Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bengkulu. Tampilkan semua postingan

Ungkap Korupsi, Ketua DPRD Bengkulu Malah Dibui

Bengkulu - Ironi terjadi di dunia hukum Bengkulu. Ketua DPRD Kota Bengkulu Ahmad Zarkasi SP yang mengungkap dugaan korupsi proyek pengadaan buku Diknas malah dijebloskan ke penjara. Hukuman tersebut harus diterima setelah dia dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Atas tindakannya itu, dia divonis bersalah dengan hukuman satu bulan penjara. Sedangkan laporan korupsi yang disampaikan tidak jelas penyelidikannya. ``Mengapa bukan kasus korupsinya yang diusut dulu. Jika tidak terbukti, baru pencemaran nama baiknya yang diperiksa,`` sesalnya, sesaat sebelum eksekusi putusan pengadilan atas dirinya kemarin.

Sejak pukul 19.15 Jumat malam lalu, politisi PKS itu resmi menjalani masa hukumannya di Lapas Kelas II A Malabero. Dia ``diantar`` Kasi Pidum Kejari Bengkulu Fauzi SH dan Kasi Penyidikan Kejati Bengkulu yang juga menjadi jaksa penuntut umum kasusnya, Agus Irawan. Selama proses eksekusi tersebut, Zarkasi terlihat tenang dan banyak tersenyum. Dia menyalami puluhan kader PKS yang ikut mengantar ke lapas.

Insiden kecil terjadi saat Zarkasi hendak dinaikkan ke mobil tahanan kejaksaan. Ban kiri depan mobil yang diparkir di depan rumah dinas Zarkasi tiba-tiba meletus. ``Ini bukan kesengajaan. Mungkin pertanda Zarkasi tidak boleh dieksekusi,`` kata anggota DPRD Kota Bengkulu Irman Sawiran. Setiba di lapas, puluhan kader PKS menyambut Zarkasi dengan bentangan spanduk. ``Ketua DPRD mengungkap kasus korupsi Rp 1,6 M justru dipenjara, di mana keadilan itu.``

Sebelum eksekusi, Zarkasi sempat mendatangi kantor kejaksaan sekitar pukul 10.30. Masih dengan berpakaian dinas anggota dewan, dia menemui Fauzi di ruang Kajari Effendi Harahap SH. Saat itu sebenarnya sudah beredar informasi bahwa eksekusi terhadap Zarkasi segera dilaksanakan. Namun, tembusan putusan MA belum sampai ke PN Bengkulu. Karena belum ada kejelasan, Zarkasi pun meninggalkan kejaksaan untuk salat Jumat. Dia bahkan sempat menghadiri sebuah acara di GOR Sawah Lebar. Setelah ada kepastian soal putusan MA, kejaksaan pun berniat menjemput Zarkasi di rumah dinasnya sore itu juga.

Sebelum menuju lapas, Zarkasi sempat mengadakan jumpa pers. Sambil memegang Alquran, bapak delapan anak itu mengungkapkan kekecewaannya atas sikap aparat hukum Bengkulu. Menurut dia, aparat hukum Bengkulu dan juga di Indonesia pada umumnya belum memihak kepada kebenaran. Banyak kasus korupsi yang jelas-jelas merugikan negara tidak tertangani sampai tuntas. ``Kita sama-sama tahu, belum lama ini terdengar aparat penegak hukum menyidik kasus dugaan korupsi dalam jumlah besar. Namun nyatanya, hingga kini belum ada yang berlanjut ke persidangan. Tersangkanya masih duduk santai di rumah,`` katanya.

Dia menduga, kejadian yang dialami itu adalah bagian dari risiko politik yang harus dihadapi. Itu, tegasnya, tidak akan mengubah sikap dan perjuangannya. ``Selama menurut saya dan agama saya itu benar, saya akan terus memperjuangkannya. Tidak ada di dalam kamus saya, kapok dalam menegakkan kebenaran," tandasnya.

Sikap tegas Zarkasi tersebut mendapat dukungan istrinya, Eko Sulistyawati. Perempuan itu sudah siap menghadapi berbagai risiko yang dialami sang suami. Baginya, Zarkasi adalah pejuang bagi keluarga dan warga Kota Bengkulu. Demikian juga dengan anak pertama mereka, Roidah, yang masih menempuh pendidikan di SMP. Dia mengaku tidak malu ayahnya dipenjara. ``Kenapa malu? Bapak kan enggak korupsi," katanya.

Kasus tersebut berawal ketika Zarkasi masih menjadi anggota DPRD Kota Bengkulu 2002 lalu. Dia mengkritisi anggaran ganda dalam pengadaan buku Diknas Pemkot Bengkulu. Merasa tersinggung, Walikota Chalik melaporkan Zarkasi ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kejaksaan ternyata lebih memperhatikan laporan Chalik daripada laporan Zarkasi.

Kasus pencemaran nama baik pun diproses terlebih dahulu, sementara dugaan korupsi diabaikan. Meski belakangan BPK menjelaskan ada dugaan penyimpangan dana dalam proyek tersebut sebesar Rp 1,5 miliar.

Dalam sidang pertama di PN Bengkulu 2006 lalu, Zarkasi divonis lima bulan penjara. Pengadilan tinggi menerima banding Zarkasi dan mengurangi hukumannya menjadi satu bulan.

Masih tidak terima, Zarkasi pun mengajukan kasasi ke MA. Hasilnya, MA memperkuat putusan PT Bengkulu. Eksekusi pun dilakukan Jumat malam lalu. Soal dugaan korupsi? Tidak ada kejelasan penyidikannya meski BPK sudah menengarai adanya kemungkinan tersebut. (lid/jpnn/ruk)

Sumber: Jawa Pos, 29 Juni 2008

Polda Minta Izin Presiden Periksa Bupati Seluma Terkait Kayu Ilegal

Bengkulu - Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Sukirno, Jumat, menyatakan akan segera mengirim surat izin ke Presiden RI untuk memeriksa Bupati Seluma H Murman Effendi terkait penemuan puluhan kubik kayu yang diduga ilegal di rumah pribadinya di Rimbo Kedui, Kabupaten Seluma.

"Sesuai ketentuan, memeriksa bupati harus ada izin presiden, surat untuk Presiden itu sedang disiapkan, dan pemeriksaan itu masih sebagai saksi. Yang pasti kasus ini akan terus diselidiki," kata Kapolda kepada pers usai melakukan peninjauan dari udara dengan helikopter ke kawasan hutan di Kabupaten Seluma.

Kawasan hutan yang ditinjau tersebut dicurigai sebagai tempat pembalakan liar yang sebagian kayu-kayunya kini telah diamankan oleh Polda di Mapolres Seluma.

Jajaran Polda Bengkulu dalam sebuah operasinya awal pekan lalu berhasil mengamankan puluhan meter kubik kayu-kayu berkualitas yang diduga ilegal karena tak dilengkapi dokumen yang sah.

Kayu-kayu itu diduga hasil pembalakan liar di kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Seluma, bahkan polisi menduga masih banyak kayu-kayu ilegal yang masih tersimpan di beberapa tempat di kawasan hutan Seluma.

