Bateng. BPK berpedoman pada Permendagri No 12 Tahun 2005 sedangkan KPUD Bateng berdasarkan RAB Pilkada Bateng yang telah disahkan DPRD Bateng. Apalagi RKA Permendagri No 12 Tahun 2005 dan No 21 tahun 2005 saat itu belum diterima KPUD. “Kalau berdasarkan permendagri, tentu banyak kendala karena kondisi objektif Bateng, di mana adanya daerah kepulauan yang untuk menjangkaunya butuh waktu dan biaya yang tidak dapat disamakan dengan wilayah normal lainnya,” tegas Marah Rusli.

Seharusnya, kata Marah Rusli, Sekda Bateng menyusun dan menetapkan dokumen anggaran satuan kerja (DASK) untuk belanja pilkada Bateng yang tembusannya disampaikan kepada BPK, KPUD dan Panwas. Tetapi yang terjadi, tidak pernah membuat DASK. “Jadi seharusnya pihak Sekda Bateng yang bertanggung jawab masalah pelaksanaan pilkada ini, baik secara administrasi maupun dampak hukum yang ditimbulkan karena kelalaian tersebut,” katanya. Maknya, ia meminta keenam kliennya dibebaskan dari segala dakwaan dan tuntutan hukum. (chy)

Sumber: Bangka Pos, Sabtu, 3 November 2007

Alat Musik dan Budaya Adat Satu Ini Sudah Berusia Ratusan Tahun

Belitung, Babel - Berukuran panjang sekitar dua jengkal orang dewas, dan berbentuk menyerupai suling. Sebuah alat tradisional yang sangat unik, terus ditiup oleh seorang pelajar berpakaian kostum serba hijau, sembari mengiringi budaya beripat beregong.

Suara yang keluar dari alat tiup berwarna merah, kuning dan hitam itu dinilai telah jarang ditemukan. Alat itu diketahui telah tercipta sejak 200 tahun belakang, saat budaya beripat bergong muncul. Nama alat yang memiliki bandulan kecil, untuk menempel dimulut tersebut bernama Serunai.

Pembuatan alat tiup tradisional itu, dinilai sangat unik yaitu dengan menggunakan kayu bulin. Bagian atas alat tiup tersebut memiliki lobang kecil, sebanyak lima lobang yang cukup pas jika ditutup dengan jari. Sedangkan dibagian bawah alat tersebut, memiliki satu lobang yang berukuran sama.

Dari mana asal suara itu dikemas.? Suara itu muncul dari satu helai lepit yang terpasang dibagian lida serunai. Lepit diketahui, dibuat dengan menggunakan selembar daun kelapa, dan berbentuk sangat kecil.

"Kalau yang ini baru bikinnya, 2014 kemarin, tapi tercipta nya alat ini sama dengan beripat beregong, sekitar 200 tahun lalu," ucap Jemari Saman (76), Ketua Sanggar Beripat Beregong Datuk Mayang Gresik Badau kepada Posbelitung.com, Selasa (27/9/2016).

Cara memainkan alat tradisional ini, kata dia, tidak begitu sulit. Pasalnya irama yang dikeluarkan, hanya satu irama dan mengikuti irama suara gong yang menjadi pengiring budaya beripat beregong.

"Kalau di Belitung setau kami cuma ada dua, satu di Kembiri dan satu dikami. Alat ini, sekarang ini tidak gampang ditemukan, ya karena dinilai sudah langkah," ujarnya.

Suara yang dikeluarkan dari Serunai itu, sangat berbeda dari suling dan terompet, meski sepintas bentuk Serunai menyerupai suling. Alat itu diciptakan memang khusus untuk mengikuti alur instrumen budaya beripat beregong.

Diketahui, Sanggar Beripat Beregong Datuk Mayang Gresik beralamatkan di RT 04/02 Dusun Badau I, Desa Badau, Kecamatan Badau. Sanggar ini sudah berdiri sejak 13 tahun belakang, dan saat ini sedang merangkul kalangan remaja untuk mencintai budaya beripat beregong.

"Yang melestarikan sepengetahuan kami, tinggal kami dan Kembiri (Membalong). Sekarang kami juga sudah mengarahkan kepada pelestarian, untuk menciptakan generasi penerus kepada pelajar - pelajar," pungkasnya.

Saat Ribuan Orang Ikuti Budaya Nganggung untuk Rayakan HUT ke-259 Pangkalpinang

Pangkalpinang, Babel - Tak seperti biasanya, Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang, Bangka Belitung (Babel) tampak sangat ramai. Tenda-tenda terpasang memenuhi alun-alun hingga badan jalan. Di bawahnya terhampar karpet-karpet warna hijau dan merah.

Ribuan orang tampak berkumpul di kawasan yang merupakan pusat kota Pangkalpinang ini. Mereka hendak menggelar acara Nganggung. Nganggung merupakan budaya Bangka berupa makan bersama-sama menggunakan dulang atau nampan. Di atasnya ditutupi dengan tudung saji khas Bangka.

Budaya Nganggung yang diserap dari adat Melayu ini merupakan wujud syukur masyarakat atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Biasanya Nganggung digelar untuk memperingati hari-hari besar keagamaan, atau acara-acara besar lainnya seperti HUT NKRI, HUT kabupaten/kota dan provinsi.