Lebih Lanjut Kapolda mengatakan, dari pantauannya dengan helikopter di dalam kawasan hutan lindung Seluma terlihat ada pemukiman masyarakat, baik dalam kelompok besar maupun kecil, mereka diduga membuka lahan di hutan lindung dan menanami dengan kopi.

"Saya juga melihat masih ada kayu-kayu yang berserakan di beberapa tempat yang mungkin diambil dari hutan lindung," kata Brigjen Pol Sukirno. Helikopter yang ditumpangi Kapolda dan beberapa pejabat di Polda Bengkulu itu sempat terbang rendah untuk mengawasi kondisi hutan.

Hasil pemantauannya itu akan dijadikan bahan masukan bagi Pemprov Bengkulu, ternyata hutan yang seharusnya dilindungi hingga kini belum mampu dilindungi bahkan sebagian telah rusak. Ia juga menyarankan agar para perambah hutan itu dibina, misalnya dipindahkan dan diberi lahan melalui program transmigrasi lokal.

Ketika ditanya, Brigjen Sukirno mengatakan, pembuatan surat setelah kayu ditebang dan dikeluarkan, itu merupakan perbuatan keliru dan pelanggaran. "Mekanisme itu tidak benar dong, masa` kayunya ditebang atau dikeluarkan dulu baru suratnya menyusul, ya salah," katanya.

Saat ditanya wartawan, Sukirno yang baru sekitar satu bulan menjabat Kapolda Bengkulu menyatakan akan serius menangani kasus "illegal logging" (pembalakan liar) di Seluma itu. Dalam operasinya awal pekan lalu itu, jajaran Polda juga menemukan tumpukan kayu dari beberapa tempat terpisah, polisi juga sempat menyelami kolam ikan yang dijadikan tempat menyimpan kayu-kayu ilegal itu.

Sementara itu, dari hasil pemeriksaan dan penyelidikan hingga saat ini Polda telah menahan Yk dan Nn, keduanya ditahan tak lama setelah jajaran Polda menyita dan mengamankan kayu-kayu temuannya. Polda juga menahan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Seluma SA dan lima stafnya dengan dugaan melakukan pemalsuan dokumen untuk pengeluaran kayu-kayu yang kini diamankan polisi.

Sementara itu, Bupati Seluma H Murman Effendi beberapa hari lalu membantah keras keterlibatannya dalam kasus pembalakan liar di wilayahnya, terutama terkait penemuan puluhan meter kubik kayu di Seluma. "Tak sepotong pun kayu yang diamankan polisi itu milik saya. Saya tidak tahu siapa pemiliknya," tegas Bupati.(*)

Sumber: Antara, 20 Juni 2008

Pertunjukan Kudo Putih, Permainan Rakyat Jelang Tabut

Bengkulu - Alunan suara musik nan merdu terdengar dari kejauhan di keheningan malam sekitar pukul 22.00 WIB, Rabu malam (28/9) di kawasan Jalan Cendana 1, RT 8, Kelurahan Sawah Lebar, Kota Bengkulu. Mendengar suara merdu itu, satu-persatu warga keluar dari rumahnya. Di ujung jalan terlihat seekor kuda putih berjalan pelan. Diterangi cahaya remang-remang dari sebuah lampu petromak.

”Ikan-ikan,” teriak anak-anak girang.

Ikan-ikan merupakan pertunjukan khas masyarakat Bengkulu. Tampil hanya pada saat menjelang dan selama pelaksanaan festival tabut berlangsung, pada setiap tanggal 1 hingga 10 Muharam.

Masyarakat Bengkulu akrab menyebut permainan rakyat itu dengan nama ikan-ikan. Walaupun bentuk patung permainan rakyat itu berbeda-beda, bisa udang, ikan, dan hewan lainnya. Tergantung selera dari rombongan pembuat permainan rakyat itu mau membuat patung hewan apa. Biasanya permainan rakyat itu tampil berdasarkan kelurahan. Kuda putih itu sendiri permainan rakyat dari Kelurahan Padang Jati.

Kuda Putih itu replika dari hewan kuda. Terbuat dari kayu dicat putih. Bagian bawah perut kuda itu sengaja dibuat berlubang. Untuk memasukkan kepala orang yang membawa kuda tersebut.

Suara merdu itu berasal dari tiupan serunai dipadu petikan gitar, gesekan biola, dan tabuhan gendang melayu yang dikeraskan dengan sound system yang dimainkan rombongan pertunjukan permainan rakyat.

Setelah kuda putih itu dekat, keluarga Mulyadi, memanggil rombongan pembawa permainan rakyat kuda putih tersebut. Begitu diberi aba-aba rombongan yang membawa kuda putih itupun memasuki pekarangan rumah warga yang cukup luas tersebut.

Puluhan warga yang berkumpul di pekarangan rumah warga bersemangat menyaksikan pertunjukan. Mengingat hari telah malam, pakaian yang dikenakan warga pun beragam. Ada yang mengenakan sarung hanya dengan kaos dalam, baju daster, dan ada juga yang mengenakan jaket, karena udara malam itu memang dingin.

Warga pun dihibur dengan kuda putih setingi sekitar 2 meter menari berlenggak-lenggok dirinfi alunan lagu berjudul Kudo Putih ciptaan Ibrahamsyah, Ketua Kerukunan Tabot Budaya.

Warga terpukau dengan penampilan kuda putih dan penari tersebut. Beberapa warga dengan gembira ikut menari melingkari kuda putih. Sekitar 5 menit berlalu alunan musik terdengar memelan dan pertunjukan pertama berakhir.

Hanya selang beberapa saat saja alunan musik kembali tersengar dengan irama berbeda. Kali ini lagu melayu berjudul, Tepuk-Tepuk Tangan yang gembira dinyanyikan.

Kuda putih dan warga pun kembali menari gembira. Sekitar 5 menit pula lagu tepuk-tepuk tangan dinyanyikan sebagai lagu penutup pertunjukan permainan rakyat tersebut.

Berikutnya kuda putih dan rombongan bergerak menyusuri jalan aspal dengan berjalan kaki sambil menanti warga lainnya memanggil untuk pertunjukan pula.

Teramat senang dengan permainan rakyat itu, banyak anak-anak dan orang dewasa mengikuti perjalanan kuda putih tersebut. Mereka berjalan kaki dan ada juga yang mengendarai sepeda motor.

“Kami bawa motor anak saya memaksa minta mengikuti kuda putih ini. Dari Sawah Lebar ujung sampai ke Jambu Tiga ini,” cerita warga bernama Lilis.

Ketua Permainan Rakyat Kuda Putih Kelurahan Padang Jati kepada BE menuturkan, “Permainan rakyat ini ditengah masyarakat memang identik disebut ikan-ikan. Karena keluarga tabot memang kebanyakan membuat patung permainan rakatnya berbentuk ikan. Sebenarnya bentuknya banyak bisa kuda putih seperti punya kita ini, udang, beruang dan gajah.”

Diakui Ismail, permainan rakyat itu hanya muncul saat menjelang pelaksanaan dan berakhirnya festival tabut saja. Sehingga menjadi hiburan yang sangat disenangi dan dinanti- nanti masyarakat. Bukan hanya oleh warga Bengkulu saja, tetapi warga pendatang juga.