Ketua panitia Nganggung, Edison Taher mengatakan, 1.460 dulang disediakan dalam acara ini. Setiap makanan di dulang dapat dimakan oleh 4-5 orang. Sehingga diperkirakan sekitar 5.800 orang mengikuti Nganggung dalam rangka peringatan HUT ke-259 Pangkalpinang tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti PNS, perwakilan BUMN dan perusahaan-perusahaan yang berada di Kota Pangkalpinang serta masyarakat umum.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang M Sopian mengatakan, makna kebersamaan dan gotong royong dalam budaya Nganggung ini penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membangun Kota Pangkalpinang, Pemkot dan masyarakat serta para stakeholder harus bersatu-padu.

"Kami menyadari dengan keterbatasan yang kami miliki tentunya untuk membangun Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi, kita sangat mengharapkan partisipasi dan kebersamaan semua elemen masyarakat," kata Sopian di Alun-alun Taman Merdeka, Pangkalpinang, Babel, Senin (19/9/2016).

Hal serupa juga dikatakan Wagub Babel Hidayat Arsani dan Wakil Ketua DPRD Pangkalpinang Abang Hertza. Tradisi kebersamaan dan gotong royong harus terus dihidupkan untuk mendorong Pangkalpinang sebagai kota maju dan berbudaya. Namun Hidayat mengingatkan, masih ada PR besar yang harus dituntaskan, yakni peningkatan perekonomian.

"Pangkalpinang ini semakin tua semakin kuat. Hanya saja perekonomiannya yang belum kuat. Karena Babel sangat terganggu perekonomiannya," tuturnya.

Kemah Budaya Nasional 2016 Resmi Dibuka

Bangka Belitung - Kemah Budaya Nasional (KBN) 2016 resmi dibuka Senin (19/9). KBN ketujuh ini diselenggarakan di Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

KBN 2016 dibuka oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Hilmar Farid. Menurutnya, gerakan pramuka adalah wujud nyata dari Bhineka Tunggal Ika. Dimana banyak perbedaan tapi tetap satu jua.

Dengan kegiatan pramuka, ia minta anak-anak ini mampu mengolah diri meningkatkan kecakapan, meningkatkan komitmen terhadap gerakan pramuka. "Saya harap kalian yang terpilih dari yang terbaik pulang membawa semangat baru untuk melestarikan kebudyaaan Indonesia," jelasnya dalam pembukaan KBN 2016 di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Direktur Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Triana Wulandari, menjelaskan KBN merupakan wahana pertemuan pramuka penggalang untuk menanam dan menumbuhkembangkan nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa, membina persaudaraan, mempererat persatuan, dan kesatuan serta wadah pembinaan karakter bangsa serta jiwa kemandirian.

Kegiatan ini mengajak pramuka untuk beraktifitas di alam terbuka, mendirikan tenda untuk berkemah, serta melakukan berbagai aktivitas edukatif, rekreatif, inovatif, dan kompetitif antara lain berpetualang, menjelajah napak tilas rute sejarah, pentas seni budaya.

KBN tahun ini berlangsung mulai dari tanggal 19 hingga 23 September. Tema yang diangkat "Mewujudkan Generasi yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkarakter". Pesertanya berjumlah 800 orang dari 34 provinsi.

Korupsi Penyebab Investasi Sulit

PANGKAL PINANG- Praktek korupsi merupakan penyebab utama kalangan investor enggan berinvestasi membangun usaha di Indonesia, selain faktor infrastruktur, birokrasi, pajak dan tenaga kerja. Selama ini, ada anggapan bahwa faktor tenaga kerja yang menjadi penghambat kucuran investasi. Tapi dari catatan SPSI, secara nasional masalah buruh ini adalah faktor terakhir penghambat investasi, yang dominan justru korupsi itu.

“Korupsi berperan dominan menghambat investasi dengan persentase mencapai 21 persen dari faktor-faktor penghambat lainnya,” jelas Ketua Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSPSI) Propinsi Bangka Belitung Darusman Aswan, di Pangkalpinang, Jumat (18/5).

Menurut dia, korupsi menghambat investasi hingga 21 persen, sedangkan ketenagakerjaan (buruh) hanya sekitar empat persen saja, jauh lebih dominan peran korupsi sebagai penghambat investasi dibandingkan ketenagakerjaan. “Jadi anggapan selama ini masalah tenagakerja yang menghalagi investasi adalah salah,” kata Darusman.(ant)

Sumber: Sinar Harapan, Sabtu, 19 Mei 2007

Permainan Tradisional Ramaikan Festival Jiran Nusantara

Muntok, Babel - Festival Jiran Nusantara yang digelar untuk memeriahkan peringatan ulang tahun ke-282 Kota Muntok di Lapangan Gelora Muntok, Kabupaten Bangka Barat menampilkan berbagai lomba dan permainan tradisional.

"Kami berharap melalui festival ini masyarakat semakin dekat dan sadar kekayaan warisan budaya yang dimiliki dan bisa menerapkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam kehidupan sehari-hari," kata panitia Festival Jiran Nusantara, Rusmanadi di Muntok, Senin (5/9).