Ismail menambahkan, lagu Kudo Putih melambangkan semangat, dan warna putih melambangkan bersih. Kuda pun ditunggangi pahlawan nasional Pangeran Sentot Ali Basyah yang dimakamkan di kawasan Bajak, Kota Bengkulu. Selain itu, lagu itu juga menyinggung pembangunan dan kemajuan yang terjadi di Bengkulu. Walaupun kemajuan yang dicapai tidak drastis, namun pemimpin daerah ini sudah berbuat untuk Provinsi Bengkulu.

Permainan rakyat ini sangat khas dan unik. Keunikannya antara lain, hanya ada pada malam hari selama fastival tabut saja. Pada masa sebelumnya permainan rakyat ini disajikan sebagai hiburan tanda rasa syukur ketika musim panen tiba.

Keunikan lainnya ada banci (waria-red) yang mengenakan pakaian adat atau pakaian wanita serta menggunakan kosmetik wanita berjumlah 4 orang atau 2 orang. Mereka berjoget mengelilingi tarian patung permainan rakyat.

Banci dan replika hewan itulah yang menjadi daya pikat bagi masyarakat, khususnya anak-anak menonton pertunjukan permainan rakyat tersebut. Bahkan anak-anak rela bangun dari tidurnya demi menontot permainan rakyat tersebut.

Bagi warga yang ingin menyaksikan pertunjukan permainan rakyat itu saat sekarang ini tarifnya Rp 50 ribu untuk sekali pertunjukan.

Dengan suguhan dua lagu, lagu pertama lagu wajib sesuai bentuk patung permainan rakyat. Kalau bentuknya kuda putih, maka lagunya kuda putih, bentuk udang lagunya tentang udang, bentuk ikan lagunya tentang ikan dan lainnya.

Rombongan permainan rakyat itu bisanya memulai perjalanan untuk melaksanakan pertunjukan selepas Salat Isya, sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka berjumlah sekitar 25 orang. Terdiri dari satu orang yang masuk ke patung permainan rakyat, 4 orang penari, pemain gitar, biola, gendang melayu masing-masing 1 orang, ditambah penarik dan pendorong gerobak, serta rombongan pengiring.

Rombongan tidak hanya sebatas orang asli Bengkulu saja, tetapi ada juga dari luar daerah, seperti dari Linggau yang tinggal di Bengkulu. Mereka berjalan kaki mengitari rute peruahan warga yang terdekat dengan lokasi kelurahan asal permainan rakyat tersebut.

Seperti Permainan Rakyat Kudo Putih yang berasal dari Kelurahan Padang jati menempuh rute dari dari Padang Jati menyusuri Jalan Bukit Barisan, bergerak ke Kebun Tebeng, lalu menyusuri jalanan di kawasan Merawan dan Jalan Cendana Sawah Lebar. Kemudian bergerak lagi ke Jalan Jati dan Jalan Semeru untuk pulang. Mereka tiba di rumah sekitar pukul 24.00 WIB dinihari.

Dalam satu malam rata-rata rombongan melakukan pertunjukan di 5 hingga 10 rumah warga. Uang yang terkumpul digunakan untuk partisipasi bagi pemain musik dan rombongan permainan rakyat, beli tokok (alat musik baru) dan tambahan dana rehab permainan untuk pementasan pada lomba permainan rakyat di arena Festival Tabut.

”Tahun lomba permainan rakyat digelar malam tanggal 5 Oktober. Kita tampil dalam lomba itu,” jelas Ismail yang kini bekerja sebagai karyawan jsa pengiriman surat dan barang Tiki ini.

Suku Perang, Semut, dan Enggano

Bengkulu - Terompet Kamiyu yang berasal dari cangkang kerang berukuran besar ditiupkan oleh para pimpinan suku. Berpakaian dari dedaunan, ikat kepala dari daun kelapa muda, puluhan kaum perempuan, laki-laki tumpah ruah mengelilingi sebuah perhelatan jamuan makan.

Para panglima perang tampak sigap mengelilingi jamuan pesta adat itu memastikan keadaan aman. Semua wajah terlihat bahagia menikmati hasil panen. Terdapat kelapa muda, pisang, ikan panggang dan beragam jenis makanan khas masyarakat adat Enggano tersaji.

Kebahagiaan pesta syukur itu mendadak surut saat belasan prajurit dari kelompok suku lain mengepung warga yang sedang berpesta. Belasan kelompok suku lain berpakaian tempur lengkap dengan parang dan tombak agresif mengelilingi kelompok yang sedang berpesta itu.

Terompet Kamiyu ditiup oleh panglima perang, pertanda pesta harus dihentikan dan bersiaga melakukan perlawanan. Kaum pria dari kelompok yang diserang mencabut parang dan menyiagakan tombak.

Kaum perempuan beserta tetua adat tampak melakukan negosiasi terhadap kelompok penyerang. Kaum perempuan dalam komunitas adat Suku Enggano berperan penting dalam meredakan pertempuran antarsuku yang kerap terjadi.

Berkat kepiawaian dan bahasa kelembutan dari kaum perempuan perang antar suku dapat dihentikan. Kedua kelompok yang telah berhadapan untuk bertempur itu akhirnya berdamai dan melanjutkan pesta jamuan makan diiringi teriakan dan nyanyian.

Demikianlah salah satu kolosal tarian perang dari suku Pulau Enggano, di Provinsi Bengkulu. Kolosal tarian adat tersebut mengundang decak kagum dan haru para penonton dalam sebuah pesta adat yang digelar pada 17 Agustus 2016 lalu.

Selain tari perang, suku-suku di Pulau Enggano juga mengenal tari semut, tarian ini menggambarkan keberlanjutan hidup suku-suku untuk saling mengisi kehidupan secara berdampingan, pasca perang antar suku yang kerap terjadi.

Tari semut cukup unik, saat ratusan penari berbaris memanjang saling memegang pinggang satu sama lain dan berkeliling membentuk lingkaran, kadang memanjang seperti ular.

Suku perang penjaga perdamaian

Sejarah Suku-suku yang menempati Pulau Enggano sepanjang tahun 1500 hingga 1883 penuh dengan pertumpahan darah.

Terdapat lima suku asli mendiami wilayah yang terletak di tengah Samudera Hindia itu. Kelima suku itu yakni Kauno, Kaitora, Kaaruba, Kaarubi, dan Kaaohao.

Peperangan tersebut dipicu perebutan sumber kehidupan yakni tempat mencari ikan dan tanah. Suku yang suka berperang memerangi suku-suku lain yakni Kaitora.

"Saat itu Suku Kaitora memang dianggap sebagai suku yang suka berperang karena seringnya mengambil tanah suku lain, kami digempur oleh empat suku lain. Akibat sering berperang generasi suku kami sedikit," kata Kepala Suku Kaitora, Rafly Zen Kaitora, Rabu (17/8/2016).

Adapun senjata yang digunakan sebagai alat tempur yakni batu yang dibuat mirip parang dan tombak. Saat itu besi belum dikenal oleh masyarakat adat yang menghuni Pulau Enggano.