Ia mengatakan, lomba yang ditampilkan dalam rangkaian festival tersebut, seperti adu betason atau lomba cerdas cermat beregu yang mengutamakan musyawarah, lomba nyanyi melayu, layang-layang, dan berbagai permainan tradisional lainnya.

Selain menggelar berbagai lomba, kata dia, pada festival itu juga menampilkan kesenian dari komunitas dan kelompok seni lokal.

"Ajang ini merupakan salah satu wadah penyaluran kreativitas generasi muda di Muntok agar mendapatkan kesempatan menampilkan kemampuan dan keterampilan sesuai hobi," kata dia.

Festival Jiran Nusantara berlangsung 3 hingga 7 September 2016 merupakan nama dan format baru dari Festival Menumbing yang sudah digelar dalam tiga tahun terakhir.

Perubahan nama dan pola pengelolaan kegiatan tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan jumlah wisatawan datang ke ujung barat Pulau Bangka

Camat Muntok, Rahmad Dalu sebelumnya mengatakan format dan nama baru tersebut diharapkan membawa pengaruh pada meningkatnya jumlah pengunjung ke kegiatan itu.

"Kami berharap format dan nama baru pada kegiatan itu akan semakin menarik wisatawan berkunjung ke Bangka Barat yang memiliki potensi besar dari sektor wisata sejarah dan budaya," kata dia.

Muntok sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia, kata dia, memiliki banyak peninggalan bangunan bernilai sejarah yang layak dikunjungi wisatawan, selain itu budaya yang cukup beragam juga bisa dijadikan daya tarik tersendiri.

Selain itu, katanya, Muntok juga terkenal sebagai kota 1.000 kue yang sayang kalau dilewatkan oleh para pecinta kuliner.

"Kami berharap ke depan kegiatan Festival Jiran Nusantara semakin berkembang dan bisa memenuhi harapan masyarakat dalam menggeliatkan sektor pariwisata di Bangka Barat," kata dia.

Kesenian Reog dan Kuda Lumping Perlu Dilestarikan

Pangkalpinang, Babel - Seni budaya Reog dan tari Kuda Lumping perlu dilestarikan. Kehadiran reog dan kuda lumping merupakan bentuk keragaman budaya bangsa yang ada di wilayah Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam menampilkan seni budaya ini, masyarakat Jawa yang menetap di Pangkalpinang, Sungailiat dan Koba menampilkan tari kuda lumping dan reog keliling di sekitar Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang, Sabtu (3/9/2016).

Adapun kelompok Reog dari Koba dan Sungailiat serta tari kuda lumping dari Pangkalpinang melakukan atraksi dihadapan penasihat Seni Budaya Mekar Budoyo, AKBP Heru Budi Prasetyo dan Sekretaris Seni Budaya Mekar Budoyo Hardjono.

Selanjutnya tiga kelompok seni budaya ini melakukan keliling di Pangkalpinang.

Penampilan dua kelompok rego dan satu kelompok tari kuda lumping menjadi perhatian masyarakat yang lalulalang di sekitar Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang.

Menurut AKBP Heru Budi Prasetyo yang sehari-hari sebagai Kapolres Pangkalpinang, agar Seni budaya reog dan tari kuda lumping perlu dilestarikan.

Keberadaan seni budaya dari Jawa akan menambah keragaman di Pangkalpinang.

Indahnya Kebersamaan, Tari Kolaborasi Melayu-China Buka Festival di Babel

Pangkalpinang, Babel - Festival Serumpun Sebalai yang diselenggarakan oleh Pemprov Bangka Belitung (Babel) dibuka dengan penampilan tari kolosal menarik. Tarian ini menggambarkan harmonisasi kehidupan masyarakat Babel meski terdapat perbedaan etnis.

Masyarakat Bangka Belitung memang didominasi 2 etnis yakni Melayu dan China. Dalam sejarahnya di Babel, meski berbeda keyakinan dan budaya, kedua suku ini selalu hidup dengan damai dan selalu menjaga toleransi.

Tari kolosal yang bertajuk 'Harmoni 2 Etnis' ini diawali dengan penampilan para penari pria berpakaian adat Melayu warna hijau. Kemudian disusul para penari wanita berpakaian China merah-merah. Mereka mengenakan hiasan lampion di atas kepala yang memperkuat ciri khas budaya China.

Tak lama kemudian, para penari wanita berpakaian adat Babel juga bergabung di depan panggung. Kali ini, mereka mengenakan dulang di atas kepala. Dulang dalam bahasa Bangka berarti nampan. Dulang berwarna merah-kuning ini biasa digunakan dalam tradisi Nganggung, yakni makan bersama dalam satu nampan. Tradisi tersebut adalah wujud pengungkapan syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Penampilan para penari yang terdiri dari siswa-siswi SMP, SMA dan SMK di Babel ini sungguh apik. Mereka tampak kompak dan luwes dalam membawakan tarian kolaborasi tersebut. Ratusan penonton yang menyaksikan acara ini memberikan tepuk tangan meriah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan hadiah untuk para pemenang festival sebelumnya yang diselenggarakan di tingkat provinsi. Pemenang utama akan menjadi peserta dalam Festival Pesona Serumpun Sebalai ini. Gubernur Babel Rustam Effendi lantas membuka festival tahunan itu dengan penabuhan gong sebanyak 3 kali.