Selain dilengkapi dengan alat perang, suku-suku di Enggano juga memiliki rumah adat yang berfungsi sebagai basis pertahanan dan pengintai musuh.

Rumah adat itu sengaja dibangun bertingkat dua, dengan bentuk segi delapan atau hexagon dan ditempatkan di puncak bukit agar memudahkan pengintaian terhadap lawan dan untuk melarikan diri jika kalah perang.

Pertempuran antar suku dapat diakhiri saat kawasan itu dikuasai Belanda pada tahun 1908 dan dikeluarkannya perjanjian “Barharu” tanggal 23 April 1908 De- Residen Van Bengkulen. Perjanjian juga diiringi dengan pendirian tugu perdamaian yang lokasinya ada di Desa Malakoni. Serta pembentukan ikatan persaudaraan yang dinamakan Paano’a.

Bebasnya Dr Hijazi Preseden Buruk Pemberantasan Korupsi

Bengkulu - Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bengkulu Titiek S Mokodompit menilai, vonis bebas yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Curup Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu terhadap mantan Bupati Rejang Lebong Dr Achmad Hijazi, merupakan preseden buruk dalam pemberantasan korupsi di daerah itu.

"Itu merupakan contoh buruk. Karena Hijazi dibebaskan maka pejabat lain tidak takut untuk melakukan korupsi karena masih ada kemungkinan untuk bebas dari jeratan hukum," katanya di Bengkulu, Sabtu (09/12/06).

Menurut dia, dalam kasus korupsi yang dilakukan mantan Bupati Rejang Lebong itu sudah jelas karena ada kerugian keuangan negara. Jajaran Kejaksaan khususnya para jaksa yang menangani kasus tersebut, kata dia, sudah berupaya keras bahkan sampai babak belur guna membuktikan keterlibatan mantan orang nomor satu di Rejang Lebong itu. "Tapi memang majelis hakim mempunyai pendapat lain, dan berbeda persepsi dengan kita dalam kasus itu, sehingga mereka memutuskan untuk memberikan vonis bebas," katanya. Secara institusi, Mokodompit mengaku sangat menghargai putusan yang dijatuhkan majelis hakim tersebut, meski secara pribadi ada rasa kecewa.

Terkait bebasnya Hijazi, ia mengaku telah mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Majelis hakim Pengadilan Negeri Curup yang diketuai Mardiyono Cokrosarjono, Selasa (21/11) menjatuhkan vonis bebas terhadap Achmad Hijazi terdakwa dugaan korupsi gedung workshop.

Selain itu, majelis hakim membebaskan terdakwa dari seluruh dakwaan Penuntut Umum, serta memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya seperti sedia kala.

Sebelumnya tim Jaksa Penuntut Umum yang diketuai Yeni Puspita, SH mengajukan tuntutan agar Hijazi dihukum lima tahun penjara serta membayar denda sebesar 100 juta dengan subsisder enam bulan kurungan dan membayar uang pengganti sebesar Rp5,628 miliar lebih.

Kasus dugaan korupsi yang dituduhkan kepada mantan Bupati Rejang Lebong dalam pembangunan work shop atau proyek PIC (Place Of Information Centre) yang terletak di Jakarta tahun anggaran 2003/2004. Dana untuk pembangunan proyak itu berasal dari Dana Alokasi Umum 2003 sebesar Rp13,6 miliar dan untuk pembangunan selanjutnya kembali dianggarkan dari DIPA 2004 sebesar Rp8,6 miliar.

Namun dalam pelaksanaanya ditemukan adanya penyimpangan, sehingga menimbulkan keuangan negera sekitar Rp1 miliar lebih. (*/rit)

Sumber: Kapanlagi.Com, 09 Desember 2006

Kasus Dugaan Korupsi Anggota DPRD Bengkulu Selatan

Bengkulu - Lima Anggota DPRD Bengkulu Selatan jadi tersangka dalam kasus korupsi dana studi banding Rp 1,2 miliar. Kasus korupsi ini diawali dengan ditemukannya kebocoran dana sekretariat DPRD Bengkulu Selatan dalam APBD tahun 20003 sebanyak Rp 1,2 Miliar.

Dana sebesar itu seyogyanya digunakan untuk studi banding sejumlah anggota DPRD Bengkulu Selatan ke pulau Jawa. Masing-masing anggota dewan mendapat dana perjalanan sebesar Rp 7,5 juta. Namun, setelah dana perjalanan dicairkan para anggota dewan tidak merealisasikan studi banding tersebut. Atas dasar ini, Polres Bengkulu mengadakan pengusutan. Sedangkan status kelima tersangka anggota dewan ini ditetapkan setelah polda Bengkulu mengadakan penyelidikan dan meneruskannya ketahap penyidikan.

Sementara itu, sebelumnya Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu yang mengaudit penggunaan keuangan DPRD tahun angggaran 2002 sebanyak Rp 3,7 miliar menemukan bahwa 1,2 miliar diantaranya, penggunaannya tidak jelas.

Untuk memeriksa kelima anggota DPRD tersebut Polda Bengkulu telah mengajukan surat izin ke Kejaksaan Tinggi Bengkulu untuk selanjutnya diteruskan ke Gubernur Bengkulu Hasan Zen, SH, MM. (may)

Sumber: Suara Pembaruan, 24 April 2004

Rejang Lebong Lestarikan Tradisi Mengandak atau Menyambei dalam HUT Kota Curup

Curup, Bengkulu - Dalam rangka festival budaya HUT Kota Curup ke- 136 kali ini, Pemkab Rejang Lebong (RL), benar-benar berupaya melestarikan kembali tradisi adat istiadat daerah. Salah satunya adalah tradisi mengandak atau menyambei.

Dijelaskan Samsul Hilal, anggota BMA Rejang Lebong “Ngandak dan nyamei” merupakan tradisi yang persis dengan Sinden di Pulau Jawa.

“Biasanya nyamei nganak ini dilaksanakan pada sela-sela acara zaman dahulu, terutama saat ada kegiatan ritual Tari Kejei. Kalau zaman modern saat ini, biasanya diisi dengan nyanyian atau lainnya,” jelas Hilal, saat menjadi juri pada perlombaan Mengandak/Menyambei, di Balai Pertemuan, RL, Jum’at (27/05/2016) pukul 10.00 WIB.

Pantauan, bengkuluekspress.com. Dalam perlombaan Mengandak/Menyambei HUT Kota Curup ini diikuti sebanyak 16 peserta dari berbagai kalangan, muda, tua dan sebagainya. Para peserta diberikan waktu selama 10 menit untuk menampilkan performa mereka.

Setiap peserta membawakan nyanyian daerah terdahulu, dilantunkan dengan santun dan penuh khidmat, bahkan jika peserta memahami apa yang dilantunkan sang penyamei dan lagunya sedih, dapat meneteskan air mata.

Para peserta mengenakan pakaian adat. Ada yang tampil sendirian tanpa alat musik apapun. Adapula yang didampingi dengan alat musik suling dan sebagainya. Tradisinya, setiap peserta saat tampil, mukanya ditutupi dengan kipas.

“Bisa juga ditutupi selendang, jika yang menyamei dan menganak adalah perempuan,” jelas Hilal.