"Di samping sebagai apresiasi seni budaya, festival ini juga kami selenggarakan dalam rangka menjalin silaturahim dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Semoga anda semua menikmati pertunjukan kesenian ini," ujar Rustam dalam pembukaan Festival Pesona Serumpun Sebalai di Alun-alun Taman Merdeka, Jl Merdeka, Pangkalpinang, Bangka Belitung, Sabtu (23/7/2016) malam.

Hadir juga dalam acara ini Walikota Pangkalpinang M Irwansyah, Kadisbudpar Babel Tajudin dan para pejabat Pemprov Babel serta Pemkot Pangkalpinang lainnya. Ada 7 provinsi yang turut bergabung dalam festival kali ini yaitu Riau, Banten, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah dan Bangka Belitung sebagai tuan rumah. Festival ini akan diadakan hingga tanggal 26 Juli mendatang dengan berbagai penampilan seni dari masing-masing daerah.

"Selamat datang para peserta semuanya, semoga dapat menikmati Kota Pangkalpinang," ujar Irwansyah dalam kesempatan tersebut.

Babel Tuan Rumah Budaya Nasional 2016

Pangkalpinang, Babel - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dipercaya menjadi tuan rumah Kemah Budaya Nasional pada 19-23 September 2016, guna menanamkan nilai sejarah dan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa.

"Kami menyambut baik kegiatan Kemah Budaya Nasional 2016, karena dapat memperkenalkan pariwisata, sejarah, dan budaya daerah ini," kata Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Rustam Effendi usai beraudiensi dengan Direktur Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Triana Wulandari di Pangkalpinang, Senin.

Ia menjelaskan berdasarkan informasi yang diperoleh kegiatan tahunan Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan dipusatkan di Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.

"Kemah Budaya Nasional 2016 ini merupakan wadah pertemuan pramuka penggalang tingkat nasional dalam upaya menanamkan nilai sejarah dan budaya bangsa, membina persaudaraan, mempererat persatuan dan kesatuan, serta jiwa kemandirian," ujarnya.

Ia mengatakan kemah budaya dilaksanakan di alam terbuka dengan berbagai aktivitas edukatif, rekreatif, inovatif, dan kompetitif di dalamnya, seperti berpetualang, napak tilas rute sejarah, pentas seni, jumpa tokoh/budayawan, festival kuliner dan layangan, olahan bahan daur ulang, permainan tradisional dan kreatif, karnaval budaya, serta anjangsana.

"Tentunya kesempatan ini akan dipergunakan sebaik mungkin, karena dapat dijadikan sarana promosi untuk memperkenalkan pariwisata Babel, khususnya Belitung pascaditetapkannya Tanjung Kelayang Kabupaten sebagai Kawasan Ekonomi Khusus," ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar sehingga dapat memberikan manfaat untuk kemajuan Bangka Belitung, khususnya sektor pariwisata, dan sebagai penunjang program nasional untuk lebih memprioritaskan peningkatan sumber daya manusia.

Kegiatan yang mengangkat tema "Mewujudkan generasi muda yang mandiri, berdaya saing, dan berkarakter" itu, akan diikuti lebih dari 800 orang yang merupakan utusan dari 34 provinsi di Indonesia, panitia, narasumber, Gugus Depan (Gudep) KBRI Singapura dan Malaysia, serta utusan pramuka dari negara-negara rumpun melayu sebagai peninjau.

Festival Seni Budaya Kerkorf Ajang Nostalgia

Bangka, Babel - Di sepanjang jalan sekolah atau dikenal kampung kerkorf hari ini hingga senin nanti begitu semarak dengan adanya pagelaran festival seni budaya kerkorf (Fesbuk).

Event yang diselenggarakan oleh komunitas WA Peka yakni peduli kampung ini menghadirkan pentas kesenian tradisional khas bangka, permainan anak jaman dulu, festival jajanan kuliner bangka, serta kerajinan.

Ketua Panitia Fesbuk, Aldjurdjoni mengatakan, fesbuk digagas oleh WA peduli kampung, mereka adalah mantan pejabat Babel serta para tokoh Babel seperti Hudarni Rani, Emron Pangkapi, Rum Murkal, Thabrani Alwi serta pengusaha perantauan asal Bangka.

"Berawal dari group WA Peka itulah kami mengumpulkan dana pribadi dan sumbangan dari berbagai kalangan, lalu terlaksanalah kegiatan ini," ujar Djoni kepada bangkapos.com, Sabtu (9/7).

Dikatakannya selain ajang hiburan bagi masyarakat, Fesbuk memiliki tujuan untuk meningkatkan ekonomi kecil dan menengah di Pangkalpinang.

Untuk itu seratus UKM turut serta membuka lapak dagangannya di event ini.

"Kami siapkan stan gratis bagi ukm," ujarnya.

Di sepanjang jalan kerkorf sekitar 350 meter berjejer stan ukm yang menjajakan produk mereka.

Event ini sanggup menarik perhatian masyarakat, mereka berbondong-bondong datang dengan membawa serta keluarga.

Pengunjung juga dihibur dengan pentas tradisional dan lagu-lagu jaman dulu.