Pesta Lemang, Tradisi Menyambut Panen Raya di Bengkulu

Bengkulu - Berbagai tradisi budaya masih mengakar di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Seperti tradisi menyambut panen hasil pertanian dilakukan dengan pesta lemang yang dilakoni masyarakat Kecamatan Padang Guci, Kaur.

Sebelum panen dimulai, warga memasak lemang dalam jumlah banyak di rumah petani yang ingin memanenkan sawahnya. Proses memasaknya dengan cara tradisional. Batang bambu yang sedikit muda, dimasukkan beras ketan, selanjutnya dibakar atas bara api.

Menurut tokoh pemuda Padang Guci, Nopri Anto, belakangan dengan adanya kemajuan teknologi, masyarakat mulai ada yang beralih menggunakan alat modern.

Namun mayoritas masih mempertahankan cara tradisional. 'Tradisi ini sudah berlangsung sejak nenek moyang kami dulu di Kaur,' kata Nopri, kepada Okezone, Jumat (15/4/2016).

Tradisi masak lemang, lanjut Nopri, bukan hanya digelar saat panen raya padi. Namun, juga digelar saat masyarakat ingin melakukan prosesi pernikahan. Lemang di Kaur juga jadi menu tradisional saat menyambut tamu-tamu besar.

Proses pembuatan lemang menjelang panen raya, biasanya selalu melibatkan keluarga besar si petani serta warga sekitarnya. Lemang selanjutnya dibawa ke pondok sawah.

Di sana akan digelar doa bersama untuk keberkahan. Selepas doa, lemang itu baru dimakan bersama-sama. Selanjutnya, masyarakat menggelar panen raya padi secara gotong royong di area sawah milik warga.

Pemkot Bengkulu gelar Festival Tempo Dulu

Bengkulu - Pemerintah Kota Bengkulu menggelar Festival Tempo Dulu untuk memperkuat kebudayaan yang kian hari mulai luntur akibat pekembangan zaman modern.

Wakil Wali Kota Bengkulu Patriana Sosialinda, di Bengkulu, Minggu, mengatakan festival tersebut berisikan kegiatan karnaval dengan memakai pakaian adat berbagai suku di Indonesia, dan dilanjutkan dengan pergelaran seni budaya tempo dulu.

"Adat dan budaya sudah mulai pudar di tengah masyarakat, ini salah satu cara kita untuk menanamkannya kembali," kata dia lagi.

Festival tersebut digelar juga untuk membangun sektor pariwisata serta memeriahkan hari jadi Kota Bengkulu yang diperingati pada 17 Maret setiap tahunnya.

Pada 2016 ini, Kota Bengkulu memperingati hari jadi ke 297.

Festival seni budaya tempo dulu tersebut dipusatkan di perkampungan warga Tionghoa atau dikenal dengan China Town. China Town merupakan pusat Kota Bengkulu tempo dulu.

"Sekarang di sini seperti kota mati, kegiatan ini salah satu komitmen Pemkot Bengkulu untuk menghidupkannya kembali," kata Patriana lagi.

China Town sebenarnya merupakan salah destinasi wisata Kota Bengkulu, namun kondisinya saat ini belum layak menjadi salah satu destinasi wisata.

"Kami programkan sejumlah percepatan pembangunan yang diperlukan," kata dia lagi.

Nantinya, perkampungan masyarakat Tionghoa tersebut, menurutnya, akan diproyeksikan seperti Kota Tua Jakarta dan menjadi salah satu destinasi wisata yang diminati turis.

"Tapi harus ada komitmen bersama, kalau tidak pembangunan ini tidak akan berjalan lancar," ujar Patriana.

Kota tua China Town dipadu dengan featival seni budaya tempo dulu, menurut dia, merupakan paket wisata yang sangat menarik.

Pemeritah Kota Bengkulu serius untuk membangun paket wisata tersebut, dan meminta dukungan dan komitmen pengusaha terkait serta masyarakat.

Adat Bengkulu Banyak Hilang

Bengkulu - Provinsi Bengkulu mempunyai adat istiadat dan budaya yang sangat banyak. Namun, adat istiadat Bengkulu saat ini telah banyak yang hilang. Modernisasi dan kurangnya pendidikan merupakan penyebab utamanya.

“Saat ini kita sudah sangat jarang melihat kebudayaan Bengkulu digunakan. Seperti di acara pernikahan, khitanan dan lainnya. Perilaku anak-anak Bengkulu sendiri juga banyak yang melanggar norma dan adat istiadat yang ada,” ujar Ujang Samsul, Wakil Ketua BMA Kota Bengkulu, Senin (22/2).

Ujang Samsul mengatakan, globalisasi dan kemajuan teknologi menjadi penyebab hilangnya adat istiadat di Provinsi Bengkulu. Serta kurangnya pendidikan norma, adat istiadat dan perilaku santun kepada anak juga sebagai penyebabnya. “Anak-anak sekarang mempunyai perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan adat istiadat, seperti perilaku tidak santun kepada guru, orang tua dan teman-temannya,” ungkapnya.

Pendidikan yang harus diberikan kepada seorang anak bukan hanya pendidikan umum sekolah, namun ilmu adat istiadat, norma dan budaya juga harus diberikan. Karena pendidikan sekolah tidak cukup untuk mendidik seorang anak mentaati aturan norma dan adat istiadat. “Pendidikan yang paling utama adalah pendidikan dari keluarga, karena sebagian besar aktivitas anak berada di lingkungan keluarga,” ungkapnya.

Adat istiadat saat ini tidak terlalu dipedulikan oleh masyarakat Bengkulu, baik anak-anak maupun orang tua. Masyarakat Bengkulu lebih mengutamakan teknologi modernisasi dalam kehidupannya, seperti acara pernikahan.

“Acara pernikahan di Bengkulu saat ini jarang ditemukan memakai adat dan budaya Bengkulu, mereka lebih memilih memakai organ dan teknologi musik lainnya,” tuturnya.

Adat istiadat dinilai sebelah mata, serta aktivitas adat itu sendiri dianggap merepotkan. Hal inilah yang menyebabkan semakin mirisnya kedudukan adat istiadat di Kota Bengkulu saat ini. Pihak Badan Musyawarah Adat (BMA) Kota Bengkulu sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bengkulu, namun tetap tidak efektif untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya adat dan budaya Bengkulu. “Adat istiadat dan Budaya Bengkulu

mempunyai filosofi yang sangat banyak, serta mempunyai arti yang tertuju pada sisi agama. Sehingga sebuah acara yang diwarnai dengan adat istiadat akan menjadi lebih indah dan bermakna. Bukan malah merepotkan pemilik acara tersebut,” jelasnya.

Adat istiadat dan budaya merupakan aset yang tak ternilai harganya, karena adat dan budaya menjadi ciri khas daerah itu sendiri. Dimana tidak dipunyai oleh daerah lain, sehingga sudah sepantasnya untuk tetap dilestarikan dan dikembangkan.

“Nasib adat istiadat dan budaya Bengkulu ada ditangan para generasi penerus, yakni anak-anak Bengkulu. Peningkatan ilmu pengetahuan anak tentang adat istiadat dan budaya harus terus dilakukan, baik dari praktik maupun materi budaya itu sendiri,” pungkasnya.

Bengkulu Tuan Rumah Pameran dan Pagelaran Seni Budaya se-Sumatera ke 18

Bengkulu – Provinsi Bengkulu menjadi tuan rumah pameran dan pagelaran seni budaya se- Sumatera ke 18 tahun. Acara yang dipusatkan di Taman Budaya Kota Bengkulu ini dibuka langsung oleh Gubernur Bengkulu, H Junaidi Hamsyah, Senin, (09/11/2015).

Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 9-11 November 2015 ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama dalam rangka memperkaya kebudayaan nasional. Serta meningkatkan kerjasama antar taman budaya se Sumatera. Sehingga dapat membuka ruang kreativitas pelaku seni se-Sumatera.

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Forum Taman Budaya se-Sumatera, Muwarsih. Dalam sambutannya, Muwarsih berkeyakinan bahwa seni budaya bukanlah beban daerah melainkan dapat menjadi modal bagi pembangunan.

Dengan itu ia meminta pemerintah dan masyarakat Provinsi Bengkulu berupaya dalam mengembangkan seni budaya daerah.

“Jangan sampai seni budaya daerah memudar karena kebudayaan luar yang masuk. Kita harus berupaya menjaga dan mengembangkannya. Salah satu caranya dengan mengadakan kegiatan seperti ini,” pintanya.

Gubernur Bengkulu yang juga memberikan kata sambutan sebelum membuka cara meminta bantuan semua pihak untuk terus membantu mengembangkan seni budaya daerah. Salah satunya dengan meminta media massa untuk gencar memberitakan mengenai kesenian budaya tersebut.

“Bisa manfaatkan TV nasional untuk mempromosikan pameran budaya tradisional. Media jangan hanya mengkritik tapi disisi lain bagaimana media dapat mempromosikan even ini,” katanya.

Acara yang akan menampilkan beberapa karya seni dan budaya daerah Sumatera ini diikuti oleh 10 Provinsi di Sumatera.

Nujuhlikur, Tradisi Bakar-bakaran di Bengkulu Jelang Lebaran

Bengkulu - Indonesia memang kaya dengan tradisi yang unik. Menjelang Lebaran di Bengkulu Selatan, ada tradisi malam Nujuhlikur dimana masyarakat akan membakar susunan tempurung kelapa. Suasana malam pun bakal lebih meriah.

Dari informasi yang dikumpulkan detikTravel, Kamis (8/7/2015), tradisi malam Nujuhlikur biasanya dilaksanakan oleh Suku Serawai di Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Dalam tradisi Nujuhlikur masyarakat akan membakar Lujuk, yaitu tempurung kelapa yang telah disusun vertikal seperti obor.

Malam Nujuhlikur ini artinya adalah malam ke-27. Tradisi itu pun diselenggarakan setiap malam ke-27 di bulan Ramadan. Sejak siang hari sebelum Nujuhlikur berlangsung, anak-anak di daerah setempat sudah mulai membuat Lujuk.

Tempurung kelapa yang telah dikumpulkan akan dilubangi bagian tengahnya. Setelah itu, tonggak kayu yang kira-kira sebesar lengan dengan panjang sekitar 1-2 meter akan dipilih untuk meletakkan tempurung kelapa. Tonggak kayu itu akan ditancapkan ke tanah, kemudian satu persatu tempurung yang sudah dilubangi akan ditumpuk di kayu tersebut.

Pada permukaan tempurung yang paling atas akan disiram minyak tanah untuk mempermudah proses pembakaran. Lujuk yang akan dibakar ini jumlahnya tak hanya satu. Jumlahnya bisa semakin banyak, tergantung dari tempurung kelapa yang berhasil dikumpulkan.

Malamnya, setelah selesai salat tarawih barulah Lujuk dibakar. Warga setempat, dari anak-anak hingga dewasa, akan berkumpul di tempat yang telah ditentukan untuk ikut meramaikan tradisi ini.

Sembari menunggu api di Lujuk itu padam, warga setempat akan menikmati makanan sambil bercengkerama. Hubungan antar tetangga pun bisa makin erat dengan adanya tradisi malam Nujuhlikur.

Selain warga setempat, wisatawan dari daerah lain yang penasaran juga dipersilakan untuk ikut serta dalam tradisi tersebut.

Selama Ramadhan, PNS Kota Bengkulu Wajib Pakai Kostum Melayu

Bengkulu - Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kota Bengkulu Fachrudin Siregar mengungkapkan, selama bulan Ramadhan, pegawai negeri sipil (PNS) di daerah itu menggunakan pakaian melayu dan busana muslim.

"Kalau Senin hingga Kamis menggunakan busana muslim, nah Jumat dan Sabtu mengenakan pakaian melayu ini berlaku untuk PNS Pemkot Bengkulu," kata Fachrudin, Selasa (16/6/2015).

Fachrudin Siregar melanjutkan instruksi itu berdasarkan tindaklanjut dari Surat Edaran Gubernur Bengkulu Nomor 003/476/B.7 tanggal 27 Mei 2015 tentang Penetapan Penggunaan Pakaian dan Jam Kerja Pegawai.

Selain pakaian, Facrudin mengumumkan berlakunya jam kerja pada pegawai, di mana instansi atau SKPD diberlakukan lima hari kerja dan masuk pada pukul 08.00 WIB. Sedangkan, instansi atau SKPD unit kerja seperti pukesmas dan sekolah, diberlakukan enam hari kerja dan masuk kerja pukul 08.00 WIB.

"Intansi atau SKPD Senin hingga Kamis masuk pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, istirahatnya pukul 12.00 WIB hingga 12.30 WIB. Hari Jumat pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.30 WIB dan istirahat pukul 11.30 WIB hingga 12.30 WIB. Kalau untuk unit satuan kerja Senin hingga Sabtu kecuali Jumat masuk pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB dan Jumat pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB," papar Fachrudin.

Warga Melayu Bengkulu Mandi "Belimau" Sambut Ramadhan

Bengkulu - Warga Melayu Bengkulu menggelar tradisi mandi belimau yakni membersihkan diri menggunakan perasan jeruk purut dan air bunga rampai sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

"Keluarga kami masih menjalani tradisi ini, namanya belimau kalau di Minangkabau disebut balimau," kata Romeli Santiago Abbas, salah seorang warga asli Bengkulu yang masih menjalani tradisi itu di Kota Bengkulu, Rabu.

Ia mengatakan mandi belimau sudah digelar tujuh turunan dalam keluarga mereka dari pihak ibu yang merupakan keturunan Raja Bilang yang menjabat Hakim Agung masa kolonial Inggris dan Belanda.

Tradisi mandi belimau kata dia dilaksanakan satu hari sebelum memasuki puasa.

Sebelum mandi belimau, para anggota keluarga sudah terlebih dahulu menggelar ziarah ke makam para leluhur.

Mandi belimau warga Bengkulu berbeda dengan masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat dan di Yogyakarta yang disebut padusan yang menggelar tradisi itu secara massal di sungai atau laut.

Mandi belimau tersebut ujarnya dilakukan dalam keluarga masing-masing atau digelar secara internal.