"Acara ini tiga hari, kita buka mulai pukul 11 siang sampai 11 malam. Hiburannya non stop, kecuali saat waktu sholat kita berhenti yang kemudian diisi dengan kultum," ujar Djoni.

Fesbuk menjadi ajang reunian para perantau, terutama mereka yang pernah bersekolah di SD 1 dan 16 di kawasan kerkorf.

Perajin Kreasikan Tenun Cual dengan Seni Bordir

Muntok, Babel - Perajin kain tradisional khas Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengkreasikan tenun cual yang dikombinasi dengan seni bordir kerawang untuk menambah kekayaan motif sekaligus meningkatkan nilai jual.

"Inovasi baru menggabungkan motif tradisional dengan bordir modern ini kami harapkan bisa mempercantik tampilan kain sekaligus menambah kekayaan ragam motif kain tenun yang dikerjakan dengan alat tenun bukan mesin tersebut," kata perajin kain cual Magdalena di Muntok, Sabtu.

Ia mengatakan, selama ini kain tenun cual dikerjakan secara manual dengan mengambil motif tradisional, seperti motif kucing tidur, pucuk rebung, ubur-ubur, kembang kenanga, penganten bekecak dan lainnya.

Sebagai percobaan awal, Magdalena sudah menyelesaikan pengerjakan beberapa lembar kain tenun cual motif ubur-ubur warna merah-ungu-biru tua dikombinasi dengan dengan tumpal segitiga.

Kain berukuran 180X100 centimeter tersebut kemudian diberikan sentuhan akhir seni bordir benang emas motif ombak kecil di sisi pinggir kain. "Hasilnya cukup memuaskan," kata dia.

Selain mengombinasikan dengan seni bordir datar, kata dia, untuk menambah daya tarik kain tersebut ada beberapa bidang motif yang dipertegas dengan sentuhan bordir tiga dimensi berbentuk bunga warna-warni.

Dalam proses pembuatan kain cual kreasi baru tersebut, Magdalena sengaja membuat eksperimen bebas dengan pertimbangan karya yang dihasilkan hanya untuk kain bawahan untuk kaum perempuan.

"Kalau untuk baju atau jenis pakaian lain kurang pas karena cual inovasi baru ini hanya cocok untuk bawahan," kata dia.

Ia mengakui teknik pengerjaan menjadi lebih rumit karena cual yang dikerjakan secara tradisional dipadukan dengan seni bordir kerawang yang dikerjakan dengan mesin.

"Ada beberapa bagian yang belum pas, namun secara keseluruhan kami puas dengan eksperimen ini, semoga inovasi baru ini diminati pasar," kata dia.

Tenun cual merupakan kain tenun berwarna cerah dan menyala khas kain tradisional Melayu bermotif mirip songket Palembang tetapi lebih luwes dan memiliki lebih banyak lengkungan serta selalu dihiasi motif flora dan fauna.

Waktu yang dibutuhkan untuk menenun sepasang kain cual motif lama, masing-masing ukuran 180X100 centimeter untuk bawahan dan ukuran 180X80 centimeter untuk selendang, bagi yang sudah mahir butuh sekitar 20 hari dengan lama kerja delapan jam per hari.

Tingkat kerumitan motif tinggi karena memiliki detail kecil-kecil yang dibentuk oleh helai per helai benang yang ditenun

Perang Ketupat, Tradisi Menjelang Ramadhan Sarat Nilai Gotong Royong

Bangka, Babel - Masyarakat Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 29 Mei mendatang kembali menggelar tradisi Perang Ketupat.

Tradisi unik yang sayang untuk dilewatkan ini merupakan puncak acara ruwah di Kecamatan Tempilang‎ dan sudah menjadi agenda pariwisata Kabupaten Bangka Barat.

Mendengar kata Ketupat pasti langsung ‎terbayang makanan dari beras yang dibungkus daun kelapa muda.

Di Pulau Bangka, Ketupat menjadi menu wajib yang harus ada disetiap rumah penduduk saat lebaran Idul Fitri, Idul Adha maupun lebaran Maulud hingga Ruwah.

Nah saat puncak acara tradisi Perang Ketupat yang akan digelar di pantai Pasir Kuning Tempilang, ada ‎dua kelompok masyarakat nantinya akan saling melempar ketupat ini kearah lawannya. Tak ada dendam maupun sakit hati diantara mereka yang terkena lemparan ketupat tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Rozali mengatakan, tradisi Perang Ketupat dan Taber Kampung saat ini sudah ditetpkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu warisan budaya tak benda.

"Ini sudah menjadi agenda wisata kita. Rencananya nanti pak gubernur, pak bupati, SKPD dan undangan lainnya akan hadir pada acara tersebut," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Rozali didampingi Kabidnya Sukandi, Rabu (2/5).

Ia menjelaskan, tradisi turun temurun Perang Ketupat Tempilang memiliki makna semangat gotong royong yang tinggi warga setempat.

Soalnya untuk persiapan acara tersebut warga bergotong royong mempersiapkan segala sesuatunya seperti menyiapkan ketupat yang akan digunakan untuk Perang Ketupat.

"Ketupat itu nantinya sumbangan dari rumah kerumah," ungkapnya.

‎Untuk tradisi Perang Ketupat, hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan dimulainya tradisi ini. Berdasarkan cerita dari turun temurun pada saat Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus pada tahun 1883, tradisi ini sudah ada. Diduga tradisi ini sudah ada sebelum masyarakat setempat menganut agama Islam.

Perang Ketupat ‎ sendiri ada lima tahapan, yakni Penimbongan atau pemberian makanan kepada mahluk halus yang dipercaya bermukim di darat, lalu Ngacak yaitu pemberian makanan kepada mahluk halus di laut, Taber Kampung yang bertujuan membuang Tasak Besek (penyakit kulit dan Buyung Sumbang (perzinahan), Perang Ketupat yang merupakan simbol memerangi kejahatan mahluk halus yang menggganggu masyarakat setempat dan Ngayot Perae (menghanyutkan perahu) sebagai simbol memulangkan tamu-tamu mahluk halus yang datang dari luar tempilang.

Usai digelarnya serangkaian upacara tresebut ada pantangan-pantangan yang harus ditaati masyarakat setempat yaitu dilarang berkelahi dalam rumah tangga, tidak boleh berkerubung kain sarong ditengah kampung, menjemur kain di pagar dan bersiul.

Sedangkan pantangan di laut diantaranya dilarang menangkap ikan dengan cara apapun selama beberapa hari, tidak boleh mencuci panci dan kuali di laut, tidak boleh mencuci perlangkapan orang melahirkan di laut, dilarang berjuntai kaki di sungai dan di laut, dilarang memukul kain di air, dilarang mencuci daging ayam di air sungai dan laut serta dilarang mencuci kelambu di sungai dan di laut.

Ngacak Atau Nganggung Menjadi Tradisi Ruwah di Tempilang

Bangka, Babel - Tradisi ruwahan menjadi salah satu agenda penting masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Bangka.

Tak terkecuali Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Pada umumnya, tradisi sakral itu menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Ketua pelaksana tradisi ruah Kecamatan Tempilang, Rusilan mengatakan, saat ini panitia telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya "Ngacak" atau tradisi Nganggung.

Seremoni dan perayaan adat ruwah ini, rencana berlangsung di Masjid Jamik Tempilang, Sabtu (21/5/2016) malam mendatang.

"Persiapan sudah sejak jauh-jauh hari kemarin. Kalau di Tempilang rangkaian kegiatan ruah diawali Ngacak atau Nganggung di Masjid Jamik," ujar Rusilan, Kamis (19/5/2016).

Ruwahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Bangka, Babel - Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pangkalpinang dan Sejarahwan Bangka Ahmad Elvian, menjelaskan ruwahan atau sedekah ruwah merupakan upacara penyambutan kedatangan bulan suci Ramadan.

Ruwahan dilakukan pada pertengahan bulan Sya'ban sehingga sering disebut dengan Nisfu Sya'ban. Pada bulan ini masyarakat biasanya melakukan acara bersih kubur dan ziarah ke kuburan keluarga masing-masing.
Sementara pada pekan-pekan pertengahan bulan Sya'ban masyarakat melaksanakan acara sedekah ruah dengan menyiapkan makanan, biasanya tidak ketinggalan seperti gulai ayam atau daging sapi untuk disantap bersama, baik oleh keluarga maupun oleh tetangga sekitarnya.

"Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap arwah orang yang sudah meninggal dan merupakan warisan dari Hinduisme. Ruah berarti arwah leluhur atau nenek moyang jadi ruwahan berarti bulan mengenang arwah leluhur atau nenek moyang. Tradisi ini merupakan warisan Majapahit dengan tradisi agama Hindu ketika Majapahit berkuasa di pulau Bangka sekitar abad 13 Masehi," jelas Elvian, kepada bangkapos.com, Selasa (17/5/2016).

Pesta Adat ’Dodol Bergema’ Berpotensi Datangkan Wisatawan

Pangkalpinang, Babel - Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Rustam Effendi mengatakan pelestarian pesta adat dodol bergema di Desa Penyampak Kabupaten Bangka Barat perlu dioptimalkan, guna meningkatkan kunjungan wisatawan di daerah itu.

"Pesta adat dodol harus terus dilestarikan, agar wisatawan tidak hanya menyaksikan keindahan alam saja tetapi juga keunikan adat dan budaya masyarakat di daerah ini," kata Rustam Effendi saat menyaksikan pesta adat dodol bergema di Desa Penyampak, Selasa.

Ia mengatakan, Babel memiliki keragaman adat dan budaya yang unik dan perlu ditonjolkan serta harus dilestarikan untuk mendukung kemajuan pariwisata.

"Setiap desa memiliki keunikan seni budaya yang berbeda, mulai dari dodol bergema, perang ketupat Desa Tempilang, mandi belimau, ruwahan dan tradisi unik lainnya," ujarnya.

Menurut dia pelestarian budaya masyarakat ini agar menjadi faktor penunjang pariwisata untuk menenarik banyaknya wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.

"Kami telah menyediakan anggaran agar pelestarian seni budaya di masing-masing desa lebih optimal," ujarnya.

Untuk itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata diminta untuk mengalokasikan anggaran pelestarian seni budaya masyarakat ke masing-masing masyarakat desa.

"Kami akan usulkan agar semua desa yang menggelar pesta adat dapat bantuan pendanaan dari pemerintah, sehingga kegiatan masyarakat lokal lebih meriah dan dikenal masyarakat luar," ujarnya.

Pawai Budaya Sepintu Sedulang Semarakkan HUT Sungailiat ke 250

Bangka, Babel - Pemerintah Kabupaten Bangka, Selasa (3/5) akan menggelar Pawai Budaya Sepintu Sedulang untuk memeriahkan HUT kota Sungailiat ke 250 Tahun.

Pawai Budaya Sepintu Sedulang yang akan diikuti ratusan peserta ini menampilkan budaya Bangka dari mulai baju adat hingga atraksi seni budaya di sepanjang jalan utama Kot Sungailiat.

‎Sebelumnya dalam rangka HUT Kota Sungailiat ke 250 tahun sudah digelar berbagai kegiatan seperti even sport and tourism bertaraf internasional Sungailiat Triatlon yang diikuti 420 peserta dari 19 negara.

‎Bertepatan dengan HUT Kota Sungailait ke 250 tanggal 27 April lalu digelar tradisi Nganggung di gedung Sepintu Sedulang dan rumah dinas Bupati Bangka.

Ada 2000 dulang berisi beraneka ragam makanan khas Bangka yang disantap bersama masyarakat dan pejabat dalam nuansa penuh rasa kebersamaan.

"Untuk Pawai Budaya Sepintu Sedulang akan melibatkan peserta dari mulai anak-anak TK hingga perguruan tinggi, instansi pemerintahan dan swasta. Pesertanya mencapai ratusan," ungkap Kepala dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Teddy Sudarsono, Senin (2/5).

Pawai Budaya ini sendiri akan digelar mulai pukul 09.00 WiB dengan mengambil start di simpang makam pahlawan dan finish di terminal Sungailiat.

Nantinya para peserta yang diantaranya para taruna ‎Akmil dan IPDN yang sedang mengikuti Latsitardanus di kabupaten Bangka akan menggelar atraksi di depan panggung kehormatan di samping kantor Disperindagkop Bangka.

‎"Dengan pawai budaya ini kita ingin melestarikan budaya kita sekaligus memperkenalkannya kepada anak-anak kita sejak usia dini," jelas Teddy.

Berkaitan dengan HUT Kota sungailiat ke 250 tahun, Teddy mengatakan ada serangkaian kegiatan yang digelar untuk memeriahkannya seperti event Sungailiat Triatlon, festival seni hingga malam hiburan.

"Diusianya ke 250 tahun ini kita harapkan seluruh elemen masyarakat berstu padu membangun daerah," imbuh Teddy.

Hari jadi Kota Sungailiat sendiri ditetapkan berdasarkan rapat tim tanggal 13 Juni 1995 serta hasil seminar lokakarya dan ekspose tenteng hari lahir Kota Sungailiat oleh bupati Bangka tanggal 20 November 1995 dan tanggal 15 januari 1996.

Penetapan hari jadi kota ini berpedoman dengan hasil rumusan akhir tim perumus setelah mendapat masukan dan tanggapan dari tokoh masyarakat dan pemuka adat serta sumber lain yang bersifat ilmiah dengan didukung berbagai data.

Hari jadi Kota Sungailiat akhirnya ditetapkan jatuh pada tanggal 7 rabiulawal tahun 1186 atau tanggal 27 April 1766 Masehi.

Penetapan ini berdasarkan ditetapkannya kampung atau dusun Liat menjadi Pangkal Liat oelh Tumengung Dita Menggala yang diperuntukkan sebagai tempat kedudukan Demang yang diangkat oleh Sultan Ahmad Nadj‎amuddin dari Kesultanan Palembang Darussalah yaitu tanggal 7 rabiulawal 1186 Hijriah atau 27 April 1766 Masehi.

Seni Budaya Miliki Prospek Bangkitkan Pariwisata Belitung

Belitung, Babel - Seni budaya tradisional, berupa tari-tarian asli Belitong memiliki prospek untuk membangkitkan pariwisata Negeri Laskar Pelangi.

Maneger Event Organizer (EO) Alex N Friend, Alex mengatakan, prospek itu sudah terlihat dari berbagai event swasta yang kini banyak digelar di kawasan di Kabupaten Belitung.

"Apalagi semua kegiatan sekarang, pasti menampilkan kesenian. Maka dari itu, pentas seni budaya sangat diperlukan, melihat perkembangan pariwisata Belitung saat ini," kata Alex kepada Posbelitung.com, Jumat (25/3/2016).

Alex menyampaikan, peranan seni budaya di Belitung perlu dilakukan atau ditampilkan secara kontinyu.

"Itu perlu, supaya juga sanggar-sanggar di Belitung semangkin berkembang," ucapnya.

Menelusuri Romantisme Rumah Panggong, Rumah Adat Belitung

Tanjung Pandan, Babel - Ketika Anda berkunjung ke suatu daerah terasa kurang lengkap rasanya jika belum mengunjungi rumah adat yang hanya ada di daerah tersebut. Di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Anda bisa menelusuri rumah Adat Panggong, yang memiliki lima bagian dengan arti dan fungsi yang berbeda-beda.

Rumah adat Belitung kini jumlahnya sangat sedikit. Namun, ketika anda sudah di Belitung mudah untuk menemukan rumah adat tersebut. Terletak persis di tengah kota Tanjung Pandan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, persis di samping Kantor Bupati Belitung.

Anda cukup menempuh waktu kurang dari 20 menit dari Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Diletakkan berdampingan dengan kantor Bupati, menurut Yudi salah satu pengelolanya, agar rumah tersebut dapat dilihat banyak orang, salah satunya tamu dinas.

“Rumah adat ini dibangun mulai tahun 2006, selesai dan diresmikan tiga tahun kemudian. Dulunya di samping kantor bupati ini toko milik warga Tionghoa, lalu dibeli dan dibangun rumah adat, agar mudah dilihat terutama tamu dinas,” ujar Yudi, kepada KompasTravel dalam Corporate Media Gathering BW Suite ke Belitung, Sabtu (12/3/2016).

Sesaat sampai di sana, perbedaan dengan rumah adat lain akan langsung terlihat. Dibangun memanjang dengan lima bagian, semakin ke belakang fungsinya semakin rendah, dari mulai teras untuk tamu hingga ruangan untuk penjaga tau pembantu.

Memiliki fondasi dari batu granit, yang banyak ditemui di Belitung. Selain fondasi, semuanya terbuat dari kayu kokoh, dari mulai lantai menggunakan kayu ulin, tiang penyangga dari kayu nyatoh, sedangkan atap menggunakan kayu medang dan seru.

Begitu masuk pengunjung disambut dengan gemericik kembang goyang yang yang saling bergesekan karena ditiup angin. Kembang ini merupakan ornamen penyambut tamu, dahulunya terbuat dari daun lais, tapi disini menggunakan besi tipis yang dibentuk serupa.

Rumah adat yang terletak di tengah kota ini merupakan miniatur rumah Panggong untuk seorang bangsawan, atau yang dimiliki para pejabat dahulu. Perbedaannya dengan rumah penduduk biasa ialah lebih besar sehingga memiliki lima ruangan, sedangkan rakyat biasa hanya memiliki empat ruangan.

Selain itu beberapa ornamen yang membedakan, salah satunya jumlah anak tangga. Di Belitung sendiri, jumlah anak tangga rumah haruslah ganjil, untuk bangsawan lebih dari tiga anak tangga, tapi rakyat biasa hanya diperbolehkan memiliki tiga anak tangga.

Ornamen lainnya yang terdapat di rumah bangsawan merupakan perpaduan dari model suku lain, tergantung silsilah keuarga bangsawan tersebut. Di rumah ini sendiri, anda bisa menemukan renda penghias atap berbentuk segitiga-segitiga.

Menurut Yudi, ini merupakan adopsi dari rumah adat Kalimantan, yang berarti bangsawan tersebut memiliki saudara dari suku di Kalimantan.

KompasTravel mulai menelusuri dalam rumah Panggong, dari teras yang memiliki luas tiga kali tujuh meter persegi. Hanya tamu laki-laki yang bisa diterima di teras, sedangkan perempuan masuk langsung ke bagian tengah dan bisa ke dapur. Untuk laki-laki hanya sebatas sampai teras.

Ruang kedua merupakan ruangan utama, di mana tempat keluarga beraktifitas. Di sini Anda bisa melihat salah satu ciri khas rumah Panggong Belitung tidak memiliki sekat-sekat kamar. Orang tua dan anak tidur bersama di ruangan tersebut menggunakan kasur tipis atau tikar.

Selain rumah adat, bangunan tersebut juga berfungsi sebagai Museum Budaya Belitung. Anda dapat melihat banyak foto-foto yang menjelaskan budaya Belitung di sana.

Yudi, langsung mengantarkan ke beberapa foto kebanggaannya. Di antaranya foto rumah-rumah Panggong berderet saat masa jayanya, foto "main beripat" yang merupakan permainan tradisional Belitung, dan foto Syekh Abu Bakar Abdullah penyebar agama Islam di sana.

“Di ruangan inilah proses pernikahan berlangsung, pengantin perempuan yang melamar menggunakan kebaya panjang, dan laki-laki dilamar menggunakan pakaian kancing lima bertopi singing,” jelas Yudi sambil menunjukkan ke depan miniatur serba-serbi keperluan pernikahan adat Belitung.

Lepas dari ruangan utama, Anda disambut dengan jembatan sepanjang tiga meter, atau disebut loss. Di tempat ini setiap anggota keluarga berkumpul bersantai sambil bercengkerama, seperti mencari kutu atau mendongeng. Loss tersebut menghantarkan Anda menuju ruang dapur, di mana hasil ikan atau kebun disimpan.

Dapur diletakkan di belakang karena tempat yang melakukan aktifitas lebih kotor dibanding ruang utama. Selain untuk penyimpanan bahan makanan, di sana juga tempat memasak bahan tersebut, hingga disantap bersama-sama keluarga.

Ruang paling belakang ialah ruang untuk penjaga rumah atau pembantu di zaman sekarang. Ruang ini salah satunya yang membedakan bangsawan dengan rakyat biasa, di mana rakyat bisa tidak memiliki ruang penjaga.

-

Arsip Blog

Recent Posts