"Padusan dan balimau di Minangkabau juga beda, kalau padusan hanya berendam di air sedangkan balimau di Padang juga menggunakan air perasan jeruk purut," katanya menerangkan.

Prosesi mandi belimau dilakukan oleh orang yang paling tua di dalam keluarga yang mengguyur anak pertama hingga anak bungsu dengan air jeruk purut dan bunga rampai.

Setelah prosesi memandikan para anggota keluarga selesai, anggota keluarga paling tua itu menutup acara mandi belimau dengan mandi sendiri.

"Setelah seluruh anggota keluarga dari tertua sampai terkecil selesai, dilanjutkan dengan doa bersama," ucapnya.

Mandi belimau yang masih dilestarikan itu menurut Romeli bertujuan membersihkan diri baik fisik maupun spritual sehingga dalam keadaan bersih kaffah atau bersih total saat memasuki bulan suci.

Ia menambahkan bahwa tradisi tersebut masih dilaksanakan warga asli Bengkulu yang sebagian besar bermukim di daerah Pintu Batu, Pasar Melintang, Kebun Ros, Tengah Padang, Anggut, Berkas, Kampung Kepiri, Pondok Besi, Peramukan dan Pasar Bengkulu di Kota Bengkulu.

Kasus Dugaan Korupsi Anggota DPRD Bengkulu Selatan

Bengkulu - Lima Anggota DPRD Bengkulu Selatan jadi tersangka dalam kasus korupsi dana studi banding Rp 1,2 miliar. Kasus korupsi ini diawali dengan ditemukannya kebocoran dana sekretariat DPRD Bengkulu Selatan dalam APBD tahun 20003 sebanyak Rp 1,2 Miliar.

Dana sebesar itu seyogyanya digunakan untuk studi banding sejumlah anggota DPRD Bengkulu Selatan ke pulau Jawa. Masing-masing anggota dewan mendapat dana perjalanan sebesar Rp 7,5 juta. Namun, setelah dana perjalanan dicairkan para anggota dewan tidak merealisasikan studi banding tersebut. Atas dasar ini, Polres Bengkulu mengadakan pengusutan. Sedangkan status kelima tersangka anggota dewan ini ditetapkan setelah polda Bengkulu mengadakan penyelidikan dan meneruskannya ketahap penyidikan.

Sementara itu, sebelumnya Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu yang mengaudit penggunaan keuangan DPRD tahun angggaran 2002 sebanyak Rp 3,7 miliar menemukan bahwa 1,2 miliar diantaranya, penggunaannya tidak jelas.

Untuk memeriksa kelima anggota DPRD tersebut Polda Bengkulu telah mengajukan surat izin ke Kejaksaan Tinggi Bengkulu untuk selanjutnya diteruskan ke Gubernur Bengkulu Hasan Zen, SH, MM. (may)

Sumber: Suara Pembaruan, 24 April 2004

Karnaval Kain Besurek Ramaikan HUT ke-46 Provinsi Bengkulu

Bengkulu - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-46 Provinsi Bengkulu, Pemerintah Kota Bengkulu menggelar Fashion Karnaval yang diikuti tidak kurang dari 5.000 pelajar se Kota Bengkulu.

Uniknya, saat karnaval ini digelar, seluruh peserta mengenakan pakaian berbahan dasar Kain Besurek khas Bengkulu.

Kain Besurek adalah batik yang bermotif kaligrafi bermakna ayat ayat Al Quran dihiasi simbol daerah Bengkulu seperti bunga Rafflesia Arnoldi, gambar bagunan tabot dan beberapa ornmen perlambang budaya dan kekayaan alam Bengkulu.

Karnaval yang dilepas walikota Bengkulu, Helmi Hasan, dimulai dari kawasan Simpang Lima menempuh jarak 3 kilometer menuju kawasan tugu pemantau tsunami atau view tower.

Kepada media, walikota Helmi Hasan mengatakan bahwa karnaval kain besurek ini sebagai bentuk mempertahankan tradisi dan lebih mengenalkan batik Bengkulu sebagai budaya lokal.

"Kegiatan ini akan terus dilaksanakan, selain membudayakan batik besurek juga mendorong berkembangnya industri batik di Bengkulu," ujar Helmi saat melepas karnaval, Selasa (18/11/2014).

Karnaval yang melibatkan para siswa SD hingga SMA ini menampilkan kreasi beragam, salah satunya menampilkan tema bunga rafflesia lengkap dengan ornamen tutup kepala hingga coretan di tubuh peserta.

Zamhari, guru SD Negeri 5 Kota Bengkulu menyatakan, pihak sekolah hanya mendorong siswa untuk lebih kreatif dalam karnaval dan mempersilahkan orangtua siswa mendandani anaknya sebaik mungkin.

"Semuanya bagus dan kreatif, sekolah hanya menghimbau, mereka berdandan dengan modal sendiri," ujar Zamhari.

Ariestiesa, siswi SMP Negeri 8 mengaku gembira bisa ikut karnaval. Sebab selain ikut memeriahkan HUT Provinsi Bengkulu, dia dan puluhan teman sekolahnya bisa berkreasi sendiri.

"Kami dandan sendiri dan menentukan tema yang kami sukai," demikian Ariestiesa.

Wagub Bengkulu: Festival Tabot Semakin Tidak Berkualitas

Bengkulu - Wakil Gubernur Bengkulu Sultan Baktiar Najamudin mengkritik Festival Tabot 2014 yang dinilai semakin tidak berkualitas karena tidak ada peningkatan kreativitas dari sebelumnya.

Akibatnya, event tahunan Disparbud Bengkulu, yang berakhir Senin (3/11), tidak mampu mendatangkan wisatawan nusantara dan asing ke daerah ini.

"Saya lihat Festival Tabot dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang membuat orang luar tertarik datang ke Bengkulu untuk menyaksikan kegiatan ini," kata Sultan kepada wartawan di sela-sela penutupan acara Festival Tabot 2014, Senin.

Festival Tabot adalah rangkaian tradisi wisata sejarah budaya dan religi di Bengkulu yang dimulai setiap 1 Muharam hingga tanggal 10.

Menurut Sultan, acara Festival Tabot harusnya dikemas lebih baik lagi sehingga kegiatan seni budaya masyarakat Bengkulu banyak diminati orang luas.

Dengan demikian, semestinya bisa menarik turis asing dan lokal ke Bengkulu setiap festival dilaksanakan.

Namun, kenyataannya dalam beberapa tahun terakhir Festival Tabot ini hanya ramai didatangi masyarakat Bengkulu saja, turis asing dan nusantara tidak ada sama sekali.

Selain itu, masyarakat Bengkulu yang datang ke arena Festival Tabot bukan untuk menonton acara perlombaan berbagai kesenian daerah daerah, tapi untuk berbelanja di bazar yang ada di lokasi festival.

Hal ini terjadi karena Festival Tabot tidak ada yang menarik untuk ditonton masyarakat Bengkulu. Padahal, dana Festival Tabot ini menghabiskan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daeah (APBD) Provinsi Bengkulu dan Pemkot setempat mencapai miliaran rupiah.

Apalagi selain melaksanakan ritual tahunan, Festival Tabot secara rutin digelar setiap tahun di Bengkulu juga bertujuan untuk menarik minat wisatawan asing dan nusantara datang ke Bengkulu.

"Jadi, dampak efek positif Festival Tabot terhadap kunjungan turis asing dan nusantara datang ke Bengkulu belum terlihat sama sekali sampai sekarang. Ini harus menjadi perhatian ke depan Disparbud Bengkulu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Bengkulu Edi Nevian mengatakan, kritik dan saran dari Wagub Sultan Najamudin akan dijadikan bahan evaluasi baginya untuk perbaikan penyelenggaran Festival Tabot ke depan.

"Kita sudah semaksimal mungkin mempersiapkan Festival Tabot agar pelaksanaan berlangsung meriah dan menarik wisatawan asing dan nusantara datang ke Bengkulu untuk menyaksikan acara tahun seni budaya daerah ini," ujarnya.

Ia mengatakan, tidak semaraknya Festival Tabot 2014 karena beberapa acara yang sudah diprogramkan tidak dapat dilaksanakan karena dana kegiatan pariwisata ini sangat minim.

"Bagaimana mau semarak festival sebesar ini kalau dananya minim sekali. Terus kalau dana festival besar maka acaranya pasti meriah karena kita bisa melaksanakan seluruh program yang sudah di-setting sebelumnya," ujarnya.

Meski demikian, Edi merasa bersyukur Festival Tabot 2014 dapat dilaksanakan Disparbud Bengkulu dengan sukses dan berjalan lancar.

"Saya bertekad tahun depan festival akan lebih baik dan menarik dari sekarang," ujarnya.

1 Muharam, Festival Tabot Bengkulu Dimulai

Bengkulu - Festival Tabot Bengkulu 2014 dimulai dari 1-10 Muharam atau Jumat, 24 Oktober sampai 2 November 2014. Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah mengatakan perayaan tahunan ini merupakan kegiatan melestarikan tradisi sekaligus mengembangkan kreativitas pelaku seni di Bengkulu.

"Festival ini dilatarbelakangi ritual keluarga Tabot yang sakral dan penuh hiburan seni budaya sebuah destinasi wisata yang patut disyukuri," kata Junaidi Hamsyah saat membuka Festival Tabot, Jumat, 24 Oktober 2014. Selama 10 hari perayaan Festival Tabot akan ada pertunjukan seperti lomba tari adat, pasar rakyat, pawai, festival pemukulan seribu dol (semacam beduk), dan lain-lain.

Festival Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali bin Abi Thalib, dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak, pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak, cucu, dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Edy Nevian mengatakan agenda tahunan ini merupakan momen budaya pariwisata Bengkulu. "Festival ini, akan dimeriahkan dengan berbagai perlombaan seni budaya mulai lomba tabot, musik dol, dan telong-telong yang tidak hanya diikuti keluarga Tabot tapi juga masyarakat," katanya.

Tari "Niqhung" Tampil pada Festival Tabot

Mukomuko, Bengkulu - Pemerintah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menampilkan tari Niqhung atau Tampi pada Festival Tabot yang digelar di Kota Bengkulu, mulai tanggal 24 Oktober 2014.

"Kami menampilkan Tari Niqhung pada Festival Tabot," kata Kabid Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mukomuko, Yulia, di Mukomuko, Kamis.

Ia mengatakan, tari Niqhung dari daerah itu akan menjadi salah satu peserta dalam lomba ajang kreativitas antarpelajar untuk kategori tari kreasi baru.

Yulia menyebutkan, sebanyak tujuh orang pelajar SMA terbaik di daerah itu dipilih untuk membawakan tarian ini pada Festival Tabot. Tujuh pelajar ini yang lulus seleksi untuk membawakan tarian tersebut.

"Tujuh orang yang kami pilih adalah pelajar SMA yang kreatif dalam membawakan tari Niqhung," ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa tari Niqhung merupakan persembahan dari sanggar seni bunga teratai kabupaten itu.

Tari Niqhung diangkat dari kehidupan masyarakat Kabupaten Mukomuko. Di mana pada zaman dahulu hingga sekarang para petani saat panen tiba selalu membawa alat untuk membersihkan hasil panen padi berupa Baku (Bakul) dan Niqhung (Tampi).

Menurutnya, penata tari mencoba menuangkan garapan ke dalam sebuah pertunjukan tari yang dikembangkan sesuai kebutuhan garapan.

Adapun gerakan dalam tari ini, lanjutnya, penata memadukan dari unsur gerak tari "gandai" dan gerak silat sebagai akar tradisi di daerah itu.

Selanjutnya, katanya, dikembangkan menjadi bentuk sebuah garapan tari kreasi yang berjudul tari Niqhung.

Lebih lanjutnya, ia menjelaskan, tema garapan tari Niqhung adalah kegotongroyongan dan kebersamaan pada saat pesta panen padi sawah.

Kota Bengkulu Bakal Gelar Seminar Kebudayaan Tabot

Bengkulu - Pemerintah Kota Bengkulu akan menggelar seminar kebudayaan Tabot bersamaan dengan kegiatan Festival Tabot 2014 di Bengkulu, 25-10 November mendatang.

"Saat Festival Tabot digelar kami akan menggelar seminar kebudayaan Tabot di Bengkulu. Ini dilakukan untuk mendapatkan masukan guna meningkatkan kualitas Festival Tabot Bengkulu ke depan," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreaktif (Disparekraf) Bengkulu Bujang HR kepada SP, di Bengkulu, beberapa hari lalu.

Ia mengatakan, seminar kebudayaan Tabot akan mengundang berbagai pihak di Bengkulu, di antaranya Keluarga Kerukunan Tabot (KKT), pemerintah, kalangan akademisi, budayawan dan pemerintah pusat.

Selain itu, seminar yang akan dilaksanakan di Balai Adat Bengkulu juga akan menghadirkan pembicara dari kedutaan Iran di Jakarta. "Kami berharap mereka bersedia datang ke Bengkulu untuk menjadi pembicara dalam seminar tersebut," ujarnya.

Bujang mengatakan, untuk menyukseskan Festival Tabot Bengkulu 2014 pihaknya telah menganggarkan dana sekitar Rp 300 juta. Uang tersebut akan dibagikan kepada KKT setempat untuk biaya pembuatan Tabot.

Sampai saat ini, kata dia, persiapan Festival Tabot Bengkulu sudah mencapai 80 persen. Berbagai acara pendukung Festival Tabot pun sudah dipersiapkan dengan baik.

Dalam Festival Tabot Bengkulu akan digelar berbagai kegiatan, di antaranya bazar berbagai produk lokal dari berbagai provinsi di Tanah Air, pagelaran seni budaya, lomba kesenian tradisional masyarakat 10 kabupaten dan kota di Bengkulu, dan kegiatan lainnya yang bernuasa Islam.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bengkulu Edi Nevian mengatakan, pelaksanaan Festival Tabot 2014 siap digelar pada 25 Oktober mendatang.

"Kami pastikan Festival Tabot 2014 di Bengkulu, siap digelar akhir Oktober nanti, karena persiapan untuk menyelenggarakan kegiatan yang merupakan kelender tetap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bengkulu sudah dilaksanakan dengan baik," ujarnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